Himawari chapter sebelumnya…

"… kupikir, bunga matahari itu seperti Hinata, ya?" Naruto mengulas senyuman di wajahnya sembari menoleh ke arah Hinata, tetapi Hinata hanya terdiam, hanya bergumam dalam hati. Dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun kepada Naruto. Jarak di antara mereka dan perkataan Naruto barusan membuat atmosfer di antara mereka terasa sepi, padahal suasana di sekitarnya ramai.

Angin pun berhembus, Hinata merasa sedikit membeku. Dingin sekali angin musim semi ini –ya, masih minggu kedua musim semi, kan?— Hinata lalu menghembuskan napasnya pada kedua tangannya, berusaha meniupkan kehangatan yang berasal dari dalam tubuhnya yang bersuhu 37 derajat Celcius. Naruto yang melihat Hinata seperti itu kemudian meraih tangan mungil Hinata –tanpa persetujuan dari yang bersangkutan (lagi)—, menautkan tangan mereka berdua, membagi kehangatan. Naruto menengadahkan kepalanya, menutupi wajahnya yang memanas dan mulai mengeluarkan rona kemerahan –seperti Hinata—, sedangkan Hinata menunduk sambil berjalan di belakang Naruto seperti anak itik yang mengikuti induknya. Langkahnya seakan kaku. Sepertinya Naruto memang berubah.

.

.


Himawari -Bunga Matahari-

Chapter 4

Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei owns NARUTO

Warnings: AU, OOC

Fanfiction written by: Natsucchii


.

.

"Baru kali ini bertemu dengan seorang sepertimu, Hinata-chan. Aku bersyukur," ucap gadis berambut merah kepada gadis berambut indigo.

"A-aku juga bersyukur bisa menemukan teman yang baik seperti Karin-chan…" balas gadis indigo yang bernama Hinata. Dia dan gadis berambut merah, Karin, sedang berada di perpustakaan. Tepatnya sedang berada di ruang referensi, yang selalu kosong. Mereka memang berjanji untuk bertemu, melanjutkan cerita tentang Naruto.

"Oh iya, aku sudah dengar cerita dari obasan tentangmu. Beliau meminta maaf karena membuatmu berpura-pura di hadapan Naruto sebagai orang yang baru dikenal. Hal ini kita semua lakukan demi kesembuhan Naruto."

"Naruto masih belum bisa mengingatmu, ya? Semenjak kecelakaan itu…"

"Iya…" Hinata pun menunduk, mulai memainkan kedua jari telunjuknya.

"Padahal dengan Sasuke dan Sakura, dia masih ingat…" tambah Karin lagi.

Entah mengapa, kalimat itu membuat hati Hinata terasa sakit, seakan membuka luka yang telah lama mengering. Hal itu memang benar. Mengapa hanya Hinata yang terlupakan? Padahal Hinata lah sahabat yang paling dekat dengan Naruto, lebih dari Sasuke maupun Sakura. Mengapa kecelakaan itu harus terjadi? Dengan kejam, kecelakaan itu telah memutuskan ikatan antara Naruto dan Hinata. Kini, hanya Hinata yang bisa mengingat kenangan-kenanagan masa kecil yang pernah mereka alami. Kenangan bagai ribuan daun hijau di pohon telah berguguran dan mengering karena musim yang berganti, meninggalkan Hinata sendirian di tengah angin yang berhembus. Hinata hanya bisa menatap sang matahari tanpa bisa berbuat apapun.

.

"… tapi aku yakin, tanpa harus memaksakan Naruto untuk mengingat, perasaan kalian akan menyadarkan Naruto."

"Maksudnya?" Hinata tersentak dengan perkataan Karin hingga mengangkat dagunya, menatap Karin dengan iris lavendernya.

"Kamu akan tahu seiring berjalannya waktu bagaimana Naruto yang sekarang."

.

.

