.
.
.
-Crazy in Love-
.
.
.
"Kau mengundang ex mu?"
Tanya Yoongi masih menatap satu undangan yang masih belum tertera nama. Seluruh kartu undangan sudah dibagi kecuali satu yang dipegang Yoongi sekarang. Jin tau Yoongi ingin berikan pada siapa.
"Undang saja Jimin. Itu akan membuat pernikahan kita meriah dengan adanya dia."
"Ayahku bisa membunuhku!"
Jin merebut undangan kosong tersebut "Kalau begitu biar aku yang undang."
"Andwe! Ayahku akan marah besar padaku."
Jin menghela nafas dan menatap Yoongi yang termenung menatap undangan pernikahan kosong itu. Ia merasa kasihan dengan Yoongi. Baik Yoongi maupun Jin sama-sama tak pernah berani melawan orang tua mereka. Sejak kecil mereka dididik untuk memenuhi segala ambisi orang tuanya dari sekolah, karir, maupun perjodohan semuanya sudah orang tua mereka atur. Yoongi masih beruntung masih bisa menyanyi, setidaknya ia bisa merasakan impiannya walau hanya sementara, tetapi Jin impiannya untuk menjadi actress sudah ia kubur semenjak ia diperintah untuk masuk Senior High School ternama.
"Yoongi-ah! Apa kita akan terus terjebak dalam situasi seperti ini? Apakah setelah kita menikah orang tua kita akan berhenti memaksakan sesuatu pada kita?"
Yoongi menatap Jin, matanya penuh dengan luka, Jin bisa melihat itu. "Hanya menikah saja, tak usah difikirkan!" Yoongi kembali menatap undangan itu.
Jin menyayangi Yoongi, sangat. Seorang pria rapuh yang lehernya terus saja diikat oleh ayahnya. Jin yang memiliki basik psikologi tentu dapat dengan mudah membaca kondisi Yoongi, kondisi dimana Yoongi tak bisa melakukan apapun sesuai keinginananya. Seperti sekarang yang hanya diam menatap keinginan yang tak bisa ia dapatkan. Jika Jin patuh karena alasan khawatir terhadap kesehatan ibunya, maka Yoongi patuh karena doktrin yang diberikan ayahnya sejak kecil untuk patuh. Hidup Yoongi sudah seperti boneka ayahnya sejak kecil, itulah mengapa Jin selalu medekati Yoongi, karena Yoongi butuh dimengerti, butuh diberikan kelembutan oleh seseorang. Jin hendak memeluk Yoongi, namun keinginannya terhenti ketika ponselnya berdering, memperlihatkan deretan nomor tanpa nama.
"Halo?"
'Kau sunguh-sungguh melakukan ini padaku?'
Jin bisa mendengar suara kecewa dari pria yang tentu saja ia kenali. Itu adalah Kim Namjoon dan Jin sudah bisa menebak bahwa namjoon sudah menerima undangan tersebut.
',,,Kim Seokjin, kenapa kau tak menjawab?! Huh?!'
Namjoon bahkan meneriakan namannya. Jin tau Namjoon marah dan Seokjin hanya bisa mengatakan maaf. Jin merasa sangat jalang karena telah mengencani dan mempermainkan muridnya. Jin mencintai Namjoon, sungguh. Namun cintanya terhadap Namjoon tak lebih besar daripada rasa cinta Jin terhadap orang tuanya.
"Namjoo-ah! Mari kita bertemu!"
Yoongi menatap Seokjin yang menyebut nama seorang pria yang Yoongi yakini itu kekasih Jin. Ia memang pernah mendengar nama kekasih Jin darinya tapi, selain nama Jin tak pernah mau mengatakan siapa Namjoon itu. Jin terlihat sedih sekarang. Yoongi tau apa masalahnya, masalah yang kurang lebih sama seperti yang ia alami. Jin pamit pergi, tentu Yoongi sangat mengijinkan.
. . . . .
