VAMPIRE-HUMAN KAISOO VER
Cast: Do Kyungsoo, Kim Jongin
Other cast: Banyak, seperi bintang yang bertaburan di langit #plakk
Rated: masih T kok ~~~
YAOI, OOC, TYPO, BENER BENER GAJE, KATA-KATA BELEPOTAN, GAK TAU HARUS NGOMONG APA LAGI
Di baca ya, abis itu reviewnya jangan lupa *kiss*
THE STORY STARTS
.
.
.
NOW
Siang itu salju turun membuat jalan-jalan ditutupi gumpalan putih. Sang mentari pun tampak bersembunyi dibalik putihnya awan, membuat suhu di kota Seoul semakin rendah. Para pejalan kaki tampak membungkus tubuhnya dengan jaket tebal, sarung tangan, topi, dan sepatu boot demi memperhangat tubuh mereka. Uap-uap udara muncul saat mereka membuka mulut untuk mengucapkan beberapa patah kata.
"Mianhae, Kai. Aku mengajakmu jalan-jalan di saat udara sedang dingin dinginnya."
Dua orang namja sedang berjalan berdampingan menyusuri jalan di pusat kota Seoul. Namja yang dipanggil Kai itu hanya tersenyum kepada namja di sebelahnya sementara ia sibuk menggosok-gosokan tangannya guna mencari kehangatan.
"Kyungie, apa kau tidak dingin hanya memakai jaket dan kaus seperti itu?" Kai menatap aneh Kyungsoo yang hanya memakai kaus lengan panjang yang dipadukan dengan jaket varsity hitam saat udara benar-benar dingin seperti ini. Sementara ia saja yang sudah memakai sweater dan jaket tebal pun masih merasa kedinginan. Yang ditanya malah menggeleng. "Aku sudah terbiasa. Aku sangat menikmati udara dingin seperti ini."
Ya pantaslah kau terbiasa, Kyungsoo. Seorang vampire sepertimu memang tak akan merasa dingin kan? Kulitmu saja sudah dingin. Mau kau tak memakai baju sementara salju turun dengan derasnya pun kau tak akan sakit. Dirimu memang dilahirkan untuk menjadi dingin.
"Kau tidak takut sakit?"
"Sudah kubilang kan, aku sudah terbiasa."
"Kau mau memakai jaketku?"
"Tidak usah, Kai."
Mereka pun kembali berjalan dalam diam. Sebenarnya di dalam hati Kai, ia sangat khawatir. Walaupun Kyungsoo bilang sudah terbiasa memakai pakaian setipis itu di udara dingin, tetap saja ia takut kalau Kyungsoo-nya itu sakit. Hey Kai! Dia bukan Kyungsoo-mu! Kalian saja belum jadian.
Tiba-tiba saja Kyungsoo yang sedang mengamati pakaian-pakaian yang dipajang di sebuah etalase toko merasakan pundaknya diselimuti oleh sebuah jaket tebal. Wangi parfum yang sudah ia kenal mulai ditangkap oleh indra penciumannya. Ia menoleh dan mendapati Kai yang sedang membenarkan letak jaketnya agar pas di pundak Kyungsoo.
"Nah, kau tak akan kedinginan lagi sekarang."
Kyungsoo menatap Kai yang tengah tersenyum kepadanya. Walaupun wajahnya dihiasi senyuman yang membuat wajah itu semakin tampan, Kyungsoo tahu bahwa tubuh Kai mulai bergetar menahan dingin. Wajar saja, Kai kan hanya seorang manusia normal. Jika memakai jaket tebal saja ia masih merasa kedinginan, apalagi sekarang? Lalu Ttangan putih pucat Kyungsoo terangkat untuk melepaskan jaket tebal Kai dari pundaknya. Namun saat jaket tersebut belum benar-benar terlepas, tangan Kai sudah menahannya duluan.
"Kau lepas, akan kupukul kau."
Kyungsoo mengangkat sudut bibirnya. "Pukul saja kalau bisa."
Kai terkejut mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut namja manis di depannya ini. Tubuhnya kecil, tapi bernyali juga, pikir Kai dalam hati. Setelah Kyungsoo melepaskan jaket Kai dari pundaknya, ia balik menyelimuti jaket tebal itu ke pundak Kai. Ia sedikit berjinjit untuk mencapai pundak Kai karena tubuhnya yang lebih pendek daripada namja tampan di depannya itu.
