Disclaimer: Semua character Naruto milik Masashi Kishimoto. Jika aku adalah penciptanya mungkin aku bisa kaya dan menikah dengan Naruto #Plak!

Hasil votingan:

1. Naruto keluar dari team 7 dan ikut teamnya Shouto. (10)

2. Naruto tetap berada di team 7 dan memberikan kesempatan kedua pada mereka. (0)

Terima kasih untuk Uchiha Namikaze Venom, dragneelhendra, Tsurara kuchiki, Lima5, The Devil Boy07, Rapindo Markenson23, Kuroyami Ataka, tiasukma, yurari, Guest (Maaf gatau namanya :'D), adam.muhammad.980 atas review dan bantuan kalian dalam memberi votingan. Maaf tidak bisa menjawab satu persatu :'3

Take a seat, bring your popcorn and enjoy the show~

"Selamat siang saudara-saudara sekalian. Perkenalkan, namaku Shouto Higarashi dan ini adalah pertnerku Izaya Satoshi." Shouto membungkukkan badannya cepat tanpa menjatuhkan gendongannya pada Naruto. "Dan disini, kami akan membawa anak malang ini dari kalian."

Kakashi mengernyitkan matanya, badannya menegak tak dapat menyembunyikan ketegangannya. Tangannya sudah berada di saku celana memegang erat kunainya, siap untuk menyerang. "Mau apa kalian dengan Naruto?"

Sasuke berjalan maju, berdiri disebelah Kakashi. Kunai telah berada di kedua tangannya dan mata sharingannya telah aktif sejak tadi keberadaan dua orang asing ini yang tiba-tiba muncul. "Naruto milik kita. Kalian tak berhak mengambilnya begitu saja." geramnya, sharingan berputar cepat dikedua matanya.

Izaya tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Kau dengar itu, Shouto?!" Tanyanya disela-sela tawa. "Oh tuhan, 'Naruto milik kita.'" Izaya menirukan suara dari Sasuke sebelum tergelak kembali. "Perutku menjadi sakit mendengar perkataanmu, sobat."

Shouto mendengus dan dengan gesit mengubah posisi berdirinya agak menjauh dari Izaya saat mendapati tangan partnernya akan menopang pada bahunya. Alhasil karena tak dapat menyeimbangkan badannya dan tersungkur ketanah.

"Hey!" Teriak Izaya dengan jengkel.

"Hmmm anak Uchiha ya. Jadi semuanya begitu masuk akal mengapa dia memilih anak itu daripada Naruto." Gumam Shouto mengacuhkan partnernya. "Naruto bukanlah milik kalian, dirimu ataupun kami. Dialah yang memilih ingin berada dimana dan dengan siapa yang membuatnya merasa nyaman. Dirimu, anak nakal yang sombong dan egois tak berhak untuk menentukan semuanya sesuka hati. Aku tak peduli jika kau adalah dari salah satu clan ternama. Bullshit dengan clan."

"Apa maksudmu?! Kau tak berhak mengatakan hal itu kepada clanku!" Desis Sasuke. Percikan listrik terlihat ditangannya dan jika saja Kakashi tidak menghalanginya, Sasuke pasti akan berbuat suatu hal yang ceroboh dan mecelakai mereka bertiga.

"Sasuke!" Ucap Kakashi tegas.

"Orang bawah dan pembunuh seperti kalian tak berhak berbicara seperti itu dengan clan tertinggi. Aku tahu jika kalian berdua adalah pembunuh bayaran yang diutus oleh bos kalian untuk membunuh raja dari desa Yakigakure, bukankah begitu? Seharusnya orang seperti kalian mati saja." Cemooh Sasuke.

"Sasuke! Diamlah se-.." Kakashi tak dapat menyelesaikan perkataannya saat tiba-tiba saja sebuah kunai muncul dan hampir mengenai Sasuke jika saja Kakashi tidak sigap.

