Ch 4...

"Kami pulang..." Levi akhirnya bisa berkata sopan pada hantu Komandan yang ada di rumahnya.

"Levi sayaaang... kenapa lama sekali!" Nile menyambut Levi girang sambil menggendongnya, dan melempar-lemparkan tubuh Levi ke udara dengan riangnya.

"Ngomong-ngomong, Levi sayang, kau pulang dengan siapa?" tanya Nile sambil terus memperhatikan seorang wanita berusia sekitar 36 tahun yang mengenakan seragam Pasukan Pengintai, dengan rambut kuning keemasan yang berombak. Juga mata biru yang tajam nan lentik. Serta badan yang sangat sempurna dengan sepasang dada yang berukuran besar.

"Ka...kau..." ujar Nile tidak percaya.

"Perkenalkan, dia Erwina Smith!" ujar Levi polos.

"Jangan mengubah nama orang sembarangan!" Erwin kembali berteriak pada Levi.

"Te..he..." Nile berusaha menyembunyikan tawanya.

"KAU JUGA JANGAN TERTAWA NILE!" Erwin kembali berteriak dengan suara tinggi, khas suara seorang perempuan.

Suara Erwin tadi ternyata menganggu Pixis yang sedang asyik tidur di ruang santai rumah keluarga Ackerman.

"Nile, kau berisik seka..." seketika Pixis menghentikan kalimatnya dan memperhatikan Erwin dalam bentuk wanitanya. Meski sudah menjadi perempuan, Erwin tetap mengenakan bolo tie emeraldnya, dan itu sudah cukup bagi Pixis untuk mengetahui siapa wanita asing yang juga sudah mengganggu hatinya itu.

"Nona Smith..." ucap Pixis lembut, "Aku mungkin lelaki tua plontos, dan juga prajurit yang senang mabuk-mabukkan, tapi ku mohon..." ucapnya sambil meraih tangan Erwin,

"Menikahlah denganku!"

Karena rambut Erwin selalu dibelah kiri, kita bisa melihat nadi vena menonjol di dahi kirinya, tempat yang tidak ia tutupi dengan rambutnya. Diraihnya tangan Pixis, kemudian ia berkata dengan lembutnya,

"Komandan Pixis..."

Sungguh jantung Pixis dibuat tidak karuan karenanya, lalu bibir manis Erwin terbuka kecil. Erwin melanjutkan kalimatnya,

"AKU INI LAKI-LAKIIIII!" seru Erwin sambil melemparkan Pixis ke atas hingga atap rumah Levi bolong seketika.

Satu minggu sudah Erwin menjadi seorang perempuan. Dan seperti perempuan kebanyakan, Erwin sering terlihat melamun di beranda kamarnya. Malam ini contohnya, ia kembali memandang bintang, berharap ada bintang jatuh yang bisa mengabulkan keinginannya untuk kembali menjadi laki-laki. Sebetulnya Levi pernah berkata kalau ia tahu mantra agar Erwin bisa kembali menjadi laki-laki. Sial, Levi ternyata termasuk anak yang mudah lupa!

"Perlu ku temani, Nona Smith?" Pixis tiba-tiba datang dan menawarkan jasanya untuk menemani Erwin.

"Berhentilah memanggilku dengan nama itu, menjijikan!"

"Tapi kau sudah terbiasa bukan?" Pixis tersenyum, "aku membawakan teh mint favoritmu lho!"

"Kau ini..." Erwin menyerah, kemudian ia mempersilahkan Pixis untuk duduk bersamanya, minum teh mint bersamanya, dan mencari bintang jatuh bersamanya.

"Kenapa kau bersikukuh ingin kembali menjadi laki-laki?" tanya Pixis singkat.

Erwin menghembuskan nafasnya kemudian ia berkata dalam senyum,

"Jika aku seorang perempuan, aku tidak akan bisa mengajarkan Levi untuk menjadi prajurit paling tangguh!" jawabnya bangga.

Pixis terdiam akan jawaban itu, ia tidak punya kata-kata lain untuk menyangkal pernyataan Erwin tadi.

"Sejak Levi bergabung di Pasukan Pengintai, rasanya aku tidak pernah kesepian lagi. Kau tahu itu Pixis? Aku selalu sendiri sejak masih kecil, aku makin sendiri sejak ayahku meninggal. Dan ku pikir aku akan memiliki banyak teman dengan aku bergabung dengan Pasukan Pengintai, ternyata aku salah!" ujar Erwin sambil tersipu malu.

"Sungguh kehidupan yang menyedihkan, Nona Smith!"

"Begitulah! Tapi sejak Levi datang dengan kedua temannya, aku tidak pernah merasa kesepian. Apalagi sejak aku menjadi komandan, Levi selalu saja datang padaku untuk meminta saran. Sejak saat itu aku selalu mengarahkan dirinya untuk menjadi prajurit terkuat!"

"Tapi akhirnya kau mati dalam kesendirian lagi bukan?" tanya Pixis tiba-tiba.

Erwin tersenyum mendengarnya, "Kau benar!" katanya, Erwin mengarahkan wajahnya selurusan dengan Pixis, "aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya aku mati waktu itu!"

Pixis kembali menatap Erwin dengan tatapan kasihan.

