MARIONETTE "TELEPHONE HORROR"
Main Cast :
Marionette Minnezko
Han Sanghyuk as Jung Sanghyuk
Sungjae *BTOB*
Ilhoon *BTOB*
Eunkwang *BTOB*
Support cast :
Lee Hongbin (GS)
Cha Hakyeon (GS) and Jung Taekwoon as Hyuk Parents
"Dingin... Gelap... Tolong... aku tidak bisa melihat apapun. Aku adalah hantu penunggu rumahmu... Temani aku... tolong..."
"Cukup, Yook Sungjae! HENTIKAN," hardikku. Aku heran mengapa anak yang bernama Yook Sungjae itu menyebalkan sekali! Kuakui predikat sekolahku ini sedikit membaik berkat peran ayahnya yang seorang penyanyi terkenal.
Dasar anak orang kaya, mengapa tingkahnya seperti anak tak berpendidikan. Meskipun laki-laki, aku kerap kelabakan setiap kali ia mencoba menakut-nakutiku lewat telepon tengah malam.
"Hahaha! Kau pasti takut kan, Jung Sanghyuk? Aku yakin sebentar lagi kau akan menangis!" katanya tergelak. Ini salah satu hobinya, menerorku.
Aku, Jung Sanghyuk, si anak yang sering di bully di sekolah, anak berbadan kurus yang selalu memasang wajah takut dan menunduk setiap melewati Yook Sungjae dan kawan-kawannya.
Yook Sungjae sangat menyebalkan! Sementara, aku? Aku hanya seorang laki-laki yang tak pandai bergaul. Bahkan, aku hampir TIDAK memiliki teman. Satu hal yang kuingat betul tentang Sungjae; ia pernah menjahiliku saat masih di elementary school, dengan mengunciku ditoilet sekolah. Hasilnya? Sungjae sangat puas! Aku menangis histeris di dalamnya. Begitu keluar celanaku sudah basah, aku mengencinginya, yang membuat semua anak menertawaiku. Celakanya, Lee Hongbin pun ikut terkikik; dia gadis yang sudah kutaksir saat di kelas 4. Walaupun sudah bertahun-tahun yang lalu, itu tetap menyedihkan.
"Aku tidak takut, Yook Sungjae!" bantahku marah. Aku tau aku sedang berbohong.
"Kau Bohong!" Tau juga dia, pikirku. "Aku tau kau pasti sudah berkeringat dingin kan? Hahaha! Lihat saja, besok aku akan mengejek dan mencemoohmu bersama teman-teman. Biar semua tau kalau kau hanya seorang Popeye pengecut! Hahaha!"
Klik... tuttt-tuuuut...
Sembungan telepon terputus. Aku masih berkeringat dingin dan kebat-kebit sambil memikirkan bagaimana reaksi teman-teman di sekolah mendengar keidiotan Sungjae kepadaku besok.
Mengapa ia tak bisa menjalani hubungan pertemanan yang normal denganku? Padahal kami sudah menjadi tetangga selama hampir 18 tahun, bayangkan! 18 TAHUN! Dari kami masih sama-sama di kandungan, hingga kini duduk di kelas 2 SMA. Yah, dia tinggal beberapa blok di belakang rumahku. Dan, itu bukanlah suatu ide yang baik.
Aku merebahkan punggungku perlahan di kasur, kutatapi langit-langit kamar yang berwarna coklat. Dadaku sesak, aku jadi memikirkan sosok yang selama ini dibuat Sungjae untuk menakut-nakutiku. Arwah gadis dengan mata berdarah yang tersesat di dalam kamarku dan berusaha mencari batu nisannya. Sungjae membual dengan mengatakan bahwa sebelumnya rumahku itu adalah kuburan. Dan, aku tak sanggup membayangkan bagaimana kalu ternyata kata-kata Jongin itu benar. Kulit gadis hantu itu berlendir kuning, dengan rambut berantakan dan penuh luka pada kulit kepalanya. Bibir bagian bawah hantu itu bisa memanjang ke bawah hingga menyentuh tanah.
Glek...
