Jalan Nokturnal merupakan salah satu jalan yang paling dikenal oleh penduduk Kota Tenggara karena kegelapan dan suasana seram, seakan-akan Jalan Nokturnal ini dijejali oleh kalangan dunia hitam. Jalan ini juga sering dijuluki sebagai Desa Penyihir, Jalan Pembawa Sial, Jalan Pembunuhan, dan lain-lain; yang pasti, jalan ini benar-benar dibenci orang (walaupun ada orang baik tinggal di Jalan Nokturnal, orang tersebut akan dianggap sebagai penyihir oleh penduduk, yang tentu saja tidak ada di dunia yang mengutamakan realitas. Penduduk Kota Tenggara memang suka percaya dengan hal-hal mistis).
Salah satu penduduk sementara Jalan Nokturnal, Koninjrik der Nederlanden, sedang berjalan menyusuri jalan terkutuk ini dengan santai, kedua tangan berada di dalam saku. Cahaya redup dari bulan dan lampu jalan menghidupkan suasana seram dan gelap. Tak ada timbulan suara dari sol sepatunya; yang terdengar hanyalah suara embusan napas dan suara siulan Netherlands. Setelah dia mengambil beberapa langkah, dia memicingkan mata untuk melihat di mana rumahnya berada, tapi poni di dahinya benar-benar mengganggu. Dengan cepat, dia menyingkirkan poninya dengan tangan, melihat beberapa bunga menyembul keluar dari pagar kawat. Bunganya.
Beberapa langkah lagi, dan dia sudah memasuki pekarangan rumahnya. Netherlands disambut dengan kumpulan bunga dalam pot, sebuah kandang kelinci tanpa penghuni, kantong pupuk yang isinya hanya setengah, dan suara deritan pagar yang memekakkan telinga. Netherlands memasukkan kunci ke dalam lubang kunci, memutar kenop pintu, dan terdengar suara decitan panjang akibat daun pintu bergesek dengan lantai. Dia melepas kedua sepatunya, menaruhnya di rak sepatu kosong di samping daun pintu. Saat menyalakan lampu, ruangan gelap menjadi terang, memperlihatkan perabotan-perabotan tersusun rapi.
Sofa panjang berwarna hitam berada di pojok ruangan, di depannya terdapat sebuah meja kayu berukuran sedang yang dihiasi dengan taplak meja merah dan di samping meja ada kursi berlengan berwarna hitam. Bunga layu berwarna biru kusam berada di dalam vas bunga kecil, menggantung di udara, beberapa helai daun berceceran di sekitar vas bunga. Lalu, dua rak buku menempel di dinding merah kusam, dijejali oleh buku-buku tebal. Langit-langit rumahnya berbahan gips, dan sudah berwarna putih kusam, tanda rumah sementaranya ini benar-benar tak terurus dengan baik.
Netherlands menghempaskan tubuh ke sofa dengan pandangan kosong; tidak ada satu benda pun yang dapat mencuri perhatiannya. Dia merogoh saku, mengeluarkan sebuah kuas berlumur cat biru kering, langsung membayangkan wajah Nesia ketika melihat ukiran huruf NHR. Netherlands memegang kuas itu dengan erat, mengayunkan kuas yang sekarang resmi menjadi miliknya di udara, seakan dia sedang menulis di atas kanvas khayalan.
Senyum muram tersungging di wajah Netherlands. Dia tidak puas jika harus melukis di atas kanvas khayalannya sendiri. Lagipula, dia tidak menginginkan warna biru. Dia ingin merah sebagai darah di kanvas, mewakili perasaannya untuk membunuh seseorang. Sayang sekali dia tak mempunyai peralatan melukis seperti Nesia―dia hanya mempunyai sebuah kuas bekas.
