Author's Note : Respon untuk DesyNAP, sebenarnya aku sempet terpikir itu juga sih, tapi nggak ku pakai soalnya ada ide yang lebih gila plus ngawur plus ngaco yang kupakai. Tapi, kurang lebih nanti, di chapter ini kamu akan tahu bagaimana reaksi Fang jika hal itu terjadi.
Masalah soal hilang ingatan, itu nggak pernah kupelajari di sekolah dan aku nggak terlalu tahu banyak tentang masalah ini, termasuk cara menyembuhkannya. Jadinya mungkin caraku nyembuhin amnesianya Fang nggak sesuai dengan prosedur ilmu kedokteran. Tapi, hey, ini kan fanfiction. Ikan mas aja bisa dibuat terbang oleh authornya (ngeles) :3
.
.
.
Dengan rasa sedikit kecewa, BoBoiBoy dan Gopal mengajak Fang keluar dari gedung kosong itu. Memang hasilnya tidak seperti yang diharapkan, tapi setidaknya, Fang telah berhasil mengangingat sekeping ingatan dari masa lalunya.
"Aku tahu aku pernah kesini." Si bocah berambut ungu bergumam, menoleh kebelakang - kearah rumah tua itu - sebelum kakinya melangkah keluar dari pintu pagar dengan perasaan putus asa. "Aku hampir bisa mengingatnya tadi."
BoBoiBoy tersenyum kecil. "Sudahlah. Jangan dipaksakan. Secara perlahan, ingatanmu pasti akan kembali." Padahal didalam hati, anak itu merasa ingin mengajaknya kembali ke rumah itu dan memaksanya untuk mengingat. Rasa sakit yang harus diderita Fang lah yang menjadi kendala niatnya itu.
'Sampai kapan sandiwara ini selesai?' anak itu berpikir dalam perjalanan pulang ke rumah Tok Aba. Berbohong bukanlah hal tersulit yang dilakukan, tapi dianggap menjadi kekasih dari orang sesama jenis jelas membuatnya tidak nyaman. Demi Tuhan, jangan sampai Fang benar-benar jatuh cinta padanya.
"Aku lapar." Gopal yang mengatakan itu. Ia membungkuk, memungut sebuah batu dan, dengan menggunakan kuasa manipulasi molekul, mengubah benda itu menjadi kue bolu dan melahapnya secara diam-diam.
BoBoiBoy tersentak. 'Itu dia!'
Kuasa manipulasi bayang. Jika mereka membuat Fang secara tidak sengaja menggunakan kekuatannya, sekeping dari ingatannya yang lain bisa muncul kembali. Ini mungkin akan berhasil.
.
.
Atau mungkin gagal.
.
.
Tidak. Tidak. Tidak. Bocah bertopi oranye itu menggeleng, menepis niatnya.
Fang bisa saja ketakutan dan berpikir bahwa dirinya telah terlahir dengan sebuah kutukan.
.
.
BoBoiBoy mengerang pelan, nyaris frustasi.
"Cinderella?" Fang memanggilnya.
Yang dipanggil mendesah pelan, memaksakan diri untuk merespon dengan nada lelah. "Ada apa?"
"Kau tampak kesal. Ada yang salah?"
Ya. Memang ada sesuatu yang salah dan ini telah terjadi sejak semalam.
Anak itu menyunggingkan sebuah senyuman. "Semuanya baik-baik saja." Sungguh, ia ingin segera berhenti berbicara dengan cara lembut dan formal seperti itu.
.
Kesalahan besar. Seharusnya ia tidak pernah menerima tawaran peran Cinderella ini dari Yaya kemarin.
.
.
Tanpa ada yang menyadari, sebuah robot tempur ungu berbentuk ufo sudah mengawasi mereka sejak dari mansion tak berpenghuni itu. Awalnya Probe hanya berniat untuk menakut-nakuti mereka. Namun mendengar bahwa Fang mengalami hilang ingatan membuatnya mengubah rencana awal dan membawa informasi penting ini untuk majikannya.
"Incik bos harus tahu tentang hal ini."
.
.
.
Princess Boy
Chapter 4 : You're A Boy
Disclaimer : BoBoiBoy belongs to monsta
Warnings : typos, bahasa Indonesia, eyd tidak sempurna
Don't like, don't read
.
.
.
Ketiga anak itu sampai di halaman rumah Tok Aba. Setelah menyuruh Fang istirahat di kamar, BoBoiBoy dan Gopal pergi menuju kedai favorit mereka.