Aku mengerjap capet sambil mengambil posisi setengah duduk. Tidak, aku tak akan mau membiarkan fantasi ciptaan Sungjae berhasil memengaruhi pikiranku.
Secara tak sengaja kulihat ada siluet hitam berdiri tegak di sisi meja televisiku, di sudut kamarku. Mulutku mangap lebar. Ada yang aneh, siluet itu melayang. Aku tidak melihat kakinya. Mataku makin melotot ketika ada sesuatu yang mengalir dari dalam sesuatu yang seperti jubah hitam itu, deras dan bau amis, seperti darah. Otot-ototku kontan menegang.
Entah bagaimana caranya, sosok berjubah itu berubah menjadi wanita berambut keriting. Jantungku berdegup empat kali lipat lebih kencang dari biasanya. Ia membelakangiku sambil memutar-mutar lehernya yang menimbulkan bunyi gemeletuk. Aku yakin wajahku saat ini tidak kurang pucat dari cat dinding berwarna putih. Gadis itu setengah menengok, aku bisa melihat sebelah matanya yang bolong, hidungnya bengkok nyaris patah. Ia membalikkan tubuh lalu menunjukkan tangan-tangan keriputnya kepadaku, posisinya seperti hendak memcekik leherku.
Brakkk….
Aku melihat jendela kamarku terbuka begitu saja, gorden hijaunya berterbangan. Aku bahkan bias melihat salju yang turun di halaman. Jantungku berdetak keras, otot-ototku terasa menegang. Aku berusaha menyalakan lampu, tapi gagal, saklarnya terlalu jauh untuk diraih tanganku. "AAA! EOMMA! APPA!" aku berteriak sekuat tenaga. Tanganku sudah meremas kain selimut. Sosok hantu tadi semakin mendekat. "EOMMA! HANTU HENDAK MENCEKIKKU!"
Klik!
Aku lalu meihat cahaya terang yang membuat mataku kontan menyipit, silau. Aku melindungi pandangan dengan punggung tangan. "Hyuk-ah! Ada apa denganmu?! Mengapa kau berteriak di tengah malam buta seperti ini!? Kau bisa membangunkan tetangga tau!" Appa membentakku, kulihat tangannya memegang pemukul softball. Eomma muncul di belakangnya, mengenakan piama pink lembut.
Aku mengucek-ngucek mata, memandang ke sekitarku. "Ada hantu, Appa, baru saja. Jelas sekali, hantu gadis yang ingin membunuhku!" kataku sambil menunjuk siluet dekat televise seraya memejamkan mata, ketakutan.
"Uri Hyukie, coba buka matamu, itu hanya mantel hitam milikmu. Bukan drakula atau mumi. Hanya kain biasa yang tidak akan menelanmu. Dan, sesuatu yang tidak mungkin bisa mencekikmu…," ujar Eomma menenangkan dengan menepuk pundakku.
Aku mengintip dengan sebelah mata, kulihat mantel hitam pemberian Baekhyun Shamcon untukku pada malam Natal tahun lalu tengah tergantung rapi di sebelah televisi itu. Kulihat sekelilingku untuk memastikan sekali lagi kalau hantu perempuan tadi memang benar-benar fiktif, dan tidak mungkin bisa berada di dalam kamarku.
Aku membuang napas cepat. Hatiku lega, serasa ada beban yang terlepas begitu saja dari pundakku.
-MARIONETTE-
Aku masuk kelas disambut tatapan sinis teman-temanku. Pandangan sinis itu terus menguntit hingga aku sampai di mejaku. Aku meletakkan tasku seraya memandang Sungjae dibangku seberang, dia tersenyum licik ke arahku. Apa yang telah diperbuatnya?
"Lihat! Sanghyuk si cengeng! Semalam aku meneleponnya hanya untuk memastikan pekerjaan rumah, ia langsung menjerit. Sepertinya ia takut mendengar suara, padahal itu hanya aku!" celetuk Sungjae di tengah ruangan. Anak-anak lain tertawa bersamanya. Aku diam saja memerhatikan kegaduhan kelas. Dasar Sungjae pecundang!
