mungkin ada banyak kesalahan dalam fic saya, tapi saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menulis karya saya ini.

thanks para readers dan silent readers yang telah membaca karya saya serta me-review-nya.

meskipun hanya 15 review yang masuk, itu sudah membuat saya semangat melanjutkan karya saya ini.

tanpa banyak bicara, saya persembahkan fic karya saya

.

.

.

.

Straight Illusion Of Strong Heartness
.
.
.
(GaaNaruko)

.

.

.

Hurt/Comfort, Romance

.
.
.
Warning: EYD ancur, OOC, Typo(s) bertebaran, Lemon catat: "LEMON" rate M DLL
.
.
.
Felovian Alexa
.
.
.
Chapter 4: Life ALIVE

.

.

.

Kondom?
Naruko kebingungan dengan barang yang di berikan Gaara padanya.
"Untuk jaga-jaga Hime, kalau aku minta jatah." ujar Gaara memasang wajah masa bodoh.
"Ga-Gaara-sama," Wajah Naruko langsung memerah karena perkataan Gaara.
"Eekhmm bisakah kau panggil aku tanpa suffix-Sama?" pinta Gaara sambil berdehem kemudian mencium singkat bibir Naruko.
"Eh?!" Naruko terkejut mendapat kecupan singkat dari Gaara.
"Baiklah, mulai dari sekarang. Kau dan aku resmi pacaran" ucap Gaara lalu meremas pelan dada kanan Naruko.

