Warning: YAOI, OOC, AU, OVER, T-RATED, dll
A/N: hikshiks, OOC-nya tetap susah hilangnyaaa *guling-guling di jalan raya*. Maapin saya! Maapin! Fic ini kan menganut aliran AU (Alternative Universe) makanya disini OOC sangat terasa. Saya juga merasa kalau saya emang cuman make 'nama karakter'-nya aja, hiks. AMPUUUN…! (Enjoy, RnR, No Flame)
Disclaimer
KATEKYO HITMAN REBORN! by: AMANO AKIRA
OSAKA SNOWLEDGE by: RUKI KYOUYA GOKUDERA
And every time I see your face
The ocean heave up to my heart
And you make me wanna strain at the oars
And soon I can see the shore..
I want to you know who I really am
I never thought I'd feel this way towards you
And if you ever need someone to come along
I will follow you, and keep you strong..
[Rie Fu – Life Is Like A Boat]
*****OSAKA SNOWLEDGE*****
4th CHAPTER
CAME IN WITHOUT ALLOWED
"Gak usah lari-larian, bisa kan?" Tanya Hibari dengan suara yang sedikit terengah-engah. Ia menggenggam erat pergelangan tangan kiri Gokudera dengan tangan kanannya, "Lo mau nyoba kabur lagi, ya,"
"Iih, lepasin gue! Hahahahaa, lepasin!" Gokudera dengan tak bersungguh-sungguh memohon di tengah-tengah tertawaannya. Mereka berhenti berlari dan berdiri sambil berdebat di pinggir jalan malam itu.
"Nggak," respon Hibari pendek dan membuat Gokudera meronta-ronta pelan.
"Aduduh, tangan gue mulai sakit nih! Tenaga lo over sih!" kini, tangan kanan Gokudera turut membantu untuk melepaskan cengkraman Hibari di tangannya yang lain. Namun, karena lemas, Gokudera tak juga berhasil.
"Segini aja tenaga lo?" Hibari mencibir meremehkan Gokudera, "Lembek banget lo, kayak Herbivore," lanjut Hibari sambil tetap menggenggam tangan Gokudera.
"Ha? Herbivore?" Tanya Gokudera bingung. Diam-diam ia mendekatkan tangannya yang digenggam oleh Hibari ke arah wajahnya. Kemudian ia membuka mulutnya bersiap untuk menggigit tangan Hibari.
Setelah sadar akan apa yang hendak dilakukan Gokudera, Hibari refleks melepaskan tangannya. Dan kemudian tawa kemenangan terlontar dari mulut Gokudera.
"Hahaha! Akhirnya kalah juga lo!" kata Gokudera sambil berlari menghindari Hibari lagi.
Tindakan Gokudera ini membuat orang-orang yang berada disana memperhatikan mereka dengan berbagai ekspresi. Ada yang bingung, geleng-geleng kepala, bersikap acuh, bahkan ada yang sedikit terkikik sambil berbisik pada temannya.
Hibari yang tak terima dibilang 'kalah' kini kembali mengejar Gokudera. Ia sungguh tak suka itu. Ia tak suka kalah, dari siapapun. Ia pun sudah tak memedulikan tatapan orang-orang di sekitar mereka. Namun, tiba-tiba Gokudera berhenti berlari dan hanya berjalan saat Hibari tepat berada di sampingnya. Kini mereka kembali berjalan bersanding seperti yang sebelumnya.
"Hm, Kyouya?" panggil Gokudera, namun mata hijaunya melirik ke arah kantung belanja yang dipegang Hibari di tangan kirinya.
"Hn?" sahut Hibari pelan, tetap memandang lurus ke depan.
"Makasih banyak, ya?" ucap Gokudera sambil memasang senyumnya pada Hibari. Hibari hanya meliriknya sedikit.
"Makasih untuk apa?" Hibari bertanya, entah ia memang tidak tahu, atau dia pura-pura tidak tahu.
"Makasih karena elo udah beliin gue makanan yang banyak,"
"Ini cuma buat gantiin yang tadi pagi," kata Hibari sambil menyerahkan kantung makanan itu pada Gokudera. Gokudera pun menerimanya dan membawa kantung itu selanjutnya.
"Dan, makasih," Gokudera melontarkan kata-kata lagi. Kali ini pandangannya lurus terfokus pada jalan.
"Lagi?" Hibari bertanya singkat. Gokudera mengangguk.
"Makasih karena lo udah ngajak gue jalan-jalan keluar malam ini."
"Oh," kata-kata Hibari terhenti sejenak, "Itu kan biasa,"
"Hm, iya sih.. Tapi gue gak pernah merasa sesenang dan sebebas ini sebelumnya.." jelas Gokudera santai dengan sedikit senyum terkulas di bibirnya.
