Warning : OOC,typo, EYD berantakan, jauh dari kata sempurna.

Aha peringatan tambahan : chap 4 ini akan dominan menceritakan tentang penangkapan buron si -tukang adu domba. Bagi kalian kawanku yang ingin melihat moment NaruSaku harap bersabar ye mereka nyempil mah dikit-dikit.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing [ Naruto x Sakura]

Rated : T-M

Aku hanya butuh kamu sayang

Naruto memandang datar gemerlap Konoha City dari jendela besar diapartemennya. Yap sepulang dari menjenguk kakeknya ia lantas bergegas membeli sebuah apartemen seperti yang diperintahkan oleh Jiraya.

Naruto lantas mengeluarkan arloji retak pemberian Sakura dari dalam saku celananya. Entah motifasi apa yang membuat Naruto memungut hadiah pemberian Sakura saat ia memutuskan untuk pulang lebih awal dari rumah sakit.

Menggenggam erat benda yang tak seberapa itu cukup lama sampai suara dari ponsel mengagetkannya. Dengan helaan nafas malas Naruto melangkahkan kakinya untuk mengambil sumber suara bising yang memenuhi apartemennya.

"Huh menggangu saja.." Erangnya malas.

Namun belum sempat ia mengangkat panggilan masuk tersebut. Ponsel yang tadinya berbunyi nyaring itu, tak bersuara lagi.

"Yaampun menyebalkan!.."

Naruto mengacuhkan ponselnya. Karena kesal telah dipermainkan oleh panggilan iseng.

Kemudian helaan nafas kasar keluar dari bibir tipis Naruto. Pria itu merentangkan tangan dan memutar bahunya yang terasa pegal. Mata sipitnya melirik sekilas jam dinding yang menempel ditembok.

Rupanya hari ini sudah sangat larut, jam bahkan telah menunjukkan pukul setengah duabelas malam. Laki-laki yang hanya mengenakan baju kaus polos berwarna abu-abu itu mengacak kasar helaian pirang miliknya.

Matanya terasa berat namun dirinya harus tetap terjaga. Karena bosan Naruto memilih untuk membuat secangkir kopi. Kaki yang berbalut sandal rumahan itu berjalan pelan menuju dapur, tangan kekar miliknya dengan cekatan membuat air panas melalui teko elektronik yang tersambung dengan colokan listrik.

Tak butuh waktu lama, kopi buatannya pun jadi. Naruto kemudian memilih untuk meminumnya di ruang tamu, mendudukkan bokongnya pada salah satu sofa empuk berwarna krem disana.

"Huh-huh.. panas!.."


Kediaman Namikaze pukul 23.00 malam.

Rumah megah nan mewah itu terlihat sangat sepi maklumlah sekarang sudah hampir tengah malam. Seluruh penghuninya sudah terlelap di alam kapuknya masing-masing. Namun tidak untuk pria yang selalu mengenakan pakaian dengan setelan serba hitam.

Pria itu berjalan dengan sedikit mengendap-endap, agar suara langkah kakinya tidak kentara terdengar oleh pemilik rumah. Pelan tapi pasti Yamato terus melangkahkan kakinya hingga kini pria berambut coklat itu menaiki tangga utama kediaman Namikaze.

Pencahayaan yang remang-remang mempermudah dirinya untuk menyusup disetiap sudut rumah mewah itu. Ditambah dengan kekuasaan yang dilimpahkan padanya oleh sang majikan, pria berkacamata itu bisa dengan sangat mudah mengakses ruang pemantau cctv.

Jadi Yamato bisa melumpuhkan system cctv diseluruh rumah. Hingga pekerjaan gelapnya tak akan mudah terlacak siapapun.

Dan pada akhirnya Yamato sampai didepan sebuah ruangan yang menjadi tujuannya, tangannya yang telah berbalut sarung tangan menyentuh knop pintu berwarna coklat tersebut. Memutar knop pintu itu secara perlahan agar tidak banyak menimbulkan suara.

Setelahnya ia mendorong pelan pintu tersebut dan menutupnya kembali dengan sangat perlahan hingga tak menimbulkan suara. Keadaan ruangan itu cukup gelap hanya ada cahaya yang bersumber dari pantulan sinar bulan yang menembus ruangan melalui jendela dengan gorden yang terbuka.

Yamato mematung sesaat, mengamati keadaan sekitar. Ruangan atau lebih tepatnya kamar yang lumayan luas itu hanya dihuni oleh tetuah keluarga Namikaze yang masih hidup. Pria tua berambut putih itu tidur terlentang diranjang berukuran king size.

Ia menyeringai, misinya kali ini kelihatan akan sangat mudah jika si-tua bangka itu sudah tertidur pulas dengan mulut menganga.

Yamato membenarkan letak kacamatanya, kemudian melangkah maju. Tepat dihadapan tuan besar Jiraya yang terlelap, Yamato berhenti dan berdiri tegap memandang lelaki bak raja itu dengan ekspresi dingin.

Jari telunjuknya diarahkan tepat didepan kedua lubang hidung Jiraya, Yamato ingin memastikan apakah Tuan besarnya benar-benar sudah berada dialam mimpi atau belum.

Sepuluh detik kemudian Yamato menarik kembali jari telunjukknya. Yah Jiraya tidak bergerak sedikitpun dari posisi awalnya, itu artinya korban telah tak sadarkan diri dan sudah menuju ke alam mimpinya.

Ini kali ke dua belas Yamato melakukan hal yang diperintahkan oleh tuan Menma selama satu tahun belakangan.

Setiap sebulan sekali Yamato diperintahkan untuk menyuntikkan serum penurun daya tahan tubuh untuk Jiraya. Membuat pria yang telah berumur itu, sedikit – demi sedikit kehilangan stamina serta tubuh rentanya mulai mengalami kompilasi jantung dan kelumpuhan saraf hingga mewajibkan Jiraya untuk badterss serta memakai kursi roda jika ingin meninggalkan kamar.

Setiap serum memiliki tingkatan level yang berbeda mulai dari level penghancuran kekebalan tubuh ringan hingga level tinggi seperti serum kuning pudar yang tengah dipengang Yamato sekarang.

Yamato tau benar tujuan Menma mencekoki kakeknya sendiri dengan obat mematikan seperti itu. Pria berambut merah itu ingin membalaskan dendam atas kematian Namikaze Morio.

Sudah sejak lama Menma dan Morio telah merencanakan pembantaian pada Jiraya dan Naruto. Namun nasib buruk lebih berpihak pada Menma dan Morio naasnya malah Moriolah yang terbunuh lebih dahulu oleh Jiraya hingga membuat Menma kalang kabut.

Dan sekaranglah Menma bergerak sendiri, pria berumur 30 tahun itu ingin melihat kematian Jiraya secara perlahan. Menyiksa kakeknya sendiri dengan obat yang membuat seluruh tubuh tua lelaki berambut putih itu terasa sakit.

Cruuss…

Cairan kuning pudar itu disuntikkan memalui infus yang terpasang. Hingga racun itu menyatu dengan cairan putih infus. Yamato menyeringai tugasnya sudah selesai dengan sangat bersih ia kemudian menyimpan botol kosong bekas serum tersebut disela saku jasnya.

