Pertama-tama LutfiyaR ingin berterima kasih kepada para reader yang sudah mau me-rewiew, fav, dan follow. Terima kasih banyak, ya!

~o~o~o~

Disclaimer : I do not own Katekyo Hitman Reborn and Angel Beat!

Fanfic ini terinspirasi oleh Crossing The World oleh Scarlet Natsume dari fandom Kuroko No Basuke.

~o~o~o~

Seseorang terjatuh. Kami semua menoleh. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Bos terbaring dengan tubuh penuh luka.

"Bos!"

"Tsuna!"

Aku langsung berlari ke sisinya. Bos benar-benar terluka parah.

"Juudaime, siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Gokudera. Aura disekitarnya terasa menyeramkan. Aku tidak menyalahkannya.

"Tenshi." Bos berbisik lemah.

"Eh? Tapi-" Aku menoleh kearah Kyoya. Dia masih berdiri disana dengan tumpukan piring di tangannya. "-Kyoya bersama kami sejak tadi!"

Mata Bos tiba-tiba menyipit. Tapi dia tidak sedang menatapku. Aku mengikuti pandangannya. Disana berdiri seorang laki-laki dengan tonfa di tangan. Rambutnya yang hitam tertiup angin.

"Tenshi..." Aku hanya bisa berbisik tak percaya. Setelah itu ketegangan panjang yang melelahkan terjadi.

~o~o~o~

Aku berhenti berjalan. Di depanku berdiri laki-laki yang wajahnya sama sekali tidak asing.

"Jangan bengong saja. Cepat cari yang asli!" hardik Bos. Matanya yang berwarna coklat, sekarang bersinar dengan warna oranye.

"B-baik!"

Aku langsung berlari menjauh. Suara pertempuran terdengar jelas di belakangku. Tapi aku harus maju. Karena seperti yang dikatakan Lambo, Kyoya sedang menungguku.

Aku menggigit bibir. Demi Kyoya, demi Vongola, dan demi teman-teman yang sudah mengorbankan dirinya.

~o~o~o~

"Kau menulis ulang programnya, ya?"

Kyoya bertanya padaku. Tapi aku langsung tau dia bukanlah Kyoya yang sebenarnya. Kyoya yang sebenarnya sedang terbaring kelelahan didepanku karena memaksakan dirinya menggunakan Harmonics.

"Ya, sebentar lagi kalian akan kembali lagi kepadanya." Aku menjawab sambil menyiapkan pistol.

"Semua 'aku' yang kejam itu?" Kembaran Kyoya bertanya lagi tanpa mengubah ekpresinya.

"Apa maksudmu?"

"Setiap kembaran punya kesadaran. Mereka tidak akan hanya musnah. Mereka akan disatukan. 'Aku' yang kalian hadapi akan kembali padanya."

"Huh?" Mungkinkah-?

"Dan semua kesadaran akan masuk padanya sekaligus. Ini bukan perkara mudah untuknya." Kembaran Kyoya tersenyum. Itu adalah senyum penuh kelicikan. "Inilah saatnya."

"Tunggu!" Aku berteriak, tapi sudah terlambat. Kembaran Kyoya menghilang dan sekarang Kyoya asli mengerang kesakitan.

Aku hanya bisa menatapnya. Bahuku bergetar saking kesalnya. "Sial!"

"Bertahalah..." Di tengah erangan kesakitan Kyoya, aku memeluknya. "...Kyoya!"

~o~o~o~

Hari ini benar-benar hari yang mengejutkan. Semua misteri akhirnya terkuak.

Aku sudah ingat semua hal tentangku termasuk saat kecelakaan kereta. Setelah mengingat itu, aku jadi tidak memiliki penyesalan. Saat itulah misteri yang lainnya juga ikut terkuak.

Misteri mengenai fakta bahwa dunia ini diciptakan agar kami bisa mati tanpa penyesalan.

"Karena semua yang datang kemari adalah mereka yang gagal menikmati hidup mereka sebagai anak muda."

Itulah yang dikatakan Kyoya. Sekarang setelah dipikir-pikir lagi semuanya menjadi lebih masuk akal.

