Untuk ukuran karyawan baru seperti Sungmin termasuk karyawan yang sangat gasit dalam menyelesaikan pekerjaannya. Ya walau semua orang tau jika dia memang bukanlah karyawan baru hanya saja wanita berusia 25 tahun itu beranggapan seperti itu.

Saat ini jam bahkan masih menunjukan pukul empat sore tapi semua pekerjaannya sudah terselesaikan, dia sangat merasa bosan tidak tau harus melakukan apalagi sejam kedepan untuk menghabiskan jam kerjanya. Dia hanya berharap jika atasannya tidak lagi memergoki dirinya tengah menganggur seperti hari-hari kemarin. Beruntung dia beralibi jika kepalanya merasa pening akibat cindera dikepalanya itu.

"Yaa !"

Sungmin terperajat kaget mendengar teriakan lantang tersebut. Refleks ia bangkit dari tempat duduknya dan segera menghampiri bilik sebelah ruangannya, dimana sumber suara tersebut berasal.

"Eh ! Wae wae wae ?"

Ryewook menampakan wajah memelasnya melirik Sungmin dan layar komputernya yang padam secara bergantian.

"Ini sangat menyebalkan, sudah ku katakan jika komputer tua sialan ini harus diganti ! Tapi si tua bangka Kim pelit itu tidak mau memberikannya." Runtuk Ryewook begitu menggebu-gebu sampai membuat Sungmin ngeri melihat sahabatnya itu jika sedang marah.

"Apa begitu serius sampai harus diganti ?"

Ryewook menatap jengkel Sungmin, ia tidak suka dengan pertanyaan yang Sungmin ajukan tersrbut. Tidak jauh berbeda dengan manager bagian mereka. Si kepala besar Kim yang pelit itu selalu mempersulit dirinya. Itu sangat menjengkelkan.

"Aku tidak akan berteriak kesal jika dalam sehari ini komputer sialan ini mau saja ku ajak berkompromi."

Sungmin hanya mengangguk-nganggukan kepalanya saja. Berdebat dengan Ryewook saat seperti ini tidak akan bagus.

"Aku rasa kau memang perlu menggantinya." Sungmin bertingkah simpati karena tidak mau melihat Ryewook semakin mengamuk jika ia masih saja bertanya. "Sebaiknya kau pakai saja komputer ku." Tawarnya.

Wajah keras Ryewook perlahan meluruh, ia fikir jika perkataan Sungmin benar. Jika dirinya tidak ingin pekerjaannya terbengkalai mungkin saran Sungmin cukup benar. Menunggu managernya memberikan komputer baru sungguh sangat mustahil. Ia tidak mau malam ini harus melembur lagi.

"Eoh, kau bagaimana ?" Ryewook ingat jika Sungmin juga harus menggunakan komputernya.

"Tidak masalah, pekerjaan ku sudah beres."

"Kau memang yang terbaik ! Aku akan mentraktir mu beer dan ayam goreng nanti."

Ryewook berujar senang sambil menghampiri ruangan Sungmin.

Beberapa menit berlalu, Sungmin hanya melihat jika Ryewook tengah serius menatap layar monitor komputernya tersebut. Ia sedikit jenuh karena tak ada percakapan lagi diantara mereka.

Sungmin bersandar dipinggiran meja kerja miliknya, saat tidak sengaja matanya melirik kearah pigura foto yang beberapa hari lalu ia balik. Ia meraih pigura tersebut dan kembali memperhatikan foto miliknya.

"Wook-ah."

"Hm ?" Ryewook hanya menjawab seperlunya saja tanpa berniat melirik Sungmin.

"Apa kami terlihat bahagia dan saling mencintai ?" Gumam Sungmin namun masih terdengar Ryewook.

"Ye ?" Ini menarik, Ryewook akhirnya mau melirik Sungmin.

"Ini." Sungmin memperlihatkan pigura foto dirinya dengan Kyuhyun kehadapan Ryewook. "Apa mungkin ini hanya editan ? Atau mungkin foto ini menggunakan efek canggih dan sejenisnya ?"

Ryewook menatap malas kearah Sungmin. Wanita itu masih saja mempertanyakan perasaannya terhadap Kyuhyun dan sialnya Sungmin selalu bertanya padanya. Ketika ia menjawabnya Sungmin selalu mengelak dan menuduhnya bersekongkol dengan Kyuhyun untuk meyakinkan dirinya.

"Apa kau sudah gila ? Foto itu bahkan aku sendiri yang mengambilnya karena kau yang memintanya, dan ku fikir kalian pasangan yang paling membuat semua orang iri !"

"Kau berbohong ?"

Ryewook semakin dibuat jengkel, seperti itulah jawaban Sungmin yang selalu mengelak ketika ia mengatakan sesuatu mengenai mereka, Kyuhyun dan Sungmin.

"Terserah, jangan bertanya lagi kalau begitu. Kau cari saja jawabannya sendiri." Tidakah Sungmin tau jika dirinya tengah dalam mood tidak bagus dan Sungmin semakin menambah kekesalannya hari ini.

Sungmin mengerucutkan bibirnya mendapati jawaban Ryewook yang begitu ketus. "Galak sekali eoh ?"

Ryewook kembali mengacuhkannya dan memilih fokus menatap layar Komputer. Sungmin hanya termenung mengingat bagaimana perasaannya ketika berdekatan dengan Kyuhyun.

Ia bahkan sempat bersyukur ketika Kyuhyun 5 hari ini tidak mengganggunya lagi. Namja itu masih melakukan perjalanan bisnisnya. Sungmin merasa lebih baik ketika tidak mendengar suara Kyuhyun yang selalu mengomelinya ini itu. Tidak ada panggilan tak terjawab dan pesan bertumpuk diponselnya. Pria itu seperti tertelan bumi.

Tapi...

Entah kenapa Sungmin merasa jika sebagian hatinya meringis ketika Kyuhyun bertingkah seolah mengacuhkanya. Ia paling tidak suka ketika ia diacuhkan seperti itu.

"Dasar brengsek !" Maki Sungmin tanpa sadar.

"Kau sedang memaki siapa eoh ?"

