Tittle: You're my pet_side story ; "Our Child's diary"

Characters Details:

Hungary_M ( Elizabeta ) – Austria_P ( Roderich ) – Russia_M ( Ivan ) – German_M ( Ludwig ) – Prussia_SP ( Gilbert ) – Italia_M/SP ( Feliciano ) – Japan_P ( Kiku ) – France_M ( Francis ) – America_M ( Alfred ) – England_P ( Arthur ) – Switzerland ( Vash Zwingli ) –Liechtenstein ( Lili ).

Rat : M ( and more…)

Genre : Angst – Hurt/ Comfort – Romance ( bigwarning: MPREG / PPREG – male!pregnant / pet!pregnant)

#kalau tidak suka dengan rat M+ dan MPreg/PPreg, langsung CLOSE! ^_^

Desc: Himaruya Hidekazu

A/N :

^_^ menggunakan nama dari character masing-masing. M ( master ) dan P ( pet ) + SP ( special pet ).

Song: Hatsukoi

PoV : Gilbert ( Prussia )

-ooostart part4ooo-

Satu menit, satu jam, satu minggu, satu bulan. Tidak terasa waktu yang terus berjalan, kini sudah memasuki bulan ke 8 dan minggu ke 2. Semua pekerjaan berlangsung dengan baik namun tidak ada perubahan yang terjadi antara aku dengan Roderich. Selama aku bekerja, dia tetap kutitipkan ditempat Yao dan Kiku, karena aku tidak ingin terjadi sesuatu dengannya.

Tiap kali aku menjemputnya, Roderich selalu terdiam dengan pandangan kosong. Sejak aku mengabarkan masalah kehamilannya, dia bertambah diam bahkan akupun mendengar laporan kalau dia selalu terdiam dan menyendiri selama yang lainnya berkumpul. Bahkan dia sering kali terbawa oleh pikirannya ketika dipanggil untuk makan siang ataupun disaat pemeriksaan. Dengan kata lain, pandangan dan kesadarannya semakin kosong.

Memasuki minggu ke 3, bentuk tubuh Roderich semakin berubah dan membuat sikapnya semakin menjauh dariku. Tidak hanya ditempat penitipan, dirumah pun dia lebih sering menjauhiku dan termenung sendirian di ruang tengah. Setiap kali aku memanggilnya, dia lebih banyak diam seperti menghiraukanku.

"Roderich, sudah saatnya makan malam…," panggilku perlahan seiring kuletakan mangkuk makananya diatas meja ruang tengah kami. Roderich masih duduk terdiam sambil memeluk bantal kesayangannya dengan arah pandangannya yang membelakangiku. "…ayo kita makan, Roderich…"

"…" Roderich masih terdiam dan tatapannyapun terlihat kosong.

"Roderich…" aku duduk disebelahnya dan memeluknya dari belakang. "Roderich… Kumohon kembalilah seperti Roderich yang kukenal…" kusandarkan kepalaku pada bahunya dan memeluknya semakin erat. "Sekarang kita makan dulu ya, Roderich. Aku tidak ingin kamu sampai sakit nantinya…"

Kukecup pipinya sesaat lalu membalikan tubuhnya sehingga kami saling berhadapan. Perlahan kuambil mangkuk makan malamnya dan menyuapinya. Walaupun pandangannya kosong, dia masih diam menurut ketika kusuapi. Dalam waktu 15 menit dia menghabiskan makan malamnya dan kulanjutkan membersihkan peralatan makan sebelum menemaninya beristirahat.

Tepat sebelum aku duduk menemaninya, telepon genggamku berbunyi dan kudapatkan sebuah pesan singkat yang dikirim oleh Kiku. Isi pesan tersebut mengenai keadaan Roderich yang ingin disampaikan oleh Yao. Mereka memintaku untuk segera membawa Roderich tinggal disana jika tidak ada perubahan sebelum memasuki bulan ke sembilan. Khawatir jika Roderich akan diam saja disaat kandungannya sudah mencapai batas umurnya.

