Angel, Human, Devil
Cast :
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Kim Junsu
Park Yoochun
Shim Changmin
Serta cast yang lainnya
Rated : T—M
Warning : Boys love, Yaoi, [Cerita ini murni hasil pemikiran Author dan tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun dan apapun.]
Disclaimer :
Seluruh pemain disini bukan milik Author. Mereka adalah milik diri mereka sendiri, Management serta Tuhan YME. Author hanya meminjam sebentar, ne!
.
.
_This story Original _
by
Nyangiku
.
.
''If you don't like, Don't read it"
Tidak suka? Jangan baca!
.
.
Bagi yang sudah menyempatkan untuk membaca—
.
.
Onegaishimasu
~Selamat membaca~
.
.
Mulai hari ini aku akan lebih fokus lagi untuk menyelidiki para penghuni asrama.
Aku harus secepat mungkin menemukan 'kekasih tampan' Kibum.
Mari kita membuat daftarnya!
Pertama adalah…
"Jaejoongie~ kau sedang apa?"
"Omo!" Jaejoong hampir saja mencoret buku catatannya ketika Junsu membuatnya terkejut dengan cara berbicara tepat ditelinganya. Satu yang Jaejoong syukuri, namja itu tidak bertanya sambil berteriak jadi telinga sensitifnya masih aman.
Jaejoong buru-buru menutup bukunya, untung saja ia baru akan menulis belum sempat menulis nama-nama disana. Kalau sampai Junsu melihatnya, lumba-lumba penasaran itu akan terus memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
Terkadang Jaejoong heran, kenapa banyak sekali yang penasaran dengannya. Memangnya salah Jaejoong apa?
"Salahmu kali ini adalah, karena tidak membersihkan kamar mandi dengan benar! Lihat dengan mata belo mu itu! di pojokan sana masih ada noda tahu!" Yunho menunjuk dinding didekat pintu. Ada noda busa kering disana.
Teliti sekali. Menyebalkan!
"Arra.." Jaejoong mengambil satu gayung air dan menyiram noda itu perlahan sambil menggosoknya pelan menggunakan tangannya yang lain. Dan noda itu pun hilang. "Selesai kan? Sekarang bolehkan aku melanjutkan aktivitasku?" tanya Jaejoong.
Yunho tampak berpikir. "Aku rasa aku punya tugas lain untukmu."
"Tugas apa lagi?!" tidak menjawab protes Jaejoong, namja bermata musang itu langsung menarik Jaejoong menuju suatu tempat.
Sebuah kamar.
"Kamarku, bersihkan sampai kau bisa berkaca dilantai."
"APA?! Memangnya sejak kapan aku, maksudku ini kan tidak termasuk dalam hukumanku! Kenapa kau malah—" nafas Jaejoong terhenti selama tiga detik saat Yunho menarik dagunya untuk mendekat pada wajah kecil Yunho. Bibir hati itu kurang dari tiga senti hampir menyentuhnya!
"Bereskan saja sekarang, atau aku yang akan membereskan hutangmu saat ini juga."
Tanpa pikir panjang Jaejoong pun mendorong tubuh Yunho untuk menjauh, memilih untuk membereskan kamar berantakan itu daripada ia harus 'membereskan hutangnya' bersama Yunho diruangan tidak higienis seperti ini.
GREP!
CUP!
Bahkan Jaejoong belum sempat berkedip tapi namja itu baru saja kembali merebut ciuman Jaejoong tanpa ijin. Meskipun dengan itu hutangnya kembali berkurang meski hanya sedikit.
"Waktumu satu jam Kim."
Dasar mata musang, namja musang, namja licik!
Jaejoong mengusap bibirnya kasar, bukan karena jijik. Tapi karena kesal.
Kenapa namja itu memiliki otak yang sangat amat licik sih? Sepertinya ia juga sengaja membuat berantakan kamarnya ini untuk mengerjaiku.
Meskipun bibirnya tak henti mengerutu tapi kedua tangan Jaejoong dengan sigap membereskan semua kekacauan dalam kamar Yunho. Jaejoong harus bergerak cepat karena waktunya terbatas sedangkan kamar Yunho berantakan melebihi kapal pecah.
Dan setelah ini ia masih harus memasak makan malam. Aigo.. bisakah ia berharap sebuah keajaiban datang? Bibi Seo pulanglah!
.
.
"Ah, Jaejoong-ah kebetulan sekali aku baru saja akan mencarimu," mata Jaejoong berkaca-kaca entah kenapa refleks ia menghampiri tubuh yeoja paruh baya itu dan langsung memeluknya erat. Bibi Seo, Jaejoong benar-benar merasa semua bebannya seketika hilang.
"Syukurlah Bibi Seo pulang dengan selamat, oh apakah aku sedang bermimpi? Ini sungguh Bibi Seo kan?" Jaejoong berbicara sambil menahan tangis harunya. Kalau ini hanya mimpi tapi tubuh hangat Bibi Seo terasa nyata dirasakannya.
"Aigo.. bicara apa anak ini. Tentu saja ini aku. Duh, kenapa kau bersikap seperti ini padahal baru sebentar saling kenal." Bibi Seo menepuk-nepuk pelan punggung Jaejoong yang masih memeluknya erat.
"Hiks.. aku sangat merindukan Bibi Seo.." wajah Jaejoong memerah, ia sukses menangis. Wajahnya memelas benar-benar terlihat menyedihkan.
