Aku tidak mengerti, mengapa laki-laki yang bertubuh gagah dan sangat tampan ini memasang wajah yang sangat sendu ketika dia tersadar. Apa yang membuatnya menjadi seperti itu? Dan—kenapa aku begitu penasaran oleh tragedi yang menimpa mereka?
.
.
Sacrifice
Naruto belong Masashi Kishimoto
Rated M
Genre : romance, drama, hurt/comfort, angst
Warning for OOC, AU
.
.
Kedua onyx itu terbuka total. Namun pandangannya sangat kosong dan hampa, perlahan ia melirik ke kanan dan kiri, Sasuke—nama dari pemilik mata onyx itu melihat kedua orang tuanya menangis bahagia saat melihat dirinya yang kini baru dia sadari bahwa sekarang sedang berada di rumah sakit. Sasuke mengerutkan dahinya karena tidak melihat sosok yang sangat dia inginkan hadir di ruangannya.
"Syukurlah~ Sasuke... syukurlah kau sadar."
"Ibu~" gumam Sasuke pelan, matanya mengedip dengan sangat pelan dan hati-hati, "mana... Sakura?"
"Sakura masih belum sadar," jawab Fugaku, "tapi kakakmu sudah sadar sebelum dirimu."
"Keadaannya?" tanya Sasuke lagi dengan nada suaranya yang lemah.
"... itu, masih dalam keadaan koma," jawab Fugaku lagi.
Sasuke mengerutkan dahinya dan mengangkat satu tangannya untuk melepas masker oksigen.
"Jangan Sasuke, kau masih membutuhkan itu," cegah Mikoto.
"Aku ingin melihatnya~"
"Jangan sekarang, Sasuke, kau masih lemah." Mikoto berusaha mencegah anak bungsunya, namun sebuah tepukan lembut di pundak dari suaminya membuat Mikoto menoleh dan melihat Fugaku menggelengkan kepalanya.
Sasuke berusaha bangkit, dan Fugaku menahan tubuhnya, "kau membutuhkan kursi roda, kau—kalian masih belum bisa untuk berjalan."
.
.
"Sebenarnya aku masih belum bisa mengizinakannya untuk bangkit apalagi keluar dari kamar, nyonya Uchiha," ucap Ino dengan nada tegas.
"Tapi Sasuke bilang keadaan tubuhnya sudah baik-baik saja dan dia sudah merasa kuat untuk hanya menjenguk Sakura."
"Maafkan saya, ini sudah peraturan rumah sakit. Selama Uchiha Sasuke masih berstatus sebagai pasien di rumah sakit ini, maka dia harus mengikuti aturan yang dokter berikan," tolak Ino dengan tegas.
"Dengar, dokter wanita berambut pirang. Yang tahu keadaan tubuhkua adalah diriku sendiri, kalau terjadi apa-apa denganku, tenang saja aku tidak akan menuntut rumah sakit ini," geram Sasuke.
"Tapi ini amanat dari Tsunade-sama, kau tidak boleh beranjak dari kasur ini satu centi-pun. Mengerti?!"
"Nona," panggil Fugaku yang sepertinya mengerti apa yang diinginkan oleh Sasuke yang kini memandangnya dengan tatapan memohon, "aku mohon, kau boleh memberinya pengawasan ketat setelah ini, tapi untuks aaat ini saja, izinkan dia menemui Sakura."
Ino memasang wajah seolah mengatakan 'tolong jangan memaksaku untuk memberi izin' pada Fugaku. Namun tatapan Fugaku lebih kuat dan sangat penuh arti bagi seorang ayah untuk anaknya. Ino memutar kedua bola matanya dan menghela napas, "Baiklah, aku heran sebenarnya apa hubungan kalian dengan Haruno?" gumam Ino sambil berjalan keluar.
"Dia calon menantu kami," jawab Fugaku yang mendengar gumaman Ino.
Ino tersenyum pasrah pada Fugaku, "Waktu kalian hanya sampai jam lima sore."
