Banyak yang bilang, menjadi Fairy Tooth—peri gigi, adalah salah satu pekerjaan tokoh dongeng yang paling diidam-idamkan. Hal ini karena anggapan bahwa mengumpulkan gigi anak-anak di seluruh dunia itu semudah membalikkan telapak tangan. Alasannnya sendiri tak lain karena adanya para peri dengan jumlah ratusan yang menggantikan tugasmu untuk berkeliling dunia mengambil gigi tanggal di balik bantal dan menukarnya dengan kepingan koin.

Masalahnya, anggapan itu sendiri sering dijadikan kambing hitam oleh beberapa teman Guardian-nya—terutama Doyoung si Easter Bunny, yang menganggapnya tidak serius dan cenderung bermalas-malasan. Belum lagi kalau ditambah kata "suka makan". Jadi, jangan salahkan Ten kalau dia lebih sering sewot akibat pekerjaannya yang selalu disebut-sebut.

Namun, di balik sifat moody agak-agak juteknya, Ten sebenarnya adalah pribadi yang lembut, lucu, dan manis. Tapi ia memperlihatkan sosok aslinya itu hanya dan hanya pada satu orang saja.

Orang yang sama yang menjadi labuhan hatinya.

Yang sayangnya tak bisa ia gapai.

Ibaratkan Tinker Bell yang mengharap cinta dari Peter Pan.

Hingga akhir cerita, selamanya mustahil.


x

x

x

Inspired by Rise of the Guardians

Ajeng Hyakuya present

x

x

x

The Guardians

Chapter 3

Robin Hood in China

x

x

Main Cast :

Lee Taeyong as Jack Frost

Moon Taeil as Santa Claus

Kim 'Doyoung' Dongyoung as Easter Bunny

Chittaphon 'Ten' Leechaiyapornkul as Fairy Tooth

Lee 'Mark' Minhyung as Sandman

Jung Jaehyun as Pitch Black

Seo 'Johnny' Youngho as Man in the Moon

Yuta Nakamoto as Momotaro

Dong 'Winwin' Sicheng as Fenghuang

Lee 'Haechan' Donghyuck, Huang Renjun, Lee Jeno, Zhong Chenle, Na Jaemin, Park Jisung as City Kids

Kim Jungwoo

Qian Kun

Wong 'Lucas' Yukhei

Side Cast : SM members

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, Supernatural, Action, Angst

Rating : T

Warning : Boys Love, Blood and Bold Violence, Typos, Disturbing Content, Implicit Sexual Scene

Pairs : JaeYong, IlYoung, JohnTen, MarkHyuck, YuWin, ChenSung, NoRen, NoMin

x

x

x


Kelima Guardians berdiri mengitari ubin mozaik yang membentuk lingkaran sempurna berukuran besar dengan diameter satu meter. Kesiapan yang matang begitu kentara dari keheningan dan keseriusan yang memenuhi ruangan itu.

"Roh musim dingin," ucap Taeyong, memulai.

"Roh pasir mimpi," tegas Mark.

"Roh penjaga ingatan," kata Ten.

"Roh paskah," tutur Doyoung.

"Roh natal," lirih Taeil.

Taeil mengulurkan tangan kanannya ke tengah lingkaran, melepaskan butiran pasir perak yang turun dengan lembut ke lantai yang dingin. "Datanglah pada kami, wahai Man in the Moon,"

Selang beberapa sekon, perlahan barisan awan yang menyelubungi langit bergerak. Memberikan jalan bagi sinar bulan untuk menyeruak dari dinding kelam malam. Sinar keperakannya yang lembut menembus bagian transparan atap dari kaca. Menerangi ruangan altar kecil itu yang gelap sejak mereka masuk.

Samar-samar figur seseorang terbentuk. Mulanya tembus pandang, menjadi bak hologram. Hingga akhirnya sosok itu menjadi jelas dan nyata.

Man in the Moon.

Dengan setelan jas putih klasiknya.

