I Can't
Enjoy~~~
Jam dinding berwarna hijau sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Walaupun demikian tak membuat si kecil Yoogeun terlelap. Mata bulatnya bergerak-gerak seperti mencari sesuatu. Sedang orang tuanya masih terlelap tanpa mengetahui kalau sang buah hati tidak bisa tidur sedari tadi. Andai bayi berumur 2 minggu itu bisa berteriak, mungkin sedari tadi Yoogeun akan berteriak-teriak. Tapi bayi sekecil itu hanya bisa menangis. Yah, akhirnya Yoogeun menangis untuk membangunkan orang tuanya. Masih pelan isakannya, tapi lama-kelamaan semakin keras. Keras dan keras lagi.
Gundukan sebelah kanan terlihat bergerak, sang empu menggeliat, merasa terganggu akibat keberisikan yang dilakukan Yoogeunnie. Namja bertubuh tinggi itu reflek menoleh kearah box Yoogeun, asal suara tangisan berasal. Dengan terkantuk-kantuk, Changmin mendekati Yoogeunnie. Buah hatinya itu masih saja menangis. Dengan perlahan Changmin menggendong dan menimang-nimang Yoogeun, mencoba meredakan tangisan Yoogeunnie.
.
.
.
.
"Kyaaa… hyung, Yoogeunie meronta.." jerit Jinki yang pagi ini terlihat memandikan Yoogeun. Changmin datang dengan tergopoh-gopoh, di tangannya masih ada baju Yoogeun.
"Pegang lebih erat, agar tidak jatuh." Ujar Changmin.
"Ya ampun… ya ampun… Yoogeunnie terus meronta.." jerit Jinki masih heboh. Melihat Jinki yang ketakutan, Changmin mengambil alih Yoogeun, ini pagi yang entah keberapa Jinki gagal memandikan Yoogeun.
"Ma'af kan aku, hyung. Kurasa aku memang butuh seorang Baby sitter." Cicit Jinki. Changmin menghiraukan Jinki, memilih focus memandikan Yoogeun.
"Besok, kau harus kembali bekerja kan? Aku masih belum yakin bisa mengurus Yoogeun sendirian." Tambah Jinki. Changmin masih diam. Setelah Yoogeun selesai mandi pun, Changmin masih diam. Jinki yang takut mengekor Changmin yang tengah bersiap memakaikan baju Yoogeun.
"Hyung, jangan mendiamiku. Aku tahu aku sal…"
"Kamu tahu kamu salah, tapi tak sedikitpun kamu memperbaiki kesalahanmu. Aku sudah capek mengajarimu. Ini Yoogeun, anak kita, bukan anak anjing yang mati itu..!" potong Changmin dengan nada tinggi. Jinki menundukkan kepalanya. Rasa bersalah menggerogoti hatinya. Changminnya tak pernah membentak sebelumnya.
"Aku minta ma'af.' Ucap Jinki.
"Ma'af mu tak mengubah apapun, Jinki." Sahut Changmin, tangannya sibuk membedaki Yoogeun.
"Aku harus bagaimana lagi? Aku.. aku benar-benar… benar-benar takut."
"Buang rasa takutmu. Demi aku dan Yoogeunnie." Jinki mendongak menatap Changmin. Jinki merasa bila ia gagal lagi, Changmin tak akan mema'afkannya. Dan dia benar-benar akan kehilangan Changmin. Jinki mengalihkan perhatiannya kearah Yoogeun, Jinki berfikir, kalau Yoogeun tidak ada apakah Changmin akan bersikap seperti tadi? Membentak dan menyalahkannya?
Jinki mengerjapkan matanya, dia benar-benar terlihat buruk sekali dengan apa yang difikirkannya. Gilakah dia, karena baru saja menyalahkan bayi tak berdosa itu?
.
.
.
"Apa kamu yakin akan memperkerjakan babysitter, Jinki?" Tanya ratu Jung sambil menatap menantunya dengan pandangan sayang.
"Aku memang payah kan, Bunda?" ujar Jinki sedih.
"Bukan salahmu, selama ini kamu tidak mendapatkan pengalaman dengan ini semua. Apalagi kau seorang namja, pasti di alam bawah sadarmu menentang, ego sebagai seorang namja Jinki. Kau seorang namja yang seharusnya tidak mempunyai takdir seperti yeoja. Kamu sama sekali tak salah."