Mengetahui rencana tersebut, tentu saja aku langsung menyetujuinya. Selesai mengirimkan balasan, aku kembali duduk dan membiarkan Roderich bersandar pada pundakku. Pandangannya masih kosong walau acara di televisi cukup menarik perhatian. Kucoba untuk tertawa dan mengajaknya berbicara, namun dia tetap diam tanpa suara.

"Roderich… Sebentar lagi buah hati kita akan datang menemani kita berdua. Kira – kira nama apa yang bagus kita berikan untuknya ya?," gumamku mencoba menarik perhatiannya.

"…" Roderich tetap diam dengan tatapan kosongnya.

Pemandangan seperti ini memang tidak asing bagiku, namun tetap terasa menyakitkan dan membuatku semakin merangkulnya dengan erat. Sungguh aku tidak ingin melepaskan dirinya dan melihat dia ceria seperti dulu. Jika dapat memutar waktu, aku ingin kembali disaat aku tidak memberitahukan mengenai kehamiliannya ini. Sungguh aku tidak menyangka bahwa informasi tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar.

"Roderich… Sampai kapan kamu akan diam seperti ini…?" ucapku perlahan tetapi kusadari nada suarapun ikut bergetar. Kedua tanganku yang kulingkarkan pada tubuhnya, semakin kudekatkan dan kukecup pipi putihnya. Tubuhnya kini seperti sebuah boneka besar namun mempunyai nyawa yang sangat berharga. "Kumohon Roderich… Sadarlah…"

Hari semakin larut dan kuputuskan untuk segera mengakhirinya dengan menyiapkan tempat tidur untuk kami berdua. Setelah selesai, kutuliskan sebuah pesan singkat yang kukirim melalui telepon genggamku kepada Ludwig mengenai keabsenanku untuk beberapa hari kedepan. Untung saja Ludwig mengerti dan mengizinkanku, bahkan memberikanku waktu cuti selama 1 bulan jika keadaan Roderich semakin buruk.

"Yosh. Kesesese… tempat tidur sudah siap dan kini saatnya mengajak sang putri untuk segera beristirahat," gumamku penuh semangat. Selain untuk menyemangati diri, aku tidak ingin terlihat sedih didepannya karena aku mengerti dapat memberikan beban tekanan lain kepadanya.

Tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh yang cukup keras, bahkan sanggup membuat getaran pada jendela di kamar ini. Memang tidak berbahaya, namun angin bercampur air cukup membuatku merasa khawatir dengan ketahanan jendela di seluruh gedung apartemen ini. Aku tidak ingin keluar dari apartemen ditengah cuaca seperti ini.

"Roderich, ayo kita segera tid- Roderich!"

Detak jantungku berdetak sangat cepat ketika kudapatkan Roderich duduk disalah satu sudut ruangan dengan kedua kaki didepannya dan kedua tangan di atas kepalanya. Kedua telinganya turun mengikuti bentuk kepalannya dan ekornyapun dia lingkarkan pada tubuhnya. Dia terlihat sungguh ketakutan dan ingin berlindung dari suatu hal yang menakutkannya.

"Tenang, Roderich… Aku ada disini. Tenanglah…"

Wajah Roderich basah oleh air mata dan keringat, tubuhnya bergetar hebat dan pandangannyapun terlihat histeris. Kupeluk dia dan mencobanya untuk membawanya masuk kedalam kamar. Tetapi aku gagal karena dia tidak ingin melewati jendela yang kini menjadi jurang antara tempat kami berada dengan kamar kami.

Aku yang semakin tidak tahan, akhirnya kuarahkan wajahnya dengan kasar untuk menatapku, lalu menciumnya dalam–dalam. Tubuh lemahnya terhentak dan memberontak. Tetapi perlawanannya tertahan oleh kedua tanganku yang mengunci gerakannya. Bibir kami terus bersentuhan dalam waktu yang cukup lama hingga akhirnya kuberikan beberapa saat untuk dia mengambil oksigen.