Netherlands menaruh kuasnya kembali ke dalam kantong celana dan bangkit dari sofa, berjalan menuju kamar untuk mengambil pistol Tokarev dan pisau untuk memotong-motong daging. Dia memainkan pisaunya sebelum memasuki kedua senjata pembunuh itu ke dalam tas selempang kecil. Netherlands menyandang tas cokelat krim miliknya di bahu, mengambil syal merah-putih-biru dan melingkarkannya di leher, menaikkan syal itu hingga menutupi hidungnya. Kemudian, dia pergi, tidak mengunci pintu rumahnya sendiri.
※
Bulan sudah mencapai puncaknya, menyinari Kota Tenggara dengan sinar remang-remang. Netherlands berjalan menyusuri jalan dengan langkah hati-hati, mata mewaspadai setiap gerakan-gerakan yang terjadi di sekelilingnya, memasang telinga agar lebih fokus mendengar suara-suara mencurigakan. Merasa ada seseorang sedang mengamatinya, Netherlands menaikkan syalnya sampai lingkaran di bawah matanya tertutup.
Saat ini, kemungkinan besar, Netherlands menjadi seorang buronan yang sedang dicari-cari oleh anggota-anggota Kerajaan Barat karena sudah membunuh beberapa anggota kerajaan besar tersebut. Berapa nyawa yang sudah ia renggut? Ada lima ... atau enam korbankah yang dibunuh oleh tangan cekatannya? Entahlah, Netherlands tidak begitu peduli dengan hal itu. Dia hanya menusuk―terkadang menembak―orang dengan spontan, melakukan pembunuhan agar ada seseorang yang memerhatikannya. Dan, Netherlands sudah mendapatkan perhatian itu―Kerajaan Barat sudah sering memerhatikannya karena dia adalah seorang kriminal.
Pria berambut tulip itu menyapukan pandangan ke sekelilingnya, mendapati jalan yang ia pijaki saat ini sedang sepi, hanya beberapa orang lalu lalang di sini. Dia merasa lega, tapi tidak lama karena ia tidak boleh lengah dalam situasi seperti ini; mungkin para Pengawas―sebutan Netherlands kepada pesuruh-pesuruh Kerajaan Barat―masih mengintainya, bersiap mengokang senapan jikalau Netherlands melakukan tindakan mencurigakan, dan memberondong tubuhnya dengan hujan peluru. Otak Pengawas-Pengawas itu sudah dicuci oleh Ketua Kerajaan Barat, sehingga kelakuan mereka seperti robot, hanya bisa bergerak jika ada perintah dari sang majikan.
Headset yang tersambung dengan sebuah pemutar musik portable miniterpasang di telinga guna menenangkan perasaannya dengan lagu berbahasa Inggris berirama cepat, sesuai dengan irama langkahnya: cepat dan teratur. Ditemani dengan ratusan lagu kesukaannya, dia kembali berjalan, kali ini dengan perasaan tenang karena dia sudah tidak merasakan tatapan mengawasi ada di belakangnya.
Setengah jam setelah Netherlands berjalan cepat, dia beristirahat sejenak untuk mengatur napas. Dia menemukan sebuah tiang besi sebagai tempat perisirahatannya, sehingga dia menyandarkan punggung ke tiang tersebut dan menarik napas dalam-dalam. Matanya setengah terpejam seraya mengunyah bagian dalam mulutnya, kemudian mengeluarkan napas dari mulut, tampak seperti kepulan asap yang seketika sirna ditelan kegelapan.
JALAN BUNGA tertulis di tiang tempat Netherlands bersandar. Tulisan itu juga ditemani dengan dengan ukiran bunga mawar hitam, duri mengelilingi tulisan tersebut. Tidak mengetahui apa-apa mengenai Jalan Bunga ini, Netherlands mengangkat bahu dan memutuskan untuk pergi; jika dia berlama-lama di sini, Pengawas akan menembak otaknya.