"Tapi Changmin hyung bisa merawat Yoogeun dengan begitu baiknya."
"Dulu dia menghabiskan waktunya untuk menemani Kyuhyun, secara tidak langsung dia tahu bagaimana merawat bayi, Changmin melihat ku merawat Kyuhyun setiap hari."
"Aku jadi tahu kenapa Ayah tidak menyukaiku."
"Hei, Yunho sangat menyayangimu, hanya saja dia belum sadar. Tunggulah sebentar lagi, heumm… dulu, saat Changmin lahir, aku juga tidak bisa merawatnya. Tapi setelah setiap hari melihat Baby Sitter merawat Changmin aku menjadi bisa. Semua perlu kebiasaan dan usaha Jinki. Kurasa Baby sitter untuk sementara ini tidak apa-apa. Ambillah sisi positifnya." Terang Ratu Jung.
"Apa aku harus mulai mencari Baby sitter untuk Yoogeunie?" Tanya Ratu Jung saat melihat Jinki yang terdiam. Jinki menatap Bundanya itu, lalu mengangguk dengan lemah.
.
.
.
Baby sitter untuk Yoogeunnie sudah datang sore ini. Seorang Yeoja berumur 27 tahun, bernama Gweboon. Kim Gweeboon. Jinki merasa sangsi, pasalnya yeoja ini masih terlihat sangat muda dan minim pengalaman. Lihat saja tangannya terlihat rapuh. Apa ia tidak akan menjatuhkan Yoogeunnie dengan tangan serapuh itu? Kelihatannya juga orangnya tak ramah sama sekali. Matanya yang mirip kucing itu terlihat menyeramkan. Bagaimana kalau Yoogeunnie takut melihatnya nanti? Pikiran-pikiran buruk menghantui Jinki. Tiba-tiba Jinki berjengit ngeri. Bagaimana kalau misalnya Changmin tiba-tiba jatuh cinta dengan Gweeboon? Di dorama-dorama kebanyakan seperti itu kan? Majikan selingkuh dengan Baby Sitter. Jinki menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba mengusir firasat buruknya.
"Ah, walaupun saya terlihat seperti ini, tetapi jangan khawatir, saya orang yang professional. Keluarga Jung tidak akan sembarangan memilih Baby Sitter untuk cucu pertamanya bukan? Saya harap anda tidak perlu khawatir." Ujar Gweeboon sambil tersenyum. Senyum yang aneh menurut Jinki. Tapi Jinki akui, Gweeboon merupakan sosok wanita yang cantik.
"Tentu, anda terlihat seorang yang professional. Saya harap, saya banyak belajar dari anda. Mohon bantuannya." Sahut Jinki agak kikuk. Entah kenapa ia sangat gugup. Terlalu khawatir mungkin.
.
.
.
Changmin masuk ke kamar saat pukul 10 malam lebih sedikit. Jinki masih terjaga. Biasanya ia akan menunggu Changmin pulang, lalu baru kemudian tidur. Jinki berlari kecil menyongsong suaminya.
"Kamu terlihat sangat capek hyung." Ucap Jinki sambil mengambil alih tas Changmin. Kemudian membantu membuka jas dan dasi.
"Hn. Ada beberapa masalah." Jawab Changmin. Ekor matanya melirik tempat box bayi yang biasanya berada disana. Tidak ada sama sekali. Bahkan segala tetek bengek atribut bayi pun tidak ada.
"Err.. Kim Gweeboon sudah datang. Ia baby sitter Yoogeunnie mulai sekarang. Jadi tidak mungkin kan kalau Yoogeunnie masih sekamar dengan kita." Jelas Jinki. Agak takut melihat perubahan air muka Changmin yang mendadak keruh.
"Kalau tak salah ingat, aku belum menyetujui akan adanya Baby Sitter Jinki ah? Apa aku salah?" Tanya Changmin. Nada bicaranya datar. Indikasi kalau pewaris tahta itu sedang marah.
"Kukira dengan diamnya hyung kemarin.. hyung setuju." Cicit Jinki.
"Tapi Bunda sudah setuju kok." Tambah Jinki buru-buru.
"Ah, apa sekarang pendapatku sama sekali tidak penting begitu?" pertanyaan Changmin membuat Jinki terdiam. Jinki sadar kalau dia memang salah kali ini.