"Mwo? Baru kali ini ada yang merindukanku sampai begini, aigo.. anak manis. Kau mirip sekali dengan anakku." Jemari yeoja paruh baya itu mengusap air mata Jaejoong dengan lembut.
"Aku sungguh tulus Bibi Seo, aku merindukanmu.. sama seperti aku selalu merindukan Eommaku yang jarang ku temui.. hiks..hiks."
Jaejoong bukan hanya terharu karena kedatangan Bibi Seo, tapi setelah merasakan hangatnya tubuh yeoja paruh baya itu. Jaejoong menyadari satu hal, bahwa ia amat sangat merindukan Eomma cerewetnya.
Duh dia jadi ingin pulang.
"Sudah-sudah, mulai hari ini anggap saja aku Ibumu, jika sedang rindu padanya datang padaku dan peluklah aku. Mengerti?" Jaejoong pun akhirnya tersenyum.
Bibi Seo mengerti, sangat mengerti perasaan anak-anak penghuni asrama itu. Tinggal jauh dari orang tua dan harus hidup sendiri tentu sangatlah berat untuk anak seusianya. Apalagi Jaejoong harus berurusan dengan Yunho yang selalu membuat masalah.
"Sudah selesai reuninya?"
Dan lagi, namja itu selalu merusak suasana.
.
.
Jaejoong pagi ini terlihat lebih segar dan berseri-seri. Membuat para penghuni lain merasa keheranan.
"Hentikan menebar kebahagiaan berlebih begitu. Silau tahu!" entah sedang menyindir atau sekedar membuat lelucon kali ini kata-kata Heechul terdengar sedikit ramah pada Jaejoong. Meski nadanya tetap ketus.
Jaejoong hanya menggeleng masih sambil tersenyum kecil.
Duh, imutnya namja itu.
"Jangan lihat ke arahnya atau malam ini kau tidur di gudang, gege." Oh ternyata Heechul sedang cemburu takut sang kekasih terpesona dengan aura ceria Jaejoong.
"Kau habis dapat uang saku lebih ya, Jae?" tanya Yoochun.
Jaejoong kembali menggeleng.
"Biasanya kau selalu menebarkan aura bosan hidup. Duh, hari ini sungguh aneh. Semoga saja tidak ada hujan badai." Kyuhyun memeluk tubuhnya sendiri membayangkan sesuatu buruk terjadi.
.
.
"Benarkan kataku kalau sekarang ada badai! Huh gara-gara Kim Jaejoong!" Kyuhyun menutupi tubuhnya dengan selimut diruang berkumpul. Di luar sedang ada hujan badai yang cukup deras dengan petir dan kilat yang saling beradu.
"Kenapa terus saja menyalahkan Jaejoongie? Memangnya dia salah apa?" Junsu datang bersama Yoochun disampingnya. Kebiasaan petugas inti asrama (terdiri dari Yunho, Siwon, Leeteuk, Kyuhyun, Changmin, Yoochun dan Junsu) ketika hujan badai tiba adalah berkumpul di ruang tengah. Bersiaga takut-takut ada hal tidak menyenangkan terjadi, misalnya atap yang mendadak bocor atau banjir yang datang tiba-tiba bahkan sampai terputusnya listrik. Meskipun sampai saat ini semua hal itu tidak pernah terjadi. Sudah jelas kan karena ini asrama elit. Masa hujan sedikit saja bocor? Kemana anggaran mahal yang mereka bayar setiap bulan.
"Dia ada disini saja sudah salah!" Kyuhyun mendapati bibirnya disumpal oleh bibir tebal Changmin setelah selsai dengan kalimatnya. Kyuhyun terkejut bukan karena ciuman itu, tapi kedatangan namja itu yang tiba-tiba.
Changmin pun melepaskan ciumannya, "Sejak kapan kau belajar kalimat kasar seperti itu? Aku tidak pernah mengajarimu mengatakan itu pada orang yang lebih tua darimu, Kyu!" Kyuhyun terdiam. Baru kali ini ia dimarahi Changmin didepan yang lain. Dan lagi, ekspresi namja itu juga dingin.
"Mian."
"Aku heran kenapa kalian semua begitu sering membicarakan Jaejoong. Bolehkah aku bertanya alasannya pada kalian?" tanya Leeteuk.
"Dia itu bagaikan malaikat yang datang untuk mengimbangi keberadaan iblis, kau tahu? Dan lagi Jaejoong itu sangat cantik dan imut. Duh aku gemas!" Junsu mencubit kedua pipi Yoochun gemas sambil membayangkan kalau yang dicubitnya itu adalah Jaejoong.
"Masakannya lezat sekali, aku benar-benar ketagihan!" tambah Changmin.
"Dia juga rajin bersih-bersih." Mau tidak mau Kyuhyun pun ikut menyetujui kedatangan Jaejoong memang membuat asrama ini jadi sedikit lebih baik.
"Lalu bagaimana menurutmu Yunho?" tanya Siwon kali ini, penasaran dengan jawaban dari namja itu.
"Jaejoong itu hanya budakku. Pembuat masalah."
"KYAAA!"
PRAANG!
DRAP DRAP DRAP DRAP
"KYAA!"
BRUK.
"Tuh, dia membuat masalah kan?" Yunho menggelengkan kepalanya sedangkan yang lain tampak memandang pada titik yang sama. Mereka melihat ke arah dapur dan Jaejoong yang tiba-tiba muncul dari sana lalu jatuh begitu saja sebelum sampai menuju tempat mereka berada.