"Bahkan ketika aku jadi hantu, kalian meninggalkan ku sendirian di kuburan!" Protes Erwin.

"Tapi Levi mengunjungi makammu setiap hari bukan?"

Erwin mengangguk, "sejak ia meninggal karena sakit, ia tidak pernah datang lagi padaku."

"Orang-orang yang meninggal karena terbunuh seperti kita akan susah ke akhirat bukan?"

"Ya, Levi langsung pergi ke akhirat. Lalu datanglah si kecil yang datar itu!"

"Ha...ha...ha... memang bagaimana sampai kalian bisa bertemu?"

"Anak kecil itu menangis di depan makamku, teman-temannya mengatainya lemah, padahal namanya Levi Ackerman. Anak itu mungkin reinkarnasi Levi, karena aku bisa melihat semangat Levi dalam dirinya. Untuk itu aku memutuskan untuk mengasuhnya dan melatihnya, agar ia menjadi prajurit terkuat lagi." Ujar Erwin sambil menutup mulutnya dengan tangannya yang super lentik, berusaha menahan kesedihan.

"Ka...kalau aku masih jadi perempuan, i... itu..." Erwin mulai terisak.

Pixis sudah keburu melihat airmata di sudut mata cantik Erwin. Segera Pixis mengambil sapu tangan dari saku seragam militernya, dan mengusap lembut mata Erwin.

"Sejak jadi perempuan, kau jadi sedikit emosional ya, Erwin!" ujar Pixis lembut.

Secepat kilat Erwin mencengkram tangan Pixis, dan mengacak-acak wajah Pixis.

"Pak Komandan Botak... aku ini laki-laki tahu!"

"Cih... berhentilah berpikir seperti itu!" Pixis kini naik pitam, "kau ini terkenal karena kepandaian dan keahlianmu, coba pikir ini baik-baik! Kau tidak akan sendirian kalau kau jadi perempuan!" sentak Pixis.

Erwin terdiam, mungkin Pixis ada benarnya, dan kini hati dan pikirannya sebagai perempuanlah yang bertindak.

"Aku... aku akan setia menemanimu. Aku akan ada kapanpun kau membutuhkanku, kau tidak akan pernah sendirian Erwin!" ujar Pixis lagi.

Pixis yang mulai geram kemudian berdiri dan mendekati wajah Erwin. Bahkan untuk seorang wanita normal, pipi Erwin sudah sangat keterlaluan mulusnya. Tangan Pixis hampir tergelincir dibuatnya. Namun sekali lagi Pixis meraih pipi mulus Erwin dan kembali mendekatkan wajahnya. Mumpung hanya bintang yang melihat itu semua.

(ruang keluarga Ackerman, dengan televisi yang masih menyala menampilkan acara "i*i *a** **o*" acara favorit Nile dan Levi, yang entah mengapa bisa sampai siaran di Shiganshina)

"Levi tahu!" seru Levi tiba-tiba.

"Tahu apa?" tanya Nile tidak mengerti.

"Maaf, harusnya Levi ingat!"

"Tidak apa-apa Levi sayang, kau ingat apa?"

"Cara menghilangkan kutukan itu!" ujar Levi sambil menatap Nile yang asyik makan keripik singkong level 10.

"Benarkah? Bagaimana? Erwin harus tahu ini secepatnya!" seru Nile girang.

"Tapi ini hanya bereaksi kalau Erwin mau dicium!" balas Levi polos dan datar tentunya!

"Memang ada ya yang mau mencium dia?" Nile kembali putus asa.

"Sangat susah, mencari orang yang mau mencium Komandan yang paling di-takuti bukan?" Levi juga ikut-ikutan putus asa.

Levi dan Nile kembali menonton acara televisi itu dengan hati yang masih gundah gulana, sedikit termenung, shock dan putus asa juga. Susah juga menghilangkan kutukan keluarga Ackerman!

"NAAAAJIIIISSSS...!"

"JIIIIJJJJIIIIIIKKKK...!"

Tiba-tiba suara teriakkan dua laki-laki dewasa yang berasal dari lantai dua rumah keluarga Ackerman itu membuat Levi dan Nile terkaget. Nile langsung saja menggendong Levi menuju tempat suara itu berasal. Levi memandangi Pixis yang tengah muntah-muntah di beranda, sebelum Levi bertanya 'ada apa?' Pixis sudah berteriak duluan.

"ERWIN LU BEGO! KENAPA LU BERUBAH JADI COWOK LAGI! *sensor* LU AH! UUUEEEKKKHH...!"

"SIAPA YANG BEGO HAH? LU KAN YANG NYOSOR DULUAN! *sensor* GUE DISOSOR KAKEK-KAKEK PLONTOS! UEEEKKKHHH...!" balas Erwin sambil muntah-muntah di sisi lain beranda.

Baik Levi dan Nile menatap dua laki-laki yang sedang sibuk muntah-muntah itu datar.

'Sial, kalau gue bisa dapet foto mereka, gue kan' bisa ngehina mereka di alam hantu para prajurit!' keluh Nile dalam hati.

Baik Erwin maupun Pixis akhirnya terkena dehidrasi berat, karena mereka muntah terus menerus selama 3 hari.