"Tolong.. Naruto."

"Baiklah!"

-v—

Naruto © Masashi Kishimoto

Chapter 4 : HELP

-v—

"Jadi begitulah—" Uzumaki Naruto tertawa lagi sementara dua sosok lain di ruangan itu menatap dan mendengarkannya penuh perhatian. "Uzumaki Naruto yang hebat ini sudah berhasil membuat si tuan teme-bastard mengatakan kata maaf!" lanjutnya heboh sambil menatap puas ke seluruh ruangan, terutama ke arah Uchiha Itachi dan Tsunade-baachan, tentu.

Ia memang malas sekali melaksanakan hukuman menyebalkan ini. Tapi kalau ia berhasil dan membuat orang-orang tercenggang dan kagum padanya itu 'kan menyenangkan.

Satu-satunya wanita di ruangan itu berdehem pelan untuk menyembunyikan keinginannya untuk tertawa keras. Ia memang yakin sekali dengan kemampuan bocah pirang berisik kesayangannya itu, karena untuk soal yang satu ini Uzumaki Naruto memang nomor satu!

Tsunade menatap Itachi yang menunjukkan raut wajah senang itu. Dan ketika keduanya bertatapan, sang kepala sekolah langsung mengangkat alisnya. Membuat pemuda berambut hitam itu mengangguk faham dan mengangkat suara, "Terima kasih banyak, Naruto-kun. Saya sungguh tak menyangka kau bisa melakukan hal hebat itu," ujarnya dengan nada resmi.

Si pirang mengucek matanya yang basah karena terlalu banyak tertawa tadi, kemudian mengukir cengiran. "Ah, aku memang sudah biasa melakukan ini kok. Santai saja…"

Kening Tsunade berkedut sekali ketika mendengar Naruto mengucapkan kalimat sombong itu.

"Ehem," sang Uchiha berdehem pelan. "Kalau saya boleh tahu, memangnya kesalahan apa yang dibuat Sasuke, sampai dia mau meminta maaf pada Naruto begitu?" tanya Itachi dengan ramah.

Tsunade hampir terjungkal mendengar pertanyaan itu. Naruto sudah menceritakan hal itu padanya beberapa jam sebelum mereka bertemu kakak laki-laki Sasuke tersebut di sini. Tentang hubungan permintaan maaf Uchiha bungsu dengan masalah masa lalu Naruto (dan jika ia tidak menahan diri tadi, pasti memar di tubuh pemuda bermodel rambut aneh itu sudah banyak bertambah).

Jadi ia sangat mengerti betapa hal itu tak baik untuk dibicarakan. Terlebih bersama Naruto.

Wanita dengan iris mata berwarna cokelat madu itu menatap bocah kesayangannya yang kini tengah gugup. Naruto menatap lantai marmer berwarna hijau muda di bawah sana dengan kikuk sambil meremas-remas kedua tangannya. Tsunade menghela napas. Ia harus melakukan sesuatu.

"Itachi-san, bagaimana dengan rencana tentang pendidikan sosial Uchiha Sasuke selanjutnya?"

Itachi berjengit sedikit sebelum akhirnya tersenyum maklum. Pasti ada sesuatu, dan ia ingin tahu masalah apa itu. Tapi sebaiknya ia bertanya hal itu pada Tsunade-sama nanti saat Naruto sudah pergi. Karena tampaknya hal itu sangat mengganggu si pirang, dan Itachi tak ingin membuat pemuda tujuh belas tahun yang sudah membantu adiknya itu merasa tak nyaman.

Dengan mengukir senyum ramah khasnya, ia mengeluarkan selembar kertas dari saku celananya. Sekarang, rencana 'pendidikan Sasuke' untuk besok dulu…

Samar-samar terdengar suara erangan kesal nan malas dari si pemuda bermata biru. Argh, not again…

-X-

Sasuke mendengus entah untuk yang keberapa kalinya pagi itu. Dan saat ia mengingat tugas dari Itachi tadi pagi, ia ingin tertawa sekeras-kerasnya—dengan catatan jika bukan ia yang disuruh mengerjakan tugas aneh itu. Sialan!