"Omo! Jae kau tidak apa-apa?" Junsu yang pertama menghampiri Jaejoong dan langsung membantu namja itu untuk bangkit dari jatuhnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Yoochun.
"Apa ada penyusup didapur?" tanya Changmin. Namja itu segera menuju dapur diikuti oleh Kyuhyun yang terlihat malas sambil menggulung tubuhnya menggunakan selimut. Melihat wajah namja cantik itu begitu pucat pasi mereka jadi berpikir macam-macam.
Jaejoong gemetaran, tubuh kurusnya itu dibawa Junsu dan Yoochun menuju ruang berkumpul untuk ditenangkan. Sementara duo ChangKyu memeriksa keadaan dapur.
"Sudah merasa baikan?" tanya Siwon menatap Jaejoong khawatir. Jaejoong mengangguk.
Changmin dan Kyuhyun sudah sampai kembali diruang berkumpul sambil membawa nampan berisi beberapa gelas coklat hangat dan cemilan yang ternyata tadi sudah dipersiapkan Jaejoong.
"Siapa yang menyuruhmu membuat cemilan min?" tanya Yunho sinis.
"Kami menemukan ini didapur, jadi kami bawa saja." bela Kyuhyun.
Jaejoong mengangkat tangannya sambil menunduk. "A-aku sengaja membuatnya untuk kalian, karena sejak tadi kulihat kalian cukup lama berdiam disini."
Aigo.. betapa baiknya hati namja ini.
"Tapi aku tidak memintamu melakukan itu." kebaikan Jaejoong lagi-lagi dibalas dengan kejahatan mulut sinis iblis Yunho.
"Sudahlah Yun, ini bukan masalah besar." Yunho memutar bola matanya. "Dan jangan tambah hukumannya lagi karena hal sepele ini." kata Siwon lagi. Yunho hanya berdecih.
"Lalu, kenapa tadi kau berteriak dan ribut seperti ini? dan suara benda jatuh apa itu?" tanya Leeteuk dengan sabar.
"Tadi.. ada tiga ekor kecoa didapur, awalnya mereka sibuk sendiri di tempatnya masing-masing. Tapi tiba-tiba mereka berjalan pelan, sepertinya mereka menatapku karena antenna dikepalanya bergerak-gerak aneh. Ketika aku akan melangkah pergi mereka malah menuju ke arahku dengan cepat. Mereka mulai mengejarku dan Kyaa!" Jaejoong bergidik ngeri mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Kecoa itu adalah mimpi buruk, lebih buruk dari hukuman-hukuman yang pernah Yunho berikan padanya.
"BWAHAHA!" Changmin tertawa lepas saat Jaejoong menceritakan itu.
"Jadi itu sebabnya sampai terjatuh begitu?" tanya Leeteuk tidak percaya.
Semuanya hampir tertawa lepas, minus Yunho yang memang selalu memasang wajah ketus dan Siwon yang entah kenapa sejak Jaejoong bercerita dengan heboh tadi ia terus saja memperhatikan Jaejoong dengan seksama.
"Sudah sudah lebih baik kita makan cemilan ini sampai badainya reda," Changmin pun jadi orang pertama yang memakan cemilan yang disediakan Jaejoong.
Suasana mendadak hening. Changmin sibuk memakan cemilan, Kyuhyun sibuk bermain game didalam selimut yang menggulung tubuhnya, Junsu dan Yoochun sibuk bercanda berdua. Sedangkan Leeteuk asyik membaca buku. Siwon sendiri sejak tadi bangkit dari duduknya menuju ke arah jendela untuk menatap hujan.
"Oh ya, Jae kudengar kalau remaja perempuan jepang itu memberikan keperawanannya pada teman lelakinya, bukan pada kekasihnya kan? Apa itu benar?" tanya Yoochun penasaran. Entahlah namja playboy itu mendapatkan info tersebut darimana.
Jaejoong tersentak kaget mendengar Yoochun menanyakan hal semacam itu, ingin sekali menjawab tidak tahu tapi kan ia cukup lama tinggal di Jepang. Akan sangat konyol jika sampai ia menjawab begitu.
"Iya.. begitulah." jawab Jaejoong sambil menggaruk pipinya gugup.
"Lalu apakah ada yeoja yang memberikan keperawanannya padamu? Berapa orang? Bagaimana rasanya? Aku yakin kau sangat populer di sekolah pasti banyak yang mengincarmu kan?" duh, kenapa si jidat lebar itu makin semangat bertanya sih? apalagi kini Siwon juga sudah kembali duduk dan mendengarkan pembicaraan dengan serius.
"Bertanya lah satu persatu Chunnie! Kau tidak lihat Jaejoong sampai gugup begitu." Junsu terkekeh sambil menunjuk Jaejoong yang duduk tidak nyaman.
"Pertanyaanmu tidak penting tahu!"
"Yah, dari pada kita mati bosan disini tanpa obrolan kan?" elak Yoochun.
Yang lain hanya mengangguk menyetujui.
"Cepatlah jawab jangan buat kami penasaran hyung!" Changmin pun mendesak Jaejoong.
"Ah, ya itu benar. Tapi kalau soal itu.. memang banyak yang menawarkannya padaku, mungkin tidak terhitung lagi jumlahnya—"
"Wah! Sudah kuduga Jaejoong memang populer!"
