bangtan fic; in the mood for love.
they all spell love differently.
(throwback epilogue concert in osaka)
interlude: kalau itu taehyung, jangan buka pintunya
"taehyung-hyung di depan pintu." lapor jungkook sembari duduk lagi di sebelah jimin.
"jangan dibuka." jimin menjawab cepat, memperbaiki angle kamera agar ia dan jungkook sama-sama terlihat jelas.
"hyung tidak kasihan?"
jimin menoleh, mendapati jungkook tengah menatapnya aneh dengan mata besarnya. mungkin heran mengapa jimin tiba-tiba kejam pada taehyung—sebenarnya jimin selalu kejam, jungkook saja yang tidak peka.
"biarkan saja. dia sendiri yang bilang tidak mau siaran denganku." jimin mengulum senyum, tidur seranjang dengan taehyung semalaman tidak berarti mereka langsung gencatan senjata. hitung-hitung pembalasan karena taehyung sudah membuat lengannya mati rasa tadi pagi.
"hyung, taehyung-hyung masih di depan kamar."
"kerjai saja dia."
"hah?"
"suruh dia menari di koridor atau apa lah. kapan lagi kau kuberi tiket resmi mengerjai taehyung, kook?"
lima menit kemudian, jimin menyilakan taehyung dan seokjin masuk. jungkook sebenarnya agak keberatan, sejujurnya ia mulai menikmati mengerjai kakak-kakaknya di koridor hotel.
belum ada dua menit jimin membombardir taehyung dengan sesuatu seperti, "mau apa kau disini?", "'kan kau sendiri yang bilang kau tidak mau siaran denganku" dan semacam itu, jimin sekarang sibuk menyorongkan cup ramen ke depan taehyung.
"aku punya air panas, sana masak ramenmu sendiri kalau kau ingin makan."
"taehyung, disana ada air panas."
"mau coba ramenku, tae? yang ini rasanya enak."
"enak, 'kan? makan yang banyak."
"masukkan nasi ke dalamnya, akan lebih enak lagi."
"tae, minum?"
jungkook memutar bola mata mengamati tingkah jimin. ya ampun, apanya yang kalau itu taehyung, jangan buka pintu?
a/n:
add burpodeng. on line.
