Hill of Sorrow
Chapter 4
Genre : ANGST, Hurt/Romance, and Drama
Warning (s) : School!AU, BXB, YAOI, abuse!KyungSoo, gang, Banyak adegan S(sadist dalam permainan S and M), tragedy, full of sad and sorrow, sad, ANGST, a little bit (maybe) OOC, full of Typo (s), and rate M.
Rating : M
Disclaimer : Hitsukiro16
Pairing Chara (s) : Of course it's KAISOO, ChanBaek, HunHan, SuLay, KrisTao, ChenMin (Official pairing of EXO)
Small note : Saya akan menjelaskan secara singkat mengenai tingkat pendidikan dan hubungan persaudaraan yang mereka miliki saat ini.
Seung Ri high school
Kelas 1 : Kim Jong In dan Oh Se Hun (17 tahun)
Kelas 2 : Do Kyung Soo dan Zi Tao (18 tahun)
Kelas 3 : Byun Baekhyun, Jong Dae (Chen), Park Chanyeol (19 tahun)
Seung Ri University
Semester 1 : Yi Xing (Lay) dan Joon Myeon (Suho) (20 tahun)
Semester 2 :Minseok (Xiumin) Xi Luhan, Wu Yi Fan (Kris) (21 tahun)
Hubungan satu sama lain :
Jong In dan Sehun adalah saudara sepupu.
Kyung Soo dan Lay adalah adik dan kakak dari ibu yang berbeda. Ayah Lay setelah kehilangan istrinya (warga negara China asli) karena penyakit, meninggalkan ayahnya dan Lay, kemudian menikah lagi dengan wanita yang menjadi ibu Kyung Soo dan Lay sekarang.
Kris adalah saudara sepupu dari Kyung Soo dan Lay yang keturunan China Kanada, ibunya adalah saudara kandung dari ibu Lay.
Tempat tidur atau ruang kamar asrama tempat mereka tinggal dan beristirahat selama sekolah di Seung Ri high School. :
Do Kyung Soo dan Huang Zi Tao - Koridor Winter nomor 0910
Oh Sehun dan Kim Jong Dae (Chen) – Koridor Autumn nomor 1208
Park Chanyeol dan Byun Baekhyun – Koridor Winter nomor 0706
Kim Jong In – Koridor Spring nomor 0011 (Dia sendirian karena dia sendiri yang minta, dia nggak mau repot-repot diganggu sama orang).
Yeheeet, Wah, Reviewer dan pembaca semua, Makasih banyak! XD *nunduk bahagia*, fanfic saya di respon. Hahaha. :D. Kebahagiaan author ya di situ letaknya. :D
Catatan, Kyung Soo nggak akan berubah jadi gila, saya nggak tega dong, kasihan anak saya *PLAK*. Happy Ending? Sad Ending? Yang mana ya? Hehehe.
-KAISOO-
Orang sepertiku bisa apa? Namja selemah diriku bisa apa? Aku hanya siswa SMA biasa yang tidak bisa berbuat apapun selain disiksa dan dipermainkan oleh kekasihku sendiri. Membela diri tak bisa, mengutarakan kebenaran tak mampu.
Sungguh, hidupku ini selalu dipenuhi dengan kesedihan – Kyung Soo.
-KAISOO-
Flashback :
'Bukti sudah terpampang jelas di depanku dan kau masih mau mengelak? Kau bisa kubunuh, Kyung!'
"Tidakkkk! Jangannn! Kumohon! Jangan sakiti aku!" rontaan Kyung Soo semakin hebat, kedua tangannya menarik rambutnya sendiri, mencengkram kepalanya hingga kuku menancap pada kulit kepalanya, berbekas luka tusuk kecil. Depresi dan ketidakwarasan seolah-olah merasukinya, membuatnya kehilangan kendali saat kata-kata yang diucapkan oleh Kai dulu merusak seluruh syaraf tubuhnya.
"KYUNG SOO BUKA MATAMU!"
