Title: Very Like
Cast: Oh Sehun, Lu Han
Pairing: Hunhan, Selu
Warning! : GS for uke, typo, bahasa tidak baku
Disclaimer: semua cast bukan milik saya tapi cerita milik saya
.
.
.
.
.
PART 3
Luhan sedikit meronta saat Sehun mendorongnya ke arah kamar mandi. Yeoja itu masih mengenakan seragamnya, karena hari ini Sekolah usai tepat pukul delapan malam, maka mau tak mau sekitar jam sembilan mereka baru sampai di apartemen Sehun.
Saat menunggu giliran untuk memakai kamar mandi, Luhan serasa ingin kabur saja, karena jika semua sesuai dengan keinginan Sehun. Maka malam ini Luhan harus tidur dengan Sehun.
"Cepat bersihkan dirimu karena aku tidak mau memeluk tubuhmu yang masih bau,"perintah Sehun dengan kosa kata kesukaannya, terdengan dingin dan culas. Namun begitulah Sehun, bahkan Luhan sudah tidak sempat mengambil hati perkataan pemuda itu.
Luhan memandang Sehun yang kini hanya mengenakan bathrope dengan tetes-tetes air jatuh dari ujung rambutnya sedikit cemas," Emm bisakah kita tunda-"
"Cepat masuk dan jangan banyak bicara,"potong Sehun tak berperasaan, lalu mendorong tubuh Luhan ke kamar mandi dan menutup pintunya.
"Kyaa!"keluh Luhan karena Sehun mendorongan dengan tidak berperikemanusiaan, dan saat bunyi 'klek' tanda pintu tertutup Luhan mulai menghela nafas pasrah.
Dengan gontai Luhan berjalan ke arah meja washtafel, dipandanginya wajahnya yang terlihat kusut. Jujur saja Luhan belum siap secara mental untuk berbagi tempat tidur dengan Sehun. Kepalanya terasa pusing sekali membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Karena jujur saja Luhan sama sekali tidak berpengalaman, dia tidak tahu cara melakukannya.
"Apa nanti akan benar-benar mengeluarkan suara?"tanya Luhan pada dirinya sendiri, kata orang saat melakukan seks pasti akan mengeluarkan suara desahan yang memamulakn.
"A-aahh..."dengan bodohnya Luhan sengaja mendesah untuk memastikan apakah desahannya terdengar memalukan atau tidak.
"Arkhhh memalukan sekali, aku tidak bisa melakukannya!"keluh Luhan frustasi, hanya membayangkannya saja membuat Luhan begitu malu. Harus telanjang didepan Sehun? Hahh lihatlah sekarang Luhan bahkan sudah memerah disekujur tubuh.
"Bagaimana ini, aku tidak bisa..."Luhan benar-benar kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.
TOK!
TOK!
"YA! APA KAU TIDUR DI DALAM, KENAPA LAMA SEKALI?"Teriak Sehun dari luar, dan Luhan semakin pasrah.
"Iya sebentar!"balas Luhan berteriak, memutuskan bahwa dia mengalah saja. Karena sebenarnya memang tidak ada pilihan lain lagi. Maka dengan ogah-ogahhan Luhan segera melucuti semua pakaiannya dan pergi mandi.
Hanya butuh waktu lima belis menit untuk Luhan menyelesaikan acara mandinya. Namun yeoja iu tertegun saat sadar di kamar mandi sama sekali tidak ada handuk ataupun bathrope yang bersih. Dan lebih celaka lagi, seragamnya sudah Luhan masukkan ke kotak cucian kotor.
"Luhan paboya!"maki yeoja itu pada dirinya sendiri, "Ugh, lalu sekarang bagaimana, tidak mungkin aku keluar telanjang begini?"monolog Luhan, maka setelah melalui pergolatan batin unuk memakai seragam kotornya lagi atau tidak Luhan memutuskan untuk meminta Sehun mengambilkan pakaian ganti saja.
