Psycho-Pass milik Production IG
Akane melangkah keluar dari ruangan kapten sambil menghembuskan napas keras. Sebagai orang nomor dua di unit yang dipimpin oleh Kougami, ia dianggap dapat menjelaskan lebih rinci mengenai kasus yang sedang dikerjakan oleh unitnya. Itu pun jika bisa dianggap sebagai kasus. Sebab, pengakuan seorang penjahat kambuhan saja sudah dapat diragukan kredibilitasnya, apalagi menjadikannya sebagai jalan untuk membuka sebuah kasus lama, akan lebih sulit lagi. Akane berharap Kougami segera tiba dan melaporkan sendiri apa yang unitnya rencanakan pada kapten. Sebab, Akane sendiri merasa tidak percaya diri menjelaskan apapun kepada pimpinan mereka. Kasus ini masih buram.
Akane hendak kembali ke ruangannya saat ia melihat sosok yang sedang ia pikirkan. Kougami tampak memasuki kantor mereka bersama seorang pemuda sebayanya yang kelihatan kikuk, Ginoza. Mereka lalu melapor pada seorang petugas agar Ginoza mendapatkan kartu tanda pengunjung. Kougami baru menyadari keberadaan Akane setelah menyuruh Ginoza mengenakan kartu identitasnya.
Akane tersentak. Ia berjalan cepat demi menghindari pria itu. Panggilan Kougami tidak digubrisnya. Ia memang berharap agar Kougami segera menemuinya. Tapi tidak di depan Ginoza, pria yang sudah mendapat tempat di benak Kougami sejak Akane pertama kali mengenalnya. Akane tidak ingin melihat wajah itu.
"Tunggu di sini," kata Kougami pada Ginoza tanpa menyembunyikan kegelisahannya setelah melihat Akane. Ia menyuruh Ginoza duduk di sebuah kursi panjang di ruang tunggu, lalu memborgol kedua tangan pemuda itu di kaki kursi hingga Ginoza terpaksa agak membungkuk.
Ginoza tersenyum miris karena diperlakukan seperti tahanan. Meskipun baru pertama kali melihat Akane, pengalamannya membuat ia bisa menebak apa yang tengah terjadi. Ginoza cukup sering melihat tingkah laku seperti Akane pada pasangan dari klien-kliennya yang cemburu.
"Hei, kalau ini bisa membantu, katakan pada istrimu bahwa aku bukan ancaman," kata Ginoza sambil tersenyum tipis.
"Tunggu di sini!" ulang Kougami sebelum meninggalkan Ginoza.
Ginoza tertawa kecil. Tapi tawanya mendadak lenyap saat menyadari bahwa hampir semua orang di ruangan itu—kecuali seorang pemabuk yang ditahan—tengah menatapnya. Sebagian pengunjung menatapnya heran dan sebagian lagi tampak jijik. Sementara para polisi yang lalu-lalang menatapnya dingin dan merendahkan. Ternyata, setelah enam tahun tidak menginjakkan kaki di kantor polisi ini, 'aroma' penjahat kambuhan Ginoza masih tercium kuat.
Mungkin aku memang harus berubah, pikir Ginoza. Ia berusaha menarik tangannya yang terkunci sambil mengutuk dalam hati, mengapa Kougami harus memperlakukannya seperti ini. Polisi itu rupanya masih belum mempercayainya.
"Halo! Lama tidak berjumpa!" sapa seseorang yang mendekatinya saat Ginoza sedang sibuk dengan borgol di tangannya.
Ginoza mendongak. Ia melihat seseorang yang cukup dikenalnya sedang membungkuk sambil melambaikan tangan padanya. Senyumannya lebar sekali. Ginoza tahu bahwa orang itu sedang mengejeknya.
"Dengan setelan jas itu, kau terlihat lebih pintar daripada enam tahun yang lalu," lanjut orang itu.
Nah, benar, 'kan? Ginoza mengerutkan kening, tidak menyembunyikan kejengkelannya. Ia masih diam karena masih mengingat di mana dia berada saat ini. Ginoza tahu siapa orang itu, sehingga ia masih menjaga sikap agar tidak terjerat masalah lagi.
Tapi kemudian orang itu mulai menepuk-nepuk kepalanya. Saat itulah Ginoza mulai merasa darahnya mulai panas.
Kemunculan Kougami di ruang Unit Anti Kejahatan Khusus membuatnya disambut oleh Sugo dengan ucapan, " selamat datang, boss!"
