Luhan menunggu kekasihnya yang masih lama rapat, dirinya rela menunggu daripada melihat Sehun memarahi supirnya.

"Hah..." Luhan menghela nafas karena terlalu lelah menunggu kekasihnya diruangnya yang sejuk

CLECK

"Maaf lama" Sehun masuk kedalam ruangan kekasihnya dan memeluknya erat sebagai permintaan maaf karena terlalu lama dari jadwal yang disusun

"Hm, aku mengerti" Luhan mengerti dengan posisi kekasihnya yang sangat sibuk dan kelelahan dengan posisi jabatan yang dipegangnya

"Kau marah?" Sehun membelai wajah kekasihnya yang juga sama lelahnya dengan dirinya

"Sebenarnya iya, tapi aku sangat sangat mengerti dengan kondisi kekasihku tampanku yang sedang kelelahan habis rapat dengan pemegang saham" Luhan menangkup wajah kekasihnyaa kemudian tersenyum tulus menandakan dirinya tidak marah atau pun kecewa

Sehun merasa bahagia karena memiliki kekasih seperti Luhan yang bagaikan malaikat penuh dengan kelembutan dan pengertian.

"Ayo pulang sayang" Sehun sadar jika mereka sudah terlalu kelelahan dan lebih baik pulang daripada bermesraan dikantor

"Yakin mau pulang?" Luhan menggoda kekasihnya sedangkan Sehun memberikan tatapan tajam atas godaan kekasihnya

"Jangan memancingku" Sehun beranjak dari ruangan kekasihnya duluan sedangkan Luhan mengikuti dari belakang sambil ketawa karena kekasihnya sangat lucu

BLAM

Luhan masuk kedalam mobil dan selama perjalanan mereka hanya banyakan diam sedangkan Luhan menatap kekasihnya dengan pandangan heran karena tidak seperti biasanya Sehunnya akan menjadi cerewet.

"Jangan menatapku seperti itu, aku tahu aku tampan" Sehun berbicara tanpa menoleh kearah kekasihnya

"Cih..." Luhan mendecih kesal karena perkataan kekasihnya yang sangat sombong

"Jangan Cih... Kau sudah jatuh kedalam pesonaku" Sehun tidak suka dengan sifat Luhan yang suka mendecih kesal

"Memang, namun jangan terlalu sombong" Luhan tidak meyukai sifat sombong Sehun yang memang benar - benar tampan

"Hm, aku minta maaf" Sehun menyadari kesalahan yang diperbuatnya karena kekasihnya tidak menyukai sifat kesombongannya

"Aku juga minta maaf sudah menggodamu" Luhan juga tidak suka jika Sehunnya lebih banyak diam dan tidak seperti biasanya yang cerewet

"Tidak masalah" Sehun hanya mengatakan tidak masalah namun bagian selatannya sudah menggembung sedari tadi

"Kalau tidak masalah jangan mengacuhkan aku, aku tidak suka" Luhan kesal karena kekasihnya masih lebih banyak diam dari biasanya

"Jangan mengganguku Lu, aku tidak bisa fokus" Sehun frustasi karena kekasihnya masih saja mencari perhatian

"Apa? Aku menggangumu" mata Luhan berkaca ketika Sehun mengatakan bahwa dirinya menggangu

Sehun menepikan mobilnya dan mematikan mesinya agar fokus berbicara dengan kekasihnya yang sudah menangis.

"Aku minta maaf" Sehun menyadari kesalahannya dalam berbicara dan mencoba untuk memegang bahu kekasihnya namun ditepis kasar oleh kekasihnya

"Hiks..."

"Bukan maksudku untuk membentakmu tapi aku sedang dalam masa yang tidak baik"

Luhan mendongakkan wajahnya dan menatap kekasihnya dengan garang "Tadi kau baik - baik saja"

"Itu..."

"Apa? Kau saja tidak bisa menjawab" Luhan semakin kesal karena kekasihnya tidak bisa berbohong dengan baik

"Maaf Lu aku bukannya bermaksud membentakmu tapi aku tidak bisa menahan diriku karena aku takut meyerangmu. Aku tidak bisa digoda karena hasilnya akan seperti ini" Sehun dengan tepaksa membawa tangan kekasihnya kearah selangkangannya yang sedang menggembung sedangkan Luhan cukup terkejut dengan maksud Sehun

"Kenapa kau tidak mengatakannya" Luhan kesal karena masalah kecil jadi berdampak besar seperti ini

"Aku terlihat seperti gigolo saja yang meminta jatah untuk diservice"

"Kalau dikantor masih bisa diruanganku sedangkan dimobil tidak mungkin, bisa – bisa kita kena tilang" Luhan bingung dengan pemikiran kekasihnya yang terkadang buntu

"Sudahlah, bukan masalah besar" Sehun mengatakannya agar suasana tidak tegang maupun menjadi sensual karena penis menegang disaat yang kurang tepat

"Ya, nanti dirumah akan kubantu" Luhan memberikan clue untuk masalah tersebut sedangkan Sehun tidak mengerti dengan maksud Luhan dengan membantu

"Apanya yang perlu dibantu?"

"Penismu" Luhan menjawab dengan frontal sedangkan Sehun memalingkan wajahnya karena malu dengan ucapan frontal Luhan

Sehun menjalankan mobilnya seperti biasa dan tidak ada masalah sedangkan selangkangannya tidak berdenyut sakit lagi karena ucapan Luhan bagaikan mantra.

Sesampainya dirumah, Luhan membawa Sehun kedalam kamarnya untuk melakukan hal yang sudah disepakati sebelumnya. Didalam kamar, Luhan membanting tubuh kekasihnya keatas ranjang sedangkan dirinya mengunci pintu agar tidak ada yang masuk dan memergoki mereka.

"Kenapa kau membawaku kemari Lu?" Sehun terkejut karena biasanya sepulang kantor mereka langsung makan malam karena sudah kelaparan

"Membantumu untuk ini" Luhan meremas selangkangan Sehun yang sudah tidak sesak lagi

"Ah..." Sehun ingin menolak karena penisnya sudah tidur namun tangan nakal kekasihnya membuatnya tidak berdaya dan hanya bisa mendesah kenikmatan

Luhan membuka resleting Sehun dengan pelan – pelan dan membuka tali pinggang suaminya yang sangat menggangu proses service gratis.

"Ah..." Sehun kenikmatan ketika tangan Luhan masih bermain diselangkangannya yang masih tertutup oleh celana dalamnya yang waran hitam

"Kenapa aku seperti maniak sex ya" Luhan juga bingung dengan dirinya yang seperti manika sex

"Itu lahh yang ingin kutanyakan padamu dari tadi" Sehun juga merasa Luhannya sudah semakin dewasa dan sangat paham dengan kondisinya dan adik kecilnya

"Mungkin karena penismu" Luhan mengatakannya sambil meremas lembut testis Sehun yang ukurannya yang sangat besar

"ARGH..." Sehun mendesah nikmat hanya dengan remasan Luhan ditestisnya

"Aku beruntung memiliki kekasih sepertimu Hun" Luhan mengatakannya sambil memghentikan remasannya pada testis Sehun

"Kenapa?" Sehun juga ingin tahu alasan Luhan mengatakan sangat beruntung memiliki kekasih sepertinya

