[DISCLAIMER]

The story belongs to it's real author. I just remake it into ChanBaek version.

THE PRICE OF A VIRGINITY

Cast :

Baekhyun, Chanyeol, Kris, Luhan, and others..

Remake story by Karenina

@_@

Chanyeol melajukan mobilnya ke arah kantor dengan perasaan yang berbeda. Kesegaran dan kepolosan Baekhyun benar-benar mempengaruhi jiwanya. Chanyeol merasa, energi positif yang menguar dari tubuh gadis itu menular padanya. Dering ponsel mengganggunya saat ia baru saja tiba di ruangannya. Kris.

"Kau dimana, Chan?"

"Di ruanganku, Kris. Kau sendiri?"

"Aku di kampus, ada jadwal mengajar pagi ini. Bagaimana dengan bertemu nanti saat makan siang di kantor?"

"Hmm, oke." balas Chanyeol singkat.

"Baiklah, sampai bertemu nanti siang." ucap Kris mengakhiri pembicaraan mereka.

Dia pasti ingin tahu kabar Baekhyun, gumam Chanyeol geli.

~@~@~@~@~

Seusai kelas, Kris langsung melajukan mobilnya ke kantor. Menemui Chanyeol di ruangannya.

"Aku pikir kau membatalkan niatmu untuk kemari dan langsung menuju ruanganmu, Kris." seringai Chanyeol.

"Kau tahu London di siang hari kerja, Chanyeol. Macet." Kris menghempaskan tubuhnya pada kursi di depan Chanyeol.

"Jadi, ada urusan apa kau ingin menemuiku? Jangan bilang kau rindu pada adik tampanmu ini, Kris." canda Chanyeol sambil menampilkan cengiran khasnya.

"Dalam mimpimu, Chan." decak Kris kesal.

Chanyeol terbahak melihat ekspresi kesal kakaknya.

"Ini soal Baekhyun. Aku harap kau tidak macam-macam dengannya. Dia gadis muda yang polos, tidak seperti jalang yang biasa kau tiduri." ujar Kris cepat.

"Aku tidak segila itu, Kris." bantah Chanyeol.

"Syukurlah. Karena kemarin kau berkelakuan aneh, begitu tergesa-gesa ingin pergi dari rumah kami. Dan apa ada hal lain yang bisa kami pikirkan dari playboy sepertimu, selain ingin cepat-cepat membawa gadis itu ke ranjang?" jeda sejenak sebelum Kris melanjutkan. "Menurutku, sepertinya Baekhyun menyukaimu, Chan." duga Kris

"Kau terlalu awal menarik kesimpulan, Kris. Baekhyun hanya gadis lugu dan pemalu yang seumur hidupnya tidak pernah berdekatan dengan seorang pria, kecuali adik dan ayahnya. Apalagi pria yang berada di dekatnya itu luar biasa tampan seperti aku." ucap Chanyeol sambil tersenyum lebar.

"Aku serius, Chanyeol." ucap Kris kesal.

"Tadi pagi, dia mengatakannya sendiri, Kris. Dia bilang aku tampan dan kaya. Oleh karena itu dia begitu gugup dan malu ketika berhadapan denganku." ucap Chanyeol lugas.

"Awalnya, Baekhyun pun bersikap seperti itu pada kami. Tapi kenapa saat kau bersamanya sikapnya jadi semakin parah? Lalu semalam, kenapa kau begitu tergesa-gesa meninggalkan rumah kami?" selidik Kris.

"Aku ada janji dengan seseorang." ucap Chanyeol cepat. Tentu saja pria ini tidak akan bercerita tentang hasratnya yang sangat menggebu saat melihat Baekhyun untuk pertama kalinya.

"Pasti dengan salah satu jalangmu." kata Kris sinis

"Well, kau tahu itu. Tapi aku memiliki niatan untuk mengakhiri kesenangan kami." ucap Chanyeol acuh.

"Baguslah. Jadi, kau berniat mengakhiri petualanganmu?" harap Kris.

"Tentu saja tidak. Aku hanya bosan dengannya. Lagipula dia mulai mengatur hidupku, dan kau tau aku tidak suka diatur." sungut Chanyeol.

"Aku pikir kau akan mengakhirinya. Terserah kau lah, aku lapar. Kau sudah makan? Mau ke kafetaria?" ajak Kris.