Tapi Kougami tidak ada waktu untuk membalas ucapan dari anggota unit yang paling tulus itu. Di bawah tatapan para anak buahnya yang lain, ia menarik lengan Akane agar memasuki ruang kerjanya. Tergesa-gesa Kougami menutup pintu dan tirai jendela agar Shisui dan kawan-kawan tidak dapat melihat apa yang terjadi.
"Urusan rumah tangga memang rumit, ya," kata Karanomori pada Kunizuka yang tetap dingin di tempatnya.
"Kuharap mereka akan membaik," timpal Sugo, membuat Shisui mencubit pipinya.
"Kau memang naif," komentar Shisui.
Sugo menyeringai. Apa ada yang salah dengan mendoakan kawan sendiri?
"Kudengar mereka memanggilmu Tsunemori lagi," kata Kougami, membuka pembicaraan. Meja kerjanya membatasi mereka berdua. Ia menatap Akane lekat-lekat, tapi wanita itu malah memandang ke luar jendela yang tertutup.
"Aku yang memintanya," jawab Akane dingin. "Aku ingin agar mereka membiasakan diri lagi sebelum kita..."
Kougami memukul keras meja kerjanya, memotong kalimat Akane. Akane tersentak, tapi berusaha tampak tegar.
"Aku tidak akan membiarkannya! Kita masih bisa mengusahakan yang terbaik. Akane..."
"Menurutmu apa yang terbaik itu? Aku harus bersaing dengan seorang PSK?!" sergah Akane.
"Akane, berapa kali harus kujelaskan? Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Sebab, apa..."
"Yang kau miliki saat ini, sebenarnya juga dapat menjadi milik pria itu. Bahwa kau berutang budi padanya secara tidak langsung. Aku sudah hapal hingga bisa mati kebosanan karena itu!" sela Akane dengan nada tinggi.
"Kau bisa memahaminya, bukan?"
"Pada awalnya aku pikir aku akan mampu melakukannya. Tapi melihatmu setiap malam memikirkan apa yang bisa kau lakukan untuknya, pada akhirnya membuatku muak. Aku tidak mampu lagi menerimanya."
Kougami terhenyak. Ia berusaha menyentuh tangan Akane, tapi istrinya itu segera menepisnya. Kougami tidak menyerah. Ia meraih tangan Akane lagi dan menggenggamnya erat hingga Akane tidak bisa lagi menolaknya.
"Bersabarlah... Sedikit lagi, Akane... Tinggal sedikit lagi..." pinta Kougami dengan suara memelas.
Akane menatap Kougami dengan dingin. Kelihatannya, keputusannya sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Sugo membuka pintu dari luar, membuat Akane menarik tangannya. Tanpa memperhatikan apa yang tengah terjadi pada kedua orang atasannya itu, ia mengabarkan sesuatu dengan tampang cemas dan panik.
"Pak, Anda harus menangani hal ini. PSK itu membuat masalah dengan Kapten!"
Situasinya sudah terkendali sekarang. Meskipun dipermalukan oleh seorang pemuda kurus yang bahkan tidak bisa menggunakan tangannya, Kapten Sasayama sudah menyatakan bahwa ia tidak akan menuntut Ginoza. Selangkangannya yang ditendang oleh Ginoza memang masih terasa sakit, tapi selama benda yang berada di tengahnya masih dapat digunakan, seharusnya tidak menjadi masalah.
Kougami membungkuk sekali lagi sebagai permohonan maaf atas nama Ginoza pada kapten muda yang dikenal jahil itu. Kougami yang membawa Ginoza ke kantor polisi ini, maka perbuatan PSK itu juga menjadi tanggung jawabnya.
"Ah, sudahlah. Kuakui, aku memang cukup memprovokasinya tadi. Lagipula dia pasti masih mendendam saat kutangkap enam tahun yang lalu," ujar Sasayama sambil meringis.
"Terima kasih atas pengertiannya, Pak. Saya berjanji, hal seperti ini tidak akan terulang lagi," balas Kougami sebelum mengundurkan diri dari ruangan Sasayama.
"Oh ya, Kou, tunggu sebentar," panggil Sasayama sehingga langkah Kougami terhenti di dekat pintu.
"Aku sangat berharap kalian berhasil membuka kasus itu lagi. Kuharap melibatkan PSK itu membawa hasil yang sepadan. Tougane sudah terlalu lama dibiarkan melenggang."