"Kita bicarakan masalah ini besok saja heum? Hyung istirahat dulu." Ujar Jinki ragu. Tapi ia mendesah lega melihat anggukan dari Changmin.
.
.
.
Changmin menyorot tidak suka atas kehadiran Gweeboon pagi ini. Dia tidak rela anaknya diasuh orang lain. Kalau misalnya Jinki tidak berani merawat Yoogeunnie, dia mau-mau saja kok merawat anaknya. Bahkan kalau Yoogeunnie harus dibawa di tempat kerjanya, Changmin tidak masalah. Dia tidak mau ada orang ketiga dalam urusan rumah tangganya. Changmin sangat tidak suka dengan hal tersebut.
"Perkenalkan saya Kim Gweeboon. Saya yang akan merawat Yoogeunnie. Tolong jangan khawatir. Saya akan melakukan perkerjaan ini dengan penuh tanggung jawab." Ucap Gweeboon tenang.
"Aku ingin bertemu Yoogeunnie." Ujar Changmin lalu menerobos masuk. Ada Yoogeunnie yang sudah wangi dan bersih di box nya. Matanya bergerak-gerak seolah meneliti yang ada disekitarnya.
"Pagi Yoogeunnie.. appa sangat merindukannmu. Hemm.." ucap Changmin sambil menggendong Yoogeunnie dan mulai sibuk menciumi bibi gembul Yoogeun. Lalu dengan cueknya, melenggang keluar tanpa sedikitpun menoleh kearah Gweeboon. Changmin berniat membangunkan Jinki yang masih asyik tidur, walaupun sudah waktunya sarapan.
"Umma… ayo bangun.. lihat Yoogeunnie saja sudah sangat tampan. Apa tak malu dengan anak sendiri. hemm…" Changmin mencoba membangunkan Jinki, tampaknya berhasil. Mata Jinki mengerjap-ngerjap. Kemudian tersenyum senang saat mendapatkan morning kiss dari Changmin.
"Pagi Hyung…. Ah.. Yoogeunnie, selamat pagi sayang." Agak kaget melihat Yoogeunnie, tapi kemudian dengan senang hati ia mencium bibir mungil Yoogeun.
"Segeralah mandi, dan sarapan. Kami akan setia menunggu Umma, bukan begitu Yoogeunnie?" kekeh Changmin. Dengan menggerutu Jinki menyeret kakinya menuju kamar mandi. Jinki lega karena mood Changmin sudah membaik, seakan perdebatan tadi malam tidak terjadi. Tapi semua itu.. membuat Jinki khawatir. Jinki harus menunggu Changmin benar-benar membahas masalah Baby Sitter lagi. Jinki yakin Changmin tak akan melupakan masalah ini begitu saja. Jinki mendesah saat merasakan air dingin menyentuh kulitnya untuk pertama kali. Dalam hati ia akan mengikuti keputusan Changmin nanti, apapun itu. Apapun itu.
Di meja makan hanya terdapat Ratu Jung yang masih berkitat dengan roti bakarnya. Raja Jung sudah dua hari tidak berada di rumah. Beliau sedang dalam kunjungan kenegaraan ke Negara tetangga.
"Selamat pagi Bunda." Sapa Jinki sambil tersenyum manis. Ratu Jung benar-benar seorang yang awet muda. Lihatlah di usia yang sudah setengah abad, tak ada kerutan di wajahnya. Bahkan malah semakin mulus saja.
"Selamat pagi Jinki, Changmin. Kalian tidur nyenyak?" balas Ratu Jung. Sejenak melupakan rotinya.
"Yah, tentu saja Bunda." Sahut Changmin sambil terkekeh. Dia sibuk menciumi seluruh muka Yoogeunnie.
"Kamu sudah menemui Gweebon kan?" Tanya Ratu Jung mengingatkan. Changmin hanya bergumam sebagai jawaban.
"Ambillah sisi posi…"
"Bisakah kita tidak membicarakan masalah ini dulu?" potong Changmin dingin.
"Yaahh, terserah kamu. Sekarang lebih baik kita sarapan." Ucap Ratu Jung sambil menghela nafas. Ia yakin Changmin masih belum menerima seorang Baby Sitter untuk anaknya. Ratu Jung tahu sifat Changmin.
.
.
.