"Hai, BoBoiBoy. Hai, Gopal." Yaya dan Ying menyambut mereka dengan sebuah senyuman ketika melihat mereka sampai di kedai.
Kedua anak lelaki hanya membalas sapaan itu dengan sebuah lambaian tangan singkat dan wajah lelah. Setelah duduk diatas kursi, secara serempak mereka menjatuhkan kepala diatas meja.
Tok Aba yang sedang mengelap meja memerhatikan cucunya dengan iba. "Duduklah dulu, biar Atok buatkan special ice chocolate."
Gopal mengangkat tangan. "Aku juga, Tok. Tapi ngutang dulu ya."
"Eh, bagaimana dengan si Fang?" Ying yang bertanya, penasaran dengan perkembangan usaha temannya.
BoBoiBoy mengeleng lemah, masih belum mengangkat wajahnya dari meja. "Masih belum ingat. Padahal sudah capek-capek kami mengajaknya keliling Pulau Rintis ini."
"Sabar saja lah." Ujar Yaya. "Kau harus membantunya mengingat secara pelan-pelan."
"Aku sudah bersabar dari tadi. Tapi aku tidak tahan kalau terus-terusan dipanggil Cinderella," anak itu bergidik. "Hiiiy, ngeri rasanya."
Tok Aba meletakkan pesanan. "Katanya kau mau bertanggung jawab. Tapi baru segini pun sudah mengeluh?"
"Habisnya sih, kami sudah kehabisan ide. Benar kan, Gopal."
Gopal menyedot minumannya dengan suara berisik, tidak peduli untuk merespon.
Yaya, Ying dan Tok Aba terdiam, merasa kasihan pada BoBoiBoy tapi tidak bisa menolong banyak kecuali dengan memberi semangat.
Si bocah bertopi mengaduk-aduk cokelatnya. Ketika hendak meminumnya, tanpa sengaja tangan Gopal menyenggol lengannya hingga cokelat itu tumpah membasahi wajah dan bajunya.
"Ah, sori BoBoiBoy," Gopal langsung meminta maaf. Dengan cemas, ia menyambar lap kotor yang ada diatas meja dan mengelap wajah temannya. "Waduh, kenapa wajahmu jadi menghitam?"
BoBoiBoy melotot kearah Gopal. Sekarang wajahnya bukan hanya basah, tetapi juga kotor dan bau. "Gopal!"
"Eh, eh, sori. Aku tidak sengaja."
BoBoiBoy merebut lap itu dari tangan Gopal dan membalasnya dengan cara yang sama. Rasa kesal dan lelah membuatnya sensitive saat ini.
"Hei! Aku kan sudah minta maaf." Protes Gopal dengan wajah penuh debu. "Kok kau marah sih?"
"Jelas aku marah. Kau lihat wajahku jadi kotor."
"Itu tidak sengaja."
"Kau ceroboh."
Tok Aba memukul meja dengan sebuah tongkat kayu. "Kalau kalian masih ribut, berikutnya kepala kalian yang kena hantaman kayu ini."
Kedua anak itu menghentikan perdebatan singkat mereka. Rasanya, seumur hidup, baru kali ini mereka beradu mulut. Bahkan BoBoiBoy sendiri merasa heran mengapa dirinya menjadi mudah tersinggung seperti Fang.
"Sudahlah, lebih baik kau mandi sekarang." Kata Ying, memerhatikan jam tangan. "Lagipula sekarang kan sudah sore."
BoBoiBoy merespon dengan sebuah 'hmph'.
"Kau juga, Gopal." Tambah Tok Aba. "Sekalian saja kau mandi disini."
Mata Gopal membesar, kaget. "Maksudnya kami disuruh mandi bareng?"
"Memangnya kenapa?"
"Ish, malu lah. Masa kami mandi sama-sama."
"Huh, kau kan juga laki-laki. Kenapa harus malu?"
"Erm," Gopal tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya tidak terbiasa saja mandi bersama orang lain.
Tapi … ya sudahlah. Daripada ia harus pulang ke rumah dengan wajah kotor.
BoBoiBoy turun dari kursi. "Ayo, Gopal, kita mandi dulu. Nanti kau bantu gosok punggungku, ya."
.
.
.