Seketika, Kyung Soo membuka matanya lebar-lebar. Napasnya memburu cepat, namun dia dapat mengambil semua oksigen ke dalam paru-parunya.
Lay memeluknya makin erat, Kyung Soo yang tiba-tiba merasakan lemas pada tubuhnya namun rasa takut yang terus menghantuinya, semua tentang Jong In yang membunuh dirinya perlahan, membuatnya tak bisa lagi hidup seperti ini.
"Lay-hyung... Aku takut..."
-KAISOO-
"Sudah sekitar 2 hari ini Kyung Soo tidak bisa tidur dengan tenang." Lay mengusap tengkuknya frustasi, "dia terus bermimpi buruk mengenai Jong In..." mata merah yang terpancar pada kedua bola mata Lay menandakan betapa stres dirinya melihat keadaan adiknya yang tidak semakin baik namun malah berbalik makin buruk pada kesehatannya. Sesekali tangannya mengusap pipi Kyung Soo yang tertidur namun terlihat takut.
Pukul 3 pagi, suhu yang terlampau dingin, dan Lay yang lelah seharian menjaga Kyung Soo, menemani adiknya saat terbangun dengan tiba-tiba dengan peluh membasahi tubuhnya. Kembali mengalami mimpi buruk, Kyung Soo menangis dan terus menangis, dan namja berstatus kakak Kyung Soo itu tak bisa menerima rasa sesak pada dadanya. Miris. Tentu saja, adiknya terus dibayang-bayangi oleh pemuda brengsek tersebut, bahkan sampai mimpinya, bagaimana bisa hal tersebut tak membuat Lay gila.
Sia-sia Kyung Soo menggunakan obat yang mempercepat proses penyembuhan jika dalam proses tersebut tidak bisa berjalan dengan lancar tanpa dibantu dengan istirahat total dan penuh. Wajah lelah memenuhi paras Lay, dia tak bisa berdiri tegak dengan semua halangan ini. Sangat ingin Kyung Soo segera pulih, namun masalah yang belum terselesaikan juga hanya akan menghambat saja.
"Tadi Chanyeol berkata padaku kalau Jong In mencari Kyung Soo. Wajahnya terlihat marah, dan sampai mengacak-acak kamar Kyung Soo di asrama." Lay mengusap dahinya yang terasa pening, terlalu banyak beban yang dipikulnya. Pemuda yang bersandar di dekat pintu mendekat, ingin lebih dekat pada kekasihnya yang duduk di dekat ranjang.
"Bahkan Jong In hampir melukai Tao, teman satu kamar Kyung Soo. Berani sekali dia melukai orang tak bersalah. Untung saja Tao baik-baik saja, sepertinya hanya lebam di tangan kanannya karena lemparan barang-barang milik Kyung Soo." Khawatir akan keselamatan Kyung Soo dan orang-orang terdekat dongsaengnya, Lay menunduk sedih. Ia tak mau terlihat lemah hanya karena beban-beban ini ikut memberatkannya.
"Apakah Chanyeol dan Baekhyun dilukai juga oleh Kim Jong In?" gerakan kepala ke kanan dan kekiri menjadi jawaban bagi Suho, kekasih Lay. Setidaknya Jong In tidak macam-macam pada kedua orang tersebut. berani menyentuh, maka Suho juga tak akan bisa tinggal diam lagi.
"Namun aku takut hal tersebut akan terjadi jika laki-laki tak tahu diri itu sudah kehilangan kesabaran... Aku takut jika Chanyeol dan Baekhyun terlibat semakin dalam." Mengusap air mata yang berhasil lolos, Lay melanjutkan, "cepat atau lambat Jong In pasti akan menemukan Kyung Soo. Itu membuatku takut." Isakannya semakin keras, suaranya terdengar begitu bergetar.
"Suho, aku takut Jong In menemukan dimana Kyung Soo berada dan dia akan kembali disiksa olehnya. Aku tak mau hal itu terjadi lagi pada adikku... Apa yang harus kulakukan... Suho-ya..."
