Waktu itu, aku menemukanmu. Aku tidak sempat membantu di sana yang sedang berperang. Rasa sesal kembali menyerangku. Membawa dan menolongmu mungkin satu-satunya cara untuk menebus rasa sesalku. Tidak mengerti akan diriku sendiri. Setiap hari melihatmu yang sedang tertidur lelap. Saat kau membuka matamu, aku seperti terperangkap dalam hutan ketenangan. Aku berpikir selama ini hatiku selalu ada dalam kegelapan. Tapi, melihatmu saja rasa hangat dapat ku rasakan. Aku tau ini kebohongan dan kau akan membenciku bahkan meninggalkanku saat tau yang sebenarnya. Tentang ingatanmu yang hilang dan aku yang memanfaatkannya.
"Aku Itachi dan kau adalah kekasihku... Cherry."
Entah apa yang aku perbuat hingga membisikan kata itu. Tapi, aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri jika aku... mencintainya.
Akatsuki
Naruto © Masashi Kishimoto
Story by KiRei Apple
U. Sasuke x H. Sakura
.
.
.
.
Don't Like, Don't Read!
.
.
.
.
4
.
.
.
=Akatsuki=
Gadis yang sempat mengunjungi apartement Sasuke tersenyum saat sebuah mobil sport hitam yang sangat ia kenali itu berjalan ke arahnya.
Mobil itu berhenti dan gadis itu merunduk, melepas kaca mata hitam yang di pakainya saat kaca pintu mobil terbuka perlahan.
"Sudah selesai?" tanyanya pada lelaki yang menyetir dan memegang kemudi itu. Dan ia kembali memakai kaca matanya.
Lelaki itu mengangguk dan membuka pintu mobil mempersilahkan gadis itu untuk masuk.
"Kita kembali ke markas?" gadis itu bertanya kembali setelah duduk di samping lelaki itu. Lelaki itu menoleh dan mengangkat tangan kirinya untuk mengelus pipi gadis itu -kekasihnya.
"Bagaimana dia?" lelaki itu balik bertanya menanyakan seseorang kepada kekasihnya.
Gadis itu menggenggam telapak tangan kekasihnya yang berada di sisi wajahnya. Rasa hangat selalu ia rasakan saat berdua, seperti ini dan ia tau siapa yang dimaksud kekasihnya itu. "Dia sedang demam. Tapi dia baik-baik saja." jawabnya tentang keadaan orang itu.
"Hn."
Gadis itu tersenyum. "Dua tahun lalu kau baru menemukan kembali adikmu itu dan tidak menyangka dia masuk ke naungan pria laknat itu."
Lelaki itu terdiam dan melepaskan tangannya dari genggaman kekasihnya. "Bersiaplah! Beberapa mobil sedang mengincarku."
"Mengejar?" gadis itu mengeryitkan alis bingung. Namun saat menoleh kebelakang, beberapa mobil dan senjata keluar dari samping-samping mobil itu membuatnya mengerti. Membalikan badan, ia menghadiahi kecupan di pipi kekasihnya. "Ayo kita bermain... Itachi-kun."
Lelaki itu tidak mengatakan apapun dan tangannya bergerak mengemudikan mobilnya. "Hn."
"Biar aku yang mengurus mereka."
Gadis itu keluar dengan setengah badan di dalam mobil. Pistol khusus miliknya ia acungkan dan membidik lima mobil yang mengejar mereka.
"Dasar tengil." dengusnya dan melepaskan dua tembakan ke arah berbeda dan...
'DOR'
'DOR'
... sukses mengenai dua pengemudi dari mobil berbeda itu.
Peluru roket yang berjumlah sepuluh mengarah ke arahnya. Mendengus, gadis itu mengangkat tangannya. Mengepal, kemudian membukanya.
"Balik!"
Sinar putih keluar dan menolak peluru yang mengarah kepadanya dan berbalik mengenai mobil yang mengikutinya.
'DUAR'
Bunyi ledakan membuatnya kembali menyeringai. Mengendelikan bahu, ia masuk kembali dan duduk.
"Mendokusei."
Lelaki yang nampak tenang dalam menyetirnya bergumam namun akhirnya menoleh memandang kekasihnya yang kini bersender dan memejamkan matanya.
"Istirahatlah. Nanti aku akan masakan sesuatu untukmu."
Gadis itu membuka matanya dan menghembuskan nafasnya pelan. "Aku ingin tidur denganmu."
"Hn."
