Pangeran Tol Konoha

Disclaimer : naruto hanya milik Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Friendship/romance

Warning : slight NaruHina, abal, de el el.

Gomennn minna-san, updatenya luama bangettt. Abis tugas sekolah buanyaknya gak terhinggah, jadi arlein gak sempet buat bikin n update ( bilang aja kehabisan ide). Buat chapter yang lalu banyak menuai protes ya, sekali lagi saya minta maaf kalo para readers kecewa tapi tenang saja NaruHina Cuma buat chapter tiga doang kok, warning yang kemarin nanti akan saya hapus kalaupun gak dihapus tidak usah dipedulikan.

Yosh! Happy reading~


Sakura terus menangis tak lupa ajudannya yaitu sesunggukkan, tiba-tiba seseorang memanggil namanya dengan suara kaget.

"Sakura?"

"Ka..mu?"


Chapter 4 : Kebenaran

"Na…naru..to?" Sakura terkejut dengan kedatangan Naruto yang tiba-tiba ini, dan sialnya naruto melihat Sakura menangis. Padahal Sakura sangat tidak ingin Naruto melihatnya.

"Sakura, kamu kenapa? Kok kamu menangis? Siapa yang membuatmu menangis?" Tanya Naruto bertubi-tubi, Sakura mengelap air matanya dengan punggung tangannya. Merasa sudah lebih tenang Sakura angkat bicara.

"Aku tidak apa-apa kok, Naruto." Sakura menjawabnya sambil tersenyum ke arah Naruto. Naruto tentu saja tak percaya.

"Jangan bohong, Sakura. Katakanlah jika ada yang mengganggu pikiranmu." Naruto berkata dengan serius.

'Justru yang mengganggu pikiranku ya kamu sendiri Naruto.' Pikir Sakura. Sakura tak mau membalas perkataan Naruto. Ia hanya diam sambil terus memandangi sungai yang berada di depannya. Setelah beberapa lama akhirnya Sakura mulai berbicara.

"Naruto aku tidak apa-apa, aku tadi menangis karena ingat dengan keluargaku saja kok, sungguh." Sakura berbohong untuk kesekian kalinya. Naruto masih tak percaya.

"Sungguh Naruto! Aku tidak bohong kok, he he." Sakura meyakinkan Naruto dengan senyuman. Naruto sedikit membelakkan mata saat melihat Sakura yang sedang tersenyum.

"Sweet girl." Gumam Naruto tanpa sadar. Sakura sedikit kaget dibuatnya plus blushing karena dipanggil sweet girl yang jelas-jelas artinya gadis manis.

"Naruto?" Sakura memanggil Naruto setelah bisa menguasai dirinya.

"Hm?"

"Apa maksudmu dengan sweet girl?" Sakura bertanya, ia mencoba menahan wajahnya blushing saat mengatakan 'sweet girl'.

"Ah, oh…itu julukan." Jawab Naruto singkat. Sakura menaikkan satu alisnya.

"Kurang jelas ya? Jadi sweet girl itu julukan untuk gadis yang beberapa tahun lalu bertemu denganku secara tak sengaja di depan rumahku." Naruto berkata sembari melihat langit yang ada di atasnya.

"Kau tahu kan kalau di depan rumah itu jalan tol." Sakura menganggukkan kepala.

"Waktu itu jalan tol sedang macet-macetnya, kabarnya sih karena ada kecelakaan di 2 kilometer selanjutnya. Karena penasaran aku pergi melihat melalui jalan pedesaan dengan sepedaku, setelah puas melihat TKP kecelakaan yang menimpa mobil dan truk tronton, aku pulang dan melihat sebuah bus yang bernamakan…apa ya, wah aku lupa. Tapi ada Sri-srinya gitu deh." Naruto menghentikan ceritanya sesaat.

'Kok rasanya…' Pikir Sakura.

"Aku melihat para penumpang yang ada di dalam bis tersebut, namun ada satu yang membuatku tertarik, yaitu seorang anak perempuan berambut pink sedang cemberut, aku terkikik. Tak kusangka ternyata dia juga melihatku yang masih menenteng sepeda ontel kesayanganku…Lalu." Ucapan Naruto terpotong oleh ucapan Sakura.