Hibari diam. Sungguh ia tak ingin mengatakan apapun lagi saat ini. Ia tidak sanggup, tidak bisa, tidak boleh mengatakan apapun lagi sekarang. Ia merasa dirinya sudah terlalu dekat dengan Gokudera. Ia merasa sudah tak ada lagi batasan antara dirinya dan rekan barunya itu walau waktu baru berjalan sebentar. Hei, ayolah.. Tak butuh waktu lebih dari dua hari bagi mereka untuk bisa sedekat ini. Sulit dipercaya, bukan?
Fenomena apakah ini?
Dan Hibari merasa dirinya sudah terlalu lelah untuk mencari dan menemukan jawabannya.
"Oi, Kyouya.." Gokudera memanggil setengah bergumam.
Lampu kamar nomor 12 itu sudah padam, ini sudah pukul sebelas malam. Ia melirik ke arah kanannya, mencari-cari sosok yang tengah terbaring di kasur seberang. Namun, ia tahu bahwa dirinya hanya bisa melihat siluet hitam disana karena kamar dalam keadaan gelap. Gokudera sebenarnya berniat bangkit dari posisi rebahnya, tapi entah kenapa niatnya itu diurungkannya sendiri, "Elo udah tidur, ya?" lanjutnya.
"Udah." Jawab Hibari dengan nada datar dan membuat Gokudera merasa jengkel. Bagaimana bisa orang yang sudah tertidur bicara seperti itu?
Gokudera memilih untuk mengunci mulutnya. Ia tak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang. Sudah sekitar seminggu Hibari bersikap seperti ini. Seakan-akan Hibari menjauhi dirinya. Hibari pun bersikap jauh lebih dingin dari biasanya. Dan jelas, Gokudera bingung dibuatnya.
Apa ia pernah mengatakan sesuatu yang salah pada Hibari?
Sayangnya Gokudera, hanya Hibari yang bisa menjawabnya.
Kemudian terdengar suara gesekan sprai dengan pakaian yang dikenakan Gokudera. Kini ia bergerak membelakangi Hibari. Tangannya erat merengkuh guling kesayangannya. Tapi tetap, matanya sulit terpejam, ia sungguh tak bisa tidur.
Dan tanpa Gokudera sadari, sepasang mata biru-kelabu milik Hibari pun tak terpejam. Kedua mata itu justru menatap lurus ke langit-langit kamar yang gelap itu. Kemudian Hibari sedikit mengarahnya pandangannya pada Gokudera. Memang, hanya sedikit sosok Gokudera yang tertangkap oleh visualnya, dan hanya berupa siluet-siluet hitam yang membentuk sebuah punggung.
Kini Hibari hanya berharap Gokudera bisa terus memunggunginya seperti ini.
Hari Senin, siang itu di kafetaria Universitas Osaka, Gokudera berjalan lesu sambil membawa makanannya. Matanya memandang berkeliling kafetaria itu, mencari tempat makan yang strategis. Dan tak lama kemudian ia menemukan dua orang yang sangat dikenalnya sedang duduk-duduk di salah satu kursi disana. Ia pun langsung melangkah menuju kedua orang itu yang tidak lain tidak bukan adalah Belphegor dan Fran, tetangganya.
"Muka lo gitu amat," komentar Belphegor saat menyadari tampang masam Gokudera yang kini duduk di depannya. Gokudera tak menanggapi, hanya menatap kosong pada makanannya yang sudah ia letakkan di meja.
"Goku, lo kenapa?" tanya Fran yang lebih mengerti suasana. Gokudera tetap diam.
"Oh.. Gue tau. Pastinya si suami-istri yang satu ini lagi berantem. Iya, kan?" Belphegor bicara seenak jidat.
Tapi itu berhasil membuat Gokudera bergeming dan menatap tajam ke arah lelaki pirang itu. Ia tahu pasti yang dimaksud Belphegor dengan 'suami-istri' itu adalah Hibari dan dirinya.
"Bacot lo." Komentar Gokudera ketus.
Kali ini Belphegor hanya diam dan menatap tak mengerti pada Fran yang duduk di sampingnya. Fran hanya mengangkat bahu, ia juga tak mengerti. Kemudian mereka berdua melanjutkan acara makan siang mereka yang sempat tertunda gara-gara kedatangan Gokudera tadi.
Suami-istri. Ya. Itulah julukan yang didapat Gokudera setelah seminggu yang lalu. Tepat disaat Belphegor memergokinya sedang bersama Hibari sepulang dari supermarket malam itu. Menurut Belphegor, waktu itu Hibari terlihat seperti seorang suami yang menemani istrinya untuk belanja bulanan. Terlebih waktu itu Gokudera memang membawa satu kantung plastik penuh makanan.
Hanya helaan napas yang kemudian terlontar. Pikiran Gokudera kini melayang entah kemana. Hibari? Heh! Orang 'jutek' itu lagi! Ia menggeleng pelan, ia bahkan belum menyuap sebutir nasipun. Akan lebih baik, jauh lebih baik jika ia memikirkan hal lain. Misalnya, tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk?
