Nagisa terbangun di dalam pelukan Karma.
Kepalanya sakit sekali. Ia menggeliut, berusaha melepaskan diri sebelum akhirnya berlari mencari wastafel dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Setelah muntah, sakit kepalanya sedikit berkurang. Ia merasa lemas, seakan mabuk semalam menguras seluruh tenaganya. Nagisa menyambar sebuah gelas dan menegak satu atau dua gelas air yang telah ia bubuhi garam. Teori sok tahu, tapi insting Nagisa mengatakan bahwa ini bakal berhasil.
Setelah minum dan mencuci muka, Nagisa berjalan mengitari kediaman Karma, yang ternyata adalah sebuah flat apartemen yang terletak di lantai 10—sepertinya. Banyak sekali buku, bahkan raknya berbeda-beda sehingga menimbulkan kesan esentrik. Nagisa yang kebetulan suka membaca buku, melihat-lihat apa saja buku yang dimiliki Karma. Sekitar 60% adalah buku tentang masakan, tebal dan besar—beberapa dalam bahasa Perancis, atau Jerman. Hampir semua bukunya berbahasa Inggris. Karma hampir tidak punya buku berbahasa Jepang, selain teknik dasar Kaiseki Ryori dan novel Norwegian Wood.
Cowok amburadul macam Karma membaca novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami?
Nagisa tertawa sinis.
Lalu kemudian ia berlanjut menggeledah isi rak buku Karma.
Trilogy The Lord of The Rings, J.R.R Tolkien.
Appointment with death, Murder at the vicarage, A pocket full of rye, Agatha Christie.
Tujuh seri Harry Potter, J.K Rowling.
Neverwhere, American Gods, Anansi Boys, Graveyard Book, The Ocean at the End of the Lane, Neil Gaiman.
A tale dark and Grimm, Adam Gidwitz.
Moby Dick, Herman Merville.
Dead in the Afternoon, The old man and the Sea, Ernest Hemingway.
The Da Vinci Code, Angels and Demons, Inferno, Dan Brown.
Lolita, Vladimir Nakobov.
Thus spoke Zarathustra, Friedrich Nietzsche.
Nagisa menganga tak percaya. Semua buku-buku ini tidak mungkin ia beli hanya untuk sekedar gaya. Nagisa bahkan membuka beberapa novel tersebut. Terlihat masih bagus, terawat rapi, bersampul plastic. Dan juga, disetiap buku terdapat pembatas dan beberapa kalimat dibubuhkan garis lurus bertinta biru muda.
"Dapat apa yang kau suka, sayang?"
Ia menoleh. Karma berdiri di belakangnya, dengan wajah bangun tidur dan rambut acak-acakan. Nagisa tidak melawan ketika lelaki tinggi itu merengkuhnya dan memberi kecupan sayang di dahinya.
"Aku tidak menyangka kalau kau—"
"Geek?" Karma menyeringai lebar. "Sweetheart, tak semua kutu buku harus terlihat sok pintar, berkacamata dan punya model rambut kuno."
"Kau baru saja mendeskripsikan Takebayashi-san."
Nagisa berjinjit untuk menyingkap sehelai rambut yang menuruni dahi mulus Karma.
"Kau mau makan apa?" tanyanya lagi.
"Apa saja." Jawab Nagisa lembut. "Aku sangat senang bisa dijamu seorang sous chef."
Karma menggendong Nagisa ala tuan putri, lalu mendudukkannya di atas meja makan. Iris merkurinya menatap isi kulkas dan mulai memasak sesuatu. Karma mencuci beras, memotong bawang Bombay dan jamur, mencairkan kacang polong beku di dalam microwave, lalu menumis beras dengan sayuran. Panci ditutup, dan terakhir diberi bumbu dan satu sendok minyak zaitun.
"Bon apetit."
Nagisa menatap piring yang mengepul panas di tangannya. Masakan itu belum pernah ia makan sebelumnya. Itu bukan bubur. Bukan juga nasi. Bentuknya mirip ochazuke, namun kuahnya sangat sedikit. Terlebih, kuahnya terlihat kental.
"Makan." Tegur Karma. "Kalau dipelototin aja ya mana kenyang?"
"Ini apa?" celetuk Nagisa polos.
