Disc: J.K Rowling
Warning: AU, AR, no magic, slash, boys love, girls love, misstypos, isi fic agak beda(?) dengan judul, penulisan masih acak-acakan, sedikit membingungkan mungkin, ada unsur badwrod dan hampir menjerumus ke rated M karena 'suatu alasan'
Review please.
=oo=
.
Helga adalah gadis polos.
Itulah, tanggapan mereka bertiga ketika baru mengenal sosok gadis dengan surai pirang madu bernama Helga Hufflepuff. Semacam, first impression mereka, yang ternyata sangat keliru. Mereka mengira Helga itu orang yang tak suka kekerasan, dan berhati lembut–baiklah dia memang memiliki hati yang lembut, tapi tak suka kekerasan?
Dia bahkan pelaku pembunuhan.
Shock? Jelas.
Karena mereka berpikir Helga sangatlah polos cuma untuk menggores kulit orang memakai silet maupun pisau, itu saja secara tidak sengaja. Tapi siapa sangka? Godric memiliki teman sepemikiran dengannya; membunuh itu menyenangkan.
"Kalian sadar ada yang aneh dengan Helga?" suatu hari yang cerah, Salazar mendadak mengungkapkan sesuatu ketika mereka berkumpul tanpa Helga di ruang tamu.
"Seperti apa?" Godric bertanya dengan bingung, berhenti mengasah pedangnya hanya untuk menoleh ke Salazar.
"Kau kan selalu bersamanya saat kuliah, kau tak meyadarinya?" dan Salazar malahan bertanya balik daripada berniat menjawab pertanyaan Godric, memandang Godric skeptis.
Rowena ikut berbicara, "Ya, aku menyadarinya," ujar wanita itu menghela napas, "dia lebih muram akhir-akhir ini, dan jarang berbicara yang tidak penting juga, bahkan jarang mengatakan cinta padaku lagi."
"Shut it, dasar bucin," Godric melempar kertas yang diremas ke arah Rowena.
"Kau harus melihat topmu, bocah," balas Rowena balik melempar kertas yang berbentuk bola itu ke Godric. "Memangnya kau tak menyadari ada yang aneh gitu dengan Helga?"
Godric diam sebentar, mengingat-ingat dulu, sebelum akhirnya dia menjetikkan jarinya senang. "Oh aku tahu! Kalau tidak salah ada laki-laki yang mengatakan sesuatu pada Helga beberapa hari lalu, aku tak mendengarnya, dan setelah itu Helga selalu nampak sedih!"
"Begitu ya," respon Salazar pelan, Helga sudah seperti adiknya sendiri.
Mereka akhirnya tak berbicara, memikirkan tentang tingkah Helga minggu ini. Dan mendadak keheningan itu dipecahkan oleh Rowena yang berseru keras, matanya berkilat tajam dengan seringai yang tertampang di wajah cantiknya, mencetuskan ide pintarnya.
"Bagaimana kalau kita melakukan 'pembalasan manis' bagi siapa saja yang membuat Helga sedih?"
=o^o=
Pemuda itu membuang napas gusar, mendecak kesal menunggu seseorang di gang gelap dengan pisau yang sejak tadi bersembunyi di dalam mantelnya, sembari memainkan sarung tangan dengan gelisah. Dia mengerling sana-sini untuk mengurangi rasa tak sabar akan membunuhnya, mengetukkan ujung sepatunya berkali-kali. Mendadak seseorang memanggilnya, dia menoleh menahan antusiasme miliknya.
"Hey!" Lelaki itu menyapanya, Godric mengangguk membalas sapaan itu sambil tersenyum datar, "ada apa?"
"Flint," Godric melebarkan senyumnya, dia tak ingin basa-basi, mengambil pisau yang berada dalam mantel, mengarahkan pisau itu tepat dada Flint.
Flint nampak kaget, dan takut sekaligus melihat pisau yang mengkilap dalam gelap bersamaan seringai mengerikan Godric. "A-apa yang akan kau lakukan?! M-menjauh!"