Jika cairan infus itu telah mengalir dan masuk ke pembuluh darah Jiraya, maka tak butuh waktu lama tetuah Namikaze itu hanya tinggal kenangan saja. Tuan Menma pasti akan sangat senang dengan hasil kerjanya.

Saat Yamato hendak berbalik dan meninggalkan kamar Jiraya tiba-tiba seseorang membekap bagian hidung hingga mulutnya dengan sebuah saputangan yang telah dibubuhi obat bius.

Yamato sempat memberontak dengan memukul dan menyikut orang yang membekap mulutnya. Ia terbebas namun tak sempat melarikan diri, Yamato kemudian terjatuh ke lantai karena bagian otak kecilnya dipukul sangat keras oleh orang yang tak dikenal.

Setelah Yamato pingsan, Jiraya membuka secara perlahan matanya mengerjapkannya beberapa kali dan kemudian senyuman mengembang diwajah kriput miliknya.

"Kerja bagus Nagato.." Jiraya mencabut kasar jarum infus yang tertanam ditelapak tangannya. Ia cukup khawatir jika racun yang disuntikkan oleh Yamato masuk lebih banyak ke tubuhnya.

"Ahh.. terimakasih atas pujiannya Tuan…" Nagato melepaskan penutup wajahnya, laki-laki berwajah tampan itu mengibaskan rambutnya yang agak berantakan setelah melepaskan penutup wajah tadi.

"Hm.. dan kau hampir membiarkannya kabur tadi.." Jiraya berujar malas. Kedua tangannya digunakan untuk menyibak selimut tebal membungkus tubuhnya tadi.

"Maafkan saya, saya tidak terbiasa berkelahi.."Nagato berujar sedikit membungkuk pada Tuannya. Nagato merupakan dokter muda yang diangkat sebagai dokter pribadi oleh Minato untuk mengawasi dan merawat Jiraya.

Nagato sempat bingung dengan gejala-gejala sakit yang dikeluhkan oleh Jiraya, segala jenis pemeriksaan telah dijalani Jiraya dan tak kunjung mendapat titik terang. Namun kini terungkaplah penyebab sebenarnya apa yang membuat pria tua yang masih enerjik itu tiba-tiba mengalami kelumpuhan.

Nagato telah mencurigai Yamato sejak dua bulan lalu, gerak –gerik tak wajar diperlihatkan pria berambut coklat itu saat bertemu ataupun mengobrol dengan tuan Jiraya. Dan puncaknya satu bulan lalu, saat Nagato dimintai tolong untuk memeriksa Kushina oleh Minato. Nagato tak sengaja memergoki Yamato keluar dari kamar Jiraya saat tengah malam.

"Serum ini cepat diserap oleh pembuluh darah dan bekerja merusak seluruh system tubuh, pantas saja semua alat medis tidak dapat mendeteksinya.."

"Itu sebabnya aku menjadi seperti ini.. benar-benar kurang ajar pria itu!.." Jiraya berujar marah, hingga Nagato tak berani bicara.

Kemudian dengan cekatan Nagato mengikat ke dua tangan dan kaki Yamato menggunakan tali tambang. Tak lupa juga menutup mata Yamato dengan kain dan membekap mulutnya dengan lakban hitam.

"Tolong bantu aku berdiri!.."

Setelah selesai dengan pekerjaannya Nagato membantu Jiraya untuk menaiki kursi rodanya. Walaupun Jiraya bersikeras untuk memijakan kedua kakinya ditanah hal itu sangatlah mustahil mengingat kedua kaki kriputnya sudah lumpuh bak jelli agar-agar.

"Anda lumayan berat juga.." Cicit Nagato.

Bruk..

"Apa katamu?"

"Ah maksud saya.. tadi ada nyamuk yang lumayan besar.." dusta Nagato.

Tubuh Jiraya akhirnya terduduk di korsi roda itu. Nagato merapikan bekas tempat tidur Jiraya yang agak berantakan.

"Sudah biarkan saja begitu.." Jiraya membenarkan jaket hitam yang dikenakannya, udara malam serasa menusuk tulang-tulang rapuhnya.

"Setidaknya kita harus menghapus jejak Tuan.. itu adalah salah satu trik penjahat yang saja pelajari 2 jam lalu" Jiraya tersenyum singkat mendengar penuturan Nagato.

"Apa system cctv masih dimatikan ?" Jiraya mendorong kursiroda dengan kedua tangan kriputnya. Berjalan mendekat ke tubuh Yamato yang pingsan.

"Sepertinya seluruh cctv masih mati tuan.. saya akan segera hubungi tim beta.."

Nagato dengan cekatan mengeluarkan walkie tolkie dari sakunya, ia melacak sinyal tim beta. Setelah tersambung bergegas mengintruksikan agar bala bantuan segera menuju tkp.

"Tim beta, masuk!. Alfa disini ganti!.."

Jiraya hanya mengamati datar Nagato yang tengah berkomunikasi dengan 2 bodyguardnya, kemudian tatapan penuh kemarahan terpancar dari maniknya ketika melihat tubuh Yamato.

Ingin sekali rasanya ia menghajar habis-habisan lelaki berambut coklat itu, namun apalah daya ia sekarang hanya seorang pria tua yang lumpuh. Segala gerak – geriknya terbatasi oleh kursi roda.

"Tim alfa masuk, beta disini ganti!.."

"Segera menuju tempat X target telah diamankan ganti."

"Siap meluncur, ganti.."

Setelah kontek itu terputus Nagato melangkah dan mengambil alih untuk mendorong kursi roda Jiraya menuju ke luar kamar.

"Kita harus segera bergegas tuan, obat bius itu hanya bertahan satu setengah jam saja.."

"Aku tau.. kau tidak usah mengingatkanku lagi, aku belum pikun.." Dengan nada angkuh Jiraya berujar, hingga Nagato menghela nafas.

Sampai ditangga, 2 orang berbadan besar muncul dihadapan Jiraya. Mereka berdua memberi hormat pada pria tua itu, satu orang bergegas menuju kamar Jiraya untuk membawa tubuh Yamato ke mobil dan satu orang Bodyguard lagi membantu Nagato membawa turun Jiraya beserta kursi rodanya menuju lantai satu kediaman Namikaze.

Terlihat di teras sudah ada 2 mobil sedan berwarna hitam dengan supir masing-masing. Jiraya dan Nagato masuk ke mobil sedan pertama. Sedangkan 2 Bodyguard beserta tubuh Yamato masuk ke mobil sedan nomor dua. Setelah semuanya siap kedua mobil itu segera melesat meninggalkan wilayah rumah mewah keluarga Namikaze.


Tak jauh dari teras, tepatnya di balkon lantai 2 rumah Namikaze. Seorang laki-laki dengan baju tidur berdiri tegap menadang kepergian dua mobil sedan hitam itu dengan ekspresi datar. Angin malam menghenbuskan helaian rambutnya bak model iklan shampoo.

"Sayang sekali.." Guman pria itu.

Tak lama kemudian ia memilih untuk kembali ke peraduannya.


Nagato melirik cemas wajah pucat Jiraya dari balik kaca sepion. Dokter muda itu duduk disamping supir sedangkan Jiraya duduk sendiri di jok belakang.

"Apa anda baik-baik saja Jiraya-sama?"