Suho tak bisa berbuat banyak untuk menghibur malaikatnya, untuk menolong Kyung Soo pula, yang dapat dia lakukan hanya membantu proses penyembuhan dan mengurus masalah absen Kyung Soo pada guru. Menarik Lay dalam dekapannya, Suho dapat merasakan gerakan pelan dari sosok yang dipeluknya, Lay yang merasakan kenyamanan pada dada bidang kekasihnya.
Lay mendesah berat, dapat dia simpulkan bahwa Kyung Soo, adiknya, hanya ingin merasakan kehangatan seperti ini, kepedulian yang melingkupi dirinya secara utuh. Ya, mungkin untuk saat ini, hanya ini yang bisa membuat ketakutan dan kegundahan Kyung Soo berkurang.
"Tak banyak yang bisa kita lakukan saat ini. Namun setidaknya, ayo kita bangkitkan dulu Kyung Soo dari mimpi buruk yang terus menghantuinya. Buat dirinya berdiri kembali, baru kita bisa melanjutkan untuk menolong Kyung Soo." Saran Suho tak buruk, hanya saja terlihat rancu didengar.
"Maksudmu, kita harus membuatnya pulih, baru menyelesaikan masalahnya dengan Jong In?" Suho mengangguk, membenarkan pernyataan kekasihnya yang lebih pintar berbicara dibandingkan dengan dirinya.
Hanya senyuman yang dapat diberikan namja keturunan China tersebut. Lay mengusapkan ujung hidungnya pada ujung hidung Suho, mendapatkan kenyamanan di situ. Air matanya sudah tak terlihat kembali turun melewati pipinya.
"Lay-Hyung..." panggilan lirih memecah suasana tenang di ruangan tersebut. Mendengar suara lirih adiknya, Lay segera bangkit dari posisi duduk dalam dekapan guardian angelnya, menghampiri adiknya yang berusaha duduk dari posisi tidurnya.
"Ada apa, Kyung?" mengelus tengkuk dongsaengnya lembut, Lay merasakan Kyung Soo bersandar pada tubuhnya. Suhu tubuhnya masih belum turun walau tidak terlalu tinggi, Lay duduk di atas ranjang sambil mendekatkan dirinya pada adiknya yang pucat.
"Uh... ada yang ingin kukatakan..." namja kelewat mungil tersebut membenarkan posisi duduknya di atas ranjang dibantu oleh Suho yang tak terlalu jauh jaraknya dari ranjang.
Namja kecil berkulit putih susu itu mengambil napas dalam-dalam, mempersiapkan kalimat yang sudah disiapkannya.
"Aku ingin kembali ke kamar asramaku." Keheningan sejenak terjadi, Lay yang tak bisa merespon karena bingung, Suho yang tak bereaksi sama sekali, bahkan Kyung Soo yang takut-takut siap menghadapi omelan kakaknya.
"Apa maksudmu?" pertanyaan Suho secara tiba-tiba membuat Kyung Soo agak terlonjak kaget.
"A—ku hanya ingin kembali ke sana. Aku tak mau merepotkan Lay-hyung dan yang lain."
Dari perkataan yang Kyung Soo ucapkan, Lay tahu bahwa Kyung Soo mendengar pembicaraannya dengan Suho. Ia dapat menyimpulkan bahwa dia sudah bangun sedari tadi.
"Apa yang akan kau lakukan di sana? Kau belum sembuh benar, dan jika Jong In menemukanmu, apa yang akan kau lakukan?" ujar Lay sarkastik. Nadanya terkesan meredam marah yang sudah mengambang di permukaan. Kyung Soo terus saja menundukkan wajahnya, tak punya keberanian hanya untuk menatap wajah geram kakaknya.