Kougami tersenyum dan mengangguk dengan yakin. Ia sudah memegang kartu yang paling berharga untuk menjerat Tougane. Ia tidak akan gagal lagi.
Atas perintah Kougami, Sugo mengeluarkan Ginoza dari ruang tahanan dan membawanya ke ruang Unit Anti Kejahatan Khusus. Insiden penyerangan terhadap Sasayama memaksa Kougami bersikap lebih keras lagi terhadap Ginoza. Sugo mengikat tangan dan kaki pemuda putus sekolah itu pada sebuah kursi hingga Ginoza tidak berkutik. Tapi kelihatannya dia tenang saja. Kougami bahkan bisa melihat kepuasan di mata pemuda bermasalah itu.
"Kau tahu, jika insiden ini sampai ke telinga pengawasmu, kau bukan saja akan dikembalikan ke penjara, hukumanmu juga akan ditambah," kata Kougami pada Ginoza. "Aku tidak bisa memahamimu. Baru dua jam yang lalu kau kelihatan akan bertobat, tapi sekarang sudah bertingkah lagi!"
Ginoza tidak segera menjawab kemarahan Kougami. Ia mengedarkan pandangan, mengamati satu-persatu anak buah Kougami. Si jangkung berbadan kekar yang sempat menyeretnya menjauh dari orang bodoh yang mengusiknya, lalu ada wanita berambut pirang bertubuh sintal yang mengedipkan mata padanya, seorang wanita berambut hitam yang menatap tanpa ekspresi, seorang wanita (lagi? ya ampun, Kougami beruntung sekali kamu!-author) berambut pendek tengah menatapnya penuh selidik dan terakhir adalah wanita yang fotonya ia lihat di rumah Kougami. Akane.
Mengenai wanita yang terakhir disebutkan ini, Ginoza menatapnya agak lama. Akane tersentak, tapi ia balas menatap tajam. Wanita itu tidak menyembunyikan kebenciannya.
"Gino," panggil Kougami, merasa jengah melihat pria lain berlama-lama menatap istrinya.
Ginoza menoleh pada Kougami dengan seulas senyuman aneh di bibirnya.
"Aku bisa menyusupkan kalian ke balik punggung Tougane. Tapi, karena Kougami sudah sangat terkenal, aku bisa bertaruh kalian tidak akan menyukai caranya. Terutama dia," ujar Ginoza. Ia menunjuk Akane dengan dagunya.
"Hm, terang-terangan sekali. Aku suka gayanya," komentar Karanomori sambil memainkan rambutnya.
Tapi Akane tidak setuju. Ia menukas tajam, "apa maksudmu?"
"Saat ini Tougane pasti sedang sangat marah padaku... juga pada Kougami. Kita bisa memanfaatkan kemarahannya itu," jawab Ginoza tenang. "Mima pasti sudah melaporkan semuanya pada Tougane. Aku tidak bisa mundur lagi kecuali memanfaatkan situasi ini. Itu juga jika kalian setuju dengan caraku. Jika kalian tidak setuju, tamatlah riwayatku."
"Memanfaatkan seperti apa, tepatnya?" tanya Kunizuka.
"Tougane itu punya banyak mata dan telinga. Dia pasti sudah memprediksi rencana Kougami yang mau memanfaatkan aku. Hanya masalah waktu saja sampai dia menangkapku. Yang bisa kulakukan sekarang hanya memanfaatkan situasi agar dia tidak memenggal leherku dan membahayakan keluargaku."
"Jangan bertele-tele, katakan saja maksudmu!" tukas Akane lagi.
"Tsunemori, tenanglah..." bisik Shisui.
"Jadi menurutmu apa yang kami rencanakan akan sia-sia? Mendengar detil rencananya saja belum, mengapa kau bisa menebak bahwa kami akan gagal?" tanya Kougami. Sejujurnya, ia merasa bahwa mengetahui peran Mima dalam sepak terjang Tougane memang sudah mengancam keberlangsungan rencana yang sudah ia susun bersama timnya. Meskipun ia tidak bisa membuktikan keterlibatan Mima dalam bisnis Tougane karena asumsinya hanya berdasarkan pengakuan Ginoza, Kougami merasa perlu menyusun ulang rencana mereka.
