Huft hah, hah-hah… huft… Chapter 4 update lagi… hah-hah huh. Perjuangan Youichi sudah sampai chapter 4. Gomen updatenya telat dari rencana awal. Terlalu sibuk di rumah. Huh hah… Jadi Youichi gak banyak bicara lagi.

Fic ini mengandung unsur berbahaya, OOC, Gaje, Typo, Aneh, Nista, Plot yang terlalu maksa, serta keanehan lainnya yang bisa membuat anda tewas seketika.

Dimana sih si Kishimoto beli Naruto? Youichi cari di tukang sayur kok gak ada ya?

Don't Like, Don't Read!

Youichi Hyourinmaru Presents

"Otou-san"

Enjoy Read

Chapter 4

"Otou-san! Otou-san!"

"Cepat bawa mereka keluar."

"Otou-san! Otou-san! Jangan pisahkan kami dengan Otou-san! Otou-san!"

Anak-anak itu masih saja berontak. Mereka kini masing-masing dipegangi oleh laki-laki berbaju hitam. Anak-anak yang sebenarnya minim emosi ini kini mengeluarkan apa yang selama ini mereka pendam dalam. Mata mereka kini telah basah. Air mata mengalir deras. Sakit di dada semakin membuncah saat melihat sosok laki-laki yang amat mereka sayangi tak bergerak bersimbah darah. Takut. Mereka takut akan kehilangan sosok laki-laki baik hati yang merawat mereka dengan tulus dan penuh kasih sayang.

"Otou-san! Kami ingin bersama Otou-san!"

"Kami ingin menemani Otou-san!"

"Lepaskan kami!"

Laki-laki berbaju hitam itu lalu mengangkat tubuh anak-anak dan membawanya keluar. Gaara melihat sepintas laki-laki berambut pirang layaknya Otou-san mereka, yang kini berlutut dan membalikkan tubuh Naruto. Raut wajah laki-laki itu terlihat sedih. Sedangkan disampingnya, terlihat laki-laki berambut perak yang sedang sibuk menelepon. Gaara tak dapat melihat lagi karena pandangannya kini tiba-tiba menjadi kabur. Rasa kantuk yang menyerangnya membuat pandangannya gelap.

(#(#)#)

"Ayolah anak-anak, kalian harus makan."

Hening.

"Konan-neechan sudah membuatkan makanan ini untuk kalian."

Hening.

Tak ada yang bersuara. Keenam anak itu hanya diam menunduk tak menyentuh makan malam mereka. Konan dan sang Leader, Pain hanya bisa menatap sendu mereka. Sudah dua hari mereka seperti ini. Tak mau menyentuh makanan mereka. Walaupun disentuh, itupun hanya sedikit. Mata mereka tak lagi bercahaya seperti terakhir kali Konan dan Pain bertemu anak-anak. Sebelumnya mata mereka menampakkan kebahagiaan dan kesenangan anak-anak khas bocah sepuluh tahun.

Tapi sekarang, mata mereka hanya menatap hampa. Mereka jarang bicara. Mengurung diri di kamar. Kadang berkumpul di ruang keluarga namun saling berdiam diri. Rumah berlantai tiga yang terletak di pusat kota Sunagakure itu seakan menjadi mati. Suram. Aura yang terpancarkan terasa sangat menyakitkan. Ternyata keputusan Konan dan Pain untuk tinggal di Suna dan menjaga anak-anak tak berjalan lancar.

"Aku… rindu Otou-san," kata Gaara singkat. Nada bicaranya terdengar sedih.

"Aku juga," sahut Neji.

"Aku ingin bertemu Otou-san," ujar Kiba.

Anak-anak yang lain semakin menunduk setelah mendengar kalimat ketiga saudaranya. Ruangan seakan menjadi sesuram pemakaman.

"Pain-san, dimana Otou-san?" Sasuke mengangkat kepalanya dan memandang sang Leader. Pain menatap balik Sasuke.

