Hello this is chap 4!

First, Thankyou to all my reviewers and readers! I'll continued my hard work and will be better every chap :)

So let's read! Enjoy it!

Title : Christmas Love

Rate : T

Cast : Jung Yunho x Kim Jaejoong -Yunjae- and many others

Disclaimer : Bukan milik author, hanya milik Tuhan, Orangtua mereka, Entertainment mereka dan diri mereka sendiri.

Warning : BoyxBoy, Yaoi, Boys Love, Typo(s), tidak sesuai EYD, alur berantakan, dan lainnya.

Chap 4-Hurt

.

.

.

Jaejoong's side

Tak ingin terlarut lebih lama lagi dalam kesendiriannya, Jaejoong memutuskan untuk melakukan pekerjaan sehari-harinya. Kali ini ia sedang memilah-milah baju bekas pakainya untuk dilaundry. Jaejoong baru saja ingin memasukkan jas seragamnya ke dalam keranjang saat jemarinya menyentuh benda tipis dalam saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah... Kartu Nama.

Jung Yunho

Direktur Utama Jung Corp

Telp : xxxx76098835

Ia tersenyum menatap kartu nama namja yang dikenalnya bernama Jung Yunho itu. Kartu nama yang diberikan Yunho sebelum ia pergi dari café, Yunho mengatakan ini sebagai bukti pertanggungjawabannya-karena Jaejoong tak menerima uangnya-jika luka Jaejoong belum sembuh atau semakin parah bahkan ia juga menambahkan Jaejoong juga boleh menghubunginya sebagai seorang teman. Mengingatnya malah membuat Jaejoong senyam senyum sendiri tanpa alasan yang jelas. Jaejoong menggengam erat kartu nama itu dan segera berlari menuju kamar tidur mencari-cari ponselnya yang dilemparnya sembarangan tadi-meninggalkan tugasnya membereskan pakaian yang akan dilaundry.

Jaejoong sudah menemukan ponselnyadan bahkan kartu nama itu juga sudah ada dalam genggamannya, yang sekarang harus ia lakukan adalah menghubunginya. Tapi Jaejoong masih tampak bingung sesekali ia mengigit bibir bawahnya bimbang sambilnya memain-mainkan ponselnya.

Haruskah ia menelpon? Kalau ia menelpon, apa alasannya untuk mengganggu seorang direktur yang sibuk? Eh, bukankah Jaejoong sendiri yang beranggapan Yunho sedang cuti, oke kalau begitu anggap saja ia benar-benar sedang cuti. Lalu apa yang akan ia dibicarakan dengan Yunho, ia yakin pasti perbincangan mereka akan terasa canggung. Akhirnya Jaejoong memutuskan untuk mengirim pesan singkat saja, tapi bagaimana kalau Yunho tak membalas? Ya tak apa, anggap saja Jaejoong yang salah kirim pesan. Baik! Sekarang tinggal susun kalimat, jari-jari Jaejoong bergerak lincah mengetikkan sederet kalimat pada layar Iphonenya.

Annyeong! Yunho-ssi.

Apa kabar?

Tidak! Ini terdengar aneh. Jaejoong menekan tombol delete pada Iphone-nya.

Hai, Oraeganmanimnida (Lama tidak bertemu) Yunho-ssi.

Ahh! Yang ini terdengar begitu konyol. Dan apanya yang lama tak berjumpa? Bukannya mereka baru bertemu tadi? Dan lagi-lagi Jaejoong menghapus kalimat ini.

Bagaimana mungkin mengirim sebuah pesan saja harus sebegini memusingkan? Jaejoong mengacak rambutnya frustasi. Tapi ia tak menyerah, ia tetap mengetikkan serentetan kalimat-kalimat yang ujung-ujungnya dihapusnya lagi dan berakhir dengan desahan kesal.

Yunho's side

Yunho masih duduk di bangku koridor rumah sakit dengan mata terpejam dan kepala yang bersender pada dinding, saat sebuah pesan singkat masuk pada smartphonenya.

