Chapter 4 di update
Am ucapin banyak terimakasih buat yang udah review, terutama yang udah ngasih saran dan ide-ide yang sangat penting bagi am, agar fic ini selesai dengan tidak ada hambatan.
By the way, ini the last chapter
Ucapan terimakasih am,am persembahkan untuk:
Uzumaki, Wiki Milk, Naruto Gadungan, Satsuki-Chan, DinarutoUzuakinuzuka, Tori Nadeshiko, D3vilovers, , Namikaze-tania-chan, Namikaze Hana, Seichi, Chido Rokuro, NeeNao. Felice, Astre Fortine, Syeren,, Crunk Riela Chan, I Hate Sakura, Haru Glory, Mugiwar Piratez, halli Ayumi, Katsugi Reika, NaruLuvHina, Yupi Akaiyuki-kurosaki, Hokage Pontianak, Mimi Aira, Little Orange Fox, Hinata-chan, Uchiha Himeka, Aline Light, Magrita lovesnaru hina,Saya menangis, Kobayashi, dan Aldina Chiss
Terimakasih atas ide dan reviewnya.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typo, gaje, OOC,OC, Ending yang aneh
Am harap para reader yang baca fic ini bersedia ngikutin alur sampai masih bersedia mereviewnya. Karena jujur saja ini chapter terpanjang dan tergaje tyang pernah am buat.
Yosh!
Happy reading!
Tersenyumlah untuk kami!
Chapter 4
Seandainya Naruto tahu tanpa harus diberi tahu, dan ia sedikit lebih peka terhadap apapun yang ada disekitarnya, apa dia masih tidak mau peduli pada Hinata yang selalu tersenyum saat hatinya menangis?
Hinata yang selalu menjadi pihak yang terabaikan tapi tetap ingin mencoba untuk sedikit lebih dipedulikan
Hinata yang memegang satu harapan yang walau sangat kecil, tapi begitu sulit untuk ia jangkau
Apakah Naruto akan memahami bagaimana perasaan Hinata saat dirinya lebih memperhatikan perempuan lain?
Sangat sakit dan menyayat. Tapi apakah Naruto juga tahu kesakitan macam apa yang dirasakan Hinata. Tidak kan?
Semoga Naruto menyadarinya kelak. Menyadari pengorbanan Hinata yang sudah tidak bisa lagi dihitung berapa banyaknya. Semoga Naruto juga menyadari perbuatannya yang telah menyebabkan anak seusia Aya berperilaku lebih dewasa dari umurnya. Bukan sebuah prestasi!
Karena hal ini mengorbankan kebahagiannya. Karena setiap anak perlu sebuah masa kecil yang bahagia agar dia dapat mengenangnya
.
.
.
Hinata terus memandangi gerbang rumahnya. Berharap sebuah mobil yang Familiar muncul dan membunyikan klaksonnya agar hinata bersedia terbangun dan membukakan gerbang untuk suaminya.
Tapi Naruto tidak pernah memberi Hinata kesempatan untuk sekedar melakukan hal kecil seperti itu. Bahkan Itu sudah menjadi hal yang sangat tidak mungkin terjadi. Berapa lamapun Hinata terjaga di depan pintu , Naruto tidak akan pulang. Itu kenyataannya
Sebenarnya apa yang ditunggu Hinata? Bukankah ia tahu benar bagaimana akhir penantiannya yang selalu di kecewakan? Kenapa ia harus menyakiti dirinya sendiri dengan menungggunya pulang?
Mungkin karena Hinata mempercayai teori yang menyatakan 'Manusia akan berubah' tapi apakah teori ini berlaku juga bagi Naruto yang hanya merubah dirinya untuk Sakura? Ya kemungkinannya sangat kecil. Dan sekecil apapun, Hinata akan tetap mencoba.