Dua gadis diruangan tersebut langsung terkesiap dan menegakan tubuhnya ketika manager Kim tengah berdiri angkuh dihadapan mereka.

"Ugh, maafkan saya pak, saya-"

Pria yang tak kalah tampannya dengan Kyuhyun tersebut tersenyum remeh memperhatikan kedua karyawannya tersebut.

"Saya tidak meminta mu untuk meminta maaf nona Lee. Saya bertanya, siapa yang kau maki itu ?"

Sungmin merasa jika riwayatnya habis, ia tidak mungkin mengatakan jika yang ia maki adalah Cho Kyuhyun. Rekan bisnis perusahaannya itu. Bisa saja managernya tersebut memberikannya surat peringatan atau surat pemecatan. Tidak, Sungmin masih suka bekerja diperusahaan ini.

Ryewook menyenggol pelan siku Sungmin memberikan kode agar Sungmin menjawab pertanyaan managernya tersebut sebelum pria tua didepannya tersebut murka.

Sungmin melirikan matanya sekilas memberi jawaban jika dirinya tidak bisa mengatakan sejujurnya.

"Apa kau tidak mendengarkan ku nona Lee ?

"Itu-"

"Khm !"

Sungmin yang sempat tertunduk langsung mendongakan kepalanya ketika mendengar suara deheman tersebut dan ia cukup kaget dengan kehadiran Kyuhyun saat ini. Bukan karena Kyuhyun muncul tiba-tiba saja tetapi karena penampilan Kyuhyun saat ini cukup memukau penglihatannya.

Pria tua itu memotong rambutnya yang kemarin memang cukup panjang hingga terlihat rapih dan semakin bertambah tampan. Harus Sungmin akui jika tatanan rambut Kyuhyun saat ini berefek sangat banyak. Pria tersebut tampak jauh lebih segar dan lebih muda dari usianya sekarang. Sungmin bahkan beranggapan jika Kyuhyun mirip dengan salah satu idolanya di Super Junior yang merupakan salah satu grup band yang sangat terkenal di Korea.

"Oh kau Kyu ?" Manager Kim langsung menyambut hangat kehadiran salah satu patner perusahannya tersebut.

Kyuhyun tersenyum sekilas dan balas menjabat uluran manager tersebut.

"Ya, bagaimana kabar mu hyung ?"

Tidak usah heran dengan kedekatan mereka. Mereka memang senior dan junior saat menempuh perguruan tinggi sama dulu. Hanya saja jalur mereka tempuh sekarang berbeda.

Jika Kyuhyun berani mengambil keputusan yang cukup berani keluar dari jalur pekerjaan keturunan keluarga besarnya di China sebagai dokter seperti ayahnya yang merupakan dokter spesialis jantung untuk memulai berbisnis membangun semuanya dari nol.

Lain halnya dengan Kim Yesung, pria berusia 35 tahun tersebut lebih memilih bekerja diperusahaan besar ini, sebagai manager yang tentunya ia rintis dari bawah.

"Cukup baik. Dan kau ?"

"Sangat baik jika kau mengijinkan ku membawa calon isteri ku pulang ?"

Yesung terkekeh maklum, bukan hal aneh lagi jika Kyuhyun memang sering melakukannya. Sungmin sempat memprotes dan memaksa untuk tetap tinggal dikantornya lebih lama lagi. Tapi seperti biasa Kyuhyun selalu bisa memaksanya.

"Bagaimana komputer mu ? Dia masih dalam keadaan baik saja bukan ?" Yesung mulai membuka pembicaraan kembali dengan Ryewook setelah Kyuhyun dan Sungmin pergi.

Ryewook melirik setengah kesal dengan Yesung. "Apa sajangnim akan menawarkan saya satu yang baru jika saya menjawab 'Tidak' ?"

"Tidak, sebelum kau bersedia berkencan dengan ku." Yesung mengedipkan sebelah matanya dan berlalu dari bilik tempat kerja Sungmin.

"Aish ! Dasar tua bangka tidak tau diri !" Gerutu Ryewook, mungkin perkataan Sungmin tentang Pria tua memang mesum dan menyebalkan memang benar.

ooo000ooo

Sungmin terheran dengan Kyuhyun, kenapa pria ini membawanya kepertokohan elit seperti ini. Dan jika Sungmin perhatikan, mereka berada disekitar pertokohan penjualan emas.

Kyuhyun dengan erat menggenggam erat jemari Sungmin. Beberapa kali Sungmin bertingkah melepaskan tautan mereka, namun Kyuhyun dengan sabar terus meraihnya kembali. Sampai didepan tokoh emas yang cukup besar, Kyuhyun kembali menyeret Sungmin agar mengikutinya.

"Sebenarnya kita mau apa sih ?" Tanya Sungmin begitu penasaran dan kesal karena Kyuhyun sangat memaksa.

"Membeli cincin pernikahan kita, kau kan menghilangkan cincin pertunangan kita dan juga cincin yang kuberikan saat melamar mu dulu."

"Hah ?" Sungmin melongo kaget seberapa cerobohnya dia dulu sampai menghilangkan benda mahal seperti itu. "Kau pasti berbohong ?"

Kyuhyun menaikan salah satu tangan Sungmin dan menunjukan jemari-jemari Sungmin yg kosong.

"Eum mungkin saja cincin itu terlalu murah, jadi jari ku gatal dan tidak sengaja menjatuhkannya." Elak Sungmin.

Kyuhyu sudah tau jika Sungmin akan mengelak seperti itu. Bukan hal aneh, semenjak ingatan gadis itu hilang, Sungmin kerap kali mengelak dan memberikan alasan kekanakan menurutnya.

"Kalo begitu kau bisa bertanya pada seseorang." Kyuhyun merogoh kantung celananya dan mengambil ponsel miliknya.

"Eh apa yang kau lakukan ?" Sungmin merasa jika kejadian seperti ini sama percis dengan seminggu lalu ketika Kyuhyun mengenggam ponselnya. Menghubungi mama.

"Kau bisa bertanya pada mama, dia yang memberikan cincin itu."

