Pikiran tentang Jellal yang bersekolah di SMP Fairy Tail, sempat membuatku bingung untuk sesaat, memang dia berada di kelas berapa? Kenapa jarang terlihat? Benar juga ya...aku kan jarang keluar dari kelas, itupun sekedar pergi ke toilet, halaman belakang sekolah dan kantin. Semua menjadi heboh sendiri, akan pertarungan mereka berdua, kira-kira harus mendukung siapa ya? Mungkin lebih baik netral saja, aku malas jika berpartisipasi menjadi juri. Bukankah artinya harus membaca cerita Jenny dan Jellal lalu memilih mana yang terbaik?
Dua jam pelajaran kosong kuhabiskan dengan tidur di kelas. Ketika bel istirahat kedua berbunyi, aku melihat Ultear-nee yang sedang berdiri di dekat jendela, jelas sekali kalau nee-san menungguku keluar. Ada satu hal lagi yang kuyakini, pasti dia ingin membicarakan soal perlombaan tersebut dan bertanya "kamu mendukung siapa?", konyol sekali.
"Jadi ada perlu apa? Ingin bertanya soal perlombaan antara Jenny dan Jellal?"
"Kamu sudah mengetahuinya, nee-san pikir tidak"
"Anak sialan itu mengumumkannya secara terang-terangan tadi, ketika jam pelajaran kosong, lalu kenapa? Aku tidak mendukung siapa pun dari mereka"
"Eh...tapi kenapa? Atau mungkin kamu hanya ingin menjadi silent reader?" goda Ultear-nee yang membuatku terlihat, seakan tertarik dengan pertandingan tersebut
"Tidak tau, kamu sendiri mendukung siapa?"
"Lihat saja dulu cerita mana yang lebih bagus"
Benar-benar professional, lagi pula seorang senpai yang baik tidak boleh pilih kasih terhadap adik kelas, meskipun memiliki hubungan cukup dekat. Aku memberi isyarat tangan yang menyuruh nee-san pergi menjauh, hanya merasa tidak nyaman jika ada orang lain yang melihatku bersama senpai paling populer. Sedari tadi aku masih memikirkan tentang perlombaan tersebut, mendadak ada rasa tertarik yang timbul untuk menjadi silent readers, terdengar cukup keren, seperti menyelinap di antara bayang-bayang. Imajinasi anehku kambuh lagi...
"Konnichiwa Lu-chan!" seru seorang anak perempuan bertubuh pendek, bersurai biru dengan bando kuning di atas kepalanya, bukankah dia Levy? Dan lagi apa-apaan panggilan itu?
"Kenapa kamu memanggilku Lu-chan?
"Terdengar cocok saja, atau mungkin kamu tidak menyukainya?" wajah memelas dari Levy benar-benar manis, aku sampai tidak enak hati untuk menjawab tidak
"Tidak apa-apa kok, cukup manis juga...jadi ada perlu apa menghampiriku?"
"Apa kamu sudah mendengarnya? Tentang pertandingan antara Jenny-san dan Jellal-san" kenapa semua orang membicarakan hal yang sama? Tidak di depan tidak di belakang, membuatku jengkel saja
"Sudah sudah, lalu kamu mendukung siapa?"
"Entahlah aku tidak tau, Lu-chan pasti mendukung Jenny-san bukan? Lagi pula kalian berdua sekelas"
"Meski sekelas bukan berarti aku akan mendukungnya..."gumamku merasa kesal, bahkan ekspresi Ultear-nee tadi pun mengatakan bahwa aku akan memberi review pada Jenny
"Ano...Lu-chan?"
"Ah ya aku belum tau, jika berkata hanya menjadi silent reader bagaimana?"
"Begitu juga tidak apa-apa. Yosh, lain kali aku ingin mengobrol lagi denganmu, jaa ne!"
Bel usai istirahat ke-dua telah berbunyi, tubuh mungilnya itu perlahan-lahan menghilang dari pengelihatanku, menyalip lautan manusia yang berada di depan sana. Selama jam pelajaran terakhir berlangsung, aku benar-benar merasa bosan, cepatlah berlalu...cepatlah berlalu...itulah yang kugumamkan hingga bel pulang berdering, terdengar seperti bunyi terompet dari surga yang langsung membangkitkan semangat.
"Hari ini kita pulang bersama lagi, bukan?" tanya Ultear-nee berusaha mengimbangi langkahku seperti kemarin-kemarin, berisik sekali makhluk yang satu ini...
