Disclaimer : J.K. Rowling

Pairing : Drarry

Rated : M

Genre : Romance, Drama, and little bit sci-fi

Warning : OOC, BL/Boys Love, Typos and Miss Typos, Alternative Universe, Bastard|Draco, Lemon—in next chapter, Half Kitty Harry, Fluffy, dll


Saya menganut istilah, "Don't like, don't read" ok!


-Chapter 4-


Harry termenung. Entah sudah berapa lama ia terduduk di bangku cafeteria ditemani satu jus jeruk dan dua potong roti isi di mejanya. Laptop putih di depannya masih juga menampilkan tontonan yang sama—sebuah artikel dari internet yang berisi tentang pendapat para ilmuan akan rekayasa genetik. Bukan sesuatu yang lumrah, tetapi bukan juga sesuatu yang tidak mungkin. Mungkin Snape adalah salah satu orang yang termasuk dalam perkumpulan yang menganut paham seperti itu.

'Tidak ada yang tidak mungkin di dunia.'

Sekarang Harry mengerti kenapa Snape menjadi seperti sekarang—tempramen. Mungkin professor galak itu terlalu banyak berpikir akan kebenaran teori tersebut.

Jangan ingatkan Harry pada sebutannya untuk Snape. Itu sangat fatal akibatnya—mungkin lebih menyeramkan dibandingkan apa yang telah menimpanya beberapa hari kemarin.

Kejadian-beberapa-hari-kemarin?

Harry berkedip. Tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya yang semerah delima itu dengan gemas. Rasa kenyal yang ia rasakan pasti telah dirasakan si brengsek Malfoy juga. Ngomong-ngomong dimana si bejat itu? Setelah menggigit dan menghisap habis rasa manis—menurut Harry—dari bibirnya, pemuda bersurai platina itu tidak terlihat lagi. Bukan salah Draco juga sih sebenarnya, karena pada dasarnya untuk beberapa hari kemarin Harry memang benar-benar berusaha menjauh. Tidak mengidahkan setiap godaan yang dilontarkan orang memuakan itu, ia malah langsung berlari tanpa tentu arah hanya untuk tidak bertatap wajah—dan tentunya agar menghindar saat tanpa sengaja melihat benda lembab yang telah bersentuhan dengan bendanya.

Tidak, Harry bukannya merasa kehilangan atau apa—tentu saja bukan, ia sangat yakin akan itu. Akan tetapi Harry sedikit memikirkan nasib proyek yang seenaknya Draco setujui ini. Batas tenggang beberapa bulan yang diberikan Snape bukanlah waktu yang cukup—sebenarnya—untuk proyek yang bahkan mungkin memerlukan puluhan tahun penelitian. Sejenak Harry berpikir mungkin Draco sama pemimpinya dengan Snape, atau mereka sebenarnya berjenis sama? Pemimpi, menjengkelkan, dan tentunya selalu menatapnya dengan padangan penuh arti. Sial, sekarang Harry berpikir jika mungkin Snape itu sama gilanya dengan Malfoy itu.

Ia menghela nafas. Berusaha menghilangkan pikirannya yang dari tadi terpusat pada musuhnya itu. Harry akhirnya kembali memfokuskan matanya pada layar laptop—dengan bibir bawah yang masih ia gigit gemas sesekali.

'Inti permasalahannya adalah apakah makhluk hidup sungguh [mampu] berubah hingga tingkat tak terbatas (spesies terlihat tetap). Kita semua telah mendengar kekecewaan pemulia yang telah bekerja keras hanya untuk mendapatkan hewan atau tumbuhannya kembali ke bentuk seperti di awal kerja mereka. Meskipun ada usaha keras selama dua atau tiga abad, tetap belum mungkin menghasilkan mawar berwarna biru atau tulip berwarna hitam.'

Ini gila.