"Ah sudah-sudah ayo kita cari saja gantinya kalo begitu." Sungmin gugup bukan main, takut jika perkataan Kyuhyun benar dirinya akan dituntut dan lebih lagi calon mertuanya akan mendumel.

Sambutan dan pelayanan ramah langsung menyambut kedatangan mereka ditokoh tersebut. Seorang pelayan dengan seragam yang rapih langsung menawarkan beberapa model cincin pernikahan ketika Kyuhyun mengatakan jika ia membutuhkan cincin pernikahan.

Sungmin hanya cemberut memperhatikan Kyuhyun yang sibuk mencoba dan melihat beberapa model cincin yang berkilauan tersebut sampai tak sadar jika dirinya menjadi pusat perhatian beberapa karyawan ditokoh tersebut. Bahkan pelayan yang tengah melayani mereka beberapa kali mencuri pandang pada Kyuhyun membuat Sungmin bertambah kesal.

"Ini bagaimana ? Lumayan bukan ?" Kyuhyun memasukan cincin tersebut dijemari manis Sungmin.

"Tidak, ini sangat payah." Tolak Sungmin melihat modelnya terlalu sederhana. Melepaskannya kembali.

"Ya, kau benar."

Kyuhyun kembali memilih-milih dan sesekali bertanya pada pelayan tersebut membuat Sungmin semakin kesal. Apalagi saat pelayan tersebut mencoba membatu Kyuhyun memasukan cincin kejari manis Kyuhyun.

Sungmin cukup geram dengan kelakuan centil pelayan tersebut dan dengan kasar langsung memisahkan tangan mereka.

"Biar aku saja." Sungmin kini menggantikan tugas pelayan tadi membantu memasukan cincin tersebut kejemari Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum puas, betapa bahagianya ia saat ini. Melihat Sungmin kembali posesif dan pencemburu tanpa gadis itu sadari sendiri.

Dengan gaya angkuhnya, Sungmin memasukan cincin tersebut ke jemari Kyuhyun sambil menoleh kearah pelayan centil tadi dengan pandangan galaknya. Sang pelayan sedikit kikuk dipandangi seperti itu. Ekspresi Sungmin seolah ingin menelannya hidup-hidup.

"Aw, ini sempit sayang. Jangan dipaksa." Keluh Kyuhyun saat Sungmin masih saja berusaha keras memasukan cincin tersebut.

"Tsk, kalau begitu pasang sendiri saja !" Sewot Sungmin, melepaskan tangan Kyuhyun dengan kasar.

"Kau, bisakah memberikan kami cincin paling termahal di tokoh ini ?" Celetuk Sungmin asal. Ia sedikit jengkel dan ingin memberikan Kyuhyun pelajaran karena memaksanya, membuat kesal, dan juga pelayan centil ini sukses membuat ubun-ubunya hampir terbakar entah karena apa.

"Ye ?" Pelayan tersebut mengerjab bingung.

"Kau ini kenapa ?" Bisik Kyuhyun.

"Wae ? Aku fikir kau cukup kaya ? Jadi tidak sekaya itu ya..." Cibir Sungmin berpura-pura memaklumi.

Kyuhyun yang sedikit tersinggung langsung memerintah pelayan tadi untuk mengambilkannya.

Mata Sungmin sedikit berbinar melihat benda yang berkilauan didepannya tersebut. Tidak Sungmin pungkiri jika sebagai wanita ia juga suka dengan benda-benda berkilauan seperti cincin tersebut. Selain indah dipandang, nilai jualnya juga sangat tinggi.

"Ini sangat cantik !" Pekik Sungmin langsung memasangkan cincin tersebut kejemarinya sendiri.

Cincin berlian tersebut berbentuk Snow dan sekeliling cincin tersebut juga tak luput dari butiran-butiran belian kecil lainnya. Sangat cantik, mewah dan tentunya mungkin sangat mahal.

"Kau menyukainya ?"

"Ugh !" Sungmin mengangguk semanagat namun matanya masih tak lepas dari cincin tersebut.

Kyuhyun sedikit tidak yakin jika mereka harus membeli cincin tersebut. Bukan karena harga cincin tersebut yang mencapai 2,5 juta dollar. Tetapi sifat teledor yang Sungmin miliki kadang membuat kepala Kyuhyun pusing. Gadis itu bahkan sudah menghilangkan 2 cincin yang terdahulu yang ia berikan dan jika diakumulasi semuanya, harga keduanya setara dengan harga 1 cincin ini.

Terlebih lagi ia takut jika penjahat diluar sana memperhatikan benda mahal tersebut. Ia takan masalah dengan cincin tersebut, hanya saja Sungminnya terlalu berharga menjadi objek kejahatan.

"Baiklah, lepaskan dulu." Dusta Kyuhyun, ia berencana membujuk Sungmin keluar dari tokoh tersebut dan berdalih mereka akan melihat tokoh lainnya.

Sungmin menurut dan saat berusaha melepaskan cincin tersebut namun rasanya sulit untuk dilepaskan. Ia mulai bergerak gelisah melihat Kyuhyun.

"Ini sulit, tidak bisa dilepas." Bisik Sungmin.

"Kau bercanda ?" Kyuhyun melotot tak percaya dan kemudian membantu Sungmin untuk melepaskan cincin tersebut.

"Yaa !" Sungmin memukul keras bahu Kyuhyun. "Ini sakit ! Kau kasar sekali eoh ?" Keluh Sungmin sambil mengelus jemarinya yang sedikit memerah akibat gesekan cincin tersebut.

ooo000ooo

Sepanjang jalan tak henti-hentinya Kyuhyun terus mendumel dan memarahi Sungmin karena ia tidak bisa melepaskan cincin tersebut, mau tidak mau Kyuhyun harus membelinya. Gadis itu bahkan cukup jengah mendengarkan segala omelan Kyuhyun.

Kyuhyun baru bisa berhenti berbicara setelah mereka sampai ditempat parkiran apartemen Sungmin. Sungmin yang sedari tadi hanya diam, langsung saja membuka knop pintu mobil Kyuhyun dan keluar begitu saja tanpa berniat berpamitan terlebih dulu. Ia juga kesal karena Kyuhyun terus saja memarahinya tadi. Ia bahkan tidak ingat jika ia sudah menghilangkan kedua cincin miliknya pemberian dari Kyuhyun itu.