Netherlands merentangkan tangan sebelum berlari dengan kecepatan penuh menuju stasiun kereta, melewati berbagai gedung yang sekilas memiliki setidaknya satu motif bunga. Bahkan, matanya mendapati galeri yang disebut-sebut oleh Nesia, Tangled Vines―Jeratan Sulur Tumbuhan. Tapi, dia tidak bisa melihat galeri Nesia dengan teliti; dia hanya melihat sosok hitam dalam cahaya putih dalam galeri Nesia. Dia harus sampai ke stasiun sebelum Pengawas―mungkin seorang Pengawas―benar-benar membunuhnya.
Tidak, tidak, tidak!
Dia belum boleh mati, tidak sebelum keinginannya tercapai.
Tidak, sebelum dia mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Pokoknya, tidak!
Netherlands menghela napas dengan frustasi saat dia telah sampai di stasiun. Dia mengambil tiket terakhir dari petugas stasiun, yang menatapnya dengan heran karena Netherlands ingin pergi ke Barat saat badai salju sedang berlangsung, tapi tetap mengizinkan Netherlands pergi karena saat ini, petugas stasiun itu mendapatkan info kalau badai salju mereda.
Pria itu pun kembali berjalan dengan irama cepat dan teratur, memastikan bahwa gerakannya tidak mencuri perhatian siapapun, walaupun dalam stasiun kereta tersebut hanya ada Netherlands, beberapa orang yang tampaknya tidak mencurigakan (tapi, Netherlands menatap mereka dengan tatapan curiga), dan petugas stasiun. Netherlands dan beberapa calon penumpang kereta menunggu kereta di tepi terminal. Dia menaikkan syal yang sempat menurun dari tempatnya beberapa sentimeter dan menghentakkan kaki dengan pelan sambil menyenandungkan lagu "How to Save a Life".
Beberapa menit kemudian, tampak kereta melesat, berhenti di terminal dengan suara decitan rem yang memekakkan telinga calon penumpang. Mereka kembali menunggu beberapa detik sampai akhirnya, pintu gerbong terbuka. Di antara sepuluh gerbong, Netherlands memasuki gerbong ketiga dari depan, diikuti oleh seorang perempuan muda berumur sekitar lima belas tahun, yang sedang mengunyah permen karet―kentara dari mulutnya yang terbuka.
Netherlands memilih kursi secara acak, memutuskan untuk duduk di bagian tengah gerbong sendirian. Di seberang kursinya, gadis itu duduk, masih mengunyah permen karetnya.
Dengan penuh kewaspadaan, dia melirik gadis itu dan mengernyitkan dahi. Tidak ada yang mencurigakan dari gadis itu. Netherlands menghela napas panjang seraya menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Tangannya yang tidak dapat dilihat oleh gadis itu membuka resleting tasnya secara perlahan setelah menurunkan syalnya. Kemudian, dia menempelkan pandangannya ke luar jendela, menatapi pohon-pohon kelabu tanpa daun berbaur dengan kegelapan, mengantar Netherlands ke alam mimpi.
Rasa kantuk sudah menguasainya.
※
Saat terbangun, Netherlands beberapa kali menguap lebar, kelopak mata hanya terbuka setengah. Pandangannya masih kabur karena rasa kantuk. Akhirnya dia mengucek-ucek matanya ... dia membelalak seketika saat melihat bayangannya di kaca jendela. Gadis pengunyah permen karet itu sedang menempelkan mata pisaunya ke urat nadi Netherlands, bulir-bulir keringat dari tangan gadis itu terjatuh di syal Netherlands.
"Ketua ingin aku menangkapmu hidup-hidup, Koninjrik der Nederlanden, alias Netherlands, alias kakak dari Koninjrik België, atau aku bisa memanggil adikmu Belgium," sang gadis berkata, datar tanpa ekspresi.