Mr. Kim melihat kertas berisi penjualan saham miliknya. Ia harus melakukannya untuk masa depan Jin dan Taehyung. Hanya Namjoon yang ada dikepalanya. Hanya namjoon yang bisa menolongnya, karena mereka dalam pihak yang sama. Mr. Kim pergi ke kantor Namjoon namun ia melihat Namjoon memasuki mobilnya dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal.
.
-CiL-
.
"Apa yang harus aku katakan tentang benda ini?" Namjoon melempar paperbag itu ke meja, sedikit menimbulkan kebisingan. ",,, Membuangku memang selalu mudah untukmu, Kim Seokjin!"
"Semuanya terjadi begitu saja Namjoon-ah!"
"kau bisa menolak ibumu!"
"Ibuku kritis karena aku melawannya dan untuk pertama kali dia juga menamparku. Kau fikir aku tak ingin? Aku ke tempatmu, aku menghubungimu, saat itu aku sungguh ingin lari bersamamu tapi kau tak ada. Apa yang harus aku lakukan? Aku fikir kau meninggalkanku." Jin menahan air matanya, ia mecoba untuk tak menangis "Aku putus asa Namjoon-ah! Aku tak akan pernah bisa menentang ibuku!"
"Aku meninggalkan surat dilaci lemari kantormu!"
Jin terlihat terkejut dan Namjoon bisa menebak bahwa Jin tak menemukan suratnya.
"F*ck!"
Umpatan Namjoon membuat waitres yang menyiapkan meja terkeju,t hingga steak yang sudah ditata dengan seni itu bergeser.
"Maafkan saya! Kami akan menggantinya dengan yang baru" ucap sang pelayan dengan ramah.
"Tak usah! Lagipula itu akan aku makan juga. Pergilah dari sini karena aku ingin bicara hanya berdua dengan nona ini. Kalian bisa clear-up Jika asistenku memanggil kalian!"
"Baik tuan!"
Namjoon terlihat sangat marah dan Jin tau kesalahan siapa yang membuat Namjoon begitu.
"Aku tak ingin mengakhirinya!"
"Namjoon-ah!"
"Lalu kau bersunguh-sungguh akan meninggalkanku? Membuangku begitu saja?"
"Aku tak bermaksud seperti itu, aku,,, Namjoon-ah tolong mengerti."
"Lalu apa kau sendiri mengerti diriku? Demi tuhan Noona. Kau bisa menghancurkanku detik ini juga jika kau mengatakan ini berakhir."
"Maafkan aku Namjoon. Jika aku melanjutkan hubungan ini kau hanya akan terus terluka. aku tak bisa terus memberimu harapan bahwa aku adalah milikmu."
"Kau tau?! noona adalah wanita paling kejam yang pernah aku temui."
Jin baru saja pulang, tapi kebisingan dari balik sambungan telfon dari namjoon membuatnya heran. Hanya suara keributanlah yang ia dengar, membuatnya berfikir kalau Namjoon sedang dalam masalah, ia berteriah menanyakan dimana Namjoon meski sia-sia karena tak ada jawaban. Sampai seorang gadis mengangkatnya dan menyebutkan nama sebuah bar. Jin Langsung datang kesana dengan masih mengenakan piama yang tertutup mantel velvetnya.
PRANGGG
Noda kuning mengotori dinding putih bersamaan hancurnya sebuah Botol bermerek Johnne Walker. Botol itu namjoon lempar pada seseorang yang ada di depannya. Namun, lemparan Namjoon meleset tak mengenai lawan bertarungnya.
"Aku sedang dalam mood untuk membunuh orang! Selagi aku masih sadar keluar dari bar ini sekarang juga!"
Namjoon menatap kosong meja. Memeringatkan pria yang sedang memakinya karena gadinya terus bergelayup pada lengan Namjoon. Tapi memang dasar tempralmen pria gemuk penggila sex itu tak memiliki kontrol ia hendak memukul Namjoon yang ada disebrang meja, namun niatnya terhenti ketika para bodyguard menyeret pria itu keluar. Sang menejer bersama pelayan seksi membawa Johnne Walker dengan Blue Label untuk menggantikan botol yang namjoon lempar barusan.