"Otou-san sedang ada pekerjaan di Iwagakure."

"Jangan bohong," Pain menatap Shino heran.

"Otou-san sudah menelepon akan pulang dua hari yang lalu," jelas Shikamaru.

"Mungkin ada sesuatu yang harus dikerjakannya hingga terlambat pulang," Konan mencoba memberi penjelasan pada anak-anak.

"Otou-san tak pernah berbohong. Otou-san selalu menepati janjinya. Karena laki-laki sejati harus selalu menepati janjinya," kata Gaara meniru cara bicara Otou-san mereka.

"Tidak. Ada pekerjaan lain di Kumogakure. Jadi Otou-san kalian tidak bisa pulang," kini Pain memberi penjelasan yang lebih masuk akal dari penjelasan Konan.

"Lalu siapa yang kami lihat waktu itu?" tanya Neji. Pain dan Konan terdiam menatap Neji dengan ekspresi penuh tanda tanya.

"Kami… Melihat Otou-san terluka…," kata Kiba.

"Lalu ada darah dimana-mana," sahut Sasuke.

Pain dan Konan mendengar cerita anak-anak dengan mata terbelalak. Terang saja. Dua hari yang lalu setelah menerima telepon dari Naruto, Pain dan Konan langsung menuju Sunagakure. Mereka tiba tengah malam dan telah mendapati anak-anak tertidur pulas di kamar masing-masing. Tak ada yang aneh kecuali ketidak adaan Naruto di rumah itu. Keesokan harinya, anak-anak tak ada yang berbicara pada mereka. Mereka seperti menyembunyikan sesuatu. Dan kini mereka tahu apa yang anak-anak sembunyikan.

(#(#)#)

"Bagaimana keadaannya, Kakashi?"

"Naruto sudah melewati masa-masa kritisnya."

"Pekerjaanku disini terlalu banyak. Sampai-sampai aku tak bisa menjenguk anakku sendiri."

"Lebih baik Tuan beristirahat terlebih dahulu. Aku akan kabarkan pada asisiten Tuan."

"Ide yang bagus. Aku sudah terlalu tua untuk mengerjakan semua ini. Ke rumah sakit dulu, setelah itu baru pulang dan istirahat."

Akhirnya Namikaze Minato dan orang kepercayaan sekaligus pengawal pribadinya, Hatake Kakashi, keluar dari gedung perusahaan milik keluarga Namikaze itu. Mereka kini telah melaju dengan mobil yang dikemudikan Kakashi menuju rumah sakit tempat Naruto dirawat. Tak butuh waktu lama, kini mereka sudah ada di dalam sebuah ruangan mewah di rumah sakit yang juga dimiliki oleh keluarga Namikaze itu. Sang Namikaze memandang kondisi anaknya yang tak kunjung memperlihatkan mata birunya.

"Kau selalu saja ceroboh, Naruto."

Sepi. Minato hanya mengamati anaknya dalam kebisuan. Kakashi pun tak mau mengganggu kesenangan tuannya.

"A-nakku, pak tua…"

Namikaze Minato menatap mata biru yang terbuka perlahan. Seulas senyum terlihat di bibirnya. Minato mendekati putranya dan mengelus rambut pirang Naruto pelan.

"Pak tu-tua…"

Minato menatap mata anaknya yang membulat terkejut. Setitik air mata mengalir dari mata sang Namikaze senior. Namun bibirnya masih melengkung.

"Kau selalu membuatku khawatir, Naruto."

"Tinggalah disini. Tinggalah bersamaku di Konoha." Naruto menggeleng lemah. Dia tak bisa.

"Aku memohon sebagai ayahmu. Kesalahanku sudah banyak. Aku tak bisa berpisah lagi darimu. Selama tujuh tahun ini aku selalu mencarimu. Dan sekarang aku bisa bertemu denganmu lagi. Jangan katakan kau akan pergi lagi," air mata Minato semakin deras mengalir. Matanya menatap sendu Naruto.