"Aku baik-baik saja, aku hanya merasa sedikit dingin.. matikan Ac-nya!.."

Tanpa perlu diulang lagi sang-sopir mematikan Ac mobil yang membuat tuan besarnya merasa tidak nyaman.

Kriitt..

Mobil hitam yang ditumpangi Jiraya berhenti tepat didepan sebuah gedung apartemen. Dengan cepat Nagato membantu Jiraya keluar dari mobil dan mendudukkannya kembali di kursi roda. Sedangkan bodyguard dua menenteng tubuh Yamato.

"Kita ke tempat anak itu.."

"Haik, kalau tidak salah lantai 7 Tuan.." Nagato mendorong Jiraya menuju lift, dibelakang mereka diikuti oleh 2 boduguard.


Dan disinilah mereka sekarang, didepan kamar apartement no 90 lantai 7. Bel telah dimunyikan tak butuh waktu lama pemilik apartemen membukakan pintunya.

"Ah kalian datang juga.."

Sapa Naruto malas, lelaki pirang itu terlihatan sangat mengantuk. Membuka lebar-lebar pintu apartemennya setelah rombongan Jiraya masuk ia mengunci kembali pintu apartemennya dengan kode berupa 4 digit angka pilihannya.

"Bisakah kau menyambut kedatanganku dengan hangat.."

Jiraya sebagai pria berumur merasa dilecehkan oleh cucunya. Karena kedatangannya tak disambut dengan layak oleh Naruto. Maklum seumur-umur dirinya selalu dihormati oleh seluruh kalangan baik itu petinggi negara ataupun rakyat biasa.

Tapi lihatlah ini, cucu tersayangnya malah menganggap dirinya seperti teman sebaya. Oh ayolah Jiraya saja umurnya sudah menjapai 70 tahun lebih.

"Untuk apa ada penyambutan segala, tidak penting sama sekali Ero-jii.."

Naruto berkata sembari menguap, Nagato yang melihat interaksi antara kakek dan cucu itu hanya tersenyum canggung ia sama sekali tidak mengerti dan memilih untuk mengamati dalam diam.

Pandangan Naruto mengarah pada dua bodyguard yang berdiri tegap dibelakang Jiraya. Namun atensi Naruto lebih mengarah ke bodyguard yang menenteng tubuh seorang pria pingsan.

"Kalian berhasil menangkapnya? Hebat sekali.."

Naruto menyuruh mereka semua duduk, ia menyiapkan satu korsi di tengah-tengah ruang tamu. "Ikat dia disana!.."

Tanpa menunggu lama bodiguard pembawa Yamato mengikat tubuh pingsan itu dikorsi yang telah disiapkan oleh Naruto. "Aku penasaran siapa pelakunya.."

"Kau akan kaget nanti.."

"Sepertinya wajahnya pamiliar.." Naruto menyipitkan matanya, Safir itu meneliti dengan seksama tubuh Yamato yang telah terikat. Kepala Yamato menunduk membuat Naruto penasaran dengan rupa wajahnya yang tertutup rambut coklat.

"Kau-"

Naruto menunjuk Nagato, sedangkan orang yang ditunjuk terkaget dan mengangkat sebelah alisnya bingung. "Iya tuan muda?"

"Ambilkan kamera dan triport dikamarku!.." dengan Printah singkat itu Nagato mengangguk dan meluncur dengan gesit. Namun belum sampai sepuluh langkah ia berhanti. "Maaf kamar anda yang mana tuan?"

Naruto memutar bola matanya malas. "Cih, dasar bedebah. Kamarku ada disebelah kanan dapur!.." Teriak Naruto.

Sebelah kaki Naruto terangkat dan disilangkan diatas kaki yang satunya. Gaya duduk ala bos besar, Jiraya hanya geleng-geleng kepala. Dengan mudahnya cucu pirangnya memperlakukan seorang dokter muda yang jenius layaknya seorang pembantu dan dengan bodohnya Nagato mengiyakan perintah cucunya.

Semuanya sudah siap camera untuk perekam sudah terpasang tepat mengarah ke wajah Yamato yang belum sadarkan diri. Dua bodyguard sewaan Jiraya berdiri di belakang Yamato sedangkan Naruto, Jiraya dan Nagato duduk disofa dengan masing-masing secangkir kopi.

30 menit berlalu akhirnya tanda-tanda kehidupan Yamato muncul. Pria dengan mulut dibekap dengan lakban hitam itu menggeliat, setelah lewat sepuluh detik ia meronta-rontakan tangannya, kemudan kepalanya mendongkak.

Yamato terkaget begitu ia sadar, matanya tak mampu melihat hanya warna hitam yang memenuhi netranya."Kau sudah sadar rupanya.."

"Hmmngghh.. hmnggkkhjgg.."

Berusaha bicara, namun gagal wajah tenang yang biasa ia gunakan kini berubah menjadi raut ketakutan. Yamato berusaha untuk bangkit namun kakinya juga telah diikat kuat dengan tali dikaki kursi kayu tempatnya duduk.

"Hmmngghhh.. hmnhghjkk.."

Rontaan tak henti-hentinya Yamato berikan. Namun apalah daya sekuat apapun ia berusaha naasnya ikatan tali yang membelit seluruh tubuhnya itu lebih kuat mengekang. Kepala itu kembali ia dongkak serta menggeleng keras untuk menyingkirkan penutup matanya.

"Yaampun apa yang dia katakan? Kau rambut merah buka lakban dan penutup matanya, aku tidak sabar ingin tau siapa dia sebenarnya!.." Printah Naruto mutlak.

Jiraya menipitkan matanya, kriput di ujung manik hitamnya semakin kelihatan jelas. "Dasar bocah mana mungkin ia tidak tau siapa dia yang sebenarnya.. bodoh" Maki Jiraya dalam hati.

"Ayo cepat tunjukan siapa kau yang sebenarnya agar aku tau apa alasanmu ikut dalam komplotan Menma.." Batin Naruto.

Nagato dengan malas berdiri, jika ada bodyguard untuk apa cucu bosnya selalu menyuruh-nyuruh dia untuk bekerja layaknya pembantu dasar bedebah, Nagato mengumpat 7 turunan untuk Naruto dalam hatinya. Memangnya auranya sebagai dokter muda yang jenius tidak kelihatan apa?

Jiraya swepdrowp mendengar nada perintah dari cucunya, oh iya setidaknya aura kepemimpinannya menurun pada Naruto, awalaupun cucunya seolah melakukan penyalah gunaan kekuasaan.

Dengan kasar Nagato menarik lakban hitam pembekap mulut Yagato "Arrgghhh.."

"Apa yang kalian inginkan!.. lepaskan aku!.." Dengan mata yang masih tertutup Yamato bicara seperti orang kesetanan. Kepalanya diedarkan kekiri dan kekanan mencari diminan posisi lawannya lewat indra penciumannya.

"Berisik!.." Jiraya membentak. Pria tua itu tidak ingin mendengar kata-kata sampah dari mulut Yamato, kuku tangannya memutih dan kilatan kemarahan terpancar jelas dari matanya. Ingin sekali ia menghabisi kacung sialan milik cucu sulungnya itu namun karena kesaksiannya sangat penting untuk Naruto, cucu kesayangannya. Maka dengan berat hati ia menunda dulu rencana pemusnahan Yamato.