Satu bulan kemudian,

Istirahat pertama hari ini benar-benar berbeda. Tidak ada tanda-tanda kehidupan Naruto di kedai Ichiraku –di kantin—. Ya, Naruto tidak makan di kantin karena dia membawa bentou yang telah dibuat dengan sepenuh hati oleh ibunya, Uzumaki Kushina. Kini Naruto sedang berada di kelas 2-4, kelasnya, bersama dengan kedua sahabat masa kecilnya, Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura. Mereka makan bekal bersama. Persahabatan yang baik sekali, kan? :D

"Naruto-kun, kudengar sudah sebulan ini kau selalu bersama Hinata-chan di ruang audio visual setiap sekolah berakhir. Memangnya kenapa?" Sakura bertanya sambil menggenggam sumpitnya yang telah mengapit ekkado, bersiap untuk memasukkan gorengan lezat buatannya itu dalam mulutnya.

"Dobe kan mesum. Mungkin saja dia memanfaatkan kepolosan Hyuuga dan yaaah, if you know what I mean…" ucap Sasuke tanpa ekspresi kemudian dia memasukkan tamagoyaki buatan Sakura ke dalam mulutnya. Ya, Sakura telah membuatkannya 'bentou cinta', bentou khas keluarga Haruno.

"NANI?! Benarkah itu, Naruto-kun? Kau su- sudah—" Sakura sangat kaget hingga ekkado yang sudah ada di antara himpitan sumpitnya terjatuh. Fyuuh, untung terjatuh di kotak bentou-nya… Sayang, kan kalau terbuang?

"Baka, bukan seperti itu. Kau lebih mesum, Teme! Pasti kau sudah mencuri ciuman pertama Sakura-chan… " ucap Naruto seakan mengetahui hal yang sebenarnya. Hal itu membuat air muka Sasuke berubah –menunjukkan bahwa dia merasa terganggu dengan ucapan Dobe satu itu—, sedangkan wajah Sakura diwarnai rona merah jambu senada dengan bunga sakura yang terlihat dari jendela yang kini bermekaran.

"Uzai*," ucap Sasuke sebal karena pernyataan Naruto sangat tepat. Lebih lengkapnya, Sasuke mencuri ciuman pertama Sakura ketika malam Natal. Bayangkan saja, bagaimana romantisnya ciuman di bawah turunnya salju yang dihiasi dengan langit yang penuh dengan lampu warna-warni –dan tentu saja pohon Natal yang gemerlapan—. Suasana seperti itu takkan bisa Sasuke dan Sakura lupakan.

"Sakura-chan, Teme, berjanjilah padaku jangan mengatakan hal ini pada orang lain. Sebenarnya aku… dan Hinata…"

"… menggambar komik bersama."

.

"Wow, tak kusangka. Hinata-chan itu ternyata suka menggambar komik. Sugoi da ne, Sasuke-kun?" tanya Sakura dengan mata berbinar dan senyuman manis yang menggantung di pipinya –meminta persetujuan dari kekasihnya itu—.

"Dasar bocah Hyuuga kekanakan. Komik cuma bacaan anak kecil." Senyuman di pipi Sakura seketika memudar saat mendengar ucapan kejam itu dari Sasuke. Sayang sekali. Ternyata Sasuke tidak memikirkan hal yang sama seperti yang dipikirkan Sakura.

BRAAKKK

Terdengar suara gebrakan tangan Naruto di atas meja yang begitu keras –untung saja kelas ini sepi, cuma mereka bertiga—.

"NANI ITTENDA YO! JANGAN BICARA SEMBARANGAN KALAU KAU TAK TAHU APA-APA TENTANG HINATA, TEMEEEE!" teriak Naruto dengan amarah lalu berdiri dari kursinya, mencengkeram kerah kemeja Sasuke.

"Apa masalahmu heh, Naruto?" Sasuke mendorong dada Naruto hingga dia terjatuh. Naruto kemudian bangkit, mendorong balik Sasuke. Sasuke pun terbaring di lantai.