"Kau sempurna. Kau tampan, tinggi, sexy, kulitmu putih, dan paling utama penismu sangat mempesona. Mungkin banyak yang sama sepertimu tampan dan memiliki penis panjang namun mereka playboy dan suka mempermainkan wanita" itu lahh perbedaan Sehun dengan yang lainnya dan membuat Luhan semakin jatuh cinta pada kekasihnya yang sangat sempurna namun setia pada dirinya saja

"Benarkah?" Sehun ingin memastikan apakah perkataan kekasihnya bisa dipercaya atau tidak

"Kau tahu Kim Jongin? Wajahnya biasa saja namun kata orang kulit hitamnya terlihat sexy tapi apa? Dia playboy dan hidung belang. Penisnya sudah pasti kecil dibandingkan dengan punyamu" Luhan memang sering mendengar berita Jongin dari teman – temannya

"Tahu darimana kau kalau punya Jongin kecil?" Sehun bertanya tidak suka karena Luhan mengetahui ukuran penis orang lain dan membuatnya sangat jengkel

"Jangan cemburu sayang" Luhan mencubit gemas pipi kekasihnya yang sedang merajuk padanya

"Iya – iya, aku tahu karena Krystal mengatakannya padaku. Dia sudah pernah mengukur penis Jongin sayang" Luhan mengalah dan memberitahu cerita yang sebenarnya daripada kekasihnya merajuk selamanya padanya

"Sudah pasti punyaku lebih besar" Sehun merasa dirinya paling sempurna dan tidak ada bandingannya

"Ya" Luhan mengatakannya sambil mengeluarkan penis kekasihnya dari dalam sarang dengan cepat

"Shh..." Sehun mendesah kecil ketika tangan kekasihnya bersentuhan dengan penisnya, terasa lembut kulit kekasih dipenisnya

Luhan memasukkan benda panjang tersebut kedalam mulutnya dan memompanya dengan tempo cepat sedangkan Sehun berusaha untuk tidak mendesah dengan keras karena kamar Luhan tidak kedap suara.

Selama setengah jam, Luhan memberikan service dengan lihai dan berbeda dengan Sehun yang mati – matian menahan erangannya agar tidak terdengar seluruh penjuru rumah tersebut.

"Aku mau keluar" Sehun berbisik kecil karena dirinya ingin orgasme sedangkan Luhan tidak peduli dan tetap memompa penis Sehun dengan senang hati dan tak berapa lama semua sperma Sehun masuk kedalam mulutnya

"Hah... gurihnya" Luhan memuji sperma Sehun sangat gurih

"Sudah, ayo makan malam" Sehun yang sudah bisa mengatur nafasnya mengajak kekasihnya untuk makan malam

"Tidak" Luhan masih belum memberikan izin untuk makan malam

"Kenapa tidak?" dahi Sehun berkertu karena perintah singkat Luhan yang melarang mereka makan malam

"Apa kau tidak malu dengan keadaanmu yang berantakan?"

Sehun mengarahkan pandangannya pada keadaannya yang memang sangat berantakan dan menggaruk tengkuk belakangnya karena malu dengan ucapan kekasihnya.

"Kau mandi saja dulu, setelah itu baru aku" Luhan mengusulkan kekasihnya untuk mandi duluan sedangkan dirinya menunggu

"Aku bisa mandi dikamar mandiku" Sehun tidak ingin merepotkan kekasihnya

Luhan mengurut keningnya karena pusing melihat Sehun "Masalahnya kau sedang telanjang dan tidak baik berkeliaran dalam keadaan telanjang"

"Kau benar" Sehun lupa jika penisnya masih dalam keadaan lengket dan bisa – bisa tahu kalau diirinya habis bercinta

"Sudah lah, kau mandi saja disana" Luhan mendorong Sehun hingga masuk kedalam kamar mandinya dan setelah selesai mendorong Sehun dirinya masuk kedalam kamar kekaishnya untuk mengambil pakaian satu set untuk Sehun dan setelah itu dirinya meletakakan pakaian tersebut diatas kasur dan dirinya tiduran dikasur sambil memainkan handphone selagi menunggu kekasihnya mandi

CLECK

"Sudah Lu" Sehun sudah keluar dalam keadaan lebih segar dengan handuk yang bertengger ditubuh atletisnya yang terlihat sangat sexy dan sisa air yang berada ditubuh putih mulus tersebut

"Kau mandi atau apa? Kenapa lama sekali" Luhan jengkel dengan kekasihnya karena terlalu lama menggunakan kamar mandi, seperti wanita saja

"Cuma lima belas menit kau katakan lama? Itu wajar" Sehun tidak tahu jika kekasihnya bisa memarahinya hanya karena menggunakan kamar mandi selama lima belas menit

"Kau mau berkencan emangnya makanya harus rapi – rapi dengan sangat baik"

"Tidak, kekasihku cuma satu dan itu dirimu"

"Sudah lahh, aku mau mandi dulu" Luhan masuk kedalam kamar mandi begitu saja dan melewati Sehun yang sedang binggung

"Apakah aku salah jika mandi selama itu" Sehun bertanya sendiri dan memakai pakaian yang sudah dibawakan kekasihnya untuk dirinya

Sehun yang sudah siap memakai pakaian langsung tiduran diatas kasur kekasihnya untuk menunggu kekasihnya yang sedang mandi.

CLECK

"Kenapa kau masih disini?" Luhan keluar dalam keadaan rapi lengkap dengan baju ganti yang sudah melekat ditubuhnya

"Menunggumu" Sehun menjawab sekedar saja dan tetap memainkan handphonenya untuk membalas chat dari seketarisnya

"Sudah, ayo makan" Luhan mengajak kekasihnya untuk makan malam dan bisa dipastikan yang lainnya sudah makan malam terlebih dahulu

Sehun dan Luhan jalan bersama menuju ruang makan dan terkejut karena yang lain belum menyentuh makanan mereka sedikit pun.

"Kalian lama sekali" Heechul mencibir kedua anaknya yang sangat lama dan membuat mereka harus menunggu mereka

"Maaf Eomma" Luhan meminta maaf sedangkan Sehun tidak peduli dan langsung duduk dikursinya

"Chukkae Lu" Baekhyun dan Chanyeol memberikan ucapan selamat pada Luhan yang sedang binggung

"Chukkae untuk apa? Aku sedang tidak berulang tahun?" Luhan semakin mengerutkan keningnya karena tidak mengerti kearah mana Baekhyun dan Chanyeol berbicara

"Kau dan Sehun akan segera menikah dalam waktu dekat" Baekhyun memberitahukan kabar bahagia tersebut sedangkan Luhan hanya melebarkan matanya mendengar perkataan Baekhyun

"Kau tahu darimana? Aku saja tidak tahu" Luhan dengan polosnya bertanya pada Baekhyun dan membuat yang lain gemas dengannya terutama Sehun yang gemas dengan kekasihnya

"Dari Sehun, dia mengatakannya tadi siang" Baekhyun memberitahukan semua informasi karena dirinya memang suka memberitahu informasi pada orang lain

"Ya!" Luhan memukul lengan kekasihnya untuk meminta penjelasan

"Hei~ Tidak usah main pukul segala" Sehun tidak merasa sakit pada lengannya namun cukup membuatnya kaget dengan teriakan kecil Luhan

"Kenapa kau tidak berdiskusi denganku dulu" Luhan cemberut karena dirinya tidak tahu apa – apa dan bagaikan orang asing dalam keluarga tersebut

"Apakah kau mau membatalkannya?" Sehun alih – laih bertanya daripada menjawab pertanyaan Luhan

"Tidak, tapi bukan seperti itu Hun" Luhan bingung dengan jalan pemikiran kekasihnya yang sangat tiba – tiba

"Baiklah, aku minta maaf dan aku tahu aku salah karena mengambil keputusan sendiri. Apakah kau marah atau ingin membatalkannya?"