Tempat mereka semua bukan disini. Melawan ketidakadilan hidup mereka. Dan Kyoya disini untuk menunjukkan bahwa mereka salah. Dia ingin menunjukkan hidup yang tidak ada ketidakadilannya. Sebuah kehidupan normal. Dia ingin membuat semuanya berhenti. Itu... Cenderung ironis.

Semua itu memang gampang dibilang. Atas apa yang kita percayai, kita melawan satu sama lain. Bahkan sampai peperangan api. Setiap hari hanyalah kekacauan.

Lalu apa yang sebaiknya aku lakukan? Sebagai anggota pasukan ini dan teman Kyoya, apa sebaiknya aku mengambil tindakan?

"Jadi... Kau akan membantuku?" Aku bertanya ragu.

"Bukannya aku yang harus bilang begitu?"

"Iya, sih... Memang..."

Aku ini ngomong apa, sih, sama Tenshi ini?! Bagaimanapun juga aku sudah membuat keputusan.

Aku bangkit berdiri. "Aku mengerti, Kyoya. Kita luluskan mereka. Mulai sekarang... Untuk semuanya..."

Dan setelah ini aku yakin akan ada ketengangan panjang melelahkan lainnya.

~o~o~o~

Setelah terlempar ketanah berkali-kali, menghancurkan harga diri Gokudera dan yang lainnya dalam permainan sepak bola (Maafkan aku semuanya!), dan berlatih baseball berhari-hari, akhirnya aku melihat keinginan I-pin yang sebenarnya.

Dia ingin bersama seseorang yang bisa berada di sisinya tanpa menganggapnya sebagai beban. Seseorang yang mau menikahinya apa adanya meski tubuhnya lumpuh dan tidak bisa bergerak.

"Tapi, itu tidak mungkin, kan?" I-pin tersenyum pahit.

Itu tidak benar. Semua yang dia katakan itu salah. Aku ingin mengatakan itu, tapi aku bukanlah orang yang tepat.

"Aku mau menikahimu. Aku serius."

Di lapangan baseball, saat matahari terbenam, itulah yang Lambo katakan pada I-pin. Dialah orang yang tepat untuk mengatakannya.

"Selamanya ingin bersamamu... Kau yang disini, bukan kau yang lain."

Akhirnya seluruh keinginan I-pin terwujud.

Disaat-saat terakhirnya, aku bisa melihatnya tersenyum penuh kebahagiaan. Senyum yang sangat indah dan cantik.

~o~o~o~

Musuh baru telah muncul. Bos menyebutnya kage karena memang tidak ada kata lain yang bisa mendeskripsikannya selain itu. Korban pertamanya adalah Ryohei. Kondisinya? Lebih parah dari kematian. Kelihatannya siapapun yang diserang kage itu berubah menjadi NPC.

Selain itu, Bos juga menyadari apa yang aku, Lambo, dan Kusakabe coba lakukan. Rumor mengenai Hyper Intuisinya itu kelihatannya benar, ya.

Tapi, terima kasih juga kepada Bos, aku jadi bisa menjelaskan mengenai tujuanku dan Kyoya di depan anggota Vongola secara terang-terangan. Mereka semua mendengarkan meskipun pada akhirnya sempat protes juga.

"Aku menyerahkan jalan kalian masing-masing," ucap Bos setelah aku menyelesaikan penjelasanku.

"Bagaimana dengan Tsunayoshi?" Salah satu anggota bertanya. "Tsunayoshi maunya bagaimana?"

"Aku? Aku juga pilih sendiri. Dan aku tidak memilih untuk melindungi kalian. Aku juga akan melakukan apa yang aku mau." Bos tersenyum. Para anggota terlihat ragu-ragu dan penuh kebingungan. "Kita tidak punya banyak waktu. Pikirkan baik-baik. Sekarang bubar."

Dengan begini, pertemuan Vongola berakhir.

~o~o~o~

Bos benar-benar memilih jalannya sendiri. Dia pergi sendirian melawan musuh yang berada dibalik semua ini.

"Tsunayoshi!" Lambo berteriak mencoba menghentikannya.

"Nama yang lucu," Bos bergumam. "Tapi mungkin karena itulah semua mengikutiku. Terima kasih."

