Seorang pemuda manis itu menutup laptopnya setelah melihat jam tangan yang ada di tangan kirinya menunjukkan sudah lebih dari jam makan malam. Dengan cepat, pemuda manis itu merapihkan laptop juga beberapa buku dan alat tulis lain miliknya yang berantakan di atas meja itu ke dalam tas gendongnya. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, pemuda manis itu lantas bergegas meninggalkan perpustakaan universitas tempatnya menimpa ilmu itu.

Mengambil sepeda hitam miliknya, pemuda manis itu lantas mengayuh sepedanya dengan kecepatan sedang. Dirinya sedang merasa bahagia hari ini, terlihat dari wajahnya yang terus memasang senyuman juga aura dirinya memancarkan sebuah keceriaan. Membelokkan setang sepedanya pada sebuah jalan raya, pemuda manis itu tak melihat jika ada sebuah truk berwarna putih yang melintas dengan kecepatan tinggi. Hingga sebuah tabrakan hebat, tidak bisa dihindari.

I just wanna be part of your symphony

Will you hold me tight and not let go?

Symphony

Like a love song on the radio

Will you hold me tight and not let go?

Pagi hari datang menjemput, menggantikan sinar bulan yang menerangi semenjak semalam. Tubuh kecil itu menggeliat, membuka matanya dan mengerjapkannya beberapa kali, wajah manis itu tersenyum begitu memandang wajah pria lain yang tidur di sampingnya.

Mendudukan dirinya, Ten -nama pemuda kecil itu- mengusap pipi Johnny -pemuda yang tidur di sampingnya- masih dengan senyum manisnya. Tangannya memainkan bulu mata Johnny yang membuat sang empunya menggeliat pelan dan bergumam tak jelas.

"Wake up~" Ten berbisik tepat di telinga Johnny, tangannya menarik-narik hidung Johnny sehingga Johnny membuka matanya.

Begitu mata Johnny terbuka, Ten lantas memberikan senyum terbaiknya. Johnny dengan mata yang masih menyayu pun menatap mata Ten dan balas tersenyum.

"Morning." Suara serak khas orang bangun tidur menyapa pendengaran Ten yang membuat Ten mengangguk dengan semangat, "Morning too!" Balas Ten.

Johnny lantas terduduk, mengulurkan tangan panjangnya untuk meraih segelas air putih yang berada di atas nakas samping ranjang mereka. Meminumnya beberapa teguk, Johnny pun memberikan gelas yang tinggal tersisa setengahnya itu pada Ten yang di terima dengan senang hati oleh sang pemuda manis.

Setelah mengembalikan gelasnya pada tempat semula, Ten kembali menatap Johnny masih dengan senyuman manisnya.

"Kita, jadi keluarkan hari ini?" Dengan mata besarnya, Ten menatap penuh harap pada Johnny. Johnny mengangguk, mengacak rambut Ten dengan sayang, Johnny tersenyum dengan mata yang menatap lembut Ten, "Tentu saja."

Lalu tangan panjang Johnny meraih tubuh mungil Ten ke dalam pelukannya, memeluk sang kekasih dari belakang. Membisikkan beberapa kata sebelum meraih tangan Ten. Menggerakkan tangan Ten seperti mengikuti sebuah melody.

Ten menoleh ke arah Johnny dan tersenyum manis. "Kau hampir mencapai tujuanmu John, aku harap kau tidak pernah menyerah."

Johnny tersenyum lebar dan mengangguk. "Ya dan kau adalah salah satu alasanku untuk mencapai tujuanku." Kemudian Johnny mempererat pelukannya dan mengecup sayang pipi Ten. Membuat wajah sang empunya memerah malu.

.

Sepasang kekasih itu terlihat berlarian mengejar satu sama lain di sebuah taman yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. Yang lebih tinggi akhirnya mendapatkan sang kekasih yang lalu dipeluknya. Dengan gemas, Johnny mengangkat tubuh Ten dan memutarnya. Membuat Ten memekik kaget lalu tertawa senang setelahnya.

Johnny melepaskan pelukannya pada tubuh Ten, berniat menggandeng tangan mungil sang kekasih sebelum Ten menepis tangannya lengkap dengan seringai jahil khas andalannya.

"Jika kau mau menggenggam tanganku, maka tangkap dulu aku!"