"Lee Sungmin !" Kyuhyun berteriak kesal tapi Sungmin mengabaikannya.

Mau tak mau Kyuhyun ikut keluar dari mobilnya. Ia menarik tangan Sungmin dari belakang dan betapa terkejutnya dirinya melihat Sungmin menangis tersedu-sedu layaknya anak kecil.

"Sungmin, apa yang terjadi ?" Kyuhyun menangkup kedua pipi gembil Sungmin dengan raut cemas.

Sungmin yang masih kesal kemudian menepisnya kasar. "Hiks...kau terus saja memarahi ku. Aku tidak ingat apapun, tapi kau masih saja memarahi ku." Adunya jujur. Ia memang tak mengingat apapun.

Kyuhyun merengkuh tubuh Sungmin kedalam pelukannya. Ia merasa jika semakin hari Sungmin semakin bertingkah seperti gadis belasan tahun lalu. Sangat manja dan kekanakan. Mungkin juga ia memang sudah keterlaluan memarahinya. Kyuhyun hanya berfikir jika Sungmin juga seharusnya bisa menjaga segala sesuatu yang berharga dengan baik.

"Maafkan aku sayang, mungkin aku berlebihan" Kyuhyun menciumi pucuk kepala Sungmin sayang. Ia tidak bermaksud memarahi gadis kecilnya itu, hanya saja mungkin Sungmin salah faham dengan semua perkataannya yang bermaksud baik.

Sungmin bungkam dan tak berniat membalasnya. Ia masih terlalu kesal. Bayangkan saja 1 jam lamanya Kyuhyun terus saja berceloteh mengenai sifat teledornya menghilangkan sesuatu. Ia cukup sakit hati Kyuhyun terus saja memojokannya dengan sifat buruknya tersebut.

"Kenapa diam hm ? Kamu marah ya ?" Tanya Kyuhyun begitu lembut.

"Habisnya kau terus memarahi ku, aku kesal juga." Keluh Sungmin dengan wajah masamnya yang tak lagi menangis.

Kyuhyun terkekeh melihat tingkah kekasihnya tersebut.

"Maaf...aku tidak bermaksud seperti itu. Cincin ini kan untuk pernikahan kita, sebaiknya kita menyimpannya dulu sebelum pemberkatan pernikahan kita. Tidak baik jika kau memakainya sekarang." Bujuk Kyuhyun begitu lembut. Berbicara dengan Sungmin memang harus penuh kesabaran jika tidak ingin Sungmin kembali merajuk.

"Arra, aku akan berusaha melepasnya nanti."

Kyuhyun tersenyum menawan.

"Baiklah," Kyuhyun bergerak kembali mencium kening Sungmin lama, "Tidurlah yang nyenyak dan mimpi yang indah. Selamat malam sayang."

Sungmin sempat tertegun mendapati sikap Kyuhyun. Mencium keningnya. Hatinya berdesir aneh, seolah ada ribuan kupu-kupu singgah diperutnya.

Malam ini pasti sulit lagi untuknya tertidur. Setiap kali Kyuhyun menciumnya, sulit sekali Sungmin untuk bersikap tenang. Ada apa dengan tubuhnya, pasti efek kepalanya yang terbentur.

ooo000ooo

Sungmin menguap lebar saat keluar dari kamarnya. Bangun siang seperti ini sangat menyenangkan. Tidak ada tugas kantor yang harus yang harus ia selesaikan, yang ada hanya kebebasan untuknya bermalas-malasan.

Dengan langkah gontai, Sungmin berjalan menuju dapur mencari keberadaan Ryewook yang sudah pasti disana. Sahabatnya tersebut memang gemar memasak ketika hari libur seperti ini.

"Kau sudah bangun eoh ?" Tanya Ryewook sambil menyuapkan potongan telur omlet kedalam mulutnya.

"Uhm..." Jawab Sungmin hanya dengan gumaman sambil meneguk segelas air putih dihadapannya. Kemudian ia ikut duduk dihadapan Ryewook.

"Makanlah, dasar gadis pemalas. Kamu ini calon isteri tapi masih saja suka bangun siang, kamu harus menghilangkan kebiasaan buruk mu itu min. Segera !" Ryewook menyodorkan sepiring omlet lainnya yang yang memang ia siapkan untuk Sungmin.

Sungmin mengerucutkan bibirnya kesal, padahal ia bangun dalam keadaan mood bagus tapi Ryewook sepagi ini sudah menceramahinya. Sangat menyebalkan.

"Ini masih jam 8 wook-ah." Gerutu Sungmin sambil menyuapkan omlet tersebut kedalam mulutnya.

"Ya terserah kau saja nyonya Cho."

"Uhm, kau pulang jam berapa semalam ?" Tanya Sungmin mencoba membuka topik baru selain membahas pernikahan, calon isteri, dan juga Kyuhyun. Ia sudah cukup jengah.

"Entah, pukul 10 mungkin atau lebih. Banyak sekali pekerjaan ku yang belum selesai karena komputer tua itu." Keluh Ryewook sedikit kesal, setiap hari harus melembur secara percuma.

"Oh, kau harus membicarakannya dengan manager Kim kalau begitu."

"Tidak ada gunanya, nanti aku akan membawa laptop saja."

Sungmin mengangguk faham, ia juga tau jika managernya itu memang cukup pelit mengeluarkan uang perusahaan untuk hal-hal yang menurutnya masih layak pakai.

"Oh ya, kau sendiri, kau pergi kemana saja bersama tuan Cho ? Kau berkencan atau makan malam romantis eoh ?" Goda Ryewook, begitu penasaran dengan perkembangan hubungan Sungmin dan Kyuhyun.

"Tidak ada, kami hanya-"

"Asataga, ini cantik sekali."

Ryewook memekik kagum mengangkat jemari Sungmin yang sudah berhiaskan cincin berlian.

"Ini sangat cantik dan pasti mahal. Kau mendapatkanya semalam dari Kyuhyun ?"

Sungmin mengangguk lemas, "Ya, dan Kyuhyun mungkin akan membunuh ku jika aku menghilangkannya."