"Aku berangkat, dan jangan sekali-kali wanita itu menyentuh Yoogeunnie, kalau kamu tak berani menggendong Yoogeunnie, minta tolong saja sama Bunda. Bunda tak ada acara apa-apa hari ini." Changmin mewanti-wanti Jinki. Jinki mengangguk ragu. Kepalanya menoleh kearah Yoogeunnie yang sedang tidur di tengah-tengah ranjangnya.
"Tapi hyuuunggg…." Jinki tak sadar kalau ia tengah merengek seperti anak kecil. Mata sipit itu semakin terlihat cantik saat merajuk.
"Haaahhh, baiklah kalian ikut saja aku bekerja." Ujar Changmin terlihat putus asa.
"Hah? Kalian? Maksudnya? Aku dan …?" Jinki melirik Yoogeunnie horror.
"Iya, si manis Mama dan si Imut Yoogeunnie akan menemani papa bekerja. Sebentar aku siapkan barang-barang Yoogeunnie yang perlu di bawa." Sahut Changmin. Kemudian mulai sibuk dengan urusannya. Sedang Jinki hanya melongo. Dia bingung.
"Selamat Pagi, Mr. Jung…" sapa beberapa karyawan. Changmin hanya balas mengangguk. Jinki tersenyum manis. Karyawati disana merona pipinya. Beberapa tampak berbisik-bisik. Sayup-sayup terdengar karyawan menduga-duga siapa namja yang berjalan di belakang Changmin itu.
Sepanjang koridor kantor itu, Changmin sekeluarga sukses menjadi pusat perhatian. Selama ini keberadaan Jinki memang sebisa mungkin tidak dibiarkan terekspose. Seluruh rakyat hanya beberapa kali melihat sosok Jinki pada acara-acara penting. Bahkan mungkin saja sekarang rakyat melupakan wajah Jinki. Karena sudah hampir 1 tahun lebih Jinki tidak menampilkan sosoknya.
Changmin dengan cueknya menggendong Yoogeunnie, sedang Jinki Nampak kerepotan denga tas yang dibawanya. Tetapi sepertinya Jinki memilih menggendong tas daripada menggendong Yoogeunnie. Benar-benar seorang Ibu teladan.
Changmin memimpin Departemen Sosial sejak 3 tahun lalu. Sebelumnya ia bekerja sebagai seorang pilot pesawat tempur. Tetapi ia sadar kalau menjadi pilot itu penuh resiko. Dia tak ingin meninggalkan Jinki. Dia harus selalu bersama Jinki. Lagipula sekarang jarang terjadi perang, sebagai Pilot tempur, dia banyak menganggur kala itu. Pfff. Akhirnya Changmin banting setir menjadi seorang karyawan di bawah Departemen Sosial. Dan 1,5 tahun lalu ia diangkat menjadi pimpinan. Butuh usaha yang sangat keras tentu saja. Menyakinkan begitu banyak orang untuk percaya padanya. Sebagai Jung Changmin, bukan sebagai pewaris tahta.
Changmin membuka pintu kantor dengan tangan yang bebas. Warna serba coklat langsung memukau mata. Jujur saja Jinki baru pertama kali masuk kantor Changmin. Seperti biasa selera interior yang sangat patut di acungi jempol.
Brukkkk…
Jinki membuang tas yang dibawanya dengan sembarangan. Dengan berlari ia menghampiri meja Changmin.
"Hyung, kenapa hyung pajang fotoku yang jelek ini ha? Pasti karyawanmu sudah melihatnya, iya kan?" cecar Jinki sambil menunjuk fotonya. Disana ada Jinki yang sedang tidur dengan mulut terbuka, ada sebutir cherry di dalam mulutnya.
"Ah.. kau sangat lucu, jadi aku cetak saja. Saat suntuk dan stress foto itu sukses menjadi obat kok." Jawab Changmin tenang. Ia sedang menidurkan Yoogeunnie di sofa. Untung saja Yoogeunnie tidak terbangun mendengar suara Jinki.
"Tapi.. ini sangat memalukan. Aishhh. Hyung benar-benar tega." Gumam Jinki merasa terkhianati.