Godric membekap mulut Flint setelah dengan sengaja membuat Flint terjatuh saat Flint akan kabur, "Lebih nyaman seperti ini, tak terlalu banyak kebacotan," ujarnya pelan, mengangkat pisau tinggi-tinggi, tak mempedulikan Flint yang mencoba menjerit meminta pertolongan–usaha yang sia-sia. Lalu Godric berujar pelan, dan mengancam, "Kau mengganggunya, kau berurusan dengan kami."
Dan Godric mengayunkan pisau dengan cepat pas di dada lelaki itu, darah keluar deras dari hasil tikamannya, menodai ssarung tangan serta mantel yang dia pakai. Godric beranjak berdiri setelah dirasa Flint selesai berteriak kesakitan, menatap tubuh malang Flint yang dimandikan darahnya sendiri, dan Godric membuang napas lagi sambil melepas mantel serta sarung tangan miliknya, lalu mengganti pakaian atasnya.
Dia kemudian terlihat malas melakukannya, menggendong backpack yang dia taruh di dekat tempat dia melukai Flint, pemuda itu sontak berlari ke arah keramaian dan berseru keras.
"Help me! Somebody help me! Ada orang yang melakukan bunuh diri!"
=o^o=
Salazar menoleh pada Rowena yang masuk ke dalam mobilnya, wanita itu duduk di kursi penumpang depan. "Ada kabar dari Godric?"
"Ya," jawab Rowena menunjukkan pesan dari ponselnya–bukan pesan dari Godric, tapi pesan dari rumah sakit yang menghubunginya. "Sebaiknya kau mau mengantarku sekarang."
"Baiklah, dokter," Salazar memutar mata, mulai menyalakan mesin mobil dan melaju dengan kecepatan rendah.
.
Rowena berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit, pesan dari rumah sakit mengatakan bahwa ada gadis yang mengatakan mencoba menyelamatkan temannya dari percobaan bunuh diri tanpa alasan. Mendengus geli diam-diam, Rowena memakai jas putih khas dokternya yang tergantung manis di kantornya dan segera menuju ruangan operasi.
"Akhirnya anda datang, Mrs Ravenclaw!" Salah satu perawat menghampirinya panik.
"Bagaimana keadaan pasien, Andromeda?" tanya Rowena sembari memakai masker dan sarung tangan, "maaf aku terlambat, tadi macet di jalan."
Perawat itu hanya mengangguk, "Pasien dalam keadaan kritis, detak jantungnya makin melemah."
"Oke, kita segera lakukan saja operasinya."
"Baik!"
Selama beberapa jam Rowena berkutat dengan kegiatannya, mengoperasi seorang laki-laki yang ternyata memiliki luka tusukan yang serius, Rowena tak bisa berhenti tersenyum gemas di balik maskernya. Tangannya sekarang letih, Rowena meregangkan badan ketika dia mengucapkan operasi telah selesai dan pasien itu selamat, dia memang tak berniat macam-macam sekarang, hanya ingin laki-laki itu mendapat akibatnya.
Wanita tersebut keluar ruang operasi setelah mensterilkan tangannya, mengeringkan tangan saat dia melihat keluarga pasien terlihat sangat cemas. Tapi hey, Rowena takkan peduli meski orang itu selamat maupun tidak, kan? Dia hanya mengatakan sang korban selamat, tapi masih sangat kritis.
"Dia masih hidup?"
Rowena menoleh ke sumber suara setelah melambai ria pada keluarga pasien yang dia suruh pulang terlebih dahulu untuk melaporkan kejadian ini, dia melihat seorang gadis bersurai pirang dengan mata beriris kayu menatapnya, Rowena diam untuk sementara.
"Ya," jawab Rowena kemudian, tersenyum lebar.
Gadis itu mengangguk, mengeluarkan permen dari sakunya dan memakannya, kemudian berdiri dari duduknya. "Kalau begitu nanti kau bisa melakukan malapraktik padanya, Dok," bisiknya menyeringai kecil pada Rowena, "sampai jumpa."
Rowena hanya diam lagi melihat kepergian gadis tersebut, dengan senyuman aneh dan menyeramkan di wajahnya.