Dengan terus menerus merutuki dirinya sendiri di dalam hati Luhan berjalan ke arah pintu kamar mandi, membuka kuncinya dan membukanya sedikit agar kepalanya bisa melongok ke luar.
"S-sehun,"panggil Luhan takut-takut. Dilihatnya Sehun sedang duduk membaca buku di sofa tunggal kamar itu.
"Ada apa, kalau sudah selesai kenapa tidak keluar?"Suara Sehun terdengar terganggu dan itu membuat Luhan merasa ciut.
"A-anu...bisakah kau ambilkan aku baju ganti. Aku lupa tidak membawanya tadi,"pinta Luhan memelas dari balik pintu. Bahu polosnya yang ikut menyempul keluar membuat Sehun paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. Bukannya mengambilkan pakaian ganti seperti yang Luhan pinta barusan Sehun justru berjalan ke arah kamar mandi.
Luhan yang biasanya memang lambat itu sama sekali tidak menaruh curiga pada Sehun, jadi walaupun dia merasa aneh kenapa Sehun justru berjalan ke arahnya yeoja itu tetap berdiri tidak bergeming dari tempatnya. Maka saat Sehun dengan kejamnya menarik paksa pintu kamar mandi agar terbuka, Luhan yang baru sadar dengan apa yang menimpa dirinya menjerit histeris sambil berusaha menutup organ vitalnya dengan tangan.
"Kyaaaa jangan lihat, jangan lihat! Jangan lihat Sehun!"dengan rasa malu dan wajah memerah parah Luhan refleks berjongkok dan mencoba menutupi apa yang masih bisa ditutupi. Sehun memandang Luhan dengan pandangan tidak berminat dan mendengus pelan.
"Untuk apa mencari baju ganti jika nantinya juga akan telanjang, "itulah yang dikatakan Sehun sebelum mengangkat tubuh telanjang Luhan bridal style.
Luhan sendiri sudah terlalu malu untuk memberontak, dia membiarkan Sehun mengangkat tubuhnya, dengan tidak berhenti bergumam,"Tutup matamu Sehun, kumohon jangan lihat, tutup matamu!"
"Kau ini berisik sekali, mungkin sebaiknya aku memplester mulut kecilmu itu atau bagaimana?"
BRUGH!
Dengan sedikit kasar Sehun menjatuhkan tubuh Luhan ke atas ranjang, dengan kecepatan yang sedikit luar biasa Luhan menyambar selimut dan mencoba menutupi tubuhnya. Yeoja itu refleks memundurkan sedikit tubuhnya saat Sehun mulai merangkat ke arahnya. Karena posisi merunduk seperti itu Luhan bisa melihat otot dada Sehun dari balik bathrope, dan yeoja itu merutuki pipinya yang memanas.
"Bisakah kau bersikap tidak seperti perawan yang ingin diperkosa. Tolong jangan semakin mempersuliku,"keluh Sehun sambil menatap Luhan di bawahnya.
"Dasar bodoh, aku ini memang masih perawan!"bentak Luhan pada sahabatnya itu.
"Ck, suaramu benar-benar menyakitkan telinga,"Sehun mengorek telinganya seolah terganggu.
"Ok, kau masih perawan, tapi aku sama sekali tidak punya pilihan. Kau harus hamil, dan cara satu-satunya agar kau bisa hamil aku harus menidurimu,"Luhan sama sekali tidak habis pikir, bagaimna bisa Sehun mengatakan hal itu dengan wajah datar.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"tantang Luhan, yeoja itu merasa bodoh sendiri. Karena terlalu galau memikirkan semua ini, padahal Sehun sendiri sepertinya tidak terlalu ambil perduli.
"Well, kalau begitu sepertinya aku harus memaksamu. Aku tidak mau hal ini berlangsung terlalu lama. Tidak ada foreplay, kita langsung ke intinya saja. Lagipula kita juga terpaksa melakukannya.
Luhan mengernyit, otak lambatnya kambuh kembali,"Apa itu foreplay?"