"Kebetulan yang menyenangkan, Kris. Belum, aku belum makan. Dan karena kau yang mengajak, maka kau yang harus membayar semua tagihannya." ucap Chanyeol, tersenyum sambil menunjukkan deretan gigi putihnya.

"Kau bosnya, Chanyeol." kilah Kris.

"Oh ayolah. Kau dan Luhan sama-sama bekerja, bahkan kau bekerja di dua tempat sekaligus. Kenapa kau pelit sekali pada adikmu yang tampan ini?" rengek Chanyeol.

"Terserah kau lah, Chanyeol" Kris menyerah.

"Jadi?" Chanyeol menunggu.

"Ayo makan, dan aku akan membayar semua tagihan pesananmu. Puas?" ucap Kris sedikit kesal.

"Sangat puas. Terima kasih, Kris. Kau yang terbaik." ucap Chanyeol dengan cengiran khasnya.

Chanyeol pun merangkul lengan Kris keluar dari ruangannya untuk makan siang.

~@~@~@~@~

Sore harinya, saat Chanyeol pulang ke penthouse-nya, ia mendapati Baekhyun sudah berada disana. Gadis itu sedang duduk di balkon lantai dua dengan sebuah laptop usang di pangkuannya.

"Apa yang kau lakukan, Baekhyun?" tanya Chanyeol sambil menyandarkan tubuh tingginya pada bingkai pintu menuju balkon.

Baekhyun menoleh, kemudian menelan ludahnya, gugup. Lelaki ini, dalam kondisi apapun selalu terlihat tampan. Tidak, sangat tampan, batinnya.

"Saya sedang mengerjakan tugas dari tempat kursus saya, tuan." jawab Baekhyun.

"Masih lama?"

"Tuan sudah lapar? Maaf saya belum sempat memasak untuk makan malam karena..." Baekhyun menunduk, merasa sangat bersalah.

"Tidak, bukan begitu, Baek. Jika tugasmu sudah selesai, ayo kita keluar. Berbelanja bahan makanan untuk mengisi lemari es sekaligus makan malam. Bagaimana?"

"Makan malam?" Baekhyun terkejut. Rasa-rasanya dia tak pernah memiliki gaun yang cocok untuk dipakai makan di restoran mewah.

"Iya, makan malam. Aku akan mengajakmu mengunjungi restoran favoritku. Tenang saja, Baekhyun. Makanannya enak, tempatnya bersih, dan sangat homey. Jadi kita tak perlu berpakaian formal untuk makan disana." terang Chanyeol seolah memahami kekhawatiran gadis itu.

Baekhyun tersenyum lega. "Baiklah, tuan. Saya rasa lima belas menit lagi tugas saya akan selesai."

"Take your time, Baek. Sementara kau menyelesaikan tugasmu, aku akan mandi dan bersiap."

~@~@~@~@~

Chanyeol tidak berbohong soal pakaian yang akan dikenakan. Lelaki itu nampak begitu santai dengan kemeja berwarna putih dan celana kargo selutut berwarna army. Kebetulan cuaca London menghangat sore hari ini. Benar kata Baekhyun, lelaki ini akan selalu tampan dengan apapun yang ia kenakan.

Sore ini Baekhyun hanya menemukan kaos longgar berwarna putih yang dipadukan dengan celana panjang jeans berwarna biru. Rambut panjangnya, ia jalin menjadi bentuk kepang Prancis. Chanyeol tak mempermasalahkan penampilan Baekhyun. Karena gadis ini akan selalu tampak cantik dalam balutan kesederhanaan.

Acara makan malam itu pun dimulai dengan mengunjungi salah satu supermarket di London. Mereka harus berbelanja bahan makanan untuk mengisi kulkas Chanyeol yang hampir kosong. Lelaki itu membebaskan Baekhyun untuk mengambil semua bahan makanan yang ingin ia olah dalam seminggu kedepan.

Setelah acara "mari berbelanja demi kelangsungan hidup kulkas kita" selesai, Chanyeol lalu mengajak Baekhyun menuju restoran favoritnya.

"Apakah kau pernah mendengar bahwa London adalah tempat makan paling tidak enak diantara negara-negara lain di Eropa?" ucap Chanyeol sambil tersenyum.

"Saya belum pernah mendengarnya, tuan." balas Baekhyun tersenyum kecil. Gadis itu sudah benar-benar nyaman untuk berada di dekat Chanyeol.