Fang masih berbaring di kamar BoBoiBoy. Matanya menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
Rumah itu … pikirannya tertuju kepada mansion tak bertuan yang ia datangi tadi. Kenapa aku merasa pernah kesana? Tempat apa itu sebenarnya? Mengapa Cinderella seolah-olah ingin mendorongnya untuk mengingat masa lalunya? Apa yang telah terjadi setelah ia berdansa dengannya di ballroom istana?
Anak itu memijit pelipisnya. Kepalanya mendadak terasa pusing kembali.
"Fang, eh, maksudku, Selamat sore, Yang Mulia." Seseorang menyapa dengan sopan. Fang menoleh kearah Ochobot yang sedang melayang di dekat pintu masuk. Secangkir cokelat panas berada di antara kedua telapak tangan robotnya. "Aku bawakan ini untukmu."
"Oh, masuklah."
Si bola kuasa masuk kedalam dan menawarkan minuman itu kepada Fang.
"Hm, ini enak sekali." Komentar Fang setelah menghirup cokelatnya. "Terimakasih." Dan meletakkan kembali ke tangan si robot.
"Kenapa tidak dihabiskan?"
Fang menggeleng, tidak bersemangat. "Nanti saja. Tolong letakkan itu diatas meja."
Ochobot melakukan yang diperintahkan.
"Oh, ya, uhm, robot?" Panggil Fang. "Aku ingin membersihkan tubuhku. Bisa kau tunjukkan dimana kamar mandi disini? Badanku terasa sedikit lengket setelah jalan-jalan tadi."
"Oh, baiklah. Ikut aku."
Ochobot memimpin Fang keluar dari kamar dan menuju ke bagian belakang rumah. Setelah berbelok ke kiri mendekati dapur, robot itu berhenti. "Disana kamar mandinya." Ia menunjuk kesebuah pintu di ujung lorong.
"Terimakasih."
Fang melangkahkan kakinya menuju pintu yang dimaksud. Ketika membuka pintu kamar mandi, pemandangan yang ada didalam sana membuatnya kaget setengah mati.
"Ya Tuhan!" pekiknya.
BoBoiBoy dan Gopal, yang saat itu sedang membantu menggosok punggung satu sama lain dalam keadaan tanpa busana, ikut terkejut.
"Gopaaaal!" jerit BoBoiBoy. "Kenapa kau tidak mengunci pintunya tadi?!"
.
.
.
Ying, Yaya dan Tok Aba yang masih berada di kedai mendengar sebuah teriakan keras dari dalam rumah.
"Apa itu?" Tanya Yaya, menatap kearah Ying.
"Entahlah. Tapi itu mirip suara Fang."
Teriakan itu berhenti. Ketiga pasang mata itu mengawasi rumah yang terletak tak jauh dari tempat mereka berada.
Satu menit kemudian, Fang berlari keluar dari rumah dengan wajah merah karena marah. Dibelakangnya, BoBoiBoy dan Gopal berusaha mengejarnya dengan hanya berbalut handuk putih menutupi bagian bawah pinggang mereka. Tubuh mereka masih basah dan busa dari sampo yang melumuri rambut BoBoiBoy pun bahkan belum selesai dibilas.
"Oh, Ya Ampun." Ying dan Yaya membalik tubuh mereka dengan cepat. Dasar. Tidakkah mereka berpikir untuk mengenakan pakaian dulu sebelum keluar?
"BoBoiBoy!" panggil Tok Aba.
BoBoiBoy berhenti. "Atok!" ia membalas dan mengubah rute menuju kakeknya bersama Gopal dengan cepat.
"Apa? Apa yang terjadi?" Tok Aba bertanya.
"Atok," BoBoiBoy menjelaskan dengan nafas yang tersengal-sengal. "Tadi Fang melihat kami mandi sama-sama. Terus, dia tahu BoBoiBoy ini laki-laki."
"Lah? Kenapa bisa? Kau tidak kunci pintu?"
"Ini salah Gopal lah. Dia yang lupa kunci tadi."
Gopal terkekeh malu.
"Ah, sudahlah. Jangan menyalahkan orang lain. Sekarang kalian harus mengejar Fang. Cepat! Sebelum dia nanti menghilang."
"Iya, Tok. Kami tadi kan sedang mengejarnya."
"Yaya. Ying. Ayo, kalian juga ikut." Ajak Gopal.
Kedua gadis itu tidak bergeming. Gopal yang merasa heran langsung meraih tangan Ying. "Ayo cepat –"
"Kyaa …" sebuah tinjuan mendarat di pipi anak keturunan india itu. "Pakai dulu bajumu, dasar bodoh!"
