Kimi no Shiranai Monogatari Another Story
By : Mikazuki_Hikari
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi ©
All Chara belongs to Fujimaki Sensei
This Fiction belongs to Mikazuki_Hikari
Rate : T
Genre: Romance
Pairing: Nijimura.S, Mayuzumi.C, Akashi.S
Cameo : Haizaki.S, Kuroko.T
Warning: Shonen-Ai, Typo(s), EYD tidak sesuai aturan, Male x Male, Alternate Universe (AU), Out of Character (OOC)
Sekuel dari fic Kimi no Shiranai Monogatari yang punya Mika
Diharapkan membaca Konsep cerita awal ini agar lebih paham maksud dari ceritanya
Sign
Mikazuki Hikari.
Don't Like Don't Read
I have warned you
.
.
Chapter 4
Mayuzumi Chihiro, 18 tahun, merebahkan kepalanya di meja perpustakaan. Kejadian akhir akhir ini membuatnya lelah. Ingin rasanya beristirahat sejenak dari betapa penatnya komedi romantis yang melanda hidupnya, ia menghela nafas panjang.
"Doumo."
Mata Mayuzumi terbelalak, disebelahnya duduk pria mungil yang selama ini selalu menguntit Akashi kesayangannya dari belakang, Kuroko Tetsuya namanya, Akashi pernah menjelaskan perihalnya. Dalam sekali lihat, Mayuzumi langsung tahu bahwa anak ini menyukai Akashi.
"Doumo." Balas Mayuzumi.
"Hidup akhir akhir ini penuh drama yah, mungkin author cerita ini sedang dilanda sinet picisan lainnya lagi." Ucap bocah biru muda itu penuh keyakinan.
"Eh?" Mayuzumi benar benar tidak mengerti pernyataan random barusan yang ia lontarkan.
"Langsung saja." Tukas Kuroko.
"A-apanya?" wajah Mayuzumi terheran dengan tingkah polos anak ini, maksudnya apa? Perasaan tadi dia yang ngerandom, tapi kok-
"Dimana kau menyembunyikan Akashi-kun kesayanganku itu? Hnn? Hnn?" matanya mendelik, Tetsuya menusuk nusuk tangan Mayuzumi dengan jari telunjuknya.
"Tidak sembunyika—" Mayuzumi terheran dengan anak yang satu ini, sekilas dia nampak lugu, tapi bukan hanya tampangnya, anak ini memang lugu.
"Akashi-kun itu milikku." Tetsuya nampak bangga, entah apa poin anak ini bisa berkata seperti itu.
"Err—" Mayuzumi beneran speechless.
"Menurutmu, Akashi-kun itu bagaimana?" tanya Tetsuya.
"Yah menurutku, dia itu manis kalau sedang marah gitu, walau ya kau tahu betapa mengerikannya dia kalau sedang membawa gunting?" Mayuzumi menelan ludahnya.
"Iya, justru Akashi-kun yang seperti itu sexy." Tetsuya mengacungkan dua jempolnya kearah Mayuzumi.
"Sexy eh? Memang sih aku ingin ngarungin anak itu kalau lagi marah, senyum, jangan lupa senyum manisnya itu loh." Mata Mayuzumi berbinar binar membayangkan Akashi yang sedang dalam mode Ukeshi keramatnya itu.
'Senpai~ Kyun~'
"AAAAH TIDAAAAK~" baiklah entah siapa yang dibayangkan Mayuzumi itu, jelas bukan Akashi, sekali lagi, Akashi tidak mungkin seperti itu, kecuali sedang terpaksa.
"Cih." Muka Tetsuya langsung jutek.
"Eh?" Mayuzumi terkejut melihat ekspresi random anak itu yang mendadak lebih masam daripada asam itu sendiri.
"Aku ingin lihat wajah Akashi-kun kesayanganku itu dari dekat."
'Kesayangan?' batin Mayuzumi.
"Ah! Akashi, ah tidak, Sei kesayanganku dan aku pernah berciuman dan melakukan sesuatu yang masuk dan keluar dan yang seperti itu." baiklah, pria ini terbawa suasana, panggilan kebanggaan yang selama ini hanya bisa keluar dalam hatinya itu pun keluar mentah mentah.