"When someone in London, he must eat fish and chips." Chanyeol tersenyum. "Karena kau baru di London, maka kali ini aku akan membawamu ke salah satu resto fish and chips terenak di London. Poppies Restourant."

"Saya percaya, apa yang anda rekomendasikan kepada saya pasti enak, tuan." balas Baekhyu.

"Kau memang harus percaya padaku, Baekhyun." seringai Chanyeol.

~@~@~@~@~

Restoran yang didirikan pada tahun 1952 itu, memiliki desain vintage tahun 50-an lengkap dengan hiasan foto lama yang terjajar rapi di dinding serta sebuah jukebox di sudut ruangan. Saat Chanyeol dan Baekhyun tiba disana, aroma ikan goreng yang menggoda langsung menyambut keduanya. Mereka memilih duduk di sudut ruangan karena semua tempat duduk telah penuh terisi pengunjung. Chanyeol memesan dua porsi fish n' chips yang berisi ikan kod dan telur ikan yang di goreng.

Tak lama menu yang mereka pesan datang. Baekhyun membelalakkan matanya melihat porsi fish n' chips di hadapannya. Ikan kod goreng itu berukuran sebesar tangan Chanyeol, irisan kentangnya dibuat besar-besar, dan telur ikan gorengnya juga sangat banyak. Baekhyun mungkin tak kan sanggup untuk menghabiskannya.

Hazel Chanyeol memperhatikan reaksi Baekhyun yang terkejut melihat porsi makanan di hadapannya dengan sorot geli. "Cicipilah, Baekhyun. Kau pasti akan ketagihan."

Benar apa yang Chanyeol katakan. Fish n' chip ini enak sekali, apalagi jika kau menambahkan saus tomat dan saus tar-tar diatasnya. Atau karena kau memang tak pernah memakannya dan tak pernah tahu rasanya, Byun. batin Baekhyun geli.

Baekhyun menolak saat Chanyeol menawarkan untuk menambah porsi makanannya. "Tidak, tuan Chanyeol. Saya sudah sangat kenyang. Perut saya tak akan sanggup menampung makanan jika kita akan memesan lagi." ucap Baekhyun.

"Kau benar, Baekhyun. Aku juga merasa sangat kenyang." balasnya sambil mengulas sebuah senyum.

~@~@~@~@~

Begitulah cara seorang Park Chanyeol membuat gadis Korea itu merasa nyaman. Jika Chanyeol tidak sibuk di akhir pekan, terkadang dia akan mengajak Baekhyun makan malam di luar dan mencoba berbagai menu di restoran yang berbeda-beda.

Seiring berjalannya waktu, Baekhyun tidak lagi bersikap canggung dan mulai terbiasa dengan keberadaan Chanyeol di sekitarnya. Sosok itu, masih saja menimbulkan debaran di hatinya meski tak separah saat pertama kali mereka bertemu. Gadis ini sudah mampu mengendalikannya. Pernah di suatu pagi saat Baekhyun tengah membuat sarapan, Chanyeol berjalan mendekatinya untuk mencari tahu apa yang sedang ia masak. Baekhyun tertegun. Pasalnya, lelaki itu topless dan hanya mengenakan jeans belel ketat yang memperlihatkan garis ramping pinggangnya. Dan Chanyeol sering sekali berpenampilan seperti itu di depan Baekhyun. Apakah ia tidak sadar, efek yang ia timbulkan dengan berpenampilan seperti itu pada seorang gadis? pikir Baekhyun.

Perasaan itu, Baekhyun belum pernah mengalaminya. Dia cemas, takut jika dia jatuh cinta dengan seorang Park Chanyeol. Baekhyun pernah mendengar dari Naomi, seorang pekerja senior di mansion Kris, bahwa dia tidak pernah melihat Chanyeol membawa wanita bila berkunjung ke tempat Kris. Namun, Naomi sering kali mendengar keluhan Kris tentang kelakuan Chanyeol yang suka berganti-ganti wanita.