"Mengapa kau begitu marah saat aku menjelek-jelekkan dia? Bukankah kau ti-dak—ter-ta-rik dengannya?" ucap Sasuke dengan penekanan pada dua kata, "tidak tertarik", yang kemudian disambut death glare dari Naruto. Naruto langsung menduduki Sasuke agar dia tidak bisa bergerak bebas maupun menyerangnya. Dicengkeramnya lagi kerah kemeja Sasuke, sementara tangan Naruto yang satunya mengepal, bersiap untuk meluncurkan tinjuannya pada wajah tampan yang ada di hadapannya. Wajah sahabatnya sendiri.

"Tch, tak ada hubungannya denganmu, Teme!"

"SASUKE-KUN, NARUTO-KUN, HENTIKAN!" Sakura yang melihat tindakan anarkis kedua teman kecilnya itu memberanikan diri untuk memisahkan mereka. Naruto yang melihat Sakura menginterupsi dirinya dan Sasuke pun akhirnya menghentikan aksinya. Kalau Sakura kena pukul, bagaimana? Tidak etis jika seorang laki-laki memukul perempuan, padahal perempuanlah yang harus dilindungi laki-laki. Dan suasana pun kini menjadi sunyi saat Naruto meninggalkan ruangan.

.

.

"Hei Dobe, kau tak sadar telah menyukai Hyuuga," gumam Sasuke pelan.

...ooo...

…ooo…

Hinata berjalan menuju ke arah lorong depan sekolahnya dengan langkah yang tak yakin. Dia ingin melihat pengumuman nilai ujian tengah semesternya yang dipajang di papan pengumuman. Hinata juga ingin tahu, apakah menggambar komik membuat nilai-nilainya turun. Namun ternyata, setelah melihat pengumuman nilai, Hinata merasa lega dan mengembuskan napasnya dalam-dalam. Nilai-nilainya masih sempurna. Nilai sepuluh di semua mata pelajaran. Siswa yang merajai ujian tengah semester ternyata bukan hanya Hinata, Uchiha Sasuke juga mendapatkan nilai yang sama, nilai sepuluh di setiap mata pelajaran. Yaaah, jangan ditanya, mereka berdua adalah "The Face of Konohagakuen".

Mata Hinata kembali menyusuri baris demi baris nama-nama siswa yang ada di SMA Konohagakuen, berharap dia bisa menemukan nama Uzumaki Naruto. Akhirnya Hinata pun menemukan nama pemuda yang dia cintai itu. Nama pemuda itu ada di nomor paling akhir. Hinata tak bergeming mengetahui kenyataan itu, sedih rasanya. Naruto ada di urutan terbawah, sedangkan dia menjulang di peringkat teratas bersama sahabat Naruto, Sasuke. Semua nilai Naruto di bawah rata-rata. Itu berarti bahwa Naruto harus mengikuti ujian perbaikan nilai di semua mata pelajaran. Seburuk itukah rekor belajar Naruto? Apa ini karena Naruto terlalu bersemangat membantu Hinata menyelesaikan manuskripnya sehingga membuat Naruto tidak sempat belajar? Padahal di setiap minggunya mereka belajar, padahal sosok Naruto dalam ingatan Hinata adalah anak yang pantang menyerah dan selalu berusaha...

'Ah, mungkin belajar setiap minggu kurang efektif. Aku harus membantu Naruto-kun,' pikir Hinata.

.

"GYAAA~ APA-APAAN INI?! LEPASKAN AKU, KARIN NO BAKA!" Naruto berteriak dengan begitu lebay ketika Karin menyeretnya di depan pintu masuk perpustakaan. Semua yang ada di ruangan itu terkaget-kaget karena teriakan Naruto yang memecah keheningan ruang perpustakaan. Melihat dirinya menjadi sasaran death glare para kutu buku yang sedang asyik-asyiknya membaca , Naruto pun diam.