Kakaknya yang terkadang brengsek itu memang sangat brengsek. Apa-apaan itu? Menyuruhnya belanja bahan-bahan makanan di supermarket seperti seorang pembantu. Apa lagi ditemani seorang pemuda pirang yang sangat berisik dan tidak mau diam. Rasanya Sasuke ingin mati saja.

"Hei, bastard!"

See? Suara serak-serak basah dengan volume yang tidak kecil itu? Jika Sasuke tidak sedang menyetir sedan Porsche hitamnya yang mahal, pasti ia sudah membenturkan keningnya ke setir mobil berkali-kali. Aargh. Kenapa Tuhan begitu membencinya…?

"Mana supermarket yang lebih kau sukai? Giant or Carefour?"

Kenapa bocah di sebelahnya ini begitu tidak mau diam? Padahal pertanyaan bodoh yang dilontarkannya barusan begitu tidak penting dan… bodoh. Siapa peduli supermarket mana yang akan mereka datangi? Di balik hari indah dan cerah ini ternyata tersimpan begitu banyak kesialan. Damn!

"Hei, teme-bastard!"

"…"

"Sasuke-bastard!"

"…"

Sasuke tak menjawab walaupun diam-diam matanya mengintip gerak-gerik si pirang dari cermin. Oh. Tentu saja bukan karena ia sudah menyukai bocah itu atau apa, hanya saja ia mau melihat kebodohan apa lagi yang akan dilakukan si bodoh ini di dalam mobilnya.

Tiga detik setelah itu Sasuke akan benar-benar menyesali keputusannya untuk tidak menjawab panggilan sang Uzumaki. Karena—

"Sasukee-temee-bastaard!"

—pemuda pirang itu akan menjerit dengan volume tak tanggung-tanggung tiga inchi di sebelah telinganya. Sehingga membuatnya harus mengerem mendadak di tengah jalan karena terkejut dan kesakitan.

Uchiha itu bersumpah akan membunuh Uzumaki Naruto detik itu juga seandainya tidak ada mobil yang membunyikan klakson super kencang dari belakang dengan panik.

Sial, siaal, siaaal!

-X-

"Sakiit, teme-brengsek!"

Uzumaki Naruto meloncat-loncat sambil memegangi kakinya yang nyeri bukan main di basement Carefour yang besar itu. Karena beberapa saat setelah alarm mobil Sasuke berbunyi tanda pengaman sudah diaktifkan dan mobil sudah dalam keadaan terkunci rapat, pemilik mobil itu langsung menginjak kakinya kuat-kuat sambil menjitak kepalanya. Padahal ia 'kan hanya mengenakan sepatu berbahan canvas yang tipis.

"A-auw…"

Uchiha Sasuke memang sangat kejam.

Pemuda berkulit putih itu tak ambil pusing, mungkin karena sekarang ia sudah biasa dengan kebisingan seorang Uzumaki Naruto. Kini Uchiha itu menyender di pintu mobilnya yang mengkilat bersih sambil merogoh saku celananya. Ia meraih selembar kertas notes putih yang terlipat-lipat. Dalam waktu beberapa detik ia sudah mulai membaca isi dari kertas tersebut. Daftar barang-barang yang harus dibelinya.

Tiga.

Dua.

Satu.

"What the hell?"

Sasuke menatap horror ke arah partnernya yang tengah nyengir. Hanya butuh waktu beberapa detik untuk otak jeniusnya mencerna kejadian demi kejadian di pagi ini. Aargh—! Itachi brengsek! Tsunade sialan! Naruto bodoh!

Pantas saja… sekarang tingkah-tingkah tiga orang terkutuk itu pada pagi ini menjadi tidak masuk akal. Mengapa Tsunade memberinya libur sekolah mendadak (bersama Naruto)? Ini hari Senin, demi Tuhan! Kenapa Itachi menyuruhnya berbelanja ditemani pemuda idiot di depannya ini? Kenapa Itachi melarangnya menyuruh orang lain untuk menyelesaikan tugas aneh ini? Juga ancaman Itachi tadi pagi…

"Kalau kau tidak mampu menyelesaikan ini, Uzumaki Naruto akan aniki suruh menginap di apartment kita selama seminggu. Dan acara tutorial ini akan diperpanjang sampai sebulan."

Sialan mereka semua!