Fugaku mengangguk dan membantu Sasuke untuk pindah ke kursi rodanya. Memang benar, keadaan tubuh Sasuke sudah baik-baik saja, namun tidak bisa dipungkiri rasa pusing dan lemas selalu Sasuke rasakan.
Saat Fugaku dan Mikoto mengantarkan Sasuke menuju kamar Sakura, Ino mengintip dari belakang. Entah mengapa konflik yang terjadi di antara mereka sangat menarik, ditambah Sai bilang ingin mewawancarai ketiga korban. Dan kini Ino tersadar, apakah mereka sadar bahwa rem pada mobil mereka telah dirusak? Sudah pasti mereka sadar, dan juga mereka pasti bisa mengira siapa pelakunya, 'kan? Hal ini benar-benar membuat Ino penasaran.
"Mungkin aku bisa membantu Sai."
.
.
"Apa yang kaulakukan di sini?"
"Salahkah jika aku menemani tunanganku sendiri?"
"Itachi, Sasuke. Jangan mulai lagi, ingat ini rumah sakit," tegur Mikoto.
"Sebaiknya ibu memberi tahu pada anggota keluarga Uchiha yang paling kecil ini untuk menjaga kelakuan dan mulutnya," sindir Itachi.
"Kaupikir kau sebaik itu? Terlalu terbuai oleh perusahaan sehingga sellau mengabaikan Sa—"
"Cukup! Berhenti atau kalian keluar dari sini!" tegur Fugaku, "sebentar lagi Kizashi dan Mebuki datang, jangan sampai mereka melihat kalian bertengkar di kamar ini."
Ucapan Fugaku membuat kedua anaknya terdiam. Itachi tidak memandang Sasuke, dia hanya terus memandang Sakura sambil menggenggam tangan wanita itu. Sasuke sendiri sinis melihat Itachi yang begitu intens dengan Sakura. Mereka... memang tidak bisa akur.
.
.
Sai berjalan di lorong rumah sakit sambil memakai jas hitamnya. Para perawat selalu mengambil kesempatan untuk menyapa Sai, bukan hal yang aneh lagi bagi Ino kalau Sai menjadi idola di rumah sakit ini sejak kejadian kasus beberapa tahu yang lalu. Sai berkunjung ke ruangan Ino dan melihat tunangannya sedang duduk sambil menatap layar laptopnya.
"Apa aku mengganggu?" tanya Sai.
"Ah Sai, masuk."
"Sedang lihat apa?"
"Ini." Ino memperlihatkan beberapa artikel informasi dan gossip tentang Haruno Sakura dan Uchiha, "aku tidak menyangka hubungan mereka serumit ini."
"Yaahh, Haruno si model kelas dunia yang canti terlibat cinta segitiga oleh Uchiha bersaudara, pewaris dari Uchiha corpotaion yang bergerak di bidang minyak yang sudah sangat terkenal di dunia," ucap Sai yang kini sudah duduk di pinggir kursi milik Ino.
"Dari mana kau tahu itu?"
"Ino, lalu untuk apa tv di apartemen kita?" ledek Sai.
"Untuk menonton anime, hehehe," jawab Ino cengengesan, "kau tahu sendiri, aku tidak pernah mengikuti berita ataupun gossip."
"Itu bagus, tapi sesekali kau harus mengikuti berita, karena di berita itu ada duniaku."
"Aku mengikuti duniamu kan langsung dari kamu sendiri yang memberitahuku," jawab Ino.
"Kau ini selalu menjawab," ujar Sai sambil mengacak rambut Ino, "bagaimana keadaan pasien kemarin? Aku ingin secepatnya mewawancarai mereka."
"Dua Uchiha sudah sadar, tapi Haruno masih dalam kondisi koma, mau wawancara salah satu diantaranya?" tawar Ino.
"Langsung dua-duanya saja," jawab Sai.