Mata Kuroko terbelalak karena keambiguan ucapan Mayuzumi tadi, berusaha mengontrol pikirannya, karena menurutnya ia tidak bisa menang melawan pria besar disebelahnya.
Untuk meluruskan keadaan, sebenarnya ucapan Mayuzumi mengarah kearah garpu keramat yang masih ia simpan di rumahnya, maksudnya, ia pernah melakukan indirect kiss, tapi untuk menggoda anak itu ia rela mengambigukan ucapannya.
"Aku pernah bersetubuh dengan Akashi-kun!" ucap Kuroko bangga.
Oke, pembicaraan ini mulai ngelantur, entah apa yang Tetsuya maksudkan dengan bersetubuh.
"Eh? Masa?" Mayuzumi sedikit ketakutan dengan gertakan Kuroko tadi.
"Ya, pasti akan."
Okeh, tampar aku sekarang, itu saja yang Mayuzumi inginkan saat ini.
"Tapi yakin deh, dia besar, dan kuat, dan—"
"Dan?" Mayuzumi heran kenapa perkataan anak itu menggantung.
"Dibelakangmu." Tetsuya menunjuk kearah gumpalan hitam yang datang dengan kecepatan kedipan mata, yang mengarah tepat kearah mereka berdua.
"EKHEM!"
Terasa aura mencekam dari belakang mereka berdua, aura gelap, siapa lagi yang bisa menghasilkan aura membunuh mencekam seperti itu kecuali si iblis gunting penghuni sekolah.
"Tetsuya."
"Ya Akashi-kun." Jawab Tetsuya tenang.
"Chihiro senpai."
"H-hai?" Mayuzumi gemetar.
"Tetsuya." Panggil Akashi sekali lagi.
"Ya Akashi-kun kesayanganku." Jawab anak ini dengan berani menantang maut yang ada dihadapannya.
"Siapa yang sexy dan pernah bersetubuh denganmu Tetsuya kesayanganku? Hnn?" tukas Akashi sambil menyunggingkan senyuman(?) mautnya.
"Tuh kan, aku dipanggil Tetsuya kesayangan." Tetsuya menyikut pelan lengan Mayuzumi bangga, tanpa menghiraukan maut itu sekali lagi.
"Ah..." Mayuzumi hanya bisa menelan ludahnya.
"Chihiro senpai."
"Ya Akashi, a-ada apa?" kalau yang satu ini kelewat peka menyadari maut yang ada dihadapannya.
"Siapa yang pernah melakukan hal yang masuk dan yang keluar denganmu?" Akashi tersenyum manis kearah Chihiro senpainya itu.
"T-tidak ada.." Keringat dingin membanjiri kening kening pria abu abu ini.
"APA KALIAN SUDAH BOSAN HIDUP YAH! SINI BIAR KAU RASA—"
Plek!
Sebuah tangan besar mendarat dikepala Sei, menghentikan auman maut sang iblis gunting.
"Nijimura... senpai?" wajah Akashi merona, melihat senpai kesayangannya itu ada dibelakangnya.
"JANGAN TEREAK TEREAK INI PERPUSTAKAAN!" bentak Nijimura senpai kesayangan Akashi.
"Kau kan juga teriak Shuuzo." Dari belakang nampak Haizaki yang sedang makan permen karet.
"KAU JUGA JANGAN MAKAN DI DALAM PERPUSTAKAAN!" bentak Nijimura yang melihat Haizaki tengah membuat gelembung dari permen karet dimulutnya.
"Ternyata memang hanya aku yang waras di cerita ini." Tetsuya menghela nafas panjang dan mengangkat kedua bahu serta tangannya.
"KAU JUGA TIDAK BERHAK BERKATA SEPERTI ITU!" bentak Akashi, Nijimura, dan Mayuzumi, terutama Mayuzumi yang sudah tidak habis pikir dengan pria biru muda itu.
"Ah sudahlah, kenapa kalian ada disini?" tanya Akashi merujuk pada Nijimura senpai kesayangannya dan Haizaki yang jarang muncul di perpustakaan.