Sorakan "cengeng", "penakut", atau apa saja yang mengandung unsur negatif membuatku menutup kuping. Aku menunduk penuh rasa malu. Ingin sekali meninggalkan tempat itu, tapi tentu saja tidak mungkin. Miss Kim baru saja melangkah masuk kelas. Aku yakin mukaku pasti sudah merah sekali, malu dan marah.
Saat Miss Kim mengumumkan sekolah mulai libur pada tanggal 22 Desember, ada yang melempar gulungan kertas ke mejaku. Aku membukanya dan menemukan kalimat seperti ini :
Popeye yang menyedihkan! Kalau kau tidur nanti malam, jangan coba-coba menengok ke balik punggungmu, karena hantu penghuni rumah sudah siap menemanimu terlelap dengan majalah playboy!
"AAA!" Aku tak bisa membayangkan bagaimana kalau setan berjubah hitam dengan wajah pucat dan dagu kerucut berada dibelakang punggungku ketika tidur. Matanya yang besar pasti mengawasi gerak-gerikku.
Aku berteriak tiba-tiba, ini diluar kesadaranku. Anak-anak sekelas mengamatiku seolah-olah aku benar-benar sudah gila. Aku menghapus keringat di keningku dengan punggung tangan sambil berdiri. Sungjae tertawa keras bersama Ilhoon dibangkunya sambil menunjuk-nunjuk wajahku.
"Sanghyuk-ah? Ada apa denganmu?" tanya Miss Kim sambil memandangku dengan wajah kebingungan. Aku menelan ludah, tak sanggup berbicara. Aku segera berlari meninggalkan kelas dengan tergesa-gesa. Semua anak terkikik di bangku masing-masing. Aku tak berani memandang mata mereka satu per satu karena mereka sudah pasti menganggapku seperti badut.
Aku melamunkan bagaimana wujud hantu seperti saat dikelas tadi. Apakah hantu itu seperti vampir? Mumi? Atau, Voldemort di Harry Potter? Ahhh, tidak. Yang jelas aku tidak menginginkan hal-hal sejenis itu. Sesaat aku menghentikan langkah. Kupandangi gudang sekolah yang terletak di ujung. Gudang itu terkenal angker. Pintu besi yang besar dan berkarat itu tertutup rapat, dan hampir tidak pernah di buka, tapi aku tidak begitu peduli pintu itu terkunci atau tidak. Begitu juga jendelanya, dilapisi debu yang amat tebal. Aku menebak-nebak apa isi tempat itu, pasti ada setan yang menghuni di dalamnya. Oh Tuhan, kenapa aku bisa bersekolah disini?
Siiing...
Sepintas mataku menangkap ada sosok yang mengintip dari kaca ventilasi tempat itu. Aku melihatnya barusan! Tapi, tidak lama sesuatu yang berwarna hitam itu lenyap. Mataku yang bulat ini semakin membulat dengan bibir menganga lebar. Pasti itu setan yang tinggal di dalam sana, aku sangat yakin akan hal itu.
.
.
Aku berjalan di pekarangan rumahku setelah turun dari sebuah bus. Yeah, jarak antara rumah dan sekolahku hanya memerlukan waktu kurang lebih 30 menit. Langkahku melambat melihat Eomma dan Appa sedang sibuk mengeluarkan beberapa koper dari dalam rumah . mereka tampak akan pergi, tapi ke mana? Apakah mereka mengajakku? Mereka tidak mungkin meninggalkanku sendirian`kan?
"Hyukie, kau sudah pulang?" Eomma mencium pipiku. Aku menanyakan perihal tujuan kepergian mereka sambil menatap koper-koper di lantai. Appa terlihat sibuk menelepon rekannya dengan ponsel sambil mencoba memasang arloji dengan bantuan bibirnya. "Kami harus ke Jeju untuk beberapa hari. Sepertinya Appa akan dipindahtugaskan di sana." Eomma mengelus pipiku. Aku galau seketika, berarti aku harus sendirian malam ini dan malam-malam berikutnya sampai mereka pulang?
Apakah aku akan melewati Natal seorang diri?
.
.
Kriiing... kriiiing.
Teleponku berdering tepat pukul 11 malam, aku yakin itu si dower Sungjae. Aku memilih untuk tidur di sofa bermotif bunga di ruang keluarga yang berkarpet krem sambil menonton Naruto, anime Jepang kesukaanku.
