Disclaimer : Mashashi Kishimoto
(Fic ini adalah asli buatan Author Akecchin, mohon jangan plagiat. jika ingin mengcopy atau izin republish, pm aja.)
Naruto menghela napasnya, lagi.
"Baiklah, jadi ada apa?", tanyanya baik-baik.
"Begini, kau ada dalam kondisi darurat."
"Hm?"
"Paman Minato akan menjodohkanmu dengan putri dari klan Yamanaka jika kau tidak akan menikah dalam waktu dekat.", ujar Shion.
"Haaah?! Apa katamu?!"
"Apa Bibi Kushina tidak mengatakannya padamu?", Tanya Shion.
Naruto hanya menggeleng menjawab pertanyaan Shion.
"Hhh, sepertinya Bibi Kushina yang selama ini tinggal bersamamu di Jepang bersekongkol dengan Paman Minato mengenai perjodohan ini. Ini kesalahanmu juga, Paman Minato paham jika kau sibuk dengan pekerjaanmu di Jepang. Tapi kau tak pernah sekalipun menghubunginya. Kau sudah berusia 27 tahun, Paman Minato berencana akan pensiun dalam waktu dekat dan kembali ke Jepang. Beliau memintamu untuk menggantikan posisinya sebagai direktur utama di beberapa rumah sakit milik klan Namikaze di New York. Tapi sebelumnya beliau ingin kau menikah dulu. Mereka ingin menghubungimu, tapi kau selalu saja bersikap sok dewasa seolah-olah kau tidak membutuhkan beliau.", ujar Shion panjang lebar.
Naruto hanya mampu diam mendengarkan penuturan sepupunya itu. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, lalu duduk di sofa ruang kerjanya.
"Apakah perjodohannya bisa dibatalkan? Aku perlu waktu lagi untuk memikirkan masalah pernikahan.", tawar Naruto.
"Paman Minato hanya memberimu waktu 1 bulan sebelum pernikahanmu dengan Yamanaka.", ujar Shion.
"Jika kau tak meresponnya, apa kau tidak kasihan dengan Paman Minato yang menanggung malu?", lanjut Shion.
"Begini, kau tahu gadis yang membawamu kemari?", tanya Naruto.
"Yeah?"
"Dia adalah kekasihku. Aku berjanji akan menikahinya setelah Ia lulus tahun depan. Jika Aku mengatakan hal itu pada ayah, apa beliau akan memahaminya?", tanya Naruto.
"Wait, wait. Jadi.. Perempuan tadi?"
"Ya, begitulah."
Lama Shion berpikir dengan perkataan Naruto dan misi yang dibawanya kali ini.
"Baik. Akan kukatakan hal ini kepada Paman Minato, kuharap beliau memahamimu.", ujar shion akhirnya.
Dengan senyum terkembang, Naruto membalas, "Thank you, my little cousin."
"You're welcome. Tapi kau tahu tidak ada yang gratis, kan?", ujar Shion.
"Sudah kuduga.", ujar Naruto sambil meremas rambut pirangnya.
"Karena kau membentakku tadi, sebagai balasannya kau harus menemaniku berkeliling di Jepang selama 2 minggu.", ujar Shion enteng.
"Tidak bisakah kau meminta yang lain? Kau kan tahu Aku sibuk.", tawar Naruto dengan wajah memelas.
"Kau sibuk mengajar..atau kau sibuk berkencan dengan perempuan i.."
"Hyuuga Hinata.", potong Naruto.
"Ah, ya. Hinata. Kalau begitu, selain menemaniku berkeliling Jepang, kau juga harus menceritakanku tentang Hinata. Aku ingin tahu tentang dia lebih banyak.", ujar Shion lagi.
"Eh?! Kenapa kau tidak berkenalan saja dengannya?", tawar Naruto.
"Bukan urusanmu, brother. Nah, kalau begitu Aku akan kembali ke hotel, jangan lupa jemput Aku seusai jam kuliah, Aku akan mengirimkan alamat hotelku nanti. Bye!", ujar shion enteng sembari bergegas pergi.
"Hei! Hei, hei!", Naruto dengan terpaksa menerima keputusan sepihak dari Shion. Kepalanya menggaruk frustasi rambut pirangnya yang tidak gatal.
Ia menyandarkan tubuhnya pada daun pintu, menunggu seseorang yang Ia yakini ada di dalam ruangan tersebut. Tak lama, seorang perempuan dengan jaket ungu khasnya keluar dari ruangan tersebut.
"Kiba-kun?"
"Hinata.", jawab Kiba dengan tersenyum.
"A-ada apa?"