"Hanya saja aku tidak pernah menerimanya sama sekali." sebenarnya malu untuk mengakui itu, secara tidak langsung bukankah Jaejoong mengakui kalau dirinya itu masih perjaka dan sama sekali belum pernah berhubungan seks?
'Duh memalukan sekali!' teriak Jaejoong dalam hati. Jaejoong menutup wajanya malu, terlihat sekali kupingnya memerah.
"Aigo tidak perlu malu begitu Jae. Bukankah bagus itu artinya kau masih 'suci' tidak seperti mereka-mereka tuh." tunjuk Leeteuk pada pasangan Changmin-Kyuhyun serta Junsu-Yoochun, membuat namja yang sering di juluki Eomma itu dihadiahi empat pelototan mata.
"Sama-sama sudah tidak suci jangan saling menghina!" semprot Kyuhyun.
"Hahaha!" Jaejoong tertawa kaku. Bukan karena gurauan mereka, tapi karena tatapan mata musang yang sejak tadi menatapnya tajam seakan-akan sedang mengincarnya sebagai mangsa. Tatapan itu seperti menyiratkan suatu makna.
Kalau Jaejoong tidak akan pernah lepas dari jerat Jung Yunho.
Duh, seram sekali bukan?
"Sejak tadi Siwon dan Yunho hanya diam saja, kalian sedang bertengkar eoh?" tanya Junsu. Biasanya mereka berdua itu saling berbicara satu sama lain, tapi sejak kemarin bahkan entah sejak kapan mereka terlihat selalu sibuk masing-masing.
"Tidak kok." Siwon tersenyum. "Benar kan Yun?" Yunho hanya berdehem menjawab pertanyaan Siwon.
"Ah, kupikir kalian sedang bertengkar karena memperebutkan Jaejoong—ups!" Junsu menghentikan kalimatnya karena mendapat hadiah lemparan bantal dari Yunho.
"Tiga menit lagi listrik akan dipadamkan, sepertinya pembakit listriknya terkena sambaran petir." ucap Yunho sambil memainkan ponselnya dengan santai.
"Mwo? Lalu bagaimana dengan yang lain?" tanya Junsu. Ini kali kedua listrik asrama terkena sambaran petir dan harus ada pemadaman sementara.
"Aku sudah mengirimkan pesan ke semua penghuni termasuk kalian, bersiaplah." kata Yunho lagi. "Kali ini tidak akan lama, aku sudah menghubungi orang untuk segera memperbaikinya.'
Tunggu, tunggu dari mana Yunho bisa tahu listrik harus di matikan dan pembangkitnya tersambar petir?
"Kau pasti bingung kan Jae?" tanya Siwon membaca ekspresi Jaejoong yang tidak biasa. Namja cantik itu mengangguk, teringat kala ia masih tinggal di Jepang. Pemerintah Jepang mempunyai system pemberitahuan lewat pesan singkat jika akan terjadi bencana atau apapun dalam waktu kurang dari empat detik.
Apakah sekarang di Korea sudah menerapkan system ini juga? duh, betapa Jaejoong merasa sudah ketinggalan jaman.
"Wajar saja Jaejoong terlalu sibuk dengan urusannya dengan Yunho sampai tidak tahu betapa canggihnya teknologi di asrama kita ini." kata Junsu seakan sekaligus menyindir Yunho.
"Harusnya itu kan tugas Siwon sebagai wakil ketua," Yunho berusaha membela diri.
Siwon mengangguk, "Benar juga, aku hampir lupa untuk menjelaskan itu jadi—"
CTAAR!
"Eomma!"
"Ah, kenapa lampunya mati bersamaan dengan petir itu?" keluh Changmin.
Seluruh ruangan pun menjadi gelap gulita. Jaejoong menutup telinganya sambil memejamkan mata ketakutan.
"Jadi, siapa duluan yang akan menyalakan lampu di ponselnya?" tanya Leeteuk. Kenapa pula ia harus bertanya duluan. "Aku tidak membawa ponselku." katanya. Oh, pantas saja.
"Ponselku mati hyung," jawab Changmin.
"Aku juga." tambah Kyuhyun.
"Aku sedang berusaha mencari ponselku—ya! Chunnie apa yang kau pegang itu?!"
"Mian aku tidak sengaja!"
"Yun, nyalakan ponselmu, bukankah sejak tadi kau memeganginya terus?" seru Siwon. Ia pun sama halnya dengan Junsu dan Yoochun yang sibuk mencari ponselnya dalam kegelapan karena tadi mereka meletakkan ponsel mereka sembarang.
"Kalian berisik. Sudah diam saja jangan melakukan apapun. Ponselku baru saja mati tahu!" Yunho malah menjawab dengan nada sebal. Namja itu bangkit dari duduknya dalam kegelapan entah menuju kemana.
"Jaejoong-ah? Apa kau membawa ponsel?" tanya Siwon. Sejak berteriak memanggil Eommanya namja itu tidak bersuara sama sekali.
"Iya, kau pasti membawanya, ayo cepat nyalakan ponselmu." desak Junsu. Tidak melihat apapun dalam gelap membuat suasana tidak menyenangkan.
"Jae-hyung?" panggil Changmin sekali lagi.
Sementara itu, Jaejoong terkesiap saat tangan hangat menggenggam satu tangannya.
"!"