"Aakh!" Naruko memekik pelan.
"Ayo." Gaara keluar dari mobilnya bersama Naruko.
Naruko mengikuti Gaara dari belakang menuju kelas mereka masing-masing.
Tepat di pertigaan jalan menuju kelasnya, seorang berambut pantat ayam menunggunya di depan pintu kelas Naruko serta di kerubungi para fans setia-nya.
Naruko menerobos keramaian didepan kelasnya itu, tapi langkahnya terhenti oleh pegangan seseorang pada pergelangan tangannya.
Naruko melihat tangan yang sedang memegang tangannya itu.
"Ada apa Senpai?" tanya gadis itu.
Semua fans Sasuke melihat adegan 'pegangan tangan' Naruko bersama Sasuke.
"Aku perlu bicara padamu" kata Sasuke datar.
"Gomenasai senpai, aku tidak bisa. Tenten dan Chouji menungguku di dalam kelas untuk menyelesaikan tugas kelompok." tolak Gadis itu melepas tangan Sasuke dari pergelangan tangannya.
Namun Sasuke dengan pendiriannya mencoba membujuk Naruko.
"Kumohon Naruko."
Gadis pirang itu tersenyum meminta maaf pada Sasuke "Sekali lagi Gomenasai Sasuke-senpai. Aku tidak bisa." Naruko berhasil melepaskan tangan Sasuke dari pergelangan tangannya.
Belum sempat menghentikkan Naruko lagi, Fans-nya kembali mengerubunginya seperti semut.
Tenten yang sudah ada di kelas sejak tadi mendekati Naruko yang sudah duduk di bangkunya.
"Mau apa Sasuke padamu?" tanya Tenten setengah menyelidik, gadis pirang itu mengangkat kedua bahunya pelan.
"Sudahlah, Tenten bantu aku menyusun folder ini." ucap Naruko mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
KRAUK KRAUK
Chouji tengah makan kripik kentangnya memperhatikan Tenten dengan Naruko menyusun folder dan makalah untuk presentasi nanti.
"Kurasa Sasuke suka padamu Naruko." ucap Chouji spontan sembari mengunyah kripik kentangnya.
Tenten menatap Chouji sesaat lalu mata coklatnya menatap Naruko.
Tenten mengakui Naruko sangat cantik, bahkan mendapat cantik peringkat 2 disekolah setelah Hyuuga Hinata, Adik dari Hyuuga Neji.
Banyak laki-laki yang mengincar Naruko, boleh di bilang Naruko memiliki kharisma tersendiri untuk menarik perhatian lawan jenisnya.
Entah berapa orang sudah di tolak Naruko secara halus. Ootsutsuki Toneri, Yahiko, Momochi Haku, Akasuna No Sasori, Inuzuka Kiba, Shimura Sai, bahkan seorang Uchiha Sasuke yang terkenal susah di dekati wanita juga gigih merebut Hati Sabaku No Naruko.
Dan tadi Tenten sudah melihat sendiri Naruko menolak ajakan Sasuke untuk berbicara.
"Aku jadi heran sendiri padamu Naru-chan, banyak cowok keren diluar sana mengantri untukmu. Tapi kau selalu menolak mereka semua, bahkan Neji-kun pun juga masih gigih ingin mendapatkanmu." ujar Tenten dengan nada sedikit... kecewa.
"Nani? Tenten-chan mana mungkin aku menerima Neji-nii. Dia itu sudah seperti kakak kandungku sendiri tahu" balas Naruko terkekeh ringan.
"Hontou ni? lalu kenapa dia selalu dekat denganmu di kantin?" tanya Tenten penasaran.
"Dia itu teman dekat dengan Gaara-kun, lagipula Neji-nii kan sering ngobrol denganku dan Gaara-kun. Ara! jangan-jangan kau suka Neji-nii ya?" goda Naruko, wajah gadis yang rambutnya cepol dua itu memerah.
"Ti-tidak," elak Tenten gagap.
Naruko tersenyum misterius, terpikir ide licik di otaknya.
"Neji-nii!" teriak Naruko melambai ke arah belakang Tenten.
"Mana-mana?" Tenten menoleh ke belakang, Namun tak ada sama sekali sosok Hyuuga Neji.
"Nah ketahuan! kau suka Neji-nii kan?" tebak Naruko masih menggunakan nada menggoda.
Wajah Tenten semakin terbakar oleh rasa malu, senyum malu-malu terlihat tipis di bibir Tenten.
"Hihihi apa aku bilang saja yah kepada Neji-nii soal perasaanmu?" goda Naruko lagi.
"J-jangan Naru-chan!" bentak Tenten wajahnya masih memerah.
"Bilang saja lah" goda Naruko pura-pura berdiri siap meninggalkan Tenten.
"J-jangan, kumohon Naru-chan" pinta Tenten memelas.
Naruko tertawa pelan melihat kelakuan Tenten, tapi di luar kelasnya puluhan siswa laki-laki terpesona senyum Naruko.
.
.
.
"Tenang saja Kushina, kami klan Uchiha siap membantu keluargamu kapan saja." balas Fugaku.
"Arigatou Gozaimasu, mohon bantuannya Fugaku-san" ucap Minato mewakili istrinya.
"Itachi," panggil Fugaku pada anak sulungnya itu.
"Iya Ayah." sahut Itachi.
"Perintahkan Shisui untuk mencari Naruko di Amerika secepatnya." perintah Fugaku.
"Baik ayah, akan saya laksanakan." jawab Itachi lalu meninggalkan ruang tamu.
'Apa aku harus memberitahu Minato-jisan dan Kushina-basan, tapi aku takut bila Sabaku No Naruko bukan anak yang dicari mereka.' pikir Sasuke bimbang ditengah pertemuan 2 keluarga Uzumaki dan Uchiha tersebut, tapi keinginan Sasuke memiliki Naruko seutuhnya juga semakin besar.
'Lebih baik aku menahan diri saja sekarang, bila benar Naruko anak dari Namikaze Minato-jisan dan Uzumaki Kushina-basan. Aku akan meminta ayah menjodohkanku dengan Naruko saja' batin Sasuke tersenyum.

