HEUKSANDO STORY
Pairing: Park Jimin , Min Yoongi
And the other cast...
Genre: Romance, Family,Hurt, M-preg
Warning: BOY x BOY, TYPO BERTEBARAN, BTS SEVENTEEN CAST
Sebelum membaca, tolong perhatikan tahunnya ya...
Jeonukim's present
Chapter 4
Min Yoongi 26th
Park Jimin 30th
Jeon Jungkook 5th
Kim Mingyu 21th
Jeon Wonwoo 17th
[PREVIOUS CHAPTER]
"Temani aku, ku mohon..." lirih Yoongi.
Sebuah senyuman tulus tercetak jelas di wajah Jimin, lalu ia memperbaiki posisi mereka dan membuat keduanya mendapat posisi ternyaman di atas sofa itu.
"Tidurlah... Aku tidak akan meninggalkan mu..."
Kalimat sederhana namun membuat hati Yoongi lega setengah mati, ia mengeratkan pelukannya dan menyamankan kepalanya di dada bidang Jimin. Hingga tercium aroma tubuh Jimin yang harus Yoongi akui sangat menenangkan. Aroma tubuh yang membuat Yoongi seakan kembali kepada tempatnya, aroma yang secara sadar atau tidak telah ia rindukan dalam alam bawah sadarnya.
Apakah benar Jimin itu tidak pernah ada dalam memorinya?
.
.
[2017]
Yoongi perlahan membuka kedua matanya yang masih terasa berat, di tatapnya langit langit kamar yang sangat ia kenal sebagai kamar nya. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan kamarnya, hanya saja kilasan ingatan tentang kejadian semalam membuat Yoongi mengernyitkan dahinya heran. Semalam ia tidak tidur di kamarnya, melainkan di sofa ruang santai. Dan fakta yang harus Yoongi ingat adalah ia tidur dalam rengkuhan hangat seorang Park Jimin.
Selanjutnya, otak Yoongi mulai memutar kilas balik mimpi aneh yang juga terjadi padanya sebelum ia tidur kembali. Anehnya ia masih mengingat detail bagaimana mimpi itu bisa terjadi, benarkah itu hanya sebuah mimpi?
Bunyi dengungan tiba tiba mengisi kepala Yoongi, seakan memaksanya untuk menghentikan semua pengulangan memori itu. Dengungan yang di sertai rasa pusing yang sedikit menyiksa, hingga saat suara itu berhenti karena atensi nya teralihkan oleh suara pintu yang terbuka. Sekejap Yoongi bersyukur karena hal itu membuat rasa sakit nya berhenti, namun melihat siapa yang datang membuat Yoongi tidak menjadi lebih baik.
Park Jimin, dengan senyuman yang selalu membuat Yoongi bertanya tanya siapa sebenarnya laki laki ini. Pagi ini Jimin terlihat begitu santai namun tetap tampan seperti biasanya, membawa sebuah nampan yang Yoongi bisa lihat berisi sarapan pagi yang sangat sederhana dan mudah dibuat. Segelas susu dengan roti isi. Jangan lupakan sosok yang mengekorinya, dan itu adalah bayi kesayangan Yoongi, Jungkook. Anak itu terlihat sudah segar dengan kaus biru bermotif pesawat kesayangannya.
"Selamat pagi Mom~" ucap Jungkook gembira tak lupa dengan pelukan hangat bocah kecil itu pada Yoongi yang dengan senang hati membuka lengannya.
"Pagi Kookie~ Tumben sekali kau sudah mandi? Ku rasa ini hari Minggu!"
"Chim chim ahjussi bilang Mommy sedang sakit, jadi Kookie mandi dengan ahjussi lalu membuatkan Mommy sarapan!"
Yoongi gemas sendiri melihatnya, membuat dirinya tak tahan hingga menghujani Jungkook dengan ciuman kecil di wajah.
"Hihihi... Geli Mom~"
Kesenangan Yoongi dan Jungkook terhenti karena seseorang yang eksistensi nya terabaikan itu meletakan punggung tangannya pada kening Yoongi.
"Kenapa demam mu belum juga turun?" ucap Jimin.
"Eh? Memangnya aku demam?" tanya Yoongi bingung.
"Hmm, semalaman kau mengigau saat tertidur di sofa! Jadi aku memindahkanmu kesini!" pipi Yoongi bersemu sendiri mendengar nya.
"M-maaf sudah merepotkan..." lagi lagi Jimin hanya tersenyum.
"Aku sama sekali tidak keberatan, baiklah sekarang kau harus sarapan dan minum obat yang sudah kusediakan. Kookie mau menemani Mommy sarapan atau ikut dengan ahjussi?"
"Kookie mau menemani Mommy saja, nanti Kookie main lagi sama ahjussi!"
"Baiklah, aku ada di taman belakang jika kau mencariku buddy~ Jangan merepotkan Mommy yang sedang sakit!"
"Ayyay Kapten!"