"Namanya risotto." Karma bersandar di kitchen counter dan mulai memakan bagiannya. "Enak. Hangat dan creamy, rendah kalori dan isinya sayuran. Penganan pagi yang ringan dan sehat."
Ia mulai mencicipi hidangan itu.
Gurih. Hangat. Wangi. Tekstur creamy yang tidak bikin eneg.
Nagisa yakin bahwa Karma sama sekali tidak membubuhi mentega, keju atau produk susu lainnya ke dalam masakan itu.
"Rasa creamy didapat dari starch yang keluar dari berasnya." Gumam Karma, seakan membaca pikiran Nagisa. "Yang mengajarkan masakan ini adalah ibuku. Beliau suka memasak ini, dan diam-diam aku mencuri resepnya."
"Bocah nakal."
Karma hanya tertawa renyah. Selesai makan, ia meneguk segelas air dan mencuci semua bekas peralatan masaknya. Nagisa masih menikmati sarapan paginya dengan khidmat. Si iris merkuri mencium pipi Nagisa sebelum berlalu, dan ia bersandar di balkon—merokok.
Nagisa hanya mengerjapkan matanya. Pikirannya kosong.
Ini pertama kali baginya menghabiskan hari libur bersama orang lain semenjak bekerja di Coulthard.
Ia biasanya mencari kesibukan, seperti nonton film atau baca manga, atau tidur seharian. Atau kadang memanfaatkan hari liburnya untuk bersih-bersih, lalu malas-malasan. Tidak ada kegiatan yang cukup berkesan.
Entahlah.
Mengenal Karma, membuat Nagisa jadi sedikit emosional.
Kamis siang.
Sudah jam setengah tiga. Tamunya belum ada yang datang.
Nagisa hanya bersandar di bar counter sambil memeluk buku menu. Isogai dan Kataoka sang restaurant supervisor tengah mengerjakan pembukuan di pojok restoran. Sugino dibantu Kurahashi dan Nakamura tengah memoles gelas, piring dan alat makan di belakang. Kanzaki yang hari ini bertugas sebagai bread waitress, hanya menata roti yang sudah ia potong dengan rapi di keranjang rotan berlapis serbet bersih dan memoles clamp. Hayami malah memainkan piano akustik yang ada di sisi lain restoran. Live music selalu ada saat dinner saja. Pianisnya adalah Irina sendiri. Kadangkala, pemain music bayaran juga sering bermain disini.
KLANG!
"Irrashaima—Ah! Koro-sensei!"
Semua pramusaji menoleh. Tampak seorang lelaki jangkung dengan rambut gondrong dan wajah menarik melangkah masuk ke dalam restoran. Yada memilihkan salah satu meja di dekat jendela dan menyuruh Nagisa melayaninya.
Sesuai prosedur, Nagisa menarikkan kursi dan membantu sang tamu duduk dengan nyaman. Menggelarkan serbet di pangkuannya, menuangkan air dingin di gelasnya, lalu memberikannya buku menu yang setengah terbuka kepadanya dari kanan. Kanzaki datang untuk menghidangkan welcome bread, namun si tamu menolaknya dengan halus.
"Selamat siang. Nama saya Shiota Nagisa. Hari ini saya bertugas sebagai pramusaji Anda. Kami memiliki menu chef recommend 6 course yang terdiri dari makanan pembuka dingin, makanan pembuka panas, sup, hidangan utama, aneka keju dan hidangan penutup. Menu spesial kami akan sangat serasi jika dinikmati bersama Pinot Grigio kami persembahan dari Tesoro Della Regina."
Si tamu mengangguk-angguk sambil membalik buku menu.
"Dan juga, kami sedang ada promo flambé dessert yang terdiri dari 7 menu hidangan penutup yang disajikan langsung di hadapan Anda."
"Umm…Shiota-san…" tamu itu menoleh. "Aku sedang sangat lapar. Aku mau pesan…apa ya….supnya…ah, tidak usah. Aku mau main course….tidak, tidak. Minumannya….aku mau chocolate milkshake. Dan juga aku mau flambé dessert-nya, masing-masing 1."
Nagisa terperanjat. "Ma…masing-masing 1?!"
"Benaaar~" katanya. "Dan juga, bilang pada Maehara aku mau Veuve Clicquot, Demi Sec. Setengah botol."
Nagisa mencatat meski ada keraguan di hatinya. "Baiklah, ada lagi?"
