.
Suamiku, Aku Punya Kekasih Baru
.
Naruto is belong to Masashi Kishimoto
Story by Spica Zoe
Peringatan : Konten Dewasa (M), Affair, OOC, NTR.
.
Jalan cerita difiksi tidak berkaitan dengan jalan cerita di Anime dan Manganya. Hanya meminjam Chara.
Semua yang ada diperingatan hanya untuk berjaga-jaga, mohon disikapi dengan bijaksana.
.
Pembuka
.
Gaara mengusahakan agar ketidakbimbangan melekat di pikirannya kini. Sudah empat hari ia dan Sakura tak saling berkabar. Mungkin ada hal yang tengah ia pikirkan sampai ia memutuskan untuk tidak menyinggung sedikitpun tentang Sakura.
Pria mapan ini lebih memilih untuk peduli dengan segala macam hal yang berhubungan dengan pekerjaannya, bahkan hal yang tidak berhubungan sedikitpun dengan pekerjaannya. Sebisa mungkin ia menyibukan pikirannya dengan hal lain; asal itu tidak berhubungan dengan Sakura.
Hingga melihat kehampaan yang meliputi sang sahabat, Neji pun ikut membuka suara. Ditatapnya sampul hampa yang tengah Gaara tunjukan dalam ketidak jelasan malam pekat yang berkuasa, kini Gaara yang dihadapannya pun sama.
"Kau seperti mayat hidup, Gaara." Seru Neji sambil menatap si surai merah yang kini mengikuti kemana arah pembicaraan yang ingin ia tuju. Gaara mengangkat kepalanya. Memandang Neji yang duduk bersilang kaki dengan gaya klasik sambil bersandar tegas membalas tatapannya. "Aku sempat khawatir ketika aku tahu kau berhasil menyelesaikan operasi siang tadi. Sekarang kuberharap tidak ada benda apapun yang tertinggal di tempurung kepala orang yang baru saja kau bedah."
Hening.
Tapi begitu lah alur hubungan diantara mereka. Dingin mencekam yang bercampur kepekatan malam tidak ada apa-apanya dibanding sinkronissi yang terjadi diantara mereka.
"Mungkin ini yang dinamakan dengan patah hati, Neji." Gaara termenung. Seketika bayangan wajah Sakura menghantui perasaan kelamnya. Membiarkan Neji menanti apa yang selanjutnya ingin ia ungkapkan. Sesuatu yang membuat Neji sedikit penasaran. Bagaimana mungkin seorang Gaara bisa patah hati. Sejak kapan ia mencintai seseorang? Bukan Gaara namanya jika pada akhirnya ia memiliki perasaan serapuh ini. "Ternyata kisah cinta yang sesakit ini bukan hanya sekedar mitos."
Sakura tidak pernah mengaku cinta pada pria manapun di dunia selain Uchiha Sasuke, suaminya. Namun, kali ini untuk Gaara, telah ia lakukan. Gaara menjadi pria kedua dari puluhan pria yang telah berhasil mengaku cinta padanya di semasa hidupnya. Baginya, Gaara bukanlah pria sembarang. Gaara adalah pria mapan yang punya kualitas tinggi diantara pria terpilih di dunia ini yang ternyata pada akhirnya mencintainya tanpa ia prediksi. Dan Sakura harus akui bahwa, ia memang belum mampu mencintai pria lain manapun sebesar cintanya pada mendiang suaminya.
Sakura termenung sejenak di posisinya yang menatap rapuh pintu apartement Gaara. Gedung apartement elit yang sama megahnya dengan kondominium milik keluarga suaminya. Termenung karena sampai saat ini Sakura pun bingung dengan apa yang tengah ia lakukan. Ia tidak ingin membiarkan jarak diantara ia dan Gaara semakin tak terlampaui. Dan alih-alih menunggu Gaara datang dan kembali mendekat setelah ketidaknyamanan diantara mereka terjadi beberapa hari lalu, Sakura malah tak menerima satu panggilan pun dari kekasihnya itu.
Kekasih?
Haruskah Sakura masih merawat hubungan itu?
.
"Pergilah. Biar Sarada bersamaku selama kau pergi menemui Gaara. Jika kau memang tidak lagi ingin melanjutkan hubungan dengannya, maka katakan kepadanya baik-baik. Agar kelak tidak ada yang terluka diantara kalian." Pesan Ino ketika ia ingin melihat yang terbaik untuk Sakura.
Dan untuk itu, di sini lah ia berada sekarang.
.
"Ma..."
Sakura menoleh mendapati Sarada yang terjaga. Ia mengusap kepala anaknya yang memiliki rupa sama dan nyaris seperti suaminya. Pria yang ia cinta.