Setelahnya Jimin pergi dengan meninggalkan sebuah usakan hangat di kepala Yoongi, membuat pipi nya semakin merah. Cara Jimin menyebut nya 'Mommy' untuk Jungkook adalah hal paling manis yang pernah Yoongi dengar selama ini, membuat jantungnya serasa meletup letup.
Rasa itu ada lagi, sebuah rasa yang dulu pernah Yoongi rasakan. Namun Yoongi sendiri ragu tentang kapan dan pada siapa perasaan semacam ini pernah tumbuh dalam dirinya. Park Jimin sangat sulit di definisikan, tentang seperti apa dirinya, bahkan tentang siapa dirinya bagi Yoongi. Seperti perasaan yang sudah sudah, Jimin itu asing dan familiar di saat yang bersamaan.
.
.
Setelah puas menemani Yoongi hingga siang menjelang, Jungkook tertidur pulas di ranjang milik Yoongi. Sedangkan Yoongi sendiri memutuskan untuk mandi meskipun suhu tubuhnya belum juga turun, namun ia merasa jika ia harus mandi. Setelahnya Yoongi berniat untuk meletakan sisa sarapannya ke dapur, namun atensi nya teralihkan oleh sosok Jimin yang sedang berada di halaman belakang.
Samar Yoongi bisa melihat Jimin yang sedang melukis, hal yang selama ini selalu menjadi saat yang Yoongi tunggu. Menurut Yoongi, Park Jimin yang sedang melukis itu terlihat gagah dan seksi. Tanpa sadar semburat merah muncul di kedua pipi chubby nya, entah karena kulitnya yang terlalu putih atau memang pesona seorang Park Jimin sebegitu hebatnya hingga pipi Yoongi selalu merah di buatnya.
Yoongi pun bergegas menuju ke dapur dan meletakan nampan berisi sisa sarapannya di wastafel dapur lalu mulai membersihkannya, sesekali ia mencuri pandang ke arah Jimin berada. Karena bagian belakang rumah Yoongi hanya di batasi oleh kaca, hingga memungkinkan Yoongi untuk melakukannya. Dalam hati Yoongi bersyukur memiliki sebuah taman kecil di belakang rumah yang hanya berjarak beberapa meter saja dari pantai. Karena tempat itu kini memiliki daya tarik tersendiri baginya, tentu saja sejak kedatangan Jimin kesana.
Setelah selesai membereskan dapur yang ternyata sedikit kacau, keadaannya akan menjadi seperti itu jika ia membiarkan Jimin dan Jungkook bermain dengan dapurnya. Yoongi berjalan menuju taman belakang yang ternyata sudah kosong, Jimin sudah tidak ada disana, hanya menyisakan peralatan lukis dan kanvas milik Jimin.
Yoongi perlahan mendekat untuk melihat dengan jelas apa yang Jimin lukis disana. Yoongi mengernyitkan dahinya heran, dalam ekspektasinya ia akan melihat setidaknya gambaran laut atau yang berhubungan dengannya. Namun yang tampak di hadapannya sama sekali tak memiliki hubungan dengan pantai atau apa yang Yoongi angankan, melainkan sebuah gambaran keadaan di taman bermain dengan tampilan warna ceria khas kegembiraan tempat favorit anak anak.
Sebuah komedi putar dengan warna warni apik menjadi latar belakang yang manis disana, hingga atensi Yoongi teralihkan oleh sebuah sudut yang mana terdapat siluet seorang anak laki laki yang tengah menggenggam beberapa ikat balon di tangan kiri dan sebuah permen kapas di tangan kanan.
Manis, menyenangkan, indah, dan...
Menyakitkan...
Lagi lagi Yoongi mengernyit saat perasaan dengan denyut menyakitkan itu melintas dalam ingatannya.
"Suka dengan apa yang ku buat?" suara itu menarik Yoongi dari lamunannya.
"Uhm- ah ya, lukisan yang bagus!"
Jimin semakin mendekat dengan senyuman yang selalu Yoongi suka. Laki laki itu berdiri di samping Yoongi, lalu mendaratkan kedua tangannya untuk membimbing bahu Yoongi memutar kedepan. Untuk melihat lagi lukisan itu.
"Coba katakan padaku apa yang kau rasakan saat melihat nya!"
Yoongi yang gugup hanya memutar kepalanya menghadap Jimin dan memasang ekspresi bingung.
"Jelaskan padaku apa yang kau rasakan saat melihat lukisan ini!" ulang Jimin.
Sejenak Yoongi melihat lagi ke arah lukisan Jimin, dan hasilnya masih sama dengan saat pertama kali ia melihatnya.
"Manis, penuh warna, indah, tapi...
Entah mengapa siluet anak itu membuat lukisan ini menjadi sedikit menyakitkan bagiku...
M-maaf jika itu tak sesuai dengan ekspektasimu!"
Jimin tertegun, jawaban Yoongi bahkan masih sama. Lukisan itu sebenarnya lukisan lama yang Jimin buat kembali, sebuah lukisan yang menggambarkan awal pertemuan mereka. Dan sadar atau tidak jawaban Yoongi bahkan sama persis dengan apa yang ia katakan dulu pada Jimin.
