-Disclaimer-
VOCALOID © Yamaha Corp

-Fiction-
PURE LOVE © dark 130898

Genre: Romance

Rate: T

Pairing: Masih labil. RinLen, LenMiku, dll. Rin bukan figuraan!

Summary: Aku sangat mencintai dia. Rambut panjangnya yang dikuncir dua itu memang indah. Tapi aku tak bisa mengatakanya. Dan bagaimana dengan Rin?Cinta tercipta dengan sendirinya, dan tidak bisa dihilangkan dengan sengaja.


Chapter 4

Check it out!

Hah... untung sudah hari baru. Chapter baru. Tapi bukan pacar baru tentunya. Bisa dibilang aku lelaki polos yang setia. Miku. Dialah satu- satunya wanita yang memilikiku. Miku percaya padaku. Aku sendiri berusaha mempercayainya. Tapi masalahku dengan Rin belum selesai...

Aku benar- benar tak ada niat untuk menyembunyikan statusku bersama Miku dari lebih baik Rin berhenti mencintaiku. Daripada menaruh harapan kosong padaku. Tapi... bagaimana caranya membuat Rin berhenti mencintaiku? Di chapter sebelumnya kan aku sendiri yang bilang kalau cinta itu tidak bisa dihentikan sesuai kemauan kita sendiri. Tapi...

Aha! Aku tahu!

.

.

.

" Rinny!" Miku mengagetkan Rin dari belakang. Yah, ini semua rencanaku. Aku tahu Rin membenci Miku. Karena itu aku merencanakanya. Doakan aku, semoga berhasil..

" Kenapa?" Rin menanggapi dengan juteknya.

" Kok tampangmu begitu sih? Jelek, ah! Pantas saja Len lebih memilihku. Ah, betapa beruntungnya diriku ini~" Miku memanas- manasi Rin. Good job, yasai- chan!

" Apa sih! Kalau ingin membangga- banggakan Len-mu itu, lebih baik jangan di depanku. Kau sendiri kan tahu. Aku memang saudara kembarnya dan tiap hari tinggal bersama. Jelas aku lebih mengenal Len daripada kamu!" Berhasil! Rin terpancing oleh omongan Miku yang... uh, nggak penting sama sekali.

" Apa kau bilang? Tapi kalian tidak tidur sekamar, kan?"

" Menurutmu?" Jawab Rin jutek.

" Tentunya tidak kan? Len-chan itu masih suci... Tidak mungkin dia menghianatiku." Lanjut Miku dengan nada bicara yang mengundang panci, penggorengan, dan kawan- kawannya untuk melayang. Well done, My Miku.

" Sudah, ya. Lebih baik kau jangan menunggu Len agar pulang bersamamu. Karena aku dan Len akan kencan hari ini. Mungkin Len akan pulang larut. Atau pulang pagi karena menginap di hotel bersamaku." Lanjut Miku.

" Jaga mulutmu, Hatsune."

" Ah, kau ini naif sekali... Pantas saja Len memilihku." Miku menepuk pundak Rin, lalu pergi meninggalkannya. Oh iya. Apa kalian tahu dimana aku bersembunyi? Jangan bilang siapa- siapa, ya. Sekarang aku bersembunyi di atas pohon mangga. Eh? Lho? Gyaaa! Semuuut!

BRUAKK!

" ..."

" Uh... sa-sakit..." Kataku sambil mengelus- elus lenganku yang sakit. Sakit sekali... Bayangkanlah! Bayangkan! Jatuh dari pohon mangga yang tingginya setengah gedung sekolahku karena semut! Duh, bagiku itu nggak elit banget, kawan. Apalagi di depan 2 gadis yang... uh. Status mereka denganku belum jelas..

" Len?" Kata Rin dan Miku kompak. Lho? Kompak? Sejak kapan? Oh, iya! Harusnya aku bersembunyi dari Rin sekarang! Aku jatuh di saat yang tidak tepat, sobat...

" Eh? Ha,Hai.. Miku.. Rin... tu,tumben kalian sama- sama." Kataku mencairkan suasana. Aku mencoba bangkit, walau sakit di lenganku terus menyiksa. Ya! Aku ini lelaki! Masa' kalah Cuma karena jatuh dari pohon? Nggak banget, deh, ciin... "Pe,Permisi.. sepertinya aku harus ke UKS..." menampilkan tampang tanpa berdosa, semudah itu aku meninggalkan mereka. Karena satu- satunya yang perlu dicemaskan hanyalah lenganku. Jangan- jangan patah...

"..." Miku dan Rin tidak mengomentari kepergianku menuju UKS.

" Permisi... Kiyoteru- sensei..." Aku berjalan menghampiri Kiyoteru sensei yang sedang asik baca koran di mejanya.

" Kagamine pria?" Orang itu melepas kacamatanya, menoleh ke arahku.

" Jangan panggil begitu. Aku punya nama, sensei.."

