Apa yang lebih berharga dari nyawaku?

Bagiku, itu adalah dirimu.


Why Should I

Bagian ketiga

Baekhyun : Kau adalah cahaya.


Aku tidak pernah merasa lebih buruk dari ini sebelumnya, rasanya mual, seakan ada sebuah tangan yang menusuk ke dalam dan mengocok ngocok perutku. Menaruh satu tangan di perut, aku akhirnya menyadari kalau kami sudah hampir menuju Stage. Chanyeol dan yang lainnya berjalan menuju panggung sambil sesekali tertawa. Sedangkan Suho dan Luhan berkali kali memastikan kalau mic mereka menyala. Aku berhenti sejenak, meremas perutku, tanpa sadar kalau itu menarik perhatian Kris-Hyung, Leader kami yang tersayang.

"Baekhyun? Kau baik?" Ia berjalan mendekat, tangannya mencapai pundakku dan menepuknya

"Tentu, Kris-Hyung, hehe aku hanya sedikit mual."

Suho ikut mendekat, menyerahkan air mineral kepadaku, "Minumlah dulu, jangan sampai kau tidak fokus nanti."

"Ya, terima kasih, Suho-Hyung."

Mereka berhenti menatapku dan kembali berjalan mendekati panggung. Karena stage masih dalam proses persiapan, kamu harus menunggu beberapa saat di belakang stage. Aku menyeret kakiku ke salah satu bangku disana, duduk, dan membuka air yang diberikan oleh Suho. Dan kemudian, aku melihat Chanyeol mendekat kepadaku, tatapannya tajam seperti biasa. Sejenak aku bertanya tanya mengapa ia berjalan kearahku, dan akhirnya menyadari kalau tidak ada bangku lain yang tersisa selain bangku di sampingku.

Maaf Chanyeol, pasti berat bagimu karena harus selalu berada di dekatku.

Chanyeol duduk dengan kasar, hampir seolah olah ia tidak ingin duduk disini. Tentu, jika itu aku, aku juga tidak ingin duduk dengan orang yang kubenci. Ia membenciku. Aku tidak bisa membuatnya berhenti melakukan itu. Ia tidak akan pernah mencintaiku, yang bisa kulakukan hanyalah berusaha untuk membuatnya berubah, walaupun itu tidak akan pernah terjadi.

"Kalian sudah melihat Hoobae kalian, Rookies, hm?" Pd-Nim berbicara kepada Suho, dengan suara yang dikeras keraskan. Ia pasti ingin kami mendengarnya juga, jadi aku menoleh dan memasang telinga.

"Mereka sangat baik dalam dance, juga vocalnya, woah aku yakin mereka akan menyaingi pasar kalian di China dan Jepang." Suho hanya tersenyum tipis mendengarnya. Aku menatap nya prihatin. Kami sedang di rendahkan, tapi yang bisa dilakukannya hanya tersenyum dan tersenyum.

Suho-Hyung, pasti ini semua juga berat untukmu.

"Kalian harus bekerja lebih baik. Kalian bisa tersenggol kapanpun, ingat, panggung ini tidak akan menjadi milik kalian selamanya. Terlebih selera remaja selalu berubah. Lama kelamaan mereka akan meninggalkan kalian dan mencari grup yang lebih muda dan energik, seperti Rookies, dan ketika itu terjadi, kalian akan berada di puncak kehancuran kalian." PD-Nim tersenyum remeh, "Jangan terlalu senang akan pencapaian kalian, suatu hari, kalian pasti akan jatuh."

"Terimakasih atas masukannya, Produser." Suho membungkuk dan tersenyum, "Kami akan berusaha untuk menampilkan yang lebih baik."

"Tentu kau harus," PD-Nim menyeringai, "Dan ini bukan masukan, ini peringatan."

Setelah itu, ia melenggang pergi dengan santai, Luhan mengepalkan tangannya dan Kyungsoo berdecih. Kris menepuk bahu Suho untuk menguatkannya dan aku hanya bisa menunduk menatap tanganku yang diletakkan diatas paha.

Diam diam, aku melirik ke arah Chanyeol.

Rahangnya mengeras, begitu juga dengan tangannya yang mengepal. Aku pasti sudah gila, tapi ia masih terlihat begitu tampan. Byun BaekHyun, kau benar benar maniak gila. Bahkan ketika orang yang kau cintai marah pun, kau masih menyukainya.