"Haizaki mau belajar, tadi minta ajarin aku, jadi kami kesini." Nijimura melemparkan pandangannya pada Haizaki. Melihat pria itu malah masih asik dengan permen karetnya, ia mengambil buku yang ada dekat di tangan Tetsuya, dan mengenai telak kepala putih yankee itu hingga menjatuhkannya kelantai.
"Ngomong ngomong Akashi-kun sendiri ngapain disini, jika ada kata Akashi dan Perpustakaan, itu dua kata yang sangat bertolak belakang." Yang ini Tetsuya.
"Itu harusnya kau ucapkan kepada Aomine bodoh, ah, anu itu errr-" sudut mata Akashi tertuju kepada Nijimura yang sekarang tengah membantu Haizaki berdiri, wajahnya merona.
Mayuzumi dan Tetsuya langsung bisa menangkap apa maksud Akashi ke perpustakaan.
"Haizaki, kau harusnya mengalikan ini kesini." Nijimura menunjuk kertas yang ada di meja Haizaki.
"Ah iya, ah anu maaf!" tangan Haizaki tidak sengaja menyentuh tangan Nijimura. Diluar dugaan Nijimura malah memegangnya semakin erat, Nijimura pun menatap lekat iris kelabu itu dan tersenyum.
"MEMANGNYA KALIAN PASANGAN ROMAN KLASIK ZAMAN DULU! KALIAN MALAH KELIHATAN HOMO NYA TAU!" bentak Mayuzumi yang entah mengapa sedari tadi mengeluarkan banyak Tsukkomi* pada hal hal yang disekitarnya.
"Chihiro senpai~" bunga bunga dan cahaya merah jambu mulai merekah disekitar Akashi yang mendadak mengeluarkan wajah keramatnya lagi.
"Sei—" Mayuzumi langsung ada pada mode drama picisan skenario milik Sei lagi(?)
"Wuooogh! ternyata benar." Tetsuya mengeluarkan handphonenya dan mengabadikan wajah keramat Akashi yang baru pertama kali dia lihat.
"Senpaaai~ Shi shi tidak mengerti yang ini maksudnya apa yaa?" kepalanya tersandar pada dada Mayuzumi, jari telunjuknya menyusuri dada bidang pria itu.
"A—aaaaahhh-" Mayuzumi speechless, benar benar bahagia. Namun seperti biasa tidak ada reaksi apa apa dari Nijimura terhadap tindakan Akashi ke Mayuzumi.
"Akashi-kun~" kali ini Tetsuya benar benar tidak mau kalah, matanya melirik tajam kearah Mayuzumi seraya memeluk tubuh Akashi-kun kesayangannya itu, seperti ingin mendeklarasikan perang kepada saingan barunya.
"Tetsuya, hentikan! Kau tidak lihat aku sedang minta diajari oleh Chihiro senpai hey!" Akashi berusaha melepaskan Tetsuya, biasanya kalau dihadapan anak ini ia bisa bersikap lembut, namun karena adegan roman picisan Nijimura dan Haizaki tadi, egonya menang atas akal sehatnya.
"Aku juga, ingin diajari Akashi-kun." Wajah Tetsuya merona terang.
'Sampai kapan hal ini akan begini?' batin Haizaki yang selama ini menyadari keganjilan orang orang ajaib disekitarnya.
-=To be Continued=-
.
.
-=Omake=-
Setelah terlepas dari adegan komedi romantis lainnya dengan orang orang heboh itu, Tetsuya masuk kekamarnya untuk melepas lelah setelah seharian sekolah.
Tetsuya mengambil hapenya dan membuka harta karun barunya.
Foto tampang Uke Akashi-kun kesayangan, begitu nama foldernya.
"Sepertinya fic ini harus ganti pairing jadi KuroAka, tehee~" Tetsuya tertawa kecil.
.
.
*Tsukkomi = gaya selaan dan sanggahan spontan khas jepang yang biasa digunakan orang jepang dalam Komedi Manzai untuk memberikan komentar terhadap hal yang dianggapnya aneh atau tidak penting
