Disclaimer : Masashi Kishimoto (Naruto) and Hiro Mashima (Fairy Tail)

Pairing : Naruto x Erza

Genre : Friendship, Adventure, Hurt, Romance(?), Angst(?), Bloody(?), Hurt(?)

Rated : T

Warning : OOC, Semi-Canon, Typhoo

Summary : Setelah meninggalkan Konoha, kehidupan Naruto sedikit demi sedikit berubah. Berawal dari seorang Naruto yang lemah dan penyakitan, kini menjadi seorang Naruto yang bisa membuat semua orang terpana dengan aura dan kekuatannya. Bagaimanakah jalan cerita seorang Naruto yang tidak memiliki Chakra namun memiliki Sihir? Ikuti terus jalan ceritanya. ^^

.

.

.

Umur saat ini:

Makarov intinya tua dan lebih tua dari Minato #PLAK

Naruto, Laxus, Itachi 13 Tahun

Erza, Mira 10 Tahun

Natsu, Gray, Elfman 9 Tahun

Lisanna, Canna, Menma, Naruko, Sasuke 8 Tahun

.

.

.

The Power of Golden Darkness

Chapter 4

By : Tsukiakari Zero-Five

.

.

.

Malam ini adalah malam terakhir Naruto tinggal bersama Laxus dan kakeknya –Makarov–. Karena beberapa hari yang lalu, Naruto telah memutuskan untuk melanjutkan latihannya seorang diri tanpa campur tangan mereka.

Saat ini Naruto sedang berada di depan pintu kamar Laxus. Setelah lama menikmati indahnya langit di malam hari, entah kenapa ia juga ingin menikmati malam terakhirnya bersama sang adik yang tak lain dan tak bukan adalah Laxus. Terkesan ambigu bukan? Tapi yasudahlah.

Naruto kini membuka pintu kamar Laxus tanpa permisi dan sang empu kamar pun terkejut dibuatnya.

"Nii-chan? Ada apa?" Tanya Laxus yang sedang membaca buku di tempat tidurnya.

Naruto tersenyum, lalu berjalan mendekati Laxus langkah demi langkah. Laxus merasakan sesuatu yang ganjil pada sikap Naruto. Beberapa saat kemudian, senyum Naruto yang terlihat seperti biasanya. Kini berubah menjadi menyeramkan dan aneh di mata Laxus.

Laxus memasang tampang horror, 'Jangan-jangan…' batinnya menangkap hal yang menakutkan yang akan terjadi kepadanya.

Naruto yang kini sudah berada di samping ranjang Laxus, semakin mendekatkan diri pada sang adik. Laxus yang melihatnya tentu saja spontan menjauhi Naruto, hingga akhirnya ia terpojok oleh tembok yang berada di sisi lain ranjangnnya.

Laxus memandang Naruto penuh arti, "Kumohon Nii-chan. Jangan …" ucapnya dengan nada memelas dan wajah yang sangat ketakutan. Naruto yang sepertinya tidak peduli dengan ucapan Laxus, semakin mendekatkan dirinya pada Laxus. Senyumannya kini berubah menjadi seringaian yang terlihat sangat licik dan…begitulah.

"Ayolah, kamu pasti menyukainya." Tangan Naruto kini mulai mendekati wajah Laxus. Namun saat ia akan menyentuh wajah Laxus, Laxus menangkisnya kasar.

"Kumohon Nii-chan. Aku tidak mau!" Tolak Laxus dengan nada yang tiba-tiba meninggi.

Naruto mengangkat sebelah alisnya, lalu bertanya dengan suara yang dibuat sangat lembut dan sedikit genit "Hm? Bukankah kau menyukainya?"

Laxus merinding disko dan memasang tampang horor. Lalu tanpa ia sadari keringat dingin mulai membasuhi pelipisnya.

"Ara-ara… Kau berkeringat. Belum apa-apa sudah berkeringat. Sini Nii-chan usapin," Naruto kemudian mengusap keringat yang berada di pelipis Laxus dengan lembut. Laxus yang diperlakukan seperti itu oleh Naruto, kembali memasang tampang horror dan berusaha menjauhkan dirinya dari sang kakak yang menurutnya mulai gila.

'Ya Tuhan! Apa yang akan dilakukannya kali ini!?' teriak Laxus takut dalam hati.

Naruto kini kembali menggerakan tangannya ke arah wajah Laxus, dan Laxus langsung menutup matanya. Ia takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Benar-benar takut.

Beberapa saat kemudia Laxus merasakan sensai geli di pipi sebelah kanannya. Dahinya mengkerut, 'A-apa ini?' tanyanya takut entah kepada siapa.