Setelah mendengar cerita itu, Baekhyun sedikit menjaga jarak dari Chanyeol, tanpa mengurangi kesopanannya sebagai seorang pekerja. Baekhyun sadar akan posisinya. Ia merasa tidak pantas jika berharap lebih pada Chanyeol tentang hubungan mereka yang hanya sebatas majikan dan pekerja. Apa yang kau harapkan, Baekhyun? Sadarlah dimana kau berdiri sekarang. Dia majikanmu, tidak mungkin dia jatuh cinta padamu. Bangun Baekhyun!!! batinnya miris. Di mata Baekhyun, Chanyeol memang baik, namun itu berlaku untuk semua pekerja di keluarga Park. Kita sama-sama manusia, tak ada bedanya, Baekhyun, kenang Baekhyun akan ucapan Chanyeol dulu. Jangan merasa istimewa, Baekhyun. Kau hanya salah satu dari sekian banyak pekerja di keluarga Park yang kebetulan ditempatkan bersama Chanyeol. batinnya sedih.

Semenjak Chanyeol meninggalkan Marissa, ia tidak lagi memiliki partner sex dan tidak berniat untuk mencari yang baru. Sekarang, setelah pulang kantor, ia akan segera melajukan mobilnya menuju penthouse miliknya. Ia menyukai masakan Baekhyun dan berlama-lama di dapur bersama Baekhyun adalah kegiatan baru favoritnya. Chanyeol juga sering mengajak Baekhyun mengunjungi kediaman Kris. Di mansion Kris, Baekhyun lebih memilih untuk mengobrol dengan Naomi atau menemani ketiga kembar Park kecil itu belajar dan bermain. Yup, berusaha menjaga jarak dari Chanyeol.

~@~@~@~@~

Hari ini, Kris dan keluarganya berkunjung ke penthouse Chanyeol. Mereka mendapat kabar bahwa Baekhyun berhasil masuk ke fakultas kedokteran, Oxford University.

Luhan memberi Baekhyun hadiah berupa sebuah laptop keluaran terbaru dari sebuah merk ternama yang lebih tipis dan lebih ringan dari laptop lamanya. Baekhyun sangat senang tentu saja. Tak lupa dia mengucapkan banyak terimakasih pada pasangan Park tersebut.

"Aku harap ini bisa mempermudahmu dalam mengerjakan tugas kuliah nanti, Baekhyun." ucap Luhan tulus. "Untuk sekarang, kau harus membantuku mempersiapkan makanan yang telah aku bawa." canda Luhan. Ia sengaja membawa makanan dari mansion-nya untuk merayakan hari diterimanya Baekhyun menjadi salah satu mahasiswa kedokteran di Oxford University.

Setelah semua hidangan yang dibawa Luhan telah siap di meja makan, mereka lalu berkumpul dan makan bersama dengan lahap. Masakan Luhan memang selalu menakjubkan, sayang jika dilewatkan. Suasana yang tercipta di tengah keluarga Park ini begitu hangat. Mereka makan sambil berbincang kesana kemari dan bercanda. Seusai makan, Luhan membantu Baekhyun membersihkan peralatan makan yang telah mereka pakai. Setelah menyelesaikan tugasnya dan membuat kopi untuk Park bersaudara, Baekhyun beranjak menuju kamarnya dengan alasan ingin mencoba laptop pemberian Luhan. Terlalu klise, bukan? Baekhyun sebenarnya enggan bercengkrama dengan Park bersaudara seperti saat makan malam tadi, terutama dengan Chanyeol. Biarpun sudah tinggal serumah dan mulai terbiasa dengan keberadaan Chanyeol, Baekhyun tidak pernah sekalipun sengaja mengobrol dengan Chanyeol tanpa melakukan aktifitas lain. Biasanya mereka akan mengobrol disaat Baekhyun sedang memasak atau saat dia sedang asyik dengan laptopnya di balkon penthouse Chanyeol.

Ketika Baekhyun naik ke lantai dua, ketiga kembar Matt, Leo, dan Rio menyusulnya. Ketiga bocah berusia delapan tahun tersebut sangat menyukai Baekhyun. Mereka seperti menemukan sosok kakak perempuan yang selama ini mereka idamkan. Baekhyun sangat akrab dengan ketiganya. Bagi Baekhyun mereka adalah pengobat rindunya pada adiknya, Jisung. Dan disinilah Baekhyun, bermain dengan ketiga kembar Park di balkon pentbouse Chanyeol.

"Perasaanku saja atau memang Baekhyun menghindari kita?" tanya Kris.

"Denganku tidak." timpal Luhan.

"Mungkin saja dia merasa enggan karena kita jauh lebih tua darinya. Dia masih sangat muda jika kau ingat, Kris." kata Chanyeol.

"Apakah kau tak pernah mengobrol dengannya, Chan?" tanya Kris ingin tahu.