Aku berjalan di lantai kayu menuju dapur. Kubuka lemari gantung kayu untuk mencari sesuatu untuk dikunyah. Aku mengeluarkan bungkusan Pepero, M&M, biskuit Oreo, serta beberapa snack lain, lalu kubawa ke ruang keluarga. Kulirik telepon yang masih berbunyi di tempatnya. "Ya Tuhan, Yook Sungjae, kumohon... Jangan ganggu aku!" erangku sambil meletakkan snack tadi di sofa. Aku segera mengangkat telepon itu dengan cepat.
Tut...
"Tolong, aku mati dan kesepian. Mataku buta... tapi aku masih bisa mencium bau darah... amis dan berkarat."
"Yook Sungjae, kau keterlaluan! Apakah kau pikir ini lucu?! TIDAK SAMA SEKALI!"
"Aku berada di dalam kegelapan, temani aku... Aku takut... aku merasakan arwah-arwah tersesat yang lain... Aku mendengar bisiskan-bisikan kematian mereka..."
"YAK! Kau menyebalkan! Hentikan! Aku muak dengan tingkahmu!"
"Hahaha!" suara gelak tawa di seberang. Itu memang suara Sungjae, pikirku geram. "Kau takut ya? Kasihan sekali, tadi aku berpapasan dengan orang tuamu, sepertinya mereka hendak keluar kota. Hahaha... Kau akan sendiri, Jung Sanghyuk..."
"Aku memang sendiri, tapi aku tidak takut dengan segala bualanmu, Yook Sungjae, kau sesungguhnya pengecut yang tidak tau malu! Kau berusaha menakut-nakutiku. Padahal kalau kau berada di posisiku, kau akan menangis ketakutan sambil bersembunyi di bawah kolong tempat tidur Eommamu, seperti Eommamu yang akan histeris bila Appamu membuat skandal dengan artis wanita lainnya!" caciku pedas. Aku tak tau angin keberanian dari mana yang bertiup membuatku bisa berkata seperti ini. Ada satu dorongan dari dalam hatiku untuk melontarkan kata-kata barusan. Percayalah.
"Brengsek! Kalau begitu aku menantangmu malam ini juga, Jung Sanghyuk! Popeye yang sok berani! Aku menunggumu di depan sekolah sekarang juga! Bersiaplah! Kalau tidak, aku akan terus menerormu!" ancam Sungjae dengan nada tinggi.
Glek! Aku menelan ludah. Bibirku gemetaran. "Ke-kenapa aku harus mengikuti permainan konyolmu!? Aku tak mau!"
"Pengecut! Sudahlah, Jung Sanghyuk, kau memang penakut. Jangan berpura-pura berani di depanku! Kau mencari masalah denganku dengan berkata bodoh seperti barusan! Kecuali, kalau kau mau membayarnya dengan menuruti kata-kataku untuk datang ke sekolah malam ini. Dan, aku akan berhenti menerormu. Aku berjanji!"
Aku terdiam sesaat, apa Sungjae akan benar-benar berhenti menggangguku? Atau, dia hanya berniat mengujiku? Aku datang tidak ya? Lagi pula hanya datang, apa salahnya? Setidaknya Sungjae akan berhenti menjailiku, pikirku. "Baiklah! Aku datang. Dan, kau harus berjanji untuk berhenti menggangguku kapan pun dan di mana pun itu!"
"Bagus."
.
.
Udara malam terasa seolah bisa menembus kulitku, aku berjalan seorang diri menuju sekolahku. Jalanan sepi dan bersalju, tidak terlihat satu kendaraan pun di sana. Barisan pohon cemara pendek menghiasi trotoar jalan.
Aku memasukkan tangan ke saku sambil berjalan cepat. Hanya umpatan dan cacian terhadap Sungjae yang mengungkung otakku sekarang. Tidak salah lagi, anak itu memang bedebah!
Setibaku di pekarangan sekolah, kulihat Sungjae sudah berada di tempat yang telah kami sepakati, di depan gudang angker itu. Apa dia kemari seorang diri? Bagaimana bisa dia seberani itu? Dia melipat kedua tangannya di dada begitu melihatku berjalan tidak jauh dari tempatnya.