"Bagaimana rasanya, Laxus?" Tanya Naruto (masih) dengan nada yang dibuat sangat lembut dan menggoda(?).

Laxus diam dan masih menutup matanya. Mengabaikan pertanyaan sang kakak. Lebih tepatnya ia tidak mau mendengarkan perkataan kakaknya yang lama kelamaan membuat dia semakin yakin bahwa kakaknya sudah benar-benar gila.

2 menit pun berlalu.

Merasa kesal karena Laxus tidak menjawab atau lebih tepatnya tidak menganggap dirinya, Naruto kemudian berpindah ke arah pipi Laxus sebelah kiri. Sensai geli kembali dirasakan Laxus dari bagian lain pipinya. Entah kenapa, setelah sekian lama waktu berlalu. Ia mulai penasaran dengan apa yang sang kakak lakukan, ya… walaupun pada dasarnya dia sudah menebak-nebak apa yang dilakukan kakaknya terhadap dirinya. Tapi, tidak ada salahnya kan jika ia ingin membuktikan tebakannya?

Laxus kini memberanikan diri untuk membuka matanya. Tapi alangkah terkejutnya ia saat melihat apa yang sedang sang kakak lakukan. Ia kembali memasang tampang horror. Ternyata tebakannya benar, bahwa kakaknya…

"Nii-chan, kumohon… hentikan ini…" Laxus akhirnya membuka mulutnya dan memohon kepada Naruto untuk menghentikan kegiatannya.

"Ara? Bukannya kau menyukainya, Laxus?" Tanya Naruto dengan seringai jahil.

"NII-CHAN!"

Mendengar namanya dipanggil oleh Laxus, Naruto malah semakin menjadi-jadi dengan kegiatannya. Laxus membulatkan matanya saat sang kakak bergerak menuju mulutnya, dan kemudian tanpa segan-segan ia menendang perut sang kakak hingga terjatuh ke lantai dengan gaya jatuh yang benar-benar terlihat tidak elit.

'Bruk'

"ITTAI! LAXUS! APA YANG KAU LA-…" teriakan Naruto terhenti saat ia melihat ekspresi Laxus yang terlihat sangat marah dan entah keberuntungan atau bukan, Naruto melihat setitik air di ujung mata Laxus.

"SUDAH KU BILANG KAN, HENTIKAN! KAU TAHU KAN AKU BENCI KECOAK!" Teriak Laxus penuh emosi.

YUP! Ternyata dari tadi Naruto menjahili Laxus dengan binatang yang bernama KECOAK. Sekali lagi saya katakan, KECOAK! Ya, KECOAK!

"Ayolah Laxus. Masa sama kecoak aja kamu takut. Kecoak itu makhluk yang sangat imut dan unyu. Horaa~…" Ucap Naruto sambil mendekatkan kecoak yang berada ditangan kanannya ke arah Laxus sambil tersenyum jahil. Laxus menatap Naruto horror, dan sebisa mungkin menghindar dari serangan sang kakak.

'Imut dari Hongkong!? Jelas-jelas makhluk itu gak ada imut-imutnya. Item mutlak sih iya!' Batin Laxus heran dengan presepsi sang kakak yang sangat aneh.

"Ngomong-ngomong Laxus, kau nangis?" Tanya Naruto dengan nada polos dan masih memegang kecoak di tangan kanannya.

"HA!? TENTU SAJA TIDAK!" Ucap Laxus menyangkal perkataan Naruto perihal ia menangis karna kecoak. Namun apa yang dikatakannya dan dilakukannya saat ini sangatlah bertolak belakang. Karena saat ini ia sedang mengusap kedua matanya yang sedikit basah.

"Horaa! Kau mengusap air mata mu kan? Jangan coba-coba berbohong pada Nii-chan mu ini ya! Tenang saja, nanti akan ku ceritakan semua ini pada Jii-chan. Aku yakin, dia pasti akan tertawa terbahak-bahak saat ku ceritakan tentang seorang Laxus yang menangis gara-gara seekor kecoak, gyahahahaha…"

Naruto saat ini merasa sangat puas karena telah menjahili sang adik, hingga sang adik (hampir atau memang) menangis. Hidup bersama selama lebih dari 1 tahun bersama Laxus, membuat Naruto tahu kebiasaan dari sang adik. Baik hal apa yang ia sukai, maupun hal yang ia benci. Walaupun waktu 1 tahun masih terbilang tidak terlalu lama.