Sakura yang sedari tadi hanya terdiam takut dibelakang, terbelalak ngeri saat melihat kunai tersebut mengenai tangan gurunya. "Ka-Kakashi sensei.."

Kakashi mengernyit sakit. Dia memegang ganggang kunainya dan langsung menariknya keluar dari pergelangan tangan. Tangan satunya mencoba untuk menghentikan pendarahan pada pergelangannya.

"Tenanglah, Houtarou." Bentak Shouto, mengalihkan pandangannya kearah dimana kedua partnernya yang lain bersembunyi. Kembali memfokuskan matanya dan berdecak pelan. Dia merogoh saku jaketnya mengambil perban dan dilemparnya ke Kakashi. "Sebaiknya kamu perban lukamu sebelum kehabisan darah."

Kakashi menghela nafas, mengangguk sambil menggumamkan kata terima kasih dan mulai membalut lukanya.

Shouto mengamati Kakashi dengan suram. "Aku tak mengerti mengapa kau lebih tertarik dengan anak egois ini ketimbang Naruto. Apa kau mempunyai alasan mengapa kau memilih Sasuke? Atau mungkin, dirimu hanya ingin menggunakannya untuk sebuah mesin pembunuh, karena dia adalah seseorang yang berada di clan terkuat didesamu?"

"Atau~ dia hanya guru yang lemah, Shouto. Oleh karena itu dia membutuhkan sebuah clan yang kuat di teamnya untuk melindunginya. Aku tak mengerti mengapa dirimu menjadi seorang Jounin." Timpal Izaya terkekeh pelan. Wajahnya memperlihatkan seringai dingin.

"Kau tak tahu apa-apa." Gretak Kakashi dengan geram.

Izaya melihat partnernya dari sudut matanya sembari menyeringai lebar. "Ooh~ Aku baru ingat hal tentang dirimu~" Izaya jalan mendekati Konoha-nin secara pelan. Seringainya tak menghilang dari wajahnya. Layaknya "Hatake Kakashi~ seorang anak prodigy, mereka biasanya mengenalmu sebagai Kakashi si ninja peniru. Aku dapat mengingat dimata kirimu yang kau sembunyikan terdapat sebuah Sharingan. Kau mendapatkannya dari sahabatmu, bukankah begitu? Sebelum dia mati (agak aneh bilang mati ke orang. :'D). Sungguh malang untuknya saat mendapati mata sharingannya dipakai untuk melakukan hal yang tidak baik olehmu." Izaya berdiri hampir berdekatan dengan Kakashi.

Kakashi menggretakkan giginya kuat merasakan mata kirinya berdenyut kencang. Tetapi dia hanya terdiam saat Izaya melanjutkan ocehannya.

"Ah Shouta, sekarang aku baru menyadari mengapa seorang Kakashi, sang legendaris, memilih anak dari clan temannya yang dulu ketimbang anak malang itu." Izaya mencondongkan badannya. seringainya semakin lebar dengan mata abu-abunya terlihat bersinar dari kegelapan. "Kau ingin membalas semua kesalahanmu atas kematian sahabatmu, bukankah begitu? Kau merasa bersalah karena seharusnyalah dirimulah yang tertimpa batu besar itu dan bukan dirinya. Kau merasa semuanya adalah salahmu dan melihat anak Uchiha yang berada satu team denganmu.. Membuatmu bersumpah kepada sahabatmu untuk menjaganya. Sungguh, walaupun terdengar manis tetapi perlakuanmu terhadap muridmu yang lain membuatku jijik." Izaya menekan kata-kata terakhirnya tepat ditelinga Kakashi sebelum kembali berjalan mundur dan berdiri disebelah Shouta.

Suara kekehan terdengar dari mulut Izaya saat mendapati wajah Kakashi yang terlihat pucat. "Sudah lama aku tidak melihatmu begitu menikmati ini, Izaya." Ucap Shouta, menurunkan tubuh Naruto yang tersadar dan membiarkannya berdiri disebelahnya. Shouta merogoh sakunya dan mengambil rokok baru.