Saat membaca bagian dimana Norman Macbeth, yang menyanggah Darwinisme dalam bukunya Darwin Retried, Harry langsung berpikir jika ituterdengar lebih masuk diakal. Dimana tidak ada rekayasa genetik yang dapat membuat satu makhluk hidup bermutasi lebih dari yang pernah didapat. Harry memasukkan sepotong roti dalam mulutnya. Dia memejamkan mata sejenak—sedikit merenung untuk tidak terlalu memporsir otaknya sekarang—tapi sepertinya tidak juga membuatnya lebih mendingan.

"…dan Proffesor Snape dengan begitu percaya dirinya, berpikir jika aku dan Malfoy itu mungkin dapat membuat manusia bermutasi sampai tingkat yang—sangat mustahil. Ini gila!" gerutunya.

Harry begitu terfokus pada pikirannya dibanding dengan kedua sahabatnya yang—entah sejak kapan—terduduk manis di depannya. Hermione dan Ron saling berpandangan. Mereka berdua cukup tahu jika Harry sekarang pasti tengah sibuk. Tapi melihat keadaan wajah Harry yang cukup mengenaskan bukanlah pilihan yang tepat untuk tetap dipertahankan. Dengan iseng Ron menutup layar laptop Harry.

"Ron?"

Ron terkekeh, "Well, kau terlalu fokus pada pekerjaanmu mate, hingga tidak melihat kami yang duduk di depanmu." Ia menyampar jus jeruk milik Harry dengan beringas, tanpa jijik jika mungkin itu akan menjadi ciuman tidak langsung mereka.

"Sejauh yang kulihat, Harry lebih tepat terlihat kacau, Ron."

Ron memutar matanya bosan. "Boleh kuambil rotimu?" tanyanya pada Harry.

Harry mengangguk. "Yeah, silahkan. Kau boleh mengambil semuanya." Jawabnya malas. Harry berpaling lagi, ia kembali memposisikan layar laptopnya seperti semula dan melihatnya dengan tatapan begitu memelas. Beberapa kali kaca mata bundarnya merosot dari hidung bangirnya.

Hermione memandang prihatin wajah manis di depannya. Ia melirik Ron yang malah asik menyantap roti isi milik Harry. Hermione mendengus, dan melihat Harry dengan tatapan begitu bengis. "Oke, Harry… apa yang sedang terjadi?" tanyanya. Harry melihatnya aneh, dan Ron menatapnya bingung. "Matamu tidak benar-benar fokus membaca. Biasanya kau begitu atunsias dalam masalah ilmu pengetahuan yang begitu kau cintai itu. Tapi sepenglihatanku sekarang, kau malah terlihat begitu terbebani dan memaksakan untuk membaca. Jadi ada apa, Harry?"

Harry begitu bangga memiliki sahabat seperti Hermione. Selain dapat memberinya satu jalan keluar, Hermione pun begitu peka dalam keadaan sekitarnya—terutama padanya dan Ron. Hermione seperti kakak perempuan untuknya, guru dalam memecahkan permasalahan, teman curhat yang bahkan lebih memberikan rasa nyaman daripada Ron, serta ibu yang memberikan ia motivasi tinggi jika ia dalam keadaan terpuruk.

Tidak buruk Hermione memasuki fakultas psikologi. Itu lebih mendorong sisi keibuannya.

Hermione itu seperti seorang wanita yang benar-benar diidamkan setiap lelaki. Pintar, baik, dan juga begitu pengertian. Diam-diam Harry memberikan Ron selamat karena telah berhasil memenangkan hati Hermione dengan tingkah luar biasanya.

Harry melirik Ron yang terlihat ikut terlarut dalam argument yang diberikan Hermione—walau sebenarnya pemuda berambut merah itu masih saja sibuk mengunyah. Ia menghela nafas, "Entahlah, 'Mione. Aku tidak begitu yakin," Harry menyingkirkan laptopnya, meletakkannya lebih ke samping hingga ia bisa langsung bertatap muka dengan kedua sahabatnya. Harry berpikir, apa harus dia membicarakan masalah 'mengerikan' ini pada kedua orang dihadapannya ini? Sebenarnya mereka bukan orang yang tidak dapat dipercaya, hanya saja Harry masih merasa kurang 'mengena' untuk bicara jujur. Harry melirik Hermione, dan ia akhirnya menghela nafas. "Ini… sedikit aneh, 'Mione. Mungkin kau bisa sedikit memberiku alasan untuk menjauh dari kata 'tertarik'."