"Jangan menyebut nama adikku saat ini." Netherlands mengernyitkan dahi, tampak kesal. "Aku?" Netherlands berkata dengan ragu-ragu. Dia segera mengetahui kalau hanya ada seorang Pengawas yang mengikutinya. Netherlands menarik napas pendek tanda lega. "Hidup-hidup? Kalian bercanda. Mana mungkin orang sialan itu, yang kalian panggil dengan embel-embel 'Ketua', memerintah orang tolol seperti kamu untuk menangkapku hidup-hidup?" Netherlands menggeram. "Oh, dia pasti merencanakan sesuatu―sesuatu yang jahat dan kejam kepada adikku... pasti begitu, bukan?"
Gadis itu hanya terdiam, tidak berniat membalas perkataan Netherlands, hanya menggerak-gerakkan mata pisaunya di urat nadi Netherlands, memberi isyarat bahwa dia harus diam atau pisaunya akan menggorok leher buronan itu. Netherlands yang mengerti akan hal itu juga ikut terdiam.
Alih-alih diam, Netherlands mengambil pistol Tokarev dari tas selempangnya, mengokang senjata dengan perlahan saat gadis Pengawas itu memusatkan perhatian keluar jendela, dan menarik picu. Peluru melesat dengan cepat di udara dan langsung menembus kulit si gadis Pengawas itu, masuk ke dalam organ pencernaannya. Belum puas, Netherlands kembali mengokang pistol, dan menembak pistol, peluru menembus otak. Darah menyembur keluar dari luka tembak, memercikkan cairan merah ke sekeliling gerbong, termasuk pipi Netherlands
Gadis Pengawas itu berjalan terhuyung-huyung ke belakang, beringsut-ingsut, dan akhirnya terduduk di atas lantai gerbong dalam keadaan terbunuh. Pisau milik si gadis Pengawas diambil Netherlands guna memperbanyak senjata yang bisa dipakai Netherlands selama ia berada di Barat.
Gadis Pengawas itu adalah korban ketujuhnya.
Dia teringat sesuatu―kuas Nesia. Dia menjejalkan tangan ke dalam tasnya dan meraih kuas. Kemudian, dia mencelupkan kuas di pipi, memutar-mutar kuas itu untuk menempelkan darah ke kuas, lalu dia menggoreskan kuas itu ke dinding gerbong.
Sembari melukis di dinding gerbong, Netherlands bersenandung.
"And I'm walking on air ..."
※
"Esther gagal menjalankan tugasnya, Sir," kata seorang Pengawas kepada orang yang diteleponnya. yang saat ini menyamar menjadi masinis kereta api yang ditumpangi Netherlands. "Dia terbunuh―Target menembak perut dan kepalanya."
Terdengar suara kekehan di seberang telepon. "Dia gagal, eh? Sayang sekali ... dia benar-benar anak yang manis, selalu mematuhi apa perkataanku," kata orang di seberang telepon, sama sekali tidak terdengar sedih.
"Jadi, Ketua, apa yang harus saya lakukan?" tanya sang Pengawas.
"Bawa saja Netherlands ke Torchlight Station, dan sergap dia saat dia lengah. Kemudian, giring orang itu ke Kerajaan Barat. Aku perlu bernegoisasi dengan laki-laki itu," orang yang disebut-sebut sebagai "Ketua" memerintah si Pengawas. "Kau bisa melakukannya, bukan, pendudukku tercinta?"
Tanpa ada yang melihatnya, Pengawas itu memberi hormat. "Yes, Sir.Selamanya saya akan mengabdi, setia kepada anda, Yang Mulia."
"Terimakasih. Nah, sekarang, jalankan tugasmu."
※
walking on air
four – blood & tea
※
Suara ring ring gemerincing bel terdengar merdu saat Nesia memasuki ruang pameran Tangled Vines, melirik sekilas ke arah jam dinding, yang sedang menunjukkan pukul delapan pagi. Nesia tersenyum kecil dan melambaikan tangan ke arah laki-laki, yang sedang memandanginya melalui buku.