"Hn, ku rasa penjelasan ku mengecewakan ya?" tanya Yoongi saat Jimin sama sekali tidak merespon ucapannya tadi.
"Tidak, sama sekali tidak. Maksudku, apa yang kau jelaskan mengingatkan ku pada jawaban seseorang."
"Sungguh? Jadi ini bukan lukisan yang baru saja kau buat?"
"Aku pernah membuatnya, tapi itu dulu sekali." Jimin tersenyum lagi dan hal itu membuat kegugupan Yoongi kembali.
Dengan berusaha mengontrol kegugupannya, Yoongi mengalihkan atensinya pada sosok anak kecil dalam lukisan itu. Perlahan menyentuhnya, meskipun hanya sebuah siluet dengan warna hitam pekat yang begitu kontras dengan keadaan di sekitarnya yang penuh warna. Anak itu membuat lukisan ini menjadi berbeda, sebuah rasa yang lengkap dan murni. Seakan Jimin ingin menyampaikan sebuah pesan yang begitu dalam saat membuatnya.
"Apa kau tidak ingin tau tentang siapa anak itu?" tanya Jimin masih dengan jarak sedekat itu.
"Jika kau tak keberatan untuk memberi tau, maka aku ingin mengetahuinya!"
Hal yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan Yoongi.
Jimin semakin merapatkan tubuhnya pada Yoongi dan memeluk Yoongi dari belakang.
"Seorang anak berusia lima belas tahun yang tersesat di taman bermain, ia berjalan tak tentu arah hingga menemukanku yang sedang melukis."
"Lima belas tahun?" tanya Yoongi masih dengan degup jantung yang tidak normal namun di sisi lain perlakuan Jimin membuat dirinya nyaman.
"Ya, tapi tubuhnya sangat mungil. Kulitnya pucat, rambutnya sehitam jelaga, matanya kecil namun anak itu terlihat rapuh. Seakan aku bisa meremukannya jika saja tak sengaja menyentuh dirinya..."
Jemari Jimin menelusuri tangan kanan Yoongi hingga menyesuaikan keberadaannya dengan besar tangan itu, menggenggamnya, yang selalu terasa pas bagi Jimin. Dimana tangan pucat itu meskipun berada dalam genggamannya, tapi tetap terasa jauh bagi Jimin. Yoongi sendiri alih alih menolak perlakuan Jimin, ia justru terdiam bahkan tanpa sadar menahan nafasnya.
"Lalu?" sambung Yoongi saat Jimin yang hanya terdiam dan hanya memainkan genggaman tangan mereka.
"Kau tau Yoongi, sebenarnya aku sedikit tak suka untuk melanjutkannya."
"Kenapa?"
"Karena aku membenci diriku sendiri yang saat itu hanya berpikir dangkal tanpa mengetahui kebenarannya, usiaku baru 19 saat itu dan emosi sesaat yang ada dalam diriku membuatku menyesal hingga saat ini."
"Apa kau melakukan hal buruk padanya?"
Kini Yoongi memberanikan diri untuk membalikkan tubuhnya menghadap Jimin, dan saat genggaman tangan mereka terlepas membuat hati Jimin mencelos dan sesak. Seakan penolakan akan terus ia rasakan untuk membayar dosa yang telah ia buat.
"Kenapa diam?"
Yoongi hanya mengikuti instingnya, ia sungguh merasa ada sebuah rasa campur aduk disana. Dimana ia merasa kasihan dengan anak yang menjadi topik pembicaraan mereka., juga sebuah rasa marah yang tak kentara tapi bisa meledak kapan saja. Entahlah...
"Jawab aku Park Jimin! Apa yang kau lakukan padanya?" entah mengapa Yoongi mengatakan hal itu dengan nada yang sedikit di tekan, membuat mereka, Jimin, bahkan Yoongi sendiri terkejut.
"Aku...
Aku jatuh cinta padanya..."
Dengungan menyiksa itu kembali menyergap kepala Yoongi, hingga sejenak memejamkan kedua matanya karena menahan rasa sakit.
Sekelebat bayangan muncul silih berganti seperti sebuah film yang di sertai denyutan keras di kepalanya.
"Ikut dengan hyung, dan hyung akan menjagamu!"
"H-hyung! ARGH!" rintih Yoongi dengan kedua tangan memegangi kepalanya.
"Yoongi~ah... hyung mencintaimu... sangat mencintaimu..."
"BERHENTI!" teriak Yoongi dengan histeris.
"Kau bilang kau mencintaiku hyung!KENAPA KAU TEGA MELAKUKAN INI PADAKU!"
"ANDWE!" kali ini Yoongi semakin memundurkan tubuhnya dan berteriak.
"Yoongi gwenchana?" tanya Jimin khawatir seraya mendekat pada Yoongi.
"JANGAN MENDEKAT! PERGI! ARGH!"
Namun Yoongi menepis begitu saja tangan Jimin saat laki laki itu hendak menyentuhnya.