.
.
.
.
Naruko dan Gaara makan tempura di sebuah cafe pinggir jalan kota Tokyo.
Naruko tersenyum simpul melihat Sabaku bungsu disebelahnya sedang bermanja-manja padanya minta disuapi tempura udang.
Meskipun meminta Naruko menyuapinya dengan wajah datar nan dingin seperti biasanya, tetapi Naruko tetap menuruti permintaan Gaara.
"Giliranku" ucap Gaara.
Pemuda berambut merah darah itu menyumpit tempura udang dan menyuapi Naruko.
Wajah Naruko memerah mendapat perlakuan khusus itu, bahkan beberapa pelayan perempuan di cafe tersebut iri melihat romantisme yang tercipta antara Naruko dengan Gaara.
Gaara menyumpit satu tempura dan menggigitnya tanpa memakannya.
Gaara memberi isyarat Naruko untuk memakan tempura di gigitannya.
"Eh?!" wajah Naruko memerah melihat sekeliling cafe, banyak orang memperhatikan mereka berdua.
"A-Aku malu Gaara-kun." tolak Naruko halus, Gaara pun memberi deathglare terbaiknya. Naruko pelan-pelan mendekati wajah Gaara.
Naruko perlahan memakan tempura di gigitan Gaara, semua pengunjung termasuk kaum hawa melongo melihat keromantisan Naruko dan Gaara.
Bibir Naruko dan Gaara semakin dekat, pengunjung mengharapkan ciuman terjadi diantara 2 sejoli itu.
Tapi reaksi Gaara membuyarkan mimpi para pengunjung setempat, Gaara melepaskan tempura pada saat Naruko hampir mengunyah tempura hampir tepat didepan bibirnya.
"Yaaahh!" semua pengunjung mengeluh kecewa, Naruko menguyah tempura udangnya hingga terlihat ekor udang itu dimulutnya.
"Cepat telan, kita harus pulang cepat daripada makhluk buas itu mengamuk lagi" kelakar Gaara tersenyum manis pada Naruko.
Naruko melongo melihat senyum Gaara. Naruko menggangguk-angguk pelan, namun mata biru safirnya yang jernih melihat wajah Gaara terlihat begitu tampan apabila tersenyum begitu.
Naruko pun sudah menelan udang tempura tadi, Gaara segera menggandeng tangan Naruko keluar dari cafe tersebut.
Sekali lagi pandangan iri menghiasi perjalanan kedua sejoli dari cafe tersebut.
.
.
.
"Kami pergi dulu Temari-chan" pamit Karura memeluk Temari cukup erat.
"Apa kaasan tidak bisa lebih lama disini?" tanya Temari sedih.
"Kaasan-mu harus ikut bersamaku ,Temari. lagipula kau tak sendiri. masih ada Gaara bukan?" tukas Sabaku No Yondaime datar.
"Sudahlah, kami pergi dulu" pamit sang kepala Keluarga itu merangkul Karura.
"Jaa Kaasan" Temari melambaikan tangannya ke arah ibunya, dibalas lambaian tangan dari sang ibu.
Buat Temari dia lebih menghormati sang ibu daripada sang ayah, mungkin kerasnya sang ayah membuatnya sudah membuat rasa hormatnya pada sang kepala keluarga sudah hilang.
Temari kembali masuk ke dalam rumah dengan perasaan sedih.
.
.
.
Gaara belum melepaskan ciumannya pada bibir Naruko, padahal mereka sudah berada di depan kediaman Sabaku, dan tangan Gaara seperti biasanya menggerayangi dada Naruko serta memilih puncak dada gadis pirang itu.
"Haaah Haaah Haaah" Naruko nafasnya terengah-engah setelah Gaara melepas ciuman bibirnya dan tangannya dari dada gadis itu.
Saliva di bibir Naruko menetes di rok sekolahnya, Gaara membenahi pakaian Naruko dan membersihkan saliva di bibir gadis pirang itu.
Gaara segera menyalakan mesin mobil dan menjalankannya menuju Rumah.
Setelah sampai rumah, belasan Maid menyambut mereka berdua.
Gaara dan Naruko berjalan sendiri-sendiri seolah tak terjadi apa-apa.
"Tadaima!" ucap Naruko riang.
"Okaerinasai" sahut Temari dengan suara lemas.
Gaara merasakan kalau rumahnya sedikit sepi sekarang dan mendekati sang kakak.
"Kenapa Aneki?" tanya Gaara.
"Tak ada apa-apa" jawab gadis berkuncir 4 itu.