Hermione dan Ron saling berpandangan.

"Kau tertarik pada apa, mate?"

"Atau… siapa, Harry?" pertanyaan Hermione terdengar lebih pas di telinganya.

Ia tahu jika kedua orang ini akan bertanya seperti itu. Harry semakin galau, perasaannya tidak menentu, dan dia juga belum terlalu yakin dengan debaran jantungnya yang terasa seperti terlonjak-lonjak itu. Ia menggeleng, "Aku tidak tahu. Rasanya seperti aku harus menjauh, tapi ada sesuatu yang begitu menarik hingga rasanya aku ingin terus menjadi perhatiannya saja." Harry beralasan.

Hermione menggeleng, "Kau tertarik lagi pada… Cedric?" ia memelincingkan matanya dengan tajam. "Setelah apa yang dia lakukan, kau masih tertarik pada orang seperti itu?!"

"Tidak! Bukan dia. Tentu saja bukan orang itu." Harry berdiam diri. Rasanya lebih sulit saat ia bercerita tentang Cedric—dulu. Mungkin karena orang ini lebih dari sekedar menyebalkan seperti Cedric. Lebih pada kata, 'sangat-tidak-boleh-didekati', ya mungkin karena itu. "Rasanya lebih aneh. Seperti ingin berteriak, setiap kali bertemu."

Ron mendesah frustasi. Ia tidak suka dengan permainan teka-teki, tapi memiliki teman yang selalu saja bermain petunjuk-dan-temukan seperti Harry itu selalu saja membuatnya harus berpikir sangat keras. Ron melirik kekasihnya, melihat wajah Hermione yang sepertinya mengetahui sesuatu Ron akhirnya lebih memilih diam dan membiarkan kedua orang berotak cemerlang itu saling berunding. Lagipula, jika ia ikut berpikir, mungkin hanya akan mendapatkan jalan buntu.

Lain Ron, lain juga dengan gadis cantik ini. Hermione sedikit tidak yakin dengan petunjuk yang diberikan Harry. Pikirannya mengarah pada seseorang yang sedang menuju ke arah mereka sembari menyeringai—seperti orang gila. Tapi… apa benar?

"Aku tidak terlalu yakin harus bicara seperti apa, Harry. Tapi… aku hanya akan bilang, kau harus mengikuti arah kemana hatimu, bukan otak dan matamu."

Tepat setelah Hermione berkata seperti itu. Draco Malfoy, si tampan berjulukan pirang brengsek itu datang, dengan begitu mudah melewati mereka tapi seperti mencari perhatian. Dia sengaja menubruk sedikit punggung Harry, dan melenggang tanpa rasa bersalah sembai tertawa—padahal di sampingnya ada seorang wanita cantik dengan body begitu… sulit dijelaskan.

Harry mendelikkan matanya, dia membenarkan letak kaca matanya yang sedikit hampir terjatuh.

"Kau masih perlu kami temani, Harry?" Hermione melirik Draco yang menyeringai ke arah mereka berempat. Beberapa teman si pirang itu terlihat masih saja tertawa sambil sesekali melemparkan ejekan demi ejekan tidak bermutu pada mereka, sedangkan si pirang masih sibuk dengan gadisnya.

Harry mendelik. "Tidak, terima kasih, 'Mione. Aku rasa kalian pun memiliki urusan sendiri, bukan? Dan sepertinya aku pun memiliki beberapa masalah disini yang harus segera di selesaikan."