Mendengar jawaban kekasihnya itu, gadis yang kini membuka kaca mata dan nampaklah iris zamrud miliknya itu tersenyum. "Aku sangat merindukanmu."
Ya. Kekasihnya itu pergi seminggu yang lalu dan mereka baru bertemu hari ini. Meski sering tidur bersama, ia dan Itachi belum pernah melakukannya. Membayangkan hal itu saja membuatnya terasa panas.
"Sedang memikirkan apa... Cherry?"
"I-itu, tidak ada." jawab gadis itu -Cherry- dengan memalingkan wajahnya ke samping.
Itachi tersenyum. Tau. Sangat tau apa yang di pikirkan kekasihnya itu. Siapapun jika selalu tidur bersama pasti akan merasa sesuatu nurani atau jati diri sebagai seorang pria akan tergoda jika selalu bersama orang yang dicintainya. Namun, ia tidak ingin melakukan hal itu karena suatu hal. Sesuatu yang selalu membuatnya ketakutan tentang... kebohongan.
"Aku merindukanmu dan kau tau itu, Cherry."
.
.
.
.
Di ruangan khusus pusat pengintai atau keamanan dari kamera yang terpasang di setiap sudut kota nampaklah petugas yang tengah sibuk dan terkejut saat melihat pertempuran tadi. Seorang perempuan yang bisa membalikan peluru dan tepat sasaran membidik targetnya. Decak kagum dan kengerian jelas terlihat dari wajah mereka.
"Sugoii." kagum petugas yang masih melihat layar yang kini menampakan asap melambung tinggi ke udara.
"D-dia sangat berbahaya." komentar salah satunya lagi.
"Akatsuki."
Sesorang muncul di belakang mereka dan sontak terkejut dan mereka langsung membungkuk hormat. Dia seorang berpostur tinggi besar dengan wajah yang datar. Dia adalah...
"Danzo-sama."
... Pemimpin.
Danzo tidak peduli akan sapaan itu. Pandangannya sedari tadi fokus dengan kejadian yang barusan terjadi. Bibirnya nampak melengkung menampilkan sebuah senyuman. Senyuman yang mengerikan.
"Benar... Dia," ujarnya.
"Ya Danzo-sama?"
"Bekerja kembali dan tingkatkan keamanan!" Danzo pergi setelah mengatakan itu. Raut wajahnya jelas seperti senang seolah mendapatkan sesuatu yang akan menarik.
Petugas keamanan itu nampak bingung namun memilih mematuhi perintah atasannya dan berbalik duduk di depan layar pengawas.
.
.
.
.
=Akatsuki=
.
.
.
.
Markas Akatsuki.
Itachi bersender di pintu kamarnya yang sudah tertutup dan menatap kekasihnya dalam diam. Entah apa yang di pikirkan gadisnya itu hingga tidak menyadari kehadirannya. Cherry berdiri di jendela yang tidak tertutup hingga menampilkan keindahan Konoha yang jelas terlihat karena markas ini memang terletak di bukit.
Memutuskan beranjak, ia menghampiri kekasihnya dan memeluk tubuh mungil itu dari belakang. Merebahkan kepalanya, menghirup aroma khas yang selalu membuatnya nyaman.
"Memikirkan apa, hm?" bisiknya pelan.
Cherry terlonjak dan menoleh ke samping di mana kini hidung mereka saling bersentuhan. "Itachi-kun!"
"Hn."
"Kapan kau masuk?"
"Apa yang membuatmu seperti ini sehingga tidak menyadari keberadaanku?"
Cherry tersenyum dan dengan jelas ia bisa merasakan hembusan nafas kekasihnya. "Gomen ne, aku hanya..."
Itachi tersenyum dan langsung mengecup bibir kekasihnya dan membawanya dalam ciuman panjang. Membalikan badan kekasihnya, kemudian tangannya terangkat mengelus surai merah muda dan menekan tengkuknya untuk memperdalam ciumannya.
"Jika keberatan, tidak apa jangan ceritakan." kata Itachi yang sudah melepaskan ciumannya. mengelus surai merah muda kekasihnya dan kemudian berbalik namun...
"Aku merasa kehilangan."
... Cherry menghentikannya dan memeluknya dari belakang.
Itachi terdiam. Dan dengan perlahan membalas menggenggam tangan kekasihnya dan melepaskannya.
"Sudah larut. Tidurlah!"
Cherry tertegun. Suara Itachi seperti sedang banyak beban. "Ada apa?" Cherry balik bertanya melihat Itachi yang sepertinya berbeda dari biasanya.