=o^o=
"Maafkan aku, Tuan, tapi sudah dijelaskan oleh gadis itu jika adik anda mau melakukan bunuh diri tanpa alasan yang jelas," Salazar bersedekap, merasa kesal sendiri ke arah pria yang diduganya adalah saudara Flint, "polisi juga mengatakan hal itu, anda tak bisa menuntut lagi."
Pria di depannya tetap keras kepala, "Tapi ini pasti pembunuhan! Aku yakin sekali!"
Salazar ingin sekali mengatakan itu memanglah pembunuhan, tapi diurungkan niat mengatakannya. "Lalu? Hanya karena keluarga anda yakin bukan berarti keluarga anda benar, kan?"
"Aku akan menuntut ini ke Pengadilan!"
"Tidak akan ada yang mau mengurus kasus seperti ini, kalau anda mau tahu," Salazar menghela napas, dia lelah berdebat sejak tadi.
Pria tersebut berseru, "Kau bisa melakukannya!"
Seringai tipis Salazar ukir, mencondongkan badan ke depan. "Anda memiliki apa saja untuk dibayar?" Salazar melebarkan seringainya, irisnya berkilat licik sekali, pria itu malah diam. "Berapa banyak? Atau sedikit? Atau tidak ada sama sekali?" Salazar melanjutkan, kini menunjukkan senyumannya melihat diamnya orang tersebut. "Kalau begitu, anda tak bisa melakukan apa-apa lagi. Kasus ditutup."
=o^o=
Salazar membuka pintu rumah setelah dia kembali dari kantornya, dia menemukan rumah masihlah kosong, tak ada siapa-siapa. Salazar melepas sepatunya dan melempar seragamnya sembarangan, melempar diri ke sofa lalu tiduran sambil memainkan ponselnya. Selama beberapa saat dia begitu, sampai dia mendengar pagar depan rumah terbuka, dia langsung berdiri dan melihat siapa yang datang.
Gadis bersurai pirang tadi berujar, "Aku pulang."
"Selamat datang," balas Salazar singkat, "Godric," lanjutnya.
"Fuck it, Salazar, kenapa aku harus berdandan seperti anak perempuan?" Godric menggerutu sebal, melepas wig itu dan mencopot lensa matanya, membersihkan riasan yang tipis sekali untuk menyamarkan dia seorang laki-laki.
Tawaan Salazar sedikit menggema, "Kau memang seperti perempuan, duduklah, mungkin Rowena akan datang sebentar lagi."
Godric memutar mata bosan.
"Salazar, Godric!"
Keduanya menoleh ke orang yang memanggil mereka, menatap Rowena yang baru saja dibicarakan ternyata datang setelah membayar taksi, dan Rowena melompati pagar mereka yang memang pendek untuk masuk ke rumah.
"Oh hey, Ro," sapa Salazar pendek, "bagaimana tadi operasinya?"
"Berhasil," jawab Rowena menganggukkan kepala, "tapi setelah Godric pergi, ternyata keadaan Marcus Flint menurun drastis."
Godric menahan kekehannya, "Apa tadi aku menusuk terlalu dalam?"
"Ya, tapi tidak apa, berkat itu aku bisa melakukan malapraktik," Rowena tersenyum senang, "aku akan menjual organnya nanti."
"Jangan lupa kau bagi," timpal Salazar memainkan ponselnya lagi, "kami ikut membantumu melakukan ini."
"Dan aku tak mau melakukannya secara gratis!" Tambah Godric.
Rowena tertawa, tawaan yang bisa mengintimidasi orang-orang. "Kalian tak perlu khawatir, aku akan membaginya secara rata. Dan, inilah akibat membuat Helga sedih.."
.
.
End
Wait for the next chapters.
.
Omake
Malamnya Helga menatap mereka menuntut, dia baru saja mendengar tentang salah satu temannya di kampus mendadak mati mengenaskan, diberitakan dengan judul berita 'Bunuh diri tanpa alasan' yang sangat membuatnya kesal ketika mengetahui kebenarannya.
Kenapa ketiga sahabatnya tak mengajak dirinya untuk membunuh Flint?