"Kami mengobrol. Biasanya saat dia sedang di dapur atau saat dia sedang belajar di balkon. Yah, meskipun selalu aku yang aktif bertanya padanya." ucap Chanyeol.

"Sepertinya dia sangat pemalu." kata Kris.

"Sikap pemalunya itu sudah jauh lebih baik sekarang dibanding saat awal dia disini." Chanyeol menyeringai geli.

"Memangnya kenapa?" tanya Luhan penasaran.

Cerita tentang kecanggungan dan sifat pemalu Baekhyun pun mengalir dari mulut Chanyeol. Dia juga menceritakan tentang kebiasaannya yang suka mengajak Baekhyun keluar makan malam hanya agar gadis itu merasa nyaman berada di dekatnya. Mendengarnya, Kris dan Luhan saling melempar tatap penuh arti.

"Jadi, jika kau tak berkunjung ke mansion kami, kau mengajak Baekhyun makan malam di luar?" tanya Luhan, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

"Apa kau tak lagi pergi ke tempat jalangmu itu?" Kris mengernyitkan alisnya.

"Jika yang kau maksud Marissa, aku sudah lama mencampakkannya. Aku sudah bosan dengannya. Dan sekarang aku sedang malas mencari penggantinya." ujar Chanyeol acuh. "Aku harus menelpon seseorang dan ponselku di kamar. Aku naik dulu untuk mengambilnya." pamit Chanyeol.

~@~@~@~@~

Sekeluarnya Chanyeol dari kamarnya, ia tak langsung turun. Ia tertarik mendengar suara Baekhyun dan ketiga ponakannya. Ia penasaran tentang apa yang mereka bicarakan hingga terdengar sangat seru seperti itu. Diam-diam Chanyeol berjalan kearah pintu menuju balkon dan bersembunyi di baliknya. Menguping semua pembicaraan Baekhyun dan keponakannya.

"Baekhyun, aku ingin kau mengajakku ke Korea agar aku bisa berkenalan dengan Jisung." pinta Matt.

"Aku ikut, Baekhyun. Aku ikut." seru Leo.

"Ajak aku juga, Baekhyun." teriak Rio tak mau kalah.

"Iya, iya, kalian pasti akan kuajak." Baekhyun berusaha menenangkan ketiga kembar Park yang sangat berisik itu.

"Apakah kau juga akan mengajak paman Chanyeol?" celetuk Leo.

Chanyeol, yang masih bertahan di balik pintu, tersenyum geli ketika mendengar namanya ikut terbawa dalam obrolan keempat orang tersebut.

"Tentu saja tidak, Leo." balas Baekhyun cepat.

"Tapi kau harus mengajak paman Chanyeol." ucap Matt.

"Kenapa harus, Matt?" ucap Baekhyun tertawa kecil.

Chanyeol semakin tertarik mendengar obrolan Baekhyun dengan ketiga ponakannya. Ia tak menyangka Baekhyun bisa selepas ini saat berbicara dengan keponakannya, tidak seperti saat Baekhyun berbicara dengannya.

"Karena kau kekasih paman Chanyeol." duga Matt dengan polosnya.

"Bukan, Matt. Bukan. Pamanmu adalah majikanku. Kau tak boleh bicara seperti itu, Matt." kata Baekhyun terkejut.

"Kau adalah kekasih paman Cahnyeol." Matt tetap bersikeras. Leo dan Rio yang duduk di sebelahnya, nampak setuju dengan pendapat saudara kembar mereka.

Kenapa bocah-bocah ini berbicara seakan mereka tahu apa itu kekasih? Siapa yang mengajari mereka untuk bicara layaknya orang dewasa seperti saat ini? pikir Baekhyun.

"Dan kau harus menikah dengan paman Chanyeol." ujar Rio tiba-tiba.

Chanyeol sangat terkejut mendengarnya. Dan sekarang, lelaki itu sangat penasaran dengan reaksi yang akan Baekhyun berikan pada ketiga ponakannya.

"Rio, kau juga tidak boleh berbicara seperti itu." ucap Baekhyun panik. " Jika kalian masih tetap menggangguku dengan ucapan seperti tadi, maka aku akan segera masuk kamar dan tidak akan pernah mengajak kalian ke Korea." ancam Baekhyun pura-pura marah sambil berdiri.