Bos melambaikan tangan dan pergi. Satu hal yang kuperhatikan adalah, bahkan, disaat seperti ini, Bos masih tersenyum. Senyuman hangat yang selalu bisa menenangkan hati semua orang.

~o~o~o~

Haru, dan anggota lainnya telah pergi. Mereka semua akhirnya memutuskan untuk meninggalkan dunia ini.

Sekarang aku hanya perlu-

"Ayo kita kalahkan!"

-bertarung melawan para Kage.

Kage-Kage itu semakin bertambah banyak saja. Malah rasanya seperti seluruh NPC berubah menjadi Kage.

Tapi aku tidak sendirian. Selain Lambo dan Kusakabe, secara mengejutkan ternyata Lal Mirch, Yamamoto, dan Gokudera juga memutuskan untuk bertarung bersama kami.

Aku berdiri diantara mereka. Ini akan menjadi pertarungan yang melelahkan.

~o~o~o~

Bos selamat.

Dan dia berhasil memusnahkan para Kage dengan bantuan kami. Tidak hanya itu saja. Kelihatannya, masalah yang membebani Bos sudah lepas (meskipun dia agak malu mengakuinya). Tapi, masih ada satu hal yang perlu dilakukan. Satu hal yang belum dilakukan Kyoya.

~o~o~o~

"Dengan ini, upacara kelulusan Vongola diakhiri. Para wisudawan dan wisudawati... Dibubarkan!" Aku mengumumkan mengakhiri upacara ini.

Satu-persatu kami meninggalkan dunia ini.

"Dokuro-san, jika aku tidak bertemu dengan Dokuro-san, aku tidak akan disini. Tapi aku tidak akan kehilangan arah lagi. Terima kasih."

Kusakabe.

"Hibari-san, maaf aku menjadi lawanmu. Aku penasaran kenapa kita tidak menjadi teman lebih cepat. Aku benar-benar minta maaf. Kita bisa saja bersenang-senang jika kita memiliki lebih banyak watu. Tapi, inilah kita berpisah. Selamat tinggal, Hibari-san."

Bos.

"Terima kasih banyak. Tanpamu, tidak akan akan ada yang dimulai. Juga tidak akan berakhir begini. Aku sangat berterima kasih."

Lambo.

Hingga akhirnya hanya aku dan Kyoya berdua saja disini.

"Kita keluar. Cari angin."

Ada hal-hal yang ingin kuberitaukan padanya.

~o~o~o~

"Orang-orang seperti Bos mungkin akan datang kemari dan mereka akan menderita selamanya, membelot melawan hidup mereka."

"Mungkin."

Mendengar penjelasanku, Kyoya sama sekali tidak mengubah ekspresinya.

"Tapi... Jika kita disini... Untuk mereka, seperti sekarang... Kita bisa tunjukkah keindahan arti kehidupan dan meluluskan mereka. Mungkin itu kenapa aku disini. Jadi..."

Angin bertiup menerbangkan rambut Kyoya. Aku berhenti sebentar. Mukutku terasa kaku. "Kyoya, dengan bersamamu... Di dunia ini... Aku tidak akan kesepian.. Mungkin aku pernah bilang... Aku ingin bersamamu... Aku ingin bersamamu saat ini dan seterusnya... Karena aku... Kyoya, aku..."

Ekspresi Kyoya tidak berubah sama sekali. Aku menariknya kedalam pelukanku. "Aku menyukaimu."

Kyoya tidak mengatakan apapun. Aku menatap wajahnya. "Ada apa? Kenapa kau tidak menjawab?"

"Aku tidak mau bilang." Mata Kyoya tertutup membuatku tidak mengerti apa yang ada di pikirannya.

"Kenapa?"

"Kalau aku katakan perasaanku, aku akan lenyap."

"Kenapa?"

"Karena..." Kyoya membuka mata. "Aku ada untuk berterima kasih padamu."

"Apa maksudmu?"

"Aku adalah laki-laki yang diselamatkan oleh jantungmu," Aku menatapnya terkejut. Kyoya melepaskan diri dari pelukanku. "Jantungmu berdetak di dadaku saat ini. Satu-satunya penyesalanku hanyalah aku tidak bisa berterima kasih pada dia yang memberiku hidup. Aku ingin dia tau. Karena itulah aku terdampar di dunia ini."