"A-aku tak bi-bisa, pak tua…," kata Naruto lirih.

Minato tersentak. Sang Namikaze menatap tajam Naruto. Air mata telah hilang dari mata birunya. Pandangan mata penuh kasih sayang dan rasa bersalah telah menghilang tergantikan oleh pandangan mata penuh rasa kecewa dan kemarahan.

"Kau tak bisa menghindar selamanya dariku, Naruto."

(#(#)#)

"Bagaimana, Leader?"

"Apa sudah ada kabar dari Naruto?"

"Tidak ada. Klien dari Iwagakure sudah kuhubungi. Naruto langsung pergi setelah menyelesaikan misi disana."

"Lalu apa ada petunjuk lain?"

"Ada. Naruto sepertinya berada di Konohagakure."

"Bukankah selama ini Naruto selalu menghindari Konoha?"

"Sekarang tidak bisa. Saat perjalanan pulang dari Iwagakure, ada yang menyerang rumahnya di Sunagakure. Keenam anak angkatnya diculik. Naruto langsung mencurigai seseorang dan secepatnya menuju Konoha."

"Siapa yang dicurigai Naruto, Leader?"

"Namikaze Minato."

"Namikaze? Untuk apa Naruto mencurigai pengusaha bersih seperti dia?"

Pain yang mendengar pertanyaan anggota pertemuan hari itu , menghela napas panjang.

"Karena Namikaze sangat menginginkan Naruto. Dan saat itu pula, mereka menyerang kediaman Namikaze. Naruto yang kebetulan berada disana saat penyerangan, membantu Namikaze."

"Jadi Namikaze memiliki maksud lain saat menculik anak angkat Naruto?"

"Ya. Dia seperti memanfaatkan keberadaan Naruto."

"Lalu dimana anak angkat Naruto?"

"Sudah di Sunagakure. Sebelum ke Konoha, Naruto sempat menghubungiku. Aku dan Konan langsung menuju ke Suna dan sampai disana sekitar tengah malam. Kami mendapati keenam anak angkat Naruto sudah tertidur di kamar mereka masing-masing. Tapi kami tak menemukan Naruto."

"Jadi kemungkinan besar Naruto ada di Konoha?"

"Ya."

"Lalu bagaimana kira-kira kondisi Naruto saat ini?"

"Menurut penuturan anak-anak angkat Naruto, mereka melihat Naruto terluka. Mereka juga mengatakan bahwa ada laki-laki berambut perak di sebelah Naruto."

"Kakashi?"

"Bukan."

"Jadi, Kabuto?"

"Ya."

"Pergerakan mereka semakin terncana saja. Lalu bagaimana cara kita mengetahui posisi keberadaan Naruto?"

"Kita bisa menghubungi rumah sakit yang ada di Konoha. Dan kemungkinan besar Naruto ada di rumah sakit milik keluarga Namikaze."

.

.

.

"Kita harus mencari Otou-san secepatnya."

"Tapi bagaimana caranya?"

"Kita tak tahu dimana Otou-san saat ini."

"Pain-san dan Konan-neechan juga tak memperbolehkan kita pergi keluar."

"Masalah ini semakin rumit saja…"

"Terlalu rumit untuk anak sepuluh tahu seperti kita."

Keenam anak itu berkumpul di ruang keluarga dan terlibat pembicaraan serius. Mereka memikirkan keadaan Otou-san mereka, Naruto. Keenam anak itu juga telah merasa lebih baik sekarang. Emosi mereka juga telah stabil. Tapi mereka tetap saja tak bisa melupakan apa yang mereka lihat malam itu. Sosok Otou-san yang mereka kenal murah senyum dan sangat baik, diam tak bergerak dengan darah yang keluar dari goresan yang ada di tubuhnya. Keseriusan mereka tiba-tiba terusik oleh dering telepon.

