Tak peduli sebesar apapun rintangan yang menantiku.

Tak peduli berapa banyak orang yang menentangku.

Akan kutawan hatinya dalam penjara abadi!


EJEY series Proudly Present

Summer Song

Chapter 4. New Arrival (First Kiss)

BLEACH by Tite Kubo


Ting Tong...

Sigh. Aku yang sedang asyik memimpikan Rukia, dengan amat sangat berat hati membuka mata ketika mendengar suara bel. Siapa sih? Mengganggu tidur orang saja. Nggak tahu apa, orang lagi mimpi indah? "Yuzu! Tolong buka pintunya!" pekikku dari atas tempat tidur, mendengar bunyi bel yang makin menjadi-jadi. Namun tak ada respon sama sekali dari orang yang kupanggil. Aku terdiam sejenak lalu menepuk dahi. "Iya ya! Yuzu, Karin dan Ayah kan pergi jalan-jalan..."

Aku mendecakkan lidah, dan akhirnya aku pun terpaksa turun dari tempat tidur dan pergi menuju pintu depan. Begitu aku membuka pintu, aku langsung disambut oleh senyum lebar seorang gadis berambut ungu yang diikat dengan pita merah dan bermata jingga, warna yang sama seperti rambutku. Ia memakai baju terusan berwarna biru muda dan memegang sebuah tas kulit putih dengan tangan kirinya. Kedua alisku bertaut. Siapa, nih? Aku bertanya-tanya dalam hati.

"Halo, Ichigooo! Lama nggak ketemu, yah!" sahutnya sambil melambaikan tangan.

Hah? 'Lama nggak ketemu'? Aku jadi semakin heran. "Memang kita pernah bertemu?" Aku menyuarakan kebingunganku. Apa jangan-jangan gadis ini salah orang? Tidak, tidak. Tadi dia memanggilku Ichigo. Memang siapa lagi pemilik nama Ichigo di sini?

"Heee... jahat. Masa kau lupa padaku," Bibirnya mengerucut, dahinya tertekuk masam.

"Ng... siapa, ya?" Aku menggaruk-garuk rambutku, biarpun sebenarnya nggak gatal sama sekali.

Gadis itu mendesah. "Aku Senna, teman sekelasmu waktu SMP dulu!" ujarnya setengah membentak.

Aku memutar memoriku ke masa-masa SMP. Senna... Senna... Hmm... Sepertinya sering aku dengar... Senna... Ah, ya! Aku ingat sekarang! "Kau Senna, yang dulu pacaran dengan Kaien, kan?" tebakku.

Wajah Senna memerah seketika. Ia memukul tanganku dengan kikuk, "Aku dan Kaien sudah lama putus!" sahutnya gusar. "Apa cuma itu yang kau ingat dariku, eh? Percuma dong, kita tiga tahun sekelas." tambahnya lagi. Wajahnya masih memerah. Ya, ya. Sekarang aku ingat Senna sepenuhnya. Dia selalu blushing kalau ada yang menyinggung Kaien. Tak kusangka, kebiasaannya itu masih juga bertahan sampai sekarang.

"Ngomong-ngomong, aku boleh masuk nggak? Aku haus..." tanyanya sambil melongokkan kepalanya ke dalam.

"Ya, tunggu saja di ruang tengah. Kau mau minum apa?" tanyaku seraya mempersilakan Senna masuk.

"Apa saja deh. Asal yang dingin, ya!" jawab Senna, menghempaskan pantatnya di sofa. Ia mengipas-ngipas wajah dengan tangannya. "Huft, musim panas sekarang kok panas banget, sih? Nggak kuaaat..." keluhnya, sementara aku sedang membuat jus jeruk di dapur. Tanpa menunggu reaksiku, dia terus saja mengoceh. "Aku hampir saja mati terpanggang sinar matahari! Hei, Ichigo, rumahmu kok sepi? Karin, Yuzu, sama Isshin-san ke mana?"