Pertama kali dalam hidupnya ia merasa kepalanya pusing memikirkan masalah yang lebih rumit daripada membangun Monster. Namjoon memandang para strip dancer yang meliuk seksi di depan mejanya, Namjoon hanya menatapnya kosong, ia memikirkan sex dengan Jin yang pasti akan terasa lebih hebat, namun obatnya kini telah hilang, ia tak bisa melakukan apapun. Ia bersandar menatap langit-langit bar dengan tatapan kosong. Setetes air mata lolos dari ujung matanya. Hati Jin tak kalah sakit melihat Air mata Namjoon. Ini pertama kalinya ia melihat Namjoon dalam kondisi yang sangat putus asa. Ia tak pernah tau sisi lain dari siswanya, dan Namjoon yang ia lihat sekarang adalah hal sangat menyakiti hatinya. Jin mendekati namjoon dan memanggilnya tetapi ia hanya melihat Namjoon menarik sebelah bibirnya membentuk sebuah senyuman yang pahit. Jin duduk disamping muridnya itu. Namjoon tersenyum dan bersandar dipundak Jin.
"Siapa Namamu?!" Namjoon terkesima mengira Jin adalah salah satu gadis sewaan yang mirip dengan kekasihnya itu.
"Joon-ah! Ayo kita pulang. Hm!?" Jin berkata dengan nada yang halus hingga menyentuh hati Namjoon.
Jin membawa Namjoon ke flatnya yang dulu. Beruntung Namjoon masih menyimpan kunci dibawah vas bunga, sehingga ia bisa masuk. Jin membaringkan Namjoon yang masih setengah mabuk. Jin hendak bangun namun, Namjoon masih memeluk Jin erat. Namjoon Ingin lebih merasakan kasih yang hangat dari Jin. Entah mengapa tiba-tiba, ia menangis dipelukan Jin hingga tertidur. Jin hanya bisa diam, ia membiarkan Namjoon memeluknya seperti itu. Jin sangat merasa bersalah pada pria yang ia sakiti.
"Apa kau sudah membunuh putera mereka?!" suara itu terdengar jauh dari luar, membuat sang perawat memeluknya semakin erat.
"Sial aku lupa tentang dia!"
Nafasnya terasa sesak mencium bau asap yang memenuhi seisi rumah, Namjoon merasakan panas dan ingin menangis melihat tubuh ibu dan ayahnya terbakar. Sang perawat menempelkan jari telunnjuk pada bibirnya sendiri. "Stttt!Kita akan keluar dari pintu belakang. Jangan teriak apapun yang terjadi, mereka bisa mendengarmu! Arra?!" Namjoon kecil mengangguk, sangat mengerti ucapan perawatnya.
"Biarkan saja! Dia hanya anak kecil yang akan mati terbakar disini. Kalaupun dia selamat dia tak akan bisa melihat kita. Cepat pergi sebelum polisi datang!"
Api sudah menyebar sampai di lantai dua. mendengar mobil-mobil sudah pergi sang perawat menggendong Namjoon ke belakang, menuju balkon. Dari balkon tersebut bisa terlihat kolam renang, sang perawat memikirkan ide itu satu-satunya yang bisa membuat mereka selamat dari api. Perawatnya tau jika Namjoon bisa berenang dan ia meminta Namjoon lompat bersamanya. Sang perawat mencoba meyakinkannya bahwa dia akan melindungi Namjoon dan begitu terdengar ledakan keras Namjoon dan sang perawat loncat dari balkon, masuk ke dalam air.
"Namjoon-ah!" Namjoon bisa mendengar suara Jin ketika ia tak bisa bernafas di dalam air. "Joon-ah bernafaslah!" Namjoon berfikir bagaimana ia bisa bernafas di dalam air."Hey! bernafaslah! Namjoon!"
Namjoon tersenggal, menarik nafas saat ia bisa merasakan oksigen. Namjoon membuka matanya dan melihat Jin yang menatapnya khawatir. Tangannya masih meremas seperei, nafasnya terengah-engah dengna keringat dingin membanjiri tubuhnya. Namjoon menatap Jin dengan seksama, memastikan kalau ia benar-benar melihat Jin. Ia tak ingat apapun dan kenapa Namjoon sedang bersama Jin. Bukankah terakhir kali mereka putus?!