Angin musim kemarau membuat Hinata sedikit menggigil. Matanya tak beralih sedikitpun dari gerbang itu. Beberapa kali Hinata menggosok-gosokan kedua tangannya. Mencoba menciptakan hangat dari gosokan itu. Bibirnya yang sedikit pucat tak henti mengucapkan kalimat yang seolah sudah menjadi mantra dari waktu ke waktu
"Naruto-kun, pulanglah!"
.
.
.
Pukul satu dini hari, Naruto pulang. Pintu terbuka pelan .
Hal pertama yang Naruto lihat adalah Hinata yang tertidur di kursi kayu. Menunggunya lagi. Beberapa kali Naruto melarangnya untuk menunggunya seperti sekarang ini. Namun Hinata selalu saja tidak menurut. Mungkin sifat keras kepalanya ini adalah sifat yang turun dari klannya, Hyuuga.
Naruto sedikit membungkuk. Meneliti wajah Hinata yang terhalang rambut indigonya. Lalu jari Naruto menyingkirkan helaian rambut itu. Dan dengan jelas ia bisa melihat wajah Hinata yang agak sedikit pucat. Ragu… Naruto mengusap pipi Hinata.
"Bangun! Aku sudah pulang Hina-chan!" Bisik Naruto
"Nghhh?" Hinata membuka matanya. Dan melihat Naruto yang tersenyum lembut
"Aku sudah bilang jangan tunggu aku kan?" Kata Naruto pelan
Hinata tersenyum kaku lalu bilang…
"Aku istrimu." Jawaban yang selalu Naruto dapat dari isterinya.
"Apakah semua isteri selalu melakukan ini?" Tanya Naruto. Hinata bangkit. Warna merah muda menapaki pipinya saat ia ingat sudah lama ia tidak sedekat ini dengan Naruto.
"Tidak tahu." Jawab Hinata.
Naruto kembali berdiri dan berjalan
" Ayo tidur!" Katanya.
.
.
.
Aroma lavender memanjakan penciuman Naruto saat kamarnya tebuka. Hinata kembali merona saat menyadari Naruto menatapnya lagi.
"Bolehkah lain kali kau tidak menyemprotkan parfum aroma lavender? Aku lebih suka parfum beraroma Sakura." Lagi-lagi Naruto tersenyum lembut
Hinata mengangguk. Apa yang lebih indah selain saat suaminya tersenyum seperti tadi. Hinata sangat mengaguminya.
"Ba-baik Naruto-kun"
Naruto menuju lemari yang berisikan piyamanya. Lalu ia mengganti kemejanya dengan piyama putih polos.
Hinata tersenyum senang mengingat Naruto yang berkali-kali tersenyum padanya. Bagi Hinata itu sudah cukup untuknya. Jadi ia merasa tidak perlu bersedih hati hanya karena Naruto lebih menyenangi parfum beraroma Sakura di bandingkan parfum lavender kesukaannya.
Dan sunyi menelan mereka.
.
.
.
Meregangkan Tubuhnya, Hinata memulai hari baru dengan senyuman simpul. Disampingnya sudah tidak ada Naruto.
Hinata berjalan mencari sosok Naruto. Rasa tenang menyelimutinya saat ia melihat suaminya yang menunduk di ruang tengah.
Hari munggu. Naruto tidak mengenal libur sebelumnya. Tapi kenapa hari ini ia tidak ke kantor seperti hari libur biasanya?
Tidak memusingkan alasan kenapa Naruto tinggal di rumah, Hinata kembali ke kamarnya untuk merapikan kamar
Dreeeet…dreeeeet…dreeeet bunyi getar hp Naruto terdengar. Hinata mencari-cari sumber getaran itu. Dan akhirnya ia menemukan Hp Naruto di bawah bantal.
Berfikir bahwa orang yang menghubungi Naruto adalah orang kantor, Hinata langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa penelphone itu.