"Gadis rambut pink? Kau serius?" Sergah Sakura.

"Iya memangnya kenapa?" Naruto heran.

"eh, tidak apa-apa." Sakura mengelak.

'Ternyata benar dialah pangeran tol Konoha.' Pikir Sakura dan itu membuatnya senyum-senyum sendiri. Naruto sweatdropped melihat tingkah Sakura.

"Aku lanjutkan ya. Sang gadis melihatku dengan ekspresi yang menurutku dia sedang murung, aku terhenyak sebentar dan kemudian aku memberinya senyum, ternyata gadis itu membalas senyumanku dan senyum gadis itu sangat manis. Oleh karena itu kuberi dia nama sweet girl." Naruto mengakhiri cerita awal dia bertemu dengan gadis pink tersebut a.k.a Sakura. Namun Naruto masih belum tahu bahwa sang gadis tersebut adalah Sakura.

"Apa dia bermakna bagimu?" Tanya Sakura mencoba mengorek informasi. Kini gantian Naruto yang menaikkan alisnya.

"Tentu." Jawab Naruto singkat, padat dan jelas.

'Yes! Aku masih punya kesempatan!'

"ehmm…Naruto boleh tahu tidak, kalau kamu menganggap gadis itu penting untukmu lalu kenapa kamu sekarang suka kepada Hinata?" Tanya Sakura hati-hati agar tidak membuat Naruto curiga dengan perkataannya.

"Setahun yang lalu ayahku menghilang dan mengatasnamakan hutang-hutangnya kepada Ibu. Waktu itu aku terpuruk dengan kejadian tersebut, aku selalu melihat ke arah jalan tol di depan rumah, berharap sweet girl akan datang dan membantuku, namun bukannya sweet girl tetapi Hinata yang menghiburku. Dan mulai saat itu aku mulai menyukai Hinata." Ucap Naruto.

"Ohh begitu." Sakura kembali murung, ia merasa sedikit sedih karena Naruto mengatakan 'menyukai Hinata.'

"Naruto-kun."Panggil seseorang dari arah yang berlainan dari posisi Naruto dan Sakura duduk.

"Hinata-chan." Sakura merasakan sakit di dadanya saat Naruto menyebutkan nama Hinata.

"Ah, ada Sakura-chan juga toh." Ucap Hinata begitu melihat Sakura duduk di samping Naruto. Sakura bangkit dari duduknya.

"Maaf, sepertinya aku harus kembali, sampai jumpa." Sakura menahan sakit yang terus menyelimuti perasaannya. Ia berlari setelah pamit, ia berusaha menahan air mata untuk kembali mengalir di pipinya.

"….." Naruto hanya terdiam melihat Sakura yang berlari meninggalkan Naruto dan Hinata berdua.

"Ayo kita pulang, Hinata-chan." Naruto menggandeng tangan Hinata. Hinata sedikit merasa ada yang berbeda dengan Naruto.

'Kenapa Sakura terlihat seperti sweet girl?' Itulah dari tadi yang dipikirkan oleh Naruto.


Sakura duduk di sebuah bangku tepat di depan rumah Naruto. Ia memandang pembatas jalan tol yang berjarak kurang lebih 2 meter darinya. Nampaknya sang gadis yang memiliki rambut pink seperti kelopak bunga sakura tidak sendiri.

"Sakura ya, kau sering sekali menatap jalan tol di depan, kau rindu keluargamu?" Tanya orang yang duduk di samping dirinya. Sakura mengangguk.

"Bukan hanya itu, Deidara-nii." Suara Sakura terdengar seperti suara bisikkan, sangat pelan dan kecil.

"Kalau begitu apa?" kata orang tadi yang dipanggil Deidara-nii . Sakura terdiam, dia ragu untuk memberitahu Deidara atau tidak.

"Se…sebenarnya aku menyukai seseorang, tapi orang itu menyukai wanita lain, dan aku…" Sakura tak dapat meneruskan kata-katanya. Ia merasa akan menangis kalau ia terus melanjutkan kalimatnya.