"BAKA YARO. Sampai kapan kamu mau terus begini? Kau harus belajar! Jangan mengecewakan Ojichan dan Obachan!" tanpa sadar, Karin pun berteriak tepat di telinga Naruto. Mendengar suara Karin yang menggelegar itu, dia langsung menyumpal kedua telinganya dengan tangannya yang berhasil lepas dari cengkraman Karin. Kini Karinlah yang menjadi sasaran death glare dari para kutu buku –yang merupakan teman seklubnya—.

"Ojamashimashita, gomen nasai,**" kata Karin dengan senyuman –terpaksa— lalu membawa Naruto menuju meja di pojok perpustakaan tersebut. Di sana, Hinata telah menunggu.

.

.

"Apa impianmu?" tanya Karin dengan tekanan yang menginterogasi Naruto. Karin terlihat bagaikan seorang intelijen yang sedang mengorek informasi mangsa –ralat— tersangka.

"Tidak tahu," jawab Naruto mengerucutkan bibirnya, sebal.

"Baka," dan bibir Karin pun ikut mengerucut.

"Jangan begitu, Karin-chan. Aku percaya, Naruto-kun pasti akan menemukan hal yang ingin dilakukannya selagi berjalan. Ya, kan, Naruto-kun?" kata Hinata sambil tersenyum kepada Naruto.

Seorang bidadari ada di pihaknya, itu cukup membuat hati Naruto berdebar lebih cepat. Sampai sebegitunya Hinata men-support dirinya. Tanpa Naruto sadari, Iris biru langitnya tak bisa berpaling dari wajah merona dihiasi senyuman yang ada di hadapannya. Senyuman yang lebih lembut dan lebih manis daripada permen kapas yang disukai anak-anak. Entah mengapa, senyuman itu terasa tidak asing bagi Naruto. Ya, senyuman Hinata itu juga membuat hatinya tenang. Sepertinya ada kekuatan baru yang bergemuruh di hati Naruto. Tangan besar Naruto refleks menggenggam kedua tangan mungil Hinata. "Hinata-chan, onegaishimasu!"

"Un. Ganbarimashou ne!" Dan senyuman pun mengembang di wajah Naruto dan Hinata.

"Ehem!" Karin berdehem karena dia merasa dikucilkan dari pembicaraan. Dunia serasa milik berdua, NaruHina's Own World.

"Karin, mohon bantuannya juga, ya!" Naruto menepuk pundak sepupunya dengan cengiran andalannya.

"Demi ojichan dan obachan yang telah berbaik hati mengizinkanku tinggal di rumahnya, baiklah. Aku akan membantumu belajar," jawab Karin.

"Jadi kita akan belajar setiap hari, setiap jam istirahat kedua di tempat ini."

"Ya. Terima kasih~" Dan Naruto nyengir bahagia.

.

.

"Hn, rumus ini menyebalkan sekali. Tak bisa masuk ke otakku…" ucap Naruto frustasi sambil menarik-narik rambut kuningnya yang menyala, padahal baru lima belas menit yang lalu dia diminta untuk menghafalkan rumus tersebut oleh Karin. Hinata yang sedang mengerjakan soal kimia pun meletakkan pensilnya, menghentikan kegiatannya karena mendengar keluhan Naruto. Dia ingin membantu Naruto, kan?

"Yang mana?" tanya Hinata dan Naruto pun menunjuk pada rumus penjumlahan trigonometri.

"Oh, itu. Cara menghafalkannya, ehm… Mungkin agak aneh, tapi dengarkan, ya!" kata-kata Hinata itu disambut dengan anggukan oleh Naruto.

"Sin dalam kurung alfa plus beta sama dengan Shibuya punya cewek yang sangat baik, suka cosplay."

"… Shibuya adalah sin alfa, cewek adalah cos beta, sangat baik adalah sin beta, dan cosplay adalah cos alfa. Jadi, sin dalam kurung alfa plus beta sama dengan sin alfa cos beta ditambah dengan sin beta cos alfa. Bagaimana?"