"Nah, sekarang kau mau memukulku? Pukul saja." Kyungsoo menatap Kai dengan wajah datarnya. Dalam hati ia tertawa saat melihat Kai yang sudah mempoutkan bibirnya kesal.
"Wajahmu nanti enggak manis lagi kalau kupukul."
Kai pun langsung jalan meninggalkan Kyungsoo yang wajahnya sudah mulai memerah. Aish, kau ini vampir. Masa digombalin kayak gitu aja blushing sih! Kyungsoo malah merutuki dirinya. Kai yang merasa tak diikuti Kyungsoo pun menoleh. Ia tersenyum saat melihat wajah Kyungsoo yang memerah. Tuh kan, walaupun bernyali, wajahmu itu selalu memerah saat ku goda, Kyungie.
"Kau sedang apa, Kyungie? Ayo cepetan aku lapar nih."
Kyungsoo pun gelagapan dan langsung berjalan menghampiri Kai yang sudah jauh di depannya. Saat Kyungsoo sudah sampai di sebelah Kai, namja berkulit tan itu langsung mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan pucat sang vampir. Kai langsung menarik tangan mungil pucat itu menuju sebuah restoran Jepang yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
00000000000000
Hai, bodoh. Sedang kencan rupanya.
Kyungsoo yang sedang melihat-lihat buku menu hanya bisa menggeram saat mendengar suara Chanyeol di kepalanya.
Pergi, Park Chanyeol. Jangan ganggu aku.
Ah, kau ngapain sih repot repot membuka buku tak berguna itu? Bukannya namja di depanmu itu adalah makananmu? Lihatlah leher itu. Kau bisa merasakan denyut nadinya, bukan? Bayangkan darah segar….
BRAKK!
Kai yang juga sedang melihat buku menu langsung mengangkat wajahnya saat mendengar suara benda dibanting. Kini mata cokelatnya menatap Kyungsoo dengan bingung. Kyungsoo sendiri sedang menahan deru nafasnya yang sedang menggila.
"Waeyeo, Kyungie?"
Wow, sejak kapan seorang vampir memiliki panggilan imut seperti itu? Eww…
"Ti-tidak apa-apa. Aku hanya bingung ingin memesan makanan apa. Terlalu banyak makanan di sini."
"Hmm, bagaimana kalau aku saja yang memesankan makanan untukmu?"
Kyungsoo pun hanya mengangguk pasrah sementara dirinya harus menahan amarahnya saat Chanyeol tertawa di dalam pikirannya.
Awas kau, Park Chanyeol. Akan kubalas suatu saat.
Chanyeol malah tertawa semakin keras.
Aku tidak sepertimu. Aku tak akan mudah jatuh dalam pesona seorang manusia,
"Jadi, Anda memesan 2 mangkuk ramen, 1 porsi sushi, dan 1 porsi gyoza."
"Ah, maaf. Apa semua makanan itu menggunakan bawang putih?"
Kedua manusia di depan Kyungsoo, Kai dan si pelayan, kini menatap Kyungsoo dengan bingung.
"Ah, tentu saja. Gyoza kami menggunakan bawang putih. Begitu juga dengan ramen. Untuk menambah cita rasa masakan kami."
Kyungsoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh ia baru ingat sekarang. Resiko memakan makanan manusia adalah mereka pasti menggunakan bawang putih dalam masakan mereka. Seperti yang kita tahu, vampir sangat anti kepada yang namanya bawang putih.
"Maaf, bo-bolehkah ramenku tidak diberi bawang putih?"
"Tapi Tuan, rasanya tak akan seenak…"
"Tidak apa apa. Asalkan tidak memakai bawang putih, tidak apa apa."
Sang pelayan pun mengangguk lalu ia terlihat mencatat sesuatu di notesnya. "Baiklah, 1 ramen tanpa bawang putih. Ada lagi pesanannya?"
Kyungsoo pun menggeleng. Si pelayan lalu membungkuk dan mulai berjalan menuju dapur. Sepeninggal si pelayan, Kai langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Kyungsoo.
"Kau tidak suka bawang putih, Kyungie?"
Dengan ragu Kyungsoo mengangguk. Ia pikir Kai sudah puas hanya dengan anggukannya. Namun ternyata namja tampan itu kembali bertanya.
"Kenapa? Aku baru tahu kalau ada orang yang tidak suka bawang putih."
JLEB.