"Tidak lanjutkan saja" Luhan tidak bisa menolak karena dirinya juga mencintai Sehun seorang

"Kau bahkan tidak menolaknya, jadi keputusanku tidak salah"

"Bukan seperti itu Sehun, aku cuma terkejeut karena kau tidak memberitahuku. Jangan salah mengambil spekulasi"

"Hm" Sehun hanya mengangguk dan melanjutkan makan malamnya bersama keluarga tercintanya

..

..

..

CLECK

"Sehun" Chanyeol masuk kedalam kamar sepupunya untuk membahas sesuatu yang mungkin sedikit penting

"Apa?" Sehun mengalihkan wajahnya dari bantal menuju pintu dimana sepupunya sedang berdiri

Chanyeol masuk dan menutup pintu dengan sangat pelan hingga tidak menimbulkan suara bunyi yang bisa membuat orang mendengarnya.

"Aku ingin bertanya padamu" Chanyeol mengatakan tujuannya kemari sedangkan Sehun mendudukkan pantatnya karena ingin menjawab pertanyaan Chanyeol sambil mengganguk untuk mempersilahkan Chanyeol bertanya

"Apakah pernah penismu bangun karena Luhan terlihat sangat mempesona"

Sehun mengangguk dan membenarkan perkataan Chanyeol "Kenapa?"

"Aku juga begitu dengan Baekhyun, tapi dia selalu memperhatikan gerak gerikku. Apalagi ketika aku sedang beralasan untuk menuju kamar mandi untuk menuntaskan adik kecilku"

"Aku juga pernah begitu, tapi Luhan dengan senang hati membantuku untuk menidurkan adik kecilku" Sehun menceritakan pengalamannya dengan Luhan yang sedikit berbeda dengan keadaan Chanyeol dan Baekhyun

"Apa?" Chanyeol terkejut dengan pengakuan Sehun sedangkan yang diteriakin merasa jengkel dengan sikap berlebihan sepupunya

"Biasa saja Chan" Sehun menepuk punggung sepupunya untuk meminta respon biasa bukan seperti itu

"Apa kau meminta padanya?" Chanyeol cemburu karena Luhan membantu Sehun menidurkan adik kecilnya sedangkan dirinya harus mencari seribu alasan dan itupun Baekhyun tidak mengijinkannya dengan senang hati

"Tidak, pada awalnya aku juga menolak semua service yang dia berikan karena aku takut lepas kendali dan mengambil keperawanannya ketika belum sah menjadi suami istri. Tetapi dia tidak mau memberikan keperawanannya untuk saat ini dan aku salut dengannya, dan dia akan selalu memeberikanku service jika penisku bangun" Sehun menjelaskan cerita yang terjadi padanya dan Luhan hingga bisa mendapatkan service gratis dari kekasihnya

"Aku iri denganmu" Chanyeol cemberut karena Sehun lebih hebat dibandingkan dengan dirinya

"Jika dia bertanya, maka kau menjawab dengan jujur jika dia sudah memakasamu untuk jujur. Terkadang jujur memang memalukan tapi mana tahu ada rejekimu disana"

"Jangan katakan kalian terlambat makan malam karena melakukan hal itu" Chanyeol curiga jika Sehun dan Luhan tadi malam terlambat makan hanya karena sebuah service

Sehun mengangguk membenarkan dugaan Chanyeol "Kami melakukannya"

"Gila" Chanyeol tidak menyangka jika Sehun akan mengambil waktu sesempit itu untuk melakukan hal – hal yang seharusnya belum boleh dilakukan

"Awalnya hanya karena penisku bangun dimobil karena Luhan menggodaku, dan Luhan menangis hanya karena aku mengacuhkannya. Aku mengacuhkannya bukan tanpa sebab, aku tidak mau menyerangnya atau bahkan meminta service. Tapi dia menangis dan aku terpaksa menjelaskan keadaan sebenarnya dan terkahir dia marah padaku dan mengatakan kenapa tidak memintanya dikantor sebelum pulang. Dan aku menolak untuk bermain dimobil dan setelah sampai rumah, Luhan membawaku kekamarnya dan memberikan service pada adik kecilku"

"Wah, Luhan sangat pengertian pada penismu" Chanyeol tidak menyangka jika Luhan yang polos sudah bisa memberikan service pada penis Sehun

"Hm, kau juga harus jujur jika sudah terdesak" Sehun juga kasihan dengan Chanyeol yang sering menegang tapi tidak ada cara untuk menidurkan penisnya selain melakukan handjob solo

"Hm, aku akan mencobanya" Chanyeol juga ingin seperti Sehun yang sudah mendapatkan service gratsi dari kekasihnya

"Tapi ku ingatkan padamu untuk tidak memaksanya karena itu bisa membuatnya mungkin jijik denganmu dan lama - lama kalian bisa putus hanya akrena sebuah paksaan" Sehun memperingatkan sepupunya untuk tidak menggunakan metode pemaksaan yang bisa berdampak buruk

"Hm" Chanyeol mengangguk untuk membenarkan perkataan Sehun

TOK TOK TOK

"Masuk" Sehun mempersilahkan orang yang mengetuk pintu kamarnya untuk masuk

"Permisi, apakah Chanyeol ada?" Baekhyun bertanya pada Sehun karena tidak melihat Chanyeol yang berdiri disamping Sehun, dirinya hanya menampakkan wajah saja dibalik pintu tersebut

"Ini orangnya" Sehun menunjuk Chanyeol yang sudah berdiri disampingnya

"Yeol, aku ingin bicara denganmu" Baekhyun menampakkan badannya untuk menatap Chanyeol yang berdiri disamping Sehun

"Bentar" Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun dengan sedikit susah payah karena Baekhyun terlihat sangat sexy dengan baju rumah yang super pendek dan ketat

Baekhyun berjalan duluan menuju kamarnya sedangkan Chanyeol mengikuti dari belakang saja karena tidak tahan berada disekitar Baekhyun.

BLAM

"Kau kenapa?" Baekhyun bertanya setelah Chanyeol menutup pintu kamarnya

"Kenapa apanya? Aku biasa saja" Chanyeol tidak mengerti dengan maksud Baekhyun yang bertanya tiba - tiba seperti itu

"Biasa apanya. Kau menghidar akhir - akhir ini dariku, apa kau sudah bosan denganku" Baekhyun murung karena jika Chanyeol benar - benar bosan dengannya membuat hatinya terbelah dua

"Bu... Bukan Baek" Chanyeol gelagapan dengan tuduhan Baekhyun yang seratus persen tidak benar

"Lalu apa?" Baekhyun menuntut untuk meminta penjelasan sedangkan Chanyeol berdoa dalam hati kalau ini dosa yang tidak disengaja olehnya

"Kau jangan marah jika aku mengatakannya dengan jujur"

"Hm" Baekhyun hanya mengangguk namun dalam hatinya sedikit risih dengan kejujuran Chanyeol yang mungkin akan membuatnya nangis saat ini juga didepan kekasihnya

"Aku menjauhimu karena... Karena aku takut menyerangmu" Chanyeol hanya memberikan sedikit clue tentang permasalahan mereka

"Kau menyerangku? Mana mungkin kau menyerang kekasihmu" Baekhyun tidak percaya dan dengan bodohnya menantang Chanyeol yang sedang bernafsu

"Bukan menyerang dengan arti biasa. Aku manusia dan aku pria, seorang pria akan bernafsu jika kekasihnya menggunakan pakaian sexy atau terlihat sangat sexy. Aku menjauhimu karena takut menyerangmu dan memperkosamu saat itu juga"

Chanyeol menjelaskan dengan susah payah sedangakan Baekhyun membesarkan matanya karena cukup terkejut dengan pengakuan Chanyeol.