You got a message

from: xxxx78996329

Yunho menautkan kedua alisnya melihat sebaris nomor yang terpampang pada layar smartphonenya. Namun ia tetap membukanya dan membaca sederet kalimat yang merupakan isi pesan dari nomor tak dikenalnya itu.

Annyeong, Yunho-ssi.

Naneun Jaejoong. Kau sedang apa? Bolehkah kita berbincang? Apakah aku menggangumu?

Yunho tersenyum mendapati sebuah pesan dari Jaejoong-orang yang ia temui beberapa hari akhir-akhir ini. Dengan cepat ia mengetik sebuah pesan balasan untuk Jaejoong.

Back to Jaejoong

Jaejoong masih merutuki dirinya sendiri yang dengan seenaknya menekan tombol Sent tanpa berpikir akan konsekuensi yang diterimannya akibat pesannya itu.

Cling

Sebuah suara tanda pesan masuk menghentikan aktivitasnya barusan. Secepat kilat Jaejoong meraih Iphonenya dan membaca pesan yang diterimanya.

From : Jung Yunho

Oh, annyeong Jaejoong-ah. Aku sedang di rumah sakit. Tidak mengganggku kok. Kenapa? Apa lukamu belum sembuh?

Jaejoong tersenyum bodoh sendiri sambil mengetik balasan selanjutnya.

To : Jung Yunho

Oh begitu. Ani, lukaku akan kering beberapa hari lagi kok. Aku hanya ingin mengobrol, aku hanya sedang bosan.

Sent! Lagi-lagi Jaejoong mengigit bibir bawahnya gugup menanti balasan Yunho.

Begitulah cuplikan adegan saling bertukar pesan itu, hingga Jaejoong menerima sebuah telepon dari... Kim Kibum.

Oh! Hyung Jaejoong menelpon! Kim Kibum adalah hyung Jaejoong yang berkuliah di Jepang. Dengan cepat Jaejoong menekan tombol virtual hijau untuk menerima panggilan hyungnya.

"Yeoboseyo hyung!"

"Yeoboseyo Jae-ah! Apa kabar?"

"Baik kok hyung, kau sendiri? Dan eomma appa?"

"Sangat baik Jae! Eomma dan Appa akan ke Swedia minggu depan untuk launching cabang perusahaan, dan selanjutnya akan ke Eropa lalu menetap di sana. Mereka sehat-sehat saja kok, jangan khawatir"

"Oh, syukurlah kalau begitu"

"Jae, kau sudah check up belum tahun ini?"

Pertanyaan hyungnya sontak membuat Jaejoong menepuk jidatnya sendiri.

"Ah! Aku lupa hyung!"

"Hais... Kau ini! Penyakit pikunmu sudah setara dengan nenek tua, tau? Segeralah check up secepatnya"

"Ne. Yack! Aku bukan nenek tua" Jaejoong mempoutkan bibirnya kesal yang tentu saja tak dapat dilihat hyungnya yang berada di seberang telepon.

"Ahahaa... Baiklah, tidak perlu mempoutkan bibirmu seperti itu Jae"

Ucapan hyungnya barusan malah membuat Jaejoong terbelalak kaget seakan hyungnya dapat melihatnya saat ini.

"Kenapa? Kaget? Tidak usah kaget Jae, aku kan hyungmu. Jelas aku tau semua tentangmu sekalipun aku tak bersamamu saat ini" ucap sang hyung di seberang sana sambil terkekeh geli.

"Hehe... Ne, arrayo. Kau memang hyungku yang terbaik!" Jaejoong menyengir sendiri mendengar hyungnya di seberang sana.

"Yep! Aku memanglah hyung yang terbaik di seluruh dunia! Berbahagialah memilikiku sebagai hyungmu"

"Aih, berhentilah membual hyung" setelahnya terdengarlah suara tawa di seberang sana diikuti tawa lepas Jaejoong juga.

