I'm Your Dongsaeng, Right?
Chapter IV | Listen to Me
Chen membuka matanya pelan pelan pagi itu. Matahari masih belum bersinar, cahaya pertamanya saja belum nampak. Sayangnya, ada keributan di bawah yang membuatnya terbangun. Lebih tepatnya tangisan. Chen turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu kamar. Pandangannya masih kabur jadi ia menggosok gosok pelan matanya dengan tangan. Ia membuka pintu kamar perlahan agar tidak membangunkan yixing ge. Ia keluar ruangan dan menutup pintunyanya rapat rapat. Ia sempat meliriki jam dinding, pukul 5 pagi. Hari itu tidak ada jadwal, jadi biasanya semua member bangun siang. Chen berjalan menuruni tangga menuju lantai satu. Suara tangisan itu semakin jelas dan arahnya dari kamar mandi di seberang tangga. Ketika chen menapakkan kakinya di lantai satu, pintu kamar mandi itu terbuka. Chen bisa melihat jelas Suho hyung menggendong Tao yang sedang menangis.
"Haruskah aku melihatnya sepagi ini" gumam chen pelan. Meski demikian, mungkin gumaman itu yang membuat Suho menyadari keberadaannya
"Chen kau sudah bangun? tumben?"
"Eee... aku ingin buang air kecil hyung"
"Kau tidak akan tidur lagi kan? Setelah buang air kecil, temani Tao. Aku akan mencari obat sakit perut di kamar, aku lupa dimana menyimpannya"
"Iya hyung" chen mengangguk
Suho menurunkan Tao dari gendongannya lalu membantunya duduk di sofa. Setelah posisi Tao benar benar nyaman, Suho hyung pergi ke kamarnya. Tao merintih kesakitan di sofa. Akhirnya, Chen duduk di samping kanannya. Tao berhenti menangis saat ini.
"Jongdae hyung.. sakit.." kata Tao sambil meremas tangan kanan Chen. Sekujur tubuh Tao basah karena keringat.
"Kau kenapa? hm?" Sebenarnya Chen tak peduli dengan Tao. Tapi jika ia meninggalkannya sendirian, mungkin ia malah akan dimarahi Suho hyung.
"Perutku... sakit..."
"Semalam kau makan apa?"
"Tidak tahu..."
Chen sebenarnya ingin memarahi Tao. Kalau ia sakit perut, tentunya ia memakan makanan yang pedas, atau mungkin makan terlalu banyak, bukan malah menjawab tidak tahu seperti itu.
"hyung, kau tidak jadi buang air?"
"eh.. nanti saja"
"nanti kau sakit hyung"
"berisik! diam!" jawab chen kesal.
Tao kaget mendengar jawaban chen. Ia melepas tangan Chen dari cengkramannya, memegangi perut dengan kedua tangannya, lalu membuang muka dari hadapan chen. Muka Tao kusut seketika. Beberapa saat kemudian ia mulai menangis lagi.
"Masih sakit?" tanya Chen.
Tao tidak menjawabnya
"Tao? Kau tidak apa apa?"
Tao tetap tidak menjawabnya. Tak lama kemudian, Suho hyung datang membawa obat sakit perut. Suho hyung duduk di sebelah kiri Tao dan memeluknya erat. Suho hyung memejamkan matanya. Ia terlihat benar benar menyayangi Tao lebih dari siapa pun. Ia mengelus kepala Tao beberapa kali dan menciumi pipinya. Chen hanya bisa melihatnya. Sekujur tubuh Chen terasa panas. Ia benar benar ingin memisahkan pelukan itu, menghajar Tao sampai babak belur, dan mendapatkan kembali hyung kesayangannya. Iri membakar hati Chen, suho hyung tak pernah mencium pipinya bahkan ketika ia sakit parah sekalipun. Ia hanya bisa duduk di sofa itu dan berusaha menenangkan diri.
"Ayo ke kamar. Makanlah sepotong roti, lalu minum obat dan tidur." Suho hyung menggendong Tao dan membawanya ke kamar tanpa menghiraukan Chen.
Kamar suho hyung berada di seberang sofa dimana Chen duduk sekarang. Ruang itu agak gelap karena penerangannya hanya dari lampu kamar Suho hyung. Beberapa saat kemudian, Suho hyung masuk ke kamar dengan Tao, lalu menutu pintu kamar. Ruang dimana Chen berada gelap seketika. Di ruang itu hanya ada Chen. Ia menekuk lututnya hingga kepalana berada di atasnya. Ia memeluk kakinya, merundukkan kepalanya dan mulai mengalirkan air mata. Tangisannya nyaris tidak terdengar. Ia tak ingin satu pun member terbangun.
Air matanya perlahan membasahi pipi, kedua lengannya, hingga lutut dan kakinya. Chen hanya ingin menangis sekarang. Ia tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan untuk mendapatkan kembali kasih sayang Suho hyung. Tangisannya semakin keras tanpa ia sadar hingga akhirnya Suho hyung membuka pintu kamarnya.
"Bisa kau pelankan tangisanmu? Tao sudah tidur. Aku tak ingin dia bangun karena kau berisik"
Chen perlahan mengangkat kepalanya. Ia melihatnya wajah Suho hyung dari kejauhan. Chen masih menangis saat ini namun tidak sekencang sebelumnya. Suho hyung menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju arah Chen.
Beberapa saat kemudian, Suho hyung berada tepat di depan Chen
"Berdiri" Kata Suho hyung
"h.. hyung..."
"Berdiri kataku" Suho hyung sedikit membentak
"i.. iya.. hyung..." Chen berdiri sambil menunduk. Ia tak berani menatap wajah Suho hyung. Ia hanya menatap ke lantai dan melihat kedua tangan Suho hyung terangkat. Suho hyung memeluk Chen erat.