"Noona?!" Tanya Namjoon memastikan.
"Gwenchana? Kau mimpi buruk? " Jin mengelap pelipis Namjoon yang penuh keringat dengan tangannya. Jin panik melihat Namjoon seperti ini, sikap Namjoon menunjukan bahwa Namjoonnya pernah mengalami sebuah trauma yang cukup dalam. "Lihat aku!" Jin menangkup wajah Namjoon dengan kedua tangannya, mengarahkan namjoon untuk menatapnya. "Kau baik-baik saja sekarang!" Jin mencoba memasuki alam bawah sadar Namjoon untuk membangunkannya. Namjoon kini memeluknya erat, ia masih terlihat menahan rasa takut. Jin yang tak tahan melihat sisi lain dari namjoon yang belum pernah lihat merasa hatinya sesak.
"Apa yang terjadi?!"
Jin memisahkan pelukan Namjoon untuk melihat mata Namjoon, namun Namjoon hanya menggeleng, ia menunduk. Satu hal yang Jin tak sadari adalah bathrobe yang menutupi piamanya terbuka, menampilkan piama dress yang memperlihatkan belahan dadanya yang menggoda. Namjoon merasa tertekan dan dada Jin sangat menggoda seperti alkohol saat stress. Namjoon ingin merasakannya, sangat. Ia menatap wajah Jin yang masih menatapnya cemas dan bibir itu, bibir bawah Jin yang penuh membuat Namjoon juga ingin merasakanya. Namjoon meraih tengkuk Jin dan menciumnya, melumat bibir Jin yang lembut dengan rasa yang manis membuat Namjoon kehilangan akal. Ia bahkan tak peduli ketika Jin mencoba mendorong pundaknya. Namjoon justru malah mendorong Jin hingga ia terkunci dibawah tubuh namjoon.
"Joon-ah andwe!"
Jin terus mencoba mendorong Namjoon yang sekarang sedang meluat dan menggigit lehernya. Jin yang masih sadar tentu masih ingat status dirinya dan Namjoon yang sudah berakhir, belum lagi ia akan segera menikah. Jin tak bisa terus melakukan hal yang tak benar.
"Ahmm.." katakan saja Jin memang jalang sekarang. ia bahkan tak bisa menahan desahannya ketika jari Namjoon masuk kedalam daerah sensitifnya, dan ketika lidah Namjoon ikut bermain di puting Jin yang sudah mengeras. Gairah Jin terpancing, Ia menginginkan Namjoonya.
Merasakan betapa basahnya Jin, Bak lampu hijau Namjoon melepas celana dalam Jin, membuangnya begitu saja dan kembali membuka selangkangan Jin agar memberikan akses lebih mudah untuk juniornya masuk. "SsHhha argh!" Namjoon mendesah merasakan bagaimana miliknya masuk kedalam Jin begitu dalam, menyentuh titik yang menggelitiknya didalam Jin. Namjoon menjatuhkan badannya memeluk Jin untuk membuatnya lebih nyaman menaikan tempo.
"Owh,,,shhh.. So goodhh... Annhhh!"
Namjoon menyeringai mendengar wanita yang dicintainya mendesah. Kepuasan Seokjin adalah kebanggaan bagi Namjoon, membuatnya ingin melakukan hal lebih yang bisa membuat wanita dibawahnya mencapai organism berkali-kali. Namjoon akan senang melakukannya. Ia tak akan lelah meskipun harus melakukannya berkali-kali. Ia tak akan pernah rela melepaskan seokjin. Tak akan pernah.
.
Jin terlonjak kaget saat suara alarm ponselnya berbunyi. Ia segera bangun dan mematikan alarm. Jin memegang keningnya, terkejut dan menyesali apa yang terjadi semalam. Namjoon membuka mata dan tak kalah terkejut melihat dimana ia dan bersama siapa. Namjoon duduk, memperhatikan Jin yang melotot melihat ponselnya. Ingatan namjoon tentang kejadian semalam kembali dan ia tersenyum. Namjoon mengecup pundak Jin yang masih telanjang.