Hening

Hingga saat Nagato melepaskan penutup mata dari wajah Yamato barulah pria berambut coklat itu membulatkan matanya, melihat penampakan Naruto, Jiraya serta seorang dokter muda alias Nagato. Yamato melirik- lirik ke segala arah tempatnya sekarang sangat asing ia tidak tau dimana. Keningnya bergerut dan banyak dugaan atau kemungkinan yang ia pikirkan dikepala coklatnya.

Dan hei! tuan pirangnya ada disini menatap nyalang kearahnya. Oh langsung saja pikirkan kemungkinan terburuknya yaitu kematian. Yamato tahu tipikal-tipikal orang seperti apa yang mendiami mension mewah Namikaze itu. Dipenuhi dengan orang berdarah dingin yang tak segan-segan akan menghabisi nyawa seseorang sekalipun nyawa itu dari orang yang tak bersalah.

Tak berserang lama Yamato menyeringai. Naruto yang awalnya tak percaya apa yang dilihatnya kini mulai meledakkan aura kemarahannya, pria bermata sipit itu juga mengkerutkan dahinya. Rahangnya mengeras dan mata safirnya menatap nyalang Yamato.

"Luar biasa, rupanya kau?.."

Naruto masih duduk santai bak raja, namun ia mengerjapkan beberapa kali safir indahnya berusaha untuk tidak mempercayai indra pengelihatannya.

"Kenapa aku diikat disini? Lepaskan aku!.." Walaupun didalam hatinya Yamato bergetar ketakutan, justru bertolak belakang sekali dengan ekspresi wajahnya yang nampak menantang.

"Naruto, aku tau kau masih tidak percaya dengan semua ini tapi.. percayalah dialah kacung kepercayaan Menma, dia yang menjadi kambing hitam disini.."

Jiraya menjelaskan pada cucunya, seringai kemarahan tak lepas dari wajah keriput Jiraya.

"Apa benar kau kaki tangan Menma?" Suara Naruto datar , kini raut keseriusan bertengger diwajah tampannya.

"Cih.. kau ingin tau?.. butuh waktu lebih dari sepuluh tahun untuk kau menyadarinya.."

Mendengar jawaban Yamato membuat kuku tangan Naruto memutih. Rupanya selama ini ia dipermainkan oleh seonggok sampah tikus got yang menjijikan.

Buanng..

Naruto menghajar rahang Yamato sangat kuat hingga kepala coklatnya berbalik menoleh ke samping.

"Kenapa kau melakukannya hah?" Bisikan Naruto menusuk indra pendengaran, begitu mengancam dan syarat akan penekanan disetiap katanya.

"Untuk apa aku melakukannya? Kau tidak perlu tahu.." Yamato menyeringai dan semakin membuat Naruto marah.

"Naruto cucuku sayang, jangan mengotori tanganmu dengan menyentuh tikus got tak berguna itu.. masih ada tangan lain yang bisa kau gunakan untuk meremukkan setiap tulang ditubuhnya.."

Jiraya mengangkat wajahnya dan menunjuk dua bodyguard yang ada dibelakang Yamato untuk bergerak memegangi si bedebah kacung kesayangan Menma.

Yamato menoleh ke depan, sudut bibirnya sobek dan mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Naruto yang sudah mencengkram kerah kemeja hitam yang dikenakan oleh Yamato dihempaskannya secara kasar.

"Hajar dia sampai curut itu mau buka mulut!.." Mutlak Naruto.

Buakkk..

Gdebuk..

Buaaghh..

Helaan Nafas lelah Yamato memenuhi apartemen Naruto. Lelaki yang setia memakai setelan hitam itu nampak kacau dengan luka lebam yang menghiasi wajahnya bak pelangi. Dua bodyguard itu cukup puas dengan hasil kerjanya yang sudah sesuai dengan keinginan tuannya.

"Masih tidak mau bicara!?" Dingin Naruto.

Yamato menunduk dan kepalanya terasa linglung menerima bertubi-tubu pukulan. Setetes darah jatuh dan mengotori sepatu kulit yang ia kenakan. Kemudian kepalanya mendongkak dengan mata terpejam ia menarik nafas dan menceritakan awal mula ia mengenal Menma.

"Heh.. dulu aku bukanlah siapa-siapa, aku hanyalah sampah buangan. Tidak mengenal orang tua, hidup dijalan sebagai pencopet cukup untuk mengisi perut jahanam ini yang memintah jatahnya 3 kali sehari…"

"Aku menyuruhmu untuk menceritakan latar belakangmu melakukan semua suruhan Menma, bukan untuk menceritakan autobiografi yang kau karang indah itu!.."

Naruto yang tak sabaran malah memotong perkataan Yamato.

"Tuan Menma memungutku, saat aku berusaha untuk mencopet dompetnya didepan minimarket.. dia berkata akan mengubah hidupku asal aku bersumpah akan patuh dan setia padanya. Setelah itu aku ikut dengannya, awalnya dia memperlakukanku lebih buruk dari para satpol PP yang menangkap para pedagang asongan. Tapi setelah satu bulan sikapnya berubah dia mulai mendidikku-"

Hening

"Kenapa kau berhenti?" Tanya Jiraya.

"Aku haus.. aku tidak akan bicara sebelum mendapat minum.."

"Tidak ada pesraman untukmu!.." Lagi-lagi Naruto berujar dingin.

Membuat Yamato menelan ludahnya sendiri melihat wajah dingin Naruto, dengan tengorokan kering ia melanjutkan ceritanya.

"-Dia mendidiku hingga aku mengerti apa itu pasar saham, fashion, etika sosial, prikemanusiaan, martabat dan derajat orang berada. Kesetiaanku tak akan pernah habis untuk Tuan Menma, bagaimana pun aku berhutang budi padanya. Hingga aku seperti sekarang ini, 4 tahun lalu saat kau baru lulus. Tuan Menma menyuruhku untuk menjadi sekertaris pribadimu melalu rekomendasi dari Tuan Minato.."

Naruto dan Jiraya bergeming, kakek dan cucu itu mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut kotor Yamato.

"Apa Tou-san juga terlibat?" Guman Naruto pelan, semakin kesini titik terang permasalah keluarga Namikaze mulai terlihat. Rupanya begitu banyak hal yang ia tidak ketahui, dulu mata dan telinganya tertutup.

"Sungguh mudah, semua rencana yang dibuat oleh Tuan Menma dan Tuan besar Morio berjalan lancar. Keinginan awal mereka adalah melenyapkan Tuan Naruto namun sayang entah nasib baik berpihak pada kalian justru Tuan Morio yang meninggal terlebih dahu.-" Yamato melirik Jiraya.

Brak..

Gebrakan meja dilakukan oleh Jiraya. "Cukup, kau tidak perlu lanjutkan!. Aku ingin tau apa kau ada di café tempat Naruto dibekuk..?"

"Kau tau? Aku benci harus mengatakan ini tapi, aku sudah bersumpah untuk tidak membocorkan apapun lagi." Mutlak Yamato. Rembesan darah menetes dari kening menuju dagunya. Yamato sudah siap mati demi Tuan Menma, apapun itu ia tidak akan bicara lebih jauh lagi.

Itulah sumpahnya!.

"Arghh… Hajar dia!.." Murka Naruto.