Kiba bangun dari duduknya dan berjalan ke arah meja kecil tempat telepon berada. Tangannya mengangkat gagang telepon perlahan.

"Anak-anak, aku berhasil melacak keberadaan Otou-san kalian."

(#(#)#)

"Apa persiapannya sudah selesai, Kakashi?"

"Sudah. Semua yang diperlukan sudah disiapkan dengan baik, Tuan Namikaze."

"Bagus. Dengan ini semua masalah sudah selesai."

"Pak tua itu, seenaknya memperlakukanku seperti ini… Sial! Andai saja aku sedang tak sakit! Sudah kulempar ke neraka pak tua itu."

Naruto memandang kesal dua laki-laki di hadapannya. Mereka tengah berdiskusi. Entah membicarakan apa. Naruto tak dapat mendengarnya karena jarak tempat tidur dengan kedua orang itu cukup jauh. Selain itu mereka seperti membicarakan sesuatu yang sangat penting dan rahasia.

"Naruto, kau sudah merasa lebih baik?" Minato kini berdiri di dekat tempat tidur Naruto.

"Ba-danku rasanya re-muk semua. Dan keberadaanmu membuat ke-palaku sa-sakit," kata Naruto pelan. Dalam keadaan seperti ini dia masih saja bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu.

"Beberapa tulangmu retak dan patah. Wajar jika kau merasa sakit seperti ini," Kakashi menjelaskannya pada Naruto.

"Di-mana mereka?" tanya Naruto.

"Mereka? Mereka siapa?" tanya Minato kembali.

"A-anakku, pak tua…," jawab Naruto. Naruto merasa kesal karena pak tua Namikaze pura-pura tidak mengetahui maksud Naruto.

"Jangan pikirkan mereka. Pikirkan dirimu sendiri dulu," ujar Minato.

"Ka-kau membuatku ke-sal, pak tua... Katakan di-mana mereka?" tanya Naruto lagi.

"Aku tak bisa mengatakannya padamu, Naruto… Tidak sekarang,"

(#)#)#)

"Apa kita bisa bertemu dengan Otou-san lagi?"

"Ya. Aku sudah menghubungi rumah sakit milik keluarga Namikaze. Dan mereka mengatakan tak memiliki pasien bernama Naruto. Namun salah satu temanku sangat yakin Naruto ada di rumah sakit itu."

Pain melirik sepintas Sasuke yang kebetulan duduk di sebelahnya dan terseyum kecil.

"Temanku itu tinggal di dekat rumah sakit milik keluarga Namikaze, dan dia kebetulan melihat seorang laki-laki berambut pirang masuk rumah sakit sekitar hampir tengah malam saat itu. Temanku itu semula tak menghiraukannya, Karena dia tak tahu kalau laki-laki itu adalah Naruto, Otou-san kalian. Tapi setelah kuberitahukan dia bahwa Otou-san kalian kemungkinan besar berada di Konohagakure, saat itulah dia menyadari kalau laki-laki yang dia lihat malam itu adalah Naruto."

"Jadi, pengusaha Namikaze itu sengaja menyembunyikan keberadaan Otou-san?"

"Mungkin iya. Aku juga tak terlalu yakin."

"Lalu apa hubungan Otou-san dengan pengusaha dari keluarga Namikaze itu?"

"Tidak. Aku hanya ingin meminta tolong padamu. Aku belum tahu apa yang diinginkan orang tua itu. Tapi kurasa itu bukan hal yang baik. Jadi, tolong jaga anak-anak. Dan jangan beritahu apapun pada mereka tentang diriku. Mungkin aku tak bisa kembali lagi. Sampaikan juga permintaan maafku pada anak-anak. Arigatou Gozaimasu, Leader."