Melihat Baekhyun yang tiba-tiba berdiri, Chanyeol dengan cepat menyingkir dari balik pintu balkon dan turun ke bawah. Menyebabkan ia tidak bisa lagi mendengar lanjutan obrolan mereka. Padahal Chanyeol sangat penasaran dengan akhir dari obrolan ketiga bocah dan satu dewasa tersebut.

Ketiga bocah usil itu panik mendengar ancaman Baekhyun. Mereka pikir dengan membuat Baekhyun marah sama saja dengan membatalkan acara mereka berkunjung ke Korea dan bertemu dengan Jisung. Oleh karena itu, merela lalu meminta maaf pada Baekhyun dan memintanya tetap membawa mereka ke Korea. Baekhyun merasa geli melihat ekspresi menyesal ketiga bocah tersebut. Dia pun tersenyum lembut, memaafkan untuk kemudian memeluk bocah-bocah itu bersamaan.

"Ingat, jangan lagi kalian ulangi ucapan kalian tadi. Paman kalian adalah majikanku. Bagaimana jika dia marah bila mendengar ucapan kalian dan memecatku? Aku takkan bisa lagi bermain dengan kalian." tutur Baekhyun sungguh-sungguh.

"Kenapa paman Chanyeol harus marah?" kejar Leo penasaran.

Iya, kenapa Chanyeol harus marah? Kenapa pula aku mengucapkan alasan itu pada mereka? sesalnya dalam hati.

"Karena aku bukan kekasihnya." ucap Baekhyun tajam.

"Padahal, aku ingin kau menjadi bibiku." harap Leo. Matt dan Rio pun menganggukkan kepalanya tanda bahwa mereka memiliki harapan yang sama dengan saudaranya.

"Apakah kita harus memberitahu paman Chanyeol, agar mau menikah dengan Baekhyun?" ucap Rio spontan.

Baekhyun panik. "Tidak. Jangan. Sepertinya aku akan masuk kamar saja dan tak akan pernah bermain dengan kalian lagi. Selamanya." ancam Baekhyun serius.

Lagi-lagi ketiga kembar Park ini panik dan khawatir. Selamanya tidak bermain dengan Baekhyun sama saja dengan kehilangan sosok kakak perempuan yang selama ini mereka idamkan. Ketiganya pun berakhir meminta maaf kembali pada Baekhyun.

"Ini kali kedua kalian meminta maaf padaku. Apakah kalian bisa aku percaya untuk tidak lagi mengulang ucapan kalian tadi?" ucap gadis itu masih tak percaya.

Ketiga bocah itu pun mengangkat kedua jari mereka, bukti keseriusan mereka pada Baekhyun. "I swear, Baekhyun." ucap mereka kompak.

"Hmmm, oke. Kalian aku maafkan." ucapnya merasa lega sekaligus geli melihat ekspresi menyesal mereka untuk kedua kalinya.

Tak lama kemudian Luhan muncul dan mengajak ketiga jagoannya pulang.

"Ada apa ini? Kenapa kalian serius sekali?" tanya Luhan heran.

"Rahasia, mom. Benar kan, Baekhyun?" ucap Matt tersenyum sambil menunjukkan deretan rapi giginya.

"Oke, jadi mommy benar-benar tidak boleh tau?" tanya Luhan menggoda anak-anaknya.

"No, mom. Never." jawab Matt disusul anggukan kedua saudaranya.

"Baiklah, baiklah. Mommy menyerah. Sekarang kita pulang, ya?" pinta Luhan.

"Baik, mom." ucap Matt lesu, tak ingin berpisah dari Baekhyun. "Kami pulang dulu Baekhyun. Bye."

"Bye, Baekhyun." ucap Leo.

"Me too Baekhyun, Bye." pamit Rio menyusul kedua saudaranya sambil melambaikan tangan pada Baekhyun.

Baekhyun pun tersenyum lembut sambil membelas lambaian tangan mereka.

~@~@~@~@~

Pagi harinya, seusai sarapan dan membersihkan dapur serta peralatannya, Baekhyun beniat beranjak ke kamarnya seperti biasa. Namun, kali ini langkahnya dicegah oleh Chanyeol yang memintanya untuk menemani lelaki itu menghabiskan kopi paginya.

"Baekhyun, kau mau kemana? Bisakah kau temani aku meminum kopi?" ucap Chanyeol tegas, berusaha menyembunyikan seringai di bibirnya.