"Nee-san saja tidak bisa mengimbangi langkah kakiku, nanti ditinggal loh. Bye-bye!" seruku memacu kecepatan lebih, entah kenapa aku jadi seperti maling yang dikejar polisi
Setelah sampai di rumah, enaknya melakukan apa ya? Aku sudah tidak sabar untuk menonton televisi sambil makan es krim, pasti nikmat sekali...belum lama menutup pintu, Ultear-nee sudah masuk ke dalam rumah dan mengambil nafas berulang kali, terlihat sangat kelelahan sampai penuh keringat begitu. Tanpa memarahiku atau membicarakan hal lain dia langsung masuk ke dalam kamar, syukurlah tidak ada penganggu sekarang.
BLAM!
Meski aku yakin suasana sunyi ini tidak akan bertahan lama. Ultear-nee langsung duduk di sebelahku, memangku laptop di atas paha dan membuka website fanfiction, paling juga mengecek review atau sekedar membaca cerita milik author lain, sama sekali tidak menarik. Namun, teriakannya yang bagai letusan meriam itu, sukses membuat siapa pun kaget, bahkan aku nyaris menjatuhkan es krim yang baru dilahap setengah. Ya ampun, apa tidak bisa, satu hari saja Ultear-nee bersikap normal dan berpura-pura menganggapku tidak ada?
"Lihatlah, mereka berdua sudah memulai taruhannya!" sekarang dia terlihat seperti ibu-ibu yang tengah menonton sinetron, lalu di saat tokoh protagonis kalah berteriak kencang tidak jelas
"Taruhan apa?"
"Cepat sekali lupanya, perlombaan antara Jenny dan Jellal itu loh"
"Kirain apa, bukankah mereka hanya bertanding biasa, tanpa menggunakan taruhan apa pun?"
"Tadi nee-san baru saja mendengarnya, Jellal bertaruh suatu hal terhadap Jenny"
"Be-benarkah?" tanyaku yang mendadak jadi tertarik. Tunggu, siapa tau itu adalah tipuan nee-san, supaya aku ikut berpartisipasi menjadi pereview
"Cih, jangan harap bisa menipu Lucy-sama ini. Akui saja, Ultear-nee sengaja berbohong, agar aku ikut memberi komentar!"
"Kamu tidak lihat apa? Nee-san benar-benar serius sekarang! Memang taruhannya adalah rahasia di antara mereka berdua, tetapi sudah dipastikan Jellal bertaruh!"
"Ya ya terserah, nanti aku baca"
Tentu saja membaca review, pasti sudah banyak komentar yang masuk, karena perlombaan tersebut sangat dinantikan. Meski agak terkesan buru-buru dan terlalu cepat, diputuskan hari ini langsung dimulai hari ini juga. Memang kapan mereka membuat cerita? Seperti setan saja, awas saja jika Ultear-nee sampai salah mengenali pen name Jenny dan Jellal, akan kuejek mata katarak sampai dia memohon ampun.
Acara televisi yang tengah kutonton, disaingi oleh suara ketikan tuts laptop milik Ultear-nee. Entah kenapa, dia terlihat sangat serius. Seakan pertandingan tersebut bagikan penentu hidup dan mati. Well, aku cukup berlebihan memang, merasa penasaran, perlahan-lahan aku mendekatinya, namun ketahuan dan Ultear-nee langsung menjauhkan laptop dari pandangan mataku. Menyebalkan sekali, seperti bermain rahasia-rahasiaan saja.
"Jika ingin tau lihat saja nanti di laptopmu sendiri"
"Huft...ya sudah kalau begitu" balasku langsung mematikan televisi, beranjak pergi menuju kamar
Senang sekali membuat orang lain penasaran...aku menyalahkan laptop dan menekan tuts dengan keras, sudah menjadi kebiasaan untuk melampiaskan kemarahanku, pada saat mengetik di atas keyboard. Bisa ditebak jika Ultear-nee pasti mendukung Jellal, aku juga agak curiga jika mereka berdua memiliki hubungan cukup spesial, meski tidak baik berprasangka buruk seperti itu. Sekarang Jellal memimpin dengan 1-0, tetapi ini baru hari pertama, jadi belum bisa dipastikan pemenang sesungguhanya.
"Lebih baik aku membuka laptop ketika hari terakhir saja"
Belum lama dinyalahkan, aku mematikannya kembali dan pergi menuju ruang tamu. Jam tepat menunjukkan pukul dua siang dan acara televisi favoritku sudah habis. Merasa ini adalah kesalahan Ultear-nee aku menatap sinis kearahnya, tetapi dia malah tidak peka atau mungkin berpura-pura terlihat bodoh.
"Tatapanmu tidak mengenakkan sekali, tersenyumlah"
"Ha...ha...ha..."