"Mandilah dulu!"
Jin masih sibuk dengan ponselnya. Jin mendapat banyak panggilan dari orangtuanya dan Yoongi. ia membaca banyak pesan dari keluarganya yang menanyakan dimana Jin berada, Jin panik harus bagaimana sampai Jin merasa dirinya selamat ketika membaca satu pesan dari Yoongi.
.
20:25
'Dimana kau?! Kenpa belum kembali?'
.
23:53
'Kau belum pulang? Ibumu menelfonku.'
'Aku mengatakan kau ada bersamaku di apartment. Apapun yang kau lakukan cepat kemari. Ibumu akan datang pagi ini.'
.
Jin masih menatap ponselnya, mencoba membalas pesan dari calon suaminya. Namun ia terganggu dengan Namjoon yang terus menciumi lehernya. Jin mendorong halus dada Namjoon untuk menjauh dari tubuhnya.
"Namjoon-ah! Geumanhae!" Jin menatap Namjoon. "Aku mohon! Kita harus berhenti dengan hubungan ini."
"Kau tau aku tak akan pernah menganggap ini berahkir."
Jin mengambil pakaiannya dan Namjoon mencegahnya. "Aku masih ingin bersamamu Noona!"
Namjoon tak melepaskan Jin, bahkan kini ia memeluk Jin. Mendekapnya mencari kehangatan. Jin hanya diam, ia masih lelah. Lalu panggilan dari Yoongi ia angkat. "M!,,, Aku akan ke tempatmu,,, beri aku waktu setengah jam lagi.,,,ne! Maaf merepotkanmu!"
Jin menutup sambungan "Semua orang mencariku, dan Yoongi tau aku dimana. Ia mencari alibi untukku, mengatakan bahwa aku ada di rumahnya pada orang tuaku." Jin memegang lengan namjoon yang memeluknya. "Aku akan menikah Namjoon-ah! Dewasalah dan mengertilah! Kita sudah berakhir. Harus benar-benar berakhir atau semuanya akan semakin runyam. Aku sudah lelah! Aku mohon!"
Jin berkata sangat lirih. Berharap Namjoon melepaskannya. Ia memang sudah lelah dengan hubungannya dengan Namjoon yang tak masuk akal. Namjoon dan Jin tak akan pernah bisa bersama, semua realita membuatnya tak bisa terus bersama. Jin sudah memilih, ia akan menemani Yoongi didalam kegelapan. Yoongi lebih membutuhkannya. Namjoon masih muda, ia bisa mencari yang lebih baik dan lebih muda darinya. Jin berfikir bahwa Namjoon hanya membutuhkan waktu untuk bisa menemukan cinta selain dirinya. Pelukan Namjoon melonggar namun tetap memeluk Jin. Mereka masih diam. Jin melepaskan pelukan itu dan dia bersyukur Namjoon mau melepaskannya. Jin memungut pakaiannya yang berserakan dilantai dan berpakaian.
"Terimakasih karena sudah melepaskanku! Aku berharap kau bisa membuka hatimu dengan gadis yang lebih baik dariku... Aku pergi!"
Namjoon masih diam menatap kosong lantai. Jinnya benar-benar pergi meninggalkannya. Masalalunya muncul dari pembunuhan orang tuanya dan kematian perawatnya setelah bersaksi rasanya sama seperti ini. Rasa dimana kau merasa seseorang yang kau miliki pergi. Namjoon tersenyum dan pelan-pelan tertawa hingga terbahak bersama air mata yang keluar membasahi pipinya. Ia sedang menertawakan dirinya sendiri. Ia menertawakan nasib buruknya. Seolah bahwa ia hidup hanya untuk merasakan sakit. Seolah dia hidup hanya untuk ditinggalkan.
"AAAARGGGHHHH!"
Namjoon berteriak sekencang-kencangnya. Ia menjambak rambutnya dan meringkuk di dalam selimut, ia merasa ini adalah titik paling kesepian dalam hidupnya. Namjoon menangis kencang. Semua rasa sakitnya muncul bersamaan, membuat Namjoon merasakan sakit hingga ia ingin mati.