Sehun terdiam, mencoba mengantisipasi hal terburuk. Namja itu tahu Luhan amatir, tapi jika foreplay saja tidak tahu itu bisa jadi lain cerita.
"Kau tidak tahu?"
Luhan menggeleng polos, dan Sehun mengusak frustasi rambutnya yang tidak gatal.
"Baiklah kalau begitu, walupun aku tidak terlalu ingin melakukannya tapi untuk kali ini akan aku berikan pengecualian. Foreplay itu seperti ini," Sehun langsung meremas dada Luhan yang berada di balik selimut dan Luhan yang tidak siap lagi-lagi menjerit.
"Kyaaa lepaskan tanganmu dasar tidak sopan!"wajah Luhan saat ini sudah seperti memakai blush berlebihan.
"Diamlah, amatiran sepertimu perlu rangsangan." Lagi-lagi dengan wajah datar, Luhan menutup mulutnya dengan kedua tangan saat Sehun semakin keras meremas kedua payudaranya.
"Jangan mengeluarkan suara,jangan mengeluarkan suara"batin Luhan seperti orang frustasi.
Remasan Sehun dipayudaranya semakin berirama, dia sengaja menggoda Luhan agar yeoja itu cepat basah, dan Sehun bisa cepat masuk.
"S-sehun cukuph..r-rasanya tidak nyaman.."dengan nafas setengah terengan tangan-tangan mungil Luhan berusaha melepas tangan Sehun yang kini meremas payudaranya.
Namun bukannya dilepas, Sehun justru menundukkan kepalanya, memasukkan nipple sebelang kanan Luhan ke dalam mulutnya yang basah, menjilatnya melingkar dan menggesekkan deretan giginya disana.
"Ahhh..."desahan pertama Luhan lolos, yeoja itu merasa sedikit pusing. Kepalanya mengadah ke atas alami saat Sehun menghisap nipplenya kuat seperti bayi yang menyusu pada ibunya. Dengan sengaja Sehun menggesekkan bagian bawahnya di atas kewanitaan Luhan. Tubuh Luhan terasa seperti di sengat listrik, dengan refleks dia justru memluk leher Sehun.
"S-sehun!"pekik Luhan seperti tertahan,tak sadar jika kelakuannya justru memperdalam hisapan Sehun dipayudaranya
Tak disangka Sehun terlalu menikmati kegiatan ini, tubuh Luhan begitu lembut dan harum khas aroma sabun mandi. Membuatnya betah menciumi setiap inchi dari kulit Luhan.
Saat Sehun menarik wajahnya ke atas untuk mencium Luhan, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, awalnya dia tidak perduli dan lebih memilih mencium Luhan yang terlihat pasrah dan mengundang. Diciumnya penuh bibir mungil tersebut, dan melumatnya dengan cara-cara yang ia bisa.
Namun sialnya ponselnya tidk mau diam, tetap saja berbunyi. Maka dengan mengumpat marah Sehun menyudahi acaranya mencium Luhan. Untuk sesaat yeoja yang sudah sedikit berkeringat itu bernafas lega.
"Ya, ada apa Umma?"jawab Sehun.
"Ayahmu sakit, cepat datang ke rumah sakit!"perintah ibunya mutlak.
DEG!
Sehun tersentak, tiba-tiba pikirannya kosong.
"Sehun, kau dengar Umma, Sehun!"
Sehun menutup ponselnya begitu saja dan menghampiri Luhan kembali yang kini sudah duduk di atas ranjang. Sehun menatap Luhan dengan pikiran berkecamuk.
"Sehun, apa ada hal buruk yang terjadi?"tanya Luhan cemas.
Sehun tidak menjawab, dan lebih memilih menagkup kedua wajah luhan dengan tangannya. Dan seterusnya, Sehun mencium Luhan kuat seperti orang kerasukan, menciumnya dalam seperti ingin mencari ketenangan. Luhan yang bingungpun hanya diam saja. Membiarkan Sehun mngklaim bibirnya penuh-penuh.