"Ummm…." Lelaki itu membaca menunya lagi. "Itu saja dulu. Buku menunya ditinggal saja, ya?"
"Baiklah. Saya akan kembali dengan pesanan Anda segera."
Nagisa berlari ke dalam kitchen dengan panik. Sugino melihatnya dengan pandangan heran. Kepala biru muda itu celingukan, mencari Maehara yang tidak ada di mana pun. Di bar tidak ada. Di sekitaran kitchen tidak ada.
"Ada apa, Nagisa?" tanyanya.
"Ada tamu aneh yang pesan semua menu flambé dessert. Dan juga dia minta minuman apa itu namanya, setengah botol. Dan juga chocolate milkshake." Kata Nagisa terbata-bata dan cepat saking paniknya.
Sugino dan Nakamura bertatapan, lalu mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Sugino menepuk-nepuk kepala Nagisa dan memaksanya menatap si tamu yang tengah main ponsel di mejanya melalui kaca pintu pembatas antara restoran dan kitchen.
"Laki-laki itu bernama Bacchus Joubert. Berdarah Perancis-Uzbekistan. Lahir dan dibesarkan di lingkungan restoran. Lulus dari Le Cordon Bleu London pada usia 17 tahun. Mantan demi-chef masakan Tiongkok di Atlantic Voyage, salah satu cruise bergengsi di Uni Eropa. Bersertifikat sommelier pada usia 24 tahun. Mantan butler kerajaan Monako yang kini menetap di Jepang sebagai food journalist dan—"
"Owner restoran kita." Nakamura menyela ocehan Sugino. "The big boss."
"OWNER?!" Nagisa memekik.
Sugino dan Nakamura memelototinya. Nagisa refleks membungkam mulutnya.
"Tenang saja. Beliau baik, kok." Kata Nakamura. "Karena dia hebat, kami memanggilnya Korosenai-sensei. Karena usahanya, restoran ini mendapat bintang 2 michelin."
"Korosenai…." Nagisa merengut. "Mirip tokoh game yang nggak bisa mati gitu?"
Sugino dan Nakamura mengangguk.
"Ta…tapi….aku tidak bisa melayani pesanannya. Susah sekali. 7 macam sekaligus." Nagisa menggeleng. "Dan dia juga pesan wine."
"Tenang saja. Aku akan membantu." Kurahashi menyemangati.
"Selesaikan saja polishing-nya. Biar Kayano saja yang membantunya." Ketus Nakamura. "Bilang saja kau mau kabur dari kerjaan laknat ini, kan?"
Kurahashi menyerigai bodoh.
"Sana, buat dulu minuman untuknya. Aku akan memanggil Maehara."
"Monsieur Joubert. Vous dessert, s'il vous plait [Tuan Joubert. Hidangan penutup Anda, silakan]."
Nagisa membuat flambé dessert yang pertama, yaitu cherry jubilee. Bersamaan dengan sparkling wine dan minuman yang ia pesan. Lelaki itu menghabiskan milkshake yang ia pesan dalam satu seruputan brutal sambil memperhatikan cara Nagisa memasak hidangan penutup pertamanya.
"Non, mon chéri. Koro-sensei est bon aussi [Tidak, sayangku. Koro-sensei juga oke]." Balas lelaki itu sambil tertawa. "Vous parlez bien le français. Est-que ce vous êtes étudie á l'école? [Bahasa Perancismu bagus. Apa kau belajar di sekolah?]."
"Oui." Nagisa menghidangkan makanan penutup pertamanya. "Bon appetite."
Lelaki itu mengendusnya perlahan. Ia memakan dessert itu dalam dua kali suapan. Nagisa bahkan sampai tercengang melihat bagaimana cara makan orang ini. Rakus, memang. Namun tetap elegan dan well-mannered.
Luar biasa.
"Pardon. Vous appelez comment, monsieur [Maaf. Siapa namamu, tuan]?" Tanya Koro-sensei sambil menyesap sparkling wine yang ia pesan.
"Nagisa." Ujar Nagisa penuh keyakinan, sembari menumis pisang hingga kuning keemasan.
"Combien de temps vous avez tarvaillé ici? [Sudah berapa lama kerja di sini?]."
"Pour douze semaines, Koro-sensei. [Sudah 12 minggu]. "kata Nagisa.