"Yang penting itu perasaanmu, Sakura. Lagipula mereka belum ada ikatan perkawinan, jadi kalau masih bisa direbut, rebut saja." Deidara mengusulkan.

"Tapi…mereka berdua temanku, aku tidak mau dianggap sebagai pengkhianat." Sakura menundukkan kepalanya. Deidara terlihat berpikir, yang punya masalah Sakura yang ikut repot Deidara. Deidara membelai rambut pink Sakura, Sakura sedikit kaget dan membelakkan mata.

"Deidara-nii?" Sakura heran dengan sikap Deidara.

"Sakura, apa yang ingin kamu lakukan kamu harus mengikuti ini." Deidara menunjuk bagian dadanya.

"Ikuti perasaanmu apakah itu baik dilakukan atau tidak." Deidara tersenyum kepada Sakura. Sakura ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia mengerti.

"Hahah Sakura kamu lucu sekali, mau jadi adikku tidak?" Sakura ikut tertawa.


Saat itu Naruto sedang berjalan-jalan di pematang sawah ditemani dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Naruto berhenti dari jalannya dan memandang ke sebuah pembatas jalan yang berada lebih tinggi daripada sawah tempat Naruto berada.

"Sweet girl ya, entah kenapa dia agak mirip dengan Sakura, warna rambut dan senyumannya, kalaupun Sakura itu sweet girl, bagaimana dengan perasaanku kepada Hinata?" Naruto berkata kepada dirinya sendiri, memori otaknya memutar balikkan kejadian saat ia bertemu pertama kali dengan Sakura.

"Aku ingin bertemu dengannya lagi." Gumamnya penuh pengharapan.

"Naruto-kun." Panggil seorang gadis dari belakang Naruto. Naruto menengok ke belakang. Ia tersenyum tipis begitu melihat siapa yang memanggilnya.

"Hinata-chan, ada apa?" Hinata menyeritkan alis begitu melihat ekspresi Naruto. Ekspresi seperti orang kehilangan sesuatu yang berharga.

"Harusnya aku yang bertanya, kau kenapa Naruto-kun?" Hinata mengulurkan tangannya mencoba menyentuh dahi Naruto. Namun sebelum sampai, Naruto menangkap tangan mungil Hinata.

"Aku tidak apa-apa Hinata-chan." Naruto berkata dengan serius tak ada cengiran atau pun gurauan dari seorang Naruto. Hinata merasa ada yang aneh dengan Naruto, walaupun ditanya tetap saja Naruto takkan mau menjawab dan akan menyangkal dengan kata-kata 'aku tidak apa-apa'.

Naruto pergi meninggalkan Hinata sendiri di pinggir pematang sawah. Hinata hanya memandang punggung Naruto yang semakin lama semakin menjauh.

"Sepertinya aku tak dibutuhkan oleh Naruto-kun." Hinata berkata sambil memandang sedih ke arah siluet Naruto yang semakin menghilang.

Sakura berlari kecil menuju sungai kecil yang berada di pinggiran sawah. Ia sedikit menggulung celananya dan melepas sandalnya. Setelah itu Sakura masuk ke dalam air sungai yang jernih tersebut, ia duduk di sebuah batu besar yang banyak menghiasi sungai itu.

"Suegerrr! Asyik banget! Coba ada Saso-nii, pasti tambah seru ." Sakura menyipakkan kakinya di dalam air sehingga air-air terciprat kemana-mana. Naruto yang kebetulan lewat melihat Sakura bermain air tanpa sadar ikut tersenyum.

"Sakura-chan!" panggil Naruto. Sakura menengok dan tersenyum girang begitu melihat siapa yang datang.

"Aku ikutan ya!" Naruto menggulung celana panjangnya hingga lutut tak lupa melepas sandalnya, lalu ia pun menyusul Sakura yang tengah asyik di sungai. Mereka bermain air layaknya anak kecil. Mereka tidak sadar kalau di sana bukan hanya ada mereka berdua.

"Naruto-kun…aku mengerti sekarang, jadi yang dapat membuat Naruto-kun tertawa bahagia dan tersenyum hanya Sakura-chan." Hinata berkata pada dirinya sendiri.