"Tidak ada apa-apa."
"Kau berbohong."
"Tidak. Aku tidak berbohong jika aku sangat mencintaimu."
Mendengar pengakuan Itachi membuat Cherry langsung memeluk tubuh kekasihnya itu. Jika mengatakan hal itu entah kenapa selalu membuatnya hangat. Hangat dan sepertinya rasa cintanya pun sudah lama tumbuh. Tapi, sesuatu dalam dirinya terasa kosong. Entahlah. Apa yang membuatnya merasa kehilangan padahal selama ini kekasihnya selalu menemaninya.
"Ayo." Itachi menarik lengan Cherry dan membawanya ketempat tidurnya. Senyuman tipis tercipta saat kekasihnya sudah berbaring di salah satu sisi kasur berukuran sedang itu.
"Kau janji akan menemaniku."
Menaiki kasur, Itachi merebahkan dirinya di samping kekasihnya dan menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka. Menyamping, ia pandangi wajah kekasihnya yang juga berhadapan dengannya.
"Tidurlah!" perintahnya dengan tangan terangkat mengelus sisi wajah kekasinya itu.
Cherry tersenyum dan merapat pada tubuh kekasihnya dan memeluk tubuh tegap itu. Menghirup aroma yang sangat dirindukannya, ia mengubur wajahnya dalam dada bidang Itachi.
"Aku merasa kehilangan dan mungkin karena merindukanmu."
Membalas pelukan kekasihnya Itachi hanya bergumam dan mengecup kening kekasihnya. "Besok akan melelahkan dan tidurlah."
Cherry mengangguk dan memejamkan matanya. Dan tidak lama dengkuran halus sudah keluar darinya menandakan jika ia sudah berpindah ke alam berbeda -alam mimpi.
Lama terdiam, Itachi merunduk dan mengecup bibir kekasihnya sekilas. "Aku selalu takut... Cherry."
.
.
.
.
=Akatsuki=
.
.
.
Ruangan para anggota elite Anbu terlihat sunyi tidak seperti biasanya. Bukan kosong. Melainkan anggotanya nampak serius mendengar Letnan mereka berbicara. Namun, tidak untuk yang lain. Melihat ketiga rekannya tidak seperti biasanya membuat mereka bertanya-tanya. Shikamaru yang selalu tertidur kini nampak serius dengan tangan yang menopang dagu mendengarkan intruksi Kakashi. Naruto yang biasanya berisik kini terlihat sangat serius dan lagi Sasuke, dia tidak pernah mau mendengar dan selalu acuh namun kini terlihat serius dengan mata yang sudah berubah merah.
"Kita harus berangkat dan mengamankan acara ini." Kakashi berkata dan menatap semua anggotanya yang kini sudah berkumpul. Onyx-nya memandang tiga bawahannya yang kini terlihat serius dan ia sangat tau apa penyebabnya.
"Jika kalian terdesak, kalian boleh membunuh anggota Akatsuki."
Perkataan Kakashi membuat ketiga pemuda itu langsung terkejut dan memandangnya sengit. Menghela nafas, Kakashi menambahkan. "Kecuali satu dari anggota mereka..." ia menghentikan perkataannya.
Semua anggota memandang atasannya heran. Kakashi tidak pernah seragu ini. Siapa yang membuat Kakashi seperti setengah-setengah itu dalam bertindak.
"Siapa?" tanya Sai yang penasaran. Kenapa mereka tidak boleh membunuh orang atau salah satu anggota musuh.
"Danzo-sama menginginkan dia jadi," Kakashi melirik ketiga lelaki, Sasuke, Naruto dan Shikamaru. "Ia meminta kita menyerahkan-nya padanya."
Pikiran mereka terus bertanya. Siapa? Sepertinya orang itu berbahaya atau orang penting bagi Pemimpin Negara ini?
"Kami sudah melacak dan dia adalah gadis dengan kekuatan yang tak terduga. Dan dia ada saat insiden kemarin."
Ketiga lelaki itu membulatkan matanya.
Tidak!
Tidak bisa!
"Aku tidak mau!" Naruto bersuara keras menolak perintah itu.
Shikamaru memandang Kakashi dengan wajah yang jelas sangat marah mendengar hal itu. "Apa alasan dia memerintah hal itu?"
"Aku akan membunuh Danzo jika hal itu terjadi."
Anggota lain tidak mengerti akan situasi ini. Kenapa ketiga teman mereka malah seperti ini?