Lampu menyala, dan aku mendengar suara. Seperti tidak ada habisnya, kami terus menyanyi dan menari seperti ini. Mengapa? Mungkin karena hanya inilah cara kami membahagiakan kalian, cara kami mengembalikan cinta kalian serta jerih payah kalian. Terima kasih karena sudah menghargaiku sebagai anggota grup ini, biarpun aku tidak keberatan jika kalian membenciku. Aku bertanya tanya apa reaksi kalian jika tahu kalau aku adalah seorang penyuka sesama jenis-dan lagi, yang kusukai adalah Chanyeol milik kalian. Kalian pasti membenciku, kan? Kalian pasti membenciku.

Aku tidak bisa mencegah siapapun agar tidak membenciku. Bukankah kelahiranku, adalah untuk menerima semua kebencian yang kalian berikan?

Chanyeol menyenggol bahuku pelan, ia berkata dengan tajam, "What the fuck, Byun?! Kau salah posisi."

Aku terlonjak, menyadari kalau semua fans menatapku dengan kening berkerut. Dengan cepat aku segera berlari dan menyusun kembali koreografiku. Tao melirikku sedikit, lalu berkata dengan sedikit jengkel, "Fokus!"

"Maaf," Aku nyaris membungkuk, tapi menahannya. Suho dan Kris beberapa kali melempar lirikan padaku, mereka sepertinya khawatir, sehingga aku tersenyum untuk menyakinkan mereka.

"Aku baik baik saja, Hyung" Gumamku, Suho mengangguk, dan kembali fokus untuk koreo selanjutnya.

Baik baik saja, kenapa kata kata itu selalu keluar dari mulutku seperti sebuah kutukan.

Kenapa aku selalu merepotkan orang orang?

Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan untuk mengakhiri hidup menyedihkanku?


"Tadi benar benar melelahkan." Luhan mendesah dan menjatuhkan bokongnya ke sofa di ruang rias. Sehun mengikutinya dan memberikannya air mineral, Luhan menerimanya sambil tersenyum, dan keduanya saling mengenggam tangan masing masing.

Aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak iri terhadap mereka.

Mungkin itulah yang pantas kau dapatkan ketika kau seramah dan sebaik Luhan, atau paling tidak, secantik dirinya.

Diam diam aku membayangkan bagaimana rasanya jika tangan Chanyeol mengenggam jemariku.

Ia selalu menggenggam tanganku dengan erat dan kasar, sehingga ketika dia melepasnya, selalu ada bekas jarinya di tanganku, berwarna kemerahan dan terlihat seperti lembam. Aku cukup merasa senang dengan itu, biarpun rasanya sakit. Dan kurasa membayangkan jemari besarnya yang menggengam jemariku, bukanlah suatu dosa.

"Ya, sangat melelahkan." Kai mengambil handuk dan mengusap make up nya, "Koreografinya kacau," Ia mendesah, melanjutkan.

Tubuhku tegang dengan sendirinya aku membungkuk, "Maaf."

"Lain kali kau harus fokus, Baekhyun-hyung." Kai berkata, ia mendekatiku, dan duduk di sampingku.

"Kita baru saja di peringati oleh PD-Nim dan.. Boom! Kau berhasil membuat kita tampak bodoh." Tao berkata tajam.

Suho mendelik pelan, "Tao, jaga perkataanmu."

"Bukankah memang begitu? Kita akan berjalan lancar jika Baekhyun tidak menghancurkan segalanya. Kalau kalian lupa, Baekhyun melamun dan melewatkan 2 part, juga 5 gerakan."

Tenggorokanku tercekat, "Maafkan aku, aku tidak bermaksud melakukannya."

"Jangan membesarkan masalah, Tao. Lagipula ia sudah minta maaf kan, siapapun bisa melakukan kesalahan seperti itu." Kyungsoo angkat bicara, meneguk minumannya dengan tenang.

"Aku tidak percaya kalian masih membelanya," Tao berdecih dan keluar ruangan, Kai menyusulnya, dan kami tertinggal dalam diam.

"Tidak usah dipikirkan, Baekhyun." Kris memecahkan suasana, "Semua baik baik saja, Ok? Hanya saja, berjanjilah untuk tidak melakukannya lagi."