Belum sempat bersuara mulutnya sudah lebih dulu dibekap oleh tangan besar itu yang tak lain adalah tangan Yunho. Entah apa maksudnya, beberapa detik kemudian tubuh kurus Jaejoong dibawanya ke dalam sebuah pelukan hangat. Membuat Jaejoong sedikit lebih tenang.
Tapi entah kenapa lehernya seperti baru saja digigit sesuatu. Awalnya perih namun kemudian sesuatu yang basah membuatnya geli. Jangan-jangan—
"Diamlah. Jangan takut." bisik Yunho lembut tepat ditelinga Jaejoong. Bahkan suaranya itu hanya terdengar samar karena kalah oleh suara petir dan hujan deras diluar sana.
"Duh, mau sampai kapan gelap-gelapan begini?" keluh Leeteuk.
"Tidak apa-apa gelap juga, jadi kalian tidak perlu melihat kami. Iya kan Suie? Hmmp.."
"Sialan kalian ini." keluh Leeteuk. "Jangan bilang kalian berdua pun melakukan hal yang sama lagi ChangKyu?" tanya Leeteuk penasaran.
"Ya, tidak usah ditanya pun kau sudah tahu jawabannya hyung!" seru Kyuhyun sesekali terkekeh.
"Jaejoong-ah? Kau masih disitu kan? Kau baik-baik saja?" Siwon sama sekali tidak bisa menemukan sosok Jaejoong dalam kegelapan. Ia khawatir karena Jaejoong belum bersuara juga.
"I-iya aku baik-baik saja, maaf aku sangat takut sekali dengan petir sampai aku tidak bisa berkata-kata. Maaf sudah membuat kalian khawatir." Siwon bernafas lega saat mendengar jawaban dari Jaejoong. Dan tak lama Yunho pun datang sambil membawa sebuah lilin yang menyala.
"Kau penyelamatku Yun.." Leeteuk pun tersenyum penuh kemenangan saat memergoki dua pasang kekasih yang memanfaatkan kegelapan tadi dengan perbuatan mesum. Setidaknya pasangan ChangKyu melakukannya dibawah selimut Kyuhyun, tidak seperti pasangan YooSuu yang melakukannya terang-terangan.
"Hentikan hentikan Jaejoong melihat kalian sampai wajahnya memerah tuh." canda Siwon.
"CK!"
"Hujannya sudah mulai sedikit mereda, kalau kalian ingin kembali ke kamar kalian silahkan. Aku akan menunggu sampai hujannya reda, Siwon-ah kau juga istirahatlah." titah Yunho. Ia memberikan lilin yang dibawanya untuk penerangan mereka menuju kamarnya masing-masing.
Changmin-Kyuhyun serta Junsu-Yoochun tanpa sepatah kata pun meninggalkan ruangan itu. Karena kalau mereka protes Yunho bisa saja menarik kembali perintahnya toh lumayan juga untuk melanjutkan kegiatan yang tadi sempat tertunda.
"Baiklah, kalau ada apa-apa panggil saja aku Yun." kata Leeteuk sebelum pergi menyusul dua pasangan mesum yang sudah mendahuluinya.
"Ayo Jae," ajak Siwon, bermaksud mengajak namja itu kembali ke kamar bersama-sama karena lilin yang berada ditangannya merupakan lilin terakhir yang Yunho bawa. Saat Jaejoong baru akan bangkit Yunho pun menyela.
"Jaejoong tetap disini bersamaku." ucap Yunho pelan namun tegas.
"Tapi dia kan bukan pengurus inti—"
"Dia itu budakku, aku bisa melakukan apapun padanya selama masa kontrak belum habis." kalimat itu membuat Siwon menyerah. Melawan Yunho saat ini tidak akan pernah membuatnya menang.
Jaejoong sendiri hanya cemberut mendengar hal itu. Ah, padahal ia ingin segera tidur.
"Kemarilah budakku," panggil Yunho. Jaejoong menggeleng. "Aku lebih suka disini," ucapnya sambil menyamankan dirinya.
"Jangan sampai aku mengulangi perintahku," desis Yunho. Jaejoong pun terpaksa bangkit dan menuju Yunho—duduk disebelah Yunho dengan perasaan gugup.
Meski mereka semua kasihan dengan nasib Jaejoong, tapi apa daya mereka pun tidak bisa berbuat apapun untuk membantu Jaejoong. kalian tahu alasannya? Karena Jung Yunho menggenggam segalanya ditangannya.
"Jadi, pengakuan tadi benar eoh? Kau masih 'perawan' kan?" pertanyaan itu membuat Jaejoong terkesiap.
"Me-memangnya kenapa?" jawabnya gugup. Melihat Yunho hanya terkekeh geli membuatnya cemberut sebal.
"Berarti kau memang polos sekali, sampai-sampai tidak merasakan kalau aku sudah menandaimu," Yunho memberikan isyarat pada Jaejoong untuk mengecek lehernya. Karena tidak bisa melihatnya langsung, Jaejoong pun hanya meraba-raba lehernya panik.
Apakah maksudnya itu… sebuah Kissmark?! Omo!
Jaejoong melotot kaget dan refleks menjauh dari Yunho tapi kemudian kembali ditariknya untuk mendekat.