"T-tapi ini perintah Pemimpin." Hinata berbicara mengingatkan mereka. Sebenarnya ia pun bingung ada apa yang terjadi. "S-sasu..."
'KLEK'
Hinata menghentikan perkataannya karena sesuatu yang mengancam nyawanya terlihat jelas di depannya. Sasuke mengacungkan pistol miliknya padanya,
"H-hey apa-apan kau Sasuke!" Kiba berteriak marah melihat apa yang di lakukan Sasuke pada salah satu anggota mereka.
"Sasuke!" tegur Kakashi.
Sasuke mendengus. Berdiri ia berbalik meninggalkan ruangan ini. Namun langkahnya terhenti dan berkata. "Kau tau apa yang akan aku lakukan, Kakashi." katanya dan pergi menuju lorong yang menghubungkan pintu keluar.
Kakashi menghela nafas. Dan kini raut anggota yang lain terlihat penasaran.
"Naruto, Shikamaru kalian tau apa yang akan aku lakukan... jadi awasi Sasuke."
Naruto dan Shikamaru hanya menjawab dengan gumaman.
"Kalian pasti bertanya kenapa dengan mereka," ujar Kakashi pada anggota lainnya. Mereka yang di maksud pasti tau siapa yang ia bicarakan. "Tapi sekarang bukan waktunya bercerita jadi bersiaplah menuju lokasi."
"Aku masih ingin tau," Sai berdiri dan tersenyum. "Tapi saat ini kita ada tugas jadi aku bisa mengerti."
"Yah, walau pun ini menyebalkan, tapi kita harus bersatu menjadi pasukan kedamaian." Kiba berkata sambil mengelus kepala Akamaru yang kini bangun dari tidurnya.
"Baiklah, sepertinya sudah saatnya." Ino berkata dan menunjuk jam di dinding.
Semua anggota bersiap dan berdiri berhadapan dengan Kakashi.
"Kami akan menuju lokasi."
Semua memberi hormat.
Kakashi mengangguk. "Aku serahkan pada kalian dan Naruto, Shikamaru," Kakashi menatap kedua lelaki itu dengan wajah serius. "Kalian tau apa yang harus kalian lakukan." katanya dengan senyuman dan kedua lelaki itu tersenyum membalasnya.
Semua mengangguk dan berbalik pergi meninggalkan ruangan yang kini hanya tinggal atasan mereka sendiri.
Kakashi berjalan menuju pintu kaca yang menghubungkan dengan taman khusus yang ada di ruangan ini. Onyx-nya terpejam sesat dan terbuka saat merasakan seseorang hadir di ruangan ini.
"Sepertinya Danzo menginginkan Dia. Bukan begitu... Letnan Kakashi?"
Suara lembut itu terdengar dari lorong. Suara langkah kaki pun nampak semakin jelas dan kini berhenti. "Apa kabar, Letnan Kakashi?"
Kakashi berbalik dan menatap wanita pirang yang kini berdiri tidak jauh darinya.
"Temari-san."
Wanita itu melambaikan tangan dan langsung duduk. Iris jadenya menatap sekeliling ruangan itu. "Ruangan menakjubkan untuk para anggota Anbu."
Kakashi masih pada posisinya berdiri dan mengamati wanita yang ia ketahui adalah bawahan Danzo.
"Ada hal apa yang membuatmu repot-repot ke sini?"
Temari tertawa pelan dengan kaki yang di silangkan hingga menampakan paha jenjangnya terekspose karena rok span yang di gunakannya.
"Aku hanya berkunjung."
Kakashi tidak percaya. Perempuan ini sangat misterius dan... berbahaya.
"Berkunjung saat atasanmu sedang melakukan acara?"
"Wah wah, kau tidak bisa di ajak basa-basi ternyata, Letnan." decak kagum Temari akan sikap Kakashi.
Temari kini nampak serius dan membuka sebuah map biru yang di bawanya dan membukanya sehingga menampilkan sebuah artikel lusuh dan beberapa surat kabar ada di sana.
Kakashi mengeryitkan alisnya melihat apa yang di bawa wanita itu. Artikel tentang perang sebelas tahun dan lima tahun lalu.
"Kau tau, kejadian sebelas tahun lalu telah terjadi perang di mana-mana," Temari mulai berbicara dan Kakashi kini menghampirinya, duduk di salah satu sofa berseberangan dengan Temari. Temari melanjutkan perkataannya. "Suna telah kehilangan pemimpin dan pada saat itu putrinya di larikan ke Konoha. Namun sayang kabar memberitakan jika gadis itu telah meninggal. Namun yang di temukan hanya mayat pengasuhnya."