"Okaa-sama kemana Temari-sama?" tanya Naruko mengedarkan pandangannya ke segala penjuru rumah, tapi gadis itu tak menemukan Karura sama sekali.
"Kaasan sudah kembali ke Amerika bersama Tousan baru saja tadi berangkat." jawab Temari masih lemas.
"Hn, kenapa tidak manusia robot itu saja yang kembali ke amerika" celetuk Gaara sarkasme.
"Gaara!" Temari mencoba memperingatkan Gaara.
"Kenapa? aku lebih suka kaasan berada di rumah. ketimbang manusia bajingan itu" tambah Gaara meninggikan nada suaranya.
PLAKK
"Gaara, aku tahu kau sangat membenci tousan. Tapi bisakah kau menghormatinya sedikit saja" balas Temari.
Pemuda berambut merah itu terdiam, namun dia tak membalas perbuatan kakak perempuannya.
"Rasa hormatku hanya untuk seorang kaasan-ku, dan kedua kakakku saja. lagipula orang itu tak pantas di sebut TOUSAN!" ucap Gaara lalu meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
"G-Gaara" Temari merasa bersalah menampar adik bungsunya itu memanggil Gaara yang kini sudah berada di lantai 2.
Naruko menyusul Gaara menuju kamar lantai dua. Naruko membuka pintu kamar Gaara, berusaha menenangkan pemuda berambut merah tersebut.
"Gaara-kun," Naruko mendekati Gaara dengan perlahan ke arah ranjang.
"Jangan ganggu aku dulu" ucap Gaara dingin.
Naruko menyentuh pundak Gaara perlahan, tapi pemuda itu menyentakkan bahunya hingga tak sengaja tangannya sedikit terayun menampar Naruko.
PLAKK
Gaara melihat Naruko terjatuh setelah tamparan tak sengajanya, merasa bersalah karena menampar Naruko secara tak sengaja.
Lelaki itu mendekati Naruko membantunya berdiri.
"Gomenasai" ucap Gaara, Naruko mendongakkan kepalanya melihat Gaara.
Naruko mendengar Gaara meminta maaf padanya, entah makhluk apa yang tengah merasuki Gaara sekarang.
Biasanya (dulu) Gaara melecehkan maupun menyiksa Naruko tanpa minta maaf, tapi kali ini Gaara berbeda 180 derajat.
Sekarang lelaki itu meminta maaf dan membantunya berdiri.
"Aku terbawa emosi, gomenasai hime" ucapnya menundukkan kepalanya.
Naruko meraih tangan kanan Gaara, membimbing tangan Gaara pada wajahnya Naruko, gadis itu menempelkan telapak tangannya Gaara pada pipinya. Menenangkan hatinya yang sedang terbakar oleh emosi.
Sudah berkali-kali gadis dihadapan Gaara menenangkannya, tapi selalu saja Gaara melampiaskan emosinya dengan cara melecehkan maupun menyakiti Naruko.
Naruko tak membalas maupun melawan perbuatan Gaara , Gaara sadar sekali bahwa Naruko selalu ada untuknya di saat sedih maupun senang, lelaki itu membutuhkan Naruko dari yang dia perkirakan.
Gaara menarik tangannya dari pipi Naruko lalu memeluk tubuh Naruko.
Naruko hanya diam tak membalas pelukan Gaara namun liquid bening keluar dari pelupuk matanya.
Dua sejoli itu terhanyut dalam pelukan mereka masing-masing.
.
.
.
.
.
Seorang wanita berambut putih menata makanan di meja makan, menyiapkan makan malam untuk putra semata wayangnya.
"Toneri-kun, turun sayang. Ayo makan malam dulu." ajak wanita itu pada anaknya yang tengah mengerjakan PR-nya di kamar.
"Sebentar Kaasan tanggung PR-nya tinggal sedikit lagi" sahut Toneri.
"Makan dulu, nanti dikerjakan lagi PR-nya setelah makan malam," kata ibunya sambil memukul pelan mangkok kosongnya dengan sendok.
"Ha'i ha'i Kaasan, aku datang" balas Toneri mennutup bukunya bergegas menuju ruang makan.
"Masak apa Kaasan hari ini?" tanya Toneri antusias.
"Kesukaanmu. Ada sop miso, baso udang, bacon goreng dan ayam lada hitam." jawab ibu Toneri mengambilkan nasi untuk Toneri.
"Waah, arigatou kaasan" ucap Toneri senang.