"Apa Mama merindukan Ayah?"
... ya, Aku sangat merindukanmu, Sasuke.
.
.
"Permisi."
Sakura tersentak ketika ia mendengar suara itu menyisip ke dalam pendengarannya. Ia memundurkan sedikit langkahnya dan menoleh mendapati seorang pria yang kini tersenyum padanya. Ada senyuman di sana. Juga ada kesopanan dalam rupa ekspresinya. Sakura berusaha untuk bersikap sopan membalas senyuman pria yang kini tengah menelisik ekspresi rapuhnya.
"Ah maaf. Apa kau juga sedang menunggu? Gaara belum selesai mandi mungkin, aku baru selesai mengabarinya akan kedatanganku." Ucap pria itu sambil menunjukan ponselnya. Sakura berusaha mengangguk. Mungkin pria ini berpikir jika ia sedang menunggu Gaara membukakan pintu untuknya. Padahal, Sakura pun masih ragu apa ia telah siap memandang wajah Gaara atau tidak.
Pria bersurai hitam pekat itu pun mungkin memiliki urusan yang jauh lebih penting dengan Gaara, sampai ingin berkunjung menemuinya di sana. Apa Sakura lebih baik undur diri saja? Namun, Sebelum ia selesai memikirkan kemungkinan yang sedang ia rancang, pria maskulin itu sudah lebih dulu membuka suara diantara mereka.
"Ohya, perkenalkan. Aku Sai. Apa Gaara ingin mengadakan pesta? Sampai ia mengundang beberapa orang ke apartementnya." Sakura menautkan kedua alisnya. Ditatapnya wajah Sai yang masih tersenyum dengan lembutnya. Apa Gaara benar-benar sedang mengadakan pertemuan dengan teman-temannya? Jika iya, mungkin Sakura harus memilih waktu lain untuk bertemu dengannya.
"Ah, maaf. Aku ke sini bukan untuk pertemuan semacam itu. Aku pikir mungkin aku akan menemuinya lain kali saja-"
"Hei, Gaara-kunn~"
Sakura tak tepat waktu.
Pandangan matanya langsung bertemu dengan pandangan mata Gaara yang masih tetap sama dari biasanya. Dingin dan tenang. Sebelum ia memutuskan untuk beranjak, Gaara sudah lebih dulu menunjukan dirinya.
"Sakura.." bisik pria itu menahan keterkejutannya.
"Sakura?" ulang Sai tanpa satupun yang peduli.
.
.
Sarada menggoyang-goyangkan kakinya. Sambil menumpu dagunya dengan kedua rahangnya di atas meja. Dan matanya fokus menatap kesibukan yang tengah Ino perlihatkan padanya, di dapur. Memasakan sesuatu yang Sarada tidak sanggup tebak itu apa.
"Apa bibi yakin, bibi bisa memasak?" tanya Sarada yang tidak sanggup menilai seberapa kaku Ino melakukan tugas wanita pada umumnya itu. Berbeda dengan ibunya yang terlihat begitu cekatan dalam beberapa hal. Ino yang mendengar pertanyaan menyakitkan Sarada, hanya bisa memandang si bocah kecil itu dengan senyuman getir.
"Tapi jangan harap sehebat ibumu." Ucapnya sambil takut-takut meletakan sesuatu di wajan. Sarada tersenyum mendapati jawaban Ino yang membuatnya jadi tampak menarik untuk membahas. "Tentu saja. Masakan Mama yang terenak di dunia." Ucapnya antusias.
Ino tersenyum.
"Kurasa Sakura sudah berhasil membesarkanmu sampai memiliki mulut besar seperti ini." Lanjutnya melangkah mendekati Sakura dan mencubit pipi bocah itu. Sarada mengadu kesakitan, tapi itu tidak sungguh-sungguh. Ditatapnya wajah Ino yang memandangnya penuh dengan kebaikan. Digenggamnya tangan Ino dengan lembut sampai membuat Ino terpaku haru. "Tapi Bibi jauh lebih cantik dari Mama, kok." Bisiknya membuat perasaan Ino menghangat.
Ia tidak menginginkan Sarada berucap itu padanya, tapi ia pikir Sarada punya maksud mengatakannya. Ia menatap Sarada sambil mengusap pipi lembutnya, "Tidak," Ino menggeleng lembut. "Ibumu paling cantik, karena memiliki anak secantikmu." Balasnya.
Sarada menggeleng, "Hmm.. Hmm." Menolak perkataan Ino, "Aku tidak suka Mama jadi cantik, karena Paman Gaara dan Naruto jadi menyukainya."