"Halo semuanya~" Johnny melambaikan tangan kanannya kecil, lalu meregangkan tubuhnya. "Akhirnya bisa ke bumi lagi. Kangen banget,"

"Loh, loh, loh?"

Johnny kebingungan saat tiba-tiba tangannya masing-masing ditarik oleh Doyoung dan Taeil.

"Ayo duduk dulu. Ada kudapan dan susu," tawar Taeil. Begitu dia akan menuntun Johnny dengan menarik tangan satunya, Johnny spontan menahan untuk tetap di tempat.

"Nggak usah, Taeil. Makasih," tolak Johnny halus.

"Udah capek-capek dibikinin, tahu,"

"Tapi-tapi—"

Doyoung menarik Johnny ke arah pintu dengan tak sabaran. "Ayo buruan,"

...

Setelah dipaksa terus-menerus, akhirnya Johnny (dengan enggan hati) mau duduk di kursi yang disusun melingkari meja kecil beserta yang lainnya. Di atas meja, tersaji kue jahe renyah dari panggangan dan enam gelas susu yang akan terasa hangat begitu mengalir dalam kerongkongan.

Usut punya usut, Taeil sang tuan rumah berinisiatif melakukan jamuan kecil ini untuk menghormati tamu-tamunya. Sebenarnya ia sudah menyiapkannya di pertemuan lima Guardian, tapi berhubung waktunya begitu singkat ditambah kepergian Taeyong yang mendadak, sang Santa Claus pun terpaksa menundanya.

Johnny menyesap susu dalam genggamannya, bergumam 'ah' usai menikmati kehangatan dan rasa manis yang melegakan. "Sebelumnya maaf, ya, kalau meeting-nya dadakan,"

"Iya, nggak apa-apa," balas Taeil.

"Jadi, apa peringatan dari Pitch?" tanya Taeyong to the point.

Johnny mulai memasang wajah serius. "Saat itu seekor fearling mencapai tempatku. Lalu kuda hitam itu berubah jadi tulisan yang kira-kira begini bunyinya : i comeback with darkness,"

Yang lain tertegun, pandangan penuh rasa teror bukan main.

Mark mengambil salah satu kue jahe. "Setahuku kekuatan utama Pitch Black adalah ketakutan. Seharusnya ketakutan itu tidak ada hubungannya dengan kegelapan," Kue kecoklatan itu pun ia gigit dan kunyah sebagian.

"Tapi, bukannya salah satu ketakutan terbesar anak-anak itu adalah kegelapan?" yakin Doyoung, tangannya secara tak sadar mengeratkan genggaman pada gelasnya.

Johnny mengangguk. "Pada dasarnya, ketakutan itu berasal dari sudut tergelap dari diri kita masing-masing. Ketakutan memicu kegelapan dan kegelapan berasal dari ketakutan. Jadi wajar jika keduanya punya hubungan yang kuat sebagai kekuatan Pitch."

Raut wajah sang Man in the Moon mulai menampakkan guratan kecemasan.

"Aku tak menyangka dia akan secepat ini keluar dari segelnya," ucapnya lirih. "Ia pulih kembali dalam waktu yang sangat, sangat singkat,"

"Sepertinya, dia ingin memperingatkan kita bahwa kali ini, kekuatannya bukan main-main," simpul Taeil. "Kami juga memantau akitivitas fearling di seluruh dunia,"

"Dan pusatnya, di mana aktivitas fearling terbanyak, berada di Seoul, ibukota Korea Selatan,"

"Aku dan Taeyong juga sempat bertemu dengan Pitch Black," tutur sang Sandman. Spontan Johnny melemparkan tatapan penuh keterkejutan.

"Pitch juga sempat bilang dia punya urusan yang penting di Seoul," sambung Taeyong.

Mark menoleh ke Taeyong, agaknya terkejut dalam batas biasa. Sepertinya informasi itu didapat Taeyong tadi sebelum ia datang untuk memperingatkan sang Jack Frost akan identitas Pitch.