"Ternyata kau datang juga, Jung Sanghyuk. Aku sempat meragukannya."
"Lihat, aku sudah datang memenuhi permintaanmu. Jadi, jangan ganggu aku lagi."
"Hey, tidak bisa secepat itu, Jung Sanghyuk." Imbuh Sungjae cepat. Aku mengernyit bingung.
"Apa maksudmu?" Aku terpekur melihat Jung Ilhoon dan Seo Eunkwang muncul dari balik dinding di sudut. Mereka tertawa penuh arti dengan senyuman busuk menghias bibir masing-masing dan langsung berdiri di belakang punggung Sungjae. Budak-budak bodoh yang menyebalkan! Yook Sungjae tidak datang sendiri, dia pengecut! Apa maunya sekarang!? Aku mendengus kesal.
"Kita akan bermain petak umpet di sekolah ini." Sehun tersenyum licik.
"Tidak! Sungjae, kau melanggar janji. Kau hanya memintaku untuk datang kemari dan akan berhenti menggangguku! Lagipula, kita sudah dewasa, untuk apa bermain petak umpet!?" Protesku marah. Sungjae sangat curang. Tapi, sejujurnya aku begitu ketakutan kalai kami akan bermain permainan anak-anak itu di sekolah tengah malam seperti ini. Itu hal gila! Sepertinya ada keanehan di otak Sungjae, mungkinkah teman sekelasku itu seorang psikopat?
Ilhoon mengeluarkan handycam mini dari kantung celana pendeknya. "Sungjae menyuruhku untuk merekam segala tingkahmu selagi bermain. Kalau kaui lengah... wajahmu yang ketakutan akan disaksikan oleh anak-anak sekelas bahkan satu sekolah!"
Licik! Mereka sangat licik! "Kalian gila! Kita tidak mungkin bermain di sini?! Bagaimana kalau 'mereka' yang mungkin sedang beristirahat jadi terganggu?" kataku.
"Siapa yang kau maksud 'mereka'?" tanya Jongin dengan alis naik sebelah. Ia dan Sehun terkekeh. Aku menelan ludah. "Tenang saja, kita tidak perlu bermain dengan berisik, jadi 'mereka' itu tidak akan terganggu... pasti seru."
"Yeah, pasti seru. Karena, saat ini kita semua sedang berdiri di depan gudang sekolah yang terkenal angker...," kata Eunkwang tersenyum picik.
"Benarkah?" Senyuman Sungjae melebar, matanya lurus menatapku. "Seangkar apa, Eunkwang-ah?" Jongin tetap memandangku.
Aku mengatupkan bibir rapat. Mereka anak-anak gila. Sepertinya sebelum memutuskan untuk menikah, orang tua mereka kencan di kuburan, pikirku. Ya Tuhan, bagaimana kalau kami benar-benar bermain petak umpet di tempat ini? 'Mereka' pasti terganggu dan akan membunuh kami satu per satu.
"Ada hantu korban bunuh diri di gudang itu." Eunkwang melanjutkan.
"Be-benarkah? A-aku tidak ingin ikut kalau begitu..." Suara Ilhoon terdengar bergetar, matanya memandang gelisah kepada Sungjae dan Eunkwang.
"Bodoh! Kau sama saja dengan Sanghyuk! Kau sebaiknya pulang! Biar besok akan kusebarkan kepada teman-teman kalau ternyata kau pun seorang pengecut," cela Sungjae sambil menonyor kepala Iilhoon yang diam saja dengan bibir melengkung. Mau tak mau ia mengikuti perintah Sungjae. Aku pun terpaksa mati untuk melakukan hal gila ini.
Fiuhhhh!
Untung saja bukan aku yang berjaga, tapi Eunkwang. Aku melihat-lihat tempat persembunyian yang aman, tentunya harus memiliki penerangan yang cukup daripada tidak sama sekali. Aku terpaksa bersembunyi di balik bak sampah besar dekat pintu gerbang. Kulihat Eunkwang celingukan mencari-cariku, Ilhoon, dan Sungjae.