~Princess Boy~
Fang, setengah berlari, mengitari lorong sempit yang ia lalui tadi bersama BoBoiBoy dan Gopal. Ia berbelok secara asal tanpa memperdulikan kemana arah tujuannya. Yang ia inginkan sekarang hanyalah menjauh dari mereka yang ia panggil Ayah dan Cinderella selama ini.
Ia berhenti ketika mencapai salah satu belokan. Punggungnya bersandar pada tembok pagar. Rasa terkejut, bingung dan marah masih menyelimutinya.
Cinderella … anak perempuan yang ia sukai ternyata seorang lelaki. Seorang lelaki?
Siapa sebenarnya dia?
Kenapa ia mandi bersama ayahnya.
Fang menggaruk-garuk kepalanya dengan frustasi.
Pasti ada sesuatu yang ia lewatkan. Ia tahu dirinya sedang mengalami hilang ingatan sebagian, semua memberitahunya hal seperti itu.
Bocah berambut ungu itu menjedotkan kepalanya ke tembok beberapa kali.
Ayo, ingatlah. Ingatlah … ingatlaaaah …
Percuma. Tak ada yang bisa didapat dengan cara itu selain rasa nyeri di kepala.
Anak itu menarik napas panjang.
Tenang … tenang …
Jika ia kembali ke rumah tua itu, mungkin sebagian memorinya akan kembali. Dan ia memutuskan untuk tinggal lebih lama disana walaupun dengan harus menahan rasa sakit dikepala sekalipun.
Bagaimanapun ia harus mencari tahu sendiri tentang siapa dirinya, apa yang telah terjadi dan siapa sebenarnya orang yang berada disekitarnya sejak kemarin.
Fang kembali melanjutkan langkahnya, mengingat jalan menuju mansion tua tadi.
Berjalan lurus … ke kiri … belok ke kanan … kemudian ke kiri lagi …
Kakinya berhenti tepat setelah sampai di tempat tujuannya. Ia berdiri di depan pintu pagar rumah itu lagi, memandanginya sekali lagi. Setalah meyakinkan diri, ia membuka pagar. Melangkah masuk melalui halaman depan, ia mempelajari keadaan sekitarnya. Pohon-pohon dan tanaman disana banyak yang sudah layu. Tapi ia tidak ingat apa yang menyebabkan para tumbuhan disana mati.
Mencapai pintu utama, ia memberanikan diri untuk melanjutkan perjalanannya.
Keadaan ruang utama tampak persis sama seperti tadi. Tidak ada yang berubah. Kecuali …
Matanya menangkap seseorang bergaun biru dan mengenakan tudung membelakanginya. Orang itu tidak punya kaki, badannya melayang dan wajahnya menghadap tembok.
Fang mundur selangkah. Sebulir keringat menetes di kening yang masih berbalut perban.
'Hantukah itu?'
Kretek
Kakinya tanpa sengaja menginjak potongan kayu. Si sosok misterius yang menyadari kehadirannya berbalik.
"Haaaiii …" terdengar sebuah suara bernada tinggi, namun terdengar ramah.
Fang menelan ludah. Sosok itu tampak aneh. Bentuk tubuhnya pun tidak natural, sama sekali tidak mirip dengan manusia. Gaun dan tudung biru menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya kecuali kepala pipih dengan wajah ungu yang berlipstick tebal. Sebuah tongkat peri mainan berada di tangan kanannya yang tertutupi oleh lengan gaun biru itu.
'Makhluk halus?' duga Fang. 'Bukan. Badut? Orang gila? Makhluk apa ini? Pikiran jahatnya mengatakan orang itu bahkan terlalu jelek untuk dikatakan mahkluk hidup.
"Kamu mungkin tidak kenal saya, tapi saya kenal kamu." Sosok itu berbicara ramah pada Fang.
"Katakan siapa kau?" nada suara Fang terdengar memerintah.
"Perkenalkan, Anak Muda. Saya adalah seorang ibu peri, dan tujuan saya ada disini adalah karena saya mendengar permohonan mu tadi."
"Permohonanku? Aku tidak meminta apapun."
"Kamu memang tidak mengatakannya, tapi saya tahu kamu menginginkannya." Si ibu peri gadungan itu mendekati Fang. "Kamu ingin mendapatkan ingatanmu kembali kan?"