"Naruto-kun! Semalam kau meninggalkan 'CD'mu di …kau itu memang selalu ceroboh. Yaa… aku tahu sih, kita semalam terlalu banyak minum sake karena itu kau berani… o iya kenapa kau pergi tidak bilang-bilang? Apa kau menyesal?" Hinata membiarkan suara perempuan di hp Naruto menyelesaikan bicaranya. tubuhnya sudah bergetar hebat. Tangannya yang bebas menutup mulutnya yang sedikit terbuka karena keterkejutannya. Perlahan genggamannya pada HP Naruto terlepas.
"Halo! Naruto kenapa diam?" Suara perempuan itu
Hinata terduduk tidak tahu apa yang harus ia lakukan di hadapan Naruto nanti. Apakah ia harus marah-marah. tidak! Kalau itu terjadi Hinata mungkin akan ditinggalkan Naruto seketika, dan itu berarti Aya akan lebih bersedih karena benar-benar kehilangan ayahnya.
Jadi, apa yang harus Hinata lakukan? berbohong? Ya! Mungkin Hinata hasus brpura-pura tidak tahu.
Hinata tidak mengerti kenapa Naruto bisa sekejam itu padanya. Meniduri wania lain. Licik!
Jika ada salahnya, baru bersifat manis. Apa semua laki-laki memang begitu?
Baiklah Hinata harus bertahan demi Aya. Ia tidak mungkin bersifat egois dan mementingkan kepentingannya sendiri. Ini tidak adil bagi Aya yang masih sangat kecil untuk mengetahui hal ini. Dan ini juga tidak adil untuknya.
"Kami-sama… aku harus bagaimana?" Hinata menunduk. Derap langkah terdengar mendekat. Naruto tersenyum pada Hinata yang enggan untuk mendongak meskipun ia tahu Naruto ada di hadapannya.
Jari Naruto mengangkat dagu Hinata hingga Hinata menatap Naruto.
"Sudah lama kita tak bersama-sama seperti ini. Bagaimana kalau kita berlibur?" Naruto tersenyum lebih manis
"Kau sakit?" katanya begitu melihat mata Hinata yang agak sembab
"Kau benar Naruto-kun. Sudah lama sekali kita tak bersama-sama. Lamaaaa sekali. Kalau begitu kita berkemah saja. Aku akan memasakan bento dulu" Hinata beranjak dan berjalan menjauhi Naruto.
.
.
.
Naruto masih mematung di tempat. Ia meremas rambutnya. Mengingat apa yang telah ia lakukan dengan Sakura, membuatnya sangat frustasi.
Tapi kenapa Naruto harus sefrustasi begitu? Bukankah ini malah bagus untuk hubungannya dengan Sakura? Dengan begini ia akan lebih mudah lepas dari Hinata dan Aya kan?
Naruto juga tidak paham apa yang sedang terjadi pada dirinya. Yang jelas ada perasaan takut. Dan juga senang. Tapi takut karena apa? Dan senang? Apakah Naruto sangat senang bisa berhubungan dengan Sakura? Entahlah Naruto sangat bingung dengan perasaannya ini.
Pandangan Naruto beralih pada HPnya yang tergeletak di kasur
"Sakura menghubungiku? Siapa yang mengangkatnya? Ah.. mungkin semalam aku yang mengangkatnya dalam keadaan setengah sadar"
Lalu Naruto membaca sebuah pesan masuk
Temui aku di Ichiraku Ramen ya!
Naruto tersenyum membaca pesan itu. Lalu dengan terburu-buru ia mengambil jaket Orange nya. Dan pergi
"Hinata orang kantor menghubungiku. Ini darurat. Lain kali saja ya"
Hinata tersenyum kecut. Ia terduduk dan menangis.
"selalu seperti ini"
.
.
.
Sudah sejak tadi Hinata diam di dapur. Matanya kosong. Dan fikirannya entah berada dimana. Bahkan Hinata tidak mendengarkan rengekan Aya yang meminta makan. Hinata sangat terpukul dengan kejadian yang berhubungan dengan perempuan yang menelpon Naruto.