"Oohh tentu saja~ terakhir kali aku menikmati ini saat kita berhadapan dengan orang yang mempunyai sabit tiga bilah dipunggungnya dan rambutnya ungunya yang aneh."

Shouto menghela nafas mengepulkan asap rokoknya keudara dan tanpa peringatan tangannya menepak keras belakang kepala Izaya. "Bodoh! Kau menganggapnya itu hal yang menyenangkan?! Karena ocehanmu yang tak terkontrol membuat kita semua hampir saja terbunuh!"

Mengendikkan kepalanya pelan dan bergumam pelan. "Tapi kita masih hidup bukan sampai sekarang?" Izaya mengelus kepalanya.

"Aku tak mengerti lagi dengan pikiranmu yang dangkal itu." Shouto menggelengkan kepalanya dan memilih untuk memfokuskan kembali pada Konoha-nin yang sedari tadi hanya terdiam melihat mereka berdua. "Aku tak punya waktu berlama-lama disini. Ada misi yang harus kuselesaikan. Dan untukmu, Naruto. Kau dapat memilih untuk ikut dengan siapa. Denganku atau team lamamu?"

Naruto mencuri pandangannya kearah Kakashi yang menatapnya dengan pandangan bersalah sebelum mengalihkan pandangannya kembali ketanah. Dia tak mengetahui harus ikut dengan siapa diantara kedua team ini. Pikirannya terus menyuruhnya untuk memaafkan Kakashi dengan yang lain dan memberikan mereka kesempatan lain. Tetapi dilain pihak, hatinya berkata untuk ikut kelompok Shouto dan melanjutkan hidupnya.

"Aku.. Aku akan memilih untuk ikut dengan mereka." Jawab Naruto akhirnya. Matanya tetap terpaku kebawah, dia tak berani melihat ekspresi teamnya. "Terus terang. Aku sudah muak dan cape dengan perlakuan kalian padaku selama ini. Dan semenjak Sasuke kembali ke desa, perlakukan kalian semakin menjadi-jadi seakan aku ini adalah sampah. Jika memang yang dikatakan Izaya tadi benar, mungkin ini jalan satu-satunya untukmu agar dapat lebih fokus menjaga Sasuke." Naruto tersenyum sedih, sekarang dia mengetahui mengapa Kakashi memperlakukan Sasuke layaknya seorang ayah kepada anaknya. "Tolong jika saja kalian mempunyai anggota baru, perlakukan mereka dengan baik. Mereka adalah keluargamu juga, jadi tolong perhatikan mereka." Naruto mendongak dan menatap ekspresi terkejut mereka saat melihatnya tersenyum. Senyuman yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Shouto menepuk kepala Naruto dan mengelusnya pelan. "Kalian sudah mendengar dan melihatnya bukan? Sekarang sebaiknya kita pergi dan menuntaskan misinya. Oh ya sebelumnya, lebih baik kalian membuat alibi jika misi kalian gagal dan salah satu anggotanya tak terselamatkan. Alasan tersebut lebih mudah."

Shouto dan Izaya memberi hormat sekilas dan menghilang bersamaan dengan Naruto. Tak jauh dari itu, kedua anggotanya yang lain mengikuti mereka setelahnya dengan menghilang.

"Sensei.. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Sakura meremas bajunya, matanya berkaca-kaca mendapati jika salah satu anggotanya pergi. Sepertinya sudah telat untuk merasa bersalah?

Kakashi hanya terdiam dengan kepalanya yang tertunduk kebawah. Ini bukan yang dia perkirakan, senyuman itu. Dia pernah melihat sebelumnya saat dia masih ditugaskan oleh Sandaime untuk menjaga Naruto. Dan, itu kurang lebih Naruto masih berumur 5 tahun. 'Ini kedua kalinya dan yang terakhir aku dapat melihat senyumnya lagi.'

