Calon Ayah

.

.

.

.

Yoongi bergidik ngeri melihat tingkah Jimin saat ini. Suaminya itu hanya terus tersenyum sepanjang hari. Kadang-kadang dia akan memanggil nama Yoongi dengan nada manja sambil mengelus-elus perutnya yang besar. Yoongi geli, serius. Tapi Yoongi lebih merasa takut sih melihat perubahan Jimin yang aneh itu. Sang istri sudah tahu, kalau suaminya sedang bertingkah aneh pasti dia sedang menginginkan sesuatu?

Bagaimana kalau Jimin ingin membuatkan adik untuk calon anaknya?!

Hus! Ngawur saja Yoongi.

Tapi, lihat saja wajah mesum Jiminnya. Ingin Yoongi adu dengan pantat wajan saja rasanya.

"Kenapa sih?" sungut Yoongi. Jimin tidak menjawab. "Jimin kalau tidak mau jawab juga aku gigit nih bibirnya."

"Auw, mau dong digigit,"

TAK!

"Aduh, sakit!"

"Makanya jangan mesum!"

Jimin masih mengelus kepalanya yang masih terasa panas akibat pukulan dari tangan kecil Yoongi. "Kamu kan lagi hamil, yang. Jangan galak-galak nanti nular sama anaknya."

Yoongi memberengut, "Siapa yang duluan rese?"

Jimin meluruskan posisi duduknya, sepenuhnya menghadap Yoongi yang berada di depannya. Dia membawa tangan Yoongi menuju perutnya. Menggerakan tangan Yoongi dengan gerakan memutar. Sangat lembut hingga membuat Yoongi nyaman. "Aku baca di buku kehamilan punyamu. Katanya kita sebagai orangtua harus tahu kapan 'tendangan pertama' calon anak kita." Jelasnya.

Yoongi tersenyum kecil. "Jimin aku baru mengandung beberapa bulan. Memangnya sudah bisa terasa 'tendangan pertama' itu?"

"Aku sih bacanya begitu,"

"Kalau dokter kandunganku bilangnya apa?" tanya Yoongi.

"Hemm,"

Yoongi menunggu Jimin menjawab, tangan mereka masih melakukan putaran di atas perut Yoongi. "Sekitar usia 25 minggu."

"Dan usia kandungan aku baru 23 minggu. Itu artinya—"

Yoongi dan Jimin tiba-tiba terdiam. Tangan mereka masih berada di atas perut Yoongi. Dan baru saja, baru saja mereka merasakan sesuatu menyundul dari perut Yoongi. Pasangan itu bertatapan. Masih mencari kebenaran tentang apa yang mereka pikirkan.

Terasa lagi!

Kali ini dibarengi dengan cekikikan Yoongi. Jimin menatap takjub pada wajah istri tercinta. "Itu… 'tendangan pertama'?"

Yoongi masih cekikikan tetapi kepalanya mengangguk, "Geli sekali rasanya."

"Ya Tuhan! Aku merasakanya! Aku merasakan kehadiran anak kita!"

Rasa bahagia dan haru tidak bisa Jimin sembunyikan dari wajahnya. Anaknya hidup di dalam perut Yoongi dan baik-baik saja. Tendangan itu seolah memberitahukan pada Jimin kalau dia ada dan tidak sabar untuk menyapa ayahnya.

"Kau senang, ayah?"

Jimin kembali menghadap wajah Yoongi. "Sangat. Aku sangat senang dan tidak sabar untuk menanti kehadirannya."

"Aku juga senang. Setiap malam aku selalu memimpikan kehadirannya, calon anak kita."

Jimin tersenyum kemudian beralih untuk mencium perut Yoongi. Dia berbisik, "Nak, cepatlah lahir. Ayah dan mama menunggumu di sini. Kita akan menjadi keluarga yang bahagia. Aku mencintaimu."

Yoongi terharu melihat cinta Jimin untuk calon anaknya. Dia juga berdoa dalam hati supaya selalu diberikan kesehatan. Jimin kembali mendongak, ia mengusap lembut wajah Yoongi. "Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu."

Jimin baru saja akan mengecup bibir Yoongi kalau saja tendangan itu tidak dirasakan lagi oleh istrinya. "Hihihi, geliiiii"

Jimin ikut tertawa dan mengusap perut Yoongi, lagi. "Kamu cemburu ya mamanya mau dicium ayah?"

"Gombal ah."