Tidak lama Eunkwang berhasil menemukan Ilhoon, lalu selanjutnya Sungjae. Mereka berseru memanggil-manggil namaku setelah berbisik-bisik sambil terkikik. Namun, akhirnya aku menyerahkan diri, aku malas berlama-lama di tempat gelap ini. Aku benar-benar ingin pulang.
"Aku harus pulang, Sungjae. Aku letih," kataku sambil memperlihatkan wajah lesu, berharap mereka akan mengerti. Sungjae tampat menganggukkan kepalanya sambil memegang dagunya bak orang bijak. Ia melirik Eunkwang dan ilhoon, lalu mereka serempak berlari ke arahku.
Aku kebingungan, Eunkwang memegang lengan kiriku, dan Sungjae memegang lengan kananku. Mereka bertiga menyeretku dengan paksa. Mataku melotot, kulihat mereka membawaku ke depan pintu gudang angker itu.
Aku berusaha memberontak, kakiku mengejang, Ilhoon terus mendorong punggungku. Ia lalu membuka pintu gudang yang ternyata tidak terkunci itu. Aku berteriak sekuat tenaga. "Lepaskan aku! Biarkan aku pergi! Jangan!" jeritku ketakutan. Aku bisa melihat gelapnya ruangan di dalam gudang itu. Eunkwang, Sungjae, dan Ilhoon mendorong keras badanku hingga aku jatuh terjerembap ke lantai dingin itu. Mereka pun melemparkan handycam ke punggungku.
Braaak!
Aku menengok, pintu itu tertutup.
TIDAK.
Aku berusaha bangkit di tengah gelapnya gudang itu. Aku meraba-raba dinding di sana sambil meronta minta bantuan. Namun, yang kudengar hanya gelak tawa Sungjae dan yang lainnya. Dadaku bergemuruh. "Keluarkan aku! Tolong!" Air mata mengguyur deras pipiku.
Aku memukul-mukul pintu besar itu sambil menjerit kuat selama beberapa saat, lalu merosot tak berdaya. Kuperhatikan sekelilingku sambil terisak, tak ada penerangan lain selain cahaya nightmode dari handycam milik Ilhoon yang menyinari wajahku.
Aku membayangkan orang tuaku, aku butuh mereka. Aku takut sekali. Jantungku berdegup kencang, dan aliran darahku terasa membeku. Aku sesenggukan di sana. "Tolong... keluarkan aku dari tempat ini...," isakku pelan sambil melipat kedua kaki, kubenamkan wajahku di antaranya.
Aku terus menangis sambil berharap ada yang akan menolongku. Aku sangat menderita. Mataku perih karena terlalu banyak mengeluarkan air mata, membuat pandanganku rabun. Suasana hening, aku tidak mendengar lagi suara Sungjae, Eunkwang dan Ilhoon di luar sana.
Aku bisa merasakan atmosfer yang berbeda di ruangan ini. Debu pun menghambat pernapasanku. Hihihi... Aku mendengar suara tertawa lirih di tempah ini. Aku melihat bayangan demi bayangan muncul di depanku setelah mata-mata berwarna merah itu mengintip. "Tidak! Jangan sakiti aku! Kumohon jangan!"
Kletekkk-kletekkk...
Aku menoleh, lalu menjauhi pintu dengan cepat. Kulihat gagangnya bergerak naik-turun. Tidak lama gerakannya terhenti, berganti bunyi berderit, pintu itu terbuka sedikit.
Cahaya di luar menyilaukan penglihatanku. Aku mundur di lantai dengan cepat begitu meliht sosok menyeramkan di ambang pintu. Cahaya terang itu membuatku tak bisa melihat bagaimana wujud sesuatu itu. Tapi, aku bisa melihat rambut panjang berkibar di sana. Sepertinya perempuan, tidak, jangan katakan kalau wanita itu ppenunggu gudang ini. Ia melangkah perlahan ke arahku.
"Jangan! Jangan bunuh aku! Huuu!" Aku menangis keras. Perempuan itu kini berjongkok di hadapanku. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Aku takut. Hantu ini pasti akan menghabisiku, pikirku pasrah. Kakiku benar-benar lemas.