"Nouveau, ah? [baru, ya?]." Koro-sensei tertawa.
Nagisa mengulum senyum. Ia mulai membuat menu selanjutnya—Banana Foster. Kali ini, Koro-sensei makan sedikit lebih lama karena pisang yang sudah di flambé itu lebih panas daripada masakan sebelumnya, sehingga eskrimnya mudah mencair dan ia terlihat agak berhati-hati memakannya. Di menu ketiga yaitu crepe suzette, Nagisa membuat sausnya sedikit terlalu banyak. Tetapi, Koro-sensei yang sangat suka rasa dari saus buatan Nagisa malah minta tambah satu lembar crepe lagi. Pada menu keempat yaitu pêches Louis, Koro-sensei meminta cacahan kacang almond pada hidangannya sedikit diperbanyak.
"Excuze-moi, vous mangé le sucre beaucoup. [maaf, anda makan banyak sekali gula]." Ucap Nagisa. "C'est-que ce bien pour vous le santé? [Apakah tidak apa-apa untuk kesehatan Anda?]."
"Mon Dieu, mais non! Mais non, mon chéri. [Oh, Tuhan, tentu tidak! Tentu tidak, sayangku]. J'adore dessert beaucoup. Le coupable plaisir [Aku suka sekali hidangan penutup. Semacam guilty pleasure]."
Nagisa tertawa. Kini ia mulai membuat mango Diablo. Potongan mangga yang dimasak sebentar dengan setengah sendok makan mentega, dua sendok madu dan sepercik bubuk kapulaga. Tambahkan dua sendok Grand Marnier, dan tiga sendok tequila blanco alias tequila putih.
"Nagisa-kun," ujar Koro-sensei. "Mengapa makanan itu dinamakan mango Diablo?"
Nagisa menoleh. Ia berpikir sebentar. Rasanya Isogai pernah memberitahu jawabannya waktu Nagisa menyelesaikan pekerjaan rumahnya soal tes panel mengenai flambé dessert.
"Karena….berbeda dengan flambé dessert yang lain, api yang dihasilkan oleh mango Diablo berwarna oranye, dominan merah—dikarenakan kandungan gula yang lebih banyak dari mangga ranum sebagai bahan utamanya. Kandungan air yang tinggi serta kandungan alcohol dalam tequila yang kami gunakan membuat sambaran apinya lebih besar. Meskipun rasanya surgawi, penampilan mango Diablo membuat seakan-akan ia adalah iblis yang baru keluar dari neraka." Jawab Nagisa panjang, namun lugas.
"Tequila jenis apa yang dipakai?"
"Blanco. Don Julio."
"Berapa ABV-nya, mon chéri?"
Nagisa mengerenyit. "Um…40%"
Mango Diablo dihidangkan di dalam sebuah mangkok dengan 2 scoop es krim vanilla super beku dan potongan nata de coco sebagai sentuhan rasa tropis.
"Kau yakin?" Koro-sensei tersenyum jahil.
"Sangat yakin."
Koro-sensei menggedikkan bahunya. Ia menikmati hidangan penutupnya dengan nikmat. Sesekali ia menyesap sparkling wine di sela suapannya dan mendesah subarashiii seperti mendapatkan ketenangan spiritual dari rasa yang telah dikecapnya.
Hidangan keenam, strawberry crepe Fitzgerald.
Komposisinya dua buah crepe yang sudah dilapisi campuran whip cream dan cream cheese, lalu digulung. Sausnya, 5 butir strawberry yang sudah dibelah 4. 3 sendok gula pasir. 2 sendok makan lemon juice. 2 sendok makan maraschino liqueur. Siramkan perlahan sausnya di atas crepe. Jangan lupa bubuhkan cream dan gula bubuk.
Nagisa merapalnya seperti mantera di dalam hati.
"Nurufufufufu~ aku merasa seperti Jay Gatsby saat makan ini." Koro-sensei tiba-tiba berujar random setelah makan beberapa suap.
"Karena namanya mengingatkan Anda pada F. Scott Fitzgerald?" Nagisa terkekeh.
"Iya." Balas Koro-sensei. "Novel bagus."
"Ya, salah satu karya fenomenal." Balas Nagisa. "Tetapi, aku tidak suka buku itu."
Koro-sensei meletakkan pisaunya dengan hati-hati, lalu garpunya di sebelah kiri. Keduanya menghadap arah jam 5. Ia sudah selesai. Bersih tandas.
