CinDeidara
Disclaimer: Seiryuu Tayuya!
Disclaimer asli: Om Kishi en Om Disney!
Rated: K+ aja!
Warning: Fic stress! Jangan dibaca! Kalo ngotot, ya udah…Baca aja…
4: Tiba di Istana!
"Un... Gue mau ikut ke pesta dansa, tapi gue nggak punya gaun, un..." keluh Cindeidara. "Si Tobi mana sih, un!? Giliran gue nggak butuh, dia malah nongol. Tapi kalo gue lagi butuh, dia malah nggak nongol! Dasar payah, un!"
"Cindeidara!" panggil Konan. "Cepet ke sini!"
"Un, un, un..."
.
"Help we andand make to party!" perintah Saori sok inggris.
"Lu ngomong apa'an sih, un?" tanya Cindeidara swt.
BLETAK!
"Wadaw!" jerit Saori. "Kaa-san napa sih? Masa' aku dijitak?"
"Lu jadi anak malu-maluin tau!" jawab Konan. "Udah nggak bisa inggris, tapi malah sok inggris!"
"Lu sotoy sih..." kata Itami.
"Diem lu, keriputan!" balas Saori yang tersinggung.
"Nggak usah ngatain orang deh, cebol!" balas Itami dengan memberikan penekanan pada kata 'cebol'.
"Musang jelek!"
"Kalajengking bantet!"
BLETAK! BLETAK!
"Aduh..." rintih Itami dan Saori sambil memegangi kepalanya.
"..." Cindeidara swt.
"Ehem!" Konan mendehem. "Gini yah, Cindeidara.... Jadi maksudnya Saori tadi tuh, 'bantuin kita dandan buat ke pesta'!" Konan menerjemahkan bahasa monyet yang dipakai Saori tadi.
'Ngomong gitu aja susah banget...' pikir Cindeidara.
.
"Itami! Gaun merah yang lu pegang itu punya gue!" teriak Saori di dekat telinga Cindeidara.
'Ni orang, teriak aja kaya' kingkong ngamuk...' batin Cindeidara sambil mengelus-elus kuping-nya.
"Sembarangan lu! Ini punya gue tauk!" tegas Itami.
"Punya gue!"
"Gue!"
"Gue!"
"Gue!"
"Gue!"
Mereka berperang sambil lempar-lemparan bantal, baju-baju, alat-alat kosmetik, kursi, dan lemari.
"Perang Dunia deh, un..." kata Cindeidara.
Konan memasuki kamar Saori dan Itami. "Yuhuuuu~!!!" teriak Konan lebay. "Saori-chan! Itami-chan! Udah sele--!"
BUAGH!
Yah! Sayang sekali, pemirsa! Bantal yang dilempar oleh Pitcher Itami berhasil ditangkap oleh muka Konan!
"..." Cindeidara membisu.
'Mampus gue!!' batin Itami sampai wajah-nya terlihat pucat kaya' mayat hidup.
"Gaun itu punya gue tauk!" Saori yang masih belom sadar -kalau Konan sudah masuk- melempar sebuah bantal.
Syuuuut...
Luckily--Sok inggris lu! Bacot lu! Terserah gue mau ngomong apa! Woi! Lanjutin sonoh! Leader-sama udah mulai stress loh! Cih! Ehem! Luckily, Itami selamat dari peluru bantal tersebut karena lemparannya meleset. Bantal tersebut mendarat di... Muka Konan lagi!
BUAGH!
"..."
'O em ji! Mampus gue!!' batin Saori panik.
"..."
Pluk... Pluk...
Bantal-bantal tersebut lepas dengan sendirinya dari muka Konan. Dan sekarang terlihatlah muka Konan yang berwarna merah akibat stempel bantal tadi. Tidak hanya itu, terlihat juga sebuah senyum 'manis' terbentuk bibir Konan, dan beberapa aksen marah di kepala Konan.
"Ko-Konan-sama, un?" tanya Cindeidara takut.
"Kaa-san?" sambung Saori dan Itami.
"Kalian..." ucap Konan.
"I-iya?"