"Ke mana, ya? Entahlah." jawabku dari dapur. Aku memang tidak tahu dan tidak peduli ke mana mereka bertiga pergi.

"Kamu nggak berubah, ya, Ichigo. Cuek." sahutnya ketika aku muncul di ruang tengah sambil membawa dua gelas jus jeruk. Senna berteriak kegirangan, layaknya anak kecil. Ia menyambar segelas jus jeruk yang kupegang dan langsung meneguknya. Aku melongo keheranan melihat cara anak ini minum. Kayak nggak pernah minum setahun aja! Ckckck...

"Ichigo, kalau kamu nggak mau minum, sini, buat aku saja." Ia menunjuk gelasku yang masih penuh terisi. Karena kasihan melihat anak ini, jadi kurelakan saja jus jeruk bagianku diembat olehnya. Dalam sekejap, gelas itu sudah kosong melompong. Habis tak bersisa. "Nyemm... enak! Makasih yaaa, Ichigoo!" Senna terkekeh puas.

"Hnn." gumamku seadanya. "Ngomong-ngomong, ada apa? Kok tiba-tiba nongol di depan rumahku? Ada masalah dengan pacar barumu?" Dulu, Senna pasti langsung melapor padaku kalau ada masalah dengan Kaien. Kalau Senna sudah curhat, mau dihentikan kayak gimana juga percuma. Jadi, terpaksa aku duduk manis di depannya, mendengar cerita ngalor-ngidul yang meluap dari bibirnya.

"Jadi kamu nggak senang nih, aku datang?" Muka Senna cemberut lagi. "Mentang-mentang sudah punya teman baru, teman lama dilupain, gitu?" ujarnya ketus.

Aku menghela napas. "Yaelah. Segitu saja ngambek. Terserah kalau nggak mau cerita. Aku juga nggak keberatan." Aku mengangkat bahu, beranjak dari sofa. Tapi Senna buru-buru memegang lenganku.

"Yaah, Ichigo. Yang tadi cuma bercanda, kok. Jangan pergi, dong." rengeknya. "Ya?"

Aku terdiam.

"Ichigo, please. Tadi aku cuma bercanda, kok. Ya? Dengerin ceritaku, ya?"

Aku menghela napas (lagi). "Oke, kau mau cerita apa?" Aku kembali duduk di sofa. Senna terkekeh puas.

"Hari ini..."


Keesokan paginya, kelas 2-1 di SMA Karakura dibuat heboh dengan berita adanya murid baru yang akan masuk kelasku. Mereka sibuk menerka-nerka siapa murid baru tersebut.

"Hmm, murid barunya cewek atau cowok, ya? Semoga saja cewek..." gumam Chizuru dengan mata berbinar-binar.

"Kau mencari incaran baru, ya? Kuharap murid barunya juga cewek. Dengan begitu, Orihime bisa terbebas darimu." cela Tatsuki.

"Maaf saja! Selamanya kesucian Orihime hanya menjadi milikku!" tukas Chizuru gusar. Yang dibicarakan hanya terkekeh melihat tingkah teman-temannya.

"Tapi sayang sekali, ya. Orihime kan sudah punya pacar yang jauh lebih elit, kaya, dan pintar dibanding kau." sahut Mahana. Orihime blushing berat mendengar kata 'pacar' terlontar dari bibir Mahana.

Chizuru membelalakkan mata. "Apa katamu? Pacar? Yang benar, Orihime?"

Dengan sedikit malu-malu, Orihime mengangguk. "Namanya... Ulqui... orra..." Hati Chizuru pecah berkeping-keping mendengar jawaban Orihime. Ia menangis sejadi-jadinya. Teman-temannya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ketidaknormalan Chizuru.

"Mereka ribut sekali," desah Ishida sambil membetulkan letak kaca matanya, sesekali ia melempar lirikan jengkel pada teman-teman Orihime.