"Douita shimasite Toneri-kun" balas sang ibu.
"Itadaikimasu!" Toneri mengambil sumpit dan memakan lauk pauk dihadapannya.
"Toneri-kun, kaasan ingin tanya?"
"Apa itu kaasan?" Toneri masih setia mengunyah baso udang buatan ibunya.
"Ini photo siapa?"
Toneri segera menoleh pada photo yang di pegang ibunya.
"Uhuk uhuk uhuk." Toneri tersedak makanannya, ibunya segera menghampiri Toneri dan menepuk-nepuk punggung Toneri serta tak lupa memberikan air putih.
"Ara, meilhat reaksimu tadi. Pasti ini kekasihmu?" tebak sang ibu tersenyum.

"Bu-bukan kaasan, dia teman sekolahku" elak Toneri wajahnya memerah. Jarang-Jarang melihat wajah Toneri memerah seperti itu.
"Hontou?" Goda sang ibu.
"Ha'i Ootsutsuki Kaguya-Kaasama" balas Toneri sambil menyebutkan nama sang ibu.
Toneri segera makan kembali daripada meladeni sang ibu yang terlihat sangat ingin tahu itu.
Kaguya kembali ke bangku makannya, namun senyumnya belum sirna sepeunuhnya.
"Namanya siapa?" tanya Kaguya.
"Kaasan kenapa jadi ingin tahu begini sih" gerutu Toneri melahap paha ayam lada hitamnya dengan tenaga berlebihan.
"Siapa tahu gadis ini jadi menantu kaasan, lagipula di lihat dari wajahnya yang cantik. Gadis ini sangat baik" ucap Kaguya berangan-angan kalau dia punya cucu sangat cantik maupun tampan kelak.
"Kaasan jangan memikirkan yang jauh-jauh dulu" celetuk Toneri mengunyah bacon goreng, membuat ibunya mengerucutkan bibirnya.
"Aku hanya ingin memikirkan sekolah dulu kaasan. jika sudah waktunya aku akan menikah dengan gadis pilihanku." tambah Toneri.
"Tapi kenapa kau menyimpan photo gadis ini?" skak mat, Toneri mati kutu. Selama hidup bersama ibunya, Ibunya belum pernah melihat satu gadis pun menghiasi hidup Toneri.
Termasuk photo gadis di gadget, dompet, medsos maupun di kamarnya.
"I-itu cuma iseng bu" elak Toneri.
Kaguya tersenyum misterius, anak laki-lakinya memang tak punya bakat berbohong di depannya.
"Baiklah kalau begitu, tapi ibu akan mencari tahu siapa gadis di photo ini." Baiklah soal ini kemungkinan Kaguya tak main-main.
"Eh?! kaasan! baiklah akan aku beritahu namanya, Sabaku No Naruko. Sudah puas tahu namanya?" Toneri menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Kaguya menyeringai senang.
"Sabaku? eh?!" Kaguya menyadari nama Naruko yang menggunakan nama Sabaku.
"Kenapa kaasan? apa ada yang salah?" tanya Toneri sudah menghabiskan makanannya.
"Bukankah Sabaku No Yondaime hanya punya 3 anak?" gumam Kaguya sedikit bingung.
"Maksud kaasan?" Toneri penasaran apa yang di bicarakan ibunya.
"Begini. Setahu kaasan, Sabaku No Yondaime punya 3 anak. Dua di antaranya adalah laki-laki." jelas Kaguya.
"Nah, tambah Naruko. jadi 3 anak kan?" ucap Toneri.
"Bukan itu Toneri-kun. Kaasan masih ingat nama-nama mereka, Sabaku No Temari, Sabaku No Kankuro, dan Sabaku No Gaara." tukas Kaguya, Toneri terkejut tak ada nama Naruko didalam perkataan ibunya.
'Apa mungkin gosip di sekolah benar, kalau Naruko hanya anak angkat Sabaku No Yondaime?' pikir Toneri.
"Nah! kaasan bingung karena tak mungkin Sabaku No Yondaime punya anak lagi. Kau tahu kan perusahaan Ootsutsuki juga bekerja sama dengan Sabaku corp." lanjut Kaguya
"Jadi kaasan tahu siapa putra dan putri Sabaku Corp. yang akan meneruskan perusahaan kerajaan itu."
'Naruko sudah pasti bukan saudara kandung si muka panda itu (Aka Gaara)' pikir Toneri.
"Kaasan terima kasih makanannya, aku mau lanjutkan PR-ku dulu" pamit Toneri beranjak dari ruang makan.
Sembari melangkah menuju kamarnya, Toneri memikirkan bagaimana Naruko bisa menjadi anak angkat dari Sabaku No Yondaime?
Siapa sebenarnya Naruko?
.
.
.
.
.
Naruko menutup pintu kamar Gaara dengan pelan tanpa membangunkan Gaara.
Terdapat bercak-bercak merah di leher sebelah kanannya dan sekitar bahunya.
Segera dia menuju kamar tidurnya untuk ganti pakaian dan membersihkan diri juga dari bau "hasil" bercintanya dengan Gaara tadi malam.
Naruko menuju kamar mandi tanpa melepas pakaiannya sama sekali, gadis itu menyalakan shower.
Gadis itu terduduk di lantai dibawah shower, membiarkan tubuhnya yang masih terbalut pakaian basah oleh air.
Naruko merenung bersandar di dinding, pikirannya sudah di penuhi oleh perlakuan Gaara akhir-akhir ini dan mimpi-mimpi yang aneh sejak dia berada di kediaman ini.
Namun pikirannya buyar karena seseorang masuk ke kamar mandinya tanpa permisi.
"Gaara-kun!" Naruko terkejut pemuda didepannya.
"Kenapa kau duduk di lantai, kenapa kau tak melepas pakaianmu? kau mau sakit" bentak Gaara khawatir. Naruko lagi-lagi terdiam tanpa bangun dari duduknya, Lelaki itu langsung duduk di sebelah Naruko.
Bukan keinginan Gaara untuk membentak kekasihnya, di karenakan Naruko tak melepas bajunya sama sekali saat mandi.
"Kau takut hamil?" tanya Gaara lalu menggenggam tangan Naruko.
Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, Gaara merangkul Naruko dan menyadarkan kepala Gadis itu ke bahunya.
"Lalu apa yang mengganggu pikiranmu hime?" tanya Gaara datar.
"Mimpi" jawab Naruko singkat.
"Ada apa dengan mimpimu?" tanya Gaara lagi, tangan besarnya mengelus-elus pipi Naruko.