Dilihat dari manapun, Naruto merasa dirinya sangatlah kejam karena memanfaatkan kelemahan sang adik demi kepuasannya semata. Namun demi saat-saat terakhir bersama sang adik, ia terpaksa melakukannya. Karna ia yakin, hanya Laxus seorang yang tidak akan menerima keputusan Naruto tentang hal 'itu'.

Kembali ke cerita.

Laxus kini merasa sangat kesal karena ditertawakan seperti itu oleh Naruto. Seketika ide jahil melintas diotaknya. Ia tarik bantal yang berada di sampingnya, lalu ia lempar bantal itu ke arah wajah Naruto.

'Bukk'

"ITTAI!" Erang Naruto (sedikit) kesakitan. Bisa kita lihat, bantal yang dilempar Laxus tadi dengan sukses mengenai wajah Naruto yang saat itu sedang asik-asiknya tertawa. Merasa sedikit kesakitan, Naruto mengelus wajahnya dengan kedua tangannya. Sedangkan Laxus kini tertawa terbahak-bahak menggantikan Naruto sebelumnya.

Naruto yang merasakan keganjilan, langsung terdiam dan melihat kedua tangannya. Saat melihat kedua tangannya, entah kenapa ia seperti melupakan sesuatu. Sesuatu yang penting dan sesuatu itu ia dapatkan dari halaman rumahnya.

Naruto menatap Laxus dengan tatapan horror, sedangkan yang ditatap mulai menghentikan tawanya.

"Ada apa?" Tanya Laxus bingung dengan tingkah Naruto yang tiba-tiba terdiam.

"Ke-kecoanya… hilang…" Jawab Naruto masih dengan tatapan horror.

"HAA!? NII-CHAN BAKA! KENAPA KAU LEPASKAN!? CEPAT TANGKAP MAKHLUK LAKNAT ITU!" Teriak Laxus mulai heboh. Sedangkan Naruto kini menatap Laxus dengan tatapan malas.

"Kau tanya kenapa? Sudah jelas-jelas tadi kau melemparkan bantal ke muka ku, tentu saja aku reflek melepaskan kecoak imut itu." Jawab Naruto dengan nada kesal sembari menyilangkan tangannya. Ah, jangan lupa ia juga mengembungkan pipinya.

Laxus menatap Naruto tidak percaya, kemudia ia memegang kepalanya frustasi. "Aaarrghhh! Cukup, cukup! Aku tidak mau bertengkar disaat seperti ini, ok? Aku minta maaf. Jadi, cepat tangkap kecoak ituu!"

Naruto melirik Laxus dengan ekor matanya, "Kau memerintah ku?"

Laxus kembali memegang kepalanya, ia kini benar-benar merasa frustasi dengan tingkah kakaknya itu. Apakah hanya demi memberantas makhluk laknat itu, ia harus meminta maaf dan memohon untuk kesekian kalinya? Tapi apalah daya, ia memang benci dan takut terhadap mahkluk unyu-unyu itu. (Menurut Naruto, author sih NUOOO!)

"Baiklah. Aku minta maaf (lagi). Jadi Nii-chan, kumohon. Tangkap kecoak itu dan buang jauh-jauh dari kamar ku. Oke?"

Naruto tersenyum puas, "Haha, baiklah~…"

Menit demi menit Naruto habiskan untuk menangkap makhluk unyu-unyu itu. Namun berapa kali pun ia mencoba, ia selalu gagal. Bukan hanya karna kecoak itu susah untuk ditangkap, tapi juga karna Laxus yang tidak bisa diam dan terus menerus berlarian ke segala arah hanya untuk menghindari terjangan makhluk unyu-unyu itu. Sebenarnya bisa saja ia menyuruh Laxus untuk keluar kamar agar ia bisa lebih mudah menangkap makhluk unyu-unyu itu, tapi ia takut makhluk unyu-unyu itu malah mengikuti Laxus. Karena entah firasat Naruto semata atau bukan, kecoak itu dari tadi terus menerus mendekati Laxus.

'Sepertinya kecoak itu suka sama Laxus,' batin Naruto ngaco sambil menyeringai.

Disaat Naruto mendapatkan kesempatan untuk menangkap makhluk unyu-unyu itu, pintu kamar Laxus tiba-tiba terbuka dan menampakan sesosok makhluk cebol berambut putih yang menggunakan piyama beserta topinya berwarna merah muda dengan gambar teddy bear yang terlihat sangat imut dan lucu.

"URUSAI!" teriak makhluk cebol itu.

"Jii-chan!?" panggil Naruto dan Laxus bersamaan.