"Aaah, ada murid baru saja, mereka ribut sekali. Memang apa istimewanya?" dengusku kesal.

"Kau tahu siapa murid barunya, Ichigo?" Kali ini Chad yang bertanya.

"Begitulah. Namanya..."

Di saat yang sama, bel masuk berbunyi dan murid-murid bergegas kembali ke mejanya masing-masing. Beberapa detik kemudian, wali kelas kami datang bersama seorang gadis berambut ungu, yang pasti kalian tahu siapa. Perhatian semua orang tertuju pada gadis itu. Keigo terperangah melihat keanggunan gadis itu saat berjalan memasuki kelas. Aku tertawa dalam hati melihat tampangnya yang seperti orang tolol. Jangan tertipu penampilannya. Dari luar sih, memang kelihatan anggun. Tapi kalau gadis itu sudah buka mulut, parahnya minta ampun!

"Namaku Senna. Mulai hari ini aku akan belajar di kelas 2-1. Mohon bantuannya." ujarnya seraya membungkukkan badan.

"Astaga, dia lebih cantik daripada yang kubayangkan," Aku mendengar desahan Chizuru. Dasar cewek 'miring'. Sukanya sama cewek.

"Hmm... sebaiknya Senna duduk di mana, ya?" Wanita wali kelas kami melipat tangannya di dada, kebingungan melihat dua kursi kosong yang tersedia di sini. Yang pertama letaknya pas di depan papan tulis, sedangkan yang satunya ada di sebelahku.

"Sensei, aku boleh duduk di sebelah Ichigo?" Senna dengan polosnya menunjuk meja di sebelahku. Aku menghela napas. Sudah kuduga, aku membatin. Seisi kelas langsung ribut begitu mendengar permintaan Senna. Kh, benar-benar merepotkan.

"Ah? Tentu saja boleh."

Senna tersenyum lebar dan ia pun duduk di sebelahku. Ia menoleh ke arahku. "Mohon bantuannya, ya, Ichii..." kekehnya.

Flashback start

"Mulai hari ini, aku tinggal di rumahmu ya, Ichigo." ujar Senna sambil cengar-cengir nggak jelas.

"Hah? Kenapa?" Aku melongo keheranan.

Senna tertawa kecil. "Tadinya aku mau rahasiain soal ini, tapi... ya sudah deh. Aku kasih tahu saja. Besok, aku pindah ke SMA Karakura. Kau sekolah di sana juga, kan, Ichigo? Nah, maunya aku menyewa apartemen sendiri. Tapi karena belum ketemu yang pas, niatnya aku tinggal di sini dulu. Boleh nggak, Ichigo? Aku janji deh, nggak bakal lama-lama di rumahmu. Kalau aku sudah menemukan apartemen, aku langsung keluar dari sini. Ya, Ichigo? Boleh ya?" tanyanya beruntun.

Aku terdiam sejenak, berpikir. "Kalau ayahku setuju, aku juga setuju." jawabku kemudian.

"Beneran? Yeeeiii! Makasih, Ichii! Kamu baik banget, deh!"

Dengan adanya Senna di rumahku, aku yakin nggak bisa tidur siang dengan tenang. Benar-benar merepotkan...

Flashback end


Normal POV

Sementara itu, pada waktu yang bersamaan di ruang klub Teater SMA SS, para pengurus ditambah anggota kelas 2 yang seharusnya sedang rapat malah asyik bercanda dan menggoda ketua klub mereka, Ulquiorra Schiffer. Alasannya apa lagi, selain karena Ulquiorra baru jadian dengan Orihime Inoue, gadis yang selama ini memang santer diberitakan menjalin hubungan istimewa dengan ujung tombak klub Teater itu. Berita itu sukses membuat cewek-cewek anggota Ulquiorra FC menangis histeris. Tak terkecuali Rukia.