"Kenapa kau tidak mengatakan jika penismu bangun?" Baekhyun bertanya daripada menjawab semua perkataan Chanyeol

"Aku tidak mungkin memintanya padamu kecuali kau juga dengan suka rela membantuku. Aku tidak memaksamu untuk membantuku menidurkan adiku"

"Baiklah, aku akan membantumu jika adik kecilmu bangun" Baekhyun juga tidak suka dengan sikap Chanyeol yang berubah hanya karena adik kecilnya bangun

"Hm" Chanyeol senang karena setidaknya Baekhyun mengerti dengan kondisinya namun sekarang bukan waktu yang tepat untuk memintanya

..

..

..

Pagi harinya keluarga Sehun makan dengan tenang karena semuanya dalam keadaan mood yang baik seperti biasa karena semua masalah dikantor hanya akan menjadi masalah dikantor bukan dirumah.

"Nanti siang aku bermain kekantormu ya Lu?" Baekhyun bosan dirumah saja dan ingin bermain kekantor Luhan

"Hm, Boleh saja" Luhan tidak pernah melarang jika Baekhyun ingin bermain kekantor

"Tidak, nanti siang kami tidak ada dikantor" Sehun melarang Baekhyun untuk bermain kekantor karena memang mereka tidak ada disana

"Kenapa begitu?" Baekhyun cemberut karena Sehun melarangnya sedangkan Chanyeol mengusap punggung kekasihnya untuk tidak menangis

"Kami ingin fitting baju pengantin nanti siang" Sehun memberitahu alasannya untuk melarang Baekhyun datang sedangkan yang lain syok dengan ucapan Sehun yang sangat tiba - tiba

"Kapan kalian menikah?" Jaejong bertanya karena dirinya tidak tahu sama sekali masalah tersebut

"Minggu depan" Sehun menjawab santai sedangkan Appa Sehun menendang tulang kering anaknya yang sangat bodoh

"ARGH..." Sehun kesakitan dan memegang tulang keringnya yang habis ditendang Appanya, namun dirinya tidak berani memarahi sang pelaku

"Kau tidak apa?" Luhan khawatir dengan kekasihnya yang tiba - tiba berteriak kesakitan

"Hm" Sehun mengangguk saja namun matanya menatap Appanya yang baru saja menendang tulang keringnya

"Kau anak durhaka, tidak memberitahukan kabar bahagia ini dengan orang tuamu"

"Kau benar" Jaejong memperbenarkan ucapan suaminya yang sangat tepat

"Sudah lahh Eomma Appa" Luhan menengahi karena kasihan dengan kekasihnya yang sedang kesakitan sehabis ditendang

"Ayo sayang" Luhan membantu calon suaminya untuk kekamar dan membantunya untuk bersiap - siap sedangkan dirinya tidak masalah dengan hal tersebut

Sehun senang karena calon istrinya sangat perhatian padanya padahal dirinya hanya merasa sakit sedikit saja dan tidak perlu bantuan sebesar itu dari Luhan namun untuk menghargainya, Sehun hanya menerima bantuan tersebut tanpa comment.

"Kau yakin bisa fitting baju dengan kaki seperti itu" Luhan sangat khawatir dengan kekasihnya yang sedang kesakitan

"Aku baik - baik saja Lu" Sehun tersenyum tulus pada Luhan yang sangat khawatir padanya dan membuat dada Luhan sesak karena tidak tahan dengan keimutan kekasihnya yang bertambah jika tersenyum

"Ayo" Luhan dan Sehun memasuki mobil dan melaju kekantor mereka untuk bekerja, walaupun Sehun adalah CEO tapi dirinya sangat menjunjung tinggi bertanggung jawab

Sesampainya diperusahaan Luhan membantu Sehun dengan sangat hati - hati sedangkan banyak yang menatap iri dan menatap senang karena Luhan sangat perhatian dengan Sehun CEO tampan mereka.

"Aku kembali ya" Luhan mengatakannya setelah mendudukkan Sehun dikursi kerajaannya

"Hm, tapi aku masih rindu denganmu" Sehun menggoda kekasihnya yang menatap sebal padanya

"Jangan seperti itu, nanti kau jadi jelek" Sehun hanya bercanda namun Luhan tidak mengindahkannya

"Kalau begitu kau cari yang baru saja nanti untuk fitting baju" Luhan kesal dengan kekasihnya yang terkadang kekanakan tetapi itulah yang membuat Luhan mencintai kekasihnya

"Hei! Aku cuma bercanda" Sehun ketakutan dan mendekati kekasihnya dengan susah payah karena tulang keringnya masih sangat sakit dan ngilu

"ARGH..." Sehun kelepasan dan merintih kesakitan sedangkan Luhan dengan cepat mendekati kekasihnya yang sudah mulai runtuh dan hampir jatuh ketanah jika diirnya tidak menolong

"Terima kasih" Sehun senang karena Luhannya masih perhatian dengannya walaupun dalam keadaan bad mood padanya

TAKKK

"ARGH..." Sehun kesakitan karena Luhan menjentik jidat sexynya sedangkan Luhan hanya menatap malas kekasihnya yang sebentar lagi akan menikah dengannya dan sah menjadi suaminya

"Makanya jangan nakal jadi orang, sudah tahu kakimu tidak bisa berjalan"

Sehun tidak peduli dengan ocehan Luhan dan dirinya memeluk sang kekasih dengan erat hingga membuat Luhan diam dan tidak melanjutkan ocehannya.

"Aku takut kau salah paham Lu" Sehun tidak berani menatap mata kekasihnya yang mungkin akan meledak

"Aku cuma bercanda" Luhan merasa bersalah karena sudah mengerjai kekasihnya yang sedang kesakitan sedangkan Sehun melebarkan matanya karena terkejut dengan pengakuan polos Luhan

"YAK!" Sehun tanpa sadar berteriak sedangkan Luhan yang tidak siap cukup terkejut dan tersentak karena Sehun berteriak dengan tiba - tiba

Sehun menyadari kesalahannya yang sudah membuat kekasihnya terkejut dan mengelus punggung Luhan dengan cepat untuk menenangkan kekasihnya dari tangisan "Aku minta maaf Lu, aku tidak sengaja"

"Hiks..." Luhan terisak karena tidak bisa menahan rasa terkejutnya karena sentakan Sehun yang tiba - tiba

"Aku minta maaf" Sehun sangat merasa bersalah karena apa yang diharapkannya tidak terjadi justru terjadi

"Hiks... Hm" Luhan mengangguk dan membersihkan wajahnya dari air mata sedangkan Sehun melepaskan pelukannya untuk membantu kekasihnya yang masih terisak

Sehun melap wajah Luhan dengan tissue yang ada dimejanya sedangkan Luhan sudah diam dan tidak menangis lagi.

