Noona, I Love Him
Author : Opshippers
Pairing : Yunjae (Jung Yunho x Kim Jaejoong)
Other Pairing : TOPGD (Choi Seunghyun x Kwon Jiyoung), and other.
Other Cast : Go Ara (yang bener Ara atau Ahra, sih? Author males searching)
Disclaimer : Mereka milik Tuhan YME, orang tua mereka, diri mereka, dan Ent mereka masing-masing. Yang pasti Yunho milik Jaejoong, Jaejoong milik Yunho. Seunghyun milik Jiyoung dan Jiyoung milik Seunghyun, KEDUA PASANGAN SALING MEMLIKI #teriakmaketoamasjid
Rate : T
Genre : Romance, Hurt/comfort, and suka-suka reader sekalian aja deh.
Warning : YAOI. DLDR. RnR. Typo (s), ngga sempet ngedit.
Author's Note : Jangan bash cast yang ada disini. Kritik dan saran sangat dibutuhkan dengan bahasa yang lembut selembut kapas. Pujian apalagi #tampared. BUDAYAKAN REVIEW! HARGAI AUTHOR YANG UDAH BELA-BELAIN BIKIN FF BUAT KALIAN! #capslockjebol. Wookie deh, Kecenglot.
Previous Story
"Lehermu kenapa merah, hyung?"
Jaejoong mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Junsu yang menurutnya tidak bermutu,"Kau membuang waktuku, Su. Leher hyung mungkin digigit nyamuk tadi."
"Ani, hyung. Itu bukan digigit nyamuk. Merah di lehermu ini seperti dibuat oleh seseorang. Kau mengerti, kan, Hyung?" bisik Junsu pelan berharap Jaejoong tidak melampiaskan emosinya kepadanya.
'Jadi alasan anak-anak melihatku sat di koridor tadi adalah...tanda ini?' batin Jaejoong masih memproses semua data yang masuk kedalam otaknya. Setelah semuanya terproses dengan sempurna, Jaejoong mengepalkan tangannya erat menahan emosi dan dengan nafas yang memburu. Jaejoong terlihat seperti gunung berapi yang sia meledak sekarang.
"JUNG YUNHOOOO..! KUBUNUH KAU...!" teriak Jaejoong kalap menandakan bahwa dia sudah meledak.
Sedangkan orang yang menjadi penyebab emosi seorang Kim Jaejoong sudah berlari sambil tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Jaejoong yang ditujukan padanya."Kau memang menarik, Jaejoongie.." ucapnya lirih diiringi dengan senyumannya yang mematikan.
Start Story
Author PoV
Jaejoong berjalan dengan menghentakkan kakinya keras-keras ke aspal. Wajahnya merengut kesal. Matanya menatap tajam kedepan seolah hendak memakan siapapun yang ada di depannya. Setidaknya begitu menurut pemikiran Jaejoong. Padahal tatapan matanya itu malah membuat orang yang di depannya ingin 'memakan'nya bulat-bulat. Junsu yang sudah mengenal Jaejoong dari kecil tahu bahwa saat ini Jaejoong sedang tidak dalam mood yang baik sehingga dia hanya bisa diam melihat tingkah hyungnya yang seperti yeoja sedang PMS. #Junsu + author dibantai Jaejoong.
Jaejoong melewati gerbang rumahnya tanpa menyapa satpam yang membukakan pintu gerbang. Hal itu membuat kernyitan muncul di dahi sang satpam. Apalagi melihat wajah Jaejoong yang merengut kesal tidak seperti biasanya yang menyapanya dengan ceria. Satpam itu mengalihkan matanya kearah putra bungsu majikannya yang tidak kalah manisnya dengan Jaejoong.
"Annyeong, Ahjusshi. Maafkan Jaejoong hyung, ne? Dia hanya sedang kesal." sapa Junsu seolah tahu apa yang ada dipikiran satpam rumahnya itu. Sang satpam hanya tersenyum dan sedikit membungkuk kearah Junsu.
Junsu berlari kecil berusaha menjejeri langkah Jaejoong. Sampai di depan pintu, Jaejoong kembali berulah. Jaejoong membuka dan menutup pintu dengan keras tanpa memikirkan kenyataan bahwa bisa saja pintu itu rusak karena dia membantingnya begitu keras. Junsu hanya mengelus dadanya mencoba bersabar melihat hyungnya yang bertindak Out Of Character.
Ahra yang kebetulan sedang libur kuliah terburu-buru menuruni tangga mendengar bantingan pintu yang terdengar sangat keras hingga kekamarnya.
"Apa yang kalian lakukan?!" bentaknya kesal. Ahra sedang mewarnai kukunya ketika suara bantingan pintu Jaejoong terdengar.
"Mian." Jawab Jaejoong singkat lalu berlalu melewati Ahra yang shock mendengar jawaban Jaejoong yang tidak seperti biasanya. Dia melihat kearah Junsu dengan pandangan bertanya.
Junsu menghela nafas pelan sebelum menjawab pertanyaan dari Ahra, "Tadi dia ada masalah dengan teman kampusnya, Noona. Itu membuat Jaejoong hyung kesal seperti sekarang." Jawab Junsu lalu melangkah melewati Ahra menuju kamarnya.
Ahra hanya sweatdrop melihat para dongsaengnya melewatinya tanpa berpamitan, "Dasar dongsaeng-dongsaeng kurang ajar." Gumamnya kesal sebelum melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di ujung lantai dua.
Author PoV End
Kim Jaejoong PoV
Arrrgghhhhh..