"CEPETAN DANDAN-NYA! JANGAN MAIN-MAIN!" teriak Konan sampai menyemburkan goukakyuu dari mulutnya, kaya' Uchiha. Seketika itu juga, background di sekeliling mereka berubah menjadi lautan api seperti Bandung.
"I-iya!!" jawab mereka kompak karena ketakutan.
.
"Huh! Gara-gara lu sih!" dengus Itami kesal kepada Saori.
"Enak aja! Lu 'kan yang mulai lempar bantalnya!" balas Saori.
"Udah dong, un... Jangan berantem, un..." Cindeidara meleraikan.
Namun, perkataan Cindeidara tidak digubris sama sekali. Mereka malah memulai perang untuk kesekian kalinya.
"Hah... Dasar budeg, un..." kata Cindeidara.
"APA LU BILANG!?" tanya Saori dan Itami bersamaan.
"Bukan apa-apa, un..." jawab Cindeidara bohong.
.
"Saori-chan! Itami-chan! Udah selesai belom!?" tanya Konan sambil membawa stick baseball.
"Gue dulu yang keluar!" teriak Saori.
"Gue dulu!" balas Itami.
"Gue!"
"Gue!"
"Gue!"
"Gue!"
"..." Cindeidara en Konan swt melihat kelakuan si kucing garong, eh, kelakuan anak-anaknya.
"Kalian! Cepet keluar dong!!" teriak Konan.
"Udah deh, lu cepetan keluar 'kek." kata Cindeidara sambil menendang Saori dan Itami yang masih berebut keluar duluan.
DUAGH!!
"Kya!" jerit Saori dan Itami yang ditendang.
"Hah... Keluar juga, un..." kata Cindeidara.
"Baka Cindeidara! Kenapa Saori-chan sama Itami-chan ditendang!?" marah Konan.
"Biar mereka cepet keluar, un." jawab Cindeidara enteng.
"Baka lu! Sakit tau!" protes Saori.
"Lagian, itu 'kan salah kalian sendiri, un." jawab Cindeidara.
"Maksud lu?" tanya Itami.
"Siapa suruh kalian rebutan keluar duluan? Kalo kalian nggak gitu, gue nggak bakal nendang kalian, un."
"Tapi lu nggak usah nendang juga bisa 'kan!?" tanya Konan. "Pake cara lain 'kek!"
"Cara lain, un?" Cindeidara balik nanya. "Mau gue ledakin ato ditembak bazooka, un?"
"..." Konan, Saori, dan Itami terdiam swt, tidak bisa membalas perkataan Cindeidara.
.
"Oke, jadi Saori-chan sama Itami-chan udah siap?" tanya Konan.
"Udah dong!" jawab Saori dan Itami.
"Oke! Kita berangkat!" ajak Konan.
Konan dan anak-anaknya pun naik ke dalam kereta keledai yang dikendarai oleh seorang kusir berpakaian ketat warna hijau.
"Apa kalian sudah siap!?" tanya si kusir dengan suara keras.
"Udah..." jawab Konan dan anak-anaknya sambil mengelus kuping mereka.
"Hei, hei! Mana jiwa semangat masa muda kalian!? Jawab yang lebih semangat dong!" protes si pendamping kusir yang juga berpakaian hijau ketat.
"Biarkan saja, Lee!" kata si kusir kepada si pendamping kusir.
"Tapi Gai-sensei!" protes Lee kepada si kusir, "Mereka--!"
"Cukup, Lee!" sela Gai, "Yang penting, kita sudah memiliki semangat jiwa masa muda 'kan?" tanya Gai dengan senyum-nya yang 'cling'.
"Baik! Aku mengerti, Gai-sensei..." Lee terharu.
"Bagus kalau kau sudah mengerti, Lee..." Gai membuka tangannya, bersiap untuk memeluk Lee.
"Gai-sensei!!" Lee melompat ke dalam pelukan Gai. "Lee!!" Gai memeluk Lee.
Tiba-tiba saja, background di sekeliling mereka berubah menjadi pantai dengan matahari terbenam. (SFX: bunyi deburan ombak)
"Lihatlah matahari terbenam yang indah itu!" Gai menunjuk ke matahari terbenam tersebut.