"Ya, Hyung." Aku menunduk, menatap lantai, "Aku benar benar minta maaf.."

Chanyeol mendengus di tempatnya, "Berhentilah meminta maaf,"

Aku terkejut, dan secara refleks mendongak padanya, apakah.. ia baru saja membelaku?

"-Sepertinya dosamu tidak akan terhapus hanya dengan itu. Mungkin, lebih baik jika kau menebusnya dengan melompat dari atap gedung untuk mati."

"Chanyeol!" Suho membentaknya.

Aku membeku.

Hatiku, terasa dingin.

Tenang Baekhyun, jangan menangis. Ini bukan pertama kalinya, ini bukan pertama kalinya ia mengatakan ini.

Atau.. mungkin yang ia katakan benar.

.. Mungkin, Tuhan tidak sudi mencabut nyawaku.

.. Mungkin, memang akulah yang harus menjemput kematianku, sendiri.


Hari mulai gelap, awan awan hitam mengerubungi langit seakan ingin menutupi warna biru itu sepenuhnya. Menghela nafas, aku menunduk dan menemukan sebuah benda yang kuhafal lebih dari siapapun; itu ponsel Chanyeol.

Jantungku berdegub, seakan akan seseorang sedang menabuh gendang di dalam dadaku. Jemariku ingin mengambilnya, tapi aku tahu aku tak bisa melakukan itu. Chanyeol tidak akan membiarkanku menyentuh ponselnya, aku harus menghargai privasinya. Tapi bolehkah? Aku hanya ingin mengetahui apa saja yang ia lakukan lewat ponselnya; aku hanya ingin tahu mengapa dia begitu bahagia ketika menatap ponselnya.

Mungkin dengan mengetahuinya, aku bisa sedikit membuatnya tersenyum.

Tidak masalah jika setelah itu dia akan menendangku menjauh, atau memberiku sebuah tamparan, tidak masalah. Aku baik baik saja asalkan ia bisa tersenyum.

Aku merindukan senyummu.

Apakah hanya ponsel itu yang bisa membuatmu tersenyum?

Sebelum jemariku dapat meraihnya, ponsel itu terlebih dahulu bergetar. Aku terkejut, refleks menoleh ke kanan dan kiri, memastikan bahwa Chanyeol belum ada disini.

Ia belum datang.

Menelan ludah, aku membuka layar ponselnya, ternyata notifikasi yang baru saja masuk berasal dari Instagramnya. Aku mendesah kecewa, menimbang apakah aku harus menggeser layar dan melihat lihat isi ponselnya.

'Tidak, Baekhyun' aku menggeleng, berniat meletakkan ponselnya kembali sebelum ponsel itu bergetar, untuk kedua kalinya.

Itu adalah sebuah panggilan masuk.

Di hari yang gelap, aku dapat dengan jelas melihat nama yang terpampang di layar ponselnya,

[Yejinnie is calling]

Ye.. Yejin?

Ah, tentu saja. Aku tertawa dalam hati, tentu saja yang membuatnya tersenyum adalah Yejin. Siapa lagi? Chanyeol mencintai Yejin, gadis yang manis itu memang pantas dicintai oleh semua orang. Tapi bagaimana denganku? Aku bahkan tidak pantas mendapatkan kata "Halo" dari siapapun.

Chanyeol pasti akan marah jika aku mengangkatnya,

.. Tapi bukankah Yejin akan kecewa jika 'Chanyeol' tidak mengangkat panggilannya?

Tanganku bergerak lebh cepat daripada logika di pikiranku, menekan tombol hijau di layar, aku membawa ponsel itu ke telinga. Aku pasti sudah gila, ya, aku sudah gila.

[Yeobseo? Chanyeollie~?]

Chanyeollie.

Betapa aku juga ingin memanggilnya seperti itu.

Biarpun aku sudah cukup senang jika kau membiarkanku memanggil namamu, setidaknya satu kata, aku sudah akan bahagia untuk waktu yang amat lama.

[Yeol? Kau sibuk ya? Kenapa tidak menjawab?]

[.. Hey, katakan sesatu!]