Air mata Yoongi terus mengalir, entah karena rasa sakit di kepalanya atau rasa sesak di dadanya. Hingga ia memutuskan untuk berlari kedalam rumah dan pergi ke kamarnya. Sesampainya disana, Yoongi menatap Jungkook yang masih tertidur pulas di atas ranjang. Rasa sakit dan sesak itu kembali lagi, bayangan Jimin yang akan merenggut kebahagiannya kembali terlintas entah dari mana.
Air mata Yoongi tak terbendung lagi hingga ia menangis tanpa suara sembari memeluk bayi kecilnya, Yoongi memeluk Jungkook dengan tangisan yang begitu menyakitkan. Meski tak bersuara, hanya terdengar isakan kecil. Tapi pemandangan ini sungguh menyakitkan.
Yoongi merasa takut, marah, dan sedih. Tapi ia bingung karena apa, ia bahkan sama sekali tak memiliki petunjuk apa pun. Hanya kilasan bayangan yang terus menggerus perasaannya, begitu dalam dan menyakitkan. Yoongi sendiri tak yakin, kenapa ia harus merasa semarah dan sekecewa itu pada Jimin. Ada hal yang masih membuat ia bertanya tanya akan kilasan bayangan menyakitkan tadi, sosok yang ia sebut Hyung terasa familiar. Laki laki itu seperti Jimin...
.
.
.
.
"Ponselnya bahkan tak aktif, aku sudah tidak tau harus mencarinya kemana lagi!" Ucap Han Jihyun, Ibu Wonwoo, dengan nada sangat frustasi.
"Apa yang kau harapkan dari anak itu, Jihyun~ah! Dia hanya bisa membuat masalah, jadi biarkan saja dia pergi!"
"Apa katamu? Hanya bisa membuat masalah? Seumur hidupku membesarkan Wonwoo tidak pernah sekalipun ia membuat masalah, dia adalah anak yang penurut! Jadi berhenti menyebut anak ku sebagai pembuat masalah, Jeon Woyoung!"
"Kau bahkan hanya berada di rumah jika kau mau Jihyun~ah, berhenti berlagak jika kau mengerti bagaimana anak sialan mu itu!"
"JAGA MULUTMU ITU! DIA JUGA PUTRA MU JEON!"
Tuan Jeon hanya menyeringai sinis mendengarnya.
"Kau pikir aku lupa? Bahkan aku masih ingat jika kau ini masih istriku, Jihyun~ah!"
"Cepat katakan dimana Wonwoo! Aku tau kau menyembunyikannya dariku, aku bahkan seharusnya tau jika ini akan terjadi. Kau bahkan tega memisahkan Jungkook dari Nari dan membuangnya entah kemana ,Jeon, sadarlah, obsesimu hanya akan berbuah kepahitan! Cukup kau menyakiti aku dan Nari, tapi tidak dengan anak kami Jeon!"
Tuan Jeon yang mulai jengah dengan istrinya pun berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan mendekati Jihyun.
"Tau apa kau soal diriku hah? Tau apa kau soal obsesiku? Kau dan Nari hanyalah omong kosong, ingat itu!" lalu tuan Jeon melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruang kerjanya sebelum langkahnya tertahan.
"Sampai kapan pun Nara tidak akan pernah membuka hatinya untukmu!" tuan Jeon mengepalkan tangnnya kuat kuat dan berbalik menuju tempat Jihyun berada.
"Aku mencintai Nara, jika harus aku membunuh maka itu akan aku lakukan untuk mendapatkannya. Tadi nya ku kira dengan mendapatkan Nari maka rasa cintaku pada Nara akan sirna, tapi sekali pun mereka adalah saudara kembar rasanya tak akan sama. Jadi, membuang bayi sialan milik Nari juga adalah hak ku, Jihyun~ah! Bahkan jauh sebelum menyingkirkan bayi itu, aku sudah lebih dulu menyingkirkan banyak orang yang menghalangi jalanku untuk mendapatkkan Nara."
Jihyun menangis, semua terasa sangat jelas sekarang. Bahkan keraguannya saat dulu menerima perjodohan orang tua nya untuk bersama Jeon Woyoung sangat lah beralasan. Laki laki ini sakit, laki laki ini tidak lagi bisa merasakan cinta. Bahkan Jihyun yakin, apa yang Woyoung rasakan pada Nara, wanita yang selama ini menjadi obsesinya itu hanya lah sebuah rasa yang tidak waras.
"Ku harap kau tidak membunuh Jungkook, sungguh dia hanya bayi kecil yang tidak bersalah, kau bahkan merenggutnya dari Nari sebelum wanita itu bisa melihat putranya, Jeon."
Jihyun bahkan heran kenapa ia masih bisa merasakan simpatik kepada wanita yang bisa di katakan sebagai simpanan sang suami, simpanan dengan sebuah pemaksaan tentu saja.
"Tak ada gunanya bagiku mempertahankan Jungkook, bahkan jika aku sudah melenyapkan Nari!"
"Tidak, itu tidak mungkin! Nari masih hidup! Itu tidak mungkin!"