"Ada apa denganmu? kau sering murung akhir akhir ini?"
"Aku tidak apa apa hyung"
Suho hyung menggandeng tangan Chen dan menyeretnya ke ruang tamu. Mereka duduk di sofa. Suho hyung mengelus kepala Chen dan membuatnya bersandar di bahu kokohnya. Chen sudah lama sekali tidak bersandar di bahu Suho hyung.
Ruang tamu adalah ruang yang paling jauh dari kamar semua member. Jadi, kemungkinan besar tidak ada member yang tahu apa yang mereka bicarakan.
"Ada apa hm? katakan padaku"
"Aku tidak apa apa hyung"
"bohong!" kata Suho hyung sedikit membentak. Karena ia tak ingin dongsaengnya itu menangis lagi, ia mendekatkan bibirnya pada pipi Chen dan menciumnya.
"Jongdae-ah, katakan saja"
"Aku tidak apa apa hyung, sungguh!"
"Mengapa baru saja kau menangis kalau begitu"
"Itu... aku..."
"Ada apa? aku khawatir padamu. Kemarin kau sakit dan aku tidak bisa menjagamu. Aku membelikanmu ayam tapi kau sudah mengunci pintu kamarmu. Dan sekarang kau menangis tanpa alasan. Ada apa dae?"
"Kalau ku katakan apa kau akan marah?"
"Tentu saja tidak"
"Aku iri hyung"
"Iri?"
"Aku iri pada Tao"
"Apa maksudmu iri?"
Air mata Chen mulai mengalir lagi saat ini.
"Hyung, kenapa kau tak pernah memperhatikanku. Aku ingin kau dekat denganku lagi seperti dulu. Aku tidak suka Tao manja padamu. Aku dongsaeng kesayanganmu kan?"
"Aku dekat denganmu Jongdae, aku menyayangimu."
"Kau lebih sering dekat dengan Tao. Kau tak pernah memperhatikanku"
"Aku khawatir dengan kesehatanmu Jongdae"
"Kau membiarkan Tao manja"
"Aku..."
"Kau juga memanjakan Tao kan?"
"Bukan begitu..."
"Aku tak pernah manja padamu hyung. Aku hanya ingin kau perhatikan"
"Aku memperhatikanmu Jongdae"
"Apa aku harus manja dan menangis di depanmu hyung?"
"Tidak jongdae, kau..."
"Tangisanku bahkan tidak membuatmu peduli padaku"
"Yang kulakukan sekarang..."
"Aku juga dongsaengmu hyung"
"Aku tahu Jongdae, tapi..."
"Aku dongsaeng kesayanganmu bukan?"
Suho tidak menjawab pertanyaan Chen. Ia hanya memeluk Chen erat.
"Aku tidak memarahimu kan?" tanya Suho
"Iya hyung"
"Sekarang, bisakah kau mendengarkan perkataanku tanpa memotongnya?"
"Iya hyung"
"Dengar! aku menyayangimu. Dongsaengku sayang. Dongsaeng kesayanganku? mungkin saja. Tapi aku seorang leader. Kalau aku menyayangimu lebih dari yang lain, apa menurutmu itu hal yang baik. Aku tidak akan dekat dengan semua member kalau begitu. Bagaimana aku bisa menyatukan kalian semua. Aku menyayangi kalian semua."
"Aku hanya ingin menjadi dongsaeng kesayanganmu"
"Tidak bisa jongdae, bagaimana kalau member lain iri?"
"Siapa yang akan iri padaku?"
"Entahlah"
"Lalu bagaimana jika Tao adalah dongsaeng kesayanganmu dan aku iri padanya. Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku..."
"Itu yang kurasakan sekarang hyung. Aku ingin kau perhatikan. Maksudku aku ingin lebih kau perhatikan dari pada yang lain hyung."
"Kenapa kau ingin begitu?"
"Entahlah. Aku hanya ingin perhatianmu, bukan yang lain"
"Yixing ge memperhatikanmu bukan? Lalu kenapa kau ingin aku perhatikan juga?"
"Aku ingin perhatianmu hyung, bukan yixing ge"
"Kalau aku memperhatikanmu lebih, maka kau mendapat perhatian lebih dari dua orang. Apa itu adil?"
"Kenapa hyung? aku bukan dongsaeng kesayanganmu lagi?"
"Aku menyayangi semua member exo jongdae"
"Tidak bisakah..." omogan Chen terpotong karena ia menyadari ada seseorang bersembunyi di belakang tembok ruang tamu
"Yi... yixing ge..."
"Ketahuan ya..." Kata yixing ge keluar dari tempat persembunyiannya sambil tertawa kecil.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku? mendengarkan curahan hatianmu, haha"
"Apa? Apa kau mendengar semuanya?"
Yixing ge mengangguk. Pipi chen merah seketika. Suho hyung hanya tertawa kecil melihat tingkah laku Chen.
"Jongdae-ah, saranghae" Kata Suho hyung "Ingatlah perkataan hyung tadi"
"B... baiklah.. hyung..."
Suho mengelus kepala Chen.
Beberapa hari kemudian semua berjalan lancar. Chen sudah terbiasa melihat Tao manja pada suho hyung. Mungkin sesekali ia iri dan manja pada Suho hyung. Itu jarang ia lakukan karena Suho hyung lebih memanjakan Tao. Disaat saat seperti itu Chen selalu manja pada Yixing ge.
THE END~
mian ya kalo akhirnya ga jelas, bingung akhirnya nih
oh iya, jangan lupa review nya yes? ^^