"Kita akan mengikuti apa yang tadi dikatakan oleh Shouto." Kakashi menjawab pelan. Tak ada lagi rasa semangat untuk melanjutkan misi ini.

'Aku tak mengetahui bagaimana reaksi Tsunade dan Iruka jika mendengar hal buruk ini.'

Sementara itu pada Team Shouta~

Naruto melihat sekelilingnya mendapati rumah tua yang tak ditempati cukup luas dan lega, hanya saja karena rumah tua membuatnya begitu banyak debu dan kayu pada lantainya berbunyi setiap kali mereka melangkah diatasnya. Terdapat tiga ruangan pada rumah tersebut, yang diantaranya ruang makan yang bersatu dengan ruang tamu, ruang tidur dan kamar mandi. Sementara yang lainnya membicarakan rencana untuk misi mereka, Naruto memilih untuk melihat-llihat. Ruangan pertama yang ingin dilihat yaitu kamar tidurnya.

Suara derikan terdengar saat dirinya membuka pintu. Kepalanya mendongak kedalam mencoba untuk melihat kedalam ruangan. Saat dia mendorong dengan paksa hingga terbuka lebar begitu banyak debu-debu yang berterbangan akibat angin dari pintu dan Naruto tak dapat menahan bersinnya saat beberapa debu menggelitik hidungnya. Matanya berair karena hal itu.

"Seperti ingin mati saja." Gumam Naruto disela-sela bersinnya yang persekian kali.

Menutupi hidungnya dengan tangan Naruto melanjutkan penelitiannya. Terdapat 2 kasur tidur yang tampak tak layak untuk dipakai (Kalian bisa melakukannya jika ingin berurusan dengan begitu banyaknya rayap..). Selanjutnya Naruto menuju sebuah meja sedang dan dapat dikatakan pemilik sebelumnya adalah orang yang apik. Beberapa buku usang yang berada dimeja disusun dengan rapi dengan secarik kertas dan kuas berada ditengah meja.

Jika kita berbalik kita dapat brankas berukuran kecil terpahat ditembok tepat disebelah lemari panjang. Naruto mencoba untuk membukanya, memutar seri number dengan asal dan berharap dewi fortuna berada dipihaknya. Hampir satu jam dia berkutat dengan mesin brankas, berbagai cara dia lakukan dari menggunakan cara biasa hingga akhirnya menggunakan kunainya. Akhirnya usahanya untuk menjebol brangkas tersebut membuahkan hasil.

Begitu banyak barang didalam brankas tersebut. Beberapa scroll kecil tergulung rapi menjadi satu yang diselipkan pada gulungan yang besar, pisau lipat dan sebuah kotak kayu yang diletakkan paling dalam hampir tak terlihat karena tumpukan scroll. Naruto mengambil semua barang yang ada didalam brankas dan menaruhnya dilantai. Setelah itu melepaskan tas ranselnya kelantai, membuka resleting dan baru mengingat jika Kurama berada didalam tas tersebut.

"Sungguh pengap bersembunyi didalam sini." Gerutu Kurama melompat keluar dan merenggangkan badannya sebelum melompat kepundak Naruto untuk melihat lebih jelas apa yang dia lakukan. "Apa yang kamu lakukan?"

Naruto melepaskan pengikat pada salah satu scroll, membuka gulungan, dan memperlihatkannya pada Kurama. "Seperti yang kuperkirakan setiap gulungan terdapat jutsu didalamnya. Dan ini kau bisa lihat jika ini adalah jutsu dengan elemen.. hmm aku belum pernah melihat ini sebelumnya. Pernah melihat ini?"

"Jujur, aku belum pernah melihat ini sebelumnya, simbol ini terlihat seperti elemen es tetapi juga seperti badai. Mungkinkah kombinasi antar keduanya?"