"Aku bisa mengulanginya jika kau penasaran dengan rasanya.." Jaejoong menahan nafas saat bibir Yunho kini berada diperpotongan lehernya. Disingkapnya sedikit kerah kaus yang dipakai Jaejoong sehingga bahunya sedikit terekspos. Nafas hangat Yunho menerpa kulit sensitifnya membuat Jaejoong sedikit tidak nyaman. Ingin memberontak tapi kedua tangannya sudah dipegangi erat oleh Yunho.
"Ti-tida—AH!" Jaejoong meleguh. Namja musang itu sungguh melakukannya, bibir hati itu sungguh mendarat di kulit leher Jaejoong. Pertama hanya sebuah kecupan ringan yang dilakukan berkali-kali namun semakin lama kecupan itu semakin tak terkendali. Di tambah dengan jilatan dari daging tak bertulang milik Yunho yang bergerak-gerak dengan sensual disana.
Masih bisakah perbuatan Yunho ini disebut dengan 'membuat kissmark'?
Jaejoong sendiri hanya bisa terpejam erat, tangannya mencengkram kuat lengan Yunho sama sekali tidak bisa memberikan perlawanan karena kini tubuhnya sudah ditindih Yunho!
Bayangkan kini posisi Jaejoong adalah terbaring di sofa dengan Yunho yang menindihnya, kepalanya bergerak-gerak diperpotongan lehernya dengan bebas!
Jilatan itu kini berubah menjadi sebuah hisapan yang disertai gigitan-gigitan kecil yang mampu membuat Jaejoong mengeluarkan suara-suara sensual yang membuat Yunho semakin ingin berbuat jauh.
"Yunn.. ahh.." apa yang terjadi dengan suaranya Jaejoong pun tidak tahu dan tidak bisa menahannya untuk tidak keluar. Sensasi ini, rasa geli ini membuatnya ingin merasakan lebih dari ini.
Yunho menghentikan hisapannya, jilatannya, semua yang dilakukannya. Namja itu menatap Jaejoong yang tidak berdaya dibawahnya. Mata yang terpejam erat serta nafas yang tersengal. Sial! Baru dengan serangan begini saja namja cantik itu sudah terlihat begitu seksi. Apalagi cahaya lilin membuat suasana malam hujan badai itu menjadi lebih bergairah.
Dengan kasar Yunho menarik lengan Jaejoong untuk bangkit dari posisinya dan langsung menghadiahi namja itu dengan sebuah ciuman yang cukup dalam dari biasanya. Setelah selesai Yunho pun melepaskan semua sentuhannya pada Jaejoong. Namja itu menjauhi Jaejoong, sedang berusaha untuk mengendalikan nafsunya.
Jaejoong pun melakukan hal yang sama, ia sedang berusaha mengatur degupan jantungnya yang menggila. Namja itu menggenggam erat kerah bajunya sambil gemetaran. Hingga tak lama kemudian listrik pun kembali menyala. Seluruh ruangan kembali terang benderang.
"Kau boleh kembali ke kamarmu," kalimat perintah Yunho membuat Jaejoong tanpa pikir panjang bangkit dari duduknya. Awalnya pelan-pelan melangkah, namun setelah agak jauh dari Yunho namja cantik itu segera melesat dengan cepat menuju kamarnya.
Yunho menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, menutupi wajahnya yang memerah dengan bantal sofa.
Ah, mereka berdua tidak tahu bahwa sejak tadi ada namja berlesung pipi yang terus memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Namja itu tersenyum penuh arti sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
Pabbo! Kenapa suaraku tadi begitu terdengar uhh.. begitu seksi? aku malu sekali Tuhan..
Dan perbuatan apa itu tadi?! Membuat kissmark apanya! Itu bercumbu kah? Arrrgh molla!
Sadarlah Kim Jaejoong!
Jaejoong sekali lagi menampar pipi kanannya, untuk memastikan kalau kejadian tadi nyata. Wajahnya kembali memanas kala memandang refleksi wajahnya di cermin, tanda itu.. warna merah yang pekat di lehernya itu!
"Arrrgh! Kenapa tandanya banyak sekali?!" Jaejoong baru menyadari hal itu. Tadinya ia pikir namja Jung itu hanya membuat satu tanda disana, tapi lihatlah kenyataannya, ada satu.. dua.. tiga.. em—banyak sekali tandanya! Bahkan Jaejoong sudah tidak sanggup lagi menghitungnya. Tanda itu dibuat tidak beraturan hingga sebatas bahunya. Jika dilehernya itu hanya ada satu atau dua tanda Jaejoong masih bisa menyembunyikannya dengan plester tapi kalau sebanyak ini?
Jung Yunho memang gila! Si gila yang mesum!
Bagaimana Jaejoong ke sekolah besok? Bagaimana menyembunyikan ini semua? Rasanya untuk keluar kamar pun Jaejoong akan sangat malu. Penghuni asrama lain pasti akan banyak bertanya, terlebih pasangan Junsu dan Yoochun. Bagaimana Jaejoong harus menjawabnya nanti?
"Baiklah tidak ada cara lain, aku harus ijin tidak masuk kelas besok."
Jaejoong sibuk dengan ponselnya, mengetik pesan untuk Junsu yang akan ia kirimkan besok pagi. Merangkai kata yang meyakinkan agar pengurus kelas itu percaya padanya kalau Jaejoong benar-benar tidak enak badan.
To Kim Junsu :
Junsu-ah, bisakah tolong ijinkan aku hari ini? sejak kembali ke kamar semalam aku mendadak tidak enak badan.