"Hei, Ulquiorra, kau jadian nggak bilang-bilang. Apa itu sikapmu pada teman, eh?" sahut Ggio Vega, pemuda berambut hitam dan bermata emas yang memegang jabatan sebagai Wakil Ketua, dengan nada sinis yang dibuat-buat.

"Kenapa aku harus memberitahu kalian?" balas Ulquiorra acuh tak acuh.

"Ada yang patah hati, niih!" celetuk Rangiku, melirik Rukia yang balik melempar deathglare ke arah Rangiku.

"Aduuh... Rukia-chan patah hati, ya? Sudah, lupakan saja si Ulquiorra sialan itu. Kau jadian denganku saja, ya?" cetus Ggio. Tiba-tiba telinganya dijewer oleh seseorang.

"Kau bilang apa tadi, Ggio? Coba ulang lagi sekali. Kau ingin jadian dengan siapa? Aku tidak dengar." kata Soifon, kekasih Ggio sejak satu tahun yang lalu, dengan deathglare yang menyambar-nyambar di balik punggungnya.

Ggio meringis kesakitan. "Aduh, aduh. Gomen, aku cuma bercanda, Soifon sayang."

Soifon bergidik mendengar panggilan 'sayang' itu. Dari dulu, Soifon memang anti dipanggil 'sayang' yang menurutnya menjijikkan dan nggak jelas itu, biarpun yang memanggil adalah pacarnya sendiri. "Kau minta dibunuh, ya?"

"Bunuh saja dia, Soi! Aku bosan melihat mukanya!" dukung Lilynette.

"Soi, jangan bunuh aku, dong. Nggak akan aku panggil 'sayang' lagi, deh..." pinta Ggio. Soifon mendesis jengkel, tapi akhirnya ia bersedia melepas jewerannya.

"Makasih, Soifon." Ggio mencium bibir Soifon dengan cepat, yang langsung disambut dengan sorakan dari teman-teman mereka.

Rukia yang sedari tadi cuma bengong melihat kakak kelasnya bercanda, kini membuka mulutnya. "Aku jadi iri..." gumamnya pelan.

"Iri? Makanya, cari pacar, dong." sahut Rangiku yang duduk di sebelahnya.

"Memang kau sendiri sudah punya pacar?" balas Rukia sinis.

Rangiku hanya memasang cengirannya yang nggak jelas itu. "Masih bertepuk sebelah tangan sama Gin, anak kelas 3-1... hehehe..." Rukia mendengus.

"Hei, kalian sudah tahu kalau kita bakal kedatangan anggota baru?" Tesla, si Sekretaris, tiba-tiba ikutan nimbrung.

Rangiku dan Rukia saling berpandangan. "Siapa?" tanya mereka bersamaan.

"Anak kelas 2. Katanya sih, dia baru pindah ke sini. Aku sudah menyuruhnya datang kemari, tapi dia belum datang juga." keluh Tesla sambil melihat jam tangannya. "Dasar, belum jadi anggota saja sudah telat. Bagaimana kalau sudah jadi anggota?" Tesla mendecakkan lidah.

"Nggak masalah, kan? Waktu aku masih anggota baru juga sering telat, kok." sahut Rukia, menopang dagunya dengan tangan. Jujur saja, ia tak terlalu antusias dengan berita anggota baru tersebut. Sebagian besar pikirannya tersita oleh sosok Ichigo, dan sisanya tersita oleh tes matematika tadi pagi yang sukses membuat Rukia sakit perut. Ichigo... dia sedang apa, ya, sekarang? Aneh rasanya. Beberapa hari yang lalu, aku sibuk memikirkan Ulquiorra. Sekarang, aku malah sibuk memikirkan Ichigo. Haah, aku benar-benar aneh!

"Hei, Tesla. Anggota barunya cewek apa cowok?" tanya Rangiku.