"Baiklah, kau tunggu di sini sebentar, aku tanya dulu pada mereka." Saat Ino beranjak dari duduknya, Sai menarik lengan wanita itu dan menjatuhkan Ino pada pelukannya, "S-Sai...?"
Sai tidak menjawab, dia hanya menciumi pucuk kepala Ino dan membelai punggung wanita itu, "Ya, selesai. Silakan pergi."
Ino hanya bisa diam dan bingung atas perlakuan Sai yang tiba-tiba seperti itu. Namun tindakan Sai yang tiba-tiba begitu selalu membuat Ino berdebar-debar. Ino melangkahkan kakinya menuju kamar Sakura, dimana kedua Uchiha itu saat ini sedang menjenguknya, saat Ino akan mengetuk pintu... dia melihat kedua orang tua Sakura tiba dengan wajah yang sangat murung.
"Selamat siang, " sapa Ino.
"Selamat siang, nona Ino," sapa Mebuk kembali, "apa kabarmu?"
"Sangat baik, anda sendiri?" tanya Ino balik.
"Baik, apa kamu ingin memeriksa Sakura?" tanya Mebuki sambil berpindah tatap dari Ino ke Kizashi.
"Tidak, aku sudah memeriksanya tadi, kondisi Sakura masih sama seperti kemarin, aku kesini karena ingin berbicara dengan Uchiha," jawab Ino.
"Uchiha ada di sini? Yang mana?" tanya Kizashi.
Belum Ino jawab, dia sudah membuka pintu kamar itu dan terlihat seluruh keluarga Uchiha berkumpul, "Semuanya," ucap Ino.
"Sasuke, kau sudah sadar?" Mebuki menghampiri Sasuke dan merengkuh wajah Sasuke dengan lembut.
"Ya, aku sudah tidak apa-apa," jawab Sasuke dengan sopan.
"Ehm, permisi," ucap Ino, "apa kalian punya waktu sebentar? Itachi dan Sasuke... untuk diminta informasi sebentar saja."
"Informasi tentang apa?" tanya Itachi tanpa mengalihkan pandangannya dari Sakura.
"Tentang kecelakaan itu, kalian pasti sadar kalau mobil kalian ada yang merusak di bagian rem-nya," jelas Ino.
Perkataan Ino membuat semua menjadi tegang, Sasuke dan Itachi saling tatap dan mengagguk. Dan Ino berpikir juga merasa—tiba-tiba mereka menjadi kompak?
"Kami bersedia," ujar Itachi.
Kami? "O-okay, ikut ke ruanganku," ucap Ino.
Fugaku dan Kizashi berinisiatif untuk mendorong kursi roda milik Itachi dan Sasuke sementara Ino memimpin jalan di hadapan mereka. Saat Ino akan melewati kamar Sasuke, dirinya terkejut melihat Sai sudah berdiri di depan pintu sambil bersender.
"Sai? Sedang apa di sini?" tanya Ino.
"Kupikir akan lebih baik apabila wawancaranya dilakukan di kamar seseorang yang baru saja tersadar dari koma-nya," jawab Sai yang membukakan pintu untuk mereka.
"Ah ya benar, lagipula Sasuke masih belum boleh lama-lama turun dari kasurnya," ucap Ino.
Ketika Sasuke dan Itachi masuk, Fugaku membantu Sasuke untuk kembali tidur di atas kasurnya. "Kami tinggal, ada yang ingin kudiskusikan oleh keluarga Haruno," ujar Kizashi.
"Apakah ini tentang pertunanganku dengan Sakura?" Itachi menebak.
"..."
"..."
"Lupakan, silakan keluar," lanjut Itachi.
Tidak ada yang menjawab. Fugaku melangkahkan kakinya dan diikuti oleh Kizashi. Sai bisa merasakan suasana yang tercipta menjadi sangat tidak enak. Namun, Sai adalah seorang detektif, suasana seperti ini selalu ia temui di berbagai tempat, beda dengan Ino yang seorang dokter.