"Hah? D-dari mana kau ta –"
"Shhh … saya tahu segalanya."
"Oh, ya?"
"Ya. Saya juga tahu kalau kamu baru saja melarikan diri dari pacarmu, kan?"
Kening Fang mengerut. "Pacar? Maksudmu Cinderella?" dan kemudian memasang wajah sebal. "Dia bukan kekasihku. Cinderella yang aku sukai itu perempuan, sedangkan orang yang kau maksud tadi adalah laki-laki." Tangannya terkepal, terkesan marah. "Aku rasa dia sudah bersengkongkol bersama Anastasia dan Drizella untuk menyembunyikan Cinderella yang asli."
"Uhm, Ya, saya juga tahu itu." Sosok aneh itu terdengar memaksa bahwa ia benar-benar tahu.
Fang menatapnya dengan curiga, mata menyipit. "Kau mengawasiku, ya?"
"Mengawasi? Oh, iyalah. Saya kan punya cermin ajaib dirumah. Eh, tapi yang penting saya bisa membantumu dengan kekuatan sihir yang ibu peri miliki untuk mendapatkan ingatanmu kembali." Ia mengatakannya sambil menunjukkan tongkat sihir mainannya.
"Caranya?"
Si ibu peri palsu berdehem sebentar sebelum mengayunkan tongkatnya. "Simsalabim ..." Sementara tangan kanannya sibuk dengan tongkat, tangan kirinya meraih sebuah botol kecil yang tersembunyi dibalik gaunnya. "adakadabrah!" dan menunjukkannya kepada Fang. "Tada!"
"Ini …"
"Ini adalah ramuan ajaib hasil racikan ibu peri sendiri. Setelah kamu meminum ini, maka penyakit hilang ingatanmu akan segera sembuh, dan kamu bisa menemukan keberadaan dari cinta sejatimu. Minumlah sekarang, Anak Muda."
Fang mengamati botol hadapannya. "Baiklah," katanya kemudian. Tanpa ragu, anak itu membuka tutupnya dan langsung menghabiskan semua isinya tanpa sisa. "Rasanya aneh. Terbuat dari apa ini – humph!" Rasa mual di perut tiba-tiba menyerangnya. Botol ramuan itu terlepas dari genggaman. "Apa … apa yang terjadi denganku?"
"Haha …" si peri tertawa, dengan menggunakana suara aslinya kali ini. "Itu adalah efek dari cairan emosi Z ciptaan Incik Adu Du. Dengan 3 rasa berbeda dalam satu kemasa botol," ia menjelaskan layaknya seorang seller yang sedang promosi dagangan. "Sekali mencoba, dijamin anda akan memiliki rasa benci hingga menyerang semua yang ada disekitar anda."
Fang tidak lagi merasaka sensasi mual. Kepalanya yang terasa nyeri pun tidak sakit lagi. Sebagai gantinya, sebuah perasaan aneh mulai merasuki pikirannya. Perasaan yang bahkan tidak mampu dikontrolnya.
"Kau!" ia menunjuk si peri gadungan dengan marah dan suara yang menyeramkan, matanya telah berubah menjadi merah. "Beraninya kau menipuku!"
"Oh, aku harus lari sekarang. Bye, bye." Probe meninggalkan penyamarannya dan kabur meninggalkan tempat.
"Jangan lari kau!" Fang mengejarnya dengan cepat, mendahului Probe dan mengunci pintu depan. "Mau kabur kemana sekarang?!"
"Alamak!" Probe mundur. Anak yang berada dihadapannya ini benar-benar terlihat menakutkan. Seharusnya ia langsung kabur begitu Fang meminum cairan tadi.
"Aku tak akan memaafkanmu!" Fang memungut sebuah balok kayu dan melemparnya ke robot tempur.
Probe mengelak. Ia terbang ke lantai atas. Tapi Fang masih mengejarnya di belakang.
"Kau takkan bisa lari!" teriaknya. "Dimana kau?! Keluar!"
Probe bersembunyi dibalik meja, menggigil ketakutan. Kepalanya yang gemetar tanpa sengaja menjatuhkan sebuah vas bunga dengan menghasilkan suara pecahan yang bergema.
"Disana!"
"Ahhhh …" Probe keluar dari persembunyian. Tapi, kemanapun ia berlari, Fang tetap tidak berhenti untuk mengejarnya.
"Menyerahlah kau."