"Tapi, aku menyukai Naruto-kun. Tidak! Tidak!" Hinata menggeleng.

"Walaupun aku menyukainya, tapi Naruto-kun tidak bahagia, aku tidak mau itu. Ya, aku harus melakukan 'itu', walaupun a…aku harus mengorbankan perasaanku." Setelah berkata seperti itu Hinata pergi meninggalkan Naruto dan Sakura yang masih asyik bermain-main di air.

"Hahahaha…Naruto kau basah kuyup, nih rasakan biar tambah basah!" Sakura menyipratkan air ke arah Naruto.

"Awas kau Sakura! Kau juga akan bernasib sama! Heahh!" Naruto tak mau kalah, ia menyipratkan air kea rah Sakura lebih banyak sehingga Sakura basah kuyup lebih parah dibanding Naruto.

"Udahan dah Naruto! Aku capek main air terus." Sakura berhenti dari acara main airnya dan memilih duduk di sebuah batu yang besar. Sesuai intruksi dari Sakura, Naruto menghentikan kegiatannya dan ikut duduk di samping Sakura.

"Sakura, entah kenapa aku merasa kamu mirip dengan sweet girl deh." Sakura hanya diam tanpa reaksi. Toh Sakura sendir tahu kalau dirinya memang si sweet girl.

"Mirip…mirip darimananya?" Naruto memandang wajah Sakura lebih serius. Wajah Sakura memblushing, mata Sakura tak berani menatap mata Naruto yang terus menatap wajahnya. Naruto agak risih karena Sakura tak menatap dirinya. Secara reflek Naruto memegang dagu Sakura dengan ibu jarinya. Sakura membelakkan mata menanggapi perlakuan Naruto.

"Na…Naruto?" Wajah Sakura saat ini sudah seperti kepiting rebus mungkin lebih merah dari itu. Naruto menyeringai.

"Bu…Buahahahahah! Sakura wajahmu hahahaha…lu..lucu banget!" Yep! Sang tokoh utama wanita kita telah sukses dikerjai oleh seseorang bernama Naruto.

"Na..Naru..to.." Sakura menggeram, nada suaranya naik 1 oktaf. Naruto mulai merasakan firasat buruk. Naruto mundur beberapa langkah menjauhi Sakura.

"Sa..Sakura-chan."

"SHANNAROOO! Naruto awas kau ya!" Sakura mendekati Naruto, namun Naruto berlari. Sakura? Jangan ditanya tentu saja dia mengejar Naruto dan acara kejar-kejaran pun terjadi.

Daripada kita melihat Naruto dan Sakura yang sedang main kucing-kucingan, sebaiknya kita menengok ke scene di mana Sasori dan Hidan berada.


Sasori dan Hidan terus berjalan menyusuri suatu desa bernama desa majumundurkanankiri (?). Sasori mulai merasa frustasi karena tak kunjung menemukan adik perempuannya yaitu Sakura. Merasa sebagai sahabat yang baik, Hidan pergi meninggalkan Sasori sendirian. Dia gak pergi jauh-jauh kok cuma ke warung sebelah yang jaraknya 100 centimeter dari tempat Sasori berdiri. Gak capek tuh?

"Sas, nih air mineral." Hidan melemparkan air minum bermerek A***a kepada Sasori secara brutal.

"Lu tuh niat ngasih gak sih?" Sasori kesal dengan Hidan karena dikasih air minum tapi dengan cara tak senonoh (?).

"Iya maaf deh. Eh, Sas sebenarnya ini di daerah mana sih?" Tanya Hidan, sebuah tanda perempatan jalan nongol di kepala Sasori.

"Kan loe sendiri yang bawa gue ke ni desa! Malah loe sendiri gak tahu!" Sembur Sasori. Masih ingat di benak Sasori saat dia diajak berkeliling oleh Hidan, sementara ia mengira kalau si Hidan itu tahu semua jalan sekaligus namanya, jiah sekarang malah si Hidan sendiri yang gak tahu.