Pukulan demi pukulan mendarat indah diwajah Yamato. "Apa aku akan mati sekarang? Aku bahkan belum menikah" Tawanya dalam hati.

"Syukurlah kesetianku akan selalu bersama Tuan Menma.. terimakasih atas segalanya.."

"Bicaralah.. apa ada pesan terakhir?"

Banyak darah Yamato yang menetes membasahi lantai marmer apartement milik Naruto.

"Uhukkk.." Muntah darah yang dilakukan Yamato mengotori tangan dua bodyguard yang menghajarnya.

"Hah.. hah.. aku in-gin membantu se-belum aku mati, carilah orang yang bernama Kabuto Yakus.-"

"-Uhukk.. dia pria be-rambut putih den-gan kaca mata."

"Aku mohon bunuh aku sekarang!.." Yamato memohon dengan kepala menunduk.

Naruto mencengkram kerah kemeja Yamato. Namun pria itu mendongkak tak sadarkan diri hiasan lebam bercampur darah membingkai wajahnya. "Hoe.. katakan lebih jelas, siapa Kabuto? Dimana dia tinggal?!"

Naruto mengguncang kuat bahu itu namun tak mendapat respon apapun. "Ero-jiji? Bagaimana sekarang?" dilepaskannya bahu tak berdaya itu, kemudian Naruto memandang Jiraya.

"Dia sudah tidak bisa diharapkan lagi, sampai ajalnya tiba dia bahkan tidak bicara apa yang kita inginkan.. bunuh saja dia, biarkan jiwanya tenang…"

"Denyut Nadinya sangat lemah Tuan tapi dia masih hidup.." Terang Nagato.

Jiraya memberikan isyarat pada kedua bodyguard itu untuk membunuh Yamato sesuai dengan pesan terakhirnya dan menguburnya dengan layak dipemakaman umum.

Naruto menghempaskan tubuhnya disofa empuk itu. satu tangan menutup matanya, bahkan ia tidak tidur malam ini dikarenakan pengintrogasiannya hingga pagi mejelang dan tak membuahkan hasil yang memuaskan.

Setelah semua kekacauan dibersihkan oleh dua bodyguard suruhan Jiraya. Apartment cucunya kembali tenang.


"Kenapa harus ada klue, dan melibatkan orang ketiga lagi.." Dengus Naruto.

"Naruto kau tidak perlu khawatir, serahkan masalah pencarian Yakus Kabuto itu pada Ojii-sanmu ini.. yang perlu kau lakukan sekarang untuk memperkuat posisimu sebagai penerima ahli waris adalah membangun mahligai rumah tangga.."

Seketika itu Naruto bangkit dari rebahanya dan menatap nalar Ero-jii nya. "Apa!? Jangan bercanda Jii-san, apa tidak ada hal lain yang bisa aku lakuakan?"

"Dengar Menma sudah menikah, dan posisinya kuat. Dia bisa dengan mudah menggantikan posisimu dengan istrinya.. mengingat Minato sepertinya sudah melupakan keberadaanmu sebagai anak kandungnya.."

Perkataan Jiraya membuat hati Naruto sesak dan panas. Teganya Tou-sannya mencampakannya seolah ia hanya sebatang tebu habis manis, pahit buang. Mata Naruto berkilat.

"Jii-san yakin hanya itu hal yang bisa aku lalukan saat ini?" Yakinnya dan kembali mendaratkan tubuhnya disofa.

"Iya, akan lebih bagus lagi jika kau segera menikah dan memiliki seorang anak. Otomatis saham milikmu yang telah ditarik oleh Minato akan kau dapatkan kembali.."

Entah Naruto akan melakukan apa selanjutnya. Yang jelas satu ide telah bertengger diotak kuningnya, jika memang benar ia harus menikah kenapa tidak dengan 'dia' saja toh Naruto tidak memiliki waktu banyak untuk memilih calon istri ideal.

"Hahaha.. jangan khawatir Ojii-san sudah punya calon istri untukmu, dia sangat cantik dan dari kalangan bangsawan.."

Nyess..

Naruto bengong dengan mulut menganga, kenapa kakeknya selalu seenak jidatnya mengatur segala hal. Sungguh hebat pria dengan ratusan kriput diwajahnya itu.

"Ero-jii? Bolehkah aku memilih calon istriku sendiri?"

Jiraya mengangkat sebelah alisnya, namun sedetik kemudian ia menimang-nimang permintaan cucunya.

"Sayangnya tidak bisa aku sudah mengikat kontrak dengan ayah dari gadis bangsawan itu"

Naruto kalang kabut, jika benar terjadi maka. Astaga gagalah ide gilanya untuk meminang wanita 'itu' menjadi istrinya.

"A-apa? Tapi kenapa?"

Jiraya menepuk pundak lebar cucunya. "Pilihanku tidak mungkin salah, dan aku yakin cucuku akan bahagia bersama gadis pilihanku.."

Naruto menyingkirkan tangan kakek tua bau tanah itu dari bahunya. Tidak ini tidak boleh terjadi, disaat ia akan mendapatkan cintanya yang dulu kembali kenapa dia dipaksa untuk menerima cinta yang baru? Bahkan Naruto tidak tau bagaimana pribadi gadis pilihan kakeknya.

Dan satu lagi pertanyaan. Apakah pilihan ojii-sama yang agung itu benar- benar seorang gadis?

"Ojii-san jika memang aku harus menikah, aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan wanita yang aku cintai.."

Kalimat Naruto, tepat menusuk jantung Jiraya. Dulu dia menikah atas dasar cinta namun apa hasilnya belum genap usia pernikahannya satu tahun, istri yang sangat dicintainya itu meninggal dunia karena kecelakaan. Meninggalkan Jiraya sendiri dibumi. Cih sungguh nabis yang naas.

Tapi jika itu keinginan cucunya mau bagaimana lagi.

"Apa yang bisa aku lakukan? Selain memastikanmu bahagia.. sebelum aku mati." Dengan sayang Jiraya membelai rambut kuning halus cucunya.

Naruto tersenyum bahagia. "Terimakasih.."


Pagi yang indah menyapa Konoha city, luar biasa rutinitas kota padat penduduk itu bahkan telah berlangsung sebelum sinar mentari menerangi seluruh sudut gang kota.

Sakura Haruno menatap computer kantornya dengan mata terpejam. Wow bagaimana bisa dia melakukannya.?

"Sakura.. Sakura.."

Dua panggilan dan satu guncangan bahu, akhirnya mampu menyadarkan ibu satu anak itu dari tidurnya.

"Eh.. Ino? Huaaaaahhmmm.. ada apa?"

Rentangan tangan Sakura hampir mengenai wajah cantik wanita berambut pirang pucat itu. "Aish.. hati-hati Sakura.." Dengusnya.

"Maaf-maaf, ok kenapa kau kesini? Ada masalah dengan laporan yang aku ketik tadi?"

"Iya begitulah, lihat disini kau lupa mencantumkan data pemilik saham yang baru .. Huh untung aku membacanya tadi.."

Mata emerald sayu itu mengerjap beberapa saat dan dengan gesit tangan kanan Sakura merebut berkas dengan map biru tua itu. "Masak sih? Perasaan tadi aku sudah menulisnya?"