"Aku melihatnya, Gai-sensei!"
"Mari kita berlari menuju matahari terbenam itu!"
"Baik!"
"Woi!! Kalo gitu kapan berangkatnya!?" teriak Konan yang kesabarannya sudah habis.
"Oh! Baiklah!" jawab Gai. "Kita berangkat, Lee!"
"Baik, Gai-sensei!"
"Baiklah!! Kita menuju istana dengan kecepatan penuh!!" teriak Gai.
"Osh!! Berangkat!!!!" sambung Lee.
WUUUUUUSSH!!
Kereta keledai tersebut berlari dengan kecepatan Tobi-berlari-waktu-dikejar-Sanbi.
"Dasar sinting, un..." ucap Cindeidara begitu mereka sudah berada jauh.
Sementara itu, di Istana Sang Pangeran...
Terlihat Sang Pangeran yang sedang mondar-mandir nggak jelas.
"Huh... Dia dateng nggak ya?" tanya Pangeran Hidan sambil mondar-mandir. "Dia dateng nggak ya?"
"..." Kakuzu dan Kisame swt melihat Sang Pangeran yang mondar-mandir gaje.
"Ouji-sama, lu ngapain sih, mondar-mandir gaje gitu?" tanya Kakuzu. "Kaya' anjing minta makan tau."
"Ouji-sama, jangan mondar-mandir terus dong!" nasehat Kisame. "Tadi anda mondar-mandir sampai nabrak tembok sama tiang, nanti mau ketabrak apa lagi!?"
"Gah! Bacot lu pada!" protes Hidan. "Gue lagi nungguin dia tau!"
"Dia?" tanya Kakuzu dan Kisame. "Dia siapa?"
"Cewek cantik yang gue temuin kemaren!" jawab Hidan. "Hm... Emang dia kaya' gimana?" tanya Kakuzu. "Dia tuh rambutnya panjang..." Hidan bernostalgia tentang putri gembel yang ditemuinya waktu itu. "Rambut panjang?" tanya Kisame. "Iya! Suara ketawa-nya juga manis..." sambung Hidan. "Suara ketawa-nya manis?" tanya Kisame lagi. "Tapi bajunya gembel!" sambung Hidan "Bajunya gembel!?" tanya Kisame makin bingung.
"Iya! Kalian kenal nggak!?" tanya Hidan nggak sabaran.
"Hmm..." Kisame berpikir, 'Rambutnya panjang... Suara ketawa-nya manis... Tapi bajunya gembel? Emang ada?'
"Lu nungguin kuntilanak?" tanya Kakuzu.
"Sembarangan lu!" jawab Hidan kesal. "Dia manusia tau! Bukan kuntilanak!"
"Tapi ciri-cirinya kaya' kuntilanak tau!" tegas Kakuzu. "Rambut kuntilanak 'kan panjang, suara ketawa kuntilanak juga 'manis', tambah lagi bajunya juga gembel! Berarti yang lu maksud tuh kuntilanak!"
'Bener juga ya...' Hidan manggut-manggut, 'Jangan-jangan yang waktu itu gue lihat... kuntilanak!?'. Hidan cengo sesaat, lalu berteriak dalam lebay-norak-dramatis-histeris mode, "Argh!! Nggak mau!! Gue nggak mau kawin sama kuntilanak!!"
"Hidan-chan!" panggil Pein. "Cepet keluar dong! Banyak putri cantik yang udah datang loh!"
"..."
Klek...
"Hidan-chan?" Pein masuk ke dalam kamar Hidan. "Kuzu? Same? Hidan-chan kenapa?"
"Ano... Ouji-sama lagi dalam lebay mode..." Kakuzu menjelaskan.
"Ha? Lebay mode?" tanya Pein bingung.
"Hiks hiks... Gue enggak mau kawin sama kuntilanak... Gue enggak mau kawin sama kuntilanak... Gue enggak mau kawin sama kuntilanak..." gerundel Hidan di sudut ruangan sambil memeluk kedua lututnya.