"Roderich… ingatlah aku… Gilbert… Gilbert, orang yang menyayangimu… kini berada diharapanmu…," ucapku sebelum kembali menempelkan bibirku dan beradu lidah dengannya.

"Gil..bert…," ucapnya perlahan seiring lidahku masih beradu dengannya. Kini tubuhku terhentak dan menatapnya untuk meyakinkan pendengaranku atas panggilannya. "Gil…bert…"

"Ya…Aku disini, Roderich… Kumohon, sadarlah dan kembalilah padaku…"

"G-gilbert… ma-maaf…ma…maafkan..a..a-aku…"

Roderich tidak menatapku namun aku percaya bahwa dia sedang berusaha melawan kekacauan dalam dirinya. Kupeluk dirinya dan mengelus punggungnya perlahan. "Tidak apa-apa, Roderich. Aku tidak marah denganmu…dan tidak ada yang perlu aku maafkan darimu. Kamu tidak salah, Roderich…"

"…Gil..Gilbert…"

Perlahan tetapi kurasakan kedua tangannya dia gerakan dan dalam beberapa saat kedua tangannya melingkar pada leherku.

"Ro-roderich…" ucapku terputus-putus.

"Gilbert…! Gilbert…!" Kini dia memendamkan wajahnya pada bahuku dan tangis pun semakin mengisi kekosongan diruangan ini.

"Roderich…," kusambut kedatangannya kembali dengan mengecup pipinya, mengelus wajahnya seiring kuhapus air matanya dengan tanganku. "Selamat datang kembali, Roderich…"

"Gilbert…," tatapannya yang begitu lemah membuatku semakin mengerti atas ketidak berdayanya dia. Kubiarkan dia bersandar pada dadaku dan kurasakan getaran tubuhnya semakin tenang. Kuselipkan tanganku pada lengan kakinya dan membawanya kedalam kamar untuk beristirahat.

"Selamat datang kembali, Roddy…"

Keesokan harinya aku meminta Yao untuk datang ke rumah untuk membantuku memeriksa keadaan Roderich. Beruntung Yao mengerti atas permintaanku yang begitu egois karena dia harus membiarkan kedua saudara lainnya untuk menjaga klinik, sedangkan dia dan Kiku harus datang ke apartemenku.

"Tidak apa, Gilbert. Mendengar ceritamu mengenai kejadian semalam, aku dapat memakluminya. Sepertinya ada trauma yang tidak kita ketahui dan tentu saja aku tidak ingin membuat keadaan pasienku semakin buruk. Jadi tenang saja, Gilbert." Jelas Yao sebelum berangkat menuju apartemenku.

Tidak hanya Yao, Ludwig bersama dengan Feliciano, Ivan dengan Toris, Alfred dengan Arthur ikut datang berkunjung. Keperluan yang berbeda dalam hari yang sama. Ludwig dan Feliciano datang untuk membantuku membeli beberapa makanan karena keterbatasanku untuk meninggalkan Roderich. Alfred dan Arthur datang untuk menanyakan perkembangan Roderich, sedangkan Ivan bersama Toris datang mengunjungiku dengan sebuah kejutan.

"Lihat, da…Bagaimana?," ucap Ivan seperti seorang anak kecil yang baru saja mempunyai sebuah 'mainan' barunya. Apa yang Ivan pegang kini bukanlah sebuah mainan, namun bayi laki-laki yang baru lahir beberapa bulan lalu.

Roderich yang duduk disebelahku ikut diam tersenyum sambil memegang perutnya melihat sikap mantan majikannya. Alfred ikut berteriak senang sedangkan Arthur berusaha untuk mendiamkannya. Ludwig dan Feliciano sendiri ikut merasa senang, bahkan meminta beberapa saran kepada Toris.