"Terus sekarang gimana nih? Imouto gue belum ketemu, sekarang malah nyasar entah kemana." Sasori merenungi nasibnya, Hidan bukannya merasa bersalah malah ngeluyur ke sebuah sungai kecil yang sejak tadi menarik hati Hidan.

"Hidan pokoknya loe harus tanggung jawab! Gue gak mau tahu, Paham?" Sasori terus bicara tanpa tahu Hidan telah menghilang dari sisinya.

"Hidan?" Merasa dikacangin, Sasori menengok ke kirinya dan yang ia dapati adalah Hidan yang sedang asyik di sebuah sungai kecil yang tak jauh dari tempat Sasori.

"HIDAN SIALAAANNN!" Sasori berteriak sejadi-jadinya. Reaksi Hidan? Jangan ditanya dia malah sibuk nangkepin ikan di sungai pakai tangannya. Kenapa aku punya teman kayak dia sih? Begitulah yang terpikirkan di pikiran Sasori. Baru satu meter Sasori akan sampai di tempat Hidan berada sebuah suara membuatnya menghentikan langkah kakinya.

"NARUTOO! KE SINI KAU! JANGAN KABUR!" Sasori menengok kebelakang dengan slow motion. Matanya terbelalak saat melihat sosok yang sangat ia cari-cari, dia adalah adiknya sendiri alias Sakura.

"Sa..ku..ra." Begitu kagetnya Sasori sampai harus mengeja nama Sakura. Sakura merasa ada suara yang terasa sangat familiar telah memanggil namanya. Ia berhenti dan menengok ke kanan, begitu kagetnya sakura ketika tahu siapa yang telah memanggilnya.

"Ani..ki." Gumam Sakura.


"Hah hah..loh Sakura-chan mana?" Naruto berhenti dari kegiatan berlarinya. Keringatnya bercucuran, Naruto mendengus sebal karena Sakura tak kunjung muncul.

"Si Sakura masa baru segini udah nyerah. Huh, aku pulang saja deh!" Baru saja Naruto akan berlari ia melihat seseorang yang sangat ia kenal sedang membeli sesuatu di warung.

"Loh, itu kayak Hinata-chan." Naruto menghampiri seseorang yang ia kira Hinata.

"Hinata-chan! Sedang beli apa?" Tanya Naruto tiba-tiba, orang yang dipanggil Hinata kaget sehingga barang belanjaannya jatuh.

"Waduh! Maaf." Naruto membantu memungut barang yang jatuh.

"Terima kasih, Naruto-kun." Hinata mengambil barang yang berada di tangan Naruto. Keduanya pun berjalan bersama.

"Hinata-chan, malam ini ada waktu tidak?" Tanya Naruto sedikit blushing. Hinata menundukkan kepalanya sehingga poninya menutupi sebagian wajahnya

"Hinata-chan?"

"Maaf, Naruto-kun, aku sudah tidak bisa…lebih tepatnya tidak akan bisa pergi berdua bersama Naruto-kun lagi." Naruto membelakkan matanya mendengar ucapan Hinata.

"Apa maksudmu?" Naruto kini berada di depan Hinata.

"Ma..af Naruto-kun, aku sekarang sudah tidak bisa berpacaran dengan Naruto-kun.."Hinata sedikit menaikkan kepalanya dan menatap mata biru indah milik Naruto.

"Mungkin…Naruto-kun..tidak merasakannya…tapi aku..tahu kal..kalau Naruto-kun sebenarnya menyukai orang lain."

"Menyukai orang lain? Itu tidak mungkin Hinata kaulah yang…" ucapan Naruto terputus karena Hinata lebih dulu menyerobot.

"Naruto-kun salah! Aku bisa merasakannya, makanya aku memutuskanmu agar kamu bisa bahagia dalam arti cinta yang sebenarnya." Hinata sedikit menaikkan suaranya.

"Hinata, tapi.."

"Aku tidak apa-apa Naruto-kun, awalnya aku tidak mau memutuskanmu, namun karena aku merasa itu bukan hal yang baik, maka aku memutuskan apa yang kuanggap benar." Hinata tersenyum kepada Naruto. Naruto sedikti tak enak juga terhadap Hinata, tapi ia juga tak bisa menyangkal karena sebenarnya ia sudah mempunyai cinta yang sebenarnya, jauh sebelum perasaan sukanya kepada Hinata.