"Aa, keren juga…" angguk-angguk Naruto yang kini mulai menghafalkan rumus yang Hinata beritahukan kepadanya.

"Semakin aneh cara menghafalnya, kamu akan semakin ingat," tambah Karin pada Naruto.

"Contohnya rumus yang baru saja muncul di otakku. Rumus yang kuciptakan dari keadaan yang kulihat saat ini," Karin pun tersenyum penuh arti.

"Eh? Memangnya apa?" Naruto mengangkat sebelah alisnya penasaran, sedangkan Hinata hanya memainkan pensilnya dalam genggaman kelima jarinya. Memangnya apa yang akan dikatakan Karin?

"Dua orang sedang jatuh cinta. Cinta Hinata dipadu cinta Naruto sama dengan penjumlahan cinta NaruHina ditambah selisih cinta NaruHina. Dua kali cos x kali cos y sama dengan cos jumlah xy ditambah cos selisih xy," ucap Karin dengan penekanan pada semua kata 'cinta'.

"Apa-apaan itu~" Naruto cengo hingga menggerogoti pensil kayu.

"Karin-chan!" Hinata merona, menyembunyikan wajah manisnya di balik buku latihan soal kimia yang dia kerjakan tadi. Hebat, Karin benar-benar sensitif. Namun, bukankah yang jatuh cinta itu hanya Hinata saja?

"Ha ha ha ha ha…" Karin tertawa seperti om-om kegirangan.

"PSSST!"

...ooo...

…ooo…

Jam pulang sekolah,

"Naruto-kun, Hinata-chan, aku mau ekskul dulu."

"Huh, ekskul atau caper sama Sasuke? Sasuke udah punya Sakura-chan loh, percuma," goda Naruto sambil menepuk pundak Karin dan menghela napasnya dalam-dalam.

"Memang aku terlihat secentil itu ya? Aku sudah tahu kalau Sasuke-kun bersama Sakura," ucap Karin dengan begitu tenang kemudian memalingkan pandangannya ke arah samping, mencoba menyembunyikan sesuatu yang bergemuruh dalam dirinya ketika mendengar perkataan Naruto. Hinata yang berhadapan dengan Karin belum pernah melihat Karin yang seperti itu sebelumnya. Hinata bisa melihat jelas apa yang dirasakan Karin dari air mukanya. Sama seperti dirinya, merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Karin menyukai Sasuke. Hinata pun melirik ke arah Naruto yang ada di sampingnya. Naruto pasti juga merasakan hal yang sama seperti Karin. Hinata tahu benar bahwa Naruto menyukai Sakura. Seandainya Hinata bisa menjadi seseorang yang murah senyum dan lincah seperti Sakura, mungkin Naruto akan bisa menyukainya. Ya, seandainya saja… Namun, ketiga orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan ini tidak bisa melawan takdir.

"Hinata-… chan?" Iris biru langit menemukan wajah merona yang sedang melamun menatap wajahnya. Refleks, wajah Naruto pun ikut memerah melihat dirinya ditatap seperti itu oleh Hinata.

'Hinata-chan lucu, apa yang sedang dia lamunkan, yaa?' pikir Naruto dalam hati sambil memandangi wajah merona yang ada di sampingnya.

"Naa- Na- ru- to- kun…" BINGO! ternyata iris lavender yang baru saja tersadar dari lamunannya juga menemukan wajah merona sang pangeran yang menatap wajahnya.

"Hei, kalian jangan saling tatap begitu. Aku iri, nih! Sana berangkat!" Karin mendorong punggung kedua temannya itu hingga membuat mereka melangkahkan kakinya dengan paksa. Hinata menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke belakang, ke arah Karin.

"Karin-chan tidak apa-apa?" Jujur, Hinata mencemaskan Karin.

"Pasti! Aku kan kuat! Hehehe," Karin tertawa sambil melambaikan tangan mungilnya ke arah Naruto dan Hinata. Hinata pun balas melambaikan tangannya kemudian mengejar Naruto yang sudah berjalan mendahuluinya.