"Sudah! Sudah! Jae, ini sudah tengah malam 'kan disana? Cepatlah tidur sebelum kantong matamu menebal"

"Ah! Ne. Kalau begitu aku tidur dulu ya hyung. Hyung juga setelah kerja part time-muberakhir cepatlah pulang dan istirahat, ne? Jaljayo"

"Ne, Jaljayo"

PIPP

Sambungan terputus setelah perbincangan hangat Kim Brothers ini.

Jaejoong baru saja akan tidur saat mengingat ada beberapa hal yang belum dikerjakannya, ia kembali menuju ruang tengah untuk memasukkan beberapa pakaian bekasnya ke dalam keranjang laundry. Lalu Jaejoong mengetik sebuah pesan penutup perbincangan akrabnya dengan Yunho.

To : Jung Yunho

Yunho-ssi, aku tidur dulu ne? Jaljayo.

Jaejoong kembali melanjutkan acara tidurnya yang sempat tertunda dengan sebuah senyum manis yang setia bertengger pada wajah cantiknya.

xxxxxxxxxx

Seoul International Hospital

"Silahkan diisi formulirnya" Seorang yeoja berseragam serba putih itu tersenyum ramah sambil menyerahkan selembar formulir pada Jaejoong.

"Ne, Gamsahamnida"

Jaejoong duduk di bangku yang tersedia sambil mengisi beberapa data mengenai dirinya dalam sebuah formulir sebagai prosedur tetap yang harus dilaluinya setiap akan melakukan check up rutinnya.

Setelah melengkapi formulir check up, Jaejoong bangkit dari bangkunya dan menyerahkannya kembali kepada perawat di bidang pendaftaran itu. Jaejoong duduk santai di bangkunya sambil mengarahkan pandangannya ke sekeliling koridor rumah sakit yang tampak serba putih dengan bau obat-obatan yang begitu menusuk indra penciuman.

'Deg'

Oke, Ini adalah serangan ketiga yang menyebabkan jantungnya berhenti berdetak sesaat saat melihat namja yang sama pula, dan sepertinya tak ada salahnya ia melakukan check up kali ini, mungkin saja ia benar-benar menderita suatu penyakit jantung? Ahh entahlah!

Namja yang dimaksud Jaejoong sedang berada di sudut koridor sambil sibuk menelpon dengan orang yang penting-mungkin-karena raut wajahnya yang tampak begitu serius saat berbicara.

Jaejoong tersenyum dan diam-diam melangkah menuju ke arah namja tadi, saat...

"Kim Jaejoong-ssi, silahkan masuk ke ruang check up"

Mendengar sebuah pengumuman dari salah seorang perawat di balik meja registrasi itu, mau tak mau Jaejoong menghentikan niatnya dan melangkah menuju ruang check up.

xxxxxxxxxx

"Dokter Lee bilang ia akan baik-baik saja selama obatnya masih berfungsi dengan maksimal"

"..."

"Ne"

PIPP - sambungan terputus

Yunho baru saja menerima telpon dari ummanya yang menanyakan keadaan Yoona dan lagi-lagi ia harus menemani Yoona pagi-pagi buta seperti ini karena kondisinya yang drop tiba-tiba.

Ia memasukkan smartphonenya ke dalam saku mantel cokelatnya dan melangkah masuk melewati sebuah pintu kamar belabel VVIP.

"Oppa..." Panggil seorang yeoja lirih, seseorang yang kita ketahui bernama Yoona.

"Sudah baikan?"

"Ne, nan gwenchana" jawab Yoona memaksakan seulas senyum.

Namun senyum Yoona langsung tergantikan oleh raut cemas saat ia melihat raut lelah Yunho.

"Oppa..." Panggilnya lagi.

"Hm?" Jawab Yunho acuh tak acuh, masih berkutat pada apel yang diirisnya tipis.

"Mianhae..." Lirih Yoona dengan kepala tertunduk.

"Ne?" Tanya Yunho tak mengerti, lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap Yoona.

"Mianhae oppa." Ulang Yoona. "Mian karena aku selalu menyusahkanmu" Kini Yoona mengangkat wajahnya untuk menatap langsung Yunho dengan sorot mata sendunya.

"Ani, tak apa." Elak Yunho. "Ini, makanlah." Perintah Yunho sambil menyerahkan beberapa potong apel pada Yoona.