Ron memutar matanya. "Jika kau ingin beradu mulut, setidaknya ajak aku, mate." Harry tertawa mendengar lelucon yang dilontarkan sahabatnya itu. Tidak selang beberapa detik, Hermione dan Ron sudah pergi dari sana.

Ia, Harry dengan pandangan muak segera membereskan laptopnya. Memasukkannya pada tas gendong berwarna hitam. Berjalan dengan sengaja dibuat menghentak-hentak, Harry berhenti tepat di hadapan anggota biang keributan—kelompok Draco maksudnya. Harry tidak begitu peduli akan beberapa mahkluk gendut yang selalu menempel pada Draco itu mengejeknya. Tidak menghidahkan tatapan bertanya Blaise dan Theo. Sekarang, ia lebih fokus pada Draco yang menyeringai sambil tetap mengelus bahu milik gadisnya.

"Aku rasa kita memiliki urusan yang belum selesai, Malfoy."

Draco menyeringai. "Aku tidak merasa memiliki urusan denganmu, Potty." Jawabnya mengejek. Si dua mahkluk gendut disana kembali terbahak dengan kencang mendengarnya.

Harry mulai jengah. Jika saja sekarang mereka bukan berada di tempat umum, Harry pasti akan menarik tangan pucat yang sedang melingkar di leher si gadis satu-satunya disana. Entah kenapa, Harry begitu muak melihatnya. Entah karena itu artinya Draco tidak memperhatikannya sedang berbicara dengan serius dan masih fokus mengelus gadisnya, atau karena hal lain. Yang terpenting sekarang Harry muak untuk diajak berdebat.

"Kalau begitu, aku akan bilang pada Professor Snape jika Draco Malfoy tidak bersedia untuk melanjutkan proyeknya, dan silahkan ucapkan selamat datang pada nilaimu yang terbaru, Malfoy." Harry menyeringai.

Tapi Draco tidak mau kalah. Ia juga menyeringai lebih lebar, "Ya, semoga saja begitu. Karena pada kenyataannya, aku sudah memiliki beberapa pemikiran lebih ke depan. Jika perlu kau tahu, aku sudah menyiapkan beberapa rencana percobaan akan satu serum yang kemungkinan besar menjadi titik jadi proyek kita, Potter." Draco terlihat semakin tampan dengan mata yang menyorot dalam iris berhalangkan kacamata Harry.

Harry termangu. Ia merasa benar-benar kalah. Jika hanya dalam beberapa hari saja Draco sudah dapat beberapa rumus kimia untuk proyek mereka, apa yang telah dia lakukan? Ia hanya bergelung tidak menentu pada beberapa pernyataan akan ketidakmungkinan proyek mereka.

Harry terdiam. Merasa begitu malu, tapi juga tidak ingin semakin dijatuhkan. "Jadi, maksudmu kau ingin mengerjakannya sendiri?" Ia menatap Draco dengan pandangan kesal. Menyilangkan kedua tangannya di depan dada, Harry kembali bicara. "Oke, aku akan bicara pada professor jika aku mundur dari proyek ini."

Harry berbalik. Seperti saat kejadian bersama Cedric, Harry merasa layaknya seorang kekasih yang sedang merajuk. Tapi berlama-lama disana hanya akan semakin membuatnya berada di antara kaki Draco. Sejenak ia meruntuki dirinya karena berbicara asal ceplos seperti tadi. Tanpa berpikir mungkin Snape akan langsung memberikan nilai paling jelek dalam sejarahnya.

Tapi Harry tidak dapat kembali dan mengemis pada orang yang telah melecehkannya. Sekarang Harry sekarang malah mencoba berpikir mungkin Draco akan langsung mengejarnya dan menggodanya untuk tidak keluar dari proyek mereka. Katakan Harry menjadi orang yang gila karena berharap seperti itu, tapi hanya hal itu yang bisa membuatnya menghentikan rencana bodohnya.

Draco menyeringai, lalu melirik Blaise. Saling bertukar pandangan penuh arti.