"Karena Tougane tidak akan memberi kesempatan! Satu-satunya kesempatanku adalah dengan membuatnya tidak merasa bosan padaku sehingga membiarkan aku hidup. Selama ini aku sudah menjadi anjingnya yang paling penurut dan akan selalu seperti itu kecuali dia tamat!"
Ginoza menelan ludah. Ia mengatur napasnya sebelum menyampaikan pengakuan yang selama ini menjadi salah satu rahasia terbesarnya.
"Menurut kalian, mengapa orang sebodoh Sasayama bisa menjadi kapten kalian?" tanya Ginoza pelan.
"Cukup, kita tidak perlu mendengarkan dia lagi. Kembalikan saja dia ke penjara," sergah Akane.
Tapi Kougami tidak menghentikan Ginoza. Siapapun tahu bahwa Sasayama memiliki karir yang cemerlang pada usia muda. Kougami pun demikian. Tapi, bukan berarti mereka memiliki rahasia khusus, bukan?
"Si bodoh itu, enam tahun yang lalu, hampir gagal menangkapku. Aku bahkan sampai harus membuat video bersama Kagari agar bisa dijadikan alat bukti keterlibatanku dalam bisnis itu. Waktu itu aku harus mencari cara yang aman untuk menyusup ke Penjara Tokorozawa agar tidak dicurigai oleh Kasei. Tougane tidak mempercayainya lagi, jadi aku dikirim untuk menjadi mata dan telinga Tougane di Tokorozawa, menggantikan Kasei hingga Tougane menemukan orang lain untuk dia manfaatkan."
Kougami dan timnya -lagi hanya cerita Ginoza. Tapi Kougami merasa bahwa itu bukan bualan. Ia tahu apa yang terjadi pada Kasei, seperti ia juga mengetahui apa yang Ginoza lakukan selama berada di Tokorozawa. Kougami tahu bahwa Ginoza berganti sel hingga delapan kali dalam waktu enam tahun. Lima dari seluruh teman satu selnya itu bukanlah penjahat kacangan.
"Jangan katakan bahwa kau mengorek informasi dari saingan Tougane yang dipenjarakan dengan memanfaatkan tubuhmu, Nobuchika Ginoza," kata Kougami tajam.
Seluruh anggota unit ikut menatap tajam pada Ginoza. Shisui bahkan terperangah dengan mulut setengah terbuka. Sekuat itukah jaringan Tougane? Sehebat itukah dia hingga mampu memanfaatkan orang seperti Ginoza agar mau berkorban untuknya?
"Begitulah. Aku prihatin dengan apa yang terjadi pada Kasei. Tapi peranku hanya sampai di tempat tidur. Eksekutornya bukan aku, aku bahkan tidak mengetahui siapa dia. Tapi, seperti yang aku bilang, aku adalah mata dan telinga Tougane di sana. Aku menyerang narapidana lain hanya agar hukumanku ditambah, karena Tougane merasa bahwa apa yang ia lihat dan dengar melalui aku belum cukup. Kemudian tiba-tiba aku dibebaskan. Kurasa Tougane sudah menemukan orang yang tepat dan ingin agar aku kembali padanya. Tapi kau merusaknya, Kou. Meskipun sebenarnya aku berterima kasih juga padamu karena sudah menjaga ayahku."
"Dia pasti akan menyeretku kembali padanya, untuk menghukum pengkhianatanku. Kecuali aku bisa menawarkan sesuatu yang lebih berharga untuknya, aku dan keluargaku bisa tetap aman. Kalian mungkin bisa menebaknya, jika kalian memang detektif hebat."
Kougami melirik Akane yang mengepalkan kedua tangannya. Seperti Kougami, tampaknya ia sudah bisa menebak maksud Ginoza.
"Aku tidak akan membiarkannya! Aku tidak akan membiarkan suamiku menjadi mata dan telinga bagi bajingan itu!"
Ruangan itu hening seketika. Hingga Akane bergegas meninggalkan ruangan tanpa mempedulikan bahwa pertemuan masih berlangsung. Kougami membiarkannya, tapi hanya sesaat. Ia menyusul Akane tanpa mengatakan apa-apa.
Ginoza tertegun. Nasibnya kini tergantung pada keputusan Kougami.
BERSAMBUNG
a/n :
Hahaha, Sasayama jadi kapten? Bahkan saya sendiri juga kaget! #alasan
Chapter terakhir sebelum hiatus sementara karena urusan pekerjaan. Minggu depan mungkin bisa lanjut lagi.