'Hari gini, masih percaya kuntilanak!? Cape' deh...' batin Pein. "Duh, Hidan-chan... Yang semangat dong!" kata Pein. "'Otou-sama nggak undang kuntilanak kok! Tenang aja!"
"Hiks... Bener Otou-sama nggak undang kuntilanak?" tanya Hidan memastikan.
"Bener! Percaya sama Otou-sama dong!" jawab Pein mantap meniru gaya Gai.
"Tapi, tapi..." kata Hidan.
"Tapi apa?" tanya Pein lagi.
"Gue undang kuntilanak itu!!" jawab Hidan. "Gimana nih!!??"
"UUAAAPPAAA!!??" tanya yang lainnya kompak (BGM: JEJEEEEE--NG!!).
Sementara itu, di kediaman Cindeidara...
Cindeidara sedang mengepel lantai, tiba-tiba...
"WA HA HA HA HA! WA HA HA HA HA!" suara tawa gaje itu terdengar lagi.
Cindeidara berhenti mengepel, "Tobi, un?"
Cindeidara berjalan ke arah jendela, lalu membuka jendela tersebut.
GREK
"Tobi, un?" Cindeidara memastikan bahwa suara gaje tadi adalah suara tawa Tobi.
"..." tak ada jawaban.
"Kaya'nya tadi gue salah denger, un..." Cindeidara hendak menutup kembali jendela tersebut...
"Cindeidara-chan~!!" tiba-tiba saja, Peri Tobi muncul dan hendak memeluk Cindeidara.
"Tobi~!!"
"Cindeidara-chaaaaan!!" teriak Tobi norak-lebay-dramatis.
"Tooooooobiiiiiiiii!!" Cindeidara juga teriak.
Entah kenapa, adegan tersebut berjalan bagai slow motion, persis saat Alex dan Marty (Madagascar) bertemu kembali.
"Cindeidara-chaaaaan!!" Tobi hampir memeluk Cindeidara.
"Tooooooobiiiiiiiii!!" Cindeidara juga hampir memeluk Tobi.
Dan mereka... BERPELUKAN!! (BGM: Teletubbies Theme Song)
POFF!!
Lagi-lagi, itu hanya bayangan Tobi, dan yang sebenaranya terjadi itu...
"Cindeidara-chaaaaan!!" teriak Tobi norak-lebay-dramatis.
"Tooooooobiiiiiiiii!!" Cindeidara juga teriak.
"Cindeidara-chaaaaan!!" Tobi hampir memeluk Cindeidara.
"Tooooooobiiiiiiiii!!" Cindeidara juga hampir memeluk Tobi dengan... tangan mengepal?
"Cindei--!!"
DUAAGH!!
"GYAAAA~NG!! SAKIT~!!" jerit Tobi. "Kenapa Cindedara-chan nonjok Tobi? Tobi 'kan anak baik! Tobi nggak salah apa-apa!"
"Baka, un!!" teriak Cindeidara. "Lu dari mana aja, un!? Gue nyariin lu dari tadi tau, un!!"
"Eto... Tobi habis dari Dufan! Enak deh!" jawab Tobi. "Cindeidara-chan mau ikut, nggak?"
BLETAK!
"Aduh!" Tobi memegangi kepalanya. "Kenapa sih!?"
"Lu bego ato apa sih, un!? Gue 'kan mau pergi ke pesta dansa-nya, un!"
"Oh iya ya... Tobi lupa." Tobi menepuk jidatnya sendiri karena ada nyamuk di jidatnya. "Oke deh! Cindeidara-chan bawain barang-barang yang Tobi sebutin ya?"
"Un! Apa aja yang harus gue bawain, un?"
.
"Beneran ini yang harus gue bawain, un?" tanya Cindeidara nggak yakin.
"Bener kok!" jawab Tobi. "Tunggu ya, Tobi inget-inget dulu mantranya!"
'Gue nggak yakin deh, un... Emangnya ini semua mau diubah jadi apa sih, un?' pikir Cindeidara sambil menatapi barang-barang tersebut. 'Cermin pecah, labu busuk sama bangkai tikus, un...' "Mantranya udah belom, un?"
"Sip!!" jawab Tobi mantap, "Tapi..."