"Tapi-"

"Sudah, jangan bicarakan lagi." potong Yunho cepat.

Yoona akhirnya menyerah. Ia meraih potongan apel itu dengan melayangkan sebuah senyum sedih pada Yunho sebelum melahap apel yang diberikan tadi.

Keduanya terdiam cukup lama dengan aktivitas masing-masing, Yunho sibuk dengan smartphonenya, Yoona dengan lamunannya-sepertinya melamun sudah menjadi rutinitas Yoona selama ini-.

"Oppa" Suara Yoona kembali terdengar, memecah keheningan di sekitarnya.

"Ne?" Balas Yunho.

Yoona tampak gelisah sesaat, sebelum berkata. "Aku ingin bertanya. Tapi tolong jawab aku dengan jujur, ne?" Pinta Yoona dengan raut wajah yang sulit dideskripsikan.

Yunho terdiam sejenak sebelum menganggukan kepalanya singkat.

"Oppa, apa aku sangat membebani kalian?" Yoona bertanya dengan suara lirihnya.

"..." Yunho diam tak menjawab. Pikirannya tengah bergulat saat ini. Haruskah ia jujur? Tidak, ini sama saja dengan ia menyakiti Yoona. Lalu, berbohong? Tidak, ini juga bukan alternatif, Yoona terlalu keras kepala sehingga sulit dibohongi.

"Diam artinya iya 'kan?" Raut Yoona semakin suram karenanya. "Hah... Kenapa hidupku tampak seperti parasit saja? Aku terus menggantungkan hidupku pada kalian yang berbaik hati yang mau menerima. Miris ya?" Ucap Yoona dengan suara begetar dan mata yang mulai dipenuhi genangan air mata. Oh sepertinya dalam hitungan detik ia akan menangis.

Yunho masih diam tak bergeming. Ia tak tahu apa harus dilakukannya sekarang. Seharusnya sih ia menenangkan Yoona saat ini. Tapi sepertinya itu bukan solusi untuk sekarang. Ia jamin Yoona yang sedang emosional ini hanya akan berteriak marah padanya.

"Kenapa aku sangat tak berguna sih?" Suara Yoona terdengar begitu frustasi.

"Bukankah aku sepantas mati saja? Seharusnya kalian membiarkanku mati saja dengan sendirinya. Jadi aku tak perlu bertahan selama ini dan juga tak perlu menjadi beban bagi orang lain. Aku benar-benar tak berguna! Untuk apa aku hidup?!" Kalimat demi kalimat mengalir deras bak air bah begitu juga butiran kristal-kristal bening yang menganak sungai tanpa henti.

"Tapi kalian tau, tidak? Sebenarnya selain kalian yang terbebani, aku sendiri juga merasa terbebani oleh diriku sendiri. Setiap hari, aku harus terus meratapi hidupku yang sebentar ini. Aku terus dihantui rasa bersalah dan hutang budi pada kalian. Aku merasa aku hanyalah seseorang kurang beruntung yang meminta belas kasihan dari kalian. Aku ingin bisa hidup mandiri seperti orang normal. Tapi nyatanya, aku tak bisa. Aku hanya orang sakit yang sekarat! Aku ingin mati saja!" Teriak Yoona frustasi sambil terisak begitu keras.

Yunho yang tak tega melihatnya dengan cepat memeluk Yoona erat, mengusap puncak kepalanya lembut-berusaha meredakan tangis Yoona.

"Sstt! Uljima. Tenang saja. Kau pasti akan sembuh dan dapat hidup normal lagi. Tunggulah sebentar lagi." ucap Yunho menenangkan dengan masih memeluk Yoona yang memberontak minta dilepaskan.

Opps! Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah mengintip adegan dramatis itu dengan wajah kaget tak percaya.

xxxxxxxxxx

Jaejoong baru saja menyelesaikan proses check upnya, ia melangkah dengan riang berniat menghampiri namja yang dilihatnya tadi di sudut koridor.