"Sudah, aku minta maaf ya" Sehun masih merasa bersalah dan tidak enak atas perbuatan bodohnya yang tidak bermoral membuat kekasihnya menangis hanya karena sebuah teriakan yang tiba - tiba

"Hm, aku kembali dulu ya" Luhan tidak mempermasalahkan hal tersebut karena dirinya menangis hanya karena cukup terkejut dan selama ini dirinya jarang diteriakin apalagi diteriakin membuat dirinya hanya terkejut

Sehun merasa sangat bersalah sudah membuat calon istrinya menangis dan berharap kedepannya dirinya tidak melakukan hal yang bisa membuat Luhannya menangis hanya karena masalah kecil.

..

..

..

Siang harinya Sehun sudah menyelesaikan pekerjaannya dan menuju ruangan Luhan untuk mengajak calon istrinya fitting baju sekalian makan siang diluar.

CLECK

"Lu..."

"Sebentar, aku masih ada sedikit pekerjaan" Luhan menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya pada Sehun yang berada dipintu karena dirinya hanya membutuhkan waktu satu menit lagi untuk menyelesaikan pekerjaannya

"Hah..." Luhan sudah selesai dengan pekerjaannya dan merapikan mejanya yang sangat berantakan karena sibuk

"Ayo" Luhan dan Sehun keluar dari kantor dengan berpegangan tangan dan membuat banyak orang iri dengan hal tersebut

BLAM

"Kita mau makan dimana Lu?" Sehun bertanya setelah memasangkan safety belt pada kekasihnya

"Ditempat biasa saja Hun" Luhan memang selama ini lebih sering makan dengan Sehun ditempat biasa karena Sehun yang mengatakan padanya bahwa direstorant tersebut semua makanannya sangat enak dan memang kenyataaannya seperti itu

"Baiklah" Sehun senang jika Luhan juga menyukai seleranya

Selama perjalanan Sehun sibuk menyetir sedangkan Luhan melihat pemandangan untuk menghilangkan rasa stresnya karena pekerjaannya yang selalu menumpuk. Sehun cukup kesal dengan Luhan karena rasanya mereka seperti bermusuhan apalagi kasus tadi pagi bisa menjadi permasalahan utama.

"Lu, apakah pemadangan diluar jauh lebih menarik dibandingkan dengan diriku" Sehun mencoba untuk menarik perhatian kekasihnya hanya untuk dirinya seorang

"Kau tetap yang menarik bagiku" Luhan paham jika kekasihnya sedang cemburu karena tidak diperhatikan

"Kalau begitu tatap saja aku jika kau sedang bosan"

"Hm" Luhan hanya mengatakan hm saja agar kekasihnya tidak merajuk berkelanjutan

"Apakah kau sedih jika kita menikah dalam waktu satu minggu kedepan?" Sehun bertanya agar kekasihnya bisa memberikan jawaban secara langsung

"Bu.. Bukan Hun, aku hanya gugup saja. Itu terlalu tiba – tiba" Luhan ketakutan ketika Sehun bertanya hal yang sudah seharusnya terjadi

"Apakah sebaiknya dibatalkan saja" Sehun tidak suka memaksa kehendaknya untuk kekasihnya yang sedang gugup

"Hei! Tidak baik membatalkannya karena semuanya sudah dipersiapkan dengan baik termasuk undangan yang sudah disebarkan. Aku hanya gugup bukan menolak Hun" Luhan kesal karena Sehun seenak jidatnya mengatakan untuk membatalakn pernikahan mereka minggu depan

"Kenapa kau marah Lu?" Sehun bingung karena yang seharunya marah itu dirinya bukan Luhan

"Iya, aku tidak suka memiliki kekasih yang sudah mengatakan rencana A tapi dengan seenak mulut membatalkan rencana A tersebut"

"Aku bukan ingin membatalkannya, aku hanya khawatir denganmu" Sehun paham kenapa Luhan marah padanya padahal tujuannya kan baik

Luhan menghela nafas karena sudah salah paham dengan Sehun "Aku tidak takut cuma gugup saja, jangan berlebihan Hun. Tetap lanjutkan pernikahan kita minggu depan"

Bersamaan dengan perkataan Luhan, mereka sudah memasuki kawasan restorant kecil untuk makan siang seperti masa kuliah mereka dulu yang sering bermain kerestorant tersebut untuk berpacaran dan sebagainya. Setelah memarkirkan mobil mereka hendak masuk kedalam restorant tersebut namun sebuah suara menghentikan langkah mereka.

"Hai anak nakal dan Hai princess" seorang Bibi menyapa Sehun dan Luhan yang sudah dia anggap seperti anak sendiri

"Hai Bi" Luhan berlari kecil dan memeluk Bibi pemilik restorant yang sering mereka kunjungi

"Hai princees, sudah lama tidak berkunjung ke restorant Bibi"

"Iya Bi, kami berdua sudah sangat sibuk sehingga jarang bisa makan siang diluar" Luhan juga rindu dengan masakan Bibi tersebut karena selalu terasa enak di lidahnya dan Sehun

"Apa anak nakal ini masih menjadi kekasihmu Lu?" Bibi sangat tahu dengan hubungan Sehun dan Luhan yang tidak pernah berkelahi selama ini dan ingin memastikan hubungan kedua orang tersebut

"Bibi" Sehun kesal karena dirinya sedari tadi dipanggil anak nakal padahal masih banyak panggilan baik untuk dirinya seperti anak tampan, anak sexy, atau sebagainya tetapi anak nakal tidak cocok dengannya

"Bi, jangan panggil dia anak nakal karena seminggu lagi dia akan menjadi suamiku" Luhan mengetahui kekasihnya sudah kesal dan memberitahu pada Bibi tersebut bahwa Sehun bukan anak nakal seperti yang dikatakan sang Bibi

"Benarkah?"

"Hm"

"Wah, selamat ya" Bibi tersebut senang karena cinta Luhan dan Sehun abadi dan terlihat sangat tulus

"Iya Bi, kami masuk dulu ya Bi" Luhan sangat lapar dan pamit untuk memesan makanan sedangkan Sehun langsung mengambil kursi favorit mereka yang selama ini mereka tempati jika sedang berkunjung ke cafe tersebut

Luhan membawa pesanan mereka dan meletakannya dimeja sedangkan Sehun membantu kekasihnya untuk menata dimeja.

"Lain kali panggil aku jika mengangkat barang" Sehun tidak suka jika Luhannya mengangkat barang yang berat – berat

"Iya Bawel" Luhan tidak suka jika penyakit kecerewetan Sehun sudah kambuh karena tingkat kecerewetannya bisa mengalahkan Baekhyun yang notabane adalah cewek

"Dasar" Sehun mendengus ketika dikatakan bawel hingga seseorang menginterupsi pembicaraan mereka

"Permisi, ini adalah menu tambahan yang diberikan oleh Bibi Jung" sang pelayan memberikan dua porsi makanan tambahan untuk Sehun yang diberikan oleh Bibi pemilik restorant tersebut

"Aigoo.. Bibi terlalu baik" Luhan ingin menolak segan dan menerima juga sangat segan membuatnya pusing

"Terima saja nak, anggap hadiah dari Bibi untuk kalian" sang Bibi muncul karena sudah bisa dipastikan Luhan dan Sehun akan menolak menu tambahan yang dia berikan

"Terima kasih Bi" Luhan dan Sehun kompak memberikan ucapan terima kasih sedangkan Bibi hanya tersenyum melihat Luhan dan Sehun yang tetap kompak dan selalu bersamaan

"Baiklah, Bibi kebelakang dulu ya nak" Bibi tersebut pamit karena dirinya masih memiliki banyak perkejaan

"Tidak kusangka Bibi masih sama seperti yang dulu" Sehun juga terkejut walaupun selama mereka kuliah mereka juga sering diberikan es krim gratis namun kali ini adalah makanan tambahan

"Hm, ayo makan. Aku sudah sangat lapar" Luhan sudah sangat laapr karena pekerjaan yang banyak membuatnya menjadi cepat lapar

Mereka makan dengan tenang dan banyak pasang mata yang melihat ketampanan Sehun dan kecantikan Luhan yang bagaikan dewa diutuskan untuk hidup bersama.