"OKAAA!"
Dan dengan teriakan Aya, Hinata terseret ke dunia nyata.
"A-aya? Ada apa?" Ucapnya agak terbata-bata karena kekagetannya
"Aku lapar kaa-san." Kata Aya
Hinata menatap sayuran yang tidak jadi ia masak lalu menatap Aya
"ke Ichiraku?" tanya Hinata. Aya tersenyum
"Ayo!"
.
.
.
Hinata menggandeng tangan Aya. Aya yang terlihat sangat senang meloncat-loncat dengan semangatnya.
Tidak terasa Ichiraku Ramen sudah ada di depan mereka. Hinata membuka pintu masuk. Dan kemudian Langkahnya terhenti
"Ada apa Kaa-san?" Aya yang terpaksa terhenti menatap Kaa-sannya bingung.
Hinata melihat Naruto ada di dalam bersama Sakura dan di gendongan Naruto ada Megumi yang tertidur. Dimata Hinata, Naruto dan Sakura seperti keluarga bahagia.
Mata Hinata teralih pada Aya yang menggenggam tangannya lebih erat
"Kaa-san?"
Pandangan Hinata kembali pada Naruto. Sekarang Naruto tengah mencium mesra.
"Kaa, pulang yuk!" kata Aya sedikit menyeret tubuh ibunya yang kaku. Aya masih bisa melihat getaran lirih dari tubuh Kaa-sannya..
.
.
.
"Okaa, Okaa tidak apa-apa kan?"Aya mengusap aliran bening ibunya. Hinata menggeleng. Tangannya menghentikan tangan Aya yang selalu berbaik hati mengusap airmata Hinata. Ia merasa beruntung memiliki Aya. Hinata mentap lekat-lekat anaknya. Mengusap helaian rambut Aya lalu berkata
"Aya!"
Aya mendongak.
"Hn?"
"Aya pengen ayah bahagia kan?" Hinata menatap Aya lebih lekat. Aya memeiringkan kepalanya belum mengerti maksud sang ibu.
"Tentu Kaa-san. Kan kalau ayah bahagia, pasti ayah gak bakalan cemberut lagi… memang kenapa kaa?"
"Kalau begitu kita pindah rumah." Hinata bilang
Ada keraguan dari setiap gerakan gelisah Aya
"Ayah akan baik-baik saja tanpa kita." Hinata meyakinkan
Aya tersenyu
"Kalau benar ayah akan senang, aya mau ko pindah."
'Oh Kami-sama, Naruto telah menyia-nyiakan anak sebaik Aya'
.
.
.
.
Naruto datang dengan senyuman yang tersungging di bibirnya. Jari nya memegang bibirnya.
Hinata tersenyum, lalu menghampiri Naruto yang masih tidak bergerak.
"Naruto-kun, bolehkah bicara sebentar?"
Naruto tersnyum dan mengngguk
"Boleh." katanya
Hening melingkupi keduanya. Hinata menghela nafas panjang.
"Apa yang salah pada kami, Naruto-kun? " Hinata Memulai. Tangan lentiknya sibuk membuka dasi yang melilit di leher Naruto
"Maksudmu?" kebingungan terlihat jelas di wajah Naruto
"Setahuku, aku dan Aya selalu mencoba berlaku baik.." Hinata terhenti dari aktifitasnya. Tangannya mulai menghapus aliran bening yang menitik entah sejak kapan. Ia menangis. Di depan Naruto, untuk pertama kalinya. Naruto hanya bisa diam. Lalu terdengar helan nafas Hinata yang begitu berat.
"Untuk kebahagiaanmu, mungkin aku dan Aya mundur saja."
Naruto menatap Hinata lekat. Ia meminta penjelasan lebih dari Hinata
"Terimakasih telah memberi kami kesempatan untuk tinggal bersamamu. Dan ijinkan aku membawa Hyuuga Ayama untuk tinggal bersamaku." Hinata tersenyum. Aya muncul dengan tas gendong kecil di pungungnya.