Kutatap bayi mereka yang begitu kecil dan menggemaskan. "Walau rambutnya sepertimu, namun warnanya turun dari Toris. Selain itu, wajah tembamnya mengingatkanku pada wajah tembammu, Ivan…"

"Hey, berhentilah menggodaku, Gilbert…," balas Ivan dengan sebuah pukulan kecil dengan tangan kanannya. Tangan kirinya masih dia pertahankan sebagai penopang anaknya untuk tidur.

"Sungguh bayi yang sehat, aru.." tambah Yao setelah selesai memeriksa bayinya karena mendapatkan keluhan kesehatan dari Toris.

"Benarkah?," tanya Toris khawatir. "Karena dia jarang menangis dan selalu saja diam walau popoknya basah…"

"Tidak apa-apa, Toris-san," tambah Kiku. "Mungkin sifatnya yang begitu pendiam membuatnya tidak banyak menangis…"

Kali ini Yao tertawa pelan. "Sepertinya aku mengenal sekali sifat bayi yang seperti itu, aru…" Ivan dan Kiku terdiam malu, karena masa kecil merekapun sama seperti bayi Ivan dan Toris. "Baiklah, aru. Apa kalian ada yang mau makan siang? Aku lapar, aru…"

"Bagaimana kalau kita pesan pasta?" tambah Feliciano tiba-tiba. Ludwig hanya bisa menghela nafas melihat semangat pasangannya jika sudah menyangkut makanan.

"Baiklah, kesesese… kalian boleh pesan apa saja dan bebas untuk makan disini, kesesese…" Kami semua tertawa lebar mengisi ruangan yang selalu sepi sekaligus memilukan.

Suara tawa yang memecah diruangan ini berganti dengan suara kepanikan ketika kurasakan sebuah genggaman yang cukup keras pada lenganku. Ketika aku membalikan arah pandanganku, wajah Roderich begitu lemah seperti menahan sesuatu yang begitu menyakitkan. Kutatap seluruh tubuhnya dan kusadari sesuatu cairan mengalir keluar menelusuri kaki Roderich.

"Roderich!," panikku dan seluruh penghuni ruangan ini mengikuti arah suara kepanikanku. "Yao, apa yang terjadi dengan Roderich?"

Tanpa membuang waktu, Yao mendekati Roderich dan memeriksa keadaan tubuhnya. "Gilbert, ternyata masa batasnya diluar dugaanku. Kini dia harus menjalani persalinan."

"A-apa?," panikku. Kugenggam tangan Roderich yang ikut menahan rasa sakit pada tubuhnya. "A-apa yang harus aku lakukan?"

Yao melihat sekeliling dan bersigap mengambil tas peralatannya. "Kiku, tolong kamu siapkan air hangat bersama dengan Feliciano. Arthur apa kamu bisa membawa Toris beserta anaknya untuk keluar sejenak? Aku takut akan mengganggu ketenangan anaknya. Alfred dan Ludwig tolong bawakan beberapa handuk dan baskom, sedangkan Ivan tolong kau bantu aku karena kamu sebelumnya pernah membantu di persalinan Toris bukan?"

Tanpa membuang waktu, mereka segera bergegas menurut pembagian masing – masing. Arthur, Toris dan anaknya segera keluar karena mereka mengerti dengan suasana yang cukup menegangkan dan takut menimbulkan rasa trauma pada anaknya. Ludwig menunjukan beberapa handuk bersama dengan Alfred, sedangkan Ivan membantu membopong Roderich dan memposisikan tubuhnya dibelakan punggung Roderich sebagai bantalan.

"Gil..bert…," tatapn Roderich lemah.

Kugenggam tangannya dengan erat lalu menatap Yao dan Ivan secara bergantian. "Apa yang dapat aku kulakukan untuk membantunya?"

Ivan tertawa kecil yang diikuti oleh Yao. "Tenang saja, da. Kau cukup menyemangatinya, da. Sisanya serahkan pada kami…"

"Benar yang dikatakan oleh Ivan, aru. Kau harus bisa membuatnya tegar, Gilbert…," Yao kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya.