Kyungsoo tidak tahu harus menjawab apa. Masa ia harus bilang kalau bawang putih bisa membunuhnya? Akan sangat tidak masuk akal bagi Kai. Sementara Kyungsoo sibuk mencari alasan, ia kembali mendengar tawa khas dari seorang Park Chanyeol.
Bodoh, otak pintarmu ke mana sih? Bilang saja kalau kau alergi. Dasar bodoh.
Kyungsoo mendengus kesal mendengar hinaan Chanyeol. Kenapa sih hidup Chanyeol harus diisi dengan menghina vampir lain?
"Aku alergi. Kalau aku makan bawang putih, nanti tubuhku akan muncul bintik merah. Rasanya gatal sekali."
Kai mengangguk-angguk ngerti. Lalu ia tertawa. "Kau seperti vampir aja, Kyung. Kalau kau hanya alergi, kalau vampir malah akan mati."
Ya, kau Kim Jongin! Kau hanya tidak tahu kenyataan saja bahwa namja manis yang sudah mencuri perhatianmu itu adalah seorang vampir. Kyungsoo pun ikut tertawa, berusaha menghilangkan rasa tegangnya saat Kai bilang bahwa dirinya seperti vampir. Well memang kenyataannya dia seorang vampir, bukan?
00000000000000000
Jam sudah menunjukan pukul setengah 9 malam. Namun Kai dan Kyungsoo masih betah untuk menikmati udara Seoul yang dingin. Saat menuruni bus tadi, Kai langsung melingkarkan tangannya di pundak Kyungsoo, berusaha menyalurkan kehangatan kepada namja yang lebih pendek darinya itu. Kyungsoo hanya bisa diam sementara wajahnya sudah memerah. Rasa hangat juga mulai mengalir dalam dirinya. Padahal sebagai seorang vampir, Kyungsoo tak pernah merasakan perasaan hangat seperti ini.
"Kau tinggal sendiri?" Tanya Kai saat mereka menyusuri jalan menuju apartement Kyungsoo. Yang ditanya hanya mengangguk. "Orangtuamu di mana?"
"Hmm, mereka sudah lama meninggal." Jawaban yang sama jika Kyungsoo ditanya tentang orang tuanya.
"Oh, maaf."
Mereka pun kembali berjalan dalam diam. Sementara itu, gedung apartement Kyungsoo sudah mulai terlihat. Kai langsung melepaskan pelukannya dari pundak Kyungsoo lalu beralih menarik tangan mungil namja manis itu.
"Ayo, sudah semakin dingin."
Tak sampai 5 menit kemudian, mereka sudah sampai di lobby apartement Kyungsoo. Kai mengikuti Kyungsoo sampai di depan pintu kamar sang vampir.
"Kau mau masuk, Kai?"
Kai menggeleng. Sesaat mata keduanya saling berpandangan. Kyungsoo membatin betapa indahnya mata cokelat yang sedang ia tatap itu. Kai pun juga memuji dalam hati mata Kyungsoo yang besar itu. Lucu sekali, cocok dengan wajahnya yang manis
Tangan Kai pun terulur untuk menyentuh rambut hitam Kyungsoo. Tangannya mulai mengelus surai hitam yang terasa lembut di telapak tangannya yang kasar. Kai pun menggerakkan tangannya ke bawah, menangkup pipi dingin Kyungsoo yang chubby. Sekarang pipi itu sudah dihiasi oleh semburat merah yang menambah kesan manis pada wajah Kyungsoo.
Dengan pelan namun pasti (?), Kai sedikit menunduk untuk mencium bibir penuh Kyungsoo. Dingin. Itulah yang Kai rasakan saat bibir eksotisnya (?) bertemu dengan bibir penuh Kyungsoo. Namja berkulit tan itu mulai menutup matanya, begitu pula dengan sang vampir. Mereka tidak peduli jika ada tetangga Kyungsoo yang melihat. Yang penting, mereka bisa merasakan kehangatan yang diberikan oleh ciuman ini.
Kai mulai menaikan intensitas ciumannya membuat Kyungsoo langsung melingkarkan tangannya di leher Kai, menarik tubuhnya mendekat pada tubuh atletis di depannya itu. Tangan Kai juga sudah anteng melingkar di pinggang ramping Kyungsoo. Bibir mereka sudah saling melumat membuat keduanya semakin bernafsu untuk memperdalam ciuman mereka. Sang vampir kembali merasakan perasaan hangat saat kedua tangan Kai menariknya semakin dekat.