Tanpa aba-aba, Draco segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi. Meninggalkan Blaise yang menghela nafas, Theo yang melihatnya dengan pandangan aneh, kedua mahkluk bulat yang terus saja mengunyah dan tunangannya yang memandang punggung Draco penuh arti.

Wanita cantik itu terlihat sedang memikirkan sesuatu, tetapi tetap tenang.

.

Harry mendelik. Kesal, perasaannya sedang benar-benar tidak menentu. Tapi orang ini tetap saja mengikutinya sambil tersenyum tidak jelas. Ingin sekali rasanya Harry berteriak, 'Kau sudah berhasil mempermalukanku, jadi seharusnya kau berada di sana—tertawa dengan kawan-kawanmu yang sama tidak bermutunya denganmu!' tapi sialnya, Harry tidak bisa. Selain karena memang ia bukan orang yang suka memaki dengan kasar, Harry juga masih merasa terlalu malu untuk hanya sekedar bertatap muka dengan pemuda platina ini.

Tapi… disisi lain Harry merasa senang bukan kepalang.

Dia merasa benar-benar dapat mengendalikan Draco. Merajuk sesekali seperti tadi ternyata bisa mempertahankan sikap egoisnya. Harry hanya tinggal melancarkan sikap kesalnya, menunggu Draco agar buka suara dan membujuknya—dengan sangat tidak sekali—lalu mereka kembali bekerja sama.

Ha-ah, Harry sekarang berterima kasih pada salah satu sifat Draco itu.

Si penggoda itu telah menyelamatkannya—ya, jika Draco memang mengajaknya untuk kembali bersama. Tidakkah pernyataan Draco mengajaknya kembali bersama itu terdengar seperti mereka berpacaran, break, lalu berbaikan?

"Kau kenapa, baby?"

Harry berhenti menggeleng. Ia melirik Draco yang ternyata sudah ada di samping tubuhnya. Enggan untuk menjawab, Harry hanya diam dan tetap berjalan—ke arah lorong menuju ruangan yang biasa digunakan Snape, laboratorium.

"Hey, jangan seperti ini. Aku menjadi terlihat seperti kekasih yang telah memperlakukanmu dengan jahat." Katanya. Harry tetap diam, sesekali membenarkan tas di punggungnya dan kaca mata bulatnya yang bergeser ke bawah. Draco tidak tinggal diam, dengan cepat ia mencekal pergelangan tangan kiri Harry. "Kau sangat tidak cocok untuk merajuk, baby," Draco menyeringai saat Harry mengerang kesal karena lagi-lagi mereka melakukan drama picisan di lingkungan universitas. "Oke, berhenti merajuk, dan jangan keluar dari proyek ini. Aku tidak ingin nilai sainganku jatuh hanya karena masalah sepele tanpa ada persaingan lagi."

Harry menatap Draco jengah. "Ah, bukankah kau bilang kita tidak punya urusan sama sekali?" nada ejekan itu malah membuat Draco terkekeh. Pemuda pirang platina itu dengan seenak jidatnya menarik tangan Harry hingga kedua tubuh mereka berhantaman.

"Kau tidak boleh keluar, setidaknya sebelum aku berhasil merasakan tubuh munggil dan hangatmu ini, sayang."

"DASAR SINTING!"

Harry berlari dengan wajah memerah, dan Draco terkekeh dengan ekspresi penuh kemenanangan.

.

.

.


At the library, suasananya begitu sepi. Seorang wanita gemuk berambut penuh uban dan bertampang sangar terlihat begitu serius dengan buku yang dibacanya, sesekali melirik tajam ke seluruh penjuru ruangan perpustakaan sambil sedikit menurunkan kaca matanya. Beberapa kali wanita paruh baya itu mendesis kesal saat salah satu pengunjung perpustakaannya berbicara dengan suara yang lumayan mengganggu telinga.