" Ah, aku lupa namamu. Siapa sih? Biar kuingat- ingat... oh, iya! Len!"

" Payah.."

" Kenapa,Len? Jarang- jarang kau datang ke sini."

" Lenganku sakit, sensei..."

"Coba kulihat." Kiyoteru melipat lengan seragamku, menyuruhku duduk di sebelahnya. Dia memperhatikan luka ini dengan seksama, sesekali menekannya. " Sepertinya memar ini cukup serius...Lagian kamu sendiri yang salah! Kenapa pake jatoh dari pohon sih!" Lho? Apa ini? Aku ini korban! Kenapa sensei geblek ini malah menyalahkanku!

" Hei! Kenapa kau menyalahkan aku! Semut- semut di sana yang sepertinya nggak menyukai keberadaanku!"

" Tetap saja itu salahmu! Kenapa pake naik pohon segala?" Sial, guru ini bukanya membantu.. malah ngajak ribut..

" Sudahlah! Kau bisa atau tidak membantuku, sih!"

" Hm.. baiklah. Tunggu."

Kiyoteru mengambil sesuatu dari lemarinya, lalu kembali duduk di sebelahku.

" Sini... dasar anak mama!"

" Apa kau bilang!" Aku berontak sedikit, Kiyoteru menekan lenganku dengan kuat, dan... "GYAAAA! SAKIIIT!"

" Makanya, sudahlah. Tanpa bantuanku, kau tidak bisa apa- apa kan!" Ah, dasar guru sialan!

" Terserah."

.

.

.

" Kau mau pulang sekarang, Len? Lebih baik kau di sini dulu. Habis kakimu juga terluka. Kalau terjadi sesuatu padamu, aku tidak bertanggung jawab, ya~"

" Baiklah..."

Ya. Karena dia bilang begitu, makanya kuputuskan untuk tinggal di sekolah dulu. Dan terpaksa aku membatalkan kencan dengan Miku. Baru saja aku menelepon gadis itu untuk membatalkan kencan kita.

Kriieeet..

" Len? Bagaimana lenganmu?"

" Lumayan. Lebih baik dari tadi. Belum pulang, Miku?"

" Mana mungkin aku bisa meninggalkan orang yang kucintai saat dia sedang menderita?" Miku duduk di sampingku. Suasana hening tercipta di antara kami.

" Len..."

" Hm?"

" Masih sakit? Kakimu?" Miku menghancurkan atmosfer itu.

" Kakiku sidah tidak apa-apa. Hanya saja... lenganku masih agak sakit. Aku memang bodoh, ya, Miku." Miku menatapku bingung, "Kalau saja aku tidak jatuh dari pohon, pasti rencana kita akan sempurna, ya." Lanjutku.

" Kau ini bicara apa, sih?" Miku menatapku, mendekatkan wajahnya padaku, dan tangannya mengusap pipiku dengan lembut. " Len..." Aku hanya bisa terdiam, menanti kalimat lanjutan Miku. "Aku mencintaimu. Kau berharga bagiku. Aku takkan pernah melepaskanmu. Kau juga kan?"

" Hm... i,iya.." Jawabku dengan pipi yang luar biasa merah.

" Dan kau harus tahu, tidak suka kau dekat- dekat dengan Rin. Meskipun dia saudaramu." Sambung Miku dengan nada ketus. Sepertinya dia benar- benar tidak suka aku akrab dengan Rin. Yah, aku tidak bisa melawan melihat sorot matanya yang... ukh, susah dijelaskan.

Hujan...

Langit sore jadi makin gelap ditutupi awan. Berdua dengan Miku di sekolah yang sepi ini. Mungkin tidak ada orang lagi selain kami di sekolah ini. Siapa sih, yang mau terus- terusan di sekolah sampai hampir malam? Yah, tadinya aku dan Miku juga mau cepat pulang. Tapi hujan turun dengan derasnya. Hei, hujan! Kau itu mengganggu!

" Miku, sepertinya mau tidak mau kita harus pulang sekarang."

" Yakin? Kakimu?"

" Aku tidak ingin kau pulang malam. Apalagi bersamaku, pacarmu."

" Tidak usah memikirkan aku. Di rumah Cuma ada pembantu dan satpam rumah. Aku bosan di rumah. Lebih baik aku di sini bersamamu."

" Tapi... kita tidak bisa. Yah, kau pasti mengerti, kan? Sebentar lagi benar- benar malam. Aku tidak mau dituduh yang macam- macam kepadamu."

" Tidak akan ada yang bisa menfitnah kita. Lagipula, kalau kau ingin melakukannya denganku, aku tidak keberatan. Aku akan merahasiakan hari ini dari semua orang.." Miku memasang wajah menggoda. Tapi aku tidak boleh tergoda sekarang ini. Kenapa? Karena ini fict rated T! Dan authornya belom berpengalaman nulis fict rated M!

"Miku, jangan bercanda."

" ha ha. Kau ini.."