Selesai makan siang, Sehun membayar semua tagihan mereka kepada kasir namun sang kasir menolak untuk melakukan pembayaran tersebut.

"Kenapa tidak ada pembayarannya?"

"Karena kata Bibi Jung semuanya tidak perlu dibayar" sang kasir mengatakannya dengan jujur walaupun dirinya sangat terpesona dengan ketampanan Sehun

"Baiklah, tolong ucapkan terima kasih padanya" Sehun bingung dan menerima kebaikan dari sang Bibi sekaligus mengucapkan terima kasih atas kebaikan tersebut

Sehun kembali ketempatnya dan menjemput Luhan untuk keluar bersama dari restorant tersebut.

"Kena berapa Hun?" Luhan ingin tahu apakah menu kesukaan mereka harganya naik atau masih tetap seperti jaman mereka dulu

"Aku tidak tahu, karena aku tidak membayarnya"

"Kenapa kau tidak membayarnya" Luhan syok karena kekasihnya tidak membayar tagihan makan siang mereka

"Karena Bibi tersebut mengatakan bahwa semuanya tidak perlu dibayar" Sehun mengatakannya dengan berat karena dirinya juga sungkan untuk tidak membayar makan siang mereka sedangkan Luhan juga bingung dengan kebaikan Bibi tersebut yang memberikan mereka gratis makan siang hari ini

"Sudah lahh, nanti waktu pernikahan kita undang saja Bibi" Luhan mengusulkan ide tersebut karena itu satu – satunya jalan untuk membalas kebaikan sang Bibi pada mereka

"Setuju"

"Ayo" Luhan dan Sehun keluar dari restorant tersebut sambil berpelukan karena merasa senang hari ini akan fiting baju pernikahan mereka

..

..

..

"Apakah ini bagus Hun" Luhan yang sudah mencoba gaun pertamanya langsung memamerkan pada Sehun yang menatapnya tidak berkedip

"Hei aku bertanya, kalau tidak bagus kenapa kau tidak mengatakannya langsung" Luhan kesal karena Sehun bukannya menjawab malah melamun

"Gaunmu bagus" Sehun mengeluarkan suaranya setelah dimarahi Luhan

"Benarkah? Kalau begitu kenapa kau lama sekali memberikan jawaban" Luhan masih kesal dengan kekasihnya yang banyakan diam

"Karena aku terpesona dengan kecantikanmu"

Luhan merasakan pipinya memerah karena ucapan Sehun yang sangat menggoda imannya dan dengan terburu – buru bagaikan petir Luhan lari masuk kedalam ruang ganti karena malu dengan pujian yang diberikan Sehun untuknya.

Sehun bersantai karena dirinya sudah siap melakukan fiting tinggal Luhan yang masih mencoba semua gaun yang sudah dia pesan.

Tidak berapa lama Luhan keluar dengan gaun berwarna biru muda yang terlihat sangat indah dikulit putih Luhan yang membuatnya semakin bersinar.

"Kalau ini?"

"Cantik, kau tetap cantik memakai apapun" Sehun langsung menjawab karena kali ini dia tidak mau membuat kekasihnya atau lebih tepatnya calon istrinya marah karena dirinya banyakan melamun

"Baiklah, habis ini kita mau kemana Hun?" Luhan merasa mereka masih memiliki waktu kurang lebih satu setengah jam lagi

"Kita istirahat saja dirumah karena selama ini kita selalu sibuk bekerja dan tidak terlalu memikirkan kondisi tubuh. Lebih baik kita istirahat daripada jalan – jalan" Sehun bukan tidak romantis namun dirinya khawatir dengan tubuh kekasihnya dan dirinya yang selalu sibuk bekerja dan kekurangan tidur dimalam hari

"Baiklah" Luhan setuju dengan perkataan Sehun karena selama ini mereka sering lembur hingga jam dua untuk mengurus pekerjaan yang selalu menumpuk

"Ayo beres – beres lalu kita pulang" Sehun menyuruh Luhan untuk beres – beres karena Luhan masih memakai gaun untuk mencoba ukuran ditubuhnya

"Hm, tunggu aku" Luhan masuk kedalam ruang ganti dan mengganti gaunnya dengan baju formalnya dengan cepat

"Sudah, ayo Hun" Luhan sudah selesai dan keluar dari gedung tersebut dengan senyum menawan

Sesampainya dirumah, Jaejong cukup heran karena Luhan dan Sehun pulang lebih awal walaupun mereka hari ini melakukan fitting baju.

"Kenapa langsung pulang Hun?"

"Lebih baik kami istirahat Eomma, karena selama ini kami terlalu sibuk dengan pekerjaan" Sehun menjawab dengan santai sedangkan Luhan mengangguk membenarkan perkataan Sehun

"Baiklah, silahkan istirahat nak" Jaejong mengerti dengan kondisi anak – anaknya yang sibuk bekerja hari ke hari dan kekurangan tidur karena pekerjaan yang menumpuk

"Permisi Eomma" Luhan dan Sehun naik ke lantai dua dimana kamar mereka berada

"Kau tidur dikamarmu saja Lu" Sehun memberitahu karena mereka belum bisa tidur bersama selagi mereka belum memiliki status suami istri

"Siapa juga mau tidur denganmu?" Luhan menjulurkan lidahnya untuk mengejek Sehun atas perkataan Sehun yang memang dari dulu seperti itu

"Awas kau..." Sehun geram dengan candaan kekasihnya yang seperti mengejeknya

"Ya" Luhan tanpa takut menantang Sehun dan langsung masuk kedalam kamarnya sedangkan Sehun cukup terkejut karena Luhan sudah mulai berani dengannya

..

..

..

TOK TOK TOK

"Sehun, ayo bangun" Luhan yang sudah bangun dari tidur siangnya atau lebih tepatnya tidur sorenya membangunkan kekasihnya yang masih belum keluar dari kamar

CLECK

"Kenapa tidak masuk saja" Sehun masih mengantuk membukakan pintu untuk kekasihnya yang mengetuk pintunya dari tadi

"Tidak baik masuk kedalam kamar orang" Luhan menarik tangan kekasihnya untuk turun dan makan malam bersama yang lain

"Sabar" Sehun yang masih dibawah pengaruh alam sadar merasa Luhan menariknya dengan kuat dan tanpa perasaan

"Eoh, kalian sudah datang silahkan duduk" Jaejong menyuruh anaknya yang baru datang untuk duduk

Sehun dan Luhan duduk dikursi masing – masing dan memulai makan malam mereka bersama yang lain. Selesai makan malam selama dua puluh menit semuanya masih belum ada yang berniat beranjak dari meja makan karena kebiasaan mereka saling menunggu.