"Aku hanya ingin mentraktirmu setelah ini, bukankah Aku sudah berjanji jika kau membantuku menyelesaikan essay yang waktu itu?", terang Kiba.
"Uhm, benar. T-tapi A-aku harus segera pulang sekarang. A-ada yang sedang menung..", ucapan Hinata terpotong oleh ucapan seseorang.
"Pergi saja dengannya.", ujar Naruto yang telah berdiri sejak Kiba tiba terlebih dahulu di depan ruang perpustakaan. Namun Ia lebih memilih bersembunyi dan mendengarkan pembicaraan mereka.
"N-naruto-sensei!", ucap Hinata terkejut.
"Bahkan kau memanggilku seperti itu.", ucap Naruto dengan dingin.
"A-aku tidak.."
"Tidak usah banyak bicara. Aku sudah lelah.", ujar Naruto seraya membalikkan badannya dan melenggang pergi dari area tersebut.
Hinata yang mendengarkan ucapan Naruto hanya mampu berdiri dalam diam. Bulir-bulir air matanya mulai berjatuhan. Kiba yang melihatnya berusaha untuk menenangkan, Ia berjalan mendekat dan mencoba untuk merangkul Hinata. Namun, tangan mungil Hinata menepisnya, Hinata segera pergi dari sana. Berlari, pulang menuju apartemennya.
Dalam suatu mobil, sepasang mata biru lautnya memperhatikan kekasihnya yang tengah berlari cepat untuk segera pulang sambil terus menunduk. Hati kecilnya terasa sakit, Ia meremas kedua tangannya erat. Kemudian Ia menyalakan mesin mobilnya dan melaju kencang ke arah lain.
Di tempat lain, gadis bersurai pirang pucat yang tengah menonton acara televisi kesukaannya merasa terganggu ketika tiba-tiba ponselnya bergetar, menandakan adanya suatu panggilan di sana. Dengan malas Ia mengangkat panggilan itu.
"Ya?"
"Aku di perjalanan menuju ke tempatmu, mungkin Aku akan tiba dalam 10 menit. Bersiap-siaplah, Aku malas jika harus menunggumu dulu. Jaa."
Pip.
"Halo? Hei, hei!", bentak Shion.
"Dasar bodoh, dia kenapa sih?", gerutu Shion.
Dengan cepat Ia bergegas berlari menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan bersiap-siap.
Dua orang berbeda gender tampak menginjakkan kakinya dari mobil. Si perempuan yang mengenakan celana jeans sebetis dan cardigan warna pink yang dipadu dengan kaus dalam berwarna abu-abu. Kets warna pinknya tiba-tiba berhenti ketika melihat sang pria dengan wajah muramnya yang sedari tadi menemaninya berkeliling.
"Kau ini kenapa? Frustasi masalah kerja atau masalah cinta?", ejek Shion.
Naruto memandang sebal ke arah Shion dan mengacuhkannya. Langsung saja Ia mendahului Shion memasuki kafe yang dikunjunginya.
"Hei, tunggu Aku, bodoh!", bentak Shion kesal.
Memasuki kafe, Shion melihat Naruto yang terduduk di meja paling ujung yang dekat dengan jendela. Pandangan Naruto yang terus saja lurus ke arah jendela membuat Shion mendengus kesal karena kelakuan Naruto. Dengan cepat Ia berjalan menuju meja yang diduduki Naruto dan duduk tepat di depannya.
"Hei, brother!", panggil Shion setengah membentak.
Namun Naruto tak menoleh, seperti tak mendengarkannya.
"Dasar bodoh! Ah, bukan hanya bodoh, tapi kau juga sudah menjadi tuli.", gerutunya.
Melirik sebentar ke arah Shion, Naruto kembali mengarahkan pandangannya ke luar jendela.
"Diamlah. Aku sedang bad mood.", ujar Naruto malas.
"You? A crazy and idiot man like you having a bad mood?!", tanya Shion meremehkan.
Dengan jengah Naruto memutar bola matanya bosan.
"Well, sepertinya kau butuh sesi psikologis.", ujar Shion dengan raut wajah serius.
"Aku tidak gila, Shion.", jawab Naruto masih dengan pandangan matanya ke arah luar jendela.
"Baik, baik. Kau tidak gila, mungkin hanya sedikit gangguan...mungkin?", tanya Shion lagi.
"Urusai.", jawab Naruto.
"Okay, okay. Mari kita bicarakan secara serius. Pertama-tama… "
Tiba-tiba Naruto menoleh ke arah Shion dan bertanya, "Kau bisa bicara serius?"
"Kau meremehkanku, brother?", tantang shion sambil berkacak pinggang.