"Aku harus pergi, maaf.."Sehun mengatakan itu dengan bibir yang masih menempel di bibir Luhan. Setelah beberapa detik berlalu Sehun akhirnya bangkit dan segera mengganti pakaiaanya. Tanpa menoleh ke arah Luhan lagi, Sehun menghilang dari balik pintu. Menyisakan Luhan yang kebingungan dan tidak mengerti. Salahkan Luha jika ia kini merasa seperti tidak dihargai?
.
.
.
"Apa kau sudah meniduri Luhan?"itulah yang ditanyakan mrs. Oh saat Sehun tiba di rumah sakit tempat ayahnya di rawat.
Melihat Sehun yang diam saja, mrs. Oh merasa sedikit jengkel," Kau tahu, dengan sakitnya Ayahmu, kepercayaan para pemegang saham terhadap perusahaan kita melemah. Apalagi keadaan kakakmu semakin buruk karena menghawatirkan keadaan istrinya. Jika terus seperti ini ada kemungkinan kakakmu tidak bisa menempati posisi direktur yang baru,"jelas ibunya.
"Cara satu-satunya untuk mengembalikan performa kerja kakakmu adalah anak. Maka Umma begitu bergantung padamu saat ini Sehun. Umma benar-benar berharap kau menghamili Luhan, demi kepentingan kita semua,"
"Kami bukan alat,"potong Sehun
"A-apa?"mrs. Oh seperti terkejut dengan ucapan Sehun.
"Pernahkan umma memikirkan perasaan kami? Tidak, perasaan Luhan saja, pernahkah umma memikirkannya?"tanya Sehun lantang.
Mrs. Oh tidak habis pikir Sehun berani membangkang seperti ini,"Apa yang sedang kau bicarakan ini?"
"Luhan menderita umma, dia sebenarnya tidak mau melakukan ini. Luhan sahabatku, mana mungkin aku tega menyakitinya?"untuk pertama kali Sehun memperlihatkan emosi di depan ibunya.
Tapi walau bagaimanapun watak mrs. Oh keras. Bukamnya melunak, ibu kandung Sehun itu justru ingin lebih menekan anak bungsunya itu.
"Jadi kau tidak bisa melakukannya jika dengan Luhan?"
Sehun tersentak, sedikit tidak mengerti dengan jalan pikiran ibunya.
"Tidak masalah jika Luhan tidak mau. Umma masih punya banyak calon untukmu,"terang mes. Oh dingin.
"A-apa?"Sehun seperti tidak mau percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Seperti yang kamu mau. Umma bisa saja mencarikan orang yang bersedia kau tiduri, selama masih ada kau pasanagnnya bisa siapa saja,"
Sehun menggelengkan kepalanya tidak percaya, ibu kandungnya tega mengatakan hal itu kepadanya.
"Sekarang yang terpenting bagi umma adalah kesehatan Kakakmu, karena dialah masa depan perusahaan kita. Jadi umma harap kau bersedia sedikit membantu,"lagi-lagi mrs. Oh tanpa sadar menyakiti hati Sehun, wanita paruh baya itu benar-benar tidak sadar berapa banyak luka yang telah ia goreskan pada hati Sehun.
"Mungkin mulai besok Umma sudah bisa mendapatkan calon yang baru. Suruh saja Luhan pulang, besok orang baru akan datang,"setelah mengatakan hal sekejam itu mrs. Oh dengan ringannya pergi meninggalkan Sehun yang berdiri membantu sambil mengepalkan kedua tangannya.
.
.
.
Kata-kata ibunya semalam begitu mengganggu Sehun. Bagaimana jika benar ibunya akan mencari pengganti Luhan? Tidak, Sehun tidak mau jika pasangannya bukan Luhan. Tapi jika Luhan sendiri tidak mau Sehun bisa apa? Memaksa yeoja itu?