Si robot tempur menemui jalan buntu. Tak ada lagi tempat untuk lari.
"Pergi atau aku tembak kau!" Probe mengancam dengan mengeluarkan senjatanya. Fang masih tetap memburunya. Merasa tak ada pilihan lain, robot itu melepaskan tembakan. Tiga peluru berbentuk roket dilepaskan. Namun dengan lihainya, Fang bersalto menghindari tembakan-tembakan itu. "Ya, ampun. Pengaruh ramuannya terlalu kuat!"
"Kau. Tidak. Bisa. Kabur. Lagi." Kedua lengan Fang menyambar Probe, memutarinya di udara hingga robot yang memiliki perasaan manusia itu pusing dan membantingnya dengan keras ke lantai. "Hancurlah kau!"
Pintu depan di lantai bawah didobrak terbuka, diiringi dengan goncangan tanah disekitar rumah. BoBoiBoy, dengan wujud Gempa, masuk kedalam bersama ketiga temannya yang lain.
"Fang! Berhenti!"
Jeda sebentar. Fang melepaskan Probe yang sudah mulai agak penyok dan melihat kelantai bawah dengan mata merahnya.
"Hah? Fang, kenapa kau?!"
"Kau!" Fang sekarang menunjuk BoBoiBoy yang berada di lantai bawah. Layaknya seorang ninja, ia meloncati pembatas di lantai dua dan mendarat di depan teman-temannya. "Kau bukan Cinderella. Kau sudah menipuku. Dan orang yang berani menipu seorang pangeran harus dihancurkan."
BoBoiBoy memasang kuda-kuda. "Kenapa dengan kau?!"
"Dia sudah terkena pengaruh cairan emosi Z." Probe yang menjawab dari lantai 2 sambil terisak-isak. "Cepat kau bantu aku keluar dari sini, BoBoiBoy. Huhuhu …"
Gopal melangkah kedepan. "Tenang. Tenang, Anakku. Dengarkan perkataan dari Ayah –"
"Minggir!" Fang memberikan tendangan loncatan kepada si anak berkulit gelap sehingga Gopal terlempar hingga beberapa meter. Beruntung lemak tebal di tubuhnya melindungi tulangnya sehingga tidak patah. "Aku tidak peduli siapa kalian. Orang yang sudah menipuku harus dimusnahkan!"
"Tenang, tenang. Sabar." Sekarang Yaya yang memberanikan diri untuk maju. "Kami bukan musuh."
"Diam!" Fang bersiap melayangkan sebuah tinjuan. Si gadis berhijab mengernyit.
"Yaya!" Ying menjerit.
"Tanah pelindung!" BoBoiBoy berseru. Sebuah tembok dari tanah melindungi Yaya dari tinjuan itu.
Fang menjadi semakin marah. Berikutnya, ia berbalik menyerang BoBoiBoy.
"Kurang ajar! Berani kau menghalangiku!" anak itu mengambil balok kayu yang lain dan mematahkannya hanya dengan menggunakan lutut. Salah satu patahan berujung runcing diarahkannya pada si pengendali tanah. "Sepertinya aku harus menghabisimu terlebih dahulu."
BoBoiBoy membeku ditempatnya. Ia sama sekali tidak ingin menyerang Fang.
"Tumbukan padu!" tanpa peringatan, Yaya langsung terbang sambil mengarahkan tinjuannya.
BoBoiBoy terbelalak. "Jangan, Yaya! Tanah pencengkam!"
"Aduh!" Yaya merintih ketika tanah yang muncul secara tiba-tiba menghimpit tubuhnya.
"Kalian!" seru Fang. "Sudah kuduga. Kalian semua adalah penyihir!"
.
.
.
TBC
Author's Note : Nah loh. Kok jadi ada adegan petarungan gini sih? Iya dong, kan sudah mencapai klimaks. Dan fic BoBoiBoy bakalan lebih seru kalau ada adegan berantemnya (ini menurutku lho).
Hm, sebenarnya aku sempat mikir kalau lebih baik Probe mencampurkan cairan emosi Z itu ke minuman Fang secara diam-diam, tapi kalau kayak gitu rasanya kurang seru sih, jadinya aku buat aja dia menyamar jadi orangtua peri.
Harapanku sih, chapter depan akan menjadi yang terakhir. Tapi itu kalau nggak kepajangan ya, soalnya kalau kepanjangan, terpaksa aku bagi jadi 2 (tapi mudah-mudahan nggak).