Pain terdiam. Sang Leader masih ingat betul kalimat terakhir Naruto saat berbicara dengan dirinya di telepon. Namun yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara merahasiakan semua ini dari anak-anak.

"Aku juga tak tahu. Mungkin saja masalah pribadi. Otou-san kalian tak pernah menceritakannya padaku." kata Pain akhirnya. Dia telah berbohong… Lagi.

"Lalu apakah Pain-san tahu dimana ruangan tempat Otou-san dirawat?" tanya Sasuke.

"Ya. Temanku itu telah memberitahukannya padaku," jawab Pain.

"Jadi kita hanya tinggal mencari letak ruangannya?" tanya Kiba.

"Ya. Temanku itu sudah memastikan ruangannya,"

Setelah perjalanan yang cukup lama, Pain dan keenam anak angkat Naruto tiba di Konohagakure. Mereka langsung menuju rumah sakit milik keluarga Namikaze. Keenam anak itu tampak tegang. Kemungkinan besar Otou-san mereka berada disini. Berarti Otou-san mereka baik-baik saja. Semoga dugaan mereka benar.

"Aku dan yang lainnya bisa bertemu dengan Otou-san lagi," batin Gaara dalam hati.

"Semoga Otou-san baik-baik saja," batin Neji.

Mereka kini telah berdiri di depan sebuah ruangan. Jantung mereka berdetak kencang. Keringat mengalir dari dahi mereka. Semoga. Semoga saja orang yang mereka cari ada di dalam dan dalam keadaan baik. Tangan Pain sudah ada di gagang pintu dan bersiap membukanya.

.

.

.

"Pak tua itu semakin membuatku kesal saja. Kira-kira bagaimana kabar anak-anak? Aku mengkhawatirkan mereka. Semoga saja pak tua itu tak menyakiti mereka. Kalau sampai terjadi sesuatu pada anak-anakku, akan kumutilasi dia, lalu kubuang potongan tubuhnya ke lima benua berbeda."

Pergolakan batin Naruto terhenti. Matanya menatap tajam gagang pintu yang berputar. Waktu seolah berjalan lebih lambat saat mata birunya tak lepas menatap pintu yang sudah hampir terbuka. Seiring waktu, pintu terbuka sepenuhnya dan…

.

.

.

"Sudah kuduga kalian akan kemari."

Pain dan keenam anak angkat Naruto menatap terkejut sosok di hadapan mereka. Sosok berambut pirang dan bermata biru. Namun sosok itu bukanlah Otou-san yang mereka cari.

"Namikaze…," kata Pain tidak senang.

"Ah… Kau pasti pemimpin Akatsuki. Aku minta maaf karena tak menyewa jasa agenmu. Tapi aku sangat beruntung karena agen terbaikmu menawarkan jasanya secara cuma-cuma padaku. Aku harap kau tak kecewa karena hal itu," kata sang Namikaze sambil tersenyum.

"Sekarang aku tahu darimana Naruto mendapatkan kemampuan berbahasanya," kata Pain sinis.

"Ada keperluan apa kau datang kemari, Leader?" tanya sang Namikaze.

"Tentu saja untuk membawa Naruto kembali," kata Pain. Nada bicaranya kembali tenang.

"Kalau boleh tahu untuk apa kau mencari Naruto?" tanya Namikaze.

"Kami membutuhkannya. Jadi biarkan kami menemui Otou-san dan membawanya pulang ke Sunagakure," kata Gaara tenang.

Sang pengusaha Namikaze bengkit dari duduknya dan berjalan mendekati anak-anak.

"Kalian pasti anak-anak Naruto… Tak kusangka Naruto bisa merawat kalian dengan baik. Apa Naruto bersikap baik pada kalian?"

"Cukup basa-basinya, Namikaze. Katakan dimana Naruto dan kami akan pulang," kata Pain tegas.

"Tak semudah itu. Aku tak akan membiarkan Naruto pergi lagi," kata Namikaze itu tak kalah tegas.