Turun Kyungsoo, turun. Hadapi leher jenjangnya itu.
Tanpa sang vampir sadari, ia menarik paksa bibirnya dari bibir Kai dan mulai menelusuri wajah Kai hingga sampai di leher namja tampan itu. Bibirnya yang terlihat semakin besar mulai mengecup leher Kai dengan pelan. Kai hanya bisa menutup matanya, merasakan bibir dingin Kyungsoo menyapu permukaan lehernya.
"Aahh… Kyunghh…"
Cari nadinya, Kyungsoo. Keluarkan taringmu.
Kyungsoo semakin ganas menelusuri permukaan leher jenjang Kai. Sesekali ia menghirup aroma darah yang menguar dari leher Kai. Ia sudah kehilangan akalnya. Ia hanya mengikuti suara Chanyeol dalam pikirannya.
"Kyungghhh… aphaahh yang kauhhh…"
Kai merasa geli saat nafas Kyungsoo yang memburu juga menyapu permukaan lehernya. Sementara Kyungsoo masih sibuk menelusuri lehernya, mencari pembuluh nadi di leher itu. Hingga akhirnya sang vampir menemukan apa yang ia cari. Perlahan kedua taring tajamnya mulai muncul, siap untuk menembus leher itu.
"Kyuuungghhh…"
Tiba-tiba saja Kyungsoo yang sudah siap untuk menghisap darah Kai langsung membuka kedua matanya. Oh, ternyata kedua mata sang vampir sudah berubah menjadi merah. Sadar apa yang akan ia lakukan, ia langsung mendorong tubuh Kai dengan kekuatan vampirnya dan
BUGH
Tubuh Kai langsung terhempas dan punggungnya langsung mencium tembok di belakangnya. Kai langsung meringis kesakitan sementara Kyungsoo masih membelalakan matanya membuat kedua mata besarnya itu semakin terlihat besar. Dadanya naik turun, berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Kedua mata mereka kembali bertemu, namun saling melempar pandangan shock.
"Kyung…"
"Ma-maaf Kai. Pulanglah. Selamat malam."
Kyungsoo langsung membuka pintu apartementnnya dan membantingnya tertutup. Kai pun hanya bisa meringis menahan sakit di punggungnya sambil menatap nanar pintu kamar Kyungsoo yang sudah tertutup.
Cih, habis ciuman, malah sakit yang kudapat
Eh, tadi itu Cuma perasaanku saja atau emang mata Kyungsoo berubah jadi merah? Perasaan matanya berwarna cokelat deh.
Ah, Cuma perasaan kali ya. Kai, matamu siwer mungkin habis berciuman dengan Kyungsoo.
Tangan Kai pun terangkat menyentuh bibir tebalnya. Bibir itu terlihat sedikit membesar setelah bibir Kyungsoo melumat bibirnya itu. Kai pun menaikan sudut bibirnya, membentuk smirk yang mampu meluluhkan yeoja manapun. Sambil menahan sakit di punggungnya, Kai pun bangkit lalu mendekati pintu kamar Kyungsoo.
TOK TOK TOK
"Selamat malam juga. Have a nice dream, Baby Soo. I love you."
000000000000000000
KAI POV
"Kai, simpan dulu PSP mu. Sooman mau memberikan briefing."
Ku tulikan pendengaranku untuk sesaat.
"Ya Kai! Kau dengar gak sih apa yang kukatakan?"
Aku hanya diam dan masih sibuk dengan game di depanku.
"Kai, ayo briefing."
Mendengar suara indah itu, aku langsung menekan tombol pause lalu bangkit dari sofa yang kududuki.
"Okay, baby Soo." Kataku sambil tersenyum lebar ke arah Kyungsoo yang berdiri di sebelah Kris. Sementara itu si naga jelek mencibirku lalu pergi menghampiri si Kungfu Panda.
"Wajahmu semakin manis deh saat blushing seperti itu."
BUGH!
Sialan. Gombalanku malah dihadiahi satu pukulan manis di lengan kiriku. Nih si Kyungsoo badan doang yang kecil tapi tenaga gede juga ya.
"Tenagamu kayak kuli ya."
BUGH!