"Le-lebih baik jika aku... kembali. Supaya yang lain tidak terluka..." gugup dan ragu-ragu akan kata-katanya. Seseorang tidak bisa menipu perasaannya sendiri, gerak-gerik dan suara yang dikeluarkan oleh Kyung Soo menunjukkan ketakutan dan depresi yang terpendam. Berpura-pura tegar dan tidak apa-apa, namun suaranya bergetar dan kedua jemari tangannya meremas selimut yang terpentang dibawah tubuhnya.
"Jangan berbohong, Kyung Soo." Ucap Lay. Kyung Soo mengangkat wajahnya, namun menemukan wajah sedih kakaknya.
"Jangan berpikir kalau kau akan memendam semua ini sendirian." Tangannya merengkuh adiknya dalam pelukannya, isakan tangis memenuhi ruangan tersebut. suara sedih milik seorang kakak yang seolah-olah phobia akan siksaan yang mendera adik kecilnya. Dia tak bisa menerima itu, ia tak bisa melihat keadaan tersebut.
"Hyung... Kumohon... Aku tak mau yang lain terluka hanya karena aku..." Kyung Soo menggelengkan kepalanya sedih, ia juga tak bisa melihat semua orang terdekatnya terluka karena Jong In.
Akan lebih baik dia saja yang merasakan penderitaan ini daripada harus melihat orang lain tersiksa karena perbuatan Jong In. Lebih baik tubuh tak berguna miliknya yang dijadikan pelampiasan untuk Jong In. Biarkan air mata ini terus keluar sampai habis demi menggantikan suaranya yang tak akan pernah teraih pertolongan orang lain. Jangan pedulikan dirinya ditendang dan dipukul habis-habisan, dipermalukan di depan orang-orang dengan caci maki. Dia sudah tidak peduli lagi, asalkan Jong In tak menyakiti yang lainnya, dia rela diperlakukan buruk oleh orang tersebut.
"Kau mau mengorbankan dirimu? Kau gila, Kyung Soo!" kemarahan Lay mencapai puncaknya.
Kyung Soo sontak terdiam, dia merasa tertohok dengan kalimat 'gila' yang namja berdimple itu ucapkan. Baru kali ini kakaknya mengatai dirinya seperti itu, terlalu menyakitkan. Ini terlalu menyakitkan baginya. Dia tak tahu akan jadi seperti ini, kakaknya marah, bahkan berkata seperti itu untuknya.
Tangisannya pecah, mulai terdengar lebih sedih, saat ini dia terlihat semakin pucat, seakan-akan lehernya tercekik karena pasokan udara tak bisa masuk ke dalam paru-paru mungilnya.
Lay kembali menyadari kesalahan yang dia perbuat berdampak pada kondisi adiknya, kembali drop dan patah semangat karena perkataan kasarnya. Dia merutuki dirinya karena tak bisa mengontrol emosi dan mulutnya.
"Kyung Soo! Kyung! Tidak! Bukan maksud hyung berkata seperti itu!" Lay memeluk Kyung Soo, takut dongsaengnya akan semakin tersakiti seperti sebelumnya, mengalami ilusi seolah-olah Jong In yang kembali menyakitinya.
"Lay-hyung... Jangan membenciku..." Terlihat begitu rapuh, jemarinya menggenggam pergelangan tangan kakaknya, sangat takut kakaknya akan pergi meninggalkan dan membencinya. Lay dengan perasaan sangat bersalah mengusap puncak rambut Kyung Soo, merapalkan kata 'maaf' berkali-kali. Mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya sudah begitu menyadarkan namja keturunan China tersebut.
"Aku tak akan pernah membencimu, Kyungie. Hanya saja jangan kau bawa luka ini sendirian, setidaknya biarkan aku ikut merasakannya dan mengerti bagaimana perasaanmu... Hyung tak bisa membiarkanmu melewati semua ini sendirian."