Naruto memeluk Hinata, sekarang bukan pelukan sebagai kekasih namun sebagai seorang sahabat. Hinata tersenyum walaupun tidak sebesar saat Naruto memeluknya atas nama sebagai kekasih.

"Maafkan aku Hinata, kalau sudah membuatmu tidak nyaman." Naruto melepaskan pelukannya.

"Biarpun kita berpisah, kau masih mau berteman denganku, kan Naruto-kun?" Hinata menatap Naruto lekat-lekat.

"Tentu saja." Naruto mengangguk. Hinata menepuk bahu Naruto agak kencang hingga membuat Naruto mundur beberapa centi.

"Pergilah Naruto-kun, temuilah dia, orang yang sebetulnya kau sukai." Naruto menatap Hinata, sementara Hinata menanggapinya hanya dengan tersenyum ,senyuman yang tulus.

Naruto berlari kecil, sebelum ia betul-betul meninggalkan Hinata sendiria di jalan, ia menengok kea rah Hinata.

'Maafkan aku Hinata.' Pikir Naruto. Bayangan Naruto berangsur-angsur menghilang dari penglihatan Hinata.

"Entah kenapa melihat Naruto-kun yang telah menyadari perasaannya tidak membuatku sedih." Gumam Hinata, ia menatap langit yang sudah bewarna oranye.

"Aku harap kalian berdua bahagia, Naruto-kun, Sakura-chan." Ucap Hinata sebelum ia pergi beranjak dari tempatnya memutuskan Naruto.


Sakura memeluk Sasori yang sangat ia rindukan. Sasori membalas pelukan adik perempuan satu-satunya itu. Hidan yang telah selesai melakukan ritual di sungai kecil tersenyum kecil melihat kakak-adik.

"Selama menghilang, kamu tinggal dimana, Sakura?" Tanya Sasori yang sudah melepas pelukannya.

"Aku tinggal sementara di rumah orang yang telah menolongku, aniki." Sakura tersenyum, ia melirik Hidan sekilas.

"Dia siapa, aniki?" Tanya Sakura sambil menunjuk Hidan.

"Oh, dia teman aniki, orangnya agak aneh bin gaje sih, tapi dia sudah membantu aniki untuk mencarimu, Sakura." Hidan agak kesel karena dibilang aneh bin gaje.

"Sakura, aniki rasa sebaiknya kamu antar aniki ke rumah penolongmu." Kata Sasori. Hidan menengok ke Sasori mengacungkan jempolnya.

"Oh, iya benar juga, ayo Saso-nii, Hidan-nii." Sakura berjalan di depan duo SasoHid buat jadi pemandu jalan menuju rumah Naruto.

Naruto terlihat terburu-buru, ia berlari kecil menuju rumahnya sendiri. Ia berhenti sejenak dan terlihat ragu-ragu, namun Naruto kembali lagi berlari kecil. Setelah sampai di depan pintu rumahnya, Naruto mendengar sayup-sayup suara lelaki dan wanita.

'Itu suara ibu dan yang lelaki, suara siapa ya?' Pikir Naruto saat mendengar suara wanita dan lelaki yang tengah berbicara.

"Jadi, besok kau akan pergi ke Suna ya Sakura." Perkataan Kushina membuat mata Naruto membelalak lebar. Tanpa pikir panjang Naruto langsung membuka pintu.

"APA?" Begitulah yang diucapkan Naruto sembari membuka pintu rumahnya, semua mata langsung tertuju pada laki-laki yang memiliki rambut bewarna kuning tersebut.

" Naruto." Gumam Sakura.

"Sakura, apa maksudnya tadi?" Tanya Naruto, kini air muka Naruto terlihat sangat serius. Sakura agak ragu untuk memberitahukannya.

"Naruto…aku sudah bertemu dengan anikiku dan aku…" Sakura menggantungkan kata-katanya.

"Aku akan pulang ke rumahku esok hari."

TBC

Fuihhh selesai juga chap 4, agak pendek ya….

Chap besok chap terakhir.

ReVIEW.