Jin gemetar sehingga ia tak sanggup menekan password rumah Yoongi. Jin hanya menekan belnya sekali sebelum kakinya tak sanggup lagi menompang tubuhnya. Jin terduduk di depan pintu Yoongi sambil menangis. Jin meletakan kepalanya diatas kedua tangannya yang bertupu dilantai. Jin merasa sangat lelah dengan apa yang terjadi. Ia tak peduli lagi bagaimana nanti Yoongi akan melihat dirinya. Ia akan menikah dengan Yoongi namun ia terang-terangan melakukan seks dengan Namjoon. Jin menangisi dirinya sendiri yang kini berubah menjadi wanita paling jalang didunia ini.
"Jessus! Jin!"
Yoongi terkejut begitu melihat Jin menangis sambil meringkuk dilantai. Yoongi langsung berjongkok dan menarik lengan Jin agar terduduk. Yoongi lebih terkejut lagi melihat kiss mark dileher Jin, Yoongi bahkan bisa mencium bau khas bercinta dari tubuh Jin.
"Maafkan aku Yoongi-ah!,,," Jin meminta maaf disela tangisannya.
Tak perlu Jin terangkan lebih jelas. Yoongi mengerti kenapa Jin meminta maaf. Yoongi mengangkat Jin untuk ia bawa masuk. Kondisinya sangat membuat Yoongi lebih khawatir. Jin bahkan berjalan seperti habis kehilangan keperawanannya. Walau ia tau Jin sudah kehilangan keperawanannya dahulu, oleh Yoongi sendiri. Dunia mereka memang sempit. Jin adalah sahabat baik bagi Yoongi namun keadaan membawa mereka menjadi sepasang kekasih juga. Yoongipun tak pernah mengerti bagaimana hubungan mereka. Yoongi hanya tau bahwa Yoongi dan Jin menyayangi satu sama lain.
. . . . .
Tok tok tok
"Jin~!" Yoongi mengetuk pintu kamarmandi di kamarnya. Jin sedang di dalam kamar mandinya dan belum juga keluar dari sejam yang lalu. Yoongi bisa melihat warna langit yang memutih, pertanda bahwa matahari sudah akan datang. "Jin?! Gwenchana?!" Yoongi menjadi bodoh karena khawatir. Ia seharusnya tau bahwa jin tak baik-baik saja.
'tidak dikunci!'
Terdengar suara Jin dari dalam dan Yoongi langsung masuk. Ia sedikit terkejut melihat Jin masih merendamkan dirinya di dalam busa tapi keterkejutannya hilang menjadi simpatik melihat wajah Jin yang menatap kosong langit-langit. Terlihat jelas kesedihan dimata Jin membuat Yoongi mendekat.
"Apa yang terjadi Seokjin?! Katakan padaku!"
Jin melirik Yoongi. ia diam cukup lama "Aku menyakitinya. Dia teriak dan menangis. Aku seperti baru saja mematahkan kakinya!" Jin membuang muka. "Bahkan aku sekarang menjadi sangat jalang karena berani kemari setelah bercinta dengan mantan kekasihku."
Yoongi menunduk, dibandingkan sakit hati. Yoongi lebih merasa kasihan pada Jin. Ia sangat mengerti apa yang Jin rasakan. Ia juga mencintai Jimin, sama seperti Jin yang mencintai kekasihnya. Yoongi bisa mengerti Jin yang belum bisa melepas kekasihnya, sama halnya dengan Yoongi yang belum bisa melepas Jimin. Yoongi mengerti. Yoongi sangat faham apa yang Jin rasakan.
"Hari sudah mulai terang. Bukankah kau ada jadwal mengajar hari ini?!... Aku akan siapkan sarapan. Berhenti menangis karena aku tak mempermasalahkan apapun." Yoongi mengecup pelipis Jin sebelum keluar.
.
.
.
"Ada apa denganmu Jin?" Tanya ibunya ketika Jin sedang sarapan dengan mata sembab. Jin tau siapapun akan bertanya.