Ino langsung tertegun. Ungkapan hati Sarada mungkin tengah memberinya dampak yang tak kasat mata. Sarada jelas tahu bagaimana hubungan Sakura dengan Gaara, bahkan Naruto juga. Dan Ino yakin, Sakura telah berusaha menutupi semuanya dari Sarada. Namun percuma. Sarada kelewat pintar untuk menjaga Ibunya agar tetap mencintai Ayahnya.
"Sarada tidak suka dengan Paman Gaara dan Paman Naruto?" bisik Ino ingin tahu. Jika-jika ia bisa membantu Sakura dalam hal ini.
"Sarada suka paman Naruto, tapi tidak dengan Paman Gaara."
"Kenapa?"
Sarada menunduk lemas.
"Paman Gaara sering membuat Mama jadi melamun diam, sedih. Karena mungkin paman Gaara sangat mirip dengan Ayah." Sarada ikut terlihat rapuh kini.
Ino terkejut mendengar pengakuan Sarada. Ia sama sekali tidak menduga jawaban bocah ini begitu penuh dengan pertimbangan. Apa karena itu, hingga Sakura tidak sanggup melepaskan bayangan Sasuke?
Karena Gaara mengingatkannya pada suami yang ia cinta.
"Kadang Sarada juga terkenang dengan Ayah, kalau Paman Gaara datang dan menatap Sarada. Menakutkan saja. Seperti Ayah yang hidup kembali." Lanjutnya jujur.
.
.
Sai menyeringai menatap Gaara yang mengatur langkah mengantar Sakura masuk ke kamarnya. Ia menunggu dengan seringaian dan banyak pertanyaan yang menghimpit di dadanya untuk Gaara. Tidak khayal jika saja wanita cantik itu ternyata kekasihnya. Kekasih seorang Gaara yang bahkan tidak pernah mau menyentuh kisah cinta di sepanjang hidupnya.
"Kau tunggulah di sini." Bisik Gaara dengan tatapan yang tidak pernah berubah. Tak banyak yang bisa dilakukan untuk mengerti apa arti tatapan pria ini bahkan Sakura sendiri. Sampai Sakura tidak tahu apa kehadirannya di sini telah menganggu atau tidak sama sekali. Dan menyuruhnya untuk menunggu di dalam kamar sedang ia sedang menerima tamu, bukanlah hal yang Sakura inginkan. Tapi, Sakura tidak kuasa untuk menolak, ketika ia tidak tahu sedang bagaimana suasana hati Gaara saat ini.
"Apa aku mengganggu waktumu?" ucap Sakura, ketika Gaara sedikitpun tak merasa ingin meninggalkannya. Menatapnya dengan lekat tanpa apapun yang tersirat. Sakura pun memilih untuk menundukan wajah ketika tatapan Gaara tak ada habisnya untuknya.
"Aku mencintaimu. Hanya itu yang kutahu." Ucap Gaara yang tak tahu harus bagaimana.
.
.
Gaara tak menikmati sedikitpun senyuman Sai untuknya. Kehadiran Sakura membuatnya tidak fokus pada apapun kini. Pikirannya terus mengarah pada Sakura yang kini menunggunya di kamarnya.
Kenapa Sakura tiba-tiba datang menemuinya?
Apa yang ingin Sakura katakan padanya?
Apa Sakura mernindukannya?
Apa Sakura membutuhkannya?
Kenapa tidak ada Sarada bersama Sakura?
Dimana Sarada?
Dan semua itu berputar di kepala Gaara.
"Aku tahu kau sedang memikirkan wanita itu, tapi hargailah sedikit aku." Ucap Sai menatap Gaara dengan tatapan palsunya yang dibungkus dengan keseriusan.
"Apa sekarang kau bisa pergi?" tanya Gaara tak tahan. Ia benar-benar ingin menemui Sakura saat ini. Dan jika Sai sudah tahu bahwa dirinya tengah memikirkan Sakura, lebih baik ia segera pergi. Tanpa perlu diusir dengan paksa.
Sai tertawa.
Tidak ia duga kalau ia diusir secara terang-terangan seperti ini. Ia bisa merasakannya dengan jelas, maksud perkataan Gaara. Tapi, Gaara memang seperti itu adanya. Ia tidak mengambil hati. Meski, Sai penasaran dengan wanita cantik itu.
"Kekasihmu?" tanyanya penasaran.
"Bukan urusanmu." Balas Gaara tetap tenang.
Tidak apa.
Sai tidak pernah merasa terseinggung dengan sikap dingin Gaara. Ia sudah biasa mendapati dirinya tertusuk sikap dingin yang Gaara berikan. Tapi, apa Sakura yang ini sama dengan Sakura yang pernah ia dengar dari Naruto?