Daftar:

1. 4 siung bawang yang wajib ada di dalam saus pizza.
2. 750 gr daging dengan kualitas terbaik untuk steak.
3. 500 gr daging untuk membuat saus spaghetti atau Bolognese.
4. 200 ml sejenis wine di dalam cake Black Forest.
5. 1 pcs cream lezat untuk Black Forest.
6. 1000 gr apel yang paling enak untuk dibuat pie.
7. 1 botol saus yang terbuat dari tiram.
8. 1 pack Vanilli
9. 1 botol rempah-rempah yang paling penting di dalam pizza.
10. 1 pack Emulsifier.
11. 1 botol pengembang kue.
12. 1 pack pengembang roti.
13. 500 gr manisan buah untuk cake bolu.

Sasuke mengirimkan tatapan membunuh untuk pemuda pirang di depannya yang malah mengulum senyuman jenaka. Senyuman itu terlihat bagus sebenarnya, tapi Sasuke sangat membencinya sekarang.

"Tiga belas benda misterius yang harus kau beli," Naruto tertawa pelan dengan manisnya, namun terdengar kejam di telinga Sasuke. "Dan aku di sini bukan untuk membantu tapi untuk mengawasimu. Agar kau menyelesaikan tugas dari kakakmu ini sendirian, tanpa menyuruh orang lain."

Si Uchiha bungsu menarik bibir atasnya sedikit sambil memutar bola matanya. Lalu mengangkat suara dengan nada sinis, "Sudah tak ada lagi?"

Naruto terdiam sejenak sebelum menjentikkan jarinya sambil tersenyum lebar. "Orang-orang (termasuk aku) boleh membantumu, kalau kau mengucapkan kata "minta tolong" dengan baik dan sopan. Aku sendiri yang akan menilai hal itu nanti," ujar Naruto sambil tetap tersenyum lebar.

Sasuke melengos sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung besar itu.

"Hei~! Tunggu aku, Sasuke-bastard!"

-X-

Sudah satu setengah jam dua pemuda berbeda watak dan penampilan itu berkeliling ke seluruh penjuru Carefour. Waktu yang cukup lama, tentu. Tapi jika dilihat dari isi keranjang belanja yang di dorong oleh sang Uchiha, mereka seolah-olah baru dua menit yang lalu menginjakkan kakinya di bangunan ini.

Sekotak Whipped Cream dan Emulsifier. Benda nomor 5 dan 10.

Ya. Kenyataannya memang hanya dua benda itulah yang diketahui oleh Uchiha Sasuke. Dan bukannya ia belum lelah atau tidak ingin cepat-cepat pulang, karena sebenarnya kakinya mulai pegal dan perutnya terasa keroncongan. Ia belum sarapan apa pun sejak tadi. Dan belum lagi berbagai macam tatapan dari orang-orang di sekelilingnya.

Gadis-gadis yang menatapnya penuh cinta, para pemuda yang menatap style berpakaiannya dengan kagum sekaligus iri (kalau ada pemuda yang terkesan sangat cool dan keren lewat, tentu saja gayanya harus diperhatikan baik-baik supaya bisa ditiru), dan yang terakhir ini adalah yang paling memalukan; tatapan-tatapan aneh dari para pegawai supermarket yang berseragam itu.

Mungkin mereka merasa sangat heran dengan dua pemuda keren ini, sejak berpuluh-puluh menit yang lalu hanya mondar-mandir saja sambil melihat-lihat. Sementara barang di keranjang dorongnya tidak bertambah. Sasuke sungguh merasa jengah dan sedikit kesal. Karenanya sesekali ia mengirimkan death glare mengerikan miliknya pada orang-orang itu.

Dan bagaimana dengan kabar partner pirangnya?

Baik-baik saja, dan masih terlampau ceria. Loncat sana, loncat sini. Sesekali bersenandung riang, sesekali terkagum-kagum melihat suatu benda. Pemuda bermata biru itu bahkan tak mempedulikan para manusia yang memperhatikannya sambil menyernyitkan dahi. Sasuke sih tidak peduli dengan apa saja yang dilakukan oleh "tutornya" tersebut, seandainya ia tidak berteriak memanggil namanya.

"Hei, bastard! Coba kau kemari, ikan-ikan di akuarium itu ada banyak sekali!"