"Kalau kubilang cowok, kau mau apa?" Tesla balik bertanya. Sebelum Rangiku sempat menjawab, pintu ruang rapat sudah dibuka oleh seorang pemuda berambut putih keperakan dan bermata biru kehijauan. Perpaduan yang sungguh harmonis, bukan begitu? Badannya memang agak... pendek, tapi dengan sekali lihat saja, semua orang di ruangan itu tahu kalau pemuda itu memendam kharisma yang bukan main.

"Permisi, ini ruang rapat Teater?" tanya pemuda itu dengan nada datar.

"Benar. Kau Toushiro Hitsugaya kan?" Tesla angkat bicara. Pemuda bernama Toushiro itu mengangguk.

"Suruh dia kemari." sela Ulquiorra.

Selagi pemuda bernama Toushiro itu berjalan ke arah Ulquiorra, Rukia mengamati warna rambutnya yang unik. Putih, lambang kemurnian dan ketulusan. Putih, yang mengingatkannya pada kristal-kristal salju yang menghujani bumi di musim dingin. Musim dingin...

"Terus? Musim apa yang kau suka?"

"Musim dingin."

Rukia mendesah. Ia jadi teringat pada potongan percakapannya dengan Ichigo. Belakangan ini, selalu saja begitu. Ada saja yang membuatnya teringat pada pemuda jeruk itu. "Aaah..." Rukia mendesah sekali lagi. Karena terlalu asyik memikirkan Ichigo, dirinya tak menyadari kalau Toushiro mengamatinya dengan sorot mata yang sulit ditebak.


"Eeh? Di kelasmu juga ada murid baru, ya?" tanya Rukia dengan ekspresi kaget.

"Apa maksudmu dengan 'juga'?" Dahiku berkerut. Saat ini, kami sedang menghabiskan waktu luang di bawah pohon kesayangan kami, seperti biasanya. Aku baru saja selesai bercerita tentang Senna ketika Rukia melontarkan pertanyaan itu padaku.

Rukia menyesap teh hijaunya sebelum menjawab, "Di sekolahku juga ada murid pindahan. Tapi nggak sekelas denganku, sih. Aku tahu dia karena dia masuk Teater. Kalau nggak salah, namanya Toushiro Hitsugaya. Tahu nggak, rambutnya putih banget! Lembut sekali. Aku suka warna rambutnya itu." Rukia tersenyum lebar.

Aku mendesah frustasi. Waktu kukira Rukia sudah mulai melupakan Ulquiorra, sekarang malah ada Tou... siapa? Ah, terserah, siapapun namanya. Apalagi tadi Rukia jelas-jelas mengatakan kalau dia menyukai warna rambut lelaki itu. Ck, tampaknya jalanku untuk merebut hati Rukia masih panjang... Gara-gara si putih sialan itu! Mati saja kau, gih.

"Eh, Ichigo... tadi kau bilang Senna numpang tinggal di rumahmu, kan?" Pertanyaan Rukia menembus otakku.

"Ng? Ya, begitulah. Dia benar-benar berisik, aku jadi tidak bisa tidur." gerutuku. Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang tidak biasa terpancar dari wajah Rukia. Aku tersenyum tipis. "Kenapa memangnya? Kau cemburu, ya?" tanyaku dengan sengaja.

Mendadak wajah Rukia berubah warna. "Aku nggak cemburu!" bentaknya. Senyumku melebar. Dia cemburu, kekehku dalam hati.

Aku meraih sehelai rambutnya lalu mengecupnya. Hidungku disergap oleh wangi lavender. Hm, rambutnya harum sekali. "Sudahlah, kalau cemburu, bilang saja." Aku semakin menikmati kegiatanku menggoda Rukia.

BUAGH!

Rukia melayangkan tasnya tepat ke mukaku. "ARGH!" jeritku kesakitan. Sial, apa saja tuh, isi tasnya? Berat banget!

"Aku nggak cemburu! Dasar Ichigo baka! BAKA! BAKA!" pekiknya sambil berlari menjauh. Aku mendesis dan buru-buru kususul dia, tanpa tahu bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang memerhatikan kami dari kejauhan.