Draco dan Harry mengambil tempat paling ujung karena tidak ingin berdekatan dengan wanita itu. Mereka perlu berdiskusi setelah membaca beberapa referensi dari buku, jadi mengeluarkan suara didekat wanita itu bukanlah pilihan yang tepat. Mereka tidak akan dengan leluasa saling berbagi pikiran jika saja setiap bersuara akan ada desisan—terdengar seperti berada dikandang ular.

Harry melirik Draco yang sedang serius membaca.

Sudah hampir satu bulan penuh ia dan Draco bersama-sama memecahkan setiap permasalahan dalam proyek mereka. Sekarang mereka seperti pasangan tak terpisahkan. Setiap waktu selalu bersama—termasuk juga saat jam makan siang. Draco tidak lagi terlihat terlalu sering bersama dengan teman-teman satu kelompoknya, atau selalu menggoda wanita-wanita seksi. Harry pun tidak terlalu sering lagi berbincang dengan kedua sahabatnya. Mereka lebih sering terlihat berduaan hingga beberapa wanita—mantan teman bermain—Draco bergosip tidak jelas.

Apa-apaan mereka seenaknya saja bicara jika ia menjalin hubungan dengan Draco? Hell, jangankan menjalin hubungan, dia mau bicara dengan Draco saja sudah untung. Ada lagi yang menyebarkan isu jika selama ini ia selalu mencari perhatian Draco saat bekerja sama. Bukankah itu terdengar begitu tidak masuk akal? Sepenglihatannya, Draco 'lah yang selalu mencari gara-gara terlebih dahulu.

Jika menurut Hermione, pandangan orang yang sedang cemburu itu memang berbeda. Ya, dan hebatnya hampir semua wanita—mantan teman ranjang—Draco itu cemburu padanya. Jangan lupakan jumlahnya yang hampir satu universitas.

"Menyukai apa yang kau lihat, baby?"

Harry mengerjap. Wajahnya memerah malu. Sekarang jarak antara wajahnya dan Draco tidak lebih dari 3 sentimeter. Melihat mata abu-abu yang tajam tapi terlihat sayu itu membuatnya berdebar. Harry menurunkan sudut pandangnya, melihat hidung mancung mengkilap—berminyak—dan turun lagi ke arah bibir tipis sedikit pucat itu.

'Sial, kenapa begitu… berdebar?!'

Harry meneguk ludahnya tanpa sadar. Melihat sedikit garis lurus di bibir itu melengkung indah, membentuk satu seringaian yang begitu menggoda. Tangannya bergetar, dan nafasnya mulai memburu. Harry hampir kehilangan kesadaran saat Draco mulai mengikis jarak antara mereka. Harry merasa telinga berdenging saat suara desahan nafas Draco merasukinya. Bagian rahangnya menghangat, dan Harry merasa ia begitu dapat merasakan Draco di dalamnya. Nafas itu mengalir dari telinga ke tenggorokan menyebabkan suaranya terdengar menyicit.

"Bukankah ini terasa begitu—sama?"

Harry menumpukan satu tangannya di dada Draco, dan satu lagi menyangga tubuhnya agar tidak lagi terdorong ke belakang.

Draco tersenyum di samping sela leher dan bahu Harry. Menghirup wewangian hutan pinus sedikit berbaur dengan kulit jeruk, menyerupai wangi citrus tapi lebih lembut. "Harry," Draco tahu jika pemuda beriris emerald ini sedang dalam keadaan menahan nafas. Sentuhan ringan tak seberapa dari ujung hidungnya itu ternyata begitu berdampak besar pada pemuda manis di bawah kungkungannya ini. "Parfum apa yang kau gunakan ini, baby? Ini terasa begitu memikat."

"Sssst!"

Harry yang hampir memejamkan mata terhanyut langsung tersadar. Wanita tua penjaga perpustakaan itu sedang melihat kearah mereka berdua. Dengan segera Harry berinsut menjauh dan mendorong tubuh Draco menjauh. Tapi dasar tidak ingin ketinggalan kesempatan, Draco malah mencengkal tangan Harry. Mengecup pelan leher Harry intens.