"Baiklah, aku ingin mengatakan pada kalian yang pasti sudah tahu bahwa rem kalian ada yang merusaknya," ucap Sai.
Walau mereka tidak mengeluarkan jawaban, namun Sai paham tatapan mereka menyatakan bahwa mereka membenarkan ucapan Sai, "Rem dipotong sangat rapi, kemungkinan memakau tang, apakah kalian mempunyai musuh? Siapa orang terakhir yang mendekati mobil kalian? Karena rem itu dipotong setelah kalian berada di dalam hotel, karena kalau sebelum itu, kalian bisa celaka di tengah jalan menuju hotel."
"Musuh? Heh..." Sasuke mendengus.
"Mungkin orang-orang yang telah kami singkirkan dulu," lanjut Itachi.
Ino dan Sai saling tatap, "Maksudnya?"
"Dulu kami sering membuat onar pada laki-laki yang berusaha merebut perhatian Sakura, salah satunya adalah—"
"Sasuke hentikan, itu tidak perlu kita beritahu," cegah Itachi.
"Tapi itu penting untuk informasi kami," ujar Sai.
"Bagaimana kalau kukatakan kami telah mengampuni pelakunya," ujar Itachi yang membuat ketiga pasang mata yang berada di ruangan itu terbelalak.
"Jangan gila kau!" geram Sasuke.
"Itu bisa saja, atas permintaan korban, si pelaku dibebaskan," ujar Sai.
"Tidak! Aku tidak setuju!" protes Sasuke.
"Aku tidak bilang akan mengampuninya begitu saja, hanya tergantung kondisi saja," jelas Itachi, "kalau Sakura terbangun dari koma-nya, kami akan mengampuni, apabila Sakura tidak bangun juga... aku yang akan menghabisinya."
"Kami," ucap Sasuke memperjelas.
Sai melirik Ino yang seolah bertanya padanya apakah ini bisa disetujui?
"Maaf, hukum harus tetap berjalan sesuai peraturan, kalau salah satu kalian ingin menghabisinya silakan saja, tapi kalian akan menerima hukumannya," jelas Sai.
"Apa—"
"Dalam persaingan negara mungkin kalian memang yang memegang peraturan, tapi dalam hukum kami lah yang menguasainya, seberapa kaya-nya kalian tidak akan mengubah apapun itu," ucap Sai dengan sangat tegas, "kuberi penawaran untuk kalian, beritahu kami siapa pelakunya, atau kasus ini kami tutup."
"Kau seorang detektif kan?" ujar Sasuke meremehkan, "apa kau sendiri tidak bisa menemukan pelakunya?"
"Buat apa aku susah payah menganalisa hal itu kalau aku bisa langsung tahu pelakunya dari kalian—yang dari tadi berucap seolah kenal dengan si pelaku," serang Sai menyeringai.
"Cih!" Sasuke mendecih sambil melirik Itachi, "ini semua karena kau terlalu banyak bicara."
"Diam, kau tidak tahu apa-apa," jawab Itachi, "begini... pak detektif."
"Panggil aku Sai."
"Baiklah, Sai—si pelaku ini, kami pun belum tahu siapa sebenarnya yang merusak rem pada mobil kami," jelas Itachi, "hanya saja ada satu orang yang benar-benar besar kemungkinannya untuk mencelakai Sasuke dan aku sendiri."
Sasuke menatap keluar jendela dengan ekspresi yang sangat serius, Itachi melirik Sasuke yang seolah yakin mereka satu pemikiran saat ini. "Orangnya bertempat tinggal di perfektur C, dia adalah penyanyi solo terkenal yang juga datang ke acara peresmian tunanganku dengan Sakura saat itu."
"Jadi, saat itu acara peresmian tunangan?" tanya Ino spontan yang sepertinya tertarik dengan cerita mereka.
"Benarkah dia orangnya?" tanya Sai dengan nada yang terderngar ragu.