"Mimpiku tentang kecelakaan kapal, Aku terbawa arus laut dan mimpi itu terus berulang-ulang di setiap aku tidur" gumam Naruko.
Gaara mencium puncak kepala Naruko sesaat.
"Mimpi hanyalah bunga orang tidur, hime. Kau mungkin kelelahan karena melayaniku tadi malam" ujar Gaara pelan.
"Un" jawab Naruko.
"Lebih baik kau lepas bajumu, kita mandi sama-sama" ajak Gaara membantu Naruko berdiri lalu melepaskan baju Naruko hingga Gadis pirang itu sudah tak memakai sehelai benangpun.
Barulah Gaara melepas bajunya sendiri hingga kejantanannya kelihatan masih tegak berdiri.

Wajah Naruko memerah melihat Gaara telanjang dihadapannya, Gadis itu memalingkan wajahnya lantaran malu.
Gaara menyeringai mesum melihat kekasihnya sudah telanjang, pikirannya dipenuhi keinginan memasukkan lagi kejantanan miliknya pada liang Naruko.
Segara Gaara tepis pikiran mesumnya jauh-jauh karena sang kekasih kelelahan meladeninya tadi malam selama 3 jam lebih.
.
.
.
.
Temari memasak di bantu 3 maid lainnya, sambil bersenandung kecil.

"Kemana Naruko dan Gaara?" gumam Temari.
Temari menyiapkan nasi goreng di atas 3 piring, ditambahkan beberapa irisan mentimun, tomat dan lauk telur mata sapi serta daging ayam.
"Woii Gaara, Naru-chan cepetan turun untuk sarapan!" teriak Temari membahana di seluruh ruangan Kediaman Sabaku.
"Kami Ada disini!" seru Naruko merasakan telinganya berdenging mendengar teriakan 7 oktaf milik temari.
Gaara memasang wajah datar, seolah jadi tuli dadakan.
"Hehehe, akhirnya muncul juga, cepat sarapan sana" suruh Temari sambil menunjuk Nasi goreng di meja makan.