"Tapi apa, un? Ada yang kurang, un?" tanya Cindeidara lagi.
"Nyanyiin lagu ngucapin permintaan-nya dulu dong!" jawab Tobi.
BLETAK!
"Aduh..." rintih Tobi.
"Jangan main-main dong, un!" protes Cindeidara.
"Uuuuh... Gomennasai..." kata Tobi, "Oke! Mantranya..." Tobi mengayunkan lolipop-nya.
Istana Sang Pangeran...
"Otou-sama, gimana nih!?" tanya Hidan cemas. "Aku nggak sengaja undang kuntilanak-nya!!"
"Udah, tenang aja! Kuntilanak-nya nggak bakalan masuk kok!" jawab Pein yakin, padahal sebenernya dia juga nggak yakin. "Kakuzu sama Kisame 'kan udah jaga di luar, tenang aja! Sekarang kamu duduk dulu sana. Putri-putri udah nungguin loh!" Pein mendorong Hidan pelan. "Otou-sama tinggal dulu ya! Otou-sama mau ngomong sama putri cantik yang di sana tuh!" Pein menunjuk ke seorang putri berambut biru dengan bunga mawar putih sebagai hiasan di rambutnya, lalu pergi meninggalkan Hidan.
"Jashin-sama... Moga tuh kuntilanak nggak dateng..." do'a Hidan.
Tiba-tiba, seseorang memasuki ruangan pesta. Orang itu rambutnya panjang, bajunya gembel...
Bulu kuduk Hidan berdiri, Kulitnya tiba-tiba menjadi pucat, 'I-Itu ra-rambutnya panjang, bajunya gembel, bukan berarti dia kuntilanak-nya 'kan?' Hidan berpikir.
"Hi hi hi hi hi hi... Hi hi hi hi hi hi..." orang itu tertawa dengan suaranya yang 'manis'.
'Nggak mungkin!! Suara ketawa-nya juga 'manis'!! Jangan-jangan dia kuntilanak-nya!?' pikir Hidan.
Makhluk itu mendekat ke Hidan. Hidan terlihat semakin pucat. Makhluk itu mencolek lengan baju Hidan, dan...
"Hey, bo'..." katanya lebay.
GUBRAK!
Hidan kejungkel dari kursinya.
"O-Orochimaru!? Ngapain lu di sini!? Harusnya lu di dapur 'kan!?" tanya Hidan begitu mengetahui bahwa kuntilanak tersebut adalah Orochimaru, koki istana.
"Iih... Ouji-sama kok judes sih?" tanyanya lebay, "Oro cuma mau nanya, hidangannya mau disiapin sekarang ato nanti aja? Gitu loh..."
"Disiapin nanti aja!" jawab Hidan. "Pergi sana! Hush hush!"
"Oke deh... Eike mau balik dulu! Bubay!" katanya lebay sambil pergi meninggalkan Hidan.
'Hah... Gue kirain kuntilanak, ternyata malah Orochimaru... Bikin kaget aja!' batin Hidan.
Tiba-tiba lagi, seseorang memasuki ruangan pesta...
"Hm? Apa tuh?" tanya Hidan. "Kaya'nya sih bukan kuntilanak..."
Sosok itu semakin jelas terlihat, tampak seorang putri cantik nan anggun, berambut pirang panjang, dengan gaun berwarna putih dan sepatu kaca yang menghiasi kakinya. Putri itu menjadi pusat perhatian yang lain, termasuk Hidan.
"Ouji-sama, un..." putri itu berjalan mendekati Hidan..
Hidan merasa 'deja vu', "Kamu... Yang waktu itu 'kan?" tanyanya.
Putri itu mengangguk pelan.
Hidan mengulurkan tangannya, "Berdansalah denganku..."
"Dengan senang hati, un..."
...TBC...
Starring:
Deidara as FemDei, Cindeidara
Konan as Konan, sang ibu tiren -digeplak- maksudnya, sang ibu tiri
Sasori as FemSaso, Saori a.k.a kakak tiri Cindeidara
Itachi as FemIta, Itami a.k.a kakak tiri Cindeidara
Kisame as Kisame, sang pelayan
Kakuzu as Kakuzu, sang pengawal
Pein as Pein, sang raja
Hidan as Hidan, sang pangeran
Zetsu as Zetsu, sang narator
Tobi as Tobi, sang ibu (?) peri
A/N: Huwaaa... Capek... Maaf kalo kelamaan apdet-nya... Gomennasai!