Naruto menatap pergerakan Hinata yang merogoh sebuah koper yang sama sekali tidak di sadari Naruto sebelumnya.
"Aya pamit dulu" Kata Hinata. Naruto menatap Aya yang kini berdiri didepannya bersama Hinata.
"Kalian mau meninggalkan aku?" Naruto menahan aliran bening yang tertahan di mata birunya
Hinata menatap Naruto lirih
"Untuk kebahagiaanmu Naruto" Hinata bilang. Tangannya membelai pipi Naruto lembut.
"Maafkan kami ya, jika kami menghalangi Naruto-kun untuk bersama Sakura-chan." Perlahan Hinata memeluk Naruto. Naruto hanya bisa menangis. Ia tidak membalas pelukan Hinata. Tanganya pasif di sisi tubuhnya
Hinata mengambil langkah mundur.
"Ayah! " Suara kecil mengalihkan focus Naruto pada Aya.
"Jaga diri ayah baik-baik ya!" Aya melangkah menuju Hinata. Mata biru Aya yang sama persis dengan Naruto tetap melihat ayahnya yang kini menunduk. Aya kembali berlari pada Naruto
"Ayah! Boleh Aya lihat snyum Ayah?"
Naruto tidak menjawab. Aya tersenyum kecil dan tiba-tiba ia bersujud. Mencium sepatu Naruto. Cepat-cepat Aya berdiri
"Nanti kalau kita ketemu, ayah mau ya mencium kening Aya. Seperti yang sering ayah lakukan ke Megumi. Ya?.. mmm Aya pergi.. Aya sayaaaaaaang ayah. sampai nanti yah!"Aya pun berlari menuju ibunya. Memegang tangan Hinata . pintu tertutup..
.
.
.
.
Hinata seperti tidak memiliki beban. Ia tersenyum begitu indah. Aya turut tersenyum melihat Kaa-sannya tersenyum
'Lega sekali rasanya Kami-sama. Beginikah rasanya berkorban untuk orang yang kita sayangi?' batin Hinata.
"Kita mau pindah kemana kaa-san?"Aya bertanya.
Hinata berhenti. Ia membugkuk menyejajarkan tinggi badannya dengan Aya.
"Mau adu keberanian? Malam ini kita tidur di jalan, di bawah jembatan lebih seram. Siapa yang bisa tidur nyenyak tanpa rasa takut sedikitpun, ia pemenangnya." Nada bicara Hinata begitu meyakinkan
"Eh maksud kaa-san kita tak punya empat tinggal?"
Hinata tertawa pelan
"Memang kaa-san bilang begitu. Kaa kan sudah bilang siapa yang berani tidur tanpa ada rasa takut, dia pemberani" Jelas Hinata
Keberatan masih terlihat di wajah Aya
"Ya... Ternyata anak Kaa-san penakut." Hinata memasang wajah kecewanya
"Eh siapa bilang Aya penakut. Aya pasti jadi pemenangnya." Aya bilang. Matanya mulai meneliti ke seluruh tempat. Dan pandangannya tertuju pada sebuah tempat yang cukup gelap
"Kita tidur di tempat seram itu" Aya menunjuk tempat pilihannya
.
.
.
Naruto menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia benar-benar merasa kehilangan. Ia juga menyesal dan sangat kecewa pada dirinya sendiri. Apa yang ia lakukan sehingga Hinata bisa meninggalkannya.
Tidak! Ini tidak boleh dibiarkan.
Naruto harus mencegah semuanya sebelum menjadi terlambat untuknya. Dengan langkah tergesa ia berdiri. Mengambil jaketnya dan berlari mencari masa depannya. Hinata dan Aya
Sudah beberapa kali Naruto melewati tempat yang sama. tapi ia tak melihat Hinata. Langit yang sudah gelap sedikit menyulitkan Naruto dalam pencarianya.