"Ani!" Jin menjawab singkat dan masih terus makan.
Mata Mrs. Min menangkap kissmark di leher Jin. "Aigoo! Apa sebulan waktu yang sulit untuk menahan diri kalian?!"
"Mianhae! Jin cantik semalam." Ucap Yoongi menginterupsi. Membuat Jin menatap Yoongi terkejut.
Yoongi barusaja mengakui kesalahan yang bukan Yoongi perbuat. Jin hanya bisa diam, merenungkan dirinya. Ibu Jin dan calon mertuanya sungguh datang seperti apa yang Yoonggi katakan kemarin. Jujur, Jin sedang tak ingin bertemu siapapun dengan kondisi memalukan seperti ini. Jin merasa sangat tak tau malu, bahkan merasa tak memiliki harga diri di depan Yoongi. Ia dulu pernah memaki Yoongi karena meniduri Jimin tapi sekarang ia menjilat ludahnya sendiri karena tidur dengan Namjoon sebelum pernikahan mereka.
Sekarang, ibu dan calon ibu mertuanya memarahi Yoongi. mereka berfikir kalau Yoongi yang memberikan kissmark dilehernya. Jin tentu tak diam, Jin hanya berkata bahwa ia lelah dan tak ingin mendengar keributan hanya karena masalah kecil. Namun tanggapan Jin justru memancing ide ibu mertuannya untuk mempercepat pernikahan mereka.
"Undangan sudah disebar! Tak mungkin kita merubah tanggalnya!" Sela Yoongi berhasil membuat kedua wanita paruh baya itu kembali berfikir jernih.
.
.
.
Wedding
Jin sedang make-up. Matanya terus mencuri pandang pada layar ponselnya berulang kali. Jelas ia menunggu panggilan atau pesan dari Namjoon. Semenjak kejadian itu, Namjoon tak pernah menghubunginya lagi. Jin mengerti mengapa Namjoon tak menghubunginya. Jika Jin diposisi namjoon, mungkin ia akan melakukan hal yang sama. Jin tak berhenti memaki dirinya sendiri, ia terus merasa bersalah pada Namjoon. Ia terus teringat bagaimana ia mendengar namjoon berteriak. Jin bisa mendengar suara teriakan frustasi disana. Jin yakin bahwa Jin menyakitinya terlalu jauh. Namun Jin tak punya pilihan. Hidupnya sudah seperti dipenjara dan ia tak bisa memberikan Namjoon harapan untuk selalu bersama karena sejak awal Jin adalah milik Yoongi.
Tes.
"Aigoo! Jin-ssi! Kenapa menangis?!" Sang penata rias panik begitu Jin mengeluarkan air mata yang merusak riasannya. "Pengantin tak seharusnya menangis. Kau tak boleh merusak riasanmu!"
Jin mencoba tersenyum "Maafkan Aku! Aku terlalu bahagia! Aku terharu."
Jin Menahan senyum merasa bodoh dengan kebohongan yang ia buat. Menangis karena terlalu bahagia? Tidak! Jin tau Jin tak pernah merasa bahagia dan mungkin tak akan pernah bisa hidup bahagia bersama Yoongi. Jika Namjoon muncul dan membawanya lari saat ini juga maka ia akan suka rela mengikutinya. Jin benar-benar ingin lari dari semua ini. Namun itu mustahil, bahkan kehadiran Namjoon ke pernikahannya saja sangat tidak mungkin mengingat apa yang telah ia perbuat pada anak itu.
...
Yoongi tersenyum, Jin memang terlihat cantik dan gadis itu akan menjadi miliknya. Gadis itu adalah sahabat dan kekasihnya. Yoongi menggenggam tangan Jin untuk membantunya naik ke altar. Yoongi harus menerimanya mau tak mau. Jin merasa dunia benar-benar tak adil. Dilihat berapakalipun Jin bisa melihat kesedihan dimata Yoongi meski pria itu tersenyum. Jin menunduk menahan tangis. Ia tak boleh mengacaukan hari yang sangat penting bagi keluarga Min dan Kim. Beruntung veilnya masih tertutup, sehingga raut wajah kesedihannya tak begitu terlihat.