"Tidak mungkin... Tapi, darimana kau tau itu aku?"

Kyoya membalikkan badan membelakangiku. Aku tidak tau ekspresi macam apa yang dia buat saat ini. "Aku tau sejak aku menusukmu pertama kali. Kau tidak punya jantung."

"Cuma dari situ..."

"Saat kenanganmu kembali, aku menyaksikan mimpimu. Aku mendengar alunan detak jantungmu."

"Tidak mungkin..."

Kyoya berbalik dan menatapku. Untuk pertama kalinya aku melihat ekspresi sedih terpancar dari wajahnya.

"Chrome, kumohon... Katakan sekali lagi..."

Aku melangkah mundur. Aku bisa merasakan seluruh tubuhku bergetar. "Aku tidak mau... Kyoya akan lenyap..."

Kyoya mendekat kearahku. "Chrome, tolong." Suaranya terdengar memohon.

"Aku tidak sanggup!"

"Chrome!" Aku terkejut dan menatap lurus kearah Kyoya. "Hal yang kau percayai... Aku ingin mempercayainya juga! Tentang senangnya bisa hidup."

"Kyoya..." Aku memeluk Kyoya erat. Kali ini Kyoya membalas pelukanku. Aku bisa merasakan air mata mengalir di pipiku. "Teruslah bersamaku."

"Ya. Terima kasih, Chrome."

Aku mempererat pelukanku. "Jangan pergi, Kyoya!"

Kyoya tersenyum. "Terima kasih untuk hidupmu."

Detik berikutnya, Kyoya menghilang dari pelukanku begitu saja membuatku terjatuh. Aku menggapai-gapai udara tapi Kyoya tidak ada dimanapun. Kyoya... Sudah pergi...

Bahuku bergetar. Di latar belakangi pemandangan matahari terbenam, aku meneriakkan namanya.

~o~o~o~

Aku sudah tidak menyesal dilahirkan

Seperti akhir dari karnaval

Sedikit menyedihkan, tapi waktunya pulang

Dimanapun berada

Dengan hal yang kupelajari disini

Mimpi yang disebut bahagia, aku pasti akan mendapatkannya

Walau terpisah darimu tidak peduli jauhnya

Aku akan tetap hidup di pagi esok

Banyak hal mungkin akan berubah

Dan waktu pun memudar

Hal yang terjadi sebelumnya

Aku tidak mengingatnya lagi

Saat kututup mataku

Kudengar seseorang tertawa

Sekarang karena suatu alasan

Itulah hartaku yang paling berharga

~o~o~o~

Seorang laki-laki berambut hitam menyandarkan punggung ke dinding. Wajahnya tertutup topi, menghalangi sinar matahari menampakkan wajahnya.

Seorang wanita berambut ungu panjang berjalan melewatinya, namun ketika sang pria melangkah pergi, wanita itu berbalik. Tangannya terulur, hendak menyentuh bahu laki-laki itu.

Dan benang merah yang sempat putus kembali terhubung.

~o~o~o~

A/N : Maaf kalau ternyata jelek. Waktu membuat chapter ini, penyakit malas LutfiyaR lagi kambuh, jadi ngerjainnya setengah-setengah, deh...

Ini dia penjelasan tokohnya :

Chrome Dokuro-Otonashi Yuzuru

Hibari Kyoya-Tachibana Kanade

Tsunayoshi-Yurippe

Lambo-Hinata

I-pin-Yui

Kusakabe-Naoi

Bianchi-Iwasawa

Gokudera-Noda

Lal Mirch-Shiina (Ada yang sadar gak kalau ada Lal disitu?)

Vongola-Shinda Sekai Sensen

Ryohei dan Yamamoto memerankan sisanya secara tidak tentu. Misalnya seperti disuatu waktu Yamamoto menjadi T.K tapi diwaktu yang lain dia menjadi Matsushisa-Godan sedangkan Ryohei yang menjadi T.K-nya. Maklum, kekurangan aktor.

Pertanyaan hari ini : Apa Hibari terlihat OOC?

Jaa ne~!