Aku membaringkan –membanting- tubuhku dengan keras keatas ranjang. Aku benar-benar kesal sekarang. Aku benar-benar berharap bisa meremukkan wajah mesum beruang yang bernama Jung Yunho itu. Berani-beraninya dia membuatku malu di depan mahasiswa lain.
"Kubunuh kau, Jung Yunho!" gumamku geram.
Memikirkan itu membuatku berpikir bahwa tidak mudah untuk membunuh seorang Jung Yunho. Semua ketidakmudahan itu didukung oleh berbagai faktor yang memungkinkan. Aku mengambil kertas dan mulai menuliskan alasan kenapa membunuh Yunho terdengar sangat susah.
Jung Yunho anak dari seseorang yang sangat berpengaruh di Korea Selatan bahkan di dunia.
Jung Yunho adalah anak laki-laki satu-satunya dari seorang Jung Il Woo. Pemilik Jung Corp, perusahaan yang bergerak di segala bidang dan memiliki banyak cabang di seluruh dunia termasuk di Indonesia. (?) Ini membuatnya menjadi satu-satunya penerus perusahaan turun temurun milik keluarganya itu.
Jung Yunho memiliki banyak penggemar yang nantinya pasti akan membunuhku jika aku membunuh idola mereka. -_-
Aku tidak terbayang bagaimana nantinya jika aku membunuh Yunho. Mungkin artikel yang memuat kematian Yunho terdengar keren dengan judul 'Seorang anak konglomerat dunia dibunuh oleh namja manly (?) yang sudah digodanya'. Sedangkan artikel yang memuat beritaku begitu memalukan dengan judul 'Seorang pembunuh dibunuh oleh fans korban pembunuhannya yang keseluruhannya adalah wanita'. Hei.! Mau diletakkan dimana wajahku? Artikel itu benar-benar membuat semua orang mempertanyakan ke'manly'anku.
Jung Yunho terlalu kuat untuk kukalahkan . T_T
Untuk yang ini kalian pasti sudah tahu, kan? Dan fakta inilah yang membuatku menangis dalam hati sekaligus fakta yang paling realistis dan berhubungan daripada fakta-fakta di atas. Kalian melihat -membaca- nya sendiri bagaimana aku tidak bisa melawan tubuh kekarnya ketika dia melecehkanku tadi. Kalau aku nekad melawannya, bisa jadi bukannya Yunho yang terbunuh, alhasil malah aku yang dilecehkan –lagi-.
Jung Yunho terlalu tampan. (?)
Aku mengernyitkan dahi melihat apa yang aku tulis. Apa-apaan kau, Kim Jaejoong? Bagian mana yang kau anggap tampan dari seorang yang mesum seperti Jung Yunho itu? dan lagu apa hubungannya ini dengan rencana pembunuhanmu? Aku pun mencoret alasan itu dari daftar.
Hukum yang berkuasa.
Hukum pasti akan membela yang benar, kan? Aku merasa benar. Tapi entah kenapa aku merasa hukum akan membela Yunho. Jadi aku tulis saja kemungkinan ini.
Aku terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan ketika aku berhasil membunuh Jung Yunho dan apa yang kudapatkan ketika aku berhasil membunuhnya. Kalau dipikirkan lebih jauh, aku hanya akan mendapatkan satu keutungan jika berhasil membunuh Jung Yunho. Keuntungan ittupun tidak sebanding dengan kerugian yang kudapatkan.
Tunggu dulu! Apa yang kulakukan sebenarnya? Kenapa aku harus melakukan sesuatu yang tidak penting seperti ini? Ini terkesan seperti memikirkan Yunho adalah sesuatu yang sangat penting untuk dilakukan. Bahkan aku sampai menulis namanya 5 kali di kertas. Haahh.. Aku benar-benar sudah gila.
Tok Tok Tok...
Suara ketukan pintu membuat pikiranku yang penuh dengan Yunho (Ekhem..!) teralihkan. Aku meletakkan alat tulis yang tadi kugunakan untuk menulis hal-hal yang amat sangat tidak penting. Aku melangkah menuju pintu kamar dan membukannya setelah memutar kunci. Tadi kamarku memang sengaja kukunci. Aku hanya tidak ingin orang-orang dirumahku melihat tingkahku yang absurd dan terlihat seperti wanita yang sedang PMS.
Junsu berdiri di depan pintu kamarku dengan cengiran khasnya sambil membawa boneka dolphin kesayangannya yang berukuran lebih dari setengah tubuhnya yang mungil itu. Aku mempersilahkan Junsu masuk dan Junsu pun langsung melesat merebahkan badan montoknya ke atas ranjangku.
Junsu mengguling-gulingkan badannya ke kanan dan ke kiri membuat ranjangku berantakan. Sampai pada gulingan yang kelima, dia berhenti dalam posisi tengkurap dan membaca kertas yang tadi aku tulisi tentang Jung Yunho. 'Tunggu dulu! Tulisanku? Jung Yunho? Omoo! Andwae!' batinku menjerit histeris. Aku berlari menerjang Junsu yang dibalas dengan teriakan melengking dari bibir mungil Junsu.
Junsu bangkit dan membuat aku tejatuh kesamping."Mwo haneunggeoya, hyung? Kau pikir kau ringan, eoh?! Aigoo... tulang punggungku terasa seperti patah.." keluh Junsu membuatku tersenyum merasa bersalah padanya. Junsu memandangku dengan tatapan –apa-yang-ada-di otakmu-sebenarnya- dan sekali lagi aku hanya membalas dengan cengiran tanpa dosa. Junsu kembali –akan- membaca kertas milikku tapi sekali lagi aku berusaha untuk mencegahnya yang membuat Junsu menatap kesal kearahku.