Naruto ingin sekali menjerit. Rasanya ia mulai menyerah. Ini memang sudah terlambat. Sepertinya Naruto tak akan pernah mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya
Naruto mengambil langkah pulang. Di langkah ketiga ia mendengar suara mungil yang berbincang dengan suara lembut yang familiar. Suara itu berasal dari tempat yang agak gelap.
"Kaa-san kenapa kalau malam langit gelap?" suara mungil bertanya
"Karena Kami-sama ingin memberi bintang kesempatan untuk berkelip. Mereka terlihat indah saat malam." Kali ini suara yang lembut
"Binatang? Apa ada yang lebih bercahaya diantara jutaan bintang itu"
"Kejora" suara lembut menjawab
Naruto melangkah menuju asal suara. Berharap bahwa suara yang terdengar remang itu adalah suara isteri dan anaknya.
.
.
.
Tangan Aya tidak pernah terlepas dari genggaman Hinata
"Bagaimana dengan Kejora?"
Hinata memberi jeda beberapa saat. Memberi Aya kesempatan untuk melanjutkan pertanyaannya yang seolah tak akan berakhir
"Ada yang lebih terang dari bintang itu?" lanjut Aya
Menyusun sebuah tawa ringan, Hinata memandang Aya
"Menurut Aya?"
Garukan kecil menandakan betapa Aya cukup berfikir keras saat itu
"Apakah matahari lebih terang?"
Hinata tertawa geli karena pertanyaan Konyol anaknya. Sebenarnya Hinata tahu, Aya sedang berusaha mengalihkan fikirannya tentang Naruto
"Ayahmu lebih terang dari bintang apapun yang ada di dunia ini. Karena itu kita tak bisa melihatnya dengan jelas."
"Ada yang lebih terang lagi?"
Cubitan kecil mendarat dipipi Aya.
"Kalau kaa-san bilang bahwa bintang yang terterang dalam hidup kaa-san adalah Aya, bagaimana?"
Aya tidak menjawab. Ia tersipu
"Masih ada kesempatan?" Kata seorang yang ada di kegelapan sana
Jantung Hinata berdebar liar saat mendengar suara yang ia kenal ini.
"Kau tidak memberiku kesempatan?" desak Naruto yang berjalan ketempat cahaya bulan menyiari sisi wajahnya
"Naruto-kun?" bisik Hinata
"Sulit sekali mempercayai bahwa ini benar-benar aku ya?...Aya! aya bilang kalau ketemu mau ayah cium kan? Kemarilah!" Tanpa membuang waktu Aya berlari menuju Naruto.
Naruto mencium kening Aya, hidung, kedua mata, dan bibir Aya. Lalu mata Naruto menatap Hinata yang masih tidak bergerak
"Aya saja masih mau memberiku kesempatan. Apa kau tidak?" suasana hening berpihak pada Hinata yang mulai berdiri. Kaki kecilnya melangkah menuju Naruto dan Aya. senyum Hinata mengembang seperti saat seluruh bunga mekar di permulaan musim semi.
"Sulit sekali mengenalmu yang seperti ini Naruto-kun." Bisik Hinata
Naruto tercekat mendengar bisikan Hinata. Ia belum menyadari bahwa bisikan Hinata telah membuatnya saat Gugup, bahkan tidak bisa bergerak sedikitpun. Hinata berjinjit untuk menyisir rambut berantakan Naruto degan tangan lentiknya
Naruto tertawa kaku
"Lucu sekali. Beberapa jam tidak bertemu rasanya aku tidak bisa bertahan. Apa selama ini kau juga merasakan hal yang sama?"
Tanya Naruto. Naruto melepas rengkuhan pada Aya. Bersamaan dengan itu Hinata melepas jarinya dari penjara rambut Naruto. Dengan lembut Hinata mengusap pipi Naruto.
"Aku rasa, aku sudah terbiasa, Naruto-kun."