"Aku setuju, mungkin aku akan melakukannya juga jika menjadi Kyuhyun." Tambah Ryewook.

"Yaa ! Kau ini." Dumel Sungmin tak percaya jika Ryewook juga akan berfikiran sama dengannya.

"Kamu ini sangat ceroboh, kau bahkan sudah menghilangkan cincin pertunangan mu. Bagaimana Kyuhyun tidak marah, barang sepenting itu kamu hilangkan. Dasar bodoh."

Jadi benar, jika dirinya memang sudah menghilangkan benda seberharga itu, baiklah kali ini ia sudah bertekad untuk menjaga cincin dijemarinya tersebut agar tidak hilang. Tapi jika begitu, ia akan menikah dengan Kyuhyun ?

Kring...

Kring...

Kring...

Keduanya terlonjak kaget mendengar telepon rumah mereka berdering nyaring. Sungmin berinisiatif untuk mengangkat panggilan tersebut.

"Ya ?"

Disebrang sana menyapa dengan nada kelegahan. Sungmin begitu hafal dengan suara nyaring tersebut milik calon ibu mertuanya.

"..."

"Maaf, aku meninggalkan ponsel ku didalam kamar. Aku sedang sarapan bersama Ryewook." Jelas Sungmin.

Calon ibu mertuanya tersebut kemudian langsung saja menyampaikan maksudnya menghubungi Sungmin sepagi ini.

"..."

Sungmin mengerutkan dahinya tidak yakin dengan permintaan Heechul. Tapi sekali lagi, ia tidak pernah bisa menolak permintaan Heechul yang terdengar mutlak.

"Nde ma, arraso."

Sungmin mendesah murung. Weekendnya kembali terusik, padahal rencanya hari ini akan tidur seharian tanpa melakukan kegiatan apapun tetapi selalu ada saja yang harus ia lakukan.

ooo000ooo

"Maaf ya merepotkan mu sayang.." Dusta Heechul memperlihatkan muka murungnya. Didalam hatinya, ia ingin sekali tertawa girang dengan rencananya.

Ia menyuruh Sungmin mengantarkan bekal untuk Kyuhyun dengan dalih ia tiba-tiba saja harus menemani Hangeng pergi kesuatu tempat. Sungmin sempat menanyakan kenapa Kyuhyun tidak memesan makanan saja tetapi Heechul kembali mengatakan jika makanan diluar sana belum tentu sehat dan juga ia sudah berjanji akan memasakan untuk Kyuhyun khusus hari ini.

Sungmin yang diminta bantuannya untuk mengantarkan bekal tersebut, mau tak mau menyetujui permintaan Heechuk tersebut.

"Tidak masalah ma, kalau begitu aku pergi sekarang."

"Nde, hati-hati sayang."

Sungmin kembali masuk kedalam taxi yang ia gunakan tadi setelah berpamitan dengan Heechul. Bukan hal yang sulit, hanya mengantarkan bekal saja dan kemudian ia bisa kembali berkencan dengan ranjangnya. Itu saja sih mudah. Ia bisa melakukannya.

Butuh 30 menit untuk menempuh perjalanan menuju perusahaan Cho Kyuhyun. Sungmin yang baru pertama kali mengunjungi perusahaan Kyuhyun sedikit terperangah melihat gedung yang begitu tinggi dan besar dihadapannya tersebut. Ia bahkan memperkirakan jika gedung tersebut memiliki 30 lantai.

Ia baru saja sadar jika ia akan menikahi seseroang yang sangat kaya raya. Kekayaan Kyuhyun bahkan bukan berasal dari keluarganya, ini murni hasik kerja keras Kyuhyun selama ini. Betapa Kyuhyun terlihat pekerja keras. Memang terlihat dari ia yang bahkan bekerja dihari sabtu dan minggu jadi wajar saja jika Kyuhyun bisa seksuses ini. Pria itu sangat ambisius.

.

.

"Hatchimmm..."

"Yaishh, sudah kukatakan untuk tidak membahas pekerjaan hari ini. Lihat saja kondisi tubuh mu tidak bisa berbohong." Keluh pria berlesung pipi tersebut melihat partner kerjanya tersebut.

"Kau berisik sekali won, kita harus menyelesaikannya hari ini juga." Kyuhyun masih bersikeras menyelesaikan pekerjaan mereka hari ini.

Siwon, pria berlesung pipi tersebut sedikit kesal karena sifat workholic yang Kyuhyun miliki tersebut tak pernah bisa berkurang sejak dulu hingga mau tak mau ia sebagai partner bekerjanya juga ikut terseret-seret.

"Ah padahal aku merindukan hyun woo dan Kibum." Siwon mendesah kecewa, lebih tepatnya berpura-pura memasang wajah menyedihkan.

Kyuhyun menghentikan kegitannya memeriksa dokumen ditangannya ketika mendengar Siwon mengeluh seperti itu. Ia sepertinya lupa jika Siwon bukanlah pria single sepertinya. Siwon memiliki keluarga kecilnya sendiri, berbeda dengan dirinya yang masih betah membujang. Seharusnya ia tidak melupakan hal tersebut.

"Maaf membuat mu lembur hyung."

"Gwencana, sudah biasa bukan. Tapi minggu depan, tidak lagi Kyu."

Kyuhyun tersenyum simpul, "Baiklah."

Keduanya kembali memeriksa beberapa perencanaan yang akan mereka ajukan pada para klien nanti.

"Oh ya, bagaimana dengan Sungmin ? Apa rencana pernikahan kalian akan ditunda ?" Tanya Siwon kembali membuka pembicaraan diantara mereka. Berdiam saja semakin membuat dirinya suntuk dan mengantuk jadi lebih baik mereka membuat obrolan saja.

"Aku tidak tau, sampai sekarang Sungmin masih belum mendapatkan ingatannya sama sekali."

Kyuhyun menatap sendu kearah dokumen dihadapannya. Ia tidak bisa memungkiri jika dengan perubahan Sungmin membuat dirinya sedih. Dulu mereka saling mencintai, namun sekarang Sungmin menatapnya dengan pandangan benci. Gadis itu sudah benar-benar melupakannya. Melupakan cinta mereka.