"Sebenarnya kau ini kenapa, hyung?!" bentaknya kesal. Aku menggigit bibirku berpikir jawaban apa yang harus kuberikan. Aku harus jujur atau memilih mempertahankan harga diriku dengan berkata boghng kepada Junsu?
"A-ani. Kurasa kau tidak perlu membaca tulisan yang ada di kertas itu, Junsu-ah." Ucapku setengah gugup, akhirnya aku memilih opsi kedua. Aku tidak ingin harga driku makin jatuh di depan Junsu.
Junsu menatapku dengan pandangan menyelidik membuatku harus menggigit bibirku untuk meredam rasa gugup. Tetapi untungnya itu hanya sebentar karena setelah itu Junsu langsung mengembalikan kertas yang dia pegang dengan tampang tidak peduli. Aku tersenyum menerima uluran kertas darinya.
"Kenapa tidak mengatakannya sejak tadi? Kukira ada yang salah dengan otakmu, Hyung." Celetuknya kurang ajar.
Aku hanya terkekeh sebentar padahal dalam hatiku aku mengutuk Junsu yang bertindak tidak sopan kepadaku, aku lalu beranjak dari ranjang menuju pojok kamar untuk membuang kertas itu ke tempat sampah yang ada disana. Sebelum kubuang, aku masih sempat membuka kertas itu seolah utnuk mengucapkan selamat tinggal pada tulisan yang ada di dalamnya. Mataku terbelalak begitu melihat tulisan yang ada di kertas itu. Tulisan itu berbeda dengan yang aku tulis tadi. Aku kembali menengok ke arah Junsu yang sekarang sedang tersenyum menggoda yang diarahkannya padaku sambil melambaikan kertas yang dipegangnya. Aku berlari kearah Junsu yang sudah berlari menduluiku turun ke lantai satu.
"Junsu! Berhenti kau, anak nakal!" teriakku yang membuat semua orang rumah menutup telinga mereka.
"Ani~" jawab Junsu dengan nada sing a song sambil meleletkan lidahnya kearahku membuatku makin sebal. Sejak kapan dia berubah menjadi evil seperti Kyuhyun? Bukankah Kyuhyun adalah temanku? Lalu kenapa bisa Junsu yang tertular evilnya? Bukankah seharusnya aku yang tertular?
Aish.. Apa yang aku pikirkan? Kim Jaejoong! Bisakah kau mengontrol pikiranmu agar tidak selalu memikirkan hal yang tidak penting atau bisa dikatakan tidak jelas alias aneh alias absurd itu?Aku pun lebih memilih mengejar Junsu daripada otakku memikirkan hal yang lebih absurd lagi sebelum anak itu makin jauh. Melihat Junsu yang sudah sampai di ujung tangga, aku pun makin mempercepat lariku untuk menangkapnya. Entah kenapa aku merasa Junsu berlari sangat cepat atau aku yang terlalu lambat?
"Ya! Kena kau!" teriakku saat berhasil menangkap kerah belakang baju Junsu.
"Aish, hyung! Lepaskan aku!" teriaknya heboh sambil berusaha mneyingkirkan tanganku dari kerah belakangnya.
"Kembalikan kertas itu, setelah itu kau akan kulepaskan." Ucapku tegas berusaha membuat kesepakatan.
"Kenapa kau harus menyembunyikan kertas ini, hyung?" tanya Junsu heran.
"Eopseo."
"Aku tahu kau aneh, tapi sekarang kau jauh lebih aneh, hyung. Ini kukembalikan! Sekarang lepaskan aku!" aku melepaskan cengkramanku pada kerah belakang Junsu setelah merampas kertas yang diulurkannya padaku. Tentunya setelah mengecek isinya. Aku tidak ingin masuk dan terperangkap di jurang yang sama.
Aku tersenyum sambil berlalu meninggalkan Junsu yang sedang bersungut-sungut kesal. Semoga Junsu belum membaca isi kertas ini. Bisa malu kalau sampai itu terjadi.
"HYUNG.! AKU SUDAH MEMBACA SEMUA YANG KAU TULIS DI KERTAS ITU!" teriak Junsu lebih nyaring dari teriakanku dan membuatku berbalik seketika karena shock.
Aku berlari kearah Junsu lalu menariknya ke arah ayunan yang ada di taman. Aku terdiam disana dengan perasaan bimbang antara aku harus menceritakan masalahku kepada Junsu dengan harapan memperoleh saran atau berbohong kepada Junsu dengan alasan apapun yang membuat si polos Junsu percaya.
"Ceritakan saja, hyung. Aku pasti akan membantumu menyelesaikan masalahmu kalau aku memang bisa." Ucap Junsu sambil tersenyum lembut kearahku. Entah apa yang merasuki dongsaengku itu dan membuatnya menjadi dongsaeng yang bijak. Aku menghela nafas panjang sebelum menceritkan semuanya pada Junsu. Mulai dari pertama kali aku bertemu dengan Yunho –pertemuan yang aneh-, pertama kali kami saling bertengkar karena sesuatu yang sepele –pertengkaran yang juga tidak kalah aneh-, dan masalah yang tadi –masalah yang tidak aneh, tapi menyebalkan-. Junsu hanya mendengarkanku dengan seksama sesekali dia tertawa terbahak-bahak jika ada kejadian yang menurutnya lucu dan itu berhasil membuatku melotot kesal padanya. Aku kembali menghela nafas panjang begitu mnyelesaikan ceritaku.