Menggulung kembali scrollnya Naruto mengambil scroll yang lain. "Ini juga sama seperti tadi hanya berbeda simbol. Berarti jika perkataanmu benar. Maka di setiap scroll mempunyai kombinasi antara dua elemen dan akupun belum mengecek scroll yang besar.. Ah, sekarang aku mengerti mengapa semua ini ditempatkan didalam brankas." Melihat begitu banyaknya scroll dengan didalamnya terdapat jutsu yang kuat memungkinkan untuk banyak yang ingin merampasnya bukan? 'Tetapi yang menjadi pertanyaan, mengapa pemiliknya tidak membawa serta barang-barangnya saat pergi dari rumah?'

"Kau akan membawa semuanya?" Kurama bertanya tiba-tiba membuyarkan pikirannya yang berkecamuk dan menariknya kembali kedunia nyata.

"Tentu saja. Aku akan mempelajari ini semua." Jawab Naruto. Dengan cepat mengeluarkan barang-barang didalam ransel. Membuangnya benda-benda yang sudah tak perlu dibawa lagi dan memasukan semua scroll kedalam ransel. "Sedikit dorongan.. Ugh! dan akhirnya selesai!" Naruto menutup resletingnya dan jatuh terduduk sembari mengatur nafasnya.

Kurama memutar bola matanya, melompat turun dari pundak Naruto dan mendudukkan dirinya diatas meja. "Naruto. Apa kau yakin dengan pilihanmu ini? Maksudku, bagaimana dengan Iruka ataupun Tsunade?"

"Aku sudah memikirkan hal itu.." Ucapannya terhenti saat mendengar suara keras dari arah luar yang diikuti teriakan. Naruto mendengus dan menggelengkan kepalanya. "Aku akan memberi tahu mereka secara personal jika aku baik-baik saja dan aku akan menceritakan semuanya kepada mereka mengapa aku memutuskan untuk pergi." Lanjutnya.

"Kamu akan menjadi seorang missing-nin Naruto. Sama halnya seperti mereka. Hidupmu akan lebih sulit karena harus menghadapi akatsuki sekaligus hunter-nin. Kau tidak melupakan dengan anggota akatsuki yang ingin mengambil kits berdua, bukan?"

"Tentu saja aku mengingatnya. Kau tak perlu khawatir, Kurama. Semuanya akan baik-baik saja. Kita memiliki semua scroll ini dan dengan keberadaanku bersama team Shouto mendapatkan nilai plus. Mereka terlihat orang yang kuat, jadi dengan bantuan mereka dan menceritakan semuanya tentang dirimu dan aku semua ini akan jauh lebih mudah." Naruto menenangkannya, memberikan acungan jempol. "Lagian sepertinya kita cocok bersama team ini." Lanjutnya.

"Menceritakan jika kau adalah seorang Jinchuriki? Kau percaya dengan mereka begitu saja?!"

"Aku dapat merasakannya jika mereka Adalah orang yang baik walaupun seorang pembunuh bayaran."

Kurama hanya mendengus menggumamkan kata 'terserah lah.' dan mulai membersihkan bulu-bulunya dari debu. "Aku memiliki alasan sendiri mengapa aku merasa lebih khawatir setelah kata-kata tersebut keluar dari mulutmu."

"Semuanya akan baik-baik saja."

Naruto mengambil kotak kayu yang tadi berada di brankas dan menerawangnya lebih dekat. Jemarinya menelusuri pahatan menuju bukaan pada kotak. Perlahan dia buka menampilkan satu scroll berwarna cokelat diikat dengan tali dan terdapat segel berwarna biru diatasnya. Entah siapapun yang memiliki scroll ini, tidak menginginkan ada yang dapat membuka dan mengetahui isinya.

Kurama turun dari meja cepat-cepat, berlari naik kebaju Naruto dan bersembunyi dibalik jaketnya. Sebelum Naruto bertanya ada apa, tiba-tiba suara ketukan pintu menarik perhatiannya yang dengan cepat menyembunyikan kotak tersebut dikantong balik jaketnya dan langsung berdiri, berbalik menatap salah satu anggota dari team Shouto.