"Kau kurang tidur ya Sakura.. pantas saja konsentrasimu buruk sekali hari ini.." Ino merebahkan punggungnya didinding kubilel milik Sakura.

Sakura tampak mengelap gusar wajah putihnya dengan tangan. "Begitulah, kemarin malam aku sama sekali tidak tidur.. Shina rewel sekali saat dia sakit, aku lelah.." Hembusan nafas pasrah Sakura, membuat Ino tersenyum maklum.

Bayangkan menjadi single parent itu tidak mudah apalagi dijaman sekarang. Untungnya teman pinkisnya itu tahan banting akan cobaan dan beban hidup yang luar biasa berat dari Kami-sama. Jika Ino dalam posisi Sakura 4 tahun lalu, mungkin saja Ia sudah mengakhiri hidupnya di jembatan merah Konoha.

Sakura merebahkan begitu saja kepala merah mudaya dimeja dan menatap sahabatnya dari sana. "Kapan kau cuti? Lihat perutmu semakin besar, aku jadi takut melihatnya.."

"Hahaha.. kau tenang saja Sakura, Sai yang menyuruhku dan 2 hari lagi aku resmi cuti. Pinggangku rasanya mau patah jika berdiri terlalu lama.."

Sakura menyilangkan kedua tangannya ala ninja bersiap-siap jika Ino sahabatnya akan tumbang dihadapannya. "Wow.. hati-hati Ino, sebaiknya kau kembali ke mejamu akan aku antar berkas yang baru untukmu nanti.."

"Kau memang pengertian Sakura, terimakasih.."

Waktu terus berlalu hingga tak sadar Sakura telah menuntaskan jam kerjanya hari ini. Ibu muda itu bergegas pulang, walau rasa kantuk menghantuinya sepanjang hari.

Hatinya was-was bila meninggalkan putra tunggalnya seorang diri dirumah. Walaupun ada sang ibu yang menjaganya tapi tetap saja segala hal buruk mungkin akan terjadi. Seperti kemarahan ayahnya terhadap Shina membuat Sakura semakin khawatir.

Rasa lapar mengusik Sakura saat ia tengah menyetir, tanpa ba-bibu lagi ia memutuskan untuk mampir ke restoran cepat saji. Gara-gara editing laporan tadi Sakura melewatkan jam makan siangnya, sungguh sial!.

Setelah memesan kini giliran netranya menerawang ke seluruh penjuru sudut restoran mencari tempat duduk yang kosong. Sesuatu yang mencolok menarik perhatiannya. Tanpa sadar kaki jenjangnya menuntun Sakura menuju pria berambut pirang yang tengah menelpon duduk disudut restoran dengan secangkir ice kopi.

Deg, Deg, Deg..

Detak jantung Sakura kian tak terkendali kala ia semakin dekat dengan sosok pria pirang yang duduk membelakanginya. Mungkinkah dia Naruto?

Tapi jika memang dia. Kenapa Pria yang dicintainya itu ada disebuah restoran cepat saji, dan bukanya terbaring diranjang rumasakit?

Oh ingat Sakura sempat lupa untuk menjenguk calon suaminya dirumah sakit kemarin gara-gara putra kesayangannya demam.

"Na-Naruto?" Guman Sakura cukup keras hingga pria itu menoleh.

Sebelah alis itu terangkat, menatap heran wanita berambut merah muda yang memanggilnya tadi.

"Sa-Sakura.."

Wow.. jodoh memang tak pergi kemana. Hari ini ia bertemu dengan sang pangeran. Walaupun cara mereka berjumpa terbilang kebetulan.

Dengan antusias berlebih dan senyum merekah membingkai wajah kusam Sakura, wanita itu duduk dihadapan Naruto. Hingga lelaki bermata safir itu terperanjat sedikit kebelakang dengan kedua tangan masing-mansing menggenggam kuat ponsel dan ice kopi miliknya, takut jika nanti ia ditubruk oleh Sakura.

"Kenapa kau disni?" Sakura mencondangkan badannya ke arah Naruto.

Naruto mengerjap-ngerjapkan mata sipitnya. "A-aku ingin makan malam disini.."

"Bukannya kau dirumah sakit? Maksudku kau belum sembuh kan ? kenapa bisa disini..?"

"Sakura tenang satu-satu. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu, asalkan kau tenang ok?" Naruto meletakkan ponsel serta ice kopi miliknya dan menetap teduh Sakura.

"Aku sudah sembuh dan kemarin aku pulang dari rumah sakit. Kau puas dengan jawabanku?"

Wanita pinkis itu menggembungkan pipinya. "Tcih aku khawatir padamu, sayang aku ingin menjengukmu kemarin tapi Shina terserang demam. Dia sangat rewel jika sakit. Jadi yah, aku lupa menemuimu.."

Hanya senyum miring yang Naruto berikan.

Hening

Situasi canggung sangat mengganggu. Terutama untuk Sakura, ia menunggu cintanya untuk bersuara terlebih dahulu.

"Sakura, aku sudah memikirkan keputusanku kedepannya. Tapi sebelum itu aku ingin bertanya sesuatu padamu.."

"Tanyakan saja Sayang."

"Baiklah, aku perlu keyakinan darimu. Apakah kau benar-benar ingin memperbaiki hubungan kita?"

Raut wajah Sakura menghangat tanpa perlu berpikir dua kali tentu saja ia akan mengatakan "Iya.. apapun akan aku lakukan agar kita bersama seperti dulu.."

"Begitu ya.." Ingatan Naruto kembali berputar pada percakapannya dengan sang kakek dini hari tadi. Mengenai saham dan kewajibannya untuk segera membina rumah tangga.

"Aku mohon. Percayalah padaku Naruto-"

Tangan putih Sakura mengusap pelan telapak tangan tan milik lelaki Namikaze itu.

"- Biarkan aku menjelaskan semuanya.." Dimata Sakura, Naruto yang kini begitu dewasa. Raut wajahnya terlihat tegas dengan rahang sedikit runcing, hidung mancung walau sedikit brewok disekitaran dagu mungkin saat dipenjara Naruto jarang mencukur rambut tipis yang tumbuh disekitaran area wajah bawah itu.

"Mulailah, aku harap ceritanya tidak akan membosankan.."

Tapi sebelum wanita itu memulai cerita panjangnya kenapa ia mencapakan Naruto 4 tahun lalu. Wanita itu menghubungi ibunya terlebih dahulu menanyakan tentang keadaan terkini putra kecilnya yang sedang sakit.

Apakah anaknya sudah minum obat ? Hups.. mengurus anak sendiri tanpa suami benar-benar merepotkan. Untunglah Sakura memiliki ibu yang sabar serta pengertian, semua keperluan putranya diurus langsung oleh ibunda Mebuki Haruno.

Sakura berterimakasih, ia tidak akan pernah bisa membalas budi baik sang ibu yang telah menjadi nenek siaga untuk Shinachiku.


Flashback 4 tahun lalu.

Tanggal 3 oktober 20xx

Dua gadis cantik berjalan disebuah pusat perbelanjaan. Mereka terlihat santai beberapa gurauan meluncur dari bibir manis mereka. Salah satunya berambut pink dan pirang pucat.

"Kau dengar aku kan Sakura..?"