[Kau tidak ingin bicara dengaku ya? Hhhh.. Baiklah, aku akan tutup ya~]

[Selamat malam Chanyeollie~ Mimpi indah dan tidurlah dengan nyenyak, Ok? Aku mencintaimu~]

Yejin-ah, jika kau tahu bahwa aku mencintai Chanyeol, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan menjerit dengan mata yang berkaca kaca? Atau kau akan tersenyum dan berpura pura tak ada yang terjadi?

.. Atau apakah kau akan menyerah padaku? Membiarkan aku dan Chanyeol...

Ah, tidak.

Kau tidak akan melakukan itu.

Semua wanita mengharapkan memiliki Chanyeol di pelukan mereka.

Mengapa kau harus memberikannya pada seorang pria sepertiku?

Panggilan itu terputus, setelah benar benar memastikan tidak ada jejak jariku yang tertinggal, aku kembali menaruh ponselnya di meja.

Namun ponsel itu berdering lagi, aku mengernyit, apakah Yejin menelpon kembali?

Aku meraihnya dan menemukan sebuah pesan masuk dari Presdir Jang.

Hanya dengan melihat namanya, aku dapat merasakan kaki ku bergetar secara sendirinya.

Pikiranku, mengulang saat saat dimana pria itu menanamkan pusat gairahnya yang panas di dalamku, menggerakkan tubuhnya tanpa ampun, juga tamparan yang tiada habisnya. Seperti kutukan, seperti takdir.

.. Kenapa ia menghubungi Chanyeol?

Ah, aku tidak bisa melihat isinya. Jika aku membukanya, Chanyeol akan marah bukan?

Jadi aku memutuskan untuk kembali menaruhnya di meja..

BRUGH

.. Tapi bagaikan sebuah kilat, tubuhku terpental seketika.

Aku terbatuk dua kali karena suatu cairan mendesak di kerongkonganku, dan ternyata itu darah.

Manikku membulat.

"Hey," ucap suara rendah itu.

Tubuhku bergetar, itu Chanyeol. Siapa saja, tolong jelaskan bahwa aku tidak melakukan apapun yang aneh pada ponselnya, aku tidak merusak apapun, aku tidak melihat pesannya, aku juga tidak berani bersuara saat mengangkat telefonnya.

Tolong katakan padanya, karena aku tidak bisa berhenti terbatuk.

Kumohon,

"Apa yang kau lakukan pada ponselku?"

Nadanya yang dingin menusuk tepat pada ulu hatiku, aku menunduk dan menggeleng, masih terbatuk tapi sebisa mungkin aku menahannya

"A-a-ak"

"Jawab, Brengsek!"

Ia kembali menendangku.

Kali ini, tubuhku teronggok di lemari, dengan kepala yang membentur ke belakang. Rambutku dialiri sesuatu, apakah itu botol parfum yang pecah? Tapi Chanyeol tidak menaruh parfumnya di lemariku, aku juga tidak.

.. Ada sesuatu yang mengaliri kepalaku.

Chanyeol mendekat, sepatunya berada tepat di hadapan mataku. Aku terbatuk tanpa bisa menahannya, dan darah itu tepat mengenai ujung sepatunya.

Tidak,

Aku ingin bangkit untuk menghapusnya tapi Chanyeol sudah terlebih dahulu menekan kepalaku dengan sepatunya.

Sesak..

A-aku tidak bisa menarik nafas.

Chanyeol.. Bisakah kau menjauhkan kakimu?

".. Menakutkan." Ia mendesah, tapi sepatunya semakin menekan kepalaku.

"Kau, manusia menakutkan. Apa yang ingin kau lakukan dengan ponselku? Mengubah wallpapernya? Atau mengirim pesan pesan busuk pada Yejin agar kami putus, huh?!"

Tidak Chanyeol.

Kalian cocok,

Kalian adalah tokoh utamanya.

Kalian harus bersama.

Jika ada yang harus disingkirkan, itu adalah aku. Aku tahu, aku tahu itu lebih dari siapapun.

"Dasar manusia sampah." Desisnya marah.

Ia menendang kepalaku, seketika ; dunia menjadi hening. Aku tidak dapat mendengar untuk sesaat, tapi aku dengan jelas merasakan pukulannya di sekujur tubuhku.

Tolong aku,

Siapapun.

Tidak, aku tahu kau tidak bisa menolongku dari amukannya.

Setidaknya tolong aku untuk menyampaikan betapa aku mencintainya.


TO BE CONTINUED


Next? Leave your review below, please.