'Hap' Kecoak yang tadi tiba-tiba terbang karna terkejut itu, kini masuk ke dalam mulut Makarov yang kebetulan sedang terbuka lebar saat berteriak. Naruto dan Laxus yang melihat kecoak itu masuk dengan sangat mulus ke mulut Makarov hanya bisa menelan ludah dan saling melirik satu sama lain.

"Hm? Kalian ini –krauk krauk– bisa tidak sih –krauk krauk– tidak berisik. Mengganggu orang lagi tidur aja –glek–. Sudah sana kembali ke kamar masing-masing, terus tidur." Makarov yang terlihat masih setengah tertidur itu, langsung kembali ke kamarnya setelah menyelesaikan pidatonya(?) dan juga acara makan kecoak yang tidak disengaja itu.

Melihat sang kakek keluar kamar tanpa protes, Naruto dan Laxus saling menatap satu sama lain.

"Lebih baik, kita lupakan apa yang barusan terjadi. Bagaimana, Laxus?"

Laxus mengangguk, "A-aku setuju dengan mu, Nii-chan."

"Kalau begitu, aku kembali ke kamar ya. Tutup jendelanya, nanti ada kecoak lain yang masuk. Hahahaha…" Ucap Naruto sambil tertawa dan berjalan keluar kamar Laxus.

"Huh!"

"Haha… Oyasumi!" Ucap Naruto sambil menutup pintu kamar Laxus, "Oyasumi…"

Setelah meninggalkan kamar Laxus, Naruto berjalan menuju kamarnya sambil menundukan kepala dan menghela nafas. Entah kenapa ia merasa berat jika kembali memikirkan rencananya ini. Ia berpikir, apakah ia belum siap untuk meninggalkan adik dan kakeknya meskipun hanya sementara?

Naruto menggelengkan kepalanya, 'Tidak, tidak. Aku sudah memutuskan ini jauh-jauh hari. Aku harus yakin dengan keputusan ku,' batin Naruto.

Tak terasa kini Naruto sudah berada di depan pintu kamarnya. Ia buka pintu itu dan kemudian menutupnya. Naruto menatap sekeliling kamarnya dengan tatapan sedih. Namun tak lama kemudian, ia mengulum senyum dan duduk di tepi ranjangnya.

"Sudah waktunya aku bersiap-siap dan pergi dari sini."

"Jadi keputusanmu sudah bulat, Naruto?" Tanya seseorang dari arah pintu kamarnya yang entah sejak kapan sudah terbuka.

"Ya, Jii-chan." Jawab Naruto dengan nada penuh keyakinan.

Makarov –Kakeknya–, kemudian berjalan ke arah Naruto dan duduk disampingnya.

"Jujur saja. Aku tidak keberatan dengan keputusan mu. Tapi… aku masih khawatir dengan keadaan tubuh mu, Naruto. Selain itu, aku tidak yakin kalau Laxus akan mengijinkan mu untuk pergi."

Naruto terdiam membisu mendengar perkataan sang kakek, ia masih ingat dengan jelas apa yang terjadi beberapa hari lalu pada dirinya. Ia pingsan saat sedang berlatih menggunakan kekuatan kegelapannya. Naruto sungguh bersyukur karena sang kakek lah yang menemukan dirinya, dan bukan Laxus. Jika Laxus yang menemukannya, mungkin saat itu juga Naruto harus pulang ke Magnolia dan Laxus akan semakin bersifat overprotective pada dirinya.

"Jii-chan… Kau tidak akan memberitahu Laxus tentang kejadian beberapa hari yang lalu kan?"

Makarov memandang Naruto dan ia pun terdiam beberapa saat. Tak lama kemudian, ia menghela nafas berat.

"Hah… Tidak, aku tidak akan memberitahu dia tentang kejadian itu. Aku saja sudah khawatir setengah mati, apalagi Laxus? Jika dia tahu hal itu, dia pasti akan melarang mu pergi dan akan mencari mu kemanapun kau pergi. Aku yakin."

Naruto tersenyum, "Arigatou… Jii-chan."

"Jadi, kau akan berangkat sekarang juga?"

Naruto menangguk, lalu mengambil tas yang sudah ia persiapkan sebelumnya.

"Aku akan mengantarkan mu sampai depan," ucap Makarov sembari berjalan mendahului Naruto.

"Arigatou, Jii-chan." Bisik Naruto pelan.

Tak lama kemudian, kini Naruto dan Makarov sudah berada di halaman rumah mereka. Naruto melihat Makarov dengan pandangan yang sulit untuk diartikan, sedangkan Makarov sendiri berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangisnya.