.

"Kamu tak perlu khawatir, Hinata-chan," kata Naruto dengan santai sambil memandangi langit yang membiru.

"Kalau kita mencintai seseorang, bukankah kita turut bahagia ketika kita melihat orang yang kita cintai bahagia?" bisik Naruto tiba-tiba di telinga Hinata dengan lembut. Napas hangat Naruto yang menghembus telinganya membuat Hinata merasa sedikit geli dan deg-degan. Entah kesambet apa Naruto bisa mengatakan hal bijak seperti itu. Hinata hanya tersenyum, mengeratkan genggaman tangan pada tas sekolahnya, menundukkan kepala, dan berkata "Ya"

.

.

"Sen no yoru o koete ima anata ni ai ni ikou. Tsutaenakya naranai koto ga aru. Aisaretai demo aisou to shinai. Sono kurikaeshi no naka o samayotte. Boku ga mitsuketa kotae wa hitotsu kowakutatte kizutsuitatte suki na hito ni wa suki tte tsutaerunda. Sono omoi ga kanawanakutatte suki na hito ni wa suki tte tsutaeru. Sore wa kono sekai de ichiban suteki na koto sa…"

"Akan kulalui ribuan malam dan pergi temui dirimu saat ini. Ada suatu hal yang harus kukatakan padamu. Aku ingin dicintai olehmu, tapi sepertinya kau takkan mencintaiku. Aku mengembara di dalam pengulangan itu. Aku pun telah menemukan satu jawaban: meskipun aku takut, meskipun aku akan terluka, akan kukatakan 'Aku menyukaimu' kepada orang yang kusukai. Meskipun perasaan ini tak terbalas, katakan 'Aku menyukaimu' kepada orang yang kausukai. Itu adalah hal yang paling indah di dunia ini…"

~Sen no Yoru o Koete (Akan Kulalui Ribuan Malam) by Aqua Timez

...ooo...

…ooo…

Kembali lagi pada ruang rahasia milik Naruto dan Hinata. Ruang audio visual memang sangat membantu Hinata selama sebulan ini. Hinata bisa menyelesaikan hampir semua sketsa untuk manuskripnya. Saat ini, kurang satu bab akhir dan Hinata pun bisa melakukan penintaan pada manuskrip manga-nya.

Pada bangku yang sama seperti satu bulan yang lalu, Hinata menggoreskan pensilnya di atas kertas manuskrip. Tangan ahlinya bergerak dengan gesit sehingga menghasilkan garis yang berani, tidak putus-putus. Namun, kegesitan tangan 'dewa'nya terhenti ketika Hinata dihadapkan untuk menggambar suatu adegan penting. Bagaimana posisi orang berpelukan yang benar? Ketika menggambar storyboard-nya dahulu, Hinata melewati adegan itu dan menggantikannya dengan kerangka dasar proporsi manusianya saja –garis berbentuk lingkaran dan oval—. Lalu sekarang? Hinata menggambarnya dengan membayangkan posisi orang yang sedang berpelukan tersebut dan hasilnya cukup bagus –menurut Hinata sendiri—.

"Naruto-kun, bagaimana pendapatmu?" Hinata memberikan beberapa lembar sketsa manuskrip yang berhasil dia selesaikan hari ini. Naruto pun menerimanya kemudian membaca dan mengamati karya yang telah berhasil Hinata goreskan di sana. Mata Naruto pun terhenti pada lembar terakhir yang sedang dia pegang.

"Hinata-chan, adegan berpelukan ini janggal, deh! Padahal ini adegan akhir yang penting, kan? entah mengapa sama sekali nggak terasa feel-nya."

"Aa? Padahal aku sudah berusaha menggambar adegan itu. Selain itu, aku belum tahu apa yang dirasakan orang ketika berpelukan… Jadi, feel-nya nggak terasa," jelas Hinata sambil menarik-narik rok liptnya.

"Bagaimana kalau kita berdua yang jadi modelnya?"