"Arigatou, Temari-sama" senyum Naruko.
"Douita shimashite Naru-chan" balas Temari.
Ketiga orang tersebut sarapan pagi, hanya suara sendok dan garpu yang menjadi teman mereka saat sarapan kali ini.
Temari melirik Gaara dan Naruko bergantian, ekor matanya tak lepas dari tatapan mata Gaara yang sedikit-dikit mencuri pandang ke arah Naruko.
"Ehem" Temari berdehem membuyarkan pandangan Gaara yang sedari tadi memandang Naruko yang tenang memakan nasi goreng buatan Temari.
"Saya sudah selesai, terima kasih atas makanannya" ucap Naruko menunduk tanda terima kasih.
"Aku selesai" ucap Gaara singkat.
"Nee-san akan sekolah di tempatku sekarang?" tanya Gaara.
"Iya. Kan lusa kemarin aku sudah menyerahkan surat pindah dari amerika" jawab Temari.
"Berarti Temari-sama akan jadi senior di sekolah kami" Naruko tampak senang Temari akan jadi kakak kelasnya.
"Ha'i, Naru-chan." Temari mengangguk. mata Temari melihat Gaara tetap bermuka patung seperti biasanya.
"Gaara, apa kau satu kelas dengan Shikamaru?" tanya Temari.
Gaara mengangguk pelan sambil meminum air putih yang tadi di sediakan maid, seringai terpatri di wajah Temari.
'Hehehe ini saatnya aku menghajar si Nanas sialan itu' batin Temari menyeringai serigala dibarengi aura gelap.
"T-Temari-sama k-kenapa?" tanya Naruko sedikit takut melihat seringai milik Temari, wajah Naruko pucat pasi seperti melihat hantu.
"Naru-chan kau kenapa?" Temari menghampiri Naruko yang wajahnya begitu pucat ketakutan.
"Itu karena seringai aneki yang seperti setan" ucap Gaara datar, Temari memberikan deathglare terbaiknya pada Gaara.
Pemuda itu menarik sebelah bibirnya merasa menang.
"Makanya jangan memasang wajah seram, Naruko saja takut melihat wajah jelek aneki" Gaara kembali meledek kakak perempuannya itu.
"Kau-bilang-apa?!" Temari menghampiri Gaara dengan aura gelap, senyum manisnya (sangat manis malah) telah terpasang di bibirnya, tak lupa suara jari-jari yang berbunyi cukup keras membuat Gaara langsung ciut nyalinya.
"He hehe hehehe Temari-nee, a-aku hanya bercanda" Gaara tergagap untuk pertama kalinya, kalau Kankuro ada disini di pastikan pemuda berambut coklat itu akan tertawa sampai sakit perut melihat Gaara yang begitu ketakutan.
Naruko menahan tawanya yang sebentar lagi akan meledak melihat ekspresi ketakutan Gaara.
"Pppffftt Bwahahaha" tawa Naruko akhirnya meledak sampai-sampai memukul meja makan.
"Gaara-kun wajahmu sangat lucu sekali kalau ketakutan begitu hahahaha" Naruko memegangi perutnya karena tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi ketakutan Gaara.
Gaara membuka bibirnya melihat Naruko tertawa begitu lepas, bahkan Temari pun dibuat melongo melihat ke-Out Of Character-an Naruko.
"Naruko, kau memanggil Gaara apa tadi? Gaara-kun" tanya Temari membuat Naruko tersadar akan tingkahnya.
'Aduh, Aku lupa kalau aku memanggil Gaara-kun dengan panggilan Gaara-sama di rumah' batin Naruko merutuki kebodohannya.
Gaara segera membenahi image-nya yang jatuh tadi, menjadi Gaara yang dingin namun berkharismatik.
"Aneki, Naruko itu memanggilku dengan suffix-kun biar terlihat seperti saudara, lagipula kalau pakai suffix-sama nanti dikira Naruko itu pembantu-ku."
Gaara bagai malaikat penolong di saat yang tepat.
"Aaiih, kukira kalian sudah jadi sepasang kekasih. apalagi Naruko memanggilmu dengan suffix-kun begitu" kelakar Temari tersenyum 3 jari.
'sebenarnya sih sudah.' batin Naruko dan Gaara secara bersamaan.
"Kalau kalian sampai jadi kekasih, aku takut tousan menghantam Gaara lagi" cicit Temari namun terdengar oleh telinga Gaara dan Naruko.
"Soal itu tak usah khawatir, saya jamin tak..." kata-kata Naruko terhenti saat Gaara berdiri tempat duduknya dan menghampiri Naruko.
"Ayo berangkat." kata Gaara cepat, tangan Naruko langsung di sambar oleh tangan Gaara.
"Kami berangkat duluan, aneki berangkat dengan mobil ayah saja." lanjut Gaara menyeret Naruko berangkat.
"Gomen, Temari-sama. Kami berangkat duluan" pamit Naruko terseret akibat tangan Gaara tengah menggandengn tangannya.
Temari mengangkat kedua alisnya, adiknya bertingkah aneh hari ini.