Oke cukup! Aku akan diam sekarang daripada harus mendapat 1 pukulan lagi. Hiks, baby Soo jahat banget sih sama gue T_T
Aku dan Kyungsoo pun mengambil tempat duduk di sebelah pasangan Taoris. Sementara itu si tua Sooman *laknat lu Kai sama orang tua* sudah berdiri di depan semua cast dan kru.
"Jadi begini. Maksud saya untuk mengadakan briefing seperti ini…"
Aku kembali mengeluarkan PSP dari kantung celanaku. Aku sudah siap memencet tombol pause untuk melanjutkan gameku yang tertunda tapi tangan indah namun pucat milik Kyungsoo langsung menyambar PSPku.
"Kyungie…"
Dia langsung menatapku tajam. Aku pun hanya mendengus lalu kembali mengalihkan perhatianku kepada Sooman yang masih sibuk ngomong. Daripada dapet 1 bogem lagi, mending diem deh.
""Seperti yang kita tahu, proyek kita sudah mulai masuk ke tahap konflik di mana konfliknya itu mengambil setting di hutan. Cukup susah memang untuk mencari hutan di Seoul atau disekitarnya. Tapi seseorang sudah berbaik hati kepada kita untuk mencarikan hutan yang cocok untuk dijadikan tempat syuting. Dia juga bersedia meminjamkan hmm, vilanya mungkin untuk menjadi tempat menginap kita selama di sana..."
"Kyungie, kembalikan PSPku."
"Tidak, Kai. Hormati orang yang sedang berbicara di depanmu."
Aku mempoutkan bibirku. Ku alihkan pandanganku ke arah pasangan Taoris yang ternyata juga tak memperhatikan penjelasan Sooman. Mataku menangkap si panda Tao sedang melakukan aegyo kepada Kris.
"Gege, bbuing bbuing, nanti belikan Tao tas gucci yang baru keluar, ne? Tas Tao sudah pada rusak." Cih si naga itu langsung luluh lalu tersenyum saat melihat aegyo Tao. Lalu aegyo Tao memberiku sebuah ide.
"Kyungie Kyungie..."
"Apa?"
"Bbuing bbuing, kembalikan PSPku, ne?"
PLETAK!
"Diam atau kubanting PSP ini di depan wajahmu."
Hueeee Kyungie jahat banget. Bukannya dapet PSP, gue malah dapet geplakan gratis. Mana digeplak pake PSP dan tenaga kyungsoo itu enggak kecil.
"Kyungie jahat banget sih. Kalo aku amnesia giman..."
Aku langsung nyengir saat melihat kyungsoo sudah memelototiku dengan matanya yang besar itu. Serasa dipelototin hantu pucat tau gak sih. Udah matanya gede, kulit putih banget. Duh, manis manis galak juga ya. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah Sooman yang sedang menunjukan foto dari hutan yang akan menjadi tempat syuting kami selanjutnya.
Oke, hutannya emang cocok untuk menjadi tempat syuting kami. Kesannya seperti hutan-hutan yang ada di film Twilight. Ditumbuhi pohon-pohon tinggi yang rapat dan gelap. Bahkan di daerah situ pun cukup susah mendapatkan sinar matahari. Tapi aku bingung, kok jarang mendapat sinar matahari tapi pohon-pohonnya bisa berdaun lebat ya? Bukannya berarti mereka tidak bisa melakukan fotosintesis?
"Sekedar informasi, ini adalah tempat kita menginap nanti."
Wow, keren banget. Ini sih bukan villa namanya. Istana. Besar sekali. Eh tapi kalo buat istana juga kebesaran. Apa ya? Villa yag kegedean mungkin (?). Gaya arsitekturnya emang kuno sih, tapi keren aja gitu keliatannya. Terlihat tua namun kokoh. Sepertinya di daerah situ hanya ada bangunan itu. Mana ada orang gila lain yang mau membuat villa di daerah seram seperti itu kecuali kenalan si Sooman?
"Kyungie, hutannya seram ya. Tapi cocok untuk menjadi tempat tinggal vam..."
Aku menoleh dan mendapati kursi di sebelahku telah kosong. PSP ku tergeletak manis di atas kursi yang tadi di duduki Kyungsoo. Ke mana namja itu? Sejak kapan dia pergi? Kok aku tidak merasakannya ya? Aku mencari-cari keberadaan Kyungsoo. Kupikir ia pindah tempat duduk, tapi aku tak mendapatinya di sekeliling ruangan. Ah sudahlah, mungkin dia ke toilet. Aku pun beralih ke arah PSPku lalu nyengir. Kucium PSP itu dengan sayang.