"Karena?" tanyanya. Sebelah alis tipisnya terangkat.
"Terlalu Amerika." Balas Nagisa kikuk. "Aku lebih suka cara menulis Fitzgerald pada cerita Curious Case of Benjamin Button."
"Ahh…naruhodo." Koro-sensei mengangguk. "Selera literaturmu bagus juga."
"Terima kasih." Ucap Nagisa sambil membungkuk. "Boleh saya angkat piringnya?"
Hidangan penutup terakhir adalah baked Alaska. Berupa selapis sponge cake coklat dengan selapis pistachio mousse, lapisan es krim tebal rasa vanilla, berlapis cokelat putih tebal, dilapisi lagi dengan meringue yang di pipe berbentuk rangkaian mawar putih kecil-kecil, dipanggang selama 20 detik, lalu dihidangkan di hadapan tamu dengan cara disiram brandy di permukaannya, lalu dibakar hingga apinya memadam dengan sendirinya.
"Baked Alaska. Bon appetite." Ujar Nagisa, memberikan sugesti bagi tamunya untuk menikmati hidangan.
Hidangan penutup itu ukurannya paling besar dibandingkan flambé dessert yang lain. Ketika diketuk dengan garpu, lapisan keras meringue akan pecah. Dan ketika dibelah dengan pisau, lapisan meringue itu akan runtuh bersama lapisan coklat di dalamnya, membuat penampang cokelat, hijau tipis, lapisan tebal es krim vanilla dan serpihan putih yang tampak kontras di piring saji berwarna hitam.
Koro-sensei memakan satu suapan besar.
"Subarashiiiii~~" ucapnya dengan wajah fuwa-fuwa. "Penampilannya seperti daratan Alaska yang tertutup salju. Andai saja rasa salju manis seperti ini….."
Nagisa hanya tersenyum mendengar ucapan itu. Ia menawarkan wine lagi dan Koro-sensei mengangguk setuju. Selesai menyantap ketujuh hidangan penutupnya, Koro-sensei minta ditinggalkan sebentar. Nagisa mengangguk setuju dan pergi ke back area. Ternyata, split time sudah tiba. Dari balik pintu, ia melihat Isogai membalik papan open menjadi close. Sang maître d'hote berbincang sebentar dengan Koro-sensei, dan tak lama datanglah Irina dan Maehara. Nagisa menghempaskan dirinya ke kursi, bergabung bersama staff yang lain untuk makan siang. Nakamura duduk di sebelahnya. Beberapa pramusaji lain tidak ikut makan. Ada yang memilih tidur, mempercantik riasan atau sekedar online.
"Kenapa tidak ada yang makan?" Tanya Nagisa.
"Mereka sudah makan." Balas Nakamura sambil meneguk es teh. "Kebiasaan, deh. Mentang-mentang sepi, pasti mereka curi-curi makan duluan."
Menu makan siang hari ini dibuat oleh Hazama. Chicken Cajun dengan nasi yang dimasak dengan tomat dan kacang merah. Sayurannya ada coleslaw. Nagisa makan itu ribuan kali, dan bahkan baru tahu bahwa salad dengan irisan tipis kol, wortel, lobak dan mayonnaise yang biasa ada di restoran cepat saji hohokbento itu namanya coleslaw. Kalau saja ia tidak bekerja di Coulthard, ia takkan tahu.
Itona tidak makan. Dari dulu ia tidak bisa makan makanan pedas. Sementara Okajima selalu makan seperti orang kesurupan. Nagisa lapar sekali, jadi ia mengambil porsi banyak dan mulai makan.
"Asyik ya, Koro-sensei itu." Ucap Nakamura.
"Ngg." Nagisa mengangguk. Ia mulai melahap makan siangnya. "Orangnya sangat rendah hati. Padahal dia owner. Dan juga, seleranya akan makanan manis gila sekali."
"Ya, begitulah. Semenjak bitch-neesan datang, ia tidak pernah ada lagi disini. Padahal kami semua belajar service darinya."
Alis Nagisa berdenyut sebelah. "Ano…aku mau tanya satu hal."