Keheningan pun menyelimuti diri mereka. Namun tak lama kemudian, keheningan itu pecah saat Makarov membuka suaranya.

"Ini, ada uang untuk keperluan mu. Gunakan sebijak mungkin. Dan satu lagi, sebisa mungkin kau harus mengurangi penggunaan sihir kegelapanmu. Mengerti?" Ucap Makarov.

Naruto tersenyum, "Ya. Aku mengerti, Jii-chan… Arigatou. Kalau begitu, aku pamit. Sampai bertemu 2 tahun lagi, Jii-chan."

Naruto lalu membalikkan badannya, dan mulai berjalan meninggalkan Makarov. Sebelum Naruto jauh meninggalkan dirinya, Makarov mengatakan sesuatu.

"Jaga kesehatan tubuh dan mental mu, Naruto."

Naruto kembali membalikkan badannya dan tersenyum. Setelah itu ia menghilang dalam kabut hitam, meninggalkan Makarov sendirian di halaman itu.

"…"

"Kau tidak mencegahnya, Laxus?" Tanya Makarov dalam keheningan. Ia tahu, bahwa Laxus melihat kepergian Naruto dari jendela kamaranya.

"Tidak. Dilarang pun sepertinya percuma. Sekali-kali aku harus menuruti kemauannya."

"Hm, baik sekali kau."

"Argghh! Sudahlah. Aku mau tidur. Cepat masuk dan kembali tidur, Jii-chan."

"Hahahaha…"

– Di Konoha –

"SASUKE! AYO KITA BERTARUNG!" teriak seorang anak laki-laki yang memiliki rambut pirang jabrik.

"Hn? Ayolah Menma, apa kau tidak bosan mengatakan hal yang sama setiap waktunya?" Tanya Sasuke sedikit kesal.

"Sasuke benar. Apa Nii-chan tidak bosan? Ruko aja bosan dengernya," ucap gadis berambut pirang dengan kuncir 2 khasnya, Naruko.

"ARGHHH! SASUKE! Kamu juga Ruko-chan, malah ikut-ikutan!" gerutu anak laki-laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah Menma.

"Ayolah Nii-chan, terimalah kenyataan ini. Selain itu… Nii-chan kan selalu kalah dari Sasuke-kun," ucap Naruko dengan wajah (super) polos.

Menma sukses dibuat kesal oleh Naruko, sedangkan Sasuke hanya memasang wajah masa bodohnya. Kejadian ini sudah sering terjadi, dan pasti berakhir dengan teriakan-teriakan kesal yang tidak jelas dari mulut Menma.

Karena sibuk dengan acara masing-masing, mereka tidak menyadari bahwa seseorang datang menghampiri mereka.

"Wah, romantis sekali kalian berdua. Jangan pacaran mulu, Menma, Suke. Apa kalian tidak kasihan sama Ruko-chan? Lihatlah, wajahnya kesal begitu. Pasti dia cemburu," ucap seorang pria berambut hitam sambil menunjuk ke arah Naruko yang kini terlihat sedikit salah tingkah.

"Nii-… Nii-chan!?/Itachi-Nii!?" panggil Sasuke dan Menma bersamaan.

"Horra! Memanggilku saja kalian kompakan. Benar-benar pasangan serasi. Hahaha! Tapi Menma…" ucapnya terhenti, lalu ia menepuk pundak Menma dan melanjutkan perkataannya yang sempat terhenti, "… kau tidak bisa memberikan anak untuk Sasuke. Jadi dengan kata lain, Ruko-chan saja yang jadi pendamping hidupnya Suke. Bagaimana Ruko-chan?" Tanya Itachi pada Naruko yang sudah mulai memerah, begitu pula dengan Sasuke.

'Bletakk'

"Ittai!" Itachi memegang kepalanya yang sedikit kesakitan karena ditimpuk buku oleh seorang laki-laki yang memiliki bekas luka di wajahnya.

"Ah… Hai, Iruka-san…" Sapa Itachi dengan wajah cengengesan.

"Itachi-san, tidak baik membicarakan hal itu dengan anak kecil." Tegur laki-laki itu yang bernama Iruka.

"Ah… Hahahaha… Gomen, gomen. Mereka sangat menggemaskan sih. Hehe…" Ucap Itachi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kalau begitu kami permisi ya, Iruka-san. Jaa nee Ruko-chan, Menma-kun!"

"Jaa nee!" Teriak Menma dan Naruko bersamaan.