.

.

.

"Ka-kashi…"

"Merasa lebih baik, Naruto?"

"Lebih ba-baik sejak pak tua i-itu pergi…"

"Kau memang keras kepala Naruto. Bagaimana caraku agar bisa mengubahmu manjadi Naruto yang dulu lagi?"

"Kem-kembalikan Okaa-san…"

"Itu mustahil Naruto."

"Dan pak tua i-itu yang membuatku berubah."

"Kau suka ruangan ini?" Kakashi mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Ti-tidak. Mengingatkan-ku akan ma-masa kecil yang buruk."

"Dengar Naruto. Aku dan ayahmu hanya ingin kau tinggal disini. Ini rumahmu, kamarmu, ruanganmu. Tempat dimana seharusnya kau berada. Kami tak bermaksud mengekangmu dalam sangkar emas," kata Kakashi.

"Ta-tapi aku merasa se-perti itu…"

"Aku berjanji tak akan membiarkan semua terulang lagi seperti dulu. Aku tak akan membiarkanmu merasakan apa yang pernah kau rasakan dulu. Aku janji."

"Me-mengapa? Mengapa kau bersikap seperti ini pa-padaku? Akankah se-semua yang kau ka-takan tadi ha-nya berakhir de-dengan kehampaan belaka?"

"Tidak Naruto. Semua itu tidak akan terjadi. Kita sudah seperti paman dan keponakan. Kita saudara. Aku menyayangimu. Ayahmu menyayangimu. Ibumu menyayangimu. Dan kami semua disini menyayangimu."

Suasana ruangan itu sepi. Naruto memandang sosok paman di hadapannya. Sosok yang selalu menghiburnya saat ayah memarahinya dulu. Sosok yang menjadi panutannya setelah ayah. Sosok yang sangat dikaguminya. Cara bicaranya halus. Tak tampak sedikitpun kalau Kakashi membual. Dan yang paling terpenting adalah mata. Mata tak pernah berbohong. Dan Naruto dapat melihat kejujuran dan kesungguhan di sana.

"Kau tahu Naruto? Kabuto yang sudah dirawat di rumah sakit khusus, menghilang. Padahal jika telah selesai dirawat, dia akan dimasukkan ke dalam penjara. Dan sekarang mereka mungkin sudah tahu tentang hubunganmu dengan keluarga Namikaze. Jika semua itu benar terjadi, maka anak-anakmu tak akan aman bila bersamamu."

"Ja-jadi kau bermaksud un-"

"Ya. Kau tinggal disini dan tinggalkan pekerjaanmu di Akatsuki. Lupakan tentang mereka yang terlibat dalam pekerjaanmu dulu. Lupakan akan masa lalumu. Mulailah dengan yang baru. Kau masih punya kesempatan, Naruto. Dan yang paling terpenting adalah, tinggalkan anak-anakmu itu..."

"Ting-tinggalkan… Anak-anak?"

To Be Continued

Chapter 4 finish

Huft- hah, hah… Chapter 4 selesai juga. Gomen ne… Kalau ada yang salah. Chapter kali ini gak terlalu seru. Youichi sadar itu. Ide gak ada yang bagus. Jadilah kaya' gini. Tapi Youichi harap senpai sama readers masih ada yang mau baca. Chapter 5 akan Youichi usahakan update secepatnya *walaupun belum ngetik apa-apa…*

Untuk chapter 5, kita akan segera tahu keputusan apa yang akan diambil Otou-san kita. Lalu apa langkah selanjutanya yang sudah direncanakan oleh pak tua Namikaze kita. Mungkin nasib keenambersaudara yang gak ada pantesnya disebut saudara, gak muncul terlalu banyak. Itu baru mungkin. Jadi tunggu saja! Arigatou buat yang mau review fic nista ini. Arigatou Gozaimasu!

REVIEW!