"Boleh~"
"Kenapa….kalian semua memanggil Irina-san dengan sebutan bitch? Maksudku…aku mengerti orang Jepang sulit mengucapkan huruf V. Tapi…panggilan itu seperti….di…umm…"
"Sengaja?" Nakamura tertawa. "Seperti yang kau bilang. Kami memang sengaja memanggilnya begitu."
"Kenapa?" Tanya Nagisa. "Dia atasan kalian, kan? Kenapa memberi panggilan sejahat itu?"
"Karena dia memang bitchy. Ia sering mencela para waitress karena dandanan kami buruk. Dan juga, sikapnya yang centil dan sok kuat." Nakamura mendecih. "Ia juga sangat bossy. Dan juga perempuan jalang menjijikkan. Selama 6 bulan pertamanya disini, ia sudah tidur dengan nyaris semua laki-laki disini."
Nagisa terperanjat. "Yang benar?!"
"Nggak, sih. Itu lebay." Nakamura mengibaskan tangannya. "Cuma beberapa. Dan itu sudah jadi rahasia umum. Okajima dan Maehara yang paling sering. Muramatsu pernah sekali. Terasaka ditolak mentah-mentah. Itona juga pernah. Chiba-san juga. Tapi jangan bilang-bilang Hayami-san. Soalnya mereka mau married tahun depan. Kasihan kan, kalau hubungan suci mereka diganggu bumbu pemanis begitu?"
"Bumbu pemanis?" Nagisa mengerenyit. "Ma..maksudmu…tidur dengan kekasih orang itu pemanis?"
"Begitulah." Nakamura menghela nafas. "Itu realita dunia kelam hospitality. Kadang kita dipacari oleh salah satu rekan kerja, yang ternyata dia adalah suami atau istri orang. Tergantung bagaimana kau menyikapinya juga. Kalau kau tahu dia sudah punya orang lain, kau tahu resikonya jadi orang kedua."
"Maksudku…" Nagisa menyuap lagi. Kunyah, telan, lalu minum. "Kalian menganggap hal seperti itu sudah biasa?"
Nakamura menghela nafas. "Dengar ya, Nagisa. Kau bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 11 malam. Enam hari seminggu. Bayangkan kalau kau bekerja di kapal pesiar, yang mana kau hampir tak bisa istirahat sama sekali. Kau bahkan terlalu lelah untuk menjalin kontak dan cari pacar. Liburmu pasti kau habiskan untuk istirahat. Dunia kelam seperti hiburan malam dan love affair adalah hiburan bagi kita, jiwa-jiwa yang kesepian. Lagipula, menikung pacar orang itu seru juga. Semacam ada adrenalin gitu."
"Apa itu…." Nagisa mencuil sebutir kacang merah di mangkoknya. "Apa itu alasanmu mencium Maehara-san saat kita…saat kita di Standford? Karena kau menyukai love affair sebagai bumbu pemanis hidupmu?"
Nakamura menggedikkan bahunya. "Bisa jadi."
"Tapi…aku melihat Maehara-san nampak akrab dengan Isogai-san…"
"Mereka satu kampus dulu, benar-benar teman dekat. Isogai dan Kataoka dulu pacaran. Kataoka putus dengan Isogai karena perbedaan prinsip. Sekarang, Kataoka dan Okajima yang pacaran. Kanzaki dan Sugino sudah menikah, tapi masih pisah rumah karena mereka menikah diam-diam tanpa sepengetahuan orangtua Kanzaki. Katanya mereka akan tinggal bareng kalau Kanzaki sudah….umm..."
"Sudah apa?" Tanya Nagisa penasaran.
"Sudah cerai dengan suaminya yang sekarang." Nakamura mendesah. "Suaminya yang pertama penulis tidak sukses, abusive, dan orang miskin berjiwa sosialita. Namanya Sakakibara Ren. Sudah lama Kanzaki menuntutnya di persidangan. Kasusnya alot banget. Pernikahannya dijodohkan secara politik. Mertuanya Kanzaki—berarti orangtuanya si suami pertama, adalah orang yang berjasa di keluarganya."
"Rumit sekali." Nagisa mengerenyit. "Jadi, kasusnya Sugino yang jadi simpanan, ya?"
"Kau mau tahu yang lebih rumit?"
Nakamura mengambil sepotong ayam Cajun dan mulai melahapnya dengan tidak selera.