Setelah beberapa saat, Ludwig dan Alfred kembali dengan beberapa handuk beserta baskom. Kiku dan Felicianopun membantu meletakan air hangat disebelah Yao.

"Ludwig, maafkan aku," ucap Yao tiba-tiba. "Tetapi bisakah Alfred membawa Feliciano keluar untuk pergi ke klinikku? Karena aku masih membutuhkan bantuanmu disini."

"Ya, tidak apa Yao," ucap Ludwig singkat.

"Lalu, apa yang harus kami lakukan?," sambung Feliciano.

"Tolong kau katakan kepada dua adikku di klinik untuk memberikan berkas kelahiran dan beberapa botol uji percobaan. Selain itu, katakan pada mereka untuk memberikan kalian kotak biru yang berada di dalam ruang kerjaku," jelas Yao seiring mempersiapkan handuk hangatnya.

"Kotak biru?" kali ini Alfred yang angkat bicara.

"Ya. Di kotak itu berisi beberapa obat-obatan tradisional."

"Baiklah. Kalau begitu kami berangkat dulu," pamit Alfred yang langsung diikuti oleh Feliciano.

"Sa-sakit, Gilbert…," ucap Roderich perlahan seiring menggenggam tanganku dengan kuat.

"Bersabarlah, Roderich…" kukecup keningnya sebagai rasa dukunganku padanya.

Yao sungguh professional. Setelah perlahan melepaskan seluruh kain penutup bagian bawah, kedua kaki Roderich dibuka lebar olehnya dan diletakan disisi luar kaki Ivan. Roderich sempat terhentak karena merasakan tangan dingin Yao yang mulai menyentuhnya. Tatapannya sempat histeris ketakutan, namun aku yang berada disisinya langsung menutupi arah pandangannya dengan meletakan setengah tubuhku diatas dadanya, tangan kananku mengelus rambutnya, sedangkan tangan kiriku menghapus keringatnya. Kukecup keningnya dan mengelus rambutnya sambil berbisik, "Tenanglah Roderich. Aku ada disisimu…"

"Gi-gilbert…" ucapnya lemah.

"Ya…tenang saja…"

Tenang saja… aku memang berkata demikian, namun sebenarnya rasa takut dan khawatir mulai menguasaiku. Ditengah kepanikanku, kurasakan hangatnya tangan seseorang yang diletakan pada pundakku. Ternyata tangan tersebut adalah tangan Ivan, dia menatapku dan tersenyum padaku, seakan dia menyampaikan pesan bahwa ini akan baik–baik saja.

"Nah, Roderich…Jika kamu sudah siap, kamu bisa memulainya kapan saja, ucap Yao tanpa mengalihkan pandangannya pada bagian bawah Roderich dengan sebuah handuk pada kedua telapak tangannya.

Tanpa membuang waktu, genggaman Roderich semakin keras dan sepertinya sanggup untuk menghancurkan seluruh tulang jemariku. Genggaman tangannya sungguh kuat sampai merubah warna telapak tangannya menjadi putih pucat. Namun genggaman yang kuat itu masih tidak dapat menahan rasa sakitnya. Nafasnya saling memburu dan airmata kembali mengalir dari sudut matanya.

"A..a-argh…! Gi-gilbert… Sa..sakit!," Roderich terus berteriak memanggil namaku namun aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya. Disaat seperti ini, membuatku merasa tidak berguna.

"Berusahalah, Roderich…Kumohon…," ucapku tanpa melepaskan genggamannya yang begitu menyakitkan dan menghapus keringat beserta airmata dengan telapak tangan kiriku.

"Sudah terlihat…!" teriak Yao menyemangati. "Kepalanya sudah terlihat, Roderich…"

Mulut Roderich terbuka lebar namun tidak ada suara karena rasa sakit yang begitu menyakitinya. Disetiap dia berusaha mendorong, aku terus membisikan bahwa aku berada disisinya dan berusaha untuk menyemangatinya.