"Hai, Mor," sapa Nesia, canggung. "Apa kabar?"
Laki-laki bernama lengkap Timor Leste itu kembali membaca bukunya. "Ada kiriman untukmu kemarin malam, dari Jepang. Tampaknya, komik pesananmu sudah datang," Mor memberitahu, sama sekali mengabaikan sapaan Nesia tadi. Mor menunjuk ke pojok ruangan.
Tapi, Nesia tidak mempermasalahkannya. Dengan mata berbinar-binar, Nesia segera berlari ke pojok dan memeluk paketnya, seakan-akan paket itu adalah boneka Teddy Bear yang besar dan empuk. Lalu, dia membuka paketnya dengan terburu-buru. Begitu tangannya telah menggenggam sepuluh komik berbeda judul, dia menghirup aroma khas komik terbitan baru, menganggap aroma aneh tersebut sebagai aroma harum bunga mawar.
"Komik! Kiku memang paling baik sedunia!" Nesia berkata dengan penuh semangat. Nesia meninggalkan peralatan melukisnya di pojok ruangan tersebut dan memasuki ruangan kerjanya, setelah menyuruh Mor untuk membuka tanda BUKA di pintu; dengan sebuah senyum kecil, Mor melakukan apa yang disuruh Nesia dan menjaga Tangled Vines. Sementara itu, Nesia, membaca komik Fullmetal Alchemist, ditemani dengan secangkir teh hangat dan setoples chocolate chip.
※
Setelah melukis, Netherlands kembali duduk di tempat dan memandangi mayat gadis Pengawas itu―belum ada seorangpun yang menyadari peristiwa tadi, dan itu membuat Netherlands curiga. Tapi, Netherlands tidak mau mempermasalahkan masalah itu lebih jauh. Tidak ada orang yang memerhatikannya, dan itu sudah cukup untuk membuat perasaan Netherlands menjadi lega. Dia tak perlu berurusan dengan polisi lagi.
Sekali lagi, dia memandangi kuas berlumuran darah miliknya, menatap ukiran NHR dengan tatapan dalam.
NHR ... Nesia Raya ... hmm ... apa kepanjangan dari "H"? Apakah itu nama belakangnya? Entahlah, dia tak pernah memberitahuku nama belakangnya―hanya nama depan dan sepertinya, nama tengah, batin Netherlands dalam hati. Lalu, dia meletakkan kuas itu ke dalam tas dan kembali menyanyi mengikuti lagu yang mengalun pelan di telinganya.
Dalam gerbong itu, suasana hening.
Sepuluh menit kemudian, masih hening.
Setengah jam kemudian, gerbong itu masih hening.
Lima detik kemudian, gerbong itu tidak lagi hening.
"YA AMPUN!" Netherlands berseru, kedua matanya membelalak, baru menyadari sesuatu.
Jika hanya ada satu orang Pengawas di sini, yang lainnya ada di―
Kereta pikirannya terhenti tiba-tiba. Dia menundukkan kepala dengan rasa penyesalan yang amat sangat.
"Oh, tidak ..."
※
Suara ring ring gemerincing bel terdengar lagi. Mor mendongak dan mendapati seorang laki-laki berbalutkan kemeja putih dan jins hitam―klise sekali―sedang berdiri di ambang pintu, menyeringai layaknya kucing Cheshire, dan memandangi seluruh sudut-sudut ruangan dengan tatapan dingin.
"Hm ... inikah Tangled Vines, galeri milik teman kriminal keparat itu? Bagus juga."
disclaimer: Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya; How to Save a Life © The Fray; Fullmetal Alchemist © Hiromu Arakawa; Walking on Air © Kerli
a/n: kenapa saya ngerasa alurnya kecepatan ya? Hm...(×―×) menurut kalian gimana? ƪ(•וƪ) dan syukur, hujan udah berhenti di Makassar. /baca ulang/ gaje nih chapter -_-