"Jadi, apa yang membuatmu menceritakan ini padaku?"
Temari melirik Letnan yang kini banyak di takuti para musuh karena ketegasan, kekuatan dan otak yang genius itu.
"Ini."
Temari melemparkan sebuah foto yang ia temui. Foto Kakashi dan muridnya dulu, Sasuke, Sakura, Naruto dan Shikamaru.
"Maksudmu?"
"Belum terbukti. Tapi, tolong lindungi gadis itu."
Perkataan Temari membuat Kakashi menegang. "Kau tau dia?"
"Aku tau sekarang dia berada di kelompok Akatsuki. Tapi, aku tidak ingin Danzo menangkapnya karena..." Temari menghentikan perkataannya membuat Kakashi semakin heran dan penasaran.
"Dia memiliki kekuatan yang khusus."
Temari mengangguk. Namun hal lain tidak bisa di katakannya katena suatu alasan.
"Percayalah dan ku harap kau tidak takluk pada kakek tua itu." kata Temari yang kini bangkit berdiri. Iris jadenya menatap Kakashi lekat dan tersenyum. "Terima kasih atas waktunya, Letnan." dan kemudian berbalik pergi meninggalkan Kakashi.
Iris Onyx Kakashi menatap artikel di atas meja itu. Berita-berita tentang kejadian sepuluh dan lima tahun silam. Dari apa yang di sampaikan Temari jelas mengarah pada Sakura. Dan jika Sakura adalah gadis penting dari Suna dan hal menejutkan adalah Sakura merupakan anak dari pemimpin itu berarti dia adalah adik... Pemimpin Suna sekarang. Jika Danzo menangkap Sakura hal buruk pasti terjadi antara Suna dan Konoha jika kebenaran Sakura adalah kenyataan.
Menghela nafas panjang, Kakashi berdiri dan mengambil senjatanya yang terletak di atas meja kerjanya. Sepertinya ia pun harus turun tangan.
.
.
.
.
=Akatsuki=
.
.
.
.
Para siswa dan para tamu berkumpul di aula utama yang tersedia di sekolahan ini. Sekolahan ini Khusus di didirikan untuk mengasah kemampuan khusus yang di miliki generasi selanjutnya, terutama kaum Atas.
Semua tidak berjalan lancar. Tepat, setelah Danzo mengakhiri pidatonya, keributan terdengar jelas. Para manusia aneh kembali menyerang dan anggota Akatsuki yang tentunya sudah sangat di tunggu pemimpin Konoha ini.
"Ibiki, Tangkap anggota Akatsuki berambut merah muda itu!"
Danzo memerintahkan misi khusus kepada bawahannya. Sebenarnya ia sudah memerintahkan pada anggota Anbu. Namun ini adalah rencananya untuk membuktikan sesuatu yang selama ini membuatnya penasaran atas percobaan masa lalu Orochimaru pada dua bersaudara itu.
"Baik. Saya akan melaksanakan perintah anda, Danzo-sama."
Ibiki, salah satu Letnan dari pasukan penyerang di militer berlutut dengan pedang panjang di tangan kanannya. Berdiri, ia berbalik pergi meninggalkan Danzo dalam ruangan Khusus kepala sekolah.
"Sepertinya anda sangat senang, Danzo-sama."
Perkataan seseorang tidak membuat Danzo menatap orang itu. Perempuan pirang yang menjadi assistennya berdiri dan bersender di bingkai jendela yang nampak memperlihatkan awan hitam dari ledakan-ledakan yang sedang terjadi pertempuran.
"Kau tau, aku hanya ingin abadi... Temari-san."
Temari nampak terdiam. Iris jadenya menatap pemandangan kota yang kini seperti lukisan yang hanya menampilkan warna hitam dan orange. "Tidak ada yang abadi di dunia ini, Danzo-sama."
Danzo hanya tertawa kencang menanggapi perkataan Temari.
"Tapi bagiku itu bisa dan hanya aku."
.
.
.
.
Anggota elite Anbu nampak senang melihat musuh yang kini terdesak. Lelaki pirang dan lelaki aneh berwarna biru.
"Kisame, kenapa kau kalah, eh?"Deidara berdecak kesal pada salah satu rekannya yang kalah dengan begitu mudah.
"Mereka mengancam akan membunuh ikan Koi, Dei"
"Kau... KAU KALAH HANYA HAL ITU?!"