"Sepertinya, aku menyukainya. Baiklah biar kutebak. Apa dia wanita panggilan yang sering kausewa untuk memuaskan nafsu-"
BRUK
Entah sejak kapan wujud Sai tersungkur mendarat menabrak meja. Gaara sudah melangkah kembali mendekatinya. Menarik kerah bajunya dengan segenap kemampuannya dan mendorong pria itu terpojok ke dinding. Sambil memberinya hadiah sebuah tinju untuk kedua kalinya. Sai terbatuk. Ia sudah mendapati rasa perih bukan main serta tetesan darah yang mengalir dari hidung dan bibirnya yang terkoyak. Dua hantaman yang bukan main sakitnya itu mungkin akan menjadi tiga, jika Sakura tidak cepat datang menarik tubuh Gaara dan mendekapnya.
"Gaara! Tenanglah." Teriak Sakura menutup matanya. Dengan tubuh yang gemetar berharap kehadirannya membuat Gaara tenang.
Sai menepis genggaman tangan Gaara yang mengerat di pakaiannya. Ia teruyung jatuh diatas lantai dengan napas tersengal menahan sakit. Gaara mungkin bisa membunuhnya.
"Sakura..." bisik Gaara menggenggam tangan Sakura yang memeluk punggungnya. Dilepasnya pelukan itu, menoleh dan memandang wajah Sakura yang menangis dihadapannya hingga membuat perasaan bersalah di dadanya menumpuk tak terkendali. Di dekapnya Sakura dan meminta maaf atas perlakuannya. Mungkin. Sikap Sai yang tanpa sengaja merendahkan keberadaan Sakura di saat Gaara menahan rindu, membuat Gaara ingin segera melenyapkannya.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin membunuh seseorang?"
.
.
Sai meringis sakit ketika Sakura meletakan beberapa cairan dilukanya. Membersihkannya. Pukulan Gaara benar-benar sanggup membuat tulang rahangnya bergeser. Tapi kali ini ia selamat dari bahaya.
"Apa kekasihmu selalu bersikap begitu?" tanya Sai sambil memandang wajah Sakura yang teduh. Yang mengurus luka di sekitar wajahnya. Sedang Gaara hanya memandangi mereka tak jauh dari sana. Mengawasi jika-jika Sai ingin ditinju lagi.
Tapi, Sai seperti tidak ada takutnya sama sekali pada kematian. Sesekali ia masih sanggup menggali kuburnya sendiri.
"Hei cantik, apa kau tidak bisa menjawabku-AAAUHHH" ucapan Sai terhenti ketika Sakura dengan tidak hormatnya menekan luka di bawah mata Sai dengan sengaja.
"Apa kau tidak sayang dengan nyawamu?" bisik Sakura kesal.
.
.
.
.
.
Hinata menutup berkas terakhir yang telah diperiksanya. Malam membuka selimut gelap dan membiarkan kegelapan itu membungkus keadaan hati Hinata. Kerinduannya akan Naruto semakin mengendap dan mendesak terungkapkan. Tapi, mungkin bukan bagiannya lagi untuk menyimpan rindu itu. Bukan kuasanya lagi untuk memendam rasa pada suami yang sama sekali tidak mencintainya.
Hinata kembali menghapus tetes bening yang mengalir di pipinya. Pernikahan yang buruk yang tidak pernah ia ingini ternyata harus berakhir dengan cara memalukan seperti ini. Kemana Naruto pergi setelah kejadian ini. Kenapa ia tidak berniat untuk datang bahkan untuk memperlihatkan wajahnya pada Hinata yang tak bisa membatasi rindunya pada Naruto, suaminya.
.
.
Sedang di tempat lain, di dalam malam yang sama, Naruto hanya berdiri di ujung waktu dan membiarkan angin membuatnya bagai bintang utama dalam sebuah imajinasi derita. Ia berdiri dengan bimbang dan beban pikir yang tak sama dengan Hinata di sana. Karena baginya kini, keinginan untuk menelpon Sakura jauh lebih tak tertahan dari pada untuk menelpon istrinya sendiri.
"Aku ingin bertanya kabarnya, apa dia dan Sarada baik-baik saja saat ini?" bisiknya.
.
.
.
NOTE
Saskey Saki : Storynya masih panjang kak. Semoga semuanya cepat move on. Terimakasih sudah baca dan Review.
Bang Kise Ganteng : Terimakasih loh Bang Kise. Reviewnya berharga. Semoga dinikmati sampai akhir. Dan terimakasih telah mengecualikan story tema tikung-menikung dari saya ini untuk ikut dinikmati. Saya akan lakukan yang terbaik untuk setiap chara dan kisah cintanya mereka. Semoga dinikmati. Terimakasih sudah review dan baca ya Bang.
Kekurangan dan kelemahan, silakan direview kembali.