Ditengah perjalanan menuju rumah mereka, Sasuke terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu pada Itachi. Awalnya Sasuke mengurungkan niatanya untuk bertanya, namun setelah ia pikir-pikir lagi. Inilah saat yang tepat untuk menanyakannya hal itu.

"Nee, Nii-chan…"

"Hn?"

"Tadi di kelas, Iruka-sensei membahas tentang chakra…"

"Lalu?"

"Apa Nii-chan pernah berpikir, kenapa Ru-Nii tidak memiliki aliran chakra? Sedangkan orang tua Ru-Nii adalah shinobi yang sangat hebat."

Itachi terdiam mendengar perkataan Sasuke. Entah kenapa hatinya terasa sangat sakit setiap mengingat kenyataan mengenai Naruto yang tidak memiliki aliran chakra dan kenyataan bahwa salah satu alasan Naruto menghilang adalah karena hal itu. Itachi kemudian tersenyum dan menepuk kepala sang adik.

"Hanya Tuhan yang tahu, Sasuke. Selain itu… Aku tidak bisa membayangkan orang sebaik dan sepolos Naruto menjadi shinobi yang nantinya membunuh musuh-musuhnya. Mungkin dia akan pingsan saat melihat banyak mayat dan darah disekelilingnya," ucapnya sambil tersenyum. Namun jauh dilubuk hatinya, Itachi merasakan sedih saat mengatakannya.

To Be Continued

Arigatou minna~… telah membaca dan menyempatkan diri untuk me-review fict saya yang satu ini.

Thanks to:

Rei Skywalker, monkey D nico, Guest, Guest, anggraxl, Red Dragon Emperor97, hayami no akuro, Neko Twins Kagamine, Guest, Jigoku no arashi, Yasashi-kun, Blukang Blarak, samsulae29, Yokai999, Dark Namikaze Ryu, MF Dark Youko, Dragon warior, Yogi 35912, Yuriko Rin, kalista, issei-shan, NamiKaZe MaDarA, uzumakiseptian, Vin'DieseL No Giza, uchiha drac, uzumaki DN, ahmadbima27, Akasuna D Raga, wisnanda putra, Namikaze Sholkhan, podolan, Blood D Cherry, akaisora hikari, Dede Hibari, Dede Hibari, Kirara Natsuko, agastya, opek zesyu, hime koyuki 099, TobiAkatsukiID, FISIKA, BluE chikusodo, nanaleo099, zeinz Muhammad 1, awar muna, The Uzumaki Dragneel, Saladin no jutsu, reff, kidsall982, altadinata, Uzumaki LOVE Hyuga, Guest, uzumaki D, Guest, Feng jun'long, kalista, Zea lo, Higuchi Keitaro, Higuchi Keitaro, YonaNobunaga, Guest, SDBM3397, bubu-lanlan, NamikazeKevinn, leontujuhempat, Taufan no Taifuu, Uzunamiymb gmai com, Hendi Kusaeri, Fairy of shinobi, iib junior, alvaro d diarra, arlan uzumaki, sairaji423, alive. Verend, raitogecko, igniel. Saikari, Uzumaki Hatake, Takiya Dragneel, sonia. vebriani, arun errol, zipur. matshuyama, Luca Marvell, sodikin. limpakuwus, Rei Atsuko, Saikari Nafiel, mbotem. chellaluchetya, Tuxedo Hitam, defrizal. abdulaziz, Aswa-Chan, lonious gb, sono tok, IPRIRIFAL. NAMIKAZE, ryu89.

*) Mohon maaf jika ada yang namanya salah atau udah ganti. Sebagian saya tulis udah jauh-jauh hari soalnya. ^^a

Baiklah, saya akan menjawab beberapa pertanyaan dari teman-teman semua.

- 1 -

Q: Kapan Naruto pergi kembali ke dunia shinobi?

A: Hm… agak membingungkan. Mungkin disini itu maksudnya ke Konoha ya? Atau mungkin kembali dalam artian menjadi shinobi? Baiklah… apapun itu, akan saya jawab. Kembali menjadi shinobi tentunya mustahil, karena bagaimanapun juga seorang shinobi harus memiliki chakra. Sedangkan Naruto tidak akan pernah memiliki chakra. Lalu… Naruto akan ke Konoha jika saatnya tiba. Kita tunggu saja ya. ^^

- 2 -

Q: Kapan Naruto ketemu Erza? Apa Chapter depan?

A: Hm… Mungkin 2 atau 3 Chapter lagi paling cepat. :3 Do'a kan saja semoga mereka cepet ketemu. :)

- 3 -

Q: Apa keluarga Namikaze bakal ke dunia sihir?