"Sepertinya ia sedang mencari sesuatu," gumam Ten, memberikan opini yang terlintas dalam benaknya.

"Pertanyaannya : apa yang sedang ia cari di Seoul?"

...

Figur tinggi Johnny bersandingan dengan tubuh Ten yang lumayan mungil. Angin dingin berhembus melewati mereka dengan kencang. Secara tak langsung mengingatkan mereka bahwa detik ini keduanya berdiri tegak di halaman luar istana Santa Claus. Serta secara tak langsung menghantarkan aroma biji kopi yang khas dari sang Man in the Moon hingga menggelitik indera pembau Ten.

"Jangan minum kopi terus," tegurnya.

Saat Johnny menolehkan kepalanya untuk bertemu pandang, Ten berusaha sebisa mungkin untuk tidak memalingkan pandangan oleh rasa malu yang memuncak. "Gigimu itu bagus. Sayang kalau warna putihnya ketutupan warna kuning," lirihnya.

"Udah aku kurangi, kok, sekarang. Habis, stok kopi di tempatku mulai habis. Mau beli nggak sempet. Tapi kalau kamu mau bikinin aku oliang*, boleh banget,"

"Itu kan juga kopi," balas Ten ketus.

Johnny pun tertawa renyah. Tangannya mengacak surai putih kehijauan itu dengan gemas. "Iya, iya, peri manisku," Dirinya sekilas mengecup pucuk kepala itu dengan penuh afeksi.

Sang Fairy Tooth sendiri berusaha sekeras mungkin untuk tidak tersenyum malu-malu oleh perlakuan manis dari pria bermarga Seo itu.

Sumpah, ia tidak kuat!

Tahan, Ten. Tahan. Kau pasti bisa. Jangan uring-uringan di depan Johnny, batinnya.

"Kau akan kembali ke bulan?"

Sang Man in the Moon mengangguk mantap. "Sebentar lagi pagi. Jalan dari bulan ke bumi akan tertutup. Aku tidak mau ambil resiko teleportasi. Menguras tenaga," ia mengakhiri dengan ringisan lebar.

Sang Fairy Tooth terdiam sejenak. Ingin mengutarakan sesuatu namun ragu dan enggan.

"Johnny," kata itu meluncur lepas dari bibir merah mudanya.

"Ya?"

Ten termenung sejenak, sebelum menggeleng pelan. "Tidak apa-apa,"

"Sampai jumpa, Chittapon,"

Johnny memberikan senyuman tulus kala tubuhnya dilingkupi kilau-kilau perak sebelum menghilang dalam sekejap mata.

Meninggalkan Ten yang berdiri membisu.

Kalau saja Johnny tahu, bahwa Ten mencintai dengan sepenuh hatinya.

Sampai ia disadarkan oleh kenyataan, bahwa ia adalah penduduk bumi. Sedangkan Johnny adalah penduduk bulan. Yang mana hanya ada satu takdir menanti pada destinasi akhir kisah mereka.

Tidak bisa bersatu.

Terkadang Ten merasa Tuhan begitu tak adil padanya. Kenapa kisah cinta mereka tak bisa berjalan lebih dari sebatas teman mesra? Apa ia dan Johnny harus mati tragis dan bereinkarnasi menjadi manusia dulu agar bisa bersatu bak kisah Putri Serenity dan Pangeran Endymion*?

Merasakan matanya mulai berair, pria Thailand itu lantas berdecak kecil.

Ia mau makan cokelat sekarang.

Titik!

Tak peduli Doyoung mengomelinya sampai hujan lokal.

Hanya cokelat yang bisa membuat perasaannya lebih baik.

...

Ting tong!

Pintu besar itu terbuka perlahan dari dalam dengan bisu. Menampakkan seorang Park Baekhyun dengan celemek hijau toska. Wajah putihnya begitu bersinar, ditambah dengan sepasang mata mungilnya yang begitu teduh. Ingatkan Chenle jika yang di hadapannya ini adalah ibu temannya, bukan malaikat atau orang super berelemen cahaya.