"Shouto memanggilmu."Ucap seseorang berperawak sedang dengan rambutnya berwarna cokelat tua keriting. Matanya yang besar dan cokelat membuatnya terlihat ramah . "Oh ya, kamu pasti belum mengenalku. Perkenalkan namaku Kouza. Well, selamat datang di kelompok kami, Naruto-kun." Salamnya ramah.

"Terima kasih.." Naruto tersenyum. Dia mengenakan tas ranselnya kembali dan mengikuti Kouza dari belakang. Ternyata dengan mengeluarkan beberapa benda didalam ransel dan hanya dipenuhi scroll, membuat beban beratnya menjadi ringan. Dia dapat melompat dan berlari jadi jauh lebih leluasa dari yang sebelumnya.

Semua anggota telah berkumpul diruang tengah. Mereka mengelilingi meja oval yang terdapat sebuah peta ditengahnya. Kemungkinan peta tersebut adalah peta dimana sang raja berada.

"Selamat datang Naruto. Aku senang kamu memutuskan untuk bergabung dengan kami." Shouto berkata. "Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu tentang kami. Apa yang dikatakan oleh Uchiha itu adalah benar. Kami adalah seorang pembunuh bayaran karena itulah jalan satu-satunya agar kami tetap hidup. Karena dirimu memilih untuk bergabung dengan kami maka mau tidak mau kau harus menjadi seperti kami. Berjelajah dari desa satu ke desa yang lain untuk mencari klien dengan bayaran yang bagus. Aku dapat melihat jika dirimu pernah membunuh seseorang sebelumnya, jadi melakukan hal ini bukanlah hal yang baru untukmu. Tetapi seorang ninja dan pembunuh bayaran seperti kami sangatlah berbeda. Kalian, seorang ninja hanyalah membunuh orang yang memiliki perilaku buruk atau dapat dikatakan orang jahat. Sedangkan kami, kami tidak melihat apakah mereka adalah orang jahat maupun baik, anak-anak, remaja, dewasa ataupun lansia. Jika itu adalah perintah maka, mau tidak mau kamu harus melakukannya. Apa kamu menyetujui itu semua?" Kabut asap rokok keluar dari mulutnya saat dia menghela nafas dengan kuat. Sudah lama dia berbicara panjang lebar seperti ini.

Naruto menggigit bibirnya. Dia memang sudah pernah membunuh sebelumnya, tetapi membayangi harus membunuh seorang anak-anak membuatnya sedikit resah. Dia tidak pernah membunuh anak kecil sebelumnya dan dia tidak mengetahui jika dia dapat melakukannya atau tidak. "Bisakah kalian memberi aku waktu untuk memikirkannya?"

Shouto mencuri pandang kearah anggota lainnya dan mendesah pelan. Dia tidak punya pilihan lain. "Baiklah. Aku akan memberimu waktu hingga esok hari setelah kami selesai menjalankan misi. Mengerti?"

Naruto mengangguk. Satu hari cukup untuknya, dia hanya butuh mendiskusikan ini pada Kurama nanti saat mereka tidak ada. Ngomong-ngomong dengan Kurama, Naruto dapat merasakan rubah itu merubah posisinya dari balik jaket dan sedikit pergerakan terlihat dari luar. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, berharap tak ada yang melihatnya. Dan Naruto dapat bernafas lega karena Shouto dengan lainnya telah terfokus kembali pada peta.

"Naruto, kamu dapat beristirahat atau melakukan aktivitas apapun yang kamu ingin lakukan sekarang. Dan saat esok hari kami akan menyelesaikan misi tanpa dirimu. Jadi aku minta tolong untuk tetap tinggal disini dan pikirkan pertanyaanku tadi hingga kami kembali. Mengerti?" Tanya Shouto.