"Mereka yang tak terlihat'tidak akan bisa memasuki dunia manusia tanpa rasa takut dari manusia itu sendiri, Jung Sanghyuk. Mereka mencium aura ketakutan seseorang yang menjadi kunci di mana mereka akan berusaha menerobos gerbang dunia nyata," desis suara di depanku. Aku mengintip, itu bukan sosok hantu, melainkan gadis berkulit putih dengan mata hijau yang menginatkanku akan warna batu kripton di film Superman.
Aku memberanikan diri untuk membuka suara. "Kau siapa?" tanyaku terbata.
"Sekarang berbaringlah. Aku akan membuat teman-temanmu menyesal telah mempermainkanmu," ucapnya sambil memegang pelan leherku. Aku tak tau mengapa bisa menuruti kata-katanya, aku mengikuti gerakan tangannya yang menuntun tubuhku untuk telentang di lantai. Ia pun memintaku untuk berteriak sekencang-kencangnya sambil memberontak. "Dan, pejamkan matamu," pintanya pelan.
Aku segera memejamkan mata. Tak lama bunyi klik terdengar. Gadis tadi menyuruhku untuk membuka mata perlahan. Aku tak tau apa maksudnya, tapi aku belum berani menanyakannya.
Tak lama kemudian aku sudah berjalan bersama gadis yang akhirnya kutau bernama Marionette itu. Kami sampai tepat di depan rumah Sungjae, lalu bersembunyi di balik rerantingan lebat sebuah pohon kastanye. Marionette menyuruhku mengendap-endap dan melemparkan kaset video pada handycam milik Ilhoon tadi ke jendela kamar Sungjae. Aku seolah terhipnotis untuk melakukannya, dan BERHASIL!
Kaca jendela kamar Sungjae pecah, lalu aku segera berlari kembali ke tempat Marionette.
"Mengapa kau membantuku?" tanyaku sambil berjalan beriringan dengannya.
"Karena, aku merasakan ketakutanmu," jawab Marionette datar sambil memandang jalanan lurus di depannya.
Aku sedikit terkejut, belum sempat bereaksi ia sudah mengajakku berjalan ke sebuah telepon umum tidak jauh dari tempat sebelumnya. Kami terdiam selama kurang lebih setengah jam dalam kebisuan, namun tiba-tiba ia mulai berbicara. "Kini giliranmu," ujarnya lalu menyerahkan gagang sebuah telepon kepadaku. Mulanya aku tak paham, namun langsung mengerti maksud Marionette.
Aku menekan nomor telepon Sungjae, selang beberapa menit aku bisa mendengar suaranya.
"Ha-halo?" jawabnya gemetaran. Usahaku dan Marionette tak sia-sia, ditambah dengan keputusan Appa untuk pindah tugas ke Jeju. Aku akan memanfaatkan situasi ini. Sungjae pasti sudah meutar video itu dan berpikir aku telah mati.
"Gelap... dingin... hantu gadis itu membunuhku. Aku tak bisa melihat apa pun, keluarkan jasadku dan izinkan arwahku untuk menghantui kamarmu... Aku kesepian."
"TIDAAAAK!" jerit Sungjae histeris. Aku pun segeran mematikan sambungan telepon itu dengan rasa puas yang membingkai senyumku.
-THE END-
Oke, disini uri maknae emang OOC. Seorang evil hyuk, nangis gara2 cerita hantu? Bahkan pipis dicelana? Nonono~~ hahahaha
ff ini pernah di publish di tempat lain dengan d.o dan kai sebagai main cast nya.
bales reviewnya Sky Onix : aku paling suka cerita yang bride doll itu, bikin senyum2 gimanaaa gitu.. hehehe tapi maaf ya, aku nggak nyimpen cerita yang lainnya dari novel yang bersangkutan, karena disini aku cuma meremake saja, aku ambil beberapa, dan masih ada satu chapter lagi yang akan aku publish, nah itu yang terakhir. aku udah nentuin siapa cast utamanya, tinggal diedit aja. mianhe~ ^^
maaf jika masih banyak typo yang terlewatkan.
Thank you for reading~~ ^^