Mendadak Gokudera terlonjak pelan. Dengan tergesa-gesa ia melahap makan siangnya. Belphegor dan Fran yang sudah selesai makan kini menatapnya heran.
"Oke. Gue sebenernya nggak tau apapun yang terjadi pada diri lo. Tapi elo kok aneh, ya? Kenap—.."
"Gue duluan, ya! Jaa!" belum selesai Belphegor mengatakan kalimatnya, Gokudera memotong dengan suara keras sambil bangun dari duduknya. Lagi-lagi Belphegor dan Fran saling bertatap kebingungan.
"Si Goku makannya cepat banget.." komentar Fran sekenanya. Belphegor menanggapi dengan anggukan kecil.
Gokudera berniat membolos kelas kuliah setelah jam makan siang. Menurutnya, pelajaran berikutnya memang tak begitu penting. Ia teringat tugas makalah laporan ilmiahnya yang belum mencapai kata tuntas. Ia ingin pulang dan meminta bantuan pada Hibari, hey, siapa yang tahu? Mungkin Hibari ada gunanya juga tinggal dengannya.
"Kyouya! Gue pulang," sapa Gokudera dengan nada yang diusahakan agar terdengar seceria mungkin, mengingat Hibari adalah orang yang kaku. Kemudian pria Italia itu masuk dan menutup pintu kamar.
Gokudera tak melihat sosok Hibari disana. Ia hanya mendengar suara orang mandi saat itu.
"Pastinya dia baru bangun. Ck," gumam Gokudera sambil melepas jaket coklatnya. Tak sadar Gokudera memperhatikan sekeliling dan terfokus pada tempat tidur Hibari yang sprai-nya agak kusut habis ditiduri. Entah apa yang dipikirkannya sekarang.
"Uhuk," Hibari mulai terbatuk lagi. Membuat Gokudera beralih memandang pintu kamar mandi.
Tiba-tiba pikiran Gokudera dipenuhi oleh banyak pertanyaan. Hibari memang sering sekali batuk mendadak seperti tadi. Kadang pagi, siang, atau malam hari. Hibari sedang menderita suatu penyakit? Mungkin.
Dan, tidakkah Hibari sedang berusaha menutup-nutupinya?
Gokudera menggeleng pelan. Ia mencoba berpura-pura tak mendengar suara batuk Hibari barusan. Dengan langkah yang sedikit canggung, ia melangkah menuju kamar mandi, dan tanpa peringatan, Gokudera membuka pintu kamar mandi tersebut.
"Kyouya?"
Hibari tersentak dan menoleh cepat ke arah Gokudera yang sudah masuk beberapa langkah. Menatap pria Italia itu dengan tatapan tak pasti. Kaget? Kesal? Jengkel? Marah? Entahlah, yang jelas ekspresi yang selalu ditunjukkan Hibari memang tak mudah dibaca. Tetap terkesan datar, walau tak menggambarkan apa yang ada dalam hatinya.
Dari matanya, Gokudera dapat melihat jelas tatapan tajam Hibari yang langsung menghujamnya. Sesaat Gokudera sedikit gentar. Napas Hibari tersengal, seakan menahan emosi. Tangan kekarnya juga terlihat terkepal. Hening, tegang, tak biasa.
"Keluar." Hibari bersuara, terselip nada perintah dalam kalimatnya.
Gokudera tak bisa berargumen kali ini. Ia hanya bisa menuruti kata-kata Hibari walaupun sebenarnya ia ingin bertanya dan membela dirinya. Ia sempat membuka mulutnya, namun kembali ia bungkam ketika tatapan Hibari semakin mendesaknya.
Kembali Gokudera menarik langkah mundur, Hibari mengikutinya. Saat Gokudera sudah di luar kamar mandi, Hibari membanting pintu kamar mandi dari dalam. Tepat di depan hidung Gokudera yang terperangah tak percaya, kaget.
Semarah itukah Hibari?
Sebegitu mengganggunya-kah dirinya bagi Hibari?
'Selama lo masih bukan siapa-siapa di kehidupan gue, gue gak akan melibatkan lo lebih jauh. Kita nggak lebih dari teman-satu-kamar.' Hibari membatin seraya menatap pantulan dirinya di cermin.
~~END OF CHAPTER~~
A/N: SELESAI! UAS yang memusingkan tidak menghalangi saya untuk tetap berkarya akh! *gila*. Gimana? Di pertengahan chapter ini saya udah bikin Hibari-nya jarang ngomong, walaupun di awal masih agak 'rewel' sih, hehe.. 'Herbivore'-nya Hibari udah keluar tuh, tinggal yang 'Kami Korosu' belum muncul. Wkwk. RnR, NO FLAME..
See ya in the next chapter!