Junsu memasang pose berpikir yang –sok- serius. Padahal aku tahu di dalam hatinya dia sedang menertawaiku. "Tertawalah kalau kau ingin tertawa." Ucapku jengah dengan wajah konyol yang sedari tadi dtunjukkannya. Dan seharusnya itu menjadi hal yang paling kusesalkan dalam hidupku. Setelah aku mengucapkan kalimatku tadi, suara tawa Junsu yang khas –melengking seperti lumba-lumba- terdengar memenuhi seluruh taman yang sepi.
Sudah terlewat dua menit dan sampai sekarang Junsu belum juga berhenti tertawa. "Mau sampai kapan kau tertawa, Kim Junsu?" tanyaku geram. Geramanku tidak serta merta membuat si imut Junsu berhenti tertawa. Junsu malah makin mengeraskan suara tawanya membuat emosi Jaejoong naik sampai ke ubun-ubun. Demi Tuhan! Kenapa hantu bijak yang merasuki Junsu pergi secepat itu?!
"Berhenti tertawa, Kim Junsu! Kau tidak takut kotak tawamu rusak, ya?" bentakku yang diakhiri dengan pertanyaan yang konyol yang entah kenapa meluncur dari mulutku.
Seperti yang kuduga, Junsu tertawa makin keras mendengar ucapanku, "Kau pikir aku Spongebob, hyung?" jawabnya sambil tersenyum remeh.
Aku memandangnya dingin sebelum beranjak dari dudukku, "Aku masuk. Aku menyesal bercerita padamu."
"Kau mudah marah, hyung." Ucap Junsu setelah menarikku untuk duduk lagi. "Lalu bagaimana? Menurut hyung, apakah Yunho hyung serius dengan ucapannya yang ingin menjadkan hyung kekasihnya?"
Aku memasang pose berpikir a la detektif Conan. Apa dia serius? Atau hanya bercanda untuk mempermainkanku? "Entahlah, kalau bisa aku ingin menanyakan hal itu padamu, Su ie." Jawabku pasrah.
"Kenapa kau tidak menanyakannya, hyung?"
"Michyeoseo! Kalau aku melakukan itu, aku akan terlihat seperti mengharapkan dia serius menginginkanku, Junsuie chagi.." aku mencubit gemas pipi Junsu.
"Benar juga. Lalu apa yang akan kau lakukan, hyung?"
Aku menghela nafas frustasi, "Molla."
"Aish.. kalau kau begini terus, si Jung itu akan terus menganggumumu, hyung!" sentak Junsu. Dia terlihat sebal. Ani, bukan hanya terlihat, dia benar-benar kesal kepadaku.
"Aku juga bingung, Su ie. Aku juga tidak ingin selalu diganggu olehnya, tapi si Jung itu terus mengejarku. Aku sudah menghindar, tapi Yunho itu sudah seperti angin, dia ada dimana-mana."
"Mungkin kau kurang menghindar darinya, hyung. Apa saja yang sudah kau lakukan untuk menghindar darinya? Jangan bilang kau menghindar ke kantin?"
Aku menatap datar ke arah Junsu, "Aku tidak sebodoh itu, Kim!"
"Hei! Kau juga Kim, hyung!"
"Aku sudah mengurung di toilet. Satu menit sebelum kelas berakhir, aku sudah ijin keluar dan mengurung diri didalam sana untuk menghindar darinya. Aku bahkan rela melewatkan makan siangku demi menghindar darinya. Aku sedikit bernafas lega karena tidak ada tanda-tanda Yunho masuk kedalam toilet karena aku tidak mendengar suaranya sama sekali." aku memberi jeda pada ucapanku sekedar mengingat apa yang terjadi selanjutnya, "Begitu kelas selanjutnya akan dimulai kurang dari satu menit, aku memutuskan untuk keluar dari bilik toilet tempat aku bersembunyi. Tapi apa kau tahu apa yang kutemui begitu aku keluar? Jung Yunho yang berdiri santai sambil bersandar pada pintu bilik disebelah bilikku! Dia juga dengan seenaknya berkata 'Akhirnya kau keluar juga dari sarangmu, apa kau tidak punya sarang yang lebih bagus?' dengan ekspresi senyum mengejeknya yang menyebalkan. Bayangkan Su-ie! Aku merasa seperti dihantuil."
"Oleh hantu yang tampan."
"Ne, hantu yang tampan. Eh.. ya! Apa maksudmu mengatakan itu? dia tidak tampan sama sekali, aku jauh lebih tampan." Narsisku. Tapi memang benar kan?. #TIDAKKKK! (#dilempar Jaejoong)
"Ani. Kalau hyung bilang lebih cantik, baru aku akan setuju." Ujar Junsu sambil berlari menjauh setelah meleletkan lidahnya padaku yang masih memproses kalimat Junsu.
"Ya! Dasar dongsaeng kurang ajar!" aku berlari mengejar Junsu begitu otakku –yang entah kenapa menjadi lambat- selesai memproses semua. Tapi aku sedikit terlambat karena Junsu sudah masuk kedalam kamarnya dan tidak lupa menguncinya dari dalam. Aku hanya mendengus kesal sambil menggerutu. Aku memutuskan untuk pergi ke kamarku sendiri dan tidur siang untuk sedikit menyegarkan otakku dan menenangkan emosiku.