Ten lalu berlari, meninggalkan Johnny yang akhirnya mau tak mau mengejar Ten yang tertawa terbahak saat melihat wajahnya yang sudah kelelahan.

.

Johnny dan Ten terlihat sibuk mengaduk-aduk ember kecil cat berwarna putih sebelum akhirnya mengecat dinding kamar mereka. Mereka berdua sepakat untuk mengatur ulang warna kamar mereka karena mereka sudah bosan dengan warna sebelumnya. Mereka juga sepakat untuk tidak memanggil orang untuk mengecatnya, melainkan mereka sendiri. Hitung-hitung, sebagai kenangan juga sebagai cara untuk menghilangkan rasa bosan karena tidak melakukan hal apapun karena Ten libur kuliah dan Johnny yang memang hanya diam di rumah.

Johnny melirik Ten yang masih sibuk dengan dinding di hadapannya. Menyeringai jahil, Johnny mengulurkan kuas catnya ke wajah Ten hingga wajah manis itu kini berwarna putih. Johnny tertawa senang, tak mempedulikan Ten yang memandangnya tajam sembari menggembungkan pipinya.

"John?! Lihat, wajahku jadi kotor!"

Ten mendengus kesal yang malah membuat Johnny semakin tertawa terbahak. Dengan kesal, Ten pun berniat membalas perbuatan Johnny. Menyeringai tipis, Ten akhirnya mendekati Johnny lengkap dengan kuas cat yang masih di tangannya. Dengan cepat, Ten mencoretkan cat putih itu ke pipi Johnny sambil menjulurkan lidahnya, meledek.

Johnny terdiam sesaat. Sebelum kembali membalas perbuatan Ten sehingga hari itu, tubuh mereka dipenuhi dengan cat.

.

Matahari pagi kembali datang, seperti biasa, Ten bangun terlebih dahulu sehingga dapat membangunkan Johnny. Tapi entah mengapa, hari ini Ten seperti enggan berpisah dari Johnny. Ia ingin selalu di samping Johnny hari ini.

Johnny yang memang juga sudah bangun pun menatap Ten dengan pandangan bertanya. Tidak biasanya kekasihnya itu seperti ini. Seperti ada yang tidak beres dengan kekasihnya.

Mendekati sang kekasih, Johnny lantas menggenggam sebelah tangan Ten hingga pemuda manis itu mendongak dan menatapnya. "Ada apa?" Tanya Johnny masih dengan tatapan bertanyanya.

Ten menggeleng, membalas genggaman tangan Johnny lengkap dengan senyum manisnya. "Aku hanya ingin terus bersamamu, hari ini."

Dengan tangan yang bebas, Johnny mengusap pipi mulus Ten dan mengecup lembut bibir sang terkasih. "Bukankah kau ada ujian hari ini? Berangkatlah, aku tak mau kekasihku menjadi bodoh."

Ten menggembungkan pipinya, tak terima jika dia dikatai bodoh oleh kekasihnya sendiri. "Meskipun aku bodoh, kau pasti akan selalu mencintaiku!"

"Tentu saja. Karena aku mencintaimu apa adanya." Johnny mengelus pipi Ten dan tersenyum. "Nanti malam, aku akan memasakanmu makanan kesukaanmu."

"Janji?"

"Hmm!"

Ten lantas memeluk Johnny. Melepas pelukannya, Ten menatap Johnny dengan mata bulatnya. Wajah Johnny mendekat, yang membuat Ten menutup matanya tak lama setelah kedua belah bibirnya bertemu dengan bibir sang kekasih.

.

Malam tiba, Johnny sibuk di dapurnya sembari menunggu Ten yang sampai sekarang belum juga menampilkan batang hidungnya. Tapi itu membuat Johnny sedikit lega, karena masakan kesukaan Ten, belum ia buat satu pun.

Johnny mencoba memasukan sayuran ke dalam panci yang sudah berisi air, juga ayam yang telah mendidih. Dengan telaten, Johnny mengaduk sup itu dengan senyum yang mengembang.

'Semoga Ten suka.' Harap Johnny dalam hati.

Tak lama, bunyi bel dari pintu depan terdengar. Johnny hampir berteriak begitu menduga jika yang berada di balik pintu itu pasti sang kekasih, Ten. Namun sayang, begitu membuka pintu, Johnny tidak menemukan sosok yang ditunggunya sedari tadi. Melainkan sosok berpakaian seragam biru, lengkap dengan tanda pengenal, kepolisian.