Kisame mengendelikan bahu. "Mau bagaimana lagi?"
"Hoi hoi jangan bertengkar!" teriak Kiba yang kesal melihat kedua musuh mereka yang kini bertengkar.
Hinata membulatkan matanya saat matanya menangkap sesuatu. Berlari, ia menghampiri Naruto saat sesuatu datang mengarah pada Naruto.
"NARUTO-KUN AWAS!"
'TRANK'
Hinata menghentikan langkahnya dengan kelegaan yang menghampirinya. Musuh dengan pedang sabit besar yang mengarah pada Naruto di halangi memakai Kusanagi miliknya.
"Wow... Kau sangat cepat juga anak ayam."
Anggota Akatsuki lain berdiri tidak jauh di belakang Naruto dan Sasuke.
Sasuke mendecih dan langsung menyerang pria abu-abu itu. Gerakan Pria itu sangat cepat apalagi pedang itu yang bisa menebasnya dengan sekali tebasan.
"Kau mirip seseorang." Orang itu berbicara di sela pertarungannya. Seringai nampak jelas di bibirnya karena bisa bertarung hingga berkeringat seperti ini.
Sasuke tidak menghiraukannya. Kusanagi miliknya kini mengeluarkan api besar dan menyerang pria itu.
"Percuma saja bocah." Pria itu bisa menangkisnya dengan mudah. Namun, tiba-tiba segel hijau dan berlambang Yin-Yang berada di bawahnya membuatnya tidak bisa menggerakan badannya. "Sial!"
"Maaf menunggu!"
Lelaki yang berkekuatan hampir sama dengan Hinata datang.
"Neji!"
Neji menoleh dan kembali fokus pada targetnya.
"Kalian urus yang dua itu!"
Deidara dan Kisame sama halnya dengan Hidan yang tidak bisa menggerakan badannya karena ulah bocah nanas itu.
"Dei kita akan mati kah?"
Deidara berdecak kesal mendengar perkataan Kisame. Walau tau jika mati pasti akan ia rasakan, tapi sekarang bukan saatnya.
"Tutup mulutmu!"
"Mendokusei. Apa kalian mempunyai permintaan terakhir?"
"Aku ingin membunuhmu!"
Shikamaru menatap mereka tanpa minta. "Di mana anggota perempuan kalian?"
Deidara mengeryitkan alisnya. "Tidak ada."
"Kalian tidak bisa membohongi kami."
"Untuk apa? "
Shikamaru memandang lelaki pirang itu dengan aura membunuh. Ia tidak main-main dan sepertinya lelaki ini ingin sedikit bermain-main. Baiklah...
"Naruto bunuh mereka!"
Naruto menyeringai dan mengeluarkan tongkat miliknya. Angin mengelilinginya dan berputar semakin besar. Mengangkat tongkatnya, kemudian ia tebaskan ke arah kedua musuh yang sudah terkunci.
'DUAR'
"KYAAAA!"
"UGGHH!"
Bunyi ledakan sangat kencang dan menghancurkan beberapa bangunan. Namun bukan mengenai kedua musuh tadi melainkan berbalik menyerang mereka.
Sosok perempuan berambut merah muda berdiri membelakangi mereka. Jubah berlambang Akatsuki berkibar di balik kumpulan asap yang kini perlahan memudar.
"Sakura-chan!"
"Sakura,"
Sasuke yang sedang membantu Neji menoleh dan membulatkan matanya melihat dia. "S-Sakura."
Perempuan itu menoleh dan mengangkat tangannya hingga mengeluarkan sinar putih. Mengarahkan pada Hidan, namun bukan Hidan yang terkena serangannya melainkan Neji yang terlempar seketika.
"Sakura!"
Sasuke langsung melompat, mendekati gadis itu.
Gadis itu menatapnya datar. "Sakura?" dan balik bertanya dengan mengeryitkan sebelah alisnya.
Sasuke menegang. Tidak. Tidak mungkin ia salah. Wajah, rambut bahkan matanya menunjukan jika gadis itu adalah Sakura. Mengelurkan tangannya, Sasuke tetap berusaha yakin.
Karena hanya ada satu gadis di dunia ini yang sangat ia kenali dan tidak mungkin ia salah.
"Ayo kita pulang!"
.
.
.
.
.
.
Tsuzuku
Thank's yg sudah baca :D
Maaf jika typo dan eyd ancur bertebaran ya :D
RtA blm jadi-jadi' T.T smga bisa cpet selesai. :)
=WRKT=