"Na— Naruto-kun… Maksud—"

"Ya. Kita foto berdua, memerankan adegan itu! Sama seperti aku dulu, lho~. Lagipula aku bawa kamera digital, jadi kamu bisa menggambar sambil melihat fotonya! Ideku bagus, kan?" sela Naruto dengan riang. Semangat membara pun terpancar di kedua iris Naruto. Memang itu ide yang sangat bagus dan praktis. Namun Naruto-kun, apakah kamu tak memikirkan bagaimana keadaan gadis yang bernama Hyuuga Hinata itu? Terutama keadaan perasaannya…

.

Hinata –yang bahkan belum mengatakan 'ya' atas ide Naruto— hanya berdiri membatu di depan jendela, dia gugup, bingung mengatur perasaannya, sedangkan Naruto mengatur kamera digitalnya agar mendapatkan point of view yang tepat dan mengatur timer otomatis agar fotonya dapat tertangkap dengan mudah. Karena persiapannya sudah selesai, Naruto berlari kecil menghampiri Hinata dan mempersiapkan pose mereka. Hinata menatap mata Naruto dengan tatapan tak yakin akan apa yang akan mereka lakukan.

"Daijoubu da yo, Hinata-chan." Naruto merengkuh tubuh mungil Hinata dan mendekatkan wajahnya pada bagian samping wajah Hinata.

"Ini kulakukan untuk komikmu karena aku adalah fans pertama yang akan selalu membantumu," bisik Naruto lembut di telinga Hinata.

Naruto merengkuh tubuh mungil Hinata sedikit lebih erat, tapi tetap memeluknya dengan sangat hati-hati. Hinata hanya bisa memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Naruto. Entah mengapa Naruto merasa aneh. Rasanya seperti rindu yang entah tak bisa terungkap dengan kata-kata. Rindu dengan seseorang yang telah lama tidak ditemui, mungkin seperti itu, padahal Naruto selalu bertemu dengan Hinata setiap hari untuk menggambar di ruang audio visual ini. Degup jantung Hinata terasa olehnya. Berdegup dengan cepat. Tanpa Naruto sadari, Hinata juga merasakan degup jantungnya.

'Klik,' suara kamera pun terdengar. Pose mereka telah tertangkap kamera. Naruto langsung melepaskan pelukannya di punggung Hinata. Wajah imut Hinata yang dipenuhi rona merah pun tertangkap oleh lensa mata Naruto. Sorot mata lavender itu dengan jelas menunjukkan bahwa gadis ini –begitu— mencintainya.

.

.

"Matahari sudah terbenam. Bawa saja kameranya denganmu, Hinata-chan. Kamu akan mengerjakan manuskripmu di rumah, kan? Karena ayahmu sedang ke luar kota…" kata Naruto sambil memberikan kamera digital jingganya kepada Hinata.

"Iya. Terima kasih banyak, Naruto-kun," ucap Hinata lembut diiringi dengan senyuman di wajah manisnya.

"Maaf tak bisa mengantarmu karena Karin meminta aku pulang bersamanya."

"Ti— tidak masalah, aku sudah menelepon sopirku, kok! Mata ashita." Satu lagi senyuman mengembang pada pipi putih Hinata.

"De wa mata," jawab Naruto dengan senyuman pula, senyuman yang menentramkan hati Hinata.

Hinata melambaikan tangannya kemudian berjalan menuju gerbang sekolah. Naruto hanya bisa melihat tubuh mungil yang semakin mengecil di pelupuk matanya ditemani mega yang yang berwarna indah di langit.

.

.

Hinata telah sampai di pintu gerbang rumahnya. Hinata pun melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumahnya.