"Baiklah."

Kouza menepuk kepala Naruto dan mengacak rambutnya kencang. "Hati-hati." Ucapnya ramah. Tersenyum kearahnya.

Perasaan senang berkecamuk dihatinya. Perkataan simple yang mungkin untuk kita (Biasa mendengarnya) biasa saja atau mungkin menjengkelkan karena alasan yang tidak logic, seperti dikira masih kecil dan lain-lain. Tetapi untuk orang seperti Naruto yang belum pernah merasakan kasih sayang sebelumnya, mendengar ucapan simple tersebut memiliki makna yang sangat berarti untuknya. Beban dipundaknya yang dia bawa sedari kecil berangsur-angsur menghilang. Dan dia percaya pilihannya untuk tinggal bersama mereka akan mengubah hidupnya 100% lebih baik dari sebelumnya.

Naruto tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Baik!!"

Sementara itu..

Team 7 akhirnya tiba di Konoha. Mereka berlari non-stop dan tak satupun dari mereka yang mengucapkan sepatah katapun diperjalanan. Yang terdengar hanyalah nafas mereka dan suara deru angin.

Melangkah masuk melewati gerbang yang membatasi antara dunia luar dengan Konoha membuat perut Kakashi terasa melilit. Membayangkan harus memberi tahu kabar palsu tentang Naruto kepada Tsunade dan Iruka akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan, dimana dia mengetahui mereka layaknya ibu ayam yang melindungi anaknya. Bahkan diperuntungkan untuk Iruka!

"Kakashi-sensei.." Panggilan dari Sakura membuyarkan lamunannya dan mendapati jika kedua anggotanya menatapnya dengan aneh. "Apa sensei baik-baik saja?" Tanya Sakura dengan khawatir.

Kakashi memaksakan dirinya dengan menunjukkan senyuman matanya seperti biasa dan mengacak rambut Sakura pelan. "Ya tentu saja, aku baik-baik saja. Sebaiknya kalian pulang kerumah. Aku yang akan memberitahu Tsunade-sama."

Sakura mengamati Kakashi untuk beberapa lama sebelum akhirnya menyerah dan mengangguk sedih.

"Atta girl.." Puji Kakashi sebelum menghilang dari pandangan.

Sekarang tinggal dirinya dan Sasuke. Sakura melihat kearah Sasuke yang sedari tadi berdiam diri. Dia tidak mengetahui apa yang Sasuke sedang pikirkan saat ini dan moodnya pun sedang tidak enak untuk melakukan hal yang biasa dialakukan. Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?"

Sasuke mendelik kencang kearahnya membuatnya tersentak mundur dan tak mengucapkan apapun.

Mengumpulkan keberaniannya lagi Sakura kembali bertanya. "Apa kamu akan pergi lagi?"

"Tentu saja. Aku tak punya urusan kembali disini dan si bodoh itu sudah tak berada lagi disini." Jawab Sasuke dengan dingin.

Sakura menampar pipi Sasuke dengan kencang. Badannya berguncang kuat menahan emosi amarah dan kecewanya. "'Si bodoh' itu adalah Naruto. Kamu tak berhak mengetainya seperti itu! Aku tak mengetahui mengapa aku menyukai orang yang memiliki perilaku yang dingin, sombong, arogan seperti dirimu. Aku dapat mengatakan jika dirimu adalah seorang yang pengecut."