"Ada yang ingin kusampaikan pada kalian semua" Chanyeol membuka suaranya karena dia ingin menyampaikan kabar bahagia ini untuk semuanya

"Apa?" Sehun merespon duluan karena biasanya Chanyeol jarang ingin menyampaikan sesuatu yang kelihatan sangat penting

"Aku ingin menyampaikan bahwa sebulan lagi kami akan menikah" Chanyeol mengatakannya dengan sangat pelan – pelan agar semuanya mendengar dengan baik

"Apa?" Sehun terkejut karena Chanyrol sebelumnya tidak pernah cerita dengannya

"Aku akan menikah dengan Baekhyun sebulan lagi" Chanyeol kesal karena Sehun menjadi cerewet hari ini

"Selamat Baek" Luhan memeluk Baekhyun dan memberikan selamat kepada sahabatnya\

"Hm" Baekhyun mengangguk karena dirinya juga senang dengan berita tersebut

"Kenapa kau tidak mau gabung dengan kami saja minggu depan?" Sehun memberikan usulan yang cukup menarik namun membuat Baekhyun terkejut karena itu terlalu cepat

"Hun, jangan memberikan usulan yang tidak – tidak" Luhan memarahi calon suaminya yang meminta tidak – tidak pada calon pasangan suami istri berikutnya

"Apanya yang tidak – tidak Lu?" Sehun tidak mengerti kearah mana Luhan berbicara dan meminta penjelasan

"Kau ini bagaimana sih. Baekhyun pasti shock karena menikah minggu depan itu terlalu tiba – tiba" Chanyeol pusing dengan Sehun yang hari ini menjadi bodoh dan super cerewet

"Benarkah?" Sehun melirik kearah Luhan untuk meminta penjelasan sedangkan Luhan hanya menganggukkan kepala

..

..

..

Seminggu kemudian

CLECK

"Bagaimana, apa kau sudah siap?" Appa Sehun memasuki ruangan calon menantunya yang sedang siap – siap

"Sudah Appa" Luhan menghampiri Appanya dan calon Appa mertuanya

"Jangan gugup, rileks saja" Appa Sehun sangat tahu jika putrinya gugup dan tidak bisa tenang

"Iya Appa" Luhan mencoba untuk rileks seperti apa yang dikatakan Appanya sedangkan Appa Sehun menuntunnya untuk menuju altar dimana pemberkatan mereka akan segera dilaksanakan

"Ayo, Appa menemanimu" Appa Sehun memberikan aba – aba sebelum membawa calon menantunya kealtar dan kehadapan suaminya

Setelah menuju altar, Sehun tersenyum kepada Luhan yang hari ini terlihat sangat cantik dari biasanya sedangkan Luhan malu menatap Sehun yang terlihat semakin tampan.

"Appa menitip Luhan padamu" Appa Sehun mengatakan pada anaknya untuk menjaga Luhan untuk kedepannya

"Baik Appa, aku akan menjaganya" Sehun menerima perintah yang diberikan Appanya dan tanpa perintah tersebut dirinya juga akan melindungi Luhan seperti biasa dan selama ini dirinya sudah melakukan hal tersebut karena cintanya pada Luhan sangat lah besar

Appa Sehun kembali ketempatnya dan duduk disamping istrinya untuk menyaksikan pemberkatan anaknya yang sebentar lagi akan resmi menikah.

Apakah kau Oh Sehun bersedia menerima Xi Luhan sebagai istrimu baik dalam keadaan suka maupun duka dan hanya dipisahkan oleh maut

"Saya bersedia menerima Luhan baik dalam keadaan suka maupun duka dan hanya dipisahkan oleh maut" Sehun menajawab mantap dan lantang

Apakah Kau Xi Luhan bersedia menerima Oh Sehun sebagai suamimu baik dalam keadaan suka maupun duka dan hanya dipisahkan oleh maut

"Saya bersedia menerima Sehun baik dalam keadaan suka mapun duka dan hanya dipisahkan oleh maut" Luhan menjawab dengan elegan namun semuanya menyukai cara Luhan berbicara yang lembut

"Baiklah hadirin sekalian, pasangan Luhan dan Sehun sudah sah menjadi suami istri" sang pastor memberikan pengumuman bahwa Luhan dan Sehun sudah sah menjadi suami istri. Banyak tepuk tangan yang menghiasi hari yang indah ini atas pernikahan tersebut

"Silahkan dicium pengantinnya"

Sehun mencium Luhan tepat dibibir dengan lembut karena tidak ada unsur nafsu didalam ciuman tersebut. Itu hanya lambang untuk kesatuan mereka atas sahnya mereka dihadapan Tuhan.

Malam harinya Sehun membawa Luhan untuk kembali ke hotel yang sudah mereka pesan khusus malam ini saja.

"Hah... aku mau mandi dulu" Luhan izin untuk mandi dulu karena dirinya merasa sangat pegal dengan heels yang selalu bertengger dikakinya dan jangan lupakan dirinya dan Sehun banyakan berdiri untuk menyambut tamu

"Baiklah, aku akan menunggumu" Sehun merasa sedikit gugup untuk malam pertama mereka karena selama ini dirinya belum pernah melihat Luhan telanjang dan itu membuatnya menjadi gugup

Luhan masuk kedalam kamar mandi dan mandi dengan tenang sedangkan Sehun memikirkan cara untuk melakukan malam pertama dengan cara tidak menyakiti Luhan. Sehun pernah mendengar dari temannya kalau bermain dengan wanita yang masih perawan itu sungguh sulit karena mereka akan merasakan sakit yang parah diawalnya.

CLECK

"Kau mau mandi air panas?" Luhan bertanya pada suaminya setelah dirinya mandi dengan segar

"..."

"Sehun..." Luhan memanggil suaminya yang tidak mendengarnya dengan baik

"Apa Lu?" Sehun baru sadar dari khayalannya dan bertanya pada Luhan yang memanggilnya dengan manja

"Kau mau mandi air panas tidak?" Luhan bertanya dengan sabar karena tidak mungkin dimalam pertamanya dengan Sehun sudah dimulai dengan perkelahian karena masalah kecil

"Tidak usah Lu" Sehun masuk kedalam kamar mandi dan melewati Luhan begitu saja, sedangkan istrinya tidak ambil pusing karena mungkin saja Sehun sedang kelelahan

Selama sepuluh menit Luhan menunggu Sehun untuk siap mandi dan dirinya sudah memakai baju yang sangat tipis untuk malam pertamanya serta menggoda suaminya untuk mengambil keperawanannya.

CLECK

"Lu" Sehun terkejut karena begitu dirinya keluar dari kamar mandi dengan pakaian rumahan, Luhan sudah langsung memeluknya dan menempelkan kedua gundukan payudara pada dada kekarnya

"Sehun~" Luhan menjadi manja pada suaminya yang menatapnya dengan tidak sabar

Sehun tidak banyak bicara dan membawa istrinya keatas ranjang dan melemparnya begitu saja, Luhan tidak masalah diperlakukan kasar karena dirinya juga menyukai sisi liar Sehun.

"Kenapa kau memakai baju tipis? Nanti kau kedingingan Lu" Sehun tidak suka jika istrinya sakit karena memakai pakaian sexy dan terlalu tipis. Sehun masih memiliki hati untuk tidak memaksa istrinya menggunakan pakaian sexy untuk menggodanya

"Ingin menggoda suamiku" Luhan mendekati Sehun dan meremas gundukan penis suaminya yang terlihat sudah menggembung dan sesak

"Ah... Lu" Sehun menikmati istrinya yang liar dan terkadang bukan terlihat seperti Luhan yang selama ini dia kenal

"HunHun ingin bermain dengan Lulu kan?" Luhan bertanya dengan polos sambil tangannya dengan nakal meremas penis suaminya

"Iya Lu" Sehun tidak bisa menolak karena Luhan memasang wajah menggodanya dan juga jangan lupakan tangan nakal istrinya yang bermain diaset kebanggaannya membuatnya kesusahan menolak tawaran Luhan

Luhan dengan ganas membalikkan keadaan hingga Sehun dibawahnya dan mencium Sehun bagaikan singa yang lapar dan siap memangsa.