"Annyeong, Baek eomma!" sapanya penuh semangat.

"Oh, Lele-ah. Halo juga!" balas Baekhyun dengan tak kalah riang. "Aduh, pagi-pagi begini kamu tambah imut saja," ujarnya sembari menepuk pipi Chenle gemas.

Lelaki belia dengan surai pirang itu meringis bangga lantaran dipuji imut.

"Jisungnya ada?"

"Bentar, ya. Baek eomma panggilkan dulu,"

Begitu Baekhyun melangkah ke dalam, selang beberapa detik kemudian yang dicari sudah menghampiri.

"Ada apa?" tanya Jisung dengan raut muka malas. Ia memakai sweater rajutan warna cream dan celana training biru. Dirinya nampak segar. Mungkin baru saja selesai mandi.

"Jalan-jalan, yuk," ajak Chenle.

"Tumben. Biasanya masih ngorok," komentar si Park muda sinis secara implisit.

"Nggak ada, ah. Kalau aku nggak bangun-bangun, bisa disiram mamaku nanti," elak Chenle langsung. Bibirnya maju sedikit, mimik kesal. Namun itu tak berlangsung lama begitu ia merogoh isi saku jaketnya.

"Sama ini, loh, ngembaliin kartu kakak kemarin," sambungnya seraya menunjukkan kartu identitas yang mereka temukan kemarin.

Jisung memutar bola matanya. "Ya udah. Bentar. Aku mau pakai mantel dulu,"

"Oke,"

"Lele-ah mau Bugeoppang*?" tanya Baekhyun lantang dari arah dapur.

"Mau!"

"Baek eomma bungkuskan buat kamu, ya,"

"Makasih banyak~"

Andai saja mamanya sendiri masih memanjakan Chenle sebagaimana Baekhyun memanjakannya.

Tapi ia tahu, kok, kalau ia sudah besar. Sudah bukan umurnya merajuk dan minta dimanja-manja. Kata mamanya, Zhong Yixing, ia harus belajar mandiri dan disiplin, biar kuat menghadapi dunia setelah lulus sekolah nanti.

Masalahnya, Chenle itu masa kecilnya terlalu bahagia.

Terima kasih kepada papanya, Zhong Junmyeon, yang prinsipnya bertolak belakang dengan mamanya dalam membesarkan anak tunggal Keluarga Zhong itu.

...

Setelah bertanya-tanya, dua sejoli itu akhirnya tiba di depan sebuah pintu kamar. Sesuai keterangan dari ahjussi pemilik komplek apartemen bertingkat itu; kamar nomor tujuh di lantai dua. Kamar dari Yuta Nakamoto, baik orang yang mereka temui kemarin malam dan orang yang sama yang tak sengaja menjatuhkan kartus identitasnya.

Jisung menekan tombol bel, kemudian berseru, "Permisi!"

"Loh, kan, udah mencet bel. Kenapa mesti ngomong permisi?" celetuk Chenle, bertanya.

"Tata krama, Chenle,"

Si Zhong muda bergumam 'o', "Oke," bisiknya.

"Sama biar nggak dikira orang iseng,"

Cklek!

Deritan pintu membuat Jisung dan Chenle yang sebelumnya saling bertatapan reflek sama-sama menoleh ke arah pintu. Pria muda itu berdiri santai dengan tangan masih memegang kenop pintu. Ia nampak membulatkan mata sekilas menyadari sepasang sahabat itu.

"Oh, kalian yang kemarin, kan? Ada apa, ya?"

"Kak Yuta Nakamoto, betul?" pasti Chenle.

"Iya?"

"Ini. Kartu kakak terjatuh kemarin," ujar Chenle sembari menyerahkan kartu yang sedari tadi berada dalam genggamannya.

Yuta terperangah takjub melihat kartu miliknya, sebelum kembali memandang keduanya dengan mata berbinar senang. "Wah, terima kasih banyak,"

"Iya, sama-sama,"

"Kami permisi dulu," Baik Jisung dan Chenle sama-sama membungkuk kecil.