"Ludwig, tolong handuk berikutnya," seru Yao seiring menahan tumpahan darah yang terus mengalir dan dengan sigap Ludwigpun memberikan handuk baru.

"Tenang, da," ucap Ivan tiba-tiba sambil mengelus bahu Roderich dengan tangannya yang menyilang di depan dada Roderich. "Tenanglah maka rasa sakit itu akan sedikit berkurang…"

Sesaat Roderich menatapku dan Ivan secara bergantian. Akupun membalas menatapnya dan mengangguk perlahan. Wajah Roderich yang terlihat lemah dan ketakutan kini mulai terlihat tenang dan dengan sebuah genggaman paling kuat, akhirnya sebuah tangisan mengisi ruangan ini.

"Selamat. Anak kalian perempuan," ucap Yao sambil memberikan bayi kami kepada Ludwig sebelum melakukan beberapa penutupan pada tubuh Roderich.

"Gil…bert…," panggilnya perlahan yang diikuti sebuah senyuman olehnya.

"Ya, kita mempunyai seorang putri, Roderich… Anak kita perempuan…"

Roderich tersenyum padaku namun tiba-tiba saja genggaman tangannya melemah dan jatuh begitu saja. Spontan akupun berteriak histeris memanggil namanya. Yao yang mendengar teriakan panikku langsung memeriksa denyut nadi Roderich.

"Gerakannya melemah! Gilbert, cepat bawa dia ke kamar dan selimuti dia. Lalu segera kamu berikan infus dan obat ini untuk membantu menambah staminanya. Aku takut ini dampak dari proses kelahirannya yang begitu mendadak," ucap Yao dengan cepat sambil memberikan sebuah botol obat, lalu mengambil alih putri kami untuk tahap pemeriksaan selanjutnya.

Aku mengangguk sebagai jawaban singkat dariku. Ivan membantuku memposisikan tubuh Roderich dan membantuku membawanya kedalam kamar. Suara tangis anak perempuan kami masih terdengar walau Ludwig sudah berusaha menenangkannya. Sepertinya dia menyadari bahwa keadaan 'ibu'nya dalam bahaya.

Tanpa memperdulikan darah pada tubuh Roderich, kuletakan tubuh lemahnya diatas tempat tidurku dan dengan segera menyelimutinya. Aku yang juga terbiasa mengurus dan melakukan pemeriksaan, segera memeriksa kembali denyut nadi Roderich. Tubuhku terhentak karena suhu tubuh dan denyutnya yang terus menurun. Kukeluarkan infus cadangan yang pernah kubeli saat merawat Roderich untuk pertama kalinya. Setelah selesai memberikan infus dan obat pemberian Yao, aku kembali memeriksa keadaannya dan dapat sedikit bernafas lega karena denyut nadinya perlahan mulai meningkat.

"Gilbert, tenanglah. Dia akan baik-baik saja," Ivan merangkulku dari belakang dan membiarkanku bersandar pada tubuh tingginya.

"Ya, aku yakin dia akan baik-baik saja…" Tanpa mengalihkan pandanganku pada Roderich, perlahan aku kembali mendekatinya dan menggenggam tangan kanannya yang begitu lemah. "Roderich, bukalah matamu. Bukankah kamu berjanji akan selalu ada disisiku? Kenapa sekarang kamu tidur, Roderich? Ayo buka matamu dan lihatlah betapa manisnya anak kita…"

"Gilbert…" Yao berjalan perlahan mendekatiku dan memberikan sebuah bungkusan plastik berwarna putih. "Tenanglah. Biarkan dia beristirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya…"

"Ta-tapi…"

Yao menggeleng. "Tidak apa-apa. Ini salah satu reaksi yang wajar bagi mereka yang harus menjalankan persalinan diluar dari perencanaan. Oh ya, jangan lupa berikan obat ini jika dia sudah siuman. Ini adalah obat yang biasa kuberikan kepada pasienku setelah melewati proses persalinan tanpa perencanaan. Selain itu, obat ini adalah suplemen untuk mengganti darahnya yang sudah terbuang banyak dan memberikan tenaga untuk keesokan harinya."