'Aku tak percaya… Jantung Naruto-kun berdegup dengan kencang...' Hinata terus saja memikirkan hal itu sedari tadi, pelukan pertamanya dengan orang yang dicintainya. Memang Naruto maksa, tapi— tapi Hinata menjadi tahu sesuatu hal yang baru tentang Naruto. Sebenarnya Naruto juga sama-sama gugup seperti dirinya tadi. Namun, kegugupan itu tak terlihat pada wajah Naruto. Apa semua pemuda menyembunyikan apa yang dia rasakan seperti itu? atau hanya sang gadis lah yang terlalu berlebihan ketika merasakan pelukan orang yang dicintainya?

"Tadaima~" Hinata membuka pintu rumahnya dan meletakkan sepatunya.

"Okaerinasai," jawab seseorang dari dalam Rumah. Suara yang berat.

'DEG! Suara itu? Jangan-jangan…' Tiba-tiba Hinata merasakan firasat yang kurang baik. Hinata berjalan memasuki rumahnya dan dia menemukan seseorang yang menjawab salamnya sedang duduk di sofa ruang tamu. Benar, suara itu adalah suara ayahnya, Hyuuga Hiashi.

"Aa—Ayah… bu- bukankah ayah akan pulang ke rumah besok lusa?" tanya Hinata dengan suara yang bergetar.

"Iya. Syukurlah, pekerjaan ayah selesai lebih cepat." Ayahnya tersenyum.

"Ah, begitu ya…" Hinata membalas senyuman ayah tercintanya itu, senyuman terpaksa. Entah mengapa otot-otot di pipi Hinata terasa kaku untuk tersenyum seperti biasanya.

"Oh iya, ayah menemukan kertas bergambar ini di meja belajarmu. Bisakah kamu jelaskan semua ini? Bukankah kamu telah berjanji pada ayah, Hinata?" kata ayahnya dengan suara yang sedikit ditinggikan.

.

'Gawaaat, itu kan manuskrip mangaku!'

'Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?'

.

.

~Tsuzuku

~Bersambung

.

.


Author's Note


*) Uzai = Menyebalkan

**) Ojamashimashita, gomen ne = Mohon maaf karena telah mengganggu Anda

.

HUWAAAH~ Akhirnya chapter 4 ini selesai juga. Maaf karena saya lama sekali updatenya. Maklum, sibuk mempersiapkan Ujian Nasional yang akhirnya selesai juga.

Hehe, kali ini saya tulis dengan banyak kejadian. Ada rahasia baru yang terkuak pada chapter ini, kan? Naruto pernah hilang ingatan. Kira-kira karena kecelakaan apa ya? Tunggu di chapter 5!

Lagu Aqua Timez untuk chapter ini adalah Sen no Yoru o Koete, salah satu lagu favorit saya. Lagu ini merupakan lagu yang tulus karena mengajarkan kita untuk ikhlas jika orang yang dicintai mencintai orang lain. Saya belajar banyak dari lagu ini.

.

Berikut adalah balasan untuk yang mereview chapter 3.

Mitsu Rui

Salam kenal Rui-san! Terima kasih banyak! Ah, tragedi ya… Hehe, kita tunggu saja endingnya. Ternyata jalan ceritanya sudah kemana-mana, bahkan lebih dari satu komik yang sudah saya sebutkan di awal. Yosh! Ganbarimasuuuu~ XD

Uchiha Shige

Huah, sekali lagi terima kasih banyak telah mereview tulisan saya. :) Ah, ide ini pun saya kompilasi dari komik-komik yang pernah saya baca. Mungkin anda bisa menemukan inspirasi dari membaca komik. tetap semangat!

Guest

Ya, saya Aqua Fanz! Saya selalu nangis ketika dengar lagu Aqua Timez yang menyentuh hati –cengeng lu, Nat, LOL— Maaf, saya updatenya nggak kilat, tapi ini sudah di-update kan? terima kasih banyak reviewnya~ :D

stevanirotty

Terima kasih banyak stevanirotty-san! Sudah update, nih! :D

.

.

Terima kasih banyak telah meluangkan waktu membaca/ mereview fic saya. :3

Sampai jumpa di Himawari chapter 5!

Sore de wa, mata aou~ :D

Mind to R&R?