A: Aa… entahlah. By the way, dunia sihir dan dunia shinobi itu cuma semacam(?) istilah. Aslinya sih masih satu benua(?).

- 4 -

Q: Kapan Naruto menjalankan misi?

A: Tentunya setelah kembali ke Magnolia.

- 5 -

Q: Sihir apa yang sering digunakan Naruto? Apa sihir api emas atau sihir kegelapan? Apa Naruto bisa menggunakan sihir kegelapan atau belum terlalu menguasainya?

A: Sesuai dengan yang dikatakan Naruto di chapter ini. Dia akan lebih sering menggunakan sihir api emasnya, dan Naruto pada dasarnya sudah bisa menguasai sihir kegelapannya.

- 6 -

Q: Naruto bisa melewati dimensi seperti dia ke dunia Fairy Tail?

A: Ara-ara… Again. ==a Dunia sihir dan dunia shinobi masih 1 dimensi kok, 1 benua malah(?). Selain itu Naruto gak punya sihir buat melewati dimensi. Pas chapter 1 itu bukan sihir melewati dimensi, tapi sihir teleportasi yang berasal dari kabut kegelapannya Naruto. :3

- 7 -

Q: Jangan-jangan Naruto dapat kekuatan kegelapan dari anak yang bernama Anzen tersebut ya? Habis kan anaknya ngebunuhnya pakai kabut hitam. Tapi Jii-san tachi? Itachi? Kayaknya mustahil, jadi mungkin bawaannya dari lahir atau mungkin Naruto itu reinkarnasinya Anzen?

A: E-Eh? Bu-bukan. Sepertinya ada kesalahpahaman. -_- Anzen itu cuma nama orang yang kebetulan lewat di otak saya. Malah tadinya nama tuh orang mau Aizen #PLAK. Bukan siapa-siapa kok. Lagian Anzen itu orang pertama yang dibunuh sama anak laki-laki itu. :3 Bukan, bukan. Maksudnya itu paman-paman. Gak, gak. Naruto bukan reinkarnasinya Anzen. Entah kenapa jadi inget canonnya Naruto. :3

- 8 -

Q: Anzen Jinchuuriki bukan?

A: Anzen cuma manusia biasa yang numpang lewat di fanfict saya. :3

- 9 -

Q: Naruto ketemu Erza waktu perjalanan pulang, benar gak?

A: Terlalu mainstream. :3 Tentu saja tidak~… ^^

- 10 -

Q: Naruto bakal balik ke guild umur berapa?

A: Kurang lebih 2 tahun. Biar Narutonya bener-bener mateng. :)

- 11 -

Q: Natsu udah ada di Fairy Tail belum?

A: Pas Naruto masih di Magnolia sih belum. Natsu dan kawan-kawan (minus Mira, Elfman, Lissana, Canna) masuk saat Naruto tidak berada di Guild alias saat latihan bareng Laxus.

- 12 -

Q: Apa tidak terlalu cepat 1 tahun berlatih? Coba 2 atau 3 tahun kan Naruto masih (terlalu) muda…

A: Pertanyaan kamu udah terjawab di chapter ini. ^^ Selain itu, pada dasarnya Naruto memang jenius. Jadi 1 tahun pun sebenarnya cukup-cukup saja. Para shinobi pun kebanyakan jadi genin di umur 12 tahun bukan? ^^

- 13 -

Q: Lihat Laxus di awal chapter ada kesan brother complex.

A: 100 buat anda! XD Tentu saja Laxus itu brother complex. Secara Naruto yang bikin hidup dia makin berwarna. Selain itu siapa yang gak bakal gitu kalau kakak kita gantengnya amit-amit, pinter masak, jenius dan semacamnya. Ibaratnya tuh Usui di Kaichou wa Maid-sama. Huwaa! Tipe author bangettt! #OOT #PLAK

- 14 -

Q: Perasaan saya yang aneh atau memang alurnya dibikin agak cepet ya? Beda dengan chapter-chapter yang lalu…

A: Hehe, sengaja. Udah males bertele-tele. Lagian latihannya pastinya cuma gitu-gitu doang, hehe…

- 15 -

Q: Ano senpai, sepertinya alurnya agak terlalu lambat senpai dan umur Natsu dan kawan-kawan berapa? Soalnya di Fairy Tail OVA3 kan waktu Natsu dan kawan-kawan masih kecil, Laxus sudah remaja?