'Namjoon-ah! Tolong Bawa aku lari sekarang!' batin jin berteriak.
"Ya! Saya bersedia!"
Lamunan Jin buyar mendengar ucapan Yoongi. Jin menatap Yoongi sedikit tersentak.
"Bersediakah anda mengasihi dan menghormati isteri saudara sepanjang hidup?" Pastur bertanya lagi. Jin tetap memandang Yoongi yang terlihat yakin.
"Ya! Saya bersedia" Jawab Yoongi lagi kepada Imam.
"Bersediakah saudara menjadi bapa yang baik pada anak-anak yang dipercaya Tuhan kepada saudara, dan mendidik mereka menjadi orang Khatolik yang setia?"
Batin Jin berperang. Ia merasa Yoongi tak harus berbohong di depan gereja. Jin berharap Yoongi berkata tidak.
"Ya, Saya bersedia!"
Jin masih menatap Yoongi intens. Ia masih belum bisa percaya dengan semua ini.
"Kim Seokjin-ssi! Apakah saudari meresmikan pernikahan ini sungguh dengan ikhlas hati?"
Imam bertanya pada Jin. Membuatnya terkejut dan menatap sang imam. Jin menelan ludahnya. Jin bingung untuk menjawab pertanyaan imam. Haruskah ia membohongi imam dan berbohong pada gereja? Atau ia harus Jujur dan membuat keluarganya hancur? Jin sangat dilema sekarang. Jin memejamkan matanya.
"Ya, Saya bersungguh-sungguh!" Jin menatap imam dengan kebohongan. 'Tuhan! Ampunilah aku!'
Jin berbohong dan kembali berbohong mengucapkan janji sucinya pada gereja sampai akhir. Sumpahnya adalah dusta. Tuhan tau dan Jin merasa siap untuk menanggung dosanya. Jin hanya berfikir itu untuk ibunya. Karena dosanya akan lebih besar jika ia membunuh ibunya secara tidak langsung daripada dosanya mengucap janji palsu pada gereja. Jin meyakinkan dirinya bahwa keputusannya adalah yang terbaik.
.
.
-CiL-
.
.
Jimin menatap kosong gaun floral vintage berwarna biru yang digantung di ruang rias girlgroupnya. Teman-temannya tau Jimin akan menghadiri acara pernikahan Yoongi dan mereka hanya mencibir. Meskipun mereka satu group tapi bukan berarti mereka adalah sahabat bukan?. Jimin sudah lama dimusuhi karena rumor perselingkuhannya dengan penyanyi Min Suga dan fanservicenya yang selalu menebar ciuman kemana-mana. Teman satu groupnya tentu saja risih, apalagi dengan jumlah fans yang banyak serta pujian menejer membuat mereka semakin membenci Jimin. Katakan saja mereka itu iri. Mereka iri dengan kesuksesan Jimin yang selalu dibanding-bandingkan dengan member lain. Mereka memang tak ada jadwal setelah show, dan Jimin satu-satunya member yang tak akan langsung pulang ke dorm karena acara itu.
. . . . .
Namjoon tak bisa berfikir. Otaknya terus saja berputar dan kembali lagi pada Jin. Hari ini adalah hari pernikahan Jin dan itu sangat menyakitkan. Itu menghancurkan otak Namjoon. Bahkan Namjoon merasa tenggelam dalam tumpukan sampah sekarang. Demi apapun di dunia ini, Namjoon akan rela menculik Jin dari altar jika saja Jin memanggilnya. Namun itu mustahil. Jin sudah membuangnya jauh. Undangan itu, Namjoon merasa ia harus menghadirinya untuk menculik Jin tapi logikanya masih berjalan. Namjoon memutuskan untuk tak datang. Ia takut akan membuat kekacauan nantinya. Meskipun hatinya bergemuruh dan setan-setan dalam kegelapan dirinya berbisik meminta Namjoon untuk menghancurkan semuanya, dan menculik Jin untuk ia miliki selamanya.
.
.
.
tbc
.
.
.