Dengan sedikit tersenyum meremehkan, Naruto menjawab, "Mana mungkin gadis menyebalkan dan cerewet sepertimu bisa serius?"
"Dasar bodoh.", jawab Shion dengan seringainya. Melihat Naruto yang mulai terpancing untuk ikut tersenyum, Shion pun membalas,
"Sudah bisa tersenyum, eh?"
Naruto terdiam ketika mengetahui bahwa dirinya telah terpancing untuk ikut tersenyum karena Shion. Sedetik kemudian senyumnya luntur, tergantikan oleh raut wajah sebal yang kembali menghiasi wajahnya.
"Hei, Naruto. Hei!", panggil Shion sembari melambai-lambaikan kelima jarinya di depan wajah Naruto.
"Iya, iya. Aku sudah lihat. Apa?", jawab Naruto.
"Kau tidak ingin cerita tentang masalahmu?", tawar Shion.
Sejenak Naruto kembali berpikir mengenai kejadian tadi sore, ketika Ia memergoki Hinata yang tengah berbicara dengan Inuzuka Kiba, laki-laki yang selalu menyulut api cemburunya selama ini. Jika selama ini Hinata selalu dapat menenangkannya, maka sore tadi adalah puncak kekesalan Naruto. Ia tak dapat menahannya lagi, itu sebabnya Ia meninggalkan Hinata dan berencana menghindarinya untuk beberapa saat sembari melaksanakan janjinya pada sepupu kesayangannya, Shion.
Tanpa sadar, saat Naruto sedang melamun Shion telah memesan sebuah vanilla latte untuk dirinya sendiri dan cappuccino untuknya. Dengan sengaja, Shion menyodorkan secangkir cappuccino tepat di depan wajah Naruto. Naruto yang tersadar karena Ia mengendus bau minuman yang sangat disukainya, mencari ke arah bau itu berasal. Shion terkikik melihat sikap Naruto, sementara Naruto yang pada awalnya terlihat kikuk akhirnya mulai tersenyum tipis dan menerima cangkir itu dari Shion.
"Sankyuu-dattebayo.", ucap Naruto.
"You're welcome.", jawab Shion sembari mengaduk-aduk vanilla latte nya.
"Ngomong-ngomong… bagaimana negosiasimu dengan ayah?", Tanya Naruto memulai pembicaraan.
"Kau ingin kabar buruk, atau kabar baik?", goda Shion.
"Ayolah..", rajuk Naruto.
"Paman Minato… beliau menyetujui keputusanmu untuk menikah dengan wanita yang kau pilih, tapi beliau tetap pada pendiriannya untuk memberimu waktu hanya dalam 1 bulan.", jelas Shion.
"Awalnya beliau kaget ketika mendengar bahwa kau telah memiliki calon istri pilihanmu sendiri. Beliau berencana untuk berkunjung ke Jepang dalam beberapa hari. Tapi masalah kapan, Aku sendiri tak tahu. Selama itu, beliau berencana untuk mengenal Hinata lebih jauh.", jelas Shion lagi.
Naruto terdiam mendengar penuturan Shion. Ia menyeruput capuccinonya lagi untuk menenangkan perasaannya yang masih campur aduk. Melihat Naruto yang hanya terdiam tanpa komentar mendengar penuturannya, Shion mencoba mengubah arah pembicaraan.
"Lalu, bagaimana dengan hubungan kalian?", Tanya Shion dengan polosnya.
"Kami…. Hhh, ada sedikit masalah.", ujar Naruto pada akhirnya.
"Ooh, jadi ini yang membuatmu seperti ini? Uzumaki Naruto yang gila dengan keceriaan menjadi pria yang menyedihkan hanya karena masalah cinta?", goda Shion.
"Diamlah, Shion. Jangan menggodaku seperti itu.", jawab Naruto sembari memalingkan wajahnya karena malu.
"Ceritakan padaku, hm?", tawar Shion. Naruto menatap wajah Shion, berharap Shion benar-benar serius menanggapi ceritanya. Ia menghela napas sejenak sebelum memulai ceritanya.
Ia masih saja meringkuk di ranjang tepat tidurnya, wajahnya masih tertutup oleh selimut tebal. Suara isakan masih terdengar jelas dari balik selimut yang menutupinya. Sedetik kemudian, Ia menyibakkan selimut itu dari wajah manisnya yang terhias oleh tetesan-tetesan air mata yang melelah dari kedua pelupuk matanya.
"Naruto-kun..", ucapnya lirih.