"ARGH..." Sehun kesusahan melawan karena Luhannya sangat ganas dari biasanya

Luhan sudah bosan dengan bibir suaminya mencari mainan lain yang ada ditubuh suaminya, dan dirinya bermain dengan puting Sehun yang terlihat sangat menggodanya namun sebelumnya Luhan dengan sedikit susah payah membuka baju Sehun yang sangat ketat dan pada akhirnya terpesona dengan tubuh suaminya yang sangat sexy serta pemikirannya bahwa puting Sehun sangat menggoda adalah fakta.

"Slurpss..." Luhan menjilatnya dengan nakal dan membuat Sehun mengelinjang seperti cacing kepanasan karena Luhannya sangat liar malam ini

"Ah..."

"Slurpss..." Luhan menjilat yang sebelah kiri untuk memberikan kenikmatan pada suaminya yang sedang berada diawang kenikmatan

Luhan merangkak turun dan mendekatkan wajahnya pada selangkangan Sehun yang sudah menggembung dibalik celana Sehun. Luhan menggesekkan wajahnya dengan selangkan Sehun seperti setrika dan hal itu pula membuat Sehun kesulitan menyuruh istrinya untuk berhenti melakukan itu karena itu semua sangat nikmat.

"Ah..."

Luhan membuka bajunya sendiri dan Sehun cukup terkejut karena setelah Luhan melepaskan bajunya, Luhan tidak memaki bra sama sekali sedangkan Luhan tersenyum nakal dan melanjutkan aksinya untuk membuka celana Sehun.

"Wah... aku masih tidak menyangka dengan penismu" Luhan menggngam penis Sehun setelah membuka celana suaminya

"Ah... Kenapa Lu?" Sehun bertanya dengan susah payah karena mendesah kenikmatan ketika Luhan menggengam penisnya dengan lembut

"Terlihat menggoda dan membuatku berniat menghabisinya" Luhan menjilat bibirnya sendiri karena tergoda untuk memakan dengan rakus penis Sehun

Sehun tertawa dan senang karena Luhan menyukai penisnya "Silahkan dinikmati"

Luhan yang mendengar hal tersebut langsung menghisap rakus penis suaminya yang sangat menggodanya sedangkan Sehun yang tidak menyangka akan diserang seperti itu hanya bisa mendesah kenikmatan ketika istrinya memakan penisnya dengan rakus.

"Ah... kau semakin liar Lu Ah..."

"Ah... makan lagi Lu"

Luhan tidak menghiraukan perkataan Sehun karena dirinya hanya berpusat untuk memakan penis suaminya hingga puas.

"Lu... Kumohon untuk berhenti Ah..." Sehun tidak ingin dirinya lemas karena Luhan memakan penisnya dengan rakus

"Kenapa?" Luhan menghentikan aktifitasnya makan memakan penis Sehun karena suaminya meminta untuk berhenti

"Bukan bermaksud untuk melarangmu memakan penisku namun kita juga harus bersetubuh dimalam pertama kita" Sehun malu harus menjelaskan sendiri semuanya

"Ah... aku mengerti" Luhan paham dengan maksud Sehun dan ini waktunya untuk memberikan keperawannya pada suami tercintanya

"Baiklah, aku akan membuka celanamu" Sehun menurunkan celana istrinya untuk memulai acara inti dari permainan panas mereka

Setelah menurunkan celana Luhan, dirinya cukup terkejut karena Luhan tidak memakai dalaman sama sekali.

"Jangan menatapnya seperti itu, dia membutuhkanmu" Luhan mencium bibir suaminya untuk membangkitkan gairah Sehun yang mungkin sudah sedikit luntur karena terpesona dengan vaginanya

"Ah.." Sehun mencoba mengkuasai permainan dan dirinya berhasil dengan cepat sedangkan Luhan cukup kewalahan namun menyukai sisi liar Sehun yang sudah keluar

"Lu, aku akan masuk" Sehun sudah mengarahkan penisnya pada vagina Luhan yang berkedeut

"Hm" Luhan tidak meminta untuk bermain pelan – pelan karena itu hanya akan memberikan sensasi tidak menyengkan

Sehun memasukkannya dengan satu tarikan dan membuat Luhan terkejut karena vaginanya bagaikan dibelah "ARGH..."

"Aku minta maaf Lu" Sehun menyadari kesalahannya yang sudah membuat Luhan kesakitan

"Jangan mengeluarkan penismu karena itu akan membuatku semakin menderita" Luhan tahu bahwa suaminya berniat mengeluarkan penis tersebut dari sarangnya

"Baiklah" Sehun hanya diam untuk meredakan rasa sakit yang diterima istrinya

"Bergerak lahh dengan pelan – pelan, setelah vaginaku menerima penismu dengan seutuhnya maka kau bisa bermain dengan kasar"

"Kau yakin" Sehun tidak yakin jika Luhannya sudah terlihat baik – baik saja

"Hm, bergerak lah sayang" Luhan memberikan anggukan mantap pada suaminya

"Jika sakit kau bisa mencakarku" Sehun masih tidak tega menyakiti istrinya

"Iya bawel" Luhan menggoyangkan pinggangnya dan memberikan getaran kecil pada penis Sehun yang sudah setengah tertidur menjadi tegang total

"Nice" Luhan senang karena penis Sehun kembali tegang dan dia merasa sangat full karena penis Sehun bersarang didalam tubuhnya

"Aku bergerak" Sehun tergoda untuk melanjutkan permainannya dan Luhan senang karena Sehun menuruti permintaannya

"Ah..." Luhan kenikmatan karena goyangan Sehun sangat memabukkannya

"Ah... Lebih kasar Hun" Luhan meminta untuk bermain kasar dengan susah payah karena dirinya cukup kewalahan dengan permaianan Sehun sambil berbicara

Sehun menuruti permintaan Luhan dan menggenjot vagina Luhan dua kali lebih cepat dan membuat Luhan mendesah kenikmatan serta suara erengan Luhan terdengar lebih seksi.

"ARGH... KAU HEBAT HUN.."

"LEBIH CEPAT AHH... VAGINAKU SANGAT GATAL UNTUK DIMASUKI PENISMU..."

"AH... LEBIH CEPAT SAYANG.. AH..."

Sehun merasa dirinya diawang – awang karena menikmati permaian yang dia lakukan bersama Luhan sedangkan Luhan yang digenjot juga merasa nikmar dengan permainan kasar Sehun.

"AKU MAU KELUAR HUN.. AH..."

"BERSAMA LU..."

"AH..." Sehun dan Luhan orgasme bersamaan dan ini pertama kalinya sperma Sehun masuk kedalam lubang favoritnya

"Kau yang terbaik" Luhan memberikan jempolnya pada Sehun yang hari ini sudah mengikuti permintaannya

"Kau juga Lu" Sehun dan Luhan ambruk karena permainan panas mereka yang memakan waktu tiga jam lebih dan mereka tertidur sambil berpelukan

~TBC~