"Ne, kau sudah kembali kepelukan appa. Sekarang, ayo kita mulai lagi."
.
KAI POV END
00000000000000000000
KYUNGSOO POV
BRAKK!
"CHANYEOL! KELUAR KAU!"
"Ya Hyung kau membuatku tersedak!"
Aku menghiraukan protesan Sehun yang sedang minum 'teh'. Ya teh. Teh darah.
"Chanyeol hyung sedang di kamar."
"Ada apa Kyungsoo? Kau tahu kan aku tidak tuli? Tidak perlu berteriak seperti itu."
Aku menoleh dan mendapati vampir tertinggi itu sudah berada di ujung tangga. Seperti biasa, wajah datar yang angkuh itu serta pakaiannya yang menunjukan kalau ia yang paling berkuasa di istana ini. Cih, persetanan dengan Chanyeol dan segala keangkuhannya.
Aku langsung berlari menerjang saudara sesama vampirku itu. Namun Chanyeol memanglah vampir yang terkuat diantara vampir-vampir yang tinggal di sini. Sebelum aku sampai menerjangnya, dia sudah menggeser tubuhnya ke kanan membuatku jatuh tersungkur di tangga. Aku menggeram kesal sementara Chanyeol tertawa melihatku.
"Ada apa, hm? Ada sesuatu yang yang membuatmu menerjang diriku, Kyungie?"
Aku kembali menggeram marah. Aku langsung berdiri dan berbalik menghadap Chanyeol yang masih setia memasang wajah angkuhnya itu.
"Kau sengaja memberitahu tempat ini kan? Kau sengaja agar para manusia itu datang dan kau bisa berpesta merasakan pabrik darah segar-mu kan?"
"Hey hey hey. Aku tak mengerti apa yang kau katakan."
"Jangan pura-pura tidak tahu! Aku tahu ini semua rencanamu, Park Chanyeol."
Chanyeol kembali menyuarakan tawanya. "Aku hanya ingin membantu kok. Apa salahnya jika aku ingin membantu proyek saudaraku sendiri? Aku memudahkan pekerjaan kalian, kan?"
"Bohong! Si tua itu sudah memilih hutan lain di di selatan Korea. Tapi kau datang dan menawarkan hutan ini untuk dijadikan tempat syuting. Tapi Sooman menolak tawaranmu dan akhirnya kau pun mempengaruhi pikirannya. Kau menanamkan pemikiran bahwa kau yang membantunya untuk mencari lokasi yang cocok dan kau juga menawarkan istana ini…."
Aku menunjuk lantai istana kegelapan Chanyeol dengan tatapan marah. "… untuk dijadikan tempat penginapan?"
Dadaku mulai naik turun setelah menyelesaikan kalimatku. Lelah sekali kalau harus melakukan 2 hal dalam waktu yang bersamaan. Ya, aku berbicara sambil membaca pikiran Chanyeol, mencari kebenaran yang sebenarnya. Aku tahu Chanyeol tak akan mau mengakui apa yang sudah ia lakukan kepada Sooman. Makanya sejak tadi aku selalu menatap mata biru si brengsek itu.
Sedangkan si vampir tinggi itu menarik sudut bibirnya, kembali menyunggingkan senyum angkuhnya seperti biasa. "Wow, kupikir setelah menjadi 'manusia' kau melupakan kekuatanmu untuk membaca pikiran." Chanyeol pun berbalik memunggungiku yang masih terengah-engah. Namja itu berjalan menuju singgasana kebesarannya.
"Ya, yang kau katakana tadi memang benar. Aku mempengaruhi pikiran si tua itu untuk memilih tempat ini. Ada masalah?"
Aku kembali menggeram marah dan berjalan menghampiri Chanyeol yang sudah duduk di singgasananya.
"Tentu saja itu masalah! Kau sama saja membawa teman-temanku ke dalam bahaya, bodoh."
DUAGH
Sial. Dia menggunakan kekuatan jarak jauhnya untuk memukulku.
"Damn you! Berani-beraninya kau mengataiku bodoh?"
Aku menunduk memegangi dadaku yang terasa sakit. Si bodoh itu memberikan pukulan telak pada ulu hatiku.
"Kau lebih peduli kepada siapa hah? Teman-teman manusiamu atau saudara-saudaramu yang kelaparan?"