A: Hahaha… Fanfict tidak selamanya mengikuti (banget) alur di cerita aslinya loh. ^^ Untuk alur, sebenarnya pas kalau menurut saya. Disni Natsu dan Gray beda 4 tahun sama Naruto, meskipun aslinya tuh 5 tahun. Erza dan Mira beda 3 tahun. Lucy dan Lissana beda 5 tahun. Masalah umur gak di sama persis kan dengan di canonnya. 12 tahun itu udah remja loh. Lihat aja di Naruto, 12 tahun udah jadi ninja. Aslinya Laxus dan Natsu itu bedanya cuma 5 tahun. Tapi disini saya buat jadi 4 tahun. Oh iya, masalah Laxus. Laxus kan aslinya emang badannya gede. Jadi umur muda pun… ya gitu. ^^

- 16 -

Q: Canna kok jadi pemalu? Dan Makarov terlalu kekanak-kanakan…

A: Dulu alias pas kecil, Canna emang pemalu. Coba aja lihat di animenya. Saya aja heran, kok bisa anak se-unyu Canna jadi pemabuk kayak sekarang. #Pundung# Makarov disini saya buat jadi OOC, selain itu dia hanya 'keterlaluan' OOC banget saat bareng-bareng keluarganya doang. Kalian juga pasti gitu kan? ^^

- 17 -

Q: Ini gak focus ke pairing dulu kan?

A: Enggak. Ini aja buat saya pusing. T_T

- 18 -

Q: Bisa update kilat gak?

A: Mustahil. T_T Ini aja molor berapa bulan.

- 19 -

Q: Jadwal update kira-kira hari apa?

A: Hari dimana saya sudah menyelesaikan fanfict ini. ^^ #digampar

- 20 -

Q: Update jangan kelamaan, karena para readers punya batas kesabaran untuk menunggu chapter selanjutnya.

A: Untuk jadwal update sudah saya bahas sebelumnya. ^^ Jadi mohon pengertiannya ya. Karena author juga punya kesibukan tersendiri. Masalah imajenasi itu ribet loh. ^^ Selain itu saya sudah tingkat akhir dan mulai disibukkan dengan TA. ^^

Oke. Pertanyaan sudah saya jawab beberapa. Ya… hanya 20 pertanyaan. Sisanya bisa teman-teman simpulkan sendiri. ^^

Baiklah… bagi kalian yang bingung dengan sikap Laxus, saya kasih bocoran saja.

Sikap Laxus itu aslinya seperti di canon, tentunya sebelum ketemu Naruto. Tapi semenjak ketemu Naruto, entah kenapa tiba-tiba hatinya terbuka seolah-olah ia merasakan kenyamanan saat ia masih kecil dulu. Ya… garis besarnya sih dia kayak bocah lagi. Tapi… hanya di saat-saat tertentu. Misalnya, kalau bareng sama Naruto atau keluarganya. Di luar zona itu? Jangan harap dia bisa tersenyum dan ketawa-ketiwi gak jelas.

Sekian bocorannya.

Next…

Mohon maaf jika saya update-nya super duper lama. Hampir… 1 tahun kah? Ya…intinya lama pake banget. Hal ini dikarenakan… ya… kehidupan dunia nyata saya, yang tak lain dan tak bukan adalah kuliah. Selain itu saya lagi pusing juga mikirin PKL. Hah… Nasib mahasiswa tingkat akhir. Tapi sudahlah. Semangat!

Waduh, maaf ya malah jadi curhat. Hahaha… Oke, sebenernya saya sempat kena Writer's Block (bener gak istilahnya?). Entah kenapa rangkaian kata yang biasanya mulus-mulus saja dikeluarkan, jadi susah dikeluarkan (Gimana entar nyusun TA?). Belum lagi imajenasi yang susah sekali dibuat jadi cerita. Tapi yasudahlah…

Mohon maaf kalau adegan awal-awal rada garing, baik humor maupun ceritanya. :3

Mohon maaf juga chapter ini tidak sepanjang chapter-chapter sebelumnya (lirik words yang cuma 2700-an). T_T

So, inilah chapter 4… ^^

Bad? I'm sorry. Saya akan terima flame atau kritik seperti apapun~… :)

Good? Thank you very much. Saya akan berusaha untuk memberikan cerita yang semakin menarik. ^^

Sepertinya sekian dari saya. Chapter 5 mungkin akan update saat mood saya untuk menulis sudah kembali seperti semula, atau saat mood saya menjadi baik saat melihat review dari teman-teman semua atau mungkin setelah TA saya selesai dikerjakan. Meskipun pada dasarnya, poin-poin cerita sudah saya buat. ^^

See you next di Chapter 5. \(^0^)/

.

.

.

To Be Continued

.

.

.