"Maaf, apa ini kediaman Ten Chittaphon?" Polisi itu bertanya, yang membuat Johnny mengangguk ragu. Johnny merasa khawatir sekarang, dia takut jika terjadi apa-apa pada kekasih mungilnya itu. "Kami dari kepolisian ingin memberitahu jika saudara Ten Chittaphon menjadi korban tabrakan mobil di jalan Gangnam."

Dan seketika itu pula, Johnny merasa dunianya hancur begitu mendengar perkataan polisi di hadapannya.

I'm sorry if it's all too much

Every day you're here, I'm healing

And I was runnin' out of luck

I never thought I'd find this feeling

'Cause I've been hearing symphonies

Before all I heard was silence

A rhapsody for you and me

And every melody is timeless

Johnny menatap datar pada cermin di hadapannya. Kenangan akan dirinya bersama Ten terus saja berputar setiap saat. Melihat wajahnya yang sekarang ini, Johnny sedikit meringis. Karena lihatlah! Wajah Johnny menjadi semakin tirus, terlebih wajahnya kini juga semakin pucat.

Seharusnya waktu itu ia tetap membiarkan Ten bersama dengan dirinya. Tidak perlu menjanjikan akan memasakan makanan kesukaan Ten yang pada akhirnya makanan itu terbuang percuma.

Johnny mengangkat sebuah tongkat kecil di tangannya dan menghela nafasnya berat. Menjadi seorang conductor adalah cita-citanya sejak dulu. Johnny sangat menyukai musik-musik orkestra yang begitu rapi dan berkelas. Apalagi waktu ia melihat penampilan Ten bersama teman-temannya ketika menari diiringi oleh musik orkestra yang membuat Johnny berdecak kagum saat itu. Yang membuat Johnny jatuh cinta seketika pada sosok mungil yang menarik perhatiannya lewat tariannya itu.

Dan cita-cita terbesar Johnny hingga sekarang adalah, mengiringi tarian Ten dengan musik orkestra yang dipimpinnya.

.

.

Symphony

Like a love song on the radio

Will you hold me tight and not let go?

Dentingan terakhir piano adalah yang terdengar sebelum suara gemuruh tepuk tangan terdengar menggantikan suara musik yang sejak tadi diputar. Menghadapkan tubuhnya ke penonton yang hadir, Johnny membungkukkan tubuhnya sembari tersenyum lebar. Konser orkestra pertamanya sukses. Dan dia akan sangat bahagia, jika sang kekasih ikut menyaksikannya juga.

"You're the best, Johnny Seo." Mata Johnny terbelalak begitu mendengar suara yang begitu sangat ia kenali juga rindukan.

Mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah, Johnny tersenyum lebih lebar begitu melihat sosok yang begitu dirindukannya tengah berjalan ke arahnya dibantu sosok sang sahabat di belakangnya. Dengan langkah cepat, Johnny turut melangkah mendekat ke arah Ten. Dan ketika jarak di antara mereka hanya tinggal sekian centi, tak dapat dihindari jika Johnny langsung mendekap dengan erat sosok mungil kekasihnya itu.

"I miss you so bad, babe." Johnny berbisik dengan masih memeluk Ten. Ten menganguk dalam pelukannya. Tak perlu diragukan, juga Ten sangat merindukan sosok yang sedang memeluknya itu.

Dan semua orang yang masih berada di situ pun ikut merasa terharu. Beberapa di antara mereka tahu, tak mudah bagi seorang Johnny Seo harus ditinggalkan selama beberapa tahun oleh Ten Chittaphon hanya untuk berobat. Tapi, jika memang sudah cinta, tidak akan ada yang menghalangi. Kecuali jika Tuhan sudah berkehendak.

.

.

.

END

.

.

.

Special for ROXX h and JohnTen Shipper.

A/N :

Akhirnya jadi juga ini ff. Tapi maaf jika tidak sesuai pesanan ya! Karena ya, aku nggak biasa bikin ff ngambil(? dari MV. Tapi, aku sudah berusaha sebaik mungkin, semoga kalian suka ya!

Ps : Untuk yg request, sabar ya! Nanti pasti dibuatin kok!

Pss : Saran dan Kritik boleh kali ya?

Sampai Jumpa!