"Terima kasih, ya,"

Yuta melambai cukup lama hingga sepasang lelaki belia itu menuruni tangga di ujung lorong. Begitu pria Jepang itu akan masuk, ia tak sengaja mendapati sebuah kardus tergeletak di dekat pintu.

"Paket?"

Ia mengangkat kardus itu. Membaca keterangan alamat yang tertera di atasnya. "Dong Sicheng?"

Yuta terdiam beberapa saat mengamati detail dari keterangan di paket itu.

"Kayaknya salah kirim, deh,"

Yuta menoleh ke kanan dan kiri. Lalu mengendikkan bahu.

Ia akan membawanya ke pemilik alamat yang asli setelah bersih-bersih.

...

Haechan meniup cappucino pesanannya yang masih mengepulkan asap. Ia melirik malas ke kedua sahabatnya. Jaemin sibuk berkutat dengan ponselnya. Sedangkan Renjun sibuk mencoret-coret di buku sketsa gambarnya, sepertinya menggambar Moomin kesukaannya. Hanya dia sendiri yang tidak melakukan sesuatu yang berarti.

"Bosen,"

Lagipula yang namanya nongkrong itu kan seharusnya dimanfaatkan untuk saling bercengkrama, tukar-menukar cerita. Bukannya malah sibuk sendiri-sendiri.

Aduh.

Dasar kids jaman now.

Jaemin pun menurunkan ponselnya. Membuat senyuman lebar nakal hingga memperlihatkan deretan gigi rapi khas miliknya pada lelaki bernama asli Lee Donghyuck di depannya. "Cie yang lagi bosen," godanya.

Haechan mendengus kesal. Tangannya menyambar satu macaron di meja dan melahapnya bulat-bulat. Untung ukurannya tidak terlalu besar, jadi masih bisa ia kunyah. Cuma tidak sopan makan sampai mulut penuh. Yang tentunya tidak Haechan indahkan karena sedang kesal.

"Nggak, nggak, Haechan. Bercanda. Gitu aja udah sewot,"

Yang diajak bicara hanya memutar bola matanya jengah seraya bergumam 'hm'.

"Eh, kalian masih inget, nggak, waktu pertama kali kita ketemu?" tanya Renjun, menaruh buku sketsanya di atas paha. Mungkin sudah kehabisan ide atau mau istirahat dulu daripada pegal di posisi yang sama sedari tadi.

Jaemin menoleh ke Huang muda di sebelahnya. "Lewat mimpi, kan?"

"Oh, iya. Mimpi," sambung Haechan sambil mengangguk singkat.

Mata Jaemin bergulir ke atas, mencoba mengingat-ingat kembali. "Waktu itu aku pertama kali ketemu sama Jisung. Dia sedang membaca buku,"

"Kalau aku sama Jeno," sahut Haechan. "Pas itu dia lagi nunjukin sulap kartu terus aku ngerekam,"

"Aku, sih, sama Chenle. Kita manjat pohon yang besar di dekat rumah kosong dan cerita-cerita," tutur Renjun. "Habis itu kita semua saling kenal,"

"Rasanya unik gimana gitu. Padahal sebelumnya kita belum pernah ketemu di dunia nyata,"

"Kadang papasan, tapi belum kenal maksudnya," Jaemin membenarkan pernyataan dari Haechan.

"Kayak di film-film fantasi, ya," gumam Renjun.

Haechan menggangguk pelan. "Uhum,"

"Terus kita ketemu Mark," sambung Jaemin. Bibirnya kembali melengkungkan senyuman lebar. "Ketemu Jack Frost juga kemarin,"

"Eh, ada yang mau nemenin aku di rumah malam ini nggak? Orangtuaku lagi pergi ke Daegu buat resepi," tanya Haechan.

Tidak ada balasan.

"Renjun?"