"Maehara, dulunya sama sepertimu. Orang baru. Sebelumnya ia hanya bartender kelas teri di bar murah dekat Stanford, yang sekarang sudah bangkrut. Sementara Isogai, begitu masuk kesini sudah jadi maître d'hote karena pengalamannya bekerja sebagai restaurant supervisor di sebuah outlet besar di hotel di Osaka."
Nagisa masih mendengarkan. "Uhm-hm?"
"Mereka masih keep contact dengan baik. Sampai akhirnya Maehara dipecat karena barnya bangkrut. Isogai putus cinta. Ia menawarkan jasa pelipur lara—Isogai yang tengah dalam masa terburuknya memutuskan untuk jadi gay dan….ajaibnya, Maehara yang menawarkan diri jadi seme."
"Hee? Bukankah Maehara-san itu—"
"—straight?" Nakamura mengunyah pelan. "Tidak. Bajingan tengik itu ACDC."
"Apa itu ACDC?"
"Itu bahasa gaul untuk menyebut seseorang yang mengidap bisexual, Nagisa."
Nagisa mengangguk.
"Ia merayu Isogai supaya bisa masuk kesini. And here he is. Dua bulan setelah ia masuk, bitch-neesan datang. Tentu saja, sebagai sesama pelacur busuk, mereka cepat akrab. Lalu Maehara pergi ke Perancis sekitar 3 bulan, dan saat dia kembali, jabatannya naik jadi bar supervisor. Alasannya mudah saja—bitch-neesan bilang ia paling berbakat soal meracik minuman beralkohol dan pernah menjadi bartender. Isogai mendukungnya. Sementara kami semua tak bisa bersaing melawannya secara professional."
Nakamura menghela nafas. Ia menandaskan makan siangnya dengan enggan. Nagisa sudah nambah dua kali. Hendak tambah untuk yang ketiga, namun potongan ayam yang terakhir dimakan Okuda. Nagisa mengalah dengan penuh sukacita.
"Kalau kau sebenarnya tahu bahwa Maehara-san itu bajingan….." gumam Nagisa. "Kenapa kau menciumnya?"
"Lagi nafsu."
Nagisa tercenung. "Apa?"
"Lagi nafsu." Jawab Nakamura dengan wajah kelam. "Namanya juga lagi clubbing. Setengah mabuk. Dengan keadaanku yang single. Lagipula, his kiss is motherf..king good."
Nagisa terdiam. Nakamura tampak tak bahagia menceritakan kisah itu. Kisah getir semua orang. Tentang hubungan gelap Kanzaki dan Sugino. Tentang Irina-san yang pernah menggilir beberapa lelaki di Coulthard. Tentang Maehara yang memperalat Isogai—dari pacar jadi kekasih, demi kelangsungan karirnya.
Entah cerita itu benar atau tidak. Rasanya, terlalu gila untuk di percaya. Namun, hati kecil Nagisa tidak bisa memungkiri bahwa cerita yang tadi dipaparkan Nakamura juga terlalu nyata untuk dibuat-buat.
"Dunia service, seperti yang kita jalani adalah sebuah film drama." Kata Nakamura. "Kau harus jadi orang yang munafik, kalau mau hidupmu tetap tentram dan nyaman dijalankan. Tidak ada lahan untuk berbuat heroik. Jadikan semua orang batu loncatan, atau kau yang jadi batu loncatan."
Nagisa mendekat, menemui Karma yang tengah merokok sendirian di dekat mobilnya saat jam pulang. Ia menunjukkan selembar kertas yang merupakan bill makanan Koro-sensei tadi siang. Dibaliknya, tersemat tulisan tangan rapi yang sangat bermakna.
[Kepada Tuan Nagisa Shiota,
Aku ingin berterima kasih atas pelayanan memuaskanmu pada jam makan siangku. Flambé dessert buatanmu lebih dari sekedar enak. Kalau aku tidak memperhatikan gula darahku, aku pasti minta tambah.
Caramu mendekatkan diri dengan tamu adalah bakat alami, yang tidak semua orang dapatkan dengan mudah. Kau mampu berbicara bahasa asing sangat lancar, dan komunikatif. Pengetahuan panelmu tentang menu juga sangat bagus. Aku sudah makan di banyak restoran, dan pandanganku sebagai seorang tamu (jangan lihat aku sebagai bossmu), aku selalu merindukan makanannya. Bukan pelayanannya.
Kau adalah orang pertama yang membuatku merindukan sebuah pelayanan di restoran.