Ia masih bingung tentang apa yang harus dilakukannya kali ini. Awalnya Ia berniat untuk menghubungi pria yang dicintainya, untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Sejenak Ia menatap ke arah ponselnya yang tergeletak di ranjang, tak jauh dari posisinya berada. Masih sama seperti keadaan sore tadi, tak ada satu panggilan maupun sebuah pesan yang selalu muncul di layar ponselnya setiap saat. Ia merindukannya, sangat.
Tiba-tiba sebuah panggilan masuk tertera di layar ponselnya, dengan Ia segera bangun dari posisi tidurnya dan bergegas mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang meneleponnya malam-malam begini. Gurat wajah gembiranya perlahan memudar ketika mengetahui bahwa panggilan itu bukanlah berasal orang yang dia harapkan. Dengan malas, Ia menerima panggilan tersebut.
"M-moshi-moshi."
"Hinata! Kau tidak apa-apa? Aku takut terjadi sesuatu denganmu karena tiba-tiba kau pergi dengan men.."
"A-aku tidak apa-apa, Kiba-kun.", potong Hinata cepat.
"Kau yakin?", Tanya Kiba lagi.
"Y-ya.", jawab Hinata.
"Baiklah kalau begitu. Kuharap masalahmu cepat sele..."
"Kiba-kun.", potong Hinata.
"A-ah? M-maaf, Hinata.", ujar Kiba dengan gugup.
"Iie, daijoubu. A-ano, bisakah kau memintakan izin padaku? K-kurasa… Aku perlu cuti kuliah untuk beberapa hari.", pinta Hinata.
"Nani?! Cuti beberapa hari?", Tanya Kiba terkaget-kaget.
"Uhm.", jawab Hinata.
"Haaah… kenapa harus selama itu?", sergah Kiba.
"M-memangnya kenapa?", Tanya Hinata balik.
"Siapa nanti yang akan membantuku menyelesaikan essay?", ujar Kiba merajuk.
Hinata yang mendengarkan Kiba yang tengah merajuk hanya bisa tersenyum lalu terkikik. Kiba yang mendengarnya dari seberang pun senang, karena akhirnya bisa mendengarkan Hinata tertawa kembali.
"Are, kau tertawa. Kalau begitu, baiklah. Akan kusampaikan izinmu, Hinata.", ujar Kiba akhirnya.
"Ha'i. T-terima kasih, Kiba-kun.", jawab Hinata.
"Kalau begitu…Selamat malam, Hinata. Beristirahatlah.", pesan Kiba sebelum menutup panggilannya.
"Ha'i."
Panggilan pun terputus. Senyuman yang tadi sempat terkembang perlahan memudar ketika Ia kembali teringat kejadian tadi sore. Kembali Ia merebahkan tubuh mungilnya ke atas ranjang dan menatap ke arah jendela yang belum tertutup oleh tirai. Ia memandangi langit hitam yang berhiaskan bintang-bintang dan bulan sabit di luar sana. Terus saja Ia menatap dan meresapi langit malam yang ada di balik jendela kamarnya, tiba-tiba terbayang wajah Naruto yang tengah tersenyum lebar ke arahnya seperti saat pertama kali mereka dekat.
'Apa yang sedang kau lakukan sekarang…', gumamnya dalam hati. Perlahan, Ia pun memejamkan matanya dan tersenyum tipis. Ia mulai terlelap setelah setetes air mata lolos dari balik pelupuk matanya.
'…. Naruto-kun.'
"Jadi, kau cemburu padanya hanya karena hal sepele seperti itu?", Tanya Shion enteng.
"Hei, hei! Mungkin kau menganggap hal ini sepele. Tapi sulit bagiku untuk mentolerirnya lagi. Ini sudah terlalu keterlaluan, dan Ak….", ucapan Naruto terpotong ketika melihat Shion menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eh? Kau kenapa sih?", Tanya Naruto heran.
"Ck, ck, ck. Kau ini terlalu kekanak-kanakan sekali, Naruto. Harusnya kau sadar.", Shion menghentikan ucapannya sejenak.
"Sekarang Aku ingin bertanya, apakah Hinata pernah berbohong padamu?", Tanya Shion penuh selidik.
Naruto berpikir sebentar sebelum Ia menggelengkan kepalanya secara perlahan sembari menundukkan kepalanya.
"Nah, apakah dia selalu percaya padamu?", Tanya Shion lagi.
"Tidak. Hinata….dia…", ucapan Naruto terhenti. Ia tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya, Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Naruto. Apa kau pernah berpikir, saat itu ketika Aku pertama kali datang menemuimu di kampus, dan Hinata mengantarkanku ke ruanganmu. Lalu Aku mencegahnya untuk masuk agar kita bisa berbicara berdua di dalam, apakah kau tidak berpikir bahwa Hinata mungkin saja akan cemburu padamu?", Tanya Shion retoris.