"Nggak bisa, Chan. Orangtuaku malam ini pulang,"

"Tapi-tapi-"

"Udah gede masih minta ditemenin,"

Ugh.

Sakit kata-katamu, Huang Renjun, batin Haechan.

Haechan lants melemparkan pandangan memelas pada satu-satunya lelaki bermarga Na di meja itu. "Jaemin~"

"Aku mau nginep di rumahnya Jeno,"

"Yaaaah~"

"Ajak Mark saja," saran Renjun.

"Kenapa Mark?" tanya Haechan heran. Kan masih ada Jisung dan Chenle.

"Barangkali kalau mau,"

"Memangnya dia mau?"

"Kan belum dicoba. Ya mana tahu,"

Haechan yang sepertinya sudah diskakmat, akhirnya terdiam memikirkan saran Renjun baik-baik. Meski ia dalam hati sudah enggan 100 persen.

"Ciee~ gambarnya bagus banget,"

"Masa? Makasih. Wallpaper hapemu juga bagus. Download di mana?"

"Di mana, ya~"

Haechan terdiam, mencoba memikirkan saran dari temannya sembari menyesap cappucino yang sudah hangat. Mengabaikan baik Renjun dan Jaemin yang tengah bercanda dengan saling goda.

Tolong jangan ingatkan Haechan soal obat nyamuk.

...

Yuta menyembulkan kepalanya ke dalam pintu gerbang yang setengah terbuka. Sejurus kemudian melangkah perlahan ke dalam.

"Permisi,"

Kebetulan sekali saat itu seseorang baru saja akan membuka pintu rumah, sepertinya baru datang beberapa saat sebelum Yuta.

Pria bermarga Nakamoto itu melangkah kembali hingga jarak satu meter antara keduanya. "Dong Sicheng?"

Yang dipanggil spontan berbalik. "Iya, saya sendiri,"

"Tadi di apartemen saya ada kiriman paket. Tapi ternyata salah kirim," terang Yuta lalu menyerahkan paket yang ada di tangannya.

"Terima kasih,"

"Tunggu,"

Kedua pergelangan tangannya mendadak dicengkram erat. Senyum hangat Winwin meluntur mendapati sang pengantar tiba-tiba memasang ekspresi serius penuh selidik.

"Kau bukan manusia?"

"Heh?"

Iris Winwin membulat lebar.

Bagaimana bisa orang itu tahu?!

"Aromamu seperti Suzaku,"

"A-aku tidak mengerti maksudmu," timpal Winwin, mencoba melepaskan genggaman yang terlampau kuat untuk ukuran manusia biasa.

Tanpa sadar napasnya memburu panik.

Aura berbeda semakin lama semakin terasa kuat dari Yuta.

Merah pekat.

Dominasi.

Ambisi.

Bagaimana kalau dia orang jahat?!

Bagaimana jika ia memang mengincar Winwin?!

"Oh, maaf,"

Yuta pun melepas cengkraman pada tangan Winwin. Sadar bahwa ia sudah menakuti lelaki itu. Mimik seriusnya seketika berubah menjadi hangat. "Aku hanya tak menyangka bisa bertemu orang yang sama sepertiku. Aku Momotaro, putra dari buah persik. Aku dari Jepang. Kenal?"

Si lelaki bersurai soft pink itu menggeleng.

"Oh, ya sudah kalau tidak kenal. Senang bertemu denganmu, eng—"

"Fenghuang,"

"Oh, phoenix mitos China?"

Winwin mengangguk dengan senyum canggung.

"Sekali lagi salam kenal,"

Yuta mengulurkan tangan kanannya, disambut dengan jabatan singkat oleh si lawan bicara. "Maaf ya kalau tadi agak kurang sopan," ujarnya meminta maaf dengan membungkukkan badan hingga 90 derajat, khas orang Jepang umumnya.