"Jangan mundur, wanita itu suka sekali jual mahal. Aku yakin, Sungmin yang dulu maupun yang sekarang sama saja. Sama-sama mencintai mu." Siwon sedikit merasa iba. Bagaimanapun ia tau bagaimana pandangan Kyuhyun terhadap Sungmin itu sangat terlihat mencintai gadis muda tersebut. Meski kadang kala Siwon merasa jika Sungmin memang bersikap berlebihan.

"Ya, aku berharap seperti itu. Walau sekarang aku seperti menghadapi gadis remaja yang labil, tapi itu cukup manis haha." Gurau Kyuhyun mengingat sikap Sungmin yang memang terlihat seperti remaja saja.

"Eoh ? Wae ?"

"Dia seperti mendapatkan menstruasinya setiap kali aku menggandeng tangannya. Kalau ku cium dia hanya diam dan setelahnya memaki ku. Labil sekali bukan ?"

"Hahah kau cukup agresif juga sampai menciumnya yang tak ingat apapun." Siwon berucap memuji dengan ketangguhan Kyuhyun. Walau bagaimanapun akan terasa aneh berciuman dengan orang yang Sungmin anggap asing.

Kyuhyun hanya membalasnya dengan senyuman. Ia cukup mendapatkan pembelajaran dari sikap agresif Sungmin dulu yang selalu mengejarnya. Meski bukan dalam bentuk sentuhan fisik.

.

.

Sungmin sedikit merasa kebingungan mencari informasi dimana ruangan pemilik perusahaan ini. Cho Kyuhyun. Dihari sabtu seperti ini wajar saja tidak banyak orang didalam kantor tersebut, hanya ada beberapa orang saja yang Sungmin perkirakan jika mereka itu tak ada bedanya dengan Kyuhyun. Gila bekerja.

Dengan ragu-ragu Sungmin mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada receptcionis terdekat. Wanita berseragam kantoran tersebut sedikit melirik sinis melihat tampilan Sungmin yang hanya mengenakan jeans dan hoodie. Terlihat sangat kekanakan.

"Apa adik sudah membuat janji dengan tuan Cho ?" Tanya wanita itu lagi.

Sungmin sedikit mengeram kesal karena panggilan wanita tersebut. 'Adik' ? Yang benar saja, ia bahkan calon nyonya besar disini, tetapi wanita ini tidak sopan sekali memanggilnya seperti itu.

"Yah, aku hanya ingin mengantarkan ini." Sungmin sedikit membanting keras kontak bekal makannya dimeja receptcionis tersebut. Tidak perduli jika makanan didalamnya berantakan. "Apa aku perlu membuat janji dengan tunangan ku sendiri eoh ?" Untuk yang pertama kalinya Sungmin mengakui Kyuhyun sebagai tunagannya. Ia pasti sudah tidak waras.

Nyali wanita tersebut sedikit menciut jika benar gadis kecil dihadapannya tersebut memang calon isteri bossnya yang sering diperbicangkan itu. Dengan terbata wanita tersebut mengatakan dimana Kyuhyun berada.

"Dasar, awas saja akan ku adukan pada Kyuhyun !" Dumel Sungmin masih saja kesal saat memasuki lift.

Sungmin masih saja bingung mencari ruangan Kyuhyun setelah dirinya sampai dilantai 20 kantor tersebut. Lantai ini bahkan terlihat sepi tak berpenghuni. Seperti anak ayam yang kehilangan induknya, Sungmin mencari-cari ruangan dimana Kyuhyun berada.

Sungmin sedikit merasa legah melihat sosok wanita dengan penuh percaya diri melangkah kearahnya. Saat mereka berpapasan, wanita tersebut seperti tak tampak melihatnya. Ia anggap apa Sungmin. Kenapa wanita diperusahaan ini sangat menyebalkan.

"Cogi !" Teriak Sungmin membalikan tubuhnya agar menghadap wanita tadi.

Reflek wanita tadi pun menoleh kearah Sungmin. Dan betapa terkejutnya dirinya melihat Sungmin dengan tampilan yang begitu kekanakan. Ia bahkan tidak mengenali Sungmin tadi, ia hanya berfikir jika Sungmin kurir makanan.

"Cogi, apa kau tau dimana letak ruangan Kyuhyun ?"

Seulgi semakin terperangah melihat sikap Sungmin yang seperti baru pertama kali bertemu dengannya. Apa ia salah mengenali Sungmin, kenapa wanita dihadapannya tersebut seolah tidak mengenalinya sama sekali.

"Sungmin-ssi ?"

Sungmin cukup mengenali suara bass tersebut dan menoleh kearah belakang.

Siwon, ia ingat saat namja tersebut menjenguknya dirumah sakit dulu bersama isterinya.

"Oh, tuan Choi." Sungmin sedikit menundukan kepalanya hormat.

"Kau ingin menemui Kyuhyun ?"

"Um.."

"Ikut dengan ku."

Siwon yang hendak membeli beberapa cangkir kopi kebetulan melihat sosok mungil yang sepertinya ia kenali. Dan benar saja itu Sungmin, tunangan sahabatnya.

"Apa dia tidak waras ?" Gumam Seulgi masih tidak percaya dan masih mematung ditempatnya tadi.

ooo000ooo

"Kalau begitu aku tinggal.." Siwon yang tau diri untuk tidak menganggu Kyuhyun dan sungmin lebih memilih keluar dari ruangan tersebut setelah mengantar Sungmin memasuki ruangan tersebut.

Kyuhyun tersenyum cerah melihat Sungmin dihadapannya. Tidak perduli lagi dengan semua berkasnya, ia menghampiri Sungmin dan bersiap memeluk tubuh mungil kekasihnya tersebut namun Sungmin langsung beringsut dan berlarian kecil menuju sofa.

Kyuhyun terkekeh melihat tingkah Sungmin kemudian ikut mendudukan dirinya disebelah Sungmin.

"Kau merindukan ku ya ?" Goda Kyuhyun sambil memenjarakan tubuh Sungmin dengan kedua tangannya yang melingkari lengan tangan Sungmin.