"Kau pasti tidak akan menyangka bukan?" jawab Itachi.
"Aku pikir itu hanya gossip murahan biasa untuk menaikan rating acara di televisi," ucap Sai dengan pose berpikir.
"Jadi, siapa pelakunya?" tanya Ino.
"Seseorang yang sangat mencintai Sasuke, seseorang yang sangat sangat sangat membenci Sakura, seseorang yang menganggap Sakura adalah saingan dalam hal cinta maupun karirnya," jawab Itachi dengan jelas.
"Oh, ayolah aku tidak mengikuti gossip tentang kalian, jangan main teka-teki denganku," sewot Ino.
"Kau harus sering-sering baca berita, Ino," ledek Sai.
"Oh maaf kalau aku lebih suka anime daripada mengikuti berita-berita yang tidak menguntungkan bagiku dan—"
"Kita teruskan nanti malam," potog Sai yang membungkam mulut Ino, "jadi, apa yang akan kita lakukan pada si pelaku?"
Itachi berpikir dan Sasuke melirik kakaknya yang selalu adu mulut dengannya itu, sebelum Itachi memutuskan sesuatu... Sasuke mendahuluinya, "Bisakah tunggu sebentar lagi?"
"Sampai kapan?" tanya Sai.
"Sampai setidaknya salah satu dari kami keluar dari rumah sakit ini," jawab Itachi, seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Sasuke.
"Ah, aku lupa memberitahu kalian, mulai besok kalian harus menjalani rehab untuk penyempurnaan kesembuhan otot-otot kalian," jelas Ino.
"Baiklah, aku pergi sekarang. Ino, pulang jam berapa hari ini?" tanya Sai sambil memerika ponselnya.
"Sekitar jam tujuh."
"Baiklah, aku akan menjemputmu, selamat bekerja."
"Ng, hati-hati di jalan," ucap Ino.
Begitu Sai pergi meninggalkan ruangan Sasuke, Ino mengikutinya sampei depan lift, setelah mereka saling memberikan ciuman berpisah, Ino tersenyum lembut. Mulai besok dia akan membimbing kedua Uchiha itu untuk menjalani rehabilitasi otot, hal yang tidak Ino maupun Sai sadari bahwa kegiatan itu akan menjadi salah satu penyebab masalah bagi hubungan mereka.
~TBC~
A/N : hiks, tadinya mau edit2 lagi nyari2 typo, tapi sebentar lagi banyak tamu. mau update nanti takut lupa, akhirnya sekarang saja dengan typo bertebaran T^T
Tsurugi De Lelouch : iyaaa, Sai dan Ino jadi pemeran utama di siniii XD
azurradeva : ada orang ketiga tapi Sai dan Ino masih akan tetap bersatu sampai akhir XD
gadisranti3251 : ]hehehehe, uhnm pelakunya udah disebutin ciri2nya itu XD
Uchiha-fitriyah : iyaaa, terlibat cinta segitiga XD
Qamara-chan Hyuuga : pihak ketiganya ngga sadis kok, dan pihak ketiganya menyenangkan XD
Anka-Chan : SasuSaku nanti diceritain kalau Sakura sadar :3
Kumada Chiyu : hidoi itu apa? hahahahaa XD
BLACK 'SS' PEARL : ngga ada death chara kok, kalau untuk lemon semua pair ada, SasuSaku nanti happy ending kok :3
Guest : Sakura jadinya sama kok :3
aye-kun : iya, Itachi sama Sakura itu pacaran, bahkan tunangan :3
Luca Marvell : iya, omonga sasuke bener :3
Yoshikuni Ayumu : Sai sama Ino udah 100% jadi kok hohohoho
Hime Hime Chan : iyaa, SasuSakuIta XD
uyeeeeey, akhirnya sampe chapter 4, dan feeling ini... tiba2 pengen lanjutin SIN dan CoL hahahaha #Labil
oke, sampai ketemu di chapter berikut yaaaa
XoXo
V3Yagami