"Hei, teme! Coba lihat, ternyata kepiting itu masih hidup. Capitnya bergerak-gerak!"

"Teme-bastard! Mencium wangi teriyaki ini membuatku lapar."

"Waah, coba kau lihat! Ada ramen cup rasa baru, teme…!"

Ingin Sasuke berteriak, apa urusanku! Tapi sayangnya ia memiliki wajah stoic yang harus dipertahankan, juga sebelas benda didaftar teka-teki itu yang harus dipikirkan. Sasuke menghela napas panjang. Ia bahkan tak pernah sekali pun membuka buku resep masakan, bagaimana ia bisa tahu jawaban ini?

Rupanya Itachi benar-benar sudah menyiapkan rencananya matang-matang, sehingga ia benar-benar tak bisa melarikan diri. Sial sekali.

Satu setengah jam kemudian… keadaan tidak bertambah baik sama sekali.

Keranjang dorongnya hanya bertambah satu macam barang; sebotol saus tiram, benda nomor 7. Bodoh sekali dia. Padahal jawabannya sudah ada di depan mata (1 botol saus yang terbuat dari tiram), dan ia baru menyadari tiga jam kemudian saat ia membaca ulang daftar belanjaan itu.

Tapi tetap saja. Satu benda lagi tercoret, tidak membantu banyak.

Masih ada sepuluh benda lagi, dan ia benar-benar buntu. Uchiha itu telah membaca kertas putih—yang kini sudah kumal—itu puluhan kali, ia sudah memutar otaknya dan berusaha mengingat-ingat hal-hal tentang masakan yang pernah didengar atau dibacanya. Ia bahkan sudah merenung sambil memejamkan mata a la Hercule Poirot yang tengah memecahkan kasus, berusaha mendapatkan pencerahan. Tapi hasilnya tetap nol!

Aargh—! Ia sangat frustasi kini.

Ditambah dengan tatapan-tatapan aneh orang yang bukannya berkurang malah bertambah, berkali-kali ditanya oleh sang pramuniaga "hendak mencari apa?", perut yang terus berbunyi minta diisi (kenapa ia tidak sarapan sih?), dan yang paling parah… sang tutor yang semakin cerewet dan rewel.

"Teme! Aku sudah sangat lapar, cepatlah kau selesaikan tugas sial dari kakakmu ini!"

"…"

"Aku benar-benar sudah lelah, bastard! Dari tadi jalan-jalan keliling terus tak ada tujuan."

"…"

"Sasuke-bastard! Aku benar-benar ingin keluar dari supermarket sialan ini sekarang!"

"…"

"Aargh~! Perutku sudah bunyi berkali-kali, teme! Ayo kita keluar dari sini, dan pergi ke McD atau Pizza Hut. Aku la~paar…!"

"…"

A-aah. Sebuah cheese burger dengan extra tomat, juga segelas Sprite dingin. Atau satu pan salami pizza dengan extra cheese, ditambah segelas jus tomat dingin. Siapa yang mampu menolak? Ia pun, for the God's sake, sudah sangat ingin keluar dari sini dan segera sarapan (yang telat).

"Te~mee…"

"Apa?" Dengan gusar, Sasuke menoleh ke arah pemuda pirang yang sedari tadi merengek-rengek itu. "Apa maumu?"

"Aku lapar, kita keluar dari sini!"

Sasuke mendengus pelan, "Aku juga maunya begitu," setengah menggerutu, pemuda itu kembali berjalan sambil mendorong troli yang mendekati kosong.

Uzumaki Naruto mengejar "muridnya" dan kemudian menumpukan kedua tangannya di jaring-jaring besi troli. "Kalau begitu, cepat minta tolong padaku untuk mengartikan daftar belanjaanmu itu. Apa susahnya, sih?"

Pemuda berkulit putih itu terdiam melihat wajah kecoklatan partner-nya yang cemberut; menyatukan kedua alis dan memanyunkan bibir. Tentu bukan karena ia terpesona atau menganggap wajah merajuk Naruto itu cute. Tapi ia merasa pertanyaan terakhir pemuda pirang itu menyentil hatinya.

Ya… apa susahnya meminta tolong?