"Renji, itu siapa?"

"Hnn? Yang mana?"

"Yang berambut hitam itu."

"Ada dua yang rambutnya hitam. Yang dikepang atau yang pendek?"

"Yang rambutnya pendek. Siapa namanya?"

"Ooh. Itu. Dia Rukia, anak Teater. Dengar-dengar sih, calon Ketua Teater angkatan berikutnya. Dia punya kakak kembar yang mirip sekali dengannya. Aku pernah salah mengira kakaknya sebagai Rukia. Tapi sekarang sih, aku sudah bisa membedakan mereka. Ngomong-ngomong, kenapa kau bertanya tentang Rukia? Kau suka padanya, ya, Toushiro?"

"... Begitulah..."


Normal POV

Beberapa hari kemudian, di bawah pohon yang sama...

Rukia meletakkan tasnya di atas bangku lalu duduk. Seperti biasa, dia selalu datang lebih awal dari Ichigo. Dia yang selalu menunggu Ichigo. Di sini, di bawah pohon ini. Rutinitas yang menyenangkan bagi Rukia, entah kenapa. Ia mengeluarkan boneka kelinci pemberian Ichigo dari dalam tasnya dan memainkan telinganya. "Kalau Ichigo tahu aku nggak bisa tidur tanpa boneka ini, bagaimana reaksinya, ya?" gumamnya seorang diri. Tiba-tiba ia teringat pada cerita Ichigo tentang Senna.

Enak sekali jadi Senna. Dia bisa satu sekolah dengan Ichigo. Sudah begitu, mereka sekelas, duduk bersebelahan, bahkan satu rumah. Pasti menyenangkan kalau bisa bersama Ichigo sepanjang hari. Uugh... aku juga ingin sekelas dengan Ichigo... Kalau tahu bakal begini jadinya, seharusnya dulu aku masuk SMA Karakura saja, ya...

"Sendirian?"

Kepala Rukia langsung berputar mendengar suara itu. "Kau... Toushiro, bukan?" Rukia mencoba untuk tersenyum, biarpun pemuda di hadapannya ini menatapnya dengan sorot sedingin es di kutub utara.

"Kau sendirian?" Toushiro mengulangi pertanyaannya.

"Aku sedang menunggu temanku. Sampai dia datang, kau mau menemaniku di sini?" tanya Rukia.

Tanpa pikir panjang, Toushiro langsung menyetujuinya. Ia pun duduk di sebelah Rukia. Pandangannya tertuju pada boneka kelinci di tangan Rukia. "Boneka itu hadiah dari pacarmu, ya?"

Rukia terdiam, menatap Toushiro dan boneka kelincinya bergiliran. "Kalau benar dari pacarku, pasti aku senang sekali."

"Bohong. Mana mungkin cewek secantik kau nggak punya pacar." sahut Toushiro, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Aku seratus persen single. Tanya saja sama anak-anak Teater yang lain kalau nggak percaya." balas Rukia.

Toushiro terdiam selama beberapa jenak. "Kalau begitu, jadi pacarku saja." cetusnya.

Rukia terpana. "Hah?" Rukia mengernyitkan dahi, lalu ia tergelak. "Hei, Toushiro. Biarpun dari luar kelihatannya kau dingin, ternyata kau pintar melucu juga. Kau memang tidak salah memilih Teater. Kau pasti sukses di drama modern,"

"Aku tidak bercanda, Rukia." gumam Toushiro.

"Ap..." Belum sempat Rukia menyelesaikan kalimatnya, bibir mungilnya sudah dikunci oleh Toushiro. Mata Rukia melebar kaget. Ia berusaha memberontak dengan kedua tangannya yang bebas, tapi cengkraman Toushiro menghentikan perlawanan Rukia. "Tou... shiro... he... hentikan..." desah Rukia dengan susah payah. Toushiro menurut. Pemuda itu menjauhkan bibirnya dari bibir Rukia. Tapi ternyata Rukia belum bisa merasa lega. Pemuda itu malah membaringkan tubuh Rukia dengan paksa di atas bangku, sehingga posisi Rukia sekarang berada di bawah Toushiro. Jantung Rukia berdetak cepat. "Toushiro! Cu..."