"Suara tawamu juga aneh, jika lapar makanlah mi instant. Kalau tidak tunggulah ibu, sebentar lagi juga pulang"
Justru aku ingin memakanmu Ultear-nee... siapa juga yang merasa lapar? Kenyang sekali rasanya dibuat penasaran olehmu. Padahal, acara film yang kutonton, sudah mencapai klimaks dan bagian paling menarik malah terlewatkan begitu saja, hanya untuk mengecek review. Aku harap bisa mendapatkan sesuatu yang seru, dari pertandingan mereka berdua.
Hari Senin depan...
Akhir bulan pada hari Senin, menjadi penentu siapakah pemenangnya. Pagi-pagi sekali aku sudah berangkat ke sekolah, merasa penasaran dengan desas-desus dari tukang gosip di kelas. Hanya saja, ketika melihat Jenny sampai di ambang pintu, langsung membuatku malas untuk masuk, tetapi mau bagaimana lagi. Ketika duduk di bangku, dia datang menghampiri dan terlihat ingin meminta suatu hal. Ekspresi itu benar-benar basi dan memuakkan.
"Tumben sekali kamu datang pagi" ledek Jenny yang ditertawai oleh Lisanna, sedangkan aku hanya terdiam sambil berwajah masam
"Masalah? Ada perlu apa datang menghampiriku?"
"Soal masalah pertandingan, hasil antara aku dan Jellal adalah seri dan kau tau bukan maksud dari ucapanku tadi?"
"Memintaku mereview ceritamu sebagai mantan sahabat, begitu? Ha...lucu sekali Jenny, jawabanku adalah tidak"
"Jika kamu memberi review aku akan menjadi sahabatmu lagi seperti waktu kelas enam, tidak buruk bukan?"
"Menjadi sahabatku lagi katamu? Aku bukanlah Lucy Heartfilia yang dulu. Ucapanmu itu tidak akan kulahap mentah-mentah!"
"Jawaban darimu benar-benar buruk. Baiklah, jangan harap kau bisa menertawaiku, Lucy. Kita lihat saja nanti"
Ancaman dari Jenny sama sekali tidak membuatku takut, lagi pula apa yang bisa dilakukan olehnya? Mau menyakiti Ultear-nee atau mungkin mempermalukan diriku? Silahkan coba saja, aku mau lihat bagaimana caramu melakukannya. Sayang sekali hasil dari pertandingan tersebut adalah seri, apalagi aku diminta untuk menjadi "penentu kemenangan" mereka berdua. Jika sampai besok belum ada review tambahan, maka dinyatakan seri dan bertarung kembali di ronde dua, ya ampun apa sebegitunya Jellal ingin melawan Jenny?
Jam istirahat pertama memanglah selalu ramai, namun kali ini bukan terletak di kantin ataupun koridor sekolah, melainkan papan mading. Merasa penasaran, aku berusaha untuk menerobos kerumunan murid dan berada di paling depan. Tertempel sebuah kertas putih, berisi cerita yang dibuat oleh Lucy.H dengan judul "Sekolah Sampah". Tunggu, kenapa namaku tertera di sana?!
"Lihatlah, orang yang membut karya tersebut sudah datang" saat Jenny mengucapkannya, seluruh murid langsung menatap sinis kearahku. Jjadi dalang dibalik semua ini, adalah anak sialan itu?
"Dengarkan aku! Aku tidak pernah membuat karya semacam itu, bahkan hingga detik ini pun!
"Perhatikan baik-baik, aku memiliki bukti foto jika kamu melakukannya"
Bohong...foto-foto itu palsu! Apa mungkin, akun fanfictionku dihack, lalu dengan sengaja Jenny membuat cerita palsu, dan mempublishkannya atas nama Lucy.H? Dia semakin keterlaluan! Tetapi aku tidak memiliki bukti kalau semua itu palsu, jadi sekarang harus bagaimana? Mana ada yang ingin mendengarkan pengakuanku di saat-saat seperti ini?
"Ada dua pilihan, pertama review -lah ceritaku, ddengan begitu aku akan membebaskanmu dari tuduhan itu. Kedua, review-lah cerita Jellal dan jangan harap kamu bisa selamat" bisiknya yang kemudian berlalu pergi, sedangkan aku terdiam membatu di dekat papan mading
Masih saja licik seperti dulu, kamu tidak pernah berubah Jenny...aku juga memutuskan untuk masuk ke dalam kelas, dan merenungkan kedua pilihan tersebut. Siapa pun yang menjadi diriku sekarang, pasti lebih memilih nomor satu dibanding nomor dua, tetapi jika begitu, sama saja aku mengaku kalah. Janji yang sudah dibuat, tidak akan pernah kuingari! Kau harus belajar apa arti dari kekalahan, bagaimana rasanya menjadi korban penindasan sepertiku!
Ding...dong...ding...dong...