"Bastard," suara serak-serak basah pemuda bermata biru itu kembali terdengar. "Aku itu heran sekali denganmu. Toh, meminta tolong padaku tidak akan menurunkan harga dirimu barang sedikit pun, 'kan?"

Sasuke kembali tercenung. Uzumaki Naruto yang berisik itu benar, ia tak bisa menyangkal hal itu. Tak ada yang salah dengan meminta pertolongan orang, toh memang ada pepatah yang mengatakan kalau manusia tak bisa hidup sendiri. Hanya saja…

Sasuke melirik ke arah sosok pirang yang kini sedang membaca ingredients sebungkus potato chips.

Hanya saja, biasanya… ia, Uchiha Sasuke tak pernah meminta tolong pada siapa pun. Ia sempurna, ia bisa melakukan semuanya dengan tangannya sendiri. Dan bahkan jika ia membutuhkan orang lain, ia akan memerintah dan bukannya meminta tolong. Ia hampir tidak pernah meminta bantuan orang lain.

Pemuda berambut hitam itu menghembuskan napas berat. Tak ada salahnya ia mencoba untuk mengucapkan kalimat langka itu pada Naruto. Mungkin pemuda bermata biru itu memang memiliki aura lain yang tak bisa dilawan oleh Sasuke. Dan karena kemarin ia sudah mengucapkan permintaan maaf pada pemuda itu, pasti meminta bantuan tidak akan lebih sulit dari yang kemarin.

Sasuke melangkahkan kakinya ke arah sosok pemuda yang tak lebih tinggi darinya itu untuk menepuk bahu berlapis kaus lengan pendek berwarna hitam-merah itu pelan. Dan saat Naruto menolehkan kepala ke arahnya, ia mengangkat suara dengan nada sesopan mungkin, "Tolong terjemahkan daftar belanjaan sialan itu."

Si pirang mengangkat alis pirangnya sedikit sebelum berujar santai, "Panggil nama orang yang kau mintai tolong itu, teme."

Sasuke menarik napas, berusaha untuk sabar dan tabah. "Tolong terjemahkan daftar belanjaan sial itu," ada jeda sebentar, "Naruto."

Dan Sasuke merasakan sebuah tepukan lembut yang menyenangkan mendarat di bahunya. "Aku salut padamu, Sasuke."

Dan Sasuke tertegun saat melihat partnernya itu mengulum senyum yang paling tulus untuknya.

-X-

Pada akhirnya Sasuke hanya berjalan santai sambil mendorong troli yang makin lama makin terisi. Ia hanya memperhatikan sosok pirang yang memakai celana jeans biru tua itu "meloncat" ke sana dan kemari untuk mengambil barang-barang yang di suruh.

Bawang Bombay, daging cincang, daging sapi bagian has dalam, sebotol kecil rhum, satu plastik apel Granny Smith, satu kotak kecil vanilli, sebotol oregano, satu pack ragi roti, sebotol baking soda, dan satu bungkus sukade yang berwarna-warni.

Sasuke mendengus melihat penjaga kasir tersebut membungkus belanjaannya. Ternyata hanya semudah ini, kenapa tidak sedari tadi saja ia meminta tolong pada pemuda pirang itu untuk membantunya? Memang terkadang, orang jenius pun masih harus banyak belajar. Dan Sasuke mengakui kalau tindakannya sepagian ini sangat bodoh.

Setelah wanita penjaga kasir itu mengembalikan kartu kreditnya, pemuda bermata hitam itu menyusul sang Uzumaki yang sudah menunggu di pintu depan sana sambil membawa kantung plastik putih berisi belanjaanya. Ia dapat melihat senyum lima jari yang terukir di wajah kecoklatan tersebut.

"Jadi," Naruto mengangkat suara setelah jarak mereka berdua sudah tinggal dua meter. Bibirnya masih tersenyum. "Kau mau mentraktirku di McD atau Pizza Hut?"

Awalnya Sasuke ingin tidak menjawab pertanyaan itu dan langsung berjalan menuju basement tempat Porsche hitam-nya terparkir, tapi beberapa detik kemudian ia mengubah keputusannya, "Pizza Hut."

"Yay~! Thanks, Sasuke-teme…"

"…hn."

-X-

Tinggalkan review sebelum lanjuuut~ Pretty Please?