"Apa yang kau harapkan, kau bahkan tak tau dimana ia sekarang kan Jihyun~ah! Dia sudah mati,dan..." perlahan tuan Jeon mencengkram dagu istrinya dengan sedikit kuat membuat sang istri sedikit mengernyit sakit.
"Aku menikah denganmu hanya untuk memenuhi permintaan ayahku, jangan berharap banyak. Bahkan jika aku mau, aku juga bisa membunuh mu sama seperti apa yang ku lakukan pada anakmu!"
"TIDAK!
JANGAN WONWOO!
KU MOHON!
TIDAAAKKK!"
PLAK
Tuan Jeon menampar Jihyun hingga wanita itu tersungkur ke lantai.
"Maaf tapi aku sudah terlanjur melakukannya, para pengawalku sudah melenyapkan anak mu, dan untukmu..."
Tuan Jeon merendahkan tubuhnya di hadapan Jihyun untuk merapikan helaian poni wanita cantik itu yang kini kacau dan mengusap wajah penuh air mata itu.
"Aku bisa melakukannya kapan saja Jihyun~ah, jadi berhenti mengganggu ku! Terlebih menghalangi jalanku untuk mendapatkan Nara. Atau akan lebih banyak nyawa yang akan melayang karena ini, berhentilah ikut campur."
Setelahnya tuan Jeon berdiri dan berjalan menuju pintu meninggalkan Jihyun yang masih menangis merana mengingat putranya.
"Wonwoo... Anakku... Hiks...
Wonwoo maaf kan eomma... hiks...
WONWOOO..."
Dan selanjutnya yang terdengar hanyalah tangis pilu Han Jihyun yang masih belum bisa kehilangan putranya.
.
.
Waktu menunjukan pukul sepuluh malam, dimana seorang Jeon Wonwoo berdiri dengan sebuah tas ransel yang berukuran cukup besar berada di punggungnya. Di sampingnya terlihat seorang laki laki bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam dan wajah yang tak bisa dikatakan ramah tengah mengawasi keadaan di sekitar sana.
"Hyung, apa masih lama?" laki laki yang Wonwoo panggil Hyung itu sejenak melihat kearah jam tangan miliknya.
"Jika mereka tepat waktu, maka sepuluh menit lagi mereka akan sampai tuan muda!"
"Ish, sudah ku katakan jangan memanggilku seperti itu jika tidak ada ayah, cukup panggil nama ku saja!" Wonwoo pun mempout kan bibirnya yang menggundang kekehan halus dari bibir laki laki itu, sungguh kontras dengan wajah dinginnya.
"Kau ini sudah dewasa, berhenti bersikap kekanakan!"
"Hyung menyebalkan!"
Lalu laki laki itu menarik Wonwoo kedalam pelukannya.
"Jaga diri baik baik, jangan menyusahkan mereka, dan sampaikan salamku untuk Jungkook. Kau bisa mengandalkanku disini untuk mengurus ayahmu, dan kau harus berjanji padaku untuk tetap bahagia disana."
Wonwoo tersenyum sembari mengangguk saat laki laki itu mulai melepaskan pelukannya.
"Hoseok hyung, terimakasih! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah lelah meminta maaf atas apa yang telah ayahku lakukan pada keluarga mu hyung! Dan ku harap hyung juga akan bahagia selagi aku pergi dari tempat ini!"
Hoseok mengusak kepala Wonwoo sembari tersenyum.
"Kau tak berhak menanggung rasa bersalah dan dosa yang telah ayahmu perbuat, Wonwoo~ah! Jangan meminta maaf lagi! Ini yang terbaik untukmu, yakinlah jika semuanya akan cepat selesai. Dan jika rencana kita berhasil, aku akan pergi ke Heuksando untuk menyusulmu."
"Ku tunggu hyung! Dan...
Aku titip Eomma, jaga eomma baik baik ya hyung..." Hoseok mengangguk sembari tersenyum meskipun dalam hatinya ia tak bisa berjanji pada Wonwoo.
Tak lama sebuah van hitam mendekati tempat mereka, dan setelahnya Wonwoo segera masuk kedalam van itu setelah melambaikan tangannya pada Hoseok. Hoseok sendiri membungkukkan tubuhnya setelah sang pengemudi membuka kaca mobilnya dan tersenyum pada Hoseok, hingga mobil itu menjauh, Hoseok mulai mengabari teman temannya untuk menjalankan rencana mereka.
Melapor kepada tuan Jeon jika mereka telah berhasil melenyapkan Wonwoo, melakukan hal yang sama seperti saat dulu mereka di perintahkan untuk membunuh Jungkook. Tanpa tuan Jeon sadari, jika selama ini orang suruhan Jimin telah masuk kedalam lingkaran miliknya. Hanya tinggal menunggu saat yang tepat untuk menjatuhkan laki laki pesakitan itu.
.
.
Malam itu Yoongi sedikit heran, sejak tadi siang ia meninggalkan Jimin, laki laki itu tak memperlihatkan diri sama sekali hingga saat ini. Bahkan Jungkook menangis karena mengira Jimin pergi dan sudah menemukan rumah baru. Sebenarnya hal itu menjadi kekhawatiran Jungkook , anak itu sangat takut jika Jimin sudah menemukan rumah baru karena seringnya laki laki itu pergi selama seminggu ini.