Tangisan yang lebih keras memenuhi ruangan tersebut, Kedua suara yang berbeda tersebut memenuhi ruangan, bahkan Suho ikut merasakan penderitaan yang dialami Kyung Soo hanya lewat isakannya saja. Di pagi hari itu, kedua orang yang menangis dengan leluasa tersebut bisa tidur dengan tenang. Seorang kakak yang bisa memberikan perlindungan pada adiknya, menangkal mimpi buruk Kyung Soo dengan kebahagiaan yang dirasakannya lewat pelukan, serta seorang adik yang merasakan sejenak bagaimana seorang kakak melindungi adiknya dengan kehangatan dan cinta kasih melingkupinya.
Lay mengisyaratkan kekasihnya untuk berbaring di samping Kyung Soo. Walau tentu saja pada awalnya namja berdahi tampan itu menolak, berkat pandangan puppy eyes kekasihnya, dia hanya menuruti dengan blushing sepanjang malam.
Suho berjalan ke sisi lain ranjang, kemudian naik ke atas ranjang setelah melepas sepatu yang digunakannya. Masuk ke dalam selimut, dan meraih tangan Lay yang berada di pinggang Kyung Soo. Mengkaitkan jemari-jemari tangan masing-masing, Lay dan Suho berbaring dan ditengah-tengah mereka, namja mungil memejamkan matanya, yang bertindak seolah-olah sebagai anak mereka.
Suho dan Lay berbaring di samping kiri dan kanan Kyung Soo, membuat pemuda bermata bulat itu nyaman karena merasa dilindungi. Kondisi seperti ini sudah cukup bagi Kyung Soo, ketenangan didapatnya, kedamaian dalam hati dicapainya. Kelopak matanya yang sudah lelah dapat terpejam perlahan-lahan, masuk ke dalam kegelapan tanpa keraguan pemuda yang dicintainya akan datang dan menjadi mimpi buruknya, walaupun sudah melukainya akan datang dan kembali menyiksanya.
Suara tenang terdengar tak lama kemudian, suara hembusan napas yang teratur, dada yang kembang kempis dengan perlahan, bahkan dari sudut bibir Kyung Soo terlukis senyuman damai. Lay bersyukur adiknya bisa beristirahat barang sebentar. Ia menatap kekasihnya sembari melempar senyum dan ucapan terima kasih. Dibalas dengan kedipan agak nakal, Lay dibuat malu oleh kekasihnya.
"Oh ya, Chanyeol dan Baekhyun tidur di mana? Aku baru tersadar mereka tidak ada di sini sama sekali sejak sore tadi." Ujar Suho agak berbisik, takut membangunkan namja mungil yang tertidur pulas di tengah-tengah mereka. Lay tersenyum, kekasihnya yang baik hati memang bisa diandalkan.
"Tenang saja, tadi mereka menemuiku bukan hanya menyampaikan mengenai kejadian di sekolah, namun mereka juga pamit untuk menginap di kamar asrama milik temannya..." mengalihkan pandangannya ke langit-langit ruangan sambil berpikir 2 buah nama, "ah, Sehun dan Chen. Kalau tidak salah itu nama mereka." Suho mengangguk-angguk paham, berarti setidaknya mereka dalam kondisi yang aman.
"Suho-ya..." pemilik nama menoleh, agak terlonjak mendapati pasangannya memandang dengan agak seduktif. Meneguk air liurnya sendiri, Suho berdehem agak malu.
"Uh, maukah kali ini kita tidur bertiga seperti ini?"
Ah. Suho kecewa. Pikirnya Lay akan memintanya untuk bangkit dan pindah ke sofa untuk sedikit 'pemanasan'. Ah, kekecewaan yang mendasar di dalam hatinya. Namun dia tak mungkin 'menghabisi' calon istrinya yang imut ini di hadapan adiknya yang tertidur polos dan tak tahu apapun. Dengan berat hati dia mengangguk ke arah kekasihnya, disanggupi dengan senyuman manis, serangan telak untuk jantung Suho berhenti berdetak.