"Sudah. Tidak apa-apa, kok,"

"Kau bisa memanggilku Yuta. Itu nama manusiaku,"

"Winwin,"

"Kalau begitu, aku permisi dulu,"

"Iya,"

Yuta menyunggingkan senyum lebar yang begitu cerah, bagaikan matahari yang terbit di ufuk timur. Senyuman yang entah kenapa membuat dada Winwin dipenuhi oleh rasa hangat.

Rasa hangat yang sudah lama tak pernah ia rasakan selama ribuan tahun.

...

"Jeno~"

Jeno sontak mendongak ke arah jendela. "Oh, Mark," gumamnya kalem meski dalam hati ia luar biasa kaget dan jantungnya berdebar hebat.

Bagaimana tidak kaget coba kalau ada orang yang memanggilnya dan tiba-tiba masuk dari jendela?

Untung yang masuk Sandman, bukan pencuri.

"Yang lainnya ke mana?" tanya Mark seraya menoleh ke penjuru ruangan yang diyakini sebagai kamar tidur Jeno.

Jeno mengangkat bahunya sekilas. "Jalan-jalan mungkin,"

"Kamu nggak ikut?"

"Lagi pengen di rumah,"

Keduanya pun terdiam untuk beberapa saat. Setahu Mark, Jeno itu bukan tipe yang suka bicara seperti Haechan dan Chenle, tapi tidak pendiam juga. Cuma kadang—

"Aku kira kamu cuma bisa keliatan pas malam doang," celetuknya.

"Ya nggak mesti, lah. Emangnya aku ini hantu apa?" gerutu Mark. Tidak sudi sosok fantasi sepertinya disamakan dengan makhluk spiritual rendahan hantu yang notabene rajin menghuni layar lebar genre horor.

Jeno pun tersenyum lebar, matanya membentuk eye smile yang begitu indah. Lebih dari cukup untuk membuat Mark terpana dan menghilangkan segala pikiran negatifnya ibarat aliran sungai surga yang menyejukkan. Atau nyanyian merdu para malaikat.

"Woah, kamu bisa main gitar, ya?" terka Mark menyadari barang yang berada di atas pangkuan Jeno sedari tadi. "Coba main, dong," pintanya.

Jeno mengangguk.

"Boleh,"

...

Ten berjalan perlahan di lorong yang penuh oleh deretan lemari menjulang dengan tabung kaca berisi gigi tersusun rapi di tiap sudutnya.

Salah satu peri menghampirinya tiba-tiba.

"Ada apa?" tanyanya.

Sang Fairy Tooth mengerutkan dahi bingung. Mencoba menganalisa maksud di balik raut panik yang diutarakan secara bisu padanya.

Indera pendengaran Ten tiba-tiba mendengar senandung misterius di belakangnya. Sontak ia berputar 180 derajat. Ia pun berlari, mengejar bayang-bayang sosok itu yang tercipta oleh nyala api putih di ujung lorong.

Aksi kejar-kejaran itu berhenti di lorong lain yang terdapat jendela mozaik raksasa di sisinya. Sinar bulan yang terang membuat sosok itu semakin jelas di mata sang Fairy Tooth.

Sosok misterius itu berbalik. "Sawat dii*, Ten," sapanya.

Ten tersentak kaget.

"Yukhei?"

Yang dipanggil hanya tersenyum simpul.

Lalu menghilang.

Peri kecil yang lain menghampirinya. Memberi kabar yang menambah runyam suasana.

Dua gigi yang disimpan telah raib.


.

.

.

To Be Continue

.

.

.


Putri Serenity dan Pangeran Endymion : Inkarnasi Usagi dan Mamoru, pasangan utama di anime Sailor Moon

Oliang : Es kopi Thailand yang cukup populer di dunia.

Bungeoppang (Roti Ikan Mas) : Nama Korea untuk Taiyaki (kue Jepang yang berbentuk ikan dan berisikan pasta kacang merah yang manis dan dipanggang dalam cetakan berbentuk ikan).

Sawat dii : Bahasa Thailand untuk halo.

[Update dua chapter sekaligus. Chapter 4 bisa dibaca berikutnya]