"Apa kau bilang?" Sasuke mencengkram kerah Sakura dengan kencang. "Kau juga suka mengatakan hal tersebut kepada Naruto bukankah begitu begitu, Sakura? Seharusnya kau malu dengan dirimu sendiri. Perempuan manja sepertimu tak berhak mengataiku pengecut.. Pengecut. Naruto sama saja seperti dirimu, pengecut, bodoh, lemah-"

"Cukup!" Teriak Sakura, matanya berlinangan air mata. Dia melepaskan cengkraman Sasuke padanya dan melayangkan pukulannya dengan kuat hingga membuat tubuh Sasuke terlempar dan menghantam tembok dengan keras. "Aku tahu aku adalah perempuan pengecut, manja dan aku menerima hal itu. Tetapi aku tidak menerima panggilanmu kepada Naruto untuk sesuatu hal yang tidak benar. Naruto lebih baik daripada dirimu! Dia memiliki perilaku yang sopan, baik, ramah terhadap semua orang dan dia selalu membantu semua orang walaupun mereka tidak pernah menganggapnya. Aku merasa jijik kepada diriku sendiri karena perlakuanku yang buruk kepadanya saat itu. Aku tak peduli dengan obsesimu terhadap kakakmu itu, semuanya adalah bullshit! Aku tahu jika kau bukan hanya ingin membalas dendam kepada kakakmu. Aku tahu kamu begitu kesal dan marah karena Naruto jauh lebih kuat daripada dirimu, tetapi kau tidak mau mengakui hal itu!! Rasa hausmu akan kekuatan membuatku jijik dan kecewa padamu! Karena itu kamu tak jauh seperti seorang pencundang! Aku tak peduli lagi jika kamu akan pergi dan menemui manusia ular buruk rupa itu! Mau bagaimanapun seorang pengecut tetaplah seorang pengecut kecuali dia ingin berubah! Dan sepertinya tidak akan pernah terjadi padamu." Sakura melayangkan tinjunya lagi tepat berdekatan pada kepala Sasuke sebelum melangkah pergi.

Sasuke hanya terdiam dengan matanya yang membelalak lebar. Perlahan dia menunduk melihat tangannya yang bergetar. Jantungnya berdetak kencang seakan mau meledak dan ini adalah perasaan yang belum pernah rasakan sebelumnya.

Rasa takut.

Tak diketahui oleh mereka Kakashi melihat adegan tersebut dari jauh dan merasa bangga dengan murid perempuannya. Kali ini dia berharap kalau Sasuke akan berubah.

"Baiklah. Saatnya aku pergi menemui Tsunade." Gumamnya dan menghilang.

Kakashi melangkah secara perlahan tanpa tergesa-gesa menuju ruangan dimana Tsunade kerja. Menghela nafas beberapa kali menenangkan detak jantungnya. Dia meraih knop pintu dan membukanya perlahan. Dan yang ada dipikirannya saat ini adalah.

'I'm so dead.'

The Continue~

Next week

"Aku akan membunuhmu, Hatake Kakashii!!" suara menggelegar terdengar penjuru Konoha hingga burung-burung dengan panik berterbangan menjauh.

Skip

"Apa kalian siap?"

Zzzzz

"Dasar bodoh! Sudah kubilang untuk tidak membuat pusat perhatian!"

skip

"Naruto-kun, Kita bertemu kembali." seringai dingin dia perlihatkan kepadanya..

Zzzzz

"KURAMA!!!"

XXXXXXXXxxxxxxxxxxxxXXXXXXXXXXXX

Akhirnyaa chapter 3 selesaai!! Bagaimana menurut kalian? :D Maaf untuk menunggu lebih lama dari yang seharusnya. Semoga kalian menyukainya~!

Pesan moral: Jangan pernah sia-siakan orang terdekat kita terutama orangtua karena itu adalah bentuk lain kasih sayang yang mereka tunjukan tanpa kau ketahui.Walaupun kita merasa bosan dengan ucapan mereka yang dikatakan berkali-kali, seperti "Hati-hati dijalan." "Jangan lupa makan." "Ada dimana sekarang?" Dan lain2. Cobalah untuk menjawab pertanyaan tersebut walaupun saat sedang dalam keadaan sibuk. Karena masih banyak yang tidak dapat merasakan hal tersebut, kasih sayang oleh orang tua kepada anaknya ataupun sebaliknya.

Sampai jumpa minggu depan minna~!