"Benarkah dia tidak apa-apa, Yao?"

Yao kembali mengangguk. "Gilbert, sampai Roderich siuman, apa kamu mau melihat anak perempuanmu?"

Aku mengangguk perlahan dan berjalan keluar mengikuti Yao dari belakang untuk mendekati Ludwig yang masih berusaha mendiamkannya. Ludwig menatap kami penuh cemas karena suara tangisannya yang tiadahenti dan mulai parau. Anak kami yang terbungkus kain ungu muda, dipindah-alihkan kepadaku. Secara perlahan kugendong dia didalam pelukanku sambil menggerakan tanganku ke kanan dan ke kiri.

"Ibumu sudah aman, nak. Kamu tidak perlu khawatir lagi," ucapku perlahan seiring kugerakan tanganku dan mendekapnya dengan erat. Kuhapus air matanya dengan jari tangan kananku dan mengecup keningnya untuk membuatnya lebih tenang. Tidak lama kemudian, suara tangisnya semakin berkurang dan perlahan menghilang seiring kedua matanya tertutup rapat dan jari telunjukku yang di genggam erat olehnya. Aku tersenyum dan menempelkan wajahku pada pipinya tanpa memperdulikan sekelilingku.

"Ah..akhirnya dia tenang juga," keluh Ludwig seiring melebarkan kedua tangannya ketika duduk disofa besar di ruang tengah ini. "Sungguh susah menenangkannya…"

"Itu karena kamu belum terbiasa, Ludwig." Tawaku perlahan lalu duduk disebelahnya. "..dan walaupun demikian, dia adalah keponakanmu sendiri…"

"Ya. Kamu benar, Gilbert." Ludwig meluruskan posisinya lalu mendekatiku untuk melihat putriku. "Dia benar-benar mirip kalian berdua, ya…"

"Tentu saja, bodoh! Kesesese…" bantahku disela tawaku. Kulit putih dengan salah satu telinga 'binatang'nya yang menurun, jenis rambutnya yang mirip dengan Roderich namun memiliki warna yang sama dengan rambutku. Selain itu ekornyapun tidak seperti ekor 'kucing'. Lebih mirip dengan rubah karena mempunyai panjang yang mirip dengan 'kucing' namun berbulu seperti 'serigala'. Ya, bukti bahwa dia benar-benar anakku dan Roderich.

"Anak kalian benar-benar lucu, da.." sambung Ivan yang tiba-tiba saja datang dari arah belakangku. "Ah. Ternyata dia mempunyai ciri khas yang sama dengan Roderich."

"Eh?" celetukku tidak mengerti. Ivan tersenyum dan menunjukan sesuatu pada wajah anak kami. Sebuah titik hitam yang berada di sudut kiri bibirnya. "Kamu benar, Ivan. Dia sungguh menawan…"

"Oh ya, apa kalian sudah menyiapkan nama untuknya, aru?" sambung Yao yang ikut duduk bersama dengan kami.

Keheningan sesaat mengisi ruangan ini. Tentu saja aku dan Roderich belum menyiapkan nama. Sebenarnya aku ingin menyiapkan sebuah nama untuknya namun aku ingin mendapatkan nama yang disiapkan oleh Roderich. Oleh karena itu aku hanya bisa menggeleng sebagai ganti jawaban mereka.