Merasa hari sudah sangat larut dan baru menyadari jika memang seminggu terakhir ini Jimin sangat jarang berada di rumahnya, Yoongi memutuskan untuk mencari Jimin di kamarnya. Yang mana hal itu sangat ia hindari selama Jimin berada di rumahnya, bahkan untuk sekedar melewati kamar Jimin saja Yoongi seakan takut. Namun kali ini rasa penasarannya cukup memberinya keberanian untuk kesana.
Terlihat dari ventilasi pintu kamar Jimin jika lampu di dalam sana menyala, namun tak terdengar suara apa pun. Yoongi mengetuk beberapa kali namun tetap tak ada jawaban dari Jimin, hingga saat ia memegang knop pintu itu tiba tiba saja kamar Jimin terbuka.
Damn, laki laki itu bahkan tak mengunci pintu.
Perlahan Yoongi membuka pintu itu dan masuk kedalam. Ini kali pertama Yoongi masuk ke kamar itu semenjak Jimin tinggal disana, dan keadaannya cukup mengejutkan karena penampilan kamar itu berubah seingat Yoongi.
Meskipun ada beberapa yang tidak berubah seperti letak ranjang dan lemari yang masih sama, namun wallpaper kamar itu berubah total. Dan bisa Yoongi lihat di sudut kamar Jimin terdapat barisan kanvas dan cat yang tertata rapi. Serta beberapa barang antik, menurut Yoongi, yang terpajang rapi pada rak yang Jimin bawa sendiri.
Tangan Yoongi terasa sangat ingin menyentuh benda benda itu, hatinya terasa menghangat setelah melihat barisan barang barang antik itu. Yoongi tertarik untuk mengambil salah satu benda antik yang menurutnya terlihat paling cantik, yaitu sebuah carousel atau komedi putar mini yang didominasi warna pastel. Yoongi jadi ingat lukisan yang di buat oleh Jimin siang tadi, sebuah taman bermain yang terletak komedi putar sebagai background nya.
"Cantik sekali, sepertinya haraboji pernah memberiku Carousel seperti ini.
Eh..."
Saat Yoongi mengamati bagian bawah Carousel itu dengan jemarinya, ia tak sengaja menyentuh sesuatu di bagian bawah, dan Yoongi mendapati sebuah laci kecil tersembunyi disana. Yoongi menarik pelan laci kecil itu yang ternyata cukup lebar dan terdapat tumpukan polaroid tua disana.
"Maaf kan aku Park Jimin, aku tau ini memang tidak sopan, tapi rasa penasaranku ini terlalu sulit untuk di cegah." gumam Yoongi sembari mengeluarkan tumpukan polaroid itu dari sana.
Sebuah senyuman tercetak di bibir Yoongi saat melihat sebuah gambar seorang anak laki laki dan seorang perempuan yang Yoongi yakini sebagai foto kecil Jimin dengan ibu nya, wajah Jimin terlihat masih sama. Lalu foto berikutnya membuat Yoongi mengernyitkan dahi, itu buka jenis yang sama dengan foto sebelumnya, itu adalah sebuah foto janin atau hasil usg.
Nguuuung...
Lagi, dengungan itu datang lagi. Yoongi hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, merasa lelah karena hari ini kepalanya terus saja terasa sakit.
Yoongi bertanya tanya milik siapa ini, hingga banyak spekulasi bermunculan di kepalanya. Apakah Jimin sudah menikah dan memiliki seorang istri? Hal itu mungkin saja mengingat usia Jimin sudah menginjak kepala tiga. Namun mengingat hal itu sedikit berefek pada dirinya, Yoongi merasa sedikit kecewa. Hmm, Yoongi menggelengkan kepalanya berkali kali merasa bodoh dengan pemikirannya barusan.
Selanjutnya, Yoongi mendapati sebuah foto lain. Mata Yoongi membola sembari terpekik, Yoongi menggelengkan kepalanya lagi lebih kuat.
"Ya Tuhan... I-ini... t-tidak mungkin..."
Seketika air matanya seakan tak bisa terbendung lagi, Yoongi menangis, menangis dengan sangat pilu. Selain merasakan sakit dan sesak di dadanya Yoongi juga merasakan sakit di kepalanya terasa begitu menyiksa.
"ARGH... ANDWE!
ARGH... PARK JIMIN!"
Yoongi terus menangis meraung dan memegangi kepalanya. Seakan denyutan keras itu bisa saja membunuhnya, seakan denyutan itu bisa memecahkan kepalanya, hingga tanpa Yoongi sadari Jungkook sudah berada di sana.
"Mommy hiks moomy kenapa hiks! Ahjussi! Hiks Mommy! Apa yang harus kookie lakukan hiks!"
"ARGH SAKIT!"