Skip Time
At College
Author PoV
Jaejoong memasuki kelasnya dengan lesu membuat teman-temannya menatapnya heran. Karena biasanya namja cantik itu sangat berisik dan ceria. Jaejoong menghempaskan pantatnya di kursi paling belakang dekat dengan jendela.
"Waeyo, Jae hyung? Kau ada masalah?" tanya Jiyoung. Namja cantik dan imut ini adalah sahabat Jaejoong sejak Junior High School bersama dengan Kyuhyun.
Jaejoong hanya menghela nafas berat tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Jiyoung. Jaejoong makin menunjukkan wajah lesunya sambil menolehkan kepalanya kearah jendela.
"Sebenarnya kau ini kenapa, hyung? Kalau kau tidak ingin bercerita, setidaknya berhenti menunjukkan ekspresimu yang jelek itu." sinis Kyuhyun. Sahabat Jaejoong yang berwajah manis ini menatap Jaejoong dengan pandangan kesal.
Jaejoong melirik Kyuhyun sekilas lalu kembali menghela nafas seperti orang yang terlilit banyak hutang. Jiyoung dan Kyuhyun tahu Jaejoong sedang dalam keadaan tidak ingin bercanda. Biasanya Jaejoong akan membalas semua kata-kata pedas yang dilontarkan kepadanya yang akan berakhir dengan adu mulut yang akan selesai ketika Jiyoung melerai mereka dengan tatapan matanya yang dingin dan tajam. Melihat Jaejoong dalam keadaan mood yang tidak baik, Jiyoung dan Kyuhyun memutuskan untuk diam dan menunggu mood Jaejoong membaik baru mereka akan memaksa gajah cantik sahabat mereka itu bicara.
"Aishh.. Eotteohke?" teriak Jaejoong sambil mengacak-acak rambutnya membuat semua mahasiswa yang ada di kelas itu menatapnya aneh dan kaget.
"Ada apa denganmu, hyung? Kenapa kau bertingkah aneh, hm?" tanya Jiyoung yang memang lebih bijaksana –kadang-.
"Setiap hari bahkan setiap saat Jae hyung selalu aneh, Ji." Ucap Kyuhyun sarkastik yang mendapat death –cute- glare dari Jaejoong. "Wah, akhirnya kau sudah sadar, hyung."
"Kau pikir aku pingsan, eoh?" tanya Jaejoong sinis.
Kyuhyun baru saja akan membalas perkataan sinis Jaejoong, tapi niat itu diurungkannya saat melihat deathglare milik Jiyoung. "Kenapa tidak jadi berbicara, Cho 'Evil' Kyuhyun?" Kyuhyun hanya menggeleng sambil tertawa tidak jelas.
Jaejoong yang melihat Kyuhyun dimarahi hanya tersenyum mengejek sambil meleletkan lidahnya ke arah Kyuhyun, "Kau juga, Kim Jaejoong. Apa masalahmu? Kenapa kau murung sejak tadi?" Jaejoong berhenti tertawa ke arah Kyuhyun begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan dengan nada dingin oleh Jiyoung. Meskipun Jiyoung cantik dan imut ditambah kenyataan bahwa dia adalah yang termuda diantara mereka, Jiyoung memiliki tatapan dingin menusuk yang mampu membuat kedua hyungnya labih memilih untuk menurut. Tidak salah jika Jiyoung mendapat gelar mahasiswa tercuek di universitas mereka.
Jaejoong mempoutkan bibirnya sebelum menceritakan masalahnya kepada kedua sahabanya, "Tanpa kuceritakan tentunya kalian sudah tahu apa masalahku."
"Jung Yunho lagi?" tebak Jiyoung tepat sasaran.
"Ping pong... Kau benar. Memangnya siapa lagi yang bisa membuat Jaejoong lesu seperti ini?" jawab Kyuhyun a la lotere.
"Bisakah kalian lebih sopan memanggilku? Walaupun kita seangkatan, tetap saja aku lebih tua dari kalian! Dasar dongsaeng kurang ajar!" umpat Jaejoong kesal.
"Ne~, hyung.." jawab Jiyoung dan Kyuhyun bersamaan dengan wajah malas.
"Gara-gara insiden minggu lalu, ya?" tebak Kyuhyun.
"Mwo?" tanya Jaejoong heran.
"Jae hyung dan Yunho hyung."
Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya lemas. "Aku benar-benar sudah tidak tahu lagi. Semenjak insiden itu, Yunho makin sering mendekatiku. Aku benar-benar kesal padanya." Jaejoong mempoutkan bibirnya lucu.
"Kau kesal kepada siapa, Jaejoongie chagi?" Jaejoong terkesiap merasakan sepasang lengan yang melingkar indah di pinggang rampingnya ditambah bisikan lembut di telinganya yang sensitif membuat Jaejoong merinding. Tanpa bertanya, Jaejoong sudah tahu siapa yang ada dibelakangnya karena belakangan ini namja yang sering melakukan hal ini padanya hanya ada satu orang. Ditambah bau maskulin yang berhasil ditangkap indra penciumannya membuatnya yakin bahwa namja yang memeluknya kini adalah jung Yunho.
'Chakkaman! Jung Yunho? Memeluk? KU?'. Teriak batin Jaejoong menyadarkan Jaejoong dengan apa yang sedang terjad.
"Ya! Lepaskan tanganmu dari pinggangku, babo!" teriak Jaejoong sambil berusaha melepaskan tangan Yunho yang melingkar di pinggangnya. Bukannya melepasnya seperti yang Jaejoong minta, namja Jung itu malah makin mengeratkan pelukannya.