Sayangnya Jaejoong tak menemukannya, namun ia yakin sekali bahwa namja tadi-Yunho-duduk di salah satu bangku koridor tepat di depan... Err... Kamar rawat VVIP. Entahlahh yang pasti ia yakin dengan penglihatannya yang sepertinya masih jauh dari kata rabun itu.

Tunggu! Kamar rawat VVIP? Ahh mungkin Yunho di dalam sana! Tapi kalaupun Yunho di dalam sana, lalu apa yang akan ia lakukan? Menghampirinya? Tidak! Apa yang harus ia katakan nantinya? Ia memang sengaja mengikuti Yunho? Ohh tidak mungkin.

'Erghhh!' Jaejoong mengerang frustasi dalam hatinya.

Akhirnya dengan perang batin antara menghampiri Yunho atau tidak, ia memutuskan untuk sekedar mengintip saja tanpa menghampirinya. Karena sekarang perlu ia tuntaskan adalah rasa penasarannya, dan urusan alasan nanti akan dibahas saat ia tertangkap basah.

Pelan tapi pasti Jaejoong mengendap-ngendap menuju ke sebuah kamar rawat VVIP di hadapannya, mengintip melalu celah jendela kaca pada pintu yang berbingkai kayu jati.

HEG!

Sebuah serangan tiba-tiba datang pada jantungnya lagi.

Tapi kali ini bukan serangan yang menyebabkan perasaan senang yang membuncah tapi sebaliknya.

Apa yang matanya saksikan sekarang benar-benar di luar dugaannya.

Jantungnya seketika terasa begitu peruh bagai ditusuk-tusuk ratusan jarum.

Oh ya tuhan! Apa yang ia rasakan saat ini?

Nyut

Jantungnya kembali berdenyut pilu menyebabkan rasa sakit yang teramat sangat di bagian dadanya yang mulai terasa sesak.

Jaejoong meremas dadanya pelan berharap rasa sakit yang menderanya segera hilang. Sayangnya jantung malah semakin terasa seperti dicabik-cabik binatang buas.

Dan kenapa... Kenapa ia menangis? Jaejoong menatap getir pantulan dirinya yang tengah berlinang air mata di depan kaca di hadapannya.

Uhh... Mengapa ia merasa dirinya begitu kasihan?

Tak sanggup berada di sana lebih lama lagi, Jaejoong segera berbalik pergi, berlari sekencang-kencang keluar dari gedung rumah sakit.

Yah. Yang sekarang ia ingin lakukan hanya berlari... terus berlari hingga sakit yang membelenggunya hilang ditelan rasa lelah.

Jaejoong terus berlari dengan air mata yang tak terbendung membasahi pipi mulusnya, tak menghiraukan tatapan sebal orang-orang ketika Jaejoong menabrak mereka tanpa meminta maaf sedikitpun.

xxxxxxxxxx

Setelah merasa tangis Yoona sudah mereda, Yunho melepas pelukannya, tepat saat itu pula smartphonenya berdering menandakan panggilan masuk. Yunho segera berlalu dari kamar Yoona untuk mengangkat panggilan dari salah satu klien penting di perusahaannya. Tapi sudut matanya malah menangkap sesosok namja yang tak asing baginya. Sayangnya sosok itu telah menghilang dibalik pintu utama rumah sakit dengan langkah yang terburu-buru.

Yunho tidak sempat bergulat lama dalam pemikirannya karena suara di seberang telepon telah menginterupsi lamunannya, mau tak mau ia harus kembali disibukkan dengan perbincangan bisnis dengan kliennya.

xxxxxxxxxx

Jaejoong sudah sampai di apartemennya, kini ia duduk meringkuk di sudut ranjangnya. Air matanya masih tak berhenti mengalir, bahkan sekarang disertai isakan pilu yang begitu menyayat hati. Jaejoong memukul-mukul dadanya sendiri saat merasakan perasaan sesak itu lagi. Rasanya begitu sesak, hingga ia tak menemukan ruang untuk bernafas sedikitpun. Rasanya begitu perih, hingga rasanya ia ingin mengubur dirinya saja daripada harus merasa sesakit ini.