Asah lagi kemampuanmu, sayangku.
Sekali lagi, terima kasih.
Telah menyajikan kebaikanmu, passion-mu, dan jiwamu hari ini.
Itu sangat luar biasa.
Nikmati hadiah keciku.
Salam,
B.J]
"Dia membayar makanannya. Dan memberikan aku tip ¥2000."
Karma menepuk kepala Nagisa. "Itu lumayan."
Nagisa memberi Karma selembar seribu Yen. "Untukmu."
"Karena?"
"Kau yang mengajari aku, bahwa seorang pramusaji harus rendah hati. Harus melayani dengan sepenuh hati, namun tetap menggunakan otak. Dan juga, kau yang mengajari aku membuat flambé dessert. Ambillah."
Karma mengambilnya tanpa sungkan. Si iris merkuri hendak memberikan Nagisa kecupan, namun tangan kecil Nagisa menahan bibir Karma agar tidak menyentuhnya.
"Uhm?" Karma bergumam.
Nagisa hanya menggeleng pelan.
Karma menjauhkan badannya dengan segan.
Nagisa berlalu begitu saja, berjalan menuju tempat tinggalnya. Pikiran dan hatinya penuh dengan banyak hal. Koro-sensei sudah membuatnya luar biasa senang hari ini. Ia tidak menyangka, bahwa owner dari restoran sebesar itu adalah pria yang begitu sederhana dan menyenangkan. Nakamura membeberkan kepadanya cerita yang kurang mengenakkan. Perasaan kelam dan was-was mendadak menyelimutinya. Apalagi, ketika ia dengan pedih bercerita bahwa bermain api dengan kekasih orang adalah salah satu bumbu pemanis dalam hidup sebagai seorang pekerja service seperti mereka.
Seketika, wajah Karma terlintas di kepala Nagisa.
Senyumnya yang menyebalkan.
Iris merkurinya dengan pandangan super arogan.
Rambut belah pinggirnya yang hits.
Harum kayu-kayuan dan sitrus yang selalu menguar lembut bersama bau tembakau di tubuhnya.
Karma.
Karma.
Karma.
Mata Nagisa mengabur dan memanas. Ia membungkam mulutnya agar sedu sedan tidak membuncah keluar tanpa izinnya.
Bagaimana….
Bagaimana jika Karma menjadikannya 'bumbu pemanis' untuk menghibur diri?
a/n:
ochazuke: makanan khas Jepang. Berupa nasi dengan lauk disiram air kaldu atau air teh. Bentuknya mirip nasi dikasih kuah.
Veuve Clicquot, Demi Sec: salah satu merk champagne (anggur putih berkarbonasi yang biasa dipake celebrate juara F1 atau MotoGP).
Pistachio: sejenis kacang-kacangan. Warnanya hijau muda. Sekilas kayak pete. Tapi kacang ini manis-gurih. Enak banget.
Meringue: putih telur dan gula yang dikocok sampai mengembang.
Cajun: nama campuran bumbu dari Amerika. Campurannya macem-macem tergantung merk. Basically dari bubuk paprika, thyme sama oregano.
Chapter 4 done.
Halo semua. Ketemu lagi dengan saya yang masih punya waktu untuk ngetik ini fic dan berusaha update secepat kilat.
Untuk Bahasa Perancisnya, author tidak menggunakan google translate sama sekali. Author pernah belajar bahasa perancis waktu sma dan awal kuliah, jadi aku bongkar catatan lama dan mulai mengasah kembali bahasa perancis aku demi readers sekalian. Maafkan kalo ada kesalahan grammaire. Udah lama ga belajar lagi bikin bahasa perancis author tumpul total.
Jangan Tanya kenapa saya munculkan koro-sensei. Tentu saja gengs, koro-sensei versi manusia itu asdfghjkl ganteng bangeeeeet *w*)
Dan juga, saya mulai menambahkan bumbu drama yang bakal memutarbalikkan alur cerita. Ha…habisnya…kalo karunagi lovely dovey kan ga gereget. Aku mau bikin hubungan mereka twisted upside down dan bakal makin deep setelah melalui berbagai macam rintangan. Doain aja semoga main pairnya tetep karunagi dari awal sampai akhir.
Sekian bacotan saya. Jangan lupa review ya geng.
See you in the next chapter.