"Apa yang kau inginkan, Jung?!" sentak Jaejoong menyerah untuk melawan Yunho.
"Kau." Jawabnya enteng, Yunho malah mulai mengendus leher Jaejoong.
"Mwo?!" Jaejoong berteriak kaget dan usahanya berhasil menyentakkan tangan Yunho yang melingkar di pinggangnya. Tanpa membuang waktu, Jaejoong segera menjaga jarak dengan Yunho. "Michyeoseo!"
Jiyoung maju kearah Jaejoong berniat untuk membantu sahabatnya tapi dtahan oleh Seunghyung aka TOP, sahabat Yunho. "Jangan ikut campur." Nada suara TOP begitu datar yang dibalas dengan tatapan tak kalah datar dari Jiyoung.
"Pergi dari hadapanku dan jauhkan tanganmu dari tanganku! You Bastard!" umpat Jiyoung sebelum melangkah keluar dari kelasnya. Jaejoong dan Kyuhyun yang mendengar Jiyong mengumpat lalu pergi hanya menatapnya heran. Segalak apapun Jiyoung, dia tidak pernah mengumpat apalagi kepada orang asing.
Kyuhyun memutuskan untuk mengejar Jiyoung tapi ditahan oleh namja jangkung sahabat Yunho, Shim Changmin. "Ya! Lepaskan tanganmu dari tanganku, bodoh!"
"Biarkan dia." Pintanya diktator.
Kyuhyun memandang namja didepannya aneh, "Memangnya kau pikir kau itu sipa, eoh? Seenaknya saja kau mengaturku!"
"Diam dan menurutlah! Atau..." Changmin menggantung kalimatnya beralih menatap intens kearah mata Kyuhyun.
"A-atau a-apa?" jawab Kyuhyun gugup karena ditatap sedalam itu oleh orang lain.
"Aku akan menciummu, Kyu baby~" bisik Changmin seduktif di telingan kanan Kyuhyun.
"Mwo?! Michyeoseo!" teriak Kyuhyun terkejut. Dia pun menarik tangannya sekuat tenaga hingga terlepas dari cekalan Changmin, "Kajja, hyung. Kita kejar Jiyoungie." Ajaknya sambil menarik Jaejoong menjauh dari Yunho.
"Ya! Kau mau membawa Jaejoong my princess kemana?" teriak Yunho.
"Aku bukan princessmu, Jung Yunho! Nan namjayeyo! Harus berapa kali kibilang agar otak kecilmu itu mengerti?! Dasar bodoh!" Jaejoong kembali melanjutkan langkahnya setelah memberikan umpatan kepada Yunho.
Yunho dan Changmin memandang pintu yang dilewati Jaejoong dan Kyuhyun dengan senyum geli terpatri dibibir keduanya, 'Sayangnya kau adalah namja. Kalau seandainya kau yeoja, aku akan menjadkanmu kekasihku.' Batin Yunho dan Changmin yang entah kenapa bisa sama.
Berbeda dengan kedua sahabatnya, Seunghyun menatap pintu yang tadi dilewati Jiyoung –dilewati Jae sama Kyu juga- dengan tatapan sendu, "Ji.." bisiknya lirih. Saking lirihnya hanya angin yang bisa mendengar bisikannya itu. Perlahan angin membawa bisikan itu kepada seorang namja mungil dengan wajah cantik yang kini duduk di kursi taman dengan wajah murung tanpa peduli kelas sudah dimulai.
"Seunghyunie hyung." Bisiknya tak kalah lirih seolah menjawab panggilan Seunghyun lewat angin yang tadi juga mengantarkan suara Seunghyun padanya.
"Jiyoungie.." teriakan kedua sahabatnya membuat Jiyoung menoleh kebelakang dan sadar dari lamunannya.
"Kenapa kau disini? Sebentar lagi kelas dimulai, kau tidak ingin masuk?" berondong Jaejoong yang hanya dibalas dengan gelengan kepala Jiyoung.
"Wae?" tanya Kyuhyun heran. 'Tidak biasanya Jiyoung bolos meskipun di kelas Jiyoung tidak pernah mendengar penjelasan dosen. Dia itu jenius. Sama sepertiku dan Changmin, namja jangkung yang tadi menggodaku.' Batin Kyuhyun sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ani." Jawab Jiyoung singkat seperti biasa.
"Kenapa kau pergi begitu saja tadi? Kau bahkan mengumpat pada Seunghyun ssi." Tanya Kyuhyun lagi tetapi Jiyoung hanya diam tanpa berniat menjawab. Akhirnya ketiga sahabat itu hanya duduk diam menikmati bolos perdana mereka.
Skip Time (16.45 KST)
Jaejoong berjalan sambil menghentakkan kakinya dengan keras ke aspal. Kedua sahabatnya yang berjalan dibelakangnya hanya menatap Jaejoong bosan. Bagaimana tidak? Sejak pulang kuliah sampai sekarang, Jaejoong tidak berhenti menggerutu. Bibirnya terus-terusan mengerucut kesal. Bahkan di mobil tadi, Jaejoong juga membuat sahabatnya –read : Kyuhyun- marah karena Jaejoong yang tidak bisa diam.
"Bisakah kau berhenti bertingkah kekanakan, HYUNG.!" Tanya Kyuhyun jengah sambil menekankan kata hyung untuk membuat Jaejoong sadar berapa usianya sekarang.