Naruto bertambah gugup saat Hinata menarik satu garis vertikal dari kening berhenti di bibir Naruto denagn jari telunjuknya.
Naruto menelan air ludahnya..
"Se-sejak kapan kau jadi seperti i-ini, Hinata-chan?"
"Kau tak pernah memberiku kesempatan, Naruto-kun. Karena itu kau tak tahu aku."Kata Hinata
"Karena aku terlalu terang kah? Sehingga aku tidak bisa melihatmu." Tangan Naruto yang bebas merengkuh pinggang Hinata
Hinata terlihat begitu gugup dengan perlakuan Naruto.
"Na-naruto-kun, A-a-Aya." Hinata mengingatkan Naruto tentang kehadiran Aya yang sekarang tidak henti berkedip
"Tidak apa kan, Aya?" Naruto meminta ijin pada Aya. Aya mengangguk antusias.
Hinata tersipu saat kedua tangan Naruto meminta kehangatan lebih. Sesak dirasakan Hinata kala Naruto berbisik
"Bahkan memiliki isteri secantikmu, aku baru sadar."
Aya memiringkan kepalanya. Ingin melihat detail bentuk kasih sayang Naruto pada Hinata lewat sentuhan hangat dari bibir ke bibir.
Jika Aya boleh jujur, Aya belum pernah melihat jenis kebahagiaan apapun selain saat kaa-sannya yang tak henti mengikis warna merah di pipinya. Naruto tidak egois membiarkan Aya hanya bisa menyaksikan. Maka dengan pelan Naruto melepas ciumannya pada Hinata dan megangkat sosok mungil Aya yang terlihat seperti ingin Naruto ini memang kali pertamanya ia menggendong Aya. Ia paham bagaimana perasaan Aya saat ini. Hinata tersenyum saat Aya dengan ragu membenamkan mukanya ke dada sang ayah. Tangis teredam disana.
.
.
.
"Kaa-san! Coba kalau kaa-san bertubuh kecil sepertiku." Aya bilang
"Memang kenaapa?" tanya Naruto tak mengerti
"Lihat itu!" telunjuk Aya menunjuk bintang-bintang yang berkelip di atas sana
"Apa hubungannya?" Hinata terlihat bingung
"Jika melihat dari gendongan ayah, langit terasa dekat.' Aya bilang. Naruto tertawa lepas saat mendengar penuturan anaknya.
"Aya fikir ayah tidak kuat menggendong kaa-san?"
Mata Hinata mendelik saat Naruto mengatakannya
"Eh?"
Naruto menurunkan Aya.
"Ayah buktikan ayah bisa ya?"
Aya mengangguk antusias
"Eh….eh… jangan Na-Naruto-kun! A-aku takut jatuh!" Naruto mengangkat tubuh Hinata. Ia tertawa saat Hinata mencoba untuk melepaskan diri
Aya terkikik. Matanya beralih pada langit
"Kami-sama, apakah ini hadiah untuk Aya dan Kaa-san?" tanya aya
Aya tersenyum
"Sangat indah. Arigatou".
.
.
.
.
.
.
.
Owari
Fiuhhhh! Selesai! Maaf hanya ending gaje ini yang mampu am persembahkan. am telah berusaha menulis ending yang terbaik sesuai kemampuan am, tapi beginilah hasil akhirnya.
Terimakasih mau membaca fic panjang yang membosankan ini.
Am pengen di review donk
Oh iya Am seorang NaruHina Lovers ko. Cuma fic ini memang begini . maaf kalau alurnya berantakan.
Buat ang udah kasih ide n semangat, am sangat berterimakasih dan minta maaf karena tidak semua ide tertuang di ending ini.
Chap 5 :epilog atau sekuelnya.. bagi yang masih berkenan, baca dan review ya!
Unek- unek?
Suka?
Gak suka?
Gaje?
Gak gaje?
Mengecewakan?
Monggo tulis di review.
Be nice with your review
Aam^^.