"Eihh, kamu percaya diri sekali. Lepaskan ! Dasar mesum." Sungmin memberontak meminta dilepaskan namun Kyuhyun semakin asik untuk menggoda Sungmin dan menciumi pipi Sungmin.

"Haha tidak usah sungkan seperti itu, bahkan waktu itu kau membalas ciuman ku."

Sungmin langsung membekap mulut frontal Kyuhyun. Bagaimana bisa pria disampingnya tersebut begitu fulgar berkata seperti itu.

"Ajushi, kau ! Itu, hanya kesalahan."

Kyuhyun menyingkirkan telapak tangan Sungmin dari bibirnya dengan kesal.

"Apanya yang salah ? Kau saja tidak mau mengaku, mau kucium lagi eoh ?"

Kyuhyun sudah bersiap mencium Sungmin dan mendorong tubuh Sungmin namun saat dirinya hendak menciumnya. Seulgi, sekertarisnya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu membuat suasana diantara mereka bertiga menjadi kaku. Sungmin berpura-pura membereskan kotak makanan didepannya sedangkan Kyuhyun kembali bersikap tenang.

"Maaf tuan Cho, saya hanya ingin menyerahkan berkas ini."

"Eum ya, letakan saja diatas meja ku." Jawab Kyuhyun begitu kikuk.

Seulgi menatap iri kearah Sungmin yang masih saja sok sibuk dengan kotak bekal tersebut. Cemburu, tentu saja ia cemburu dengan hubungan Sungmin dengan Kyuhyun. Selama ia bekerja dengan Kyuhyun, tidak sekalipun Kyuhyun tertarik untuk melirik yeoja lain meski begitu banyak wanita diluar sana yang dengan suka rela menyerahkan tubuh mereka jika Kyuhyun mau.

Tapi dengan Sungmin, Kyuhyun yang terkenal begitu acuh dan dingin terhadap wanita bisa sehangat dan begitu terlihat mencintai gadis itu. Seulgi yakin jika Sungmin tak cukup dewasa untuk mendampingi Kyuhyun yang harusnya memerlukan wanita dewasa ketimbang gadis naif seperti Sungmin. Gadis itu bahkan masih terlihat labil jika Kyuhyun berdekatan dengan klien wanitanya. Sangat pencemburu, seperti itu yang Seulgi tau.

"Seulgi-ah, gwencana ?"

Seulgi terkesiap, rupanya ia tadi tengah melamun.

"Ah, ye. Gwencana. Maaf, aku akan segera keluar. Jika tuan Cho memerlukan ku, anda bisa memanggil ku kembali." Seulgi membukukan badannya sebelum keluar dari ruangan tersebut.

Deg !

'Seulgi'

Entah kenapa Sungmin merasa tidak asing lagi mendengar nama tersebut. Hatinya berdenyut sakit, entah karena apa. Saat Sungmin hendak menatap wajah wanita tersebut terlebih dulu membalikan badannya.

"Apa kau memasak semua ini ?" Tanya Kyuhyun sambil menyuapkan makanan tersebut kedalam mulutnya tanpa melihat perubahan air muka Sungmin. "Sungmin ?" Panggil Kyuhyun kembali yang tak mendapatkan respon dari kekasihnya tersebut.

Sungmin tidak tau kenapa ia begitu merasa sesakit itu, rasanya mau menangis saja. Tanpa sebab yang jelas ia menangis, sangat menyakitkan. Sampai tak terasa air matanya berjatuhan begitu saja.

Kyuhyun terkejut melihat Sungmin menangis. Ia berfikir jika apa sikapnya yang tadi sudah berlebihan sampai membuat Sungmin menangis seperti itu.

"Sayang, kau kenapa ?" Tanya Kyuhyun begitu khawatir.

Namun Sungmin juga tidak menemukan jawaban untuk air matanya, ia juga tidak mengerti kenapa ia menangis. Rasanya mau meledak, hatinya begitu sakit jika masih berdekatan dengan Kyuhyun. Ia langsung berlari dan tak menghiraukan teriakan Kyuhyun yang memanggilnya.

ooo000ooo

Dengan brutal Kyuhyun menekan bell apartemen milik Sungmin dan Ryewook. Jangan tanya kenapa Kyuhyun tidak bisa masuk kedalam apartemen tersebut, sudah pasti semua karena ulah Sungmin yang merubah passwordnya.

Klikk

Ryewook semakin tidak mengerti, apa yang terjadi sekarang. Beberapa saat lalu Sungmin datang dengan wajah sembabnya masuk kedalam kamarnya tanpa memberikan penjelasan sama sekali.

Sekarang Kyuhyun juga datang membunyikan bell pintu apartemennya dengan brutal.

"Dimana Sungmin ?" Tanyanya sedikit kalut.

"Dikamar, apa yang terjadi ? Kalian bertengkar Kyuhyun-ssi?"

Kyuhyun menggeleng lemah, "Tidak, aku juga tidak mengerti."

Kyuhyun kemudian berjalan kearah kamar Sungmin dan Ryewook namun pintu tersebut terkunci saat ia hendak memutar knopnya.

"Sungmin sayang, buka pintunya." Bujuk Kyuhyun begitu memelas.

Ryewook yang tidak mengerti apapun hanya bisa melihat sedih.

"Sayang katakan kau kenapa ? Jangan seperti ini." Gumam Kyuhyun.

Setelah beberapa waktu berlalu, Sungmin masih saja tak membukakan pintu tersebut dan Kyuhyun masih saja bersikeukeuh menunggu Sungmin didepan pintu.

"Kyuhyun-ssi sebaiknya kau membiarkan Sungmin sendiri dulu. Ini sudah larut dan kau juga butuh untuk istirahat." Bujuk Ryewook yang sudah tidak tahan melihat Kyuhyun terus saja membujuk Sungmin sejak 5 jam lalu.

Sahabatnya itu juga cukup keras kepala tidak mau membuka pintu tersebut sama sekali, padahal Kyuhyun dengan sabar terus saja membujuknya.

"Maaf, apa kau terganggu ?"

Ryewook sedikit tidak enak hati, "Ah tidak, bukan itu maksud ku. Hanya saja mungkin Sungmin tertidur, sia-sia saja bukan jika kau menunggunya malam ini."