Baekhyun terpaksa menurut meskipun sebenarnya dia enggan. Berdua bersama Chanyeol di dapur tanpa melakukan apapun benar-benar membuatnya gugup. Ia merasa aneh dengan perilaku Chanyeol yang tiba-tiba memintanya untuk menemani lelaki itu minum kopi.

Chanyeol menyuruh Baekhyun duduk sementara dirinya membuat dua cangkir kopi. Kopi untuk Baekhyun dia beri campuran creamer, sedangkan untuk dirinya kopi hitam murni tanpa tambahan apapun. Setelah kopi itu siap. Chanyeol membawanya ke meja dimana gadis itu duduk dengan manis. Chanyeol duduk di depan gadis itu dan meletakkan kopi dengan tambahan creamer itu di hadapan Baekhyun.

"Kopimu, Baekhyun." ucapnya memulai pembicaraan

"Terima kasih, tuan." ucap Baekhyun gugup.

"Kau sadar, Baekhyun. Kita tak pernah sekalipun mengobrol seperti ini. Bahkan setelah berminggu-minggu kau tinggal disini. Kalaupun terjadi obrolan diantara kita, itu karena aku yang memulai dan kau selalu menjadi pihak pasif yang lebih banyak diam. Obrolan kita pun biasanya terjadi saat kau sedang berkegiatan atau saat kita keluar makan malam." tutur Chanyeol panjang lebar.

Keterdiaman Baekhyun membuat Chanyeol melanjutkan ucapannya. "Aku penasaran, apa kau benar-benar tidak memiliki kekasih?"

Baekhyun yang sedang meneguk kopinya, kontan saja tersedak saat mendengar ucapan pria di depannya itu.

"Tidak, tuan Chanyeol. Saya tidak pernah memiliki kekasih."

"Tidak pernah jatuh cinta?" ucap Chanyeol menyelidik.

"Ti-ti-dak pernah, tuan." ucapnya gugup. Apa maunya pria ini? jantung Baekhyun berdegup keras.

"Boleh aku tahu alasannya?" Chanyeol bersandar di kursinya dan memandang Baekhyun penasaran.

Tolong jangan pandangi aku seperti itu, pikir Baekhyun panik dan langsung menundukkan wajahnya.

"Mungkin tuan tidak akan percaya, namun saya berasal dari keluarga miskin. Sejak kecil saya sudah bekerja demi memenuhi kebutuhan pribadi saya. Namun anda jangan salah sangka, tuan. Orang tua saya tidak pernah memaksa saya untuk bekerja." Baekhyun coba mengangkat wajahnya, menatap Chanyeol malu-malu.

"Aku percaya, Baekhyun" Chanyeol tersenyum lembut.

"Sejak kecil saya suka sekali membaca, berbeda dengan anak-anak lainnya. Rasa ingin tahu saya besar sekali. Saya juga suka mempelajari bahasa asing. Hingga suatu hari saya sadar, saya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan pribadi saya tanpa merepotkan orang tua. Karena itu, saya tak sempat memikirkan untuk memiliki kekasih dan jatuh cinta." Baekhyun lancar bercerita dan suaranya terdengar ceria.

"Kau gadis yang cerdas, Baekhyun. Wajar saja jika Oxford menerimamu menjadi salah satu mahasiswanya." puji Chanyeol.

Hanya cerdas, batin Baekhyun kecewa.

Chanyeol mendadak berdiri. Baekhyun mengira lelaki itu akan beranjak dari dapur. Nyatanya tidak, Lelaki itu memutari meja. Mendekati Baekhyun dengan perlahan. Suasana dapur mendadak berubah dan Baekhyun gugup menghadapinya. Baekhyun dengan sisa keberaniannya, berusaha mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu, saling bertatap dalam diam. Baekhyun tanpa sadar membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa kering karena gugup. Suasana menjadi sangat hening. Bahkan Baekhyun bisa mendengar detak jantungnya yang semakin tak terkendali juga helaan nafas yang lelaki itu hembuskan.

Jarak mereka semakin dekat, Hazel Chanyeol menyala berbahaya yang sialnya Baekhyun tak paham maksudnya. Namun, saat lelaki itu meraih pinggang Baekhyun erat untuk dipeluknya, Baekhyun sama sekali tidak keberatan. Tanpa sadar, Baekhyun membenamkan wajahnya di bahu pria beraroma maskulin itu