.
.
.
.
Naruko melihat wajah datar Gaara, dalam wajah dingin itu tersimpan emosi dan keinginan tak terlihat oleh siapapun kecuali oleh dirinya sendiri.
"Gaara-kun" Naruko memperhatikan jalan didepannya, jalan yang di ambil pemuda Sabaku di sebelahnya bukan jalan menuju sekolah
'Ini bukan jalan menuju sekolah' batin Naruko.
"Gaara-kun, kita mau kemana?" tanya Naruko penasaran saat dia sudah jauh dari kota dan sekolah, namun Gaara tetap bisu tak bersuara.
Naruko melihat papan arah di atas rambu-rambu: KYOTO. Naruko tidak tahu apa yang di pikirkan pemuda rambut merah itu, tapi lebih baik Naruko diam saja.
Toh, Naruko pasti tidak di apa-apakan oleh kekasihnya itu.
.
.
.
.
.
Toneri menyalakan I-pad'nya tanpa mempedulikan teriakan histeris fansnya dan Fans Sasuke yang berada di luar kelas, telinga kanan dan kirinya dia sumpal dengan headset. Menurut keturunan Ooysutsuki itu, perempuan makhluk yang sangat berisik kecuali satu orang perempuan.
"Aarrgghh kenapa sulit sekali menghubungi Naruko" keluh seseorang berambut raven di belakang 3 bangku Toneri.
Toneri segera melepas satu headset-nya dan mengecilkan volume musiknya kala mendengar nama Naruko disebutkan.
"Sudahlah dia sedang sakit atau ijin sekarang" ucap Shikamaru menopang kepalanya malas menghadapi kelakuan Sasuke yang benar-benar tidak mencerminkan seorang keurunan Uchiha, Toneri mengalihkan pendengarannya ke pembicaraan teman sekelasnya tersebut tanpa menoleh ke belakang.
"Mungkin saja Gaara mengajak Naruko bolos" timpal Sai. Shikamaru tersenyum kecut melihat Sai sudah memasang senyum palsunya.
"Hn?" telinga Toneri sedikit panas mendengar kata Sai yang asal-asalan.
"Kau tahu sendiri Sabaku itu selalu membentengi Naruko kemana-mana. Mana bisa kau mendekatinya Sasuke" sahut Kiba.
"Cih" Sasuke mendengus.
"Hn, memang kau mau apa jika bertemu Naruko?" tantang Toneri tiba-tiba masuk dalam pembicaraan.
"Menjadikannya kekasihku" jawab Sasuke dengan tersenyum angkuh, Toneri tersenyum meremehkan.
"Bagaimana kalau kita taruhan. jika kau bisa mendapatkan cinta Sabaku No Naruko, aku akan menyerahkan mobil sport-ku padamu. tapi jika kau kalah, kau harus siap di sebut pecundang oleh semua murid di sekolah ini selama 1 bulan. Bagaimana Uchiha-Sasuke?" Toneri mengulurkan tangannya pada Sasuke.
Shikamaru yang tadi mengantuk mendadak berdiri tegak melihat pertaruhan itu, Kiba dan Sai menyeringai semangat.
"OK, Deal" Sasuke membalas uluran tangan Toneri.
Shikamaru menepuk jidatnya, Sasuke mudah sekali terpancing suatu taruhan.
"Bodoh sekali kau Sasuke, ini akan tambah merepotkan" Gerutu Shikamaru menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Waah, aku ingin lihat siapa yang menang" Sai antusias, pasalnya pemuda terkenal dengan lidah tajamnya itu pernah di tolak Naruko.
"Hmm, aku ingin tahu. apa Sasuke bisa menakhlukan Naruko?" Kiba menyeringai, maniak anjing itu juga pernah di tolak Naruko.
.
.
.
"Gereja?" Naruko bingung kenapa Gaara mengajaknya ke tempat ibadah itu.
"Aku ingin mengikatmu dengan janji suci, Hime." ucap Gaara lalu menggenggam tangan Naruko.
"Eh? maksudnya?" Naruko bingung dengan perkataan Gaara.
"Aku ingin kau jadi istriku" jawab Gaara mantap.
"Ga-Gaara-kun, tapi kita..." Gaara menutup mulut Naruko dengan jari telunjuknya.
"Aku tahu kita belum waktunya menikah, tapi aku sudah mengambil kehormatanmu. Aku akan menikahimu di depan altar situ tanpa pernikahan sah dari negara." ucap Gaara, menggengam erat tangan tangan Naruko.
"Jika kau hamil nanti, aku sudah siap bertanggung jawab, sebab aku tak ingin kau pergi dariku." ucap Gaara datar.
Mata Naruko berkaca-kaca, dadanya menghangat karena Gaara menginginkan Naruko, bagai ribuan kupu-kupu siap lepas terbang dari perutnya.
Seorang Pastur menunggu mereka di depan altar, siap mengikat mereka pada janji sehidup semati
.
.
.
.

.

.

Teduhkanlah Hatiku
Lelapkan Jiwaku
Duhai engkau
Cahaya mataku
Yang menuntun
Jalanku
Yang memandu
Hidupku
Yang meneduhkan

pedih dan penatku
Tersenyumlah
Bahagialah

.

To Be Continue