"Itu tidak memalukan, tapi sangat lucu. Nah silahkan duduk dengan tenang, biarkan aku bekerja." Ujar Changmin sambil menyeret Jinki agar duduk. Banyak laporan yang harus diperiksanya hari inin. Proposal pembangunan sebuah Panti Asuhan memang sedang banyak-banyaknya. Lagian pemerintah sedang melaksanakan tugas melakukan pembersihan seluruh anak jalanan. Jadi sekarang ini berbagai pihak sedang giat-giatnya membangun sebuah Panti Asuhan. Ada sekitar 30 Panti Asuhan baru.
Keluarga kerajaan sendiri mempunyai Panti Asuhan milik pribadi. Tapi jumlah nya terbatas. Hanya 3 buah, dan semuanya sudah penuh. Rencananya Changmin akan membangun 2 buah lagi, tetapi masih belum ada waktu untuk mengurusnya. Atau ia membiarkan Jinki menghandle proyek tersebut? Ide yang tidak buruk sepertinya.
"Hyung, aku bosaaannnn sekali." Sahut Jinki sambil menguap. Changmin hanya bergumam. Dia masih focus dengan dokumen didepannya.
"Yoogeunnie, lihat Papa mu jahat sekali. Ia tak menghiraukan Ayah." Adu Jinki pada Yoogeun, tetapi Yoogen terus saja tidur. Jinki benar-benar kesal dibuatnya. Ayah anak sama saja.
.
.
.
Kantor Changmin ramai oleh rengekan Yoogeun, bayi itu sudah bangun setengah jam lalu, dan terus merengek. Tangannya menggapai-gapai udara. Kakinya menendang-nendang. Jinki berjalan mondar-mandir di depan Yoogeun, tak tahu harus melakukan apa. Changmin sedang bertemu dengan sesorang, baru saja. Jinki tak mungkin menginterupsi pertemuan tersebut bukan?
Niatnya mau menenangkan Yoogeun, tetapi karena si bayi terus meronta, ia menjadi panic sendiri dan menjadi semakin panic, saat Yoogeun tidak mau meminum susunya.
Baaa….
Jinki menutup mukanya dengan tangan, lalu membukanya secara tiba-tiba sambil berteriak Baaa…
Bukan diam, Yoogeun malah semakin menangis. Tak putus asa, Jinki mengambil mainan gemerincing, lalu membunyikannya tepat didepan wajah Yoogeun. Sejenak Yoogeun terdiam, tapi kemudian ia menangis lagi. Tanpa berfikir lagi, Jinki menelfon Changmin, bermaksud meminta bantuan.
Tuuut…tuuuttttt… tuuuuuuuuuuuuttt
Tidak diangkat. Jinki menggerutu.
Jinki mengirup nafasnya dalam-dalam. Kemudian mulai mencoba menggendong Yoogeun. Kedua tangan Jinki sudah berada dibawah badan Yoogeun. Tinggal mengangkatnya. Pelan-pelan, lebih pelan lagi.. kamu bisa Jinki, batinnya menyemangati.
Yoogeunnie berhenti menangis saat sudah berada di dekapan Jinki. Seluruh tubuhnya berhenti meronta. Tanpa sadar Jinki menangis. Rasanya benar-benar bahagia bisa melawan rasa takutnya. Jinki bahagia, akhirnya ia bisa menggendong Yoogeun.
Brakkk..
Changmin membuka pintu kantornya terburu-buru. Tetapi kemudian ia mematung diambang pintu melihat Jinki menggendong Yoogeun.
" Hyuungg… changmin hyung, akhirnya aku.. akhirnya.." gagap Jinki, air matanya mengalir dengan deras. Sambil tersenyum Changmin menghampiri Jinki.
"Yah, kamu hebat sekali, Jinki. Aku mencintaimu." Ujar Changmin bahagia, dikecupnya dahi Jinki lama. Kemudian menghapus bulir-bulir air mata yang masih terjatuh.
"Rasanya bahagia dan menyenangkan hyung, aku menyukainya.." ujar Jinki pelan. Changmin mengangguk. Ia juga bahagia.
Tbc
Huwaaaa… lama bener saya update fict ini. Maaf.
Terima kasih yang udah Review, follow ataupun fav fict abal ini. Terima kasih.
Semoga gak bosen sama chapter ini yang saya akui terkesan datar.
Mungkin chapter depan konfliknya udah mulai terlihat.
Terima kasih.
Salam terhangat dari Saya. Hehehehehehe 3
Nb. Saya buka Ffn via web di hp enggak bisa TTT_TTT
Pake opera mini juga enggak bisa!
Tolong saya…. :D