"Lucy tunggu, Lucy!" sebanyak apa pun Ultear-nee memanggil, aku terus berjalan tanpa mempedulikan kondisi sekitar. Yang kupikirkan saat itu hanyalah satu, kau harus membayar semua ini Jenny!
BLAM! CLICK!
Dengan sengaja aku mengunci pintu kamar, supaya tak ada seorang pun yang bisa masuk ke dalam, langsung membuka website fanfiction dan berusaha untuk masuk ke akun Lucy.H tetapi sebanyak apa pun mencoba, tetap saja gagal. Rupanya Jenny sudah mengantisipasi hal ini. Di antara sekian banyak list cerita, ku temukan pen name JellalFernandes179 dengan cerita berjudul "Sayonara Miku-chan". Jika memang, aku terpaksa menjadi penentu mau bagaimana lagi. Suatu kebanggaan tersendiri, memiliki peran seperti itu.
"Supaya adil aku harus membaca cerita Jenny dan Jellal, arghhh..."
Memikirkan nama Jenny saja sudah membuatku malas, tetapi aku harus bersikap adil, karena begitulah peraturannya. Cerita sebanyak sepuluh halaman tersebut sukses membuatku takjub. Ternyata anak sialan itu benar-benar jago dalam hal seperti ini, tetapi sangat disayangkan, keseluruhan dari alur adalah kesenangan tiada henti, mungkin Jenny bukanlah seorang yang suka mencampur aduk perasaan readers, rata-rata komentar pun berasal dari teman satu sekolah dan positif. Menyebut kelebihan dari ceritanya membuatku semakin muak saja...
"Semoga saja Jellal tidak membuatku kecewa"
Dalam waktu lima menit aku memfoukuskan diri untuk membaca, perlahan-lahan hanyut dalam alur ceritanya yang dipenuhi dengan tragedi dan konflik, bahkan dari mataku mengalirlah air mata karena merasa sangat terharu. Mungkin itulah kenapa aku lebih menyukai tokoh fiksi dibandingkan orang nyata dalam kehidupan, karena mereka benar-benar membuatku tersentuh melebihi semuanya, andai karakter anime adalah nyata, siapa pun pasti merasa senang.
"Mana ada orang sebaik itu dalam ceritamu, yang rela mengorbankan diri sendiri demi menyelamatkan temannya, padahal sudah pernah dikhianati bahkan dijahati berulang kali? Penuh ketabahan dan terus berjuang demi hidup, aku...aku..."
Lucy.H
Sebelumnya aku minta maaf karena tidak log in menggunakan akun. Ceritamu benar-benar bagus dan sukses membuatku menangis, pereview abal-abalan apanya...aku menunggu karyamu yang lain, Jellal Fernandes.
Mungkin singkat, tetapi setidaknya sudah mewakili perasaanku saat ini.
Keesokan harinya...
Di depan sekolah, berkumpullah semua murid mulai dari kelas satu, dua hingga tiga. Ada kejadian apa pagi-pagi begini? Aku berusaha menyelinap masuk, lalu terlihatlah Jenny dan Jellal yang saling bertatap wajah satu sama lain, suasana di sekitar menjadi lebih tegang dari biasanya. Mereka berdua benar-benar serius...
"Sesuai perjanjian, karena aku telah menjadi pemenang kamu harus menepatinya"
"Kamu pikir aku akan benar-benar menepatinya? Tentu saja tidak!"
"Jangan lagi dekati Lucy dan hapuslah komentar flame itu dari kotak review!"
"Oh kebetulan sekali, ternyata kamu sudah datang" ucap Jenny tersenyum jahat kearahku, apa yang dia rencanakan kali ini?
"Kemarilah dan jangan berkomentar apa pun" lanjutnya mengancam. Peranginya mendadak berubah jadi sadis...
"Apa yang kamu inginkan dariku?"
"Bukankah sudah kubilang, jangan berkomentar apa pun dan kemarilah"
GULP!
Akan bagaimana selanjutnya? Firasatku berkata akan terjadi hal buruk tak lama lagi...
Bersambung...
Balasan review :
Fic of Delusion : Sumringah pas liat traffic stats, ternyata banyak yang baca, tetapi gak menyadarinya. Saya setuju deh. Ada typo dimana? Gagal paham author, wkwkwkw. Thx ya udah review
Akiyama Seira : Ciee yang udah tobat, turut berbahagialah. Kali untuk hubungan Ultear dan kouhai, kita lihat nanti aja ya. Yep, 'J' adalah inisial dari Jenny, seratus untukmu. Thx ya udh review
aulialaely : Oke deh, thx ya udh review
Naze-Dzena : Baru kali ini balas review kamu, pftttt...oke dehh, semangat juga ya buat project kamu yang lainnya. Thx udh review