"Tentu Ino aku mendengar semua idemu, dan aku pikir itu tidak buruk juga.." Sakura yang menenteng tas belanjaan berisi sepatu sport baru untuk hadiah ulang tahun kekasihnya. Perlu diketahui jika gadis itu menghabiskan hampir setengah tabungannya hanya untuk membeli barang yang dielu-elukan sang pujaan hati.

Walaupun begitu Sakura tidak menyesal telah menghabiskan uang bulanannya. Ia justru senang karena sebentar lagi moment ulang tahun kekasihnya tiba. Sakura sudah tidak sabar lagi melihat wajah keterkejutan Naruto jika ia memberikan barang yang paling diinginkan oleh si pirang itu.

Tak lama karena lapar menyerang, dua anak hawa itu mampir ke sebuah café di lantai 2 pusat perbelanjaan. Memesan makanan sesuai selera setelahnya obrolan mereka pun berlanjut.

"Nah maka dari itu mulai aksimu sekarang, kau tidak akan mati jika hanya putus dengannya selama satu minggu Sakura…"

"Tapi.. aku tidak tega Ino satu minggu itu lama sekali.." Jawab Sakura lesu.

Ide Ino memang bagus untuk memeriahkan hari ulang tahun Naruto, namun menurut Sakura itu mungkin akan terlalu lebay dan parahnya mereka sudah dewasa sekarang.

"Please Sakura, itu tidak sulit.. cukup bilang kau lelah dan ingin mengakhiri semuanya sekarang. Setelah itu cabut cartu ponselmu, agar Naruto tidak bisa menghubungimu. Jangan terima pesan apapun dari Naruto selama 7 hari dan voala di tanggal 10, jam 12 malam kita akan datang ke rumahnya untuk membawakan kue besar yang enak.."

"Engh.. itu dia yang ingin aku katakan. Aku takut dia akan marah.. Naruto bukan tipikal orang yang terlalu menyukai kebohongan. Dia pasti akan marah besar padaku nanti…"

Pesanan mereka pun tiba Sakura menyesap minumanya terlebih dahulu. Bicara dengan Ino membuat tenggorokannya mulai kering menyahuti perkataan sahabatnya.

"Ahh.. sulit juga ya, mengingat kalian sudah jadian 2 tahun. Pasti Naruto tahu segalanya tentangmu.."

"Nah itu kau tahu sendiri…"

Ino menatap lekat Sakura dan memikirkan kembali rencana kejutan untuk Naruto.

"Tapi apa kau tidak bosan? Setiap ada diantara kalian yang berulang tahun.. kalian berdua hanya menghabiskan waktu untuk diner setelah itu bertukar kado dan acara selesai. Sudah 2 tahun loh berjalan seperti itu, Yakin tidak bosan?"

Ino menyendok sup bening pesananya dan memakannya anggun, biasa remaja apalagi seorang gadis mereka selalu ingin terlihat anggun dimanapun dan kapanpun bahkan saat makan sekalipun.

"Apa kau tidak ingin mengerjainya sedikit saja?" Lanjut Ino.

"Benar juga..- Argghh aku bingung!.." Rambut panjang itu dijambak halus oleh si empunya.

"Wow.. Sakura jangan sakiti dirimu sendiri, aku ngeri melihatnya."

"Ahh.. Akan aku lakukan, semangat Sakura kau pasti bisa!.. bayangkan satu minggu itu hanya seperti satu hari!."

Dengan lincah Sakura menekan nomor ponsel yang telah dihapalnya diluar kepala. Setelahnya ia menekan tombol panggilan hijau.

Ino tercengang namun setelahnya ia tersenyum. Akhirnya si pinkis memulai aksinya.

Sakura kelihatan menggigit kuku jarinya resah. Panggilan akhirnya diangkat oleh Naruto.

"Iya Saku-?"

Tuut…

Belum sampai Naruto menyelesaikan kalimatnya buru-buru Sakura memutus panggilan secara sepihak. Dadanya kembang - kempis dan keringat mengucur dari dahinya. "Aku tidak bisa!.." Erangnya frustasi.

"Sakura, Sakura,.." Ino geleng –geleng kepala melihat tingkah laku Sakura, bahkan sekarang wajah putri Haruno itu merah karena malu.

"Jangan paksakan bila belum siap, ah iya? Bagaimana kalau besok, saat festival buah. Kalian bisa kencan disanan dan boom kau lakukan rencanamu.."

Sakura mendongkak matanya berkaca-kaca, "Besok?" Beonya.

"Iya besok.. untuk malam ini kau bisa sepuasnya telponan sama dia tapi, setelah besok adalah puasa utama kalian.."

Gadis lulusan fakultas ekonomi itu mengangguk lemah. Dan mulai menyantap makanannya sedikit-demi sedikit.

Seperti yang dikatakan Ino, saat malam hari Sakura menghabiskan waktu 3 jam lebih telponan dengan kekasihnya. Iya dia harus pintar memanfaatkan waktu sebelum hari-H, dan Sakura juga mulai menciptakan perkara-perkara kecil yang membuat Naruto mengerang sebal di sebrang telepon.

Setelah mengatur janji, Sakura bertemu dengan Naruto dan mereka berkencan ke festiva buah yang diadakan 2 tahun sekali itu.

Naruto awalnya begitu menikmati kebersamaan mereka, walaupun dalam hatinya masih sedikit jengkel karena kemarin malam Sakura mengajaknya bertengkar lewat sambungan telepon.

Sore itu begitu cerah bahkan sunset pun kelihatan sangat jelas melukis langit Konoha. Tautan tangan dua sejoli itu begitu erat, senyum merekah hanya dipancarkan oleh Naruto seolah hanya dirinya yang menikmati ramainya perayaan pekan buah ini.

Padahal awalnya Sakuralah yang meminta Naruto untuk datang kemari. Dan lihatlah sekarang bahkan gadisnya selalu memalingkan wajah cantiknya bila ditatap oleh Naruto.

Sakura menghentikan langkahnya, tepat di tengah-tengah terotoar yang ramai dilalui oleh orang-orang.

"Naruto.."Lirihnya sembari menatap sepatu kets yang ia kenakan.

"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Lelaki berambut kining itu menunduk ia cukup khawatir dengan sikap pendiam Sakura.

"Aku-"

Sakura mengigit kuat bibir bawahnya. Berusaha meyakinkan diri, percayalah ia tidak tega melakukan semua ini namun karena ia sudah terlanjur basah maka saatnya menyelesaikan semuanya. Demi kejutan tanggal 10 Sakura harus kuat!.

"Katakan apa kau sakit, dari tadi hanya diam? Aku takut.."

"Naru, Aku ingin semuanya selesai sekarang.."

Wajah Naruto mengeras ia tidak mengerti, mungkinkah Sakura tidak enak badan dan ingin pulang cepat?

"Maksudmu apa, kita pulang sekarang?"

"Bukan itu.. ingin kita putus!.." Mutlaknya. Kami-sama kuatkan Sakura.

"Haha, lucu sekali.. apa ini april mop? Jangan bercanda ya.." Naruto malah mengacak gemas rambut gadisnya, ia pikir Sakura hanya bercanda.

"Naru, aku serius aku mau putus sekarang!.."

Kini emerald itu benar-benar menatap safir yang kebingungan. Walau nampak jelas kalau emerald Sakura mulai berkaca-kaca.