RnR, please?
Behind the scene...
"Henge no jutsu!!"
POFF!!
"..."
"Huwaaa!! Ternyata kalian juga bisa!!" teriak Tobi senang.
"Gyahaha!! Kalian hampir nggak ada bedanya sama wujud kalian yang sebelumnya!! GYAHAHA!!" ejek Hidan.
"Diem lu!" protes Itachi dan Sasori kesal.
Apa yang terjadi sebelumnya?
Jawab:
"Ano... Kalo kita jadi kakak tiri-nya, berarti kita juga harus pake henge no jutsu?" tanya Itachi. "Udah tau jawabannya, ngapain tanya?" Pein balik nanya.
"Yang bener aja!" protes Sasori, "Masa' kita harus pake henge no jutsu!?"
"Danna nggak usah malu, un!" hibur FemDei, "Gue aja nekat pake henge no jutsu, masa' lu nggak, un?"
"Lu 'kan udah dari sananya banci kaleng!! Sedangkan gue 'kan cowok tulen!!" protes Sasori lagi.
"Apaa!? Enak aja, un! Gue juga cowok tulen tau, un!!"
"Lu cowok tulen apanya!? Sekarang lu itu cewek tau!!"
"Ini 'kan karena pake henge no jutsu, un!! Tapi aslinya gue cowok tulen, un!!"
"Gue nggak percaya!! Dasar banci kaleng!!"
"Dasar bonsai, un!!"
"Diem lu, maniak!!"
"Anak bayi, un!!"
"Hah... Mereka berantem terus nih..." keluh Kisame.
"Udah biarin aja... Nanti mereka juga berhenti..." kata Konan sambil memilih-milih bajunya yang akan dipakaikan kepada FemDei.
"Kita taruhan yuk, siapa yang menang." ajak Zetsu hitam. "Nggak boleh!! Taruhan itu nggak baik!!" protes Zetsu putih. "Bilang aja lu takut kalah." sindir Zetsu hitam.
"Gue ikut!" ucap Kakuzu.
"Oke, lu dukung siapa?"
"Hm... Gue dukung... Hm... Sasori=Seme, Deidara=Uke... Biasanya sih, kebanyakan Seme yang menang. Jadi gue dukung Sasori!"
"Kakuzu! Apa maksud lu gue=Seme, hah!?" protes Sasori. "Apa'an tuh!? Gue=Uke!? Sejak kapan gue jadi Uke-nya Danna, un!?" sambung FemDei.
"Duh..." Kakuzu menutup kuping-nya. "Kalian lanjutin berantem-nya sono! Ini bukan urusan kalian tau!"
"Kalo gitu gue dukung Deidara-chan!"
"Zetsu-chan sama Kakuzun lagi ngapain? Tobi mau ikutan dong!" pinta Tobi yang tiba-tiba nongol.
"Jangan! Anak baik nggak boleh ikutan!" cegah Zetsu putih. "Uh... Yawdah! Tobi anak baik! Tobi nggak mau ikutan!" kata Tobi sambil pergi dari tempat itu.
Dan kira-kira begitulah yang terjadi beberapa menit yang lalu...
.
Kembali ke waktu sekarang...
"Kyaaa!! Kalian manis deh!!" teriak Konan gemas sambil mencubit pipi kedua banci baru itu satu persatu. "Coba deh kalian pake ini! Pasti manis!" Konan menunjukkan mereka sebuah gaun warna pink berenda dengan pita besar di bagian pinggang belakangnya. "Habis itu coba pake yang ini deh!" Konan menunjukkan sebuah gaun ungu bercorak bunga.
"..." FemSaso dan FemIta swt.
"Huhuhu..." Kakuzu menangis lebay karena kalah taruhan, "Anak-anakku... Pacarku... Huhu..."
...TBC...