Kyuhyun berfikir jika apa yang Ryewook katakan mungkin ada benarnya, hanya saja ia masih tidak ingin bergeming dari tempatnya sebelum Sungmin mengatakan sesuatu.

"Tapi aku masih ingin menunggunya, apa kau akan terganggu ?"

"Eum, tidak tidak. Itu tidak masalah. Kalau begitu aku akan pergi tidur lebih dulu." Ryewook berfikir jika Kyuhyun dan Sungmin sama-sama saja keras kepalanya. Tidak heran jika dulu mereka sering sekali bertengkar.

Kyuhyun tertunduk lemas dan merosot duduk bersandar disamping pintu kamar Sungmin. Kakinya sudah tidak kuat lagi berpijak setelah 5 jam berdiri menunggu Sungmin membuka pintunya. Terlebih lagi ia merasa ada yang tidak beres dengan suhu tubuhnya.

Saat pertama kalinya membuka mata, Sungmin merasa kepalanya dihantam batu besar sangat sakit dan pusing sekali. Rupanya ia tertidur setelah tangisnya redah dan terbangun tengah malam seperti ini saat tenggorokannya merasa kering.

Kriettttt

Kyuhyun yang masih terjaga langsung berdiri ketika mendengar suara pintu disampingnya tersebut terbuka.

"Ajushi apa yang kau lakukan disini ?"

Sungmin sedikit terkejut melihat Kyuhyun berdiri dihadapannya setelah ia meninggalkan pria itu begitu saja beberapa waktu lalu. Ia ingat beberapa jam lalu ia mendengar suara Kyuhyun yang membujuknya dari luar pintu tapi ia berfikir jika Kyuhyun pasti sudah menyerah dan pulang.

Tak lagi perduli dengan pertanyaan Sungmin, Kyuhyun langsung saja merengkuh tubuh Sungmin kedalam pelukannya.

"Kau kenapa ? Jangan mendiami ku seperti ini." Rancau Kyuhyun begitu kalut.

Sungmin hanya diam dalam pelukan tersebut. Ia tidak mengerti kenapa Kyuhyun bertindak seperti itu.

Kyuhyun merenggangkan pelukannya dan memandang wajah polos Sungmin yang terlihat bingung.

.

.

"Katakan.."

Keduanya kini sudah kembali berbaring diatas tempat tidur Sungmin. Sungmin sedikit canggung dengan posisi mereka. Ia sempat ingin menolak tetapi wajah lelah Kyuhyun sedikit membuat hatinya terenyuh dan membiarkan Kyuhyun memeluknya.

"Apa ?"

"Kenapa kau menangis tadi ?" Kyuhyun masih penasaran.

"Molla.." Gumam Sungmin. Ia bersungguh, ia memang tidak tau kenapa ia menangis begitu saja tadi.

Kyuhyun sedikit mengubah posisinya hingga dirinya lebih jelas lagi memandangi wajah Sungmin. Ia merasa jika Sungmin memang tidak berbohong hanya saja ia yakin ada sebab yang membuat gadis ini menangis.

"Kau tidak ingin mengatakannya ?"

"Bukan begitu..." Gumam Sungmin sambil meremas pelan kemeja Kyuhyun. "Aku tidak tau kenapa aku bisa begitu, aku hanya merasa sakit mendengar nama wanita itu." Terang Sungmin jujur.

Kyuhyun terpaku membiarkan Sungmin menjelaskan perasaanya saat ini. Ia tidak tau jika Sungmin membenci Seulgi begitu dalam.

"Ajushi..."

"Ajushi, apa kau pernah menyakiti ku ?"

Sungmin berfikir jika mungkin saja ingatan dulu ada kaitan dengan perempuan bernama Seulgi tersebut. Meski itu hanya perkiraan saja.

Kyuhyun kembali bergerak merengkuh tubuh Sungmin agar semakin masuk kedalam pelukannya. Pertama kalinya Sungmin mau terbuka tentang perasaannya terhadap dirinya.

"Apa kau akan percaya jika aku mengatakan selama ini kita baik-baik saja ?"

"Hm...ani"

Kyuhyun mengehembuskan nafas panjangannya. "Kita sudah bersama selama lima tahun lamanya, mustahil bagi kita untuk tidak saling menyakiti satu sama lain."

Sungmin terdiam mencerna perkataan Kyuhyun yang ada benarnya.

"Banyak pertengkaran yang sering kita alami, meski begitu bukankah kita sudah berjanji untuk hidup bersama. Jangan lupakan janji kita sayang."

Kyuhyun ingat sekali satu tahun yang lalu saat mereka berada di China untuk melangsungkan pertunangan mereka dulu, mereka mengucapkan janji tersebut.

"Sehidup semati bersama mu..." gumam Kyuhyun melafalkan perkataan mereka dulu. "Kau ingat ?"

"..."

"Sungmin ?"

Kyuhyun merengangkan pelukannya dan menatap wajah Sungmin yang ternyata sudah terlelap. Ia tersenyum simpul melihat wajah manis Sungmin yang begitu damai.

"Jangan terlalu lama melupakannya, aku masih menunggu kau menepatinya sayang."

Tbc

Kekekke ngaret lg ya ^^ maaf sempet banyak masalah jd males buat ngapa"in...

Maksh ya buat respon "Say I Love You"...akhirnya tuh ff selesai jg jd gk d kejer" readers lg XD kalo lama apdet...

Aku usahain buat apdet tiap minggunya...asal jan banyak siders ya ^^ ayo sini insap aku gk bakal gigit kok kekekek

Maaf ya untuk ff ni berubah haluan jd k rate M, mungkn jg karena ada beberapa saran dari readers kalo ni ff yadong(?) XD ampunn dah...kekek...

Jaga" aja emang rate.y bakal naik ntr...jd terus sabar ikutin aja ya ^^

Buat yg ngerasa aneh bahasa ku d ff ni, harap sesuain aja , aku mencoba bikin suasana baru biar gk keliatan monoton seperti panggilan "Mama dan Papa".

See next Chap...

~Lee Minnkyu