"Putus? Jangan pernah katakan itu. Aku tidak mau kita berakhir disini.." Naruto menggenggam kuat tangan Sakura berusaha untuk mempertahankan gadisnya.

"Naruto Namikaze aku yakin kau tidak tuli, kita putus sekarang. Jangan pernah temui aku lagi.."

Setelah berujar Sakura melepaskan tautan tangannya dan berlari kencang, namun sekejap mata Naruto menahan tangannya agar tak kabur terlalu jauh.

"Sakura.. jelaskan dulu, apa yang membuatmu mengakhiri hubungan kita?" Desak Naruto. Ayolah 2 tahun mereka bersama, kuliah ditempat yang sama bahkan menyusun skripsi bersama. Naruto tidak ingin kehilangan cintanya, sudah cukup ia kehilangan kasih sayang dari kedua orangtuanya.

"Aku lelah puas!.." Sakura memaki Naruto didepan umum. Naruto sedikit mematung, lelah katanya. Sungguh tak masuk akal.

"Lelah Hanya itu.? Yang benar saja Sakura apa ada pria lain dihatimu?.."

Semakin lama sakura tak dapat membendung tangisnya. Tangan Naruto melemah dan cengraman itu terlepas.

"Iya aku lelah, hubungan ini tidak bisa dilanjutkan lagi. Dan asal kau tau aku memang punya pria idaman lain.." Dusta Sakura.

"Aku pergi.." Selesai sudah ekting Sakura hari ini. Selanjutnya hanya tinggal melakukan rencana B yaitu mendiami Naruto selama 7 hari kedepan. Semoga ia mampu.

Naruto mematung seketika itu juga ia meremas kuat rambutnya. "Sakura.."

Berlari kencang, membelah lautan manusia yang berlalu-lalang disana. Sakura segera menyetop taksi di tepian jalan dan berlalu pulang.

Flashback End


Dari pukul setengan delapan sampai jam sembilan Sakura bercerita. Diselingi beberapa pertanyaan dari Naruto. Sakura cukup gugup awalnya, tapi ia memilih untuk berkata jujur.

Sakura sudah siap dengan apapun keputusan Naruto selanjutnya.

Setidaknya ia sudah menjelaskan semuanya, dan menguatkan hatinya jika ia akan menerima kemungkinan terburuk. Bagaimanapun itu semua salahnya.

"Jadi seperti itu, maaf jika aku dulu begitu bodoh.. aku hanya- yah kau tau ingin memberikanmu survrise yang tak terlupakan. Tapi malah begini jadinya.." Sakura tertawa hambar, matanya bahkan tak berani menatap lelaki yang duduk dihadapannya.

Naruto tidak focus, ia resah. Jika memang itu kenyataan sesungguhnya berarti- ah entahlah.

"Percalah aku berkata jujur, aku tak pernah memiliki niatan untuk mendustaimu apalagi menduakan cintamu.." Yakin Sakura.

"Aku tau kau memang bodoh, dan akulah orang yang paling bodoh karena telah menerima cintamu dulu.."

Sakura menatap wajah tampan Naruto, terlihatlah sekarang safir indah itu bersembunyi dibelakang kelopak mata tan itu.

"Ada sesuatu yang mengganjal dipikiranku. Bagaimana bisa anak itu lahir?."

Sakura sedikit menegang, pertanyaan Naruto membuat fantasinya kemana-mana.

"Aku rasa tanpa penjelasanpun kau pasti tau awalnya bagaimana. Dan akhirnya juga bagaimana.. "

Sungguh Sakura lumayan malu jika harus menceritakan secara detail dan semoga kali ini Sakura tidak salah tanggap maksud Naruto.

" Tapi bagaiman? - Aku kan dipenjara saat itu, bagaimana bisa aku menyentuh tubuhmu!.. dan ahh! anak?"

Naruto sedikit melotot dan menekankan kata anak pada Sakura. Naruto yakin 50 persen anak yang memeluk kakinya di lapas itu adalah anaknya. Karena kesamaan yang mecolok yaitu warna rambut.

Sakura menggeleng dan memalingkan wajah, tapi tetap ia menjawab tegas pertanyaan Naruto.

" Kau tidak ingat jika kita sering bercinta dan bodohnya kita selalu lupa memakai pengaman? Aku ingat 3 hari sebelum festival buah kita bercinta di vila kosong milik ibumu dan kau memuntahkan semuanya didalam. Waktu itu aku sempat meminum pil penghambat kesuburan hanya sekali, tapi saat aku mendengar kau di bekuk akibat kasus narkoba aku lupa meminum pil itu lagi. "

Akhirnya karena kalimat panjang itu Sakura ngos-ngosan bak atlet yang habis lari mengitari lapangan sepak bola.

"Kalau memang begitu aku ingin melakukan tes DNA, jika hasilnya positif maka tanpa perlu berfikir panjang lagi aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku padamu.. "

"Kau boleh melakukannya, tapi asal kau tau saja. hasilnya pasti akan postif sayang, itu tidak bisa diganggu gugat lagi.. "

Lega dan bahagia, akhirnya penantian berharga Sakura pada ujungnya berbuah manis walapun belum dapat ia nikmati saat ini juga.

"Ah.. sepertinya hari ini cukup sampai disini, aku cukup puas dengan kejujuranmu walaupun hatiku sakit untuk menerima kenyataannya.. "

Naruto berdiri, memasukkan ponselnya ke saku celana pendek berwarna hitam itu. Kemudian melangkah pergi.

"Tunggu!.. "

Sakura juga ikut berdiri. Panggilannya membuat Naruto berhenti sejenak.

"Kenapa? "

"Bisakah kita mempercepat semua ini?"

" Itu tergantung, seberapa cepat hatiku sembuh dari luka yang kau torehkan.. "

Bersambung...

selalu aku ucapkan terimakasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya membaca cerita kerangan saya. kalian yang terbaik teman :)

ok aku melihat wajah-wajah baru di kotak review, wah makasih ya sarannya. dan buat temen-temen yang sudah menambah cerita ini ke list Follow dan favo kalian terimakasih. kalian itu luar biasa..

Sondankh641 : hai kak, makasih udah mampir, pertemuan mereka? aku juga binggung. next chap mungkin wkwkwk.. maaf jawabannya kurang memuaskan.

Loray 29 Alus : hai, aku rasa kamu sudah tau gaya menusku itu bagaimana dan yah- liar dan penuh improfisasi wkwkwk, sabar aja ya..

agisummimura : hai kak, makasih udah mampir mereka akan bertemu kurang lebih secepatnya dah.. :)

Zhou-chan : iya kak, ini udah Up..

: greget ? hahaha.. Makasih ya..

auliaMRQ : iyap gimana ya, emang segitu kali aku tulisnya bagian Naruto wkwkwk.. yang sabar ya, selanjutnya dia akan-

Paijo payah : ngih niki sampun up..

ailla : benar aku juga rada keblinger mau nulis nama anaknya tapi gimana lagi udah terlanjur aku publis soalnya. jawaban obatnya udah kan diatas.

Namikaze chaerim : aha hai kak, makasih loh masukannya, dan makasih udah menjadi penyemangat saya wkwkwk.

HariwanRudy : iyap ini udah up kak, semoga terhibur.