Rasanya kepala ini pusing sekali, badanku pun sedikit demam. Jadi, tolong katakan pada Seonsaengnim kalau aku sakit, oke?
Aku akan memasak makanan enak setelah aku sembuh, oke? Aku berjanji.
Kim Jaejoong.
Bolos satu hari pun tidak akan membuat bodoh kan? Setidaknya ini bisa jadi perayaan Jaejoong yang baru saja bebas tugas memasak. Lebih baik sekarang Jaejoong segera tidur daripada terus mengkhayal mesum tentang Yunho.
.
.
.
Yunho kembali membasuh wajahnya dengan air sambil merutuki perbuatannya tadi pada Jaejoong. Ugh.. bisa-bisanya ia lepas kendali dan 'hampir memakan' Jaejoong disana. Meskipun hasratnya pada Jaejoong begitu kuat, tapi Yunho harus terus menahannya sampai namja cantik itu menyerah dengan sendirinya pada Yunho.
Bukan perbuatan yang jantan kalau sampai Yunho benar-benar 'memperkosa' namja cantik itu dengan paksaan. Sekalipun nafsunya udah ada di ujung tanduk Yunho tidak akan melakukannya. Tidak akan pernah kecuali ada seseorang lain yang mengancam posisinya, misalnya.. Siwon, mungkin?
Sejak pertama kali melihat Jaejoong dan Siwon dekat Yunho benar-benar merasa tidak tenang. Meskipun namja musang itu sudah pernah memberi peringatan pada Siwon untuk tidak merebut 'budaknya' itu tapi tetap saja Yunho merasa khawatir. Apalagi sifat namja itu yang selalu baik pada siapapun. Sifatnya dan sikapnya itu selalu saja membuat namja atau yeoja lain merasa diberi harapan.
Lupakan soal Siwon, Yunho akan memikirkannya nanti. Selama namja itu belum bertindak jauh maka Yunho akan tenang saja tapi tetap penuh kewaspadaan.
Sekarang misinya hanyalah membuat namja cantik itu lelah dengan Yunho kemudian menyerahkan diri.
"Kau tidak akan pernah lepas dariku setelah terjerat satu kali Kim Jaejoong." Yunho menyeringai tajam.
.
.
.
"Jaejoong hari ini tidak masuk sekolah. Katanya tidak enak badan, oi Yunho, apa yang kau lakukan pada Jaejoongie semalam sampai ia sakit begitu?" tanya Junsu di sela makannya. Membuat Yunho hampir saja menyemburkan susu hangat yang baru masuk ke dalam mulutnya. Untungnya Yunho memiliki pembawaan yang tenang sehingga ia tetap bersikap biasa.
"Aku menyuruhnya kembali setelah listrik menyala. Aku yakin baru beberapa detik kalian bercumbu dalam kegelapan dengan romantisnya nyalanya listrik pasti menganggu kalian." ejek Yunho. Kyuhyun dan Changmin yang merasa kalimat itu pas mengenai hati mereka pun tersedak.
"Hahaha! Sayangnya kami tidak terpengaruh sama sekali, kecuali duo evil yang selalu melakukannya di tempat gelap—ups." kali ini Heechul yang mengejek pasangan evil itu. Mereka hanya bisa mendengus kesal dengan kompak.
"Apa perlu kita mengantarkan sarapan untuk Jaejoong, Bibi Seo?" tanya Yoochun. Walau bagaimana pun seluruh penghuni asrama harus mendapat jatah makan yang sesuai.
"Aku akan mengantarkannya nanti sekalian mengecek keadaannya," kata Bibi Seo.
"Biar aku saja." sela Yunho. Bibi Seo sempat keheranan melihat Yunho untuk pertama kalinya mengajukan hal itu padanya. "Biar aku saja yang mengantarkannya sebelum berangkat, Bibi Seo bisa melanjutkan pekerjaan yang lain." kata Yunho lagi. Bibi Seo pun mengangguk mengerti, namja musang itu kelihatannya sedikit berubah menjadi lebih perhatian semenjak kedatangann Jaejoong. Membuat Bibi Seo sedikit lega.
Bukan hanya Yunho, beberapa penghuni asrama pun banyak yang berubah semenjak namja cantik dengan sikap kerajinannya itu datang dan tinggal di asrama.
"Sampaikan salamku pada Jaejoongie ya Yun."
.
.
.
Tok tok tok!
"Buka pintunya atau aku akan mendobraknya lalu kau harus mengganti pintunya dengan yang baru." Jaejoong mendengus kesal mendengar suara Yunho menganggu aktivitas bermalas-malasannya. Kapan lagi coba ia bisa sesantai ini? belum juga Bibi Seo dua hari kembali ke asrama dan kini Yunho datang, apakah namja itu akan memberikan Jaejoong tugas dan hukuman lagi?
Jaejoong membuka pintu kamarnya, kepalanya menyebul sedikit keluar.
"Ada ap—" belum sempat bertanya Yunho langsung mendorong pintu kamar Jaejoong dengan kakinya sehingga pintu itu terbuka lebar dan tubuh Jaejoong ikut terdorong beberapa langkah ke belakang. Seenak hati menyimpan nampan berisi jatah sarapan Jaejoong di atas meja disamping tempat tidur namja itu.
"Kau sungguh sakit, eoh? Bukan mau menghindar dariku, kan?" tanpa permisi namja musang itu menempelkan dahinya pada dahi Jaejoong untuk mengecek suhu badan namja cantik itu. Jaejoong menahan nafasnya takut. Lagi-lagi terlalu dekat.