Pagi itu, ketiga orang tersebut bisa tidur dengan tenang, bergulat dengan fantasi masing-masing. Berada di dalam kenyamanan sejenak yang dapat menenangkan hati Kyung Soo, walau ia tidak tahu, sesuatu yang buruk akan terjadi.
-KAISOO-
Hari minggu yang dingin tersebut dipenuhi dengan suara berisik hujan yang datang pada siang hari, yang seharusnya menjadi hari bahagia untuk kegiatan bebas semua orang. Chanyeol dan Baekhyun berjalan menuju kamar asrama mereka, berniat mengunjungi dan melihat keadaan sahabatnya. Dengan bergandengan tangan, tangan Baekhyun di dalam saku hangat Chanyeol, mereka berjalan beriringan, suasana hening menemani perjalanan mereka.
"Yeolie... Kira-kira sudah berapa hari Kyung Soo absen?" Chanyeol nampak berpikir sejenak, kedua ujung dalam alisnya bertautan, menandakan dia sedang berpikir keras sembari jemari tangan kirinya bergerak-gerak menghitung.
"Mungkin Sudah 4 hari. Ada apa, Baek?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja, Jong In masih saja mencari-cari keberadaan Kyung Soo? Aku tetap berpikir Jong In curiga pada kita." Baekhyun nampak murung, terbesit sedikit rasa gelisah, kalau-kalau sahabatnya akan berada di tangan Jong In lagi dan tak ada yang bisa menghentikannya berbuat sesuka hati.
"Aku juga tak menjamin hal tersebut tidak akan terjadi." Chanyeol menatap langit-langit koridor. Baekhyun merapatkan tubuhnya pada tubuh kekasih bertubuh tingginya, mencari kehangatan lewat sentuhan ringan.
"Cepat atau lambat, Jong In pasti tahu bahwa Kyung Soo berada di dalam kamar kita. Yang kupikirkan sampai saat ini, bagaimana caranya agar Jong In tak bisa menyentuh Kyung Soo bahkan membuat jarak dengannya? Aku bahkan agak takut kalau dia akan menghampiriku dan ikut menyakitiku." tenggelam dalam pikirannya, Baekhyun tak sadar kalau kekasihnya menghentikan langkahnya, mengarahkan tubuh mungil di hadapannya mengarah kepadanya, kemudian menyambut tubuh kecil itu dalam lingkar kedua tangannya yang lebar.
"Kau tahu, jika aku tak membiarkan Kyung Soo disentuh oleh adik kelas brengsek itu, tentu saja aku akan menjagamu dengan cara apapun, bahkan kalau memang diperlukan, akan kubuat dia tak dapat melirikmu bahkan satu kedipan." Chanyeol menyentuh bibir Baekhyun dengan bibirnya, memberikan kecupan lembut untuk kekasihnya yang sedang gundah.
Agak kaget awalnya karena Chanyeol mengecup bibirnya di tempat umum, namun hilang seketika setelah membuang rasa malunya, memberikan ciuman singkat menjadi balasan terima kasih pada pemuda tinggi dihadapannya.
"Gomawo, Chanyeol-ah. Kau yang terbaik."
Mereka kembali berjalan beriringan dengan senang, namun mereka nampaknya tidak sadar, bahwa ada seseorang yang mendengar seluruh pembicaraan mereka dari awal. Kim Jong In bukanlah orang yang mudah ditipu. Senyumannya mengembang, dia berhasil menemukan sesuatu yang dicarinya, miliknya yang telah cukup lama hilang, kini telah siap untuk digenggamnya kembali, dibawanya kembali untuk menjadi miliknya.
"Aku menemukanmu, Kyung Soo."
-TBC-
Small note :
Yolooooo~ Yeheettt~ Akhirnya lanjut juga... Semangat nulis gara-gara habis dengerin lagu barunya EXO yang judulnya OVERDOSE, sempet juga teman saya mendowload video yang muncul paling tidak kurang dari 24 jam, dan saya berhasil meminta padanya dengan puppy eyes. PRACTICE VIDEO OVERDOSE of EXO!