Jaejoong membalikkan badannya menghadap kearah dua sahabatnya dan berjalan mundur, "Kau pikir bagaimana aku bisa diam? Aku benar-benar kesal, Kyu. Kenapa Yoo Songsae harus memberikan tugas seperti itu? Dan kenapa juga aku harus satu kelompok dengan si Jung babo itu? ARRggghhh.." teriak Jaejoong yang membuat satpam dan maid-nya keluar melihat kearahnya takut terjadi sesuatu dengan Tuan Muda mereka yang sangat manis itu.
"Dan kenapa juga kau harus mengajak kami?" tanya Jiyoung datar yang dibalas dengan cengiran oleh Jaejoong, "Berjalanlah dengan benar sebelum hyung menabrak."
Jaejoong mencebilkan bibirnya kearah Jiyoung sebelum memutuskan untuk mengikuti saran dari sahabatnya itu.
JDUAGH...
"Ya! Appo!" teriak Jaejoong untuk yang kedua kalinya. Tetapi kali ini maid dan satpam tidak ada yang peduli karena mereka menganggap Jaejoong sama seperti tadi –main-main-.
"Bukankah sudah kukatakan?" ujar Jiyoung datar sebelum berlalu masuk kerumah Jaejoong yang sudah sering dia tinggali ketika bumonim Jaejoong sedang ada tugas ke luar negeri. Dia tidak mempedulikan fakta bahwa sahabatnya baru saja menabrak tiang karena ulahnya.
Jaejoong menatap sebal kearah Jiyoung yag seenaknya pergi, "Setidaknya beritahu aku saat tiang si*l*n ini masih jauh, bukan ketika sudah berada tepat didepan wajahku, Jiyoung babo!" bentak Jaejoong murka.
Berbeda dengan Jiyoung yang hanya menanggapi datar peristiwa yang menimpa Jaejoong, Kyuhyun malah tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya bahkan dia sampai mengeluarkan air mata saking puasnya dia tertawa.
"Kau juga berhenti tertawa, Cho!"
"Haha.. kau bodoh, hyung. Aku menyesal tidak merekam kejadian barusan."
"Kalau kau benar-benar melakukan itu, kau akan mati di tanganku, Cho Kyuhyun!" sinis Jaejoong yang malah membuat tawa Kyuhyun makin keras.
"Andwae~ Aku takut~" ujar Kyuhyun dengan nada sing a song sebelum melangkahkan kakinya memasuki rumah jaejoong sambil melanjutkan tawanya yang sempat berhenti tadi.
"Dasar dua dongsaeng durhaka. Kukutuk kalian nanti!" rutuk Jaejoong sebal.
"Hyung! Sampai kapan kau akan berdiri disitu? Kalau kau tidak masuk dalam jangka waktu 10 detik, kukunci kau diluar!" teriak Jiyoung dari dalam.
"See? Mereka bahkan juga bisa menjadi tamu yang durhaka! Menyebalkan!" umpat Jaejoong sebelum memasuki rumahnya dengan wajah yang sangat masam. "Aish, kningku yang cantik."
Ketiga sahabat itu duduk bersebelahan di depan televisi. Ketiganya tidak ada yang bersuara. Bukan karena serius menonton, tetapi ketiganya sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri (bukan berarti autis ya!). Jiyoung yang duduk tenang dengan pandangan menerawang, entah apa yang dipikirkannya. Jaejoong yang masih setia dengan gerutuan dan umpatannya. Dan Kyuhyun yang sedang diam sambil tangannya bergerak-gerak brutal menekan tombol PSP yang dia pegang. Sebenarnya Kyuhyun tidak benar-benar diam, terkadang dia berteriak ketika karakternya terkena serangan lawan.
Mereka tetap dengan kegiatannya sampai suara bel membuat ketiganya menghentikan kegiatannya. Kini mereka saling tatap dengan tatapan yang dapat diartikan –kau-yang-buka-pintunya.
"Hyung saja yang buka, hyung kan paling tua. Lagipula hyung tuan rumahnya disini." Kata Kyuhyun retinanya kembali serius menekuni game-nya.
"Kau saja, Kyu. Kau kan paling nakal dan jarang melakukan sesuatu dibandngkan aku dan Jiyoungie." Balas Jaejoong tak terima.
Kyuhyun dan Jaejoong saling tatap dengan pandangan tidak terima. Tapi kemudian keduanya dengan kompak enolehkan kepalnya kearah Jiyoung. Jiyoung yang mengerti tatapan kedua hyungnya itu hanya memtar bola matanya jengah.
"Arasseo. Aku yang akan membuka pintu. HYUNGDEUL puas?" Jiyoung bangkit dari duduknya dan berjalan kearah pintu dengan malas. Samar-samar dia mendengar suara Jaejoong yang mengatakan kalau dia adalah contoh dongsaeng yang baik.
"Ne." Jawab Jiyoung merasa tamu Jaejoong sedikit terburu dengan memencet bel dengan brutal.
Jiyoung membuka pintu dan matanya terbelalak begitu melihat siapa yang ada di depannya. Bukan hanya Jiyoung, namja di depannya juga kaget dengan kemunculan Jiyoung dirumah Jaejoong.
"Mwo? Ada perlu apa?"
"Aku hanya menemani Yunho kemari."
"Oh. Yunho, eodi?"
"Dia masih mengambil sesuatu di mobilnya bersama Changmin dan Yoochun."
"Arasseo. Masuklah." Ajak Jiyoung datar.
Langkah Jiyoung tertahan oleh tangan yang menarik tangannya, "Lepaskan tanganmu!" desisnya.