Tapi sampai sekarang ia masih belum mendapatkan jawaban atas rasa sakit yang menderanya.

Kenapa ia seperti ini?

Ia tak menyangka ia akan menangis seperti ini hanya karena orang asing yang baru dikenalnya beberapa minggu yang lalu itu. Apa ini? Perasaan suka? Oh tidak! Lebih baik ia tak pernah merasakannya sama sekali dibanding harus merasakan sesuatu yang menyakitkan seperti ini hanya karena melihat namja itu memeluk seorang gadis? Hei! Kalaupun Yunho memeluk gadis itu. Lalu kenapa? Dan kalaupun Yunho memiliki hubungan khusus dengan gadis itu. Lalu kenapa? Jelas ia tak ada hubungannya dengan itu semua.

Kenapa ia harus merasa tersakiti?

Memangnya siapa dirinya bagi Yunho?

Ia dan Yunho tidak memiliki hubungan spesial apapun, mereka hanya sebatas teman, Ya, TEMAN.

Tapi kenapa rasanya begitu sakit saat melihatnya begitu dekat dengan orang lain? Apa sebegitu besar dampak seorang Jung Yunho bagi Jaejoong? Bahkan hanya dengan mengenal satu sama lain dalam waktu sesingkat ini, ia bisa merasakan perasaan semacam ini hah? Entahlah, pikirannya berkecamuk dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan bodoh, yang tentu saja semua tak sanggup ia jawab sendiri saat ini.

Keadaan Jaejoong begitu kacau saat ini, rambut yang tak berbentuk lagi, mata sembab yang memerah karena tangis yang tak kunjung reda, juga bibir plum yang terus mengeluarkan isakan pilu.

Ia menangkupkan wajahnya ke dalam gumpalan bantal di sisinya, mencoba meredam tangis hebatnya.

Cukup lama ia menangis sesenggukan hingga rasa lelah menghinggapinya membuatnya terjatuh dalam alam mimpinya.

.

.

.

TBC

(To Be Continued)

Oke, bagaimana chap 4? Ehehe... Mian buat chap sebelumnya yang kurang yunjae moment, karena chap kemarin hanya menceritakan kisah hidup mereka masing-masing. Di chap ini mulai ada konflik.

Special thanks to all reviewers for chap 3:

gothiclolita89; yoon HyunWoon; Lonelydarksoul77; futari chan; hanasukie; Youleebitha; ifa. p. arunda; twinkleyunjae; Zhie Hikaru; jaena; ginalee09; choireinx94; browniescookies; BlackXX

And thank you too for all my readers :*

Ini balasan buat semua reviewersku :

gothiclolita89, twinkleyunjae, ginalee09, choireinx94 : gimana dengan jaejoong? Ahaha... It's secret, so stay tuned for next chap ;)

yoon HyunWoon, Lonelydarksoul77, hanasukie, browniescookies : ini sudah dilanjut ya :)

futari chan : yep, it's Jaejoong. Ohya? Makasih hehe...

Youleebitha : kependekan ya? Mian, akan saya perpanjang. Iya, krn chap kmrn bahas ttg kehidupan mereka jadi momennya agak kurang. Nih sudah dilanjut.

ifa. p. arunda : oh maaf, krn chap itu cuma bhs ttg kehidupan mrk jadi momentnya ga byk.

jaena : hahaa... Yep, betul sekali.

Zhie Hikaru : Tak apa kok, lagian saya memang masih pemula butuh banyak saran kritik. Ne, gomawo akan saya perbaiki.

BlackXX : Yoona sakit apa? Hehe... Akan diberitahukan pada chap' berikutnya. Pertanyaan 2 dan 3 itu jawabannya di chap ini. Im Jaebum itu appa Yoona, salah satu member JJ project, Im Jin Young/Park Jin Young jg member JJ project.

So, RnR? Review juseyo. Boleh komen dalam bentuk apapun, baik kritik maupun saran ;)

Every review from you will be my encouragement to write.

Sampai jumpa di chap 5!

Gomawo for reading my fic *bow