Istirahat siang itu Sehun berjalan tak tentu arah, kepalanya serasa ingin pecah. Dari kejauhan Sehun melihat Jongin dan Kyungsoo yang sedang duduk-duduk di bangku dekat pohon besar di samping lapangan basket. Dengan langkah gontai Sehun menghampiri sepasang kekasih itu. Tanpa merasa sungkan Sehun langsung duduk di sebelah Kyungsoo dan langsung merebahkan kepanya dibangkuan yeoja bermata bulat itu.
"Ya, Oh! Singkirkan kepalamu itu sebelum aku memisahkannya dari lehermu,"ancam Jongin yang sepertinya tidak ditanggapi Sehun, namja berkulit putih itu justru semakin menyamankan kepalanya dipangkaun Kyungsoo.
"Ya,ya!"lagi-lagi Jongin keberatan.
Namun anehnya Kyungsoo justru merasa tidak terganggu, diusapnya surai Sehun yang kini berada dipangkuannya,"Ada apa wahai domba tersesat, kelihatannya kau kacau sekali?"tanya Kyungsoo lembut.
Sehun sesekali memejamkan matanya karena merasa nyaman akan usapan tangan Kyungsoo,"Aku lelah sekali.."
"Ck, alasan,"potong Jongin kesal. Namja berkulit tan itu sudah menyerah, dia biarkan saja Sehun berbuat sesukanya, toh dia tahu kalau Sehun tidak berniat buruk pada Kyungsoo.
"Soo, kenapa dulu kau tidak memilihku?"tanya Sehun mengingat persainganya dulu denagn Jongin untuk mendapatkan Kyungsoo hanya karena tidak mau Luhan bersedih jika Jongin jadian dengan Kyungsoo.
"Hmm, kenapa ya?"gumam Kyungsoo menerawang.
"Tentu saja karena kau kalah tampan dariku,"sela Jongin percaya diri, mencomot cemilan dan memasukkannya pada mulutnya yang sibuk mencibir Sehun.
"Mungkin, karena aku merasa kau tidak bersungguh-sungguh mencintaiku,"jawab Kyungsoo.
"Ya-ya, karena tidak akan ada seseorang yang lebih mencintaimu daripada aku chagi,"imbuh Jongin berbangga diri.
"Memangnya kelihatan sekali ya?"tanya Sehun asal dan Kyungsoo justru tertawa keras-keras.
"Hahaha jadi benar kau hanya pura-pura menyukaiku?"tebak Kyungsoo.
Sehun terdiam sejenak,'..mungkin,"
"Sehun, Sehun..sebenarnya kau ini kenapa? Kau terlihat aneh jika kau tau,"tanya Kyungsoo merasa lucu sekaligus bingung.
Bukannya menjawab, Sehun justru bangkit darii pangkuan Kyungsoo,"Tidak ada apa-apa, aku hanya lelah saja."
"Bagaimana dengan keadaan Ayahmu? Ayahku bilang kemarin beliau masuk rumah sakit?"tanya Jongin saat melihat Sehun sudah bersiap-siap untuk bergi.
"Ya begitulah, gula darahnya naik lagi. Seperti biasa.."jawab Sehun,"Akun pergi dulu ya, maaf mengganggu.."Sehun melambaikan tangannya ringan dan berlalu pergi, tak menyadari jika sedari tadi Luhan memperhatikan mereka bertika terutama Sehun dan Kyungsoo.
"Sampai kapanpun, aku memang tidak akan pernah menang dari Kyungsoo,"desah Luhan sedih. Sedikit terlonjak saat tiba-tiba oonselnya berbunyi dan matanya membola seketika saat dia tahu siapa yang memanggilnya.
"Kenapa Oh Ahjumma tiba-tiba menghubungiku?"tanya Luhan pada diri sendiri seraya mengangkat panggilan itu.
"Yoboseyo Oh Ahjumma?"
TBC
Masih ada yang ingat cerita ini?
Well, aku sendiripun harus baca ulang buat ngelanjutinnya, lol
Gak terasa uda lama banget dianggurin
Review please juseyo...