"Setidaknya jangan para kru film ini."
"Kenapa? Kau takut jika salah satu dari kami menghisap darah kekasihmu sampai mati?"
Aku membulatkan mataku tak percaya. "Kai bukan kekasihku!"
"Bukan? Tapi kau mencintainya, kan? Kau takut kehilangan Kai sebelum kau sempat menyatakan perasaanmu."
"Aku tidak mencintainya."
"BOHONG! Lalu mengapa wajahmu selalu memerah saat digodanya, hm?"
"I-itu…"
Sialan! Chanyeol sialan!
"Apa? Seorang vampir jatuh cinta kepada manusia? Cih, kau memang vampir rendahan, Kyungsoo."
BRAKK!
Kali ini aku berhasil menerjang tubuh tinggi itu. Ku layangkan sebuah tinju ke muka angkuhnya.
"Lalu, siapa itu Baekhyun?"
Vampir di depanku ini langsung membulatkan matanya. Dia memandangiku dengan shock. Sesaat mata kami berdua saling bertemu. Namun aku langsung memutuskan kontak mata kami. Aku tahu dia berusaha untuk mempengaruhi pikiranku untuk melupakan nama orang yang sempat aku sebutkan tadi.
"Bukan siapa-siapa. Aku tak akan mungkin menyukai manusia sepertinya. Tak sepertimu, Do Kyungsoo."
.
KYUNGSOO POV END
.
TBC
Akhirnya chapter 4 updateee! *minum teh darah bareng Sehun*
Duh kok saya ngerasa chap ini kata-katanya sedikit berantakan ya? Agak sedikit kurang greget. Maaf nih ciumannya agak maksud hehehe. Maaf kalau ceritanya makin berantakan dan gaje. Maaf juga kalo alurnya kecepetan hehehe. Pokoknya beribu-ribu maaf deh atas segala kekurangan di chap ini.
Hayo hayo siapa yang penasaran sama Chanyeol yang bisa kenal sama Baekhyun? Kekeke, jawabannya ada di chapter selanjutnya. Jangan pada kepo kayak Kai ya wkwkwkwk *digampar Kai pake bibirnya* XD
Sekarang saya bales review dulu ah~~~
12Wolf: Baca chap selanjutnya ya. Di situ pertanyaan chingu bakal terjawab kekeke :D Makasih reviewnya
KaiSoo Fujoshi SNH: Chanyeol menyeramkan tapi masih ganteng kok :D Haha, karma mungkin berlaku buat Chanyeol huhahahahaha. Makasih reviewnya
Gita Safira: Eh, gitu ya? Wah, maaf nih saya enggak tahu menahu banget tentang vampir hehehe *bow*. But thanks info dan koreksinya :D Maaf kalo bikin bingung. Makasih reviewnya
DianaSangadji: Gimana nih moment Kaisoo nya? Masih kurang banyak kah? Ciumannya kurang greget kah? Hehehe, chap2 selanjutnya saya coba lebih banyak buat moment kaisoo nya deh. Makasih reviewnya
ermagyu: Haha, gak papa kok. Manusia punya selera (?). emang sih seme lebih pantes jadi vampir, tapi saya sebenarnya punya scene yang sudah pikirkan matang matang (?) dan scene itu lebih cocok kalo kyungsoo yang jadi vampire hehehe *hayolo jangan kepo*. Oh ya, Saya juga kepikiran buat versi Chanbaeknya nih. Makasih reviewnya
lee kaisoo: Kaisoo forever ya hahaha. Apapun jenisnya (?) kaisoo harus tetap bersatu *lu kata teh botol so*sro thor* . makasih reviewnya
Brigitta Bukan Brigittiw: Sekali kali Kai emang harus dibully #semangatkai #authorcintakai #seribucintauntukjongin . Hayooo, Kyungsoo tau loh kalo Chanyeol kenal Baekhyun. Sudah bisa mencium-cium aura Baekyeol, kah? hehehe, makasih reviewnya.
AYUnhomin: Yaps, jadi ceritanya Kyungsoo sama Kai itu lawan main di sebuah film garapan sutrada dara professional Lee Sooman. Disitulah kisah mereka dimulai (?) maaf kalo bingung hehehe. Makasih reviewnya
Akhir kata
.
.
REVIEWNYA JANGAN LUPA YAAA :*****
PS: As usual, jangan lupa baca My Life, My Love Story ya :D