"Malfoy,"

Draco mendesis. "Bukan seperti itu caranya memanggilku, baby."

Harry melirik lagi si wanita tua. "Draco—hh," panggilnya berbisik. Si wanita tua itu mendesis lagi kesal, dan Harry mulai malu saat hampir seluruh mahasiswa yang sedang sibuk membaca melirik ke arah mereka. "—menyingkir dariku!" Harry melirik lagi. Sekarang fokusnya bukan lagi wanita penjaga perpustakaan dan mahasiswa lain, melainkan seorang yang—entah sejak kapan—berdiri di depannya, di belakang Draco. Orang itu menyingsingkan lengan bajunya.

Harry meringis, dan menutup mata ngeri.

—dan yang terdengar hanya suara tertahan Draco, serta rasa sakit yang mengahantam lehernya saat tidak sengaja Draco menggigit bagian itu. Mungkin sekarang kulitnya sudah memerah karena tergigit.

Sepertinya lain kali Harry sebaiknya menyingkir terlebih dahulu sebelum Snape yang berbuat. Itu lebih baik dibandingkan ia harus merasakan rasa panas di lehernya yang menjadi korban—tidak langsung atas perbuatan mereka. Ah, mungkin sebaiknya juga ia harus mendorong Draco bukannya menikmatinya.

Tunggu…—menikmati?

.

.

"Jika ingin melakukannya, gunakan tempat yang lebih tertutup, Mr. Malfoy, Mr. Potter! Dan, jangan saat kalian seharusnya menyelesaikan tugas!"

.

.

.

.

Tbc~


A/N: tadinya aku udah buat 2 versi buat chapter ini, tapi ternyata versi yang satu malah buat fic ini jadi lebih ribet (dan pastinya buat aku pusing dan terancam moody) -_- alhasil aku post versi ini (padahal yang satu ada limenya loh) /anda sengaja/ ... kayanya chapter ini ga dapet feelnya deh aku. Rasanya kecepetan pengen buat banyak romance Drarrynya -_-

Nah, maaf untuk yang minta update asap. Saya ga bakalan pernah bisa update asap TToTT.. karena jujur, aku lagi pusing banget masalah duta -_-

Lemon? Aduh, aku blum tahu kapan Drarry lemonan ToT Harry nolak mulu pas diajak mulai foreplay, jadi tunggu suasana adem anyem dulu ya baru kita buat mereka anuan hehe

Typos… typos! Maaf banget, padahal aku udah cek sampe dua kali tapi masih aja ada yang nyangkut gitu dasar mataku mulai ngabur, jadi begini nih maaf, nanti aku coba berbaiki lagi. Thank you yang udah kasih tahu perihal ini hehe/kecup basah/ XD

Tunangannya si Drake muncul tp selalu ga ketahuan ya orangnya siapa? Haha, sengaja. Dia bakalan dijelasi disana hubungan Drarry mulai nganu-nganu. Biar lebih drama lagi XDD hayo, coba tebak siapa tunangannya Drake~… (itu aku loh) /GAK/

Panggilannya Draco itu emang buat ngejek sekaligus mengegoda. Kaya semacam anak SMP yang pengen cari perhatian tapi caranya salah itu loh. Ya begitu lah. Pengen deket tp caranya ngeledek gitu, jadinya bikin yang pengen di deketin malah enek plus gedek.

Dae victen, SparkleBreath, soura-batrisyia, URuRuBaek, sivanya anggarada, ChubbyMinland, Wonyu stalk, Lee Kibum, Euishifujoshi, ChaaChulie247, SumbaRella, MPREG Lovers, zhe, Rikanagisa, DarkLiliy, ScarheadFerret, DeviBalfas, alysaexostans, BcozI'mNaughty, kuroko, wu shui shan, Cupid, Kaisoo addicted, siyunaa, kucing putih, avs1105, dyahprad

Mind to give me review?