Perlahan aku coba berdiri, mengulurkan tangan pada Miku, dan membantunya berdiri. " Ayo pulang."

Kami berjalan keluar sekolah, terus bergandengan tangan melawan dingin hujan.

Romantis...

Itu yang kurasakan.

Untuk pertama kalinya sejak Miku jadi pacarku. Berdua. Tanpa ada satu pun yang mengganggu kami. Saling memiliki satu sama lain. Miku yang biasanya sibuk di klub menyanyi dan klub cheers... kini hanya sibuk untukku. Miku yang selalu jauh meskipun telah jadi pacarku... kini aku sadar betapa dekatnya kami. Wangi rambutnya yang lembut ini tercium jelas di hidungku. Rasanya aku enggan melepas tangan Miku. Miku membuat semuanya indah. Miku yang membuat memar di lengan dan kakiku sembuh. Rasanya aku ingin menghentikan waktu. Agar tetap begini bersamanya, tanpa ada perpisahan selama. Benarkah gadis sempurna ini pernah bertemu denganku 8 tahun yang lalu..?

" Len?"

Hah... masa muda yang indah... Untung aku merasakan cinta di saat yang tepat, dengan gadis yang tepat pula..

" Leeen?"

Kau harus merasakannya. Hidup ini indah, kawan..

" Len? Heeeei! Kau ini sedang memikirkan apa sih?"

Ya ampun. Aku tidak sadar. Sepertinya Miku telah memanggilku dari tadi.

" Kita sudah sampai di rumahku." Kalimaat itu benar- benar membuyarkan lamunanku. Ha? Oh, oya. Sekarang kami sudah berdiri tepat di depan rumah Miku. Ya. Seperti yang kalian pikirkan. Miku harus masuk ke rumahnya. Dan aku harus berjalan sendiri ke rumahku yang masih 800 meter lagi. " Mau masuk dulu?" tawar Miku.

" Ah, tidak usah. Terima kasih. Tapi aku harus cepat pulang. Di rumahku kosong, tidak ada siapa- siapa."

" Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa besok, Re-kun." Miku mendekat ke arahku, menatap mataku dalam- dalam.

Ya. Aku tahu artinya. Aku mencium Miku penuh perasaan. Mataku terbuka sedikit –samar samar melihat seorang lelaki keluar dari rumah Miku. Warna mata dan rambutnya sama dengan Miku. Malu, aku melepa ciuman kami.

" Siapa?" Tanyaku sambil menunjuk lelaki itu.

" Itu? Dia itu kakakku, Mikuo. Tidak usah malu. Gaya pacarannya jauh lebih 'parah dan gila' dari kita. Oyasuminasai, Re-kun.."

" Ya. Have nice dream, Yasai- chaan.."

Miku pun masuk ke rumahnya. Aku? Aku melanjutkan perjalanan menuju rumah. Tunggu. Sepertinya da sesuatu yang kulupakan. Apa tadi aku bilang " rumahku kosong, tidak ada siapa- siapa." pada Miku? Apa benar rumahku kosong? Tunggu dulu...

"RIIIIN!"

Aku langsung berlari menuju rumah. Tak peduli meskipun kakiku sakit lagi. Yang penting aku harus cepat sampai di rumah. Jangan sampai Rin marah padaku lagi...

Chapter 4

-Tzuzuku-


Puha.. chapter ini epik tenan...

Saya ngerjain chapter ini sampe hampir sebulan. Habisnya otak saya lagi nggak stabil, dan... agak sibuk. Ya. Agak. Jujur saya lagi mentok.. Nggak tau lanjutannya mau kayak gimana. Sekarang Len melupakan Rin... (= =). Tapi tenang aja. Saya akan menjadikan Len sebagai lelaki adil nan bertanggung jawab!

Saya butuh usul dari readers buat kelangsungan hidup fict ini...

Cecania Kurishiyu: MikuXLen? Hm... boleh. (Lho?)

Ai-chan Kagamine: RinXLen? Hm... boleh. (Lho?)

ReiyKa: Iyaaaaa~ Maap, saya lupa. Kalo chapternya banyak, jadi sering lupa- lupa sama cerita di chapter sebelumnya... gomenasaaaai.. Kalimat itu saya ralat jadi 8 tahun yang lalu. Sekarang ini Rin, Len, Miku, dkk masih 13 tahun. Terus 8 tahun yang lalu, Miku ketemu sama Len (waktu usia mereka 5 tahun).

Yuki Arakawa: maaap~ Nggak sempet nge-cek ulang. Saya buru- buru ngapdet..

Maap nggak semuanya sempet di bales. Tetep saksikan kehidupan nista mereka, ya~ Makasih yang udah bersedia baca fict (yang mungkin typo, OOC, dan nista) ini. Apa lagi yang mau ngasih riview. Hontou ni domo arigatou gozaimasu.

Yup, seperti biasa, minta riview-nya~ ((banyak riview, banyak rejeki))