Kookie kecil yang panik dan bingung pun hanya bisa menangis melihat Yoongi kesakitan tanpa bisa membantu, namun kemudian anak itu tersadar akan sesuatu lalu berlari menuju telepon rumah mereka dan melihat sejenak note yang Yoongi tempel di sana. Jemari kecil itu menekan nomor telepon rumah Seungkwan dengan gemetaran, Seungkwan adalah teman sekolah yang juga tetangganya. Jungkook terus mencoba meski beberapa kali telepon terputus karena tak ada yang menjawab.
"Yeobboseo~"
"S-seungcheol ahjussi ini Kookie hiks!"
"Kookie ada apa?"
"M-mommy hiks, mommy sakit ahjussi hiks tolong Kookie..."
.
.
.
"Bagaimana?" tanya Jeonghan pada Seungcheol setelah suaminya itu keluar dari ruang dokter yang menangani Yoongi.
Seungcheol menghela nafas berat dan mendudukan dirinya di sebelah Jeonghan yang masih mendekap Jungkook yang tertidur.
"Yoongi terkena shock berat karena ingatannya datang secara tiba tiba, ada beberapa masalah yang dia alami karena benturan hasil kecelakaannya dulu belum benar benar sembuh."
"Apa kau sudah memberi tau Jimin?"
"Ya, dan dia sedang dalam perjalanan ke sini."
"Memangnya kemana dia? Aku bahkan sama sekali tidak di beri informasi apapun." Ujar Jeonghan kesal.
Meskipun begitu baik Seungcheol maupun Jeonghan tetap berbicara dengan nada yang pelan, tak ingin mengganggu bocah kecil malang yang tertidur itu.
"Menjemput Wonwoo, hari ini tuan Jeon memerintahkan Hoseok untuk membunuhnya. Dan itu semua di luar rencana Jimin, perkiraan waktunya meleset hingga ia harus cepat bertindak." Jeonghan mengangguk paham.
Jeonghan dan Seungcheol tentu saja mengerti dengan situasi yang tengah Jimin hadapi saat ini, katakan saja jika mereka adalah orang yang bekerja untuk Jimin. Bahwa sebuah rahasia jika orang orang terdekat Min Yoongi selama ini adalah orang yang bekerja untuk Jimin.
Sejenak Seungcheol mengusap kepala Jungkook lembut dan membersihkan bekas bekas air mata bocah itu.
"Dia pasti ketakutan, dan aku bersyukur karena dia langsung menghubungi rumah kita Hannie..."
Jeonghan tersenyum dan mengecup kepala Jungkook, ia tau pasti Jungkook sangat panik tadi. Bahkan selama perjalanan membawa Yoongi ke rumah sakit, anak itu tak henti hentinya menangis meski Jeonghan sudah menggendongnya. Bahkan Jungkook terlelap karena terlalu lelah menangis.
"Dia terlalu mengkhawatir kan Yoongi, sayang, ku rasa Seungkwan juga akan seperti ini jika melihatku mengalami hal buruk seperti Yoongi!" ucap Jeonghan sembari menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami.
"Ah, semoga saja Seungkwannie tidak menangis saat tau kau tidak di rumah!"
"Kau tidak perlu khawatir, dia bersama bibi Jung!"
"Hnn..."
Drap... Drap... Drap...
Jeonghan dan Seungcheol langsung menegakan tubuh mereka setelah mendengar derap langkah kaki yang setengah berlari itu. Terlihat Jimin dan Mingyu, juga satu orang yang Jeonghan yakini sebagai Wonwoo. Anak itu terlihat lelah dan khawatir, yah meskipun Jimin lebih khawatir disini, atau mungkin terlihat marah pada dirinya sendiri.
"Di mana Yoongi!" tanya Jimin dengan nada yang terdengar sangat dingin.
Seungcheol pun mengantarkan 'tuan' nya itu menuju ruang rawat Yoongi, meninggalkan yang lain disana.
"Hyung apa yang terjadi? Jimin hyung terlihat sangat marah tadi!" tanya Mingyu.
"Yoongi pingsan setelah terkena shock hebat, sepertinya ingatannya memaksa kan diri untuk kembali."
"Apa terjadi hal yang sangat buruk?"
"Ku rasa tidak, apa ini Wonwoo?" tanya Jeonghan sembari tersenyum pada namja kurus yang sejak tadi hanya berdiri malu malu di belakang Mingyu.
"Ya, perkenalkan ini Jeon Wonwoo! Dan Wonwoo, ini Jeonghan hyung!"
"Wonwoo imnida..." Wonwoo pun mengangguk dan tersenyum kikuk.
"Wonwoo~ah, kemarilah! Kau pasti rindu dengan Jungkook!"
Wonwoo menatap Mingyu sejenak, dan yang di tatap hanya mengangguk dan tersenyum seakan mengerti jika Wonwoo sedang bertanya 'Bolehkah' pada dirinya. Dan perlahan Wonwoo mendekat ke arah Jeonghan dan duduk di samping namja cantik itu, pelan pelan ia menggengam tangan kecil Jungkook.
"Dia tumbuh dengan baik..." ucap Jeonghan saat melihat mata Wonwoo yang mulai berkaca kaca.
.
.
.