Dan kalian tahu?! KYUNG SOO IMUT BANGEETTTT! *buang tissu bekas darah di hidung ke tempat sampah yang sudah penuh dengan tissu berwarna merah*
Mimisan saya liatnya, wowww... Saya bener-bener nggak sabar buat download MV mereka! Nggak sabar! XD
Buat KaiSoo moment akan ada sebentar lagi, setelah mereka bisa bertemu lagi, mulai dari situ bakalan saya kasih banyak KAISOO moment, tapi dari segi-segi yang kurang romantis, mungkin. Q.Q
Masalah Jong In tersiksa selalu menunggu penyiksaan Kyung Soo berakhir. Pokoknya, nanti pasti bakal banyak KAISOO moment nya, yang tabah ya, readers. :D
KKAMJONG pasti bakalan dapat balasan yang setimpal sama perilakunya! Itu pasti! Author juga nggak tega buah hati saya dengan Chanyeol *ditembak mati* disia-sia begitu sama cowok item itu! *JDER* Doakan ChanBaek semoga bisa membalaskan rasa sakit hatinya sama Jong In, tapi tentu saja Kai nggak akan semudah itu dikalahkan, dia bakalan lebih licik.
Pokoknya buat reviewer dan reader terkasih, ARIGATOOOUUUU~ 3
BTW, saya butuh untuk memastikan hal satu ini.
Bolehkah kalau saya menambahkan sedikit bumbu M-PREG pada fic ini? Karena saya kedatangan ide baru untuk fic ini, memperjelas ANGST buat fic ini. Itu yang saya butuhkan untuk memperjelas 'betapa sakitnya Kyung Soo disini'. :P
Walau saya nggak bisa kasih spoiler untuk apa M-PREG itu akan mempengaruhi jalan cerita, yang pasti, akan ada sesuatu ke depan yang akan membuat anda melempar sandal untuk saya. XD
Akan ada sesuatu yang mengejutkan lewat M-PREG ini nanti. Tentu saja, author nggak akan marah menerima kritik pedas, Author siap deh, kalau harus dimarahi karena membuat para pembaca kecewa.Hontou ni Gomenasai.
Yang pasti, anda semua sudah saya kasih peringatan, Ini adalah Fic ANGST. Arahnya akan selalu berakhir nggak bagus, namun untuk masalah ending, tentu saja akan ada sisi bahagia dari KAISOO. Walau, dari pandangan saya sekarang, pada kenyataannya, KAISOO itu mungkin kurang langgeng karena KAI mulai nempel-nempel sama LUHAN dan BAEKHYUN. Saya sedih melihat hal tersebut, seolah-olah apa yang Kyung Soo harapkan pupus begitu saja. Saya bisa membayangkan bagaimana lewat mata Kyung Soo, terpancar kesedihan. UHUUU..Q.Q
Mengingatkan untuk kesekian kalinya, saya bukan NGE-BASH character(s), Hanya kegilaan yang ingin saya ungkapkan lewat cerita. Okay?
By the way, maafkan saya atas kelanjutan fanfic ' It's my Turn to Cry' yang tertunda cukup lama karena saya belum dapat ide yang pas untuk melanjutkannya, saya juga bener-bener nggak mau merepotkan Rissa-chan. Saya merasa hubungan pertemanan kami agak renggang semenjak saya minta di BETA olehnya. Saya merasa sangat merepotkannya. Saya jadi takut. Q.Q
Ya sudah, cukup dulu curcolnya. Mohon review dan kasih masukan tentang fic ini. Lebih penting lagi, tentang M-PREG, mohon bantuannya. Saya berjanji, nggak akan berkesan terlalu keibu-ibuan (mungkin), wkwkkwk, saya Cuma ingin memperjelas kesan ANGST dalam cerita ini dengan M-PREG saja. :D
REVIEW yaaaahh~ XD
Hitsukiro16