Lagi-lagi Toushiro memotong ucapan Rukia dengan mencium gadis itu. Kini Toushiro melumat bibirnya dengan lebih ganas, membuat Rukia sulit bernapas. Toushiro menggigit kecil bibir Rukia, sehingga mulut gadis itu terbuka. Toushiro langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut Rukia. Rukia terperanjat. Ia ingin melawan, tapi apa daya, tangan Toushiro mencengkram tangannya lebih erat lagi, membuatnya kesakitan. "Toushiro... sa... sakit..." rintih Rukia di sela-sela ciumannya. Namun Toushiro sama sekali tidak mendengar rintihan Rukia. Ia dengan leluasa memainkan lidahnya dalam rongga mulut Rukia. "Ngh..."

Selesai menjelajahi mulut Rukia, kini Toushiro beralih pada leher gadis itu. Toushiro menjilat lehernya, menggigitnya, lalu menghisapnya, meninggalkan sebuah kissmark di leher putih itu. "Toushiro! Sudah, cukup!" pekik Rukia. Kristal-kristal bening menggenang di ekor matanya.

"Diamlah." kata Toushiro, dan membungkam mulut Rukia dengan bibirnya. Rukia hanya bisa pasrah saat Toushiro lagi-lagi bermain di rongga mulutnya, menghabiskan oksigen yang baru saja dikumpulkannya. Rukia mendesah tak karuan, tapi tampaknya hal itu hanya membuat Toushiro bertambah antusias.

"Rukia?" Suara lain memecah perhatian Rukia dan Toushiro. Toushiro melepas ciumannya dan tersenyum licik pada pemuda berambut jingga yang berdiri tak jauh dari situ. Di saat yang sama, cengkramannya atas tangan Rukia mengendur, dan Rukia pun langsung menarik tangannya dan tangan Toushiro. Wajahnya memucat melihat Ichigo.

"Ichigo..." ujarnya lirih.

Ichigo tak hanya melirik Rukia sekilas. Ia berjalan ke arah Toushiro dan mendaratkan tinjunya di wajah pemuda berambut putih itu.

"BANGSAT!"

~To Be Continued~


A/N: Yippeeee! Akhirnya update juga! Di chap ini muncul juga si Toushiro sama Senna! Apa ada yang mikir kalau alur ceritanya kecepetan? Atau malah terlalu lelet? Hmm... apa lagi, ya? Di sini Toushiro nggak banyak omong, ya. Tadinya sih, nggak kepikiran buat masuki Shiro-chan sama Senna. Tapi kalau melihat chap sebelumnya, saya kok ngerasa ada yang kurang. Setelah bersemedi sejenak *halah*, saya memutuskan untuk memasukkan dua orang tersebut. Gilirannya Senna emang belum keliatan. Tunggu saja chap selanjutnya, ya.

Well, saya sempat kepikiran buat menjadikan ini fic HitsuRuki atau IchiSenna. Kayaknya asyik juga tuh... hehehe.

Anyway, saya mau ngucapin thanks buat semua yang udah bersedia me-review fic abal ini: Ichiruya Ruru Kuchiki, Arlheaa, Kurochi Agitohana, minami kyookai, shiruika-girl, Jee-ya Zettyra, Azalea Yukiko, Ruki Yagami, Nyit-Nyit, Fuuko 96, morte-elle, aRaRaNcHa, mio 'IchiRuki anezaki, Krad Hikari vi Titania, bl3achtou4ro, Minna IchiRuki, So-chand cii Mio ImutZ, dan Aizawa Ayumu. Gomen, baru bisa ngucapin makasih sekarang...

Saya minta review dari anda sekalian ^^