Naruto terbelalak seketika mendengarkan pertanyaan Shion. Ia berpikir, selama mereka menjalin hubungan Hinata tak pernah sekali pun menunjukkan sikap cemburu terhadapnya. Padahal selama ini, banyak sekali mahasiswa ataupun sesama dosen bergender perempuan yang menyukainya, bahkan terang-terangan mendekatinya. Namun Ia tak pernah mendengar cacian atau protes dari Hinata sebagai tanda kecemburuan. Yang Ia lihat selama ini adalah Hinata yang selalu tersenyum tulus padanya, Hinata yang selalu mengerti dan menyayangi dirinya. Namun, ketika Hinata akrab dengan seorang laki-laki hatinya langsung terasa seperti terbakar. Sudah berkali-kali Hinata menjelaskan bahwa Ia hanya mencintai Naruto dan tidak ada laki-laki lain di dalam hatinya. Naruto mengetahuinya dari tatapan mata amethyst Hinata, selama ini tak ada setitik kebohongan pun yang terpancar dari sana.
Ia kembali memijat keningnya frustasi. Sementara itu Shion kembali menyesap vanilla lattenya yang mulai mendingin.
"Pikirkan kembali apa yang harus kau lakukan, Naruto.", ujar Shion.
"Aku…", ucap Naruto menggantung.
"…."
"Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana.", ujar Naruto pasrah.
"Kau benar-benar bodoh.", ejek Shion.
"Ya, kau benar. Tampar Aku, pukul Aku, Shion.", jawab Naruto dengan pasrah.
"Kalau Aku bisa, Aku bersedia melakukannya untukmu. Sangat mau. Namun, kurasa Aku tak pantas melakukannya, Naruto.", lanjut Shion.
"…."
Tiba-tiba Shion berdiri dari kursinya dan langsung mengambil tasnya. Kemudian Ia menyentuh dagu Naruto dan menariknya untuk mendongakkan wajah Naruto sedikit agak kasar.
"Dengar, Naruto. Kalau kau menyesal sekarang, itu sudah tidak berarti lagi. Dia mencintaimu dan kau mencintainya. Dia sudah berjuang sejauh ini hanya untukmu. Kau pikir perempuan macam apa dia, hah?!", Tanya Shion dengan nada meninggi.
Naruto tercekat mendengar kata-kata Shion barusan. Namun bibirnya masih terbungkam untuk membalas perkataan Shion.
"Kalau kau serius, lakukan segala yang kau bisa untuk membahagiakannya. Jangan menjadi seorang pecundang.", desis Shion sebelum Ia melepaskan tangannya dari dagu Naruto dan melesat pergi dari kafe tersebut.
Naruto yang masih tercekat dengan kata-kata Shion barusan hanya bisa terdiam membisu, merenung. Ia mengepalkan kedua tangannya erat sambil memandangi cangkir capuccinonya yang setengah kosong. Kemudian, kedua tangannya meremas surai kuningnya acak, pelampiasan untuk merutuki kebodohannya sendiri.
"Sial! Dasar bodoh!", desisnya.
Akhirnyaa di chapter 4 ini saya bikin si naruto frustasi:D /plak. kayaknya chapter depan fict ini bakalan final. ntar gimana nasib NaruHina ya? bakalan happy ending atau sad ending? silakan tebak sendiri.
nah, author Akecchin ucapkan Sankyuu utk readers yang udah mau baca n review. saya akan balas review chapter 3 lalu satu persatu :
Esya. : Sankyuu udah review :) Ikutin terus fict ini yaa
SparkyuRindi : Sankyuu reviewnya :D Semoga chapter ini bisa sedikit menjawab rasa penasaran SparkyuRindi-san
DrunKenMist99 : Sankyuu udah review :) Ini udah diupdate, ikutin terus fict ini yaa
Misti Chan : Sankyuu udah review :) Penjelasannya sedikit banyak saya perlihatkan di chapter ini, ikutin terus fict ini yaa
Byakugan no Hime : Sankyuu udah review :) Ini udah update, ikutin terus fict ini yaa
Ms. X : Sankyuu udah review :) wah, Ms.X san agak nggak suka Shion kah? wkwk, maaf jika konfliknya telat, ini memang sudah dalam rencana awal. saya tunggu saran2 berikutnya :D
hqhqhq : Sankyuu udah review :) chapter ini mungkin sedikit banyak bisa menjawabnya :D
Aizen L sousuke : Sankyuu udah review :) ikutin terus fict ini yaa
Just one word : Review :)