Hari sudah berganti, dan Jimin masih saja betah disana. Mata Jimin seolah tak ingin terpejam barang sedetik pun, seolah hal buruk akan terjadi jika ia melakukannya. Tangannya bersedekap di depan dada, dan ekspresi wajahnya sangat datar nan dingin. Di hadapannya Yoongi sedang terkapar tak sadarkan diri dengan alat bantu pernafasan, dokter mengatakan jika Yoongi sedang mengalami masa kritis dan koma jangka pendek. Meskipun begitu, Jimin tidak merasa lebih baik.
Hal ini pernah terjadi padanya, dulu, beberapa tahun yang lalu. Saat Yoongi masih memandangnya, namun ia yang berhati iblis mempermainkan malaikat sebaik Yoongi. Saat Yoongi sudah menumpukan hidup padanya, ia hempaskan Yoongi hingga ke tanah. Bahkan menjadi mangsa iblis lain yang hampir merenggut hidup Yoongi.
Penyesalan akan Jimin terima seumur hidupnya jika Yoongi meregang nyawa tanpa bisa merasakan bahagia dalam hidupnya.
Cklek...
Jimini menolehkan kepalanya ke arah pintu dan mendapati Jeonghan disana.
"Hyung, kau bisa pulang! Aku akan menjaga Yoongi!" Jimin masih diam, namun pandangannya kini ke arah Yoongi.
"Kau bisa mengandalkanku Jimin hyung, setidaknya kau harus mandi dan makan! Seungcheol sudah memerintahkan beberapa orang di Seoul untuk menjaga rumah sakit ini karena kau menolak untuk membawa Yoongi kesana!"
Jimin menghela nafas berat.
"Apa Seokjin dan Namjoon hyung juga datang?" tanya Jimin.
"Ya, Seokjin hyung memaksa untuk ikut kemari! Setidaknya Yoongi akan baik baik saja karena Seokjin hyung itu dokter pribadinya!" Jimin mengangguk.
"Terimakasih banyak Jeonghan, aku benar benar mengandalkanmu dan Seungcheol! Aku akan kembali kesini nanti malam, dan ah aku lupa, apa Jungkook kembali ke rumah?"
"Semalam aku mengantar Wonwoo dan Jungkook ke rumah Yoongi, ku pikir akan lebih baik jika Jungkook berada di rumah!"
"Baiklah, aku akan pulang!"
Jimin beranjak dari duduknya dan membereskan barang barang miliknya dan memasukannya ke dalam ransel, setelahnya ia terdiam sejenak memandang Yoongi.
Yang terjadi selanjutnya membuat Jeonghan yang ada di tempat itu tersenyum, bahkan hampir menitikan air mata. Ia mengerti, sangat mengerti. Saat Jimin mengecup pelan dahi Yoongi, agak lama. Jeonghan tau jika Jimin memang sepenuhnya mencintai Yoongi.
Jimin hyung sudah berubah, batin Jeonghan.
"Aku pergi Han!"
"Hyung tunggu!"
"Ya?"
"Ini!" Jeonghan memberikan sebuah foto yang keadaannya sudah sedikit lusuh.
"Semalam foto ini ada di gengaman Yoongi, sedikit sobek karena dia meremasnya!"
Jimin memandang foto di tangannya, dan kini ia mengerti kenapa Yoongi menjadi seperti ini.
"Terimakasih..."
Dan Jimin memasukan foto itu kedalam saku sebelum pergi dari sana.
Jimin masih mengingatnya, dan melekat betul pada memori nya, foto itu di ambil saat Yoongi berulangtahun yang ke dua puluh. Jimin memeluk Yoongi dari belakang, sebuah posisi yang Yoongi suka, dan memegangi perut Yoongi yang sedikit membesar. Mereka tersenyum ke arah kamera, Jimin ingat jika saat itu dia bahagia, sangat bahagia.
Dan foto itu juga moment terakhir bagi mereka untuk bersama, sebelum Yoongi mengetahui kebenarannya. Dan sebelum ia melupakan Jimin...
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Annyeong~ Long time no see ^^
Saya harus minta maaf yang sebesar besarnya karena super duper telat untuk update, dan di chapter ini juga saya harap readers deul udah mulai paham sama masalah yang mereka hadapi, ya meskipun emang belum jelas bgt.
Sedikit spoiler nih, buat next chapter isinya akan lebih banyak ke flashback atau mungkin side story nya dari Jimin. Dan kemungkinan akan End sekitar dua atau tiga chapter lagi. semoga kalian gak bosen ya baca ff ini ^^
Terimakasih juga buat yang selalu review, saya cinta kalian~ dan buat yang nge fav, follow, dan baca, aku juga cinta kalian ko~ intinya terimakasih banyaaaakkkkk~ sekali lagi Cuma ngingetin kalo saya ini bukan Author yang bisa fast update, soalnya saya butuh waktu buat bikin yang menurut saya greget dan ngefeel. Kadang saya udah dapet banyak page, tapi abis itu saya hapus karena ngerasa kurang pas, jadi tolong sabar ya~
Terimakasih, pay pay~
...withloveJeonukim...