"Ani. Kita harus bicara, Ji." Pinta namja itu yang ternya adalah Seunghyun.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Lepaskan tanganmu sebelum ada yang salah paham." Mendengar nada dingin dari mulu Jiyoung, Seunghyun melepaskan pegangannya, "Dan tidak pernah ada kata kita, yang ada hanya kau dan aku, Seunghyun ssi. Atau aku harus memanggilmu TOP?" sinis Jiyoung sebelum melanjutkan langkahnya untuk memberitahu Jaejoong bahwa Yunho sudah datang. Seunghyun hanya berdiri menatap sendu punggung sempit Jiyoung yang semakin menjauh.
"Hei! Mana Jaejoong?" Seunghyun menoleh kesamping saat merasakan seseorang menepuk pundaknya. Dia melihat Yunho yang melongokkan kepalanya kedalam mencari keberadaan namja yang selalu berhasil digodanya –menggodanya-.
"Dia masih di dalam. Jiyoungie masih memanggilnya. Kajja, masuk. Tadi Jiyoung sudah menyuruk kita untuk masuk."
"Hei, hyung. Kau tadi memanggil Jiyoung ssi dengan panggilan Jiyoungie. Apa kau kenal dekat dengannya?" tanya Changmin yang entah sejak kapan ada disampingnya.
"Ani. Kau mungkin salah dengar tadi. Wae? Kau terlihat tertarik kepadanya?"
Tanya Seunghyun terselip nada tidak suka dalam kalimatnya.
"Molla. Tapi dia cukup manis." Seunghyun menolehkan kepalanya dengan cepat kearah sang magnae.
"Kenapa kau menatapku tajam seperti itu, hyung?"
"Ani."
Keempatnya pun duduk disatu sofa panjang diruang tamu Jaejoong. Tak seberapa lama muncul Jaejoong yang membawa tumpukan buku dan Kyuhyun yang membawa cemilan untuk mereka . Melihat Jaejoong datang, Yunho langsung tersenyum manis yang membuat Jaejoong –malu- muak.
"Berhenti tersenyum seperti maniak, Jung!" bentak Jaejoong.
"Aku tidak seperti itu, BooJaejoongie.."
Jaejoong memutar bola matanya malas dan memutuskan untuk tidak meladeni ucapan Yunho. Dia sedang malas untuk berdebat. Dari arah dapur muncul Jiyoung yang membawa nampan minuman. Setelah membagikan minuman ke semua yang ada disana, Jiyoung mendudukkan dirinya di lantai bersama Jaejoong dan Kyuhyun.
"Sebaiknya kita mulai mengerjakan tugasnya sekarang, Jung."
"Ne."
Jaejoong mengangkat kepalanya menatap Yunho yang tidak bergerak dari posisinya. Yunho yang mengerti tatapan Jaejoong hanya menatapnya dengan tatapan –kau-yakin?- miliknya.
"Wae? Orang kaya sepertimu tidak biasa duduk dilantai,eoh? Tenang, Jung. Lantaiku sudah bersih. Setiap hari ada maid yang membersihkannya." Sindir Jaejoong.
Yunho yang nerasa tersindir hanya menatap Jaejoong dengan pandangan tidak terima, "Siapa bilang? Aku tidak semanja itu, Kim Jaejoongie.." Setelah mengatakan itu, Yunho langsug mendudukkan dirinya dia atas karpet berhadapan dengan Jaejoong. Jaejooong sendiri hanya mencibir kearah Yunho.
Berbeda dengan Jaejoong, ketiga sahabat Yunho hanya membelalakkan matanya tidak percaya. Ayolah, siapa yang tidak tahu Yunho? Dia itu pangeran yang selalu perfeksionis. Selama ini Yunho tidak pernah mau duduk di lantai meskipun lantai itu sudah dilapisi dengan karpet sutra. Menurutnya, duduk dilantai sama saja dengan rakyat jelata yang tidur beralaskan jardus di pinggir jalan sana. Tidak peduli alas apa yang digunakannya, duduk dilantai tetaplah duduk dilantai. Tapi sekarang, hanya dengan sindiran halus yang keluar dari bibir Jaejoong, Yunho bersedia duduk dilantai yang hanya beralaskan karpet bulu.
'Yunho hyung sudah gila.' Batin Yoochun.
'Kau hebat, Kim.' Batin Seunghyun.
'Ini benar-benar diluar dugaan.' Batin sang magnae.
Ketiganya saling bertatapan seolah menyampaikan pemikiran mereka, 'DUNIA SUDAH KIAMAT.' Batin mereka berteriak bersamaan berbarengan dengan ketiganya yang kembali menatap Yunho horor.
Sepertinya Uri Yunho sudah jatuh kedalam pesona Uri Jaejoong. Tapi benarkah seperti itu? Tidak ada yang tahu bagaimana masa depan. Tidak ada yang tahu kemana cinta akan berlabuh. Semua itu hanya Tuhan yang tahu. Manusia hanya menerima takdir mereka, aniya? Manusia hanya bisa berharapTuhan berbaik hati untuk memberi restu pada cinta mereka...
END
Tapi Bohong, Cin
TBC
Annyeong, mian jelek terus Yunjae momentnya juga dikit.
Author lagi buntu mikirin momrnt yang pas buat Yunjae, tapi chap depan Yunjae moment udah mulai banyak ko.
Author harap readers suka pair yang author pake disini, karena jujur author suka TOPGD.
Yesungdahlah..
Mind to RnR?
Annyeong.. #octopusdance_bareng_Yesung