"Tidak apa-apa, aru. Untuk sementara data anak kalian akan aku tahan dulu. Usahakan kamu sudah memberinya nama selama seminggu ini…"

"Baiklah. Terima kasih, Yao. Terima kasih semuanya…" ucapku perlahan dan kembali menatap wajah putri kami yang tertidur dalam ketenangan. "Istirahatlah sejenak seperti ibumu yang sedang berjuang mengumpulkan tenaga sebelum kembali memulai kesehariannya bersama dengan dirimu, nak…"

-oooo-

"Papa…" suara tawa seorang anak ditengah lari kecilnya dengan sebuah biskuit di tangannya. Dia adalah Elica, anak perempuan kami yang kini sudah berusia 5 tahun. "Papa, hari ini mama masak kue coklat lagi!"

Kubalas dengan senyuman dan menangkap tubuh kecilnya. "Benarkah?" dia mengangguk lalu menggerakan tubuhnya tanda minta dilepaskan dari gendonganku. Tertawa kecil, kuikuti arah larinya menuju dapur dimana tempat orang terkasihku sedang sibuk dalam kegiatan kesukaannya.

"Mama, minta lagi…," ucapnya dengan tangan terbuka.

Roderich tersenyum, lalu menunduk sesaat dan meletakan tangannya diatas kepalanya. "Tidak, sayang. Kamu sudah makan 3 potong. Bagaimana kalau kamu nanti sakit gigi atau sakit?"

"Tapi…"

"Sudahlah…," sambungku dari belakangnya. "Elica, bagaimana kalau kamu kembali kekamarmu untuk bersiap-siap? Sebentar lagi Riva, dan yang lainnya akan segera datang bukan. Apa kamu mau mereka melihatmu dengan penampilan seperti ini?"

Elica menatap baju birunya yang penuh dengan sisa coklat yang menempel lalu memegang rambutnya yang sudah melebihi bahunya dan menatap bulu ekornya yang berantakan. Tawa kecilnya ditunjukan kepada kami dan menatapku. "Ya, hari ini adalah giliranku menjadi putri…"

"…dan seorang putri tidak berpenampilan seperti ini bukan?," sambungku diselilingi dengan tawa.

"Ung! Tapi aku mau ditemani oleh papa, ya…" kukedipkan salah satu mataku sebagai tanda setuju dan Elica segera berlari meninggalkan kami menuju kamarnya.

"Hahahaha… dia benar-benar awesome, Roderich," bisikku ditelinganya seiring kulingkarkan tanganku pada pinggangnya. "Manis dan menyenangkan sepertimu…"

"Gi-gilbert!," keluhnya lalu menatapku perlahan. Sesaat kukecilkan jarak diantara wajah kami lalu bibir kami saling bersentuhan. "Waktu berjalan sangat cepat, Gilbert…"

"Ya, kamu benar sekali…" balasku perlahan lalu kembali mendekatkan wajahku pada telinganya. "Bagaimana kalau kita berikan 'adik' untuk Elica?"

"Gi-gilbert!"

Kukecup bibirnya seiring kulingkarkan tanganku pada tubuhnya. Roderich sempat ingin menghindar namun tidak dia lakukan dan membiarkanku mengecup pipi dan lehernya hingga akhirnya…

"PAPA! AYO CEPAT! NANTI RIVA KEBURU DATANG!" teriak Elica dari kamarnya.

Spontan jarak diantara kami segera terbuka lebar dan kami tertawa bersama. "Sana kamu urus Elica dulu," omel Roderich.

"Baiklah, kesesese… Tapi setelah itu kita lanjutkan lagi, Roderich…"

"Diam kau!" omel Roderich ditengah wajahnya yang sudah memerah.

-ooEndPart4oo-

Ps: Riva : Anak dari Toris dan Ivan yang kini berusia 7 tahun.

a/n: Hai… akhirnya selesai juga cerita ini. ^_^ thanks ya untuk yang sudah baca n repew ^_^ maaf kalau yang di bagian akhir ini penuh atau banyak kesalahan dalam pengetikan ataupun kegejean karena ditulis setelah hiatus. Ok deh… sekian dulu

jya ^_^/

Our child's diary _ The End -