"A-aku.."
"Kau sama sekali tidak sakit Kim—"
"Ssst!" Jaejoong menutup bibir hati itu dengan tangannya. Bermaksud menghentikan kalimat Yunho agar tidak terdengar oleh yang lain.
"Kali ini saja ku mohon, aku ingin istirahat." pinta Jaejoong.
Yunho tampak berpikir sebentar, "Baiklah." putusnya. Jaejoong bernafas lega, namja bermata musang itu kemudian keluar dari kamar Jaejoong meninggalkan namja itu sendirian.
"Hihihi tumben sekali beruang jelek itu baik,"
.
.
.
"Aku tarik kembali kata-kata mengenai dia baik. Dan sekarang aku menyesal telah membolos."
Tugas untuk Kim Jaejoong
Bersihkan halaman serta taman belakang
Bersihkan ruang berkumpul
Bersihkan lorong asrama
Bersihkan kamar mandi utama
Bersihkan seluruh kaca yang ada di asrama
BERSIHKAN SELURUH RUANGAN YANG ADA DI ASRAMA
"Dia berniat membunuhku perlahan atau apa sih?! aku disini kan untuk hidup tenang, kenapa malah begini? Arrrgh sial!" ingin rasanya menangis meraung-raung. Jaejoong bukan Cinderella yang punya ibu tiri serta saudari yang jahat. Tapi kenapa nasibnya bahkan lebih malang dari Cinderella?
Jaejoong mengikat poninya sembarang, ia telah mengganti bajunya dengan yang lebih nyaman dari sebelumnya. Setelah itu mengambil senjata yang akan di pakainya untuk bertempur. Walau mengeluh dan menyesalinya semuanya, toh ujung-ujungnya juga harus dia laksanakan.
Lap, alat pel, ember, kemoceng, sapu dan lain-lain. Senjatanya sudah siap saatnya Jaejoong melawan!
Kibum cepatlah lulus dan datang kesini tolong hyungmu!
.
.
.
"Eomma, setelah aku lulus nanti dan masuk asrama Toho, bolehkan hyung kembali sekolah di Jepang?" meski perjanjian mereka diawal sudah jelas tertulis rapi dan di cap jempol oleh keduanya, tidak ada salahnya kan mencoba satu kali saja? siapa tahu wanita yang melahirkannya itu berubah pikiran.
"Tidak."
"Wae, Eomma? Aku kan janji sudah berubah menjadi lebih dewasa sekarang, aku bahkan sudah bisa berangkat sekolah sendiri tanpa diantar supir. Aku bahkan sudah bisa mencuci bajuku sendiri dan aku—"
"Bukankah perjanjiannya sudah jelas? Meskipun kau sudah bisa mandiri seperti hyungmu, kau itu tetap anak Eomma yang manja dan centil. Eomma akan selalu khawatir padamu sayang, dan selama Eomma tidak bisa mengawasimu terus tentu saja hanya hyungmu yang bisa. Apa kau mengerti, nak?"
Kibum menelan ludahnya pahit. Apakah dengan ini Kibum bisa dikatakan egois?
Mengorbankan sang hyung demi dirinya sendiri? Apakah ia telah dibutakan oleh cinta pada sang kekasih sehingga akal sehat telah hilang separuh?
"Maafkan aku hyung.." tangis Kibum sebenarnya sudah ingin pecah sejak tadi, tapi melihat wajah Jaejoong yang baik-baik saja membuatnya sedikit lega.
"Aigo.. kau itu adikku satu-satunya, berhenti meminta maaf padaku atas kesalahan yang bahkan tidak kau berbuat," lagi-lagi Jaejoong hanya tersenyum manis dan itu membuat Kibum kembali merasakan sesak dihatinya.
"Hyung sudah repot karena permintaan konyolku yang tiba-tiba," eoh, apakah Kibum sudah tobat dan akan menyebutkan nama kekasihnya? Dengan ini pasti Jaejoong akan lebih ringan menjalankan tugasnya. Pikir Jaejoong.
"Jadi siapa nama kekasihmu itu? ani, sebutkan saja marganya dan aku akan mengawasinya dengan mudah." Jaejoong terlihat antusias membuat Kibum menatapnya aneh.
"Tidak mau! Itu kan tugas hyung, aku tidak mau mencarinya sendiri. Huahaha!" ekspresi kecewa Jaejoong membuat Kibum ingin tertawa lepas. Hyungnya yang amat ia sayangi itu benar-benar memiliki hati yang suci bagaikan malaikat. Bahkan ketika Kibum sejahat itu bahkan ia tidak menyadarinya.
Akhirnya Kibum pun memutuskan untuk tidak menangis.
.
.
.
TBC
Pojokan Rumah Author :
Gimana? Yunjae momentnya? Hihihi. Maafkan saya selalu lamaaaa update. Kehidupan dunia nyataku benar-benar menyita waktu huhu. Di chapter depan ada episode special loh~ pantengin terus ya!
Harap dimaklum aja kalau FF ini bakalan panjang, soalnya FF ini sebenarnya ringan tanpa ada masalah yang pelik cuma ya memang legih fokus ke kehidupan sehari-hari jadi mungkin ada lebih panjang dan membosankan. Kalau udah sampe di konflik akan ketahuan kok masalah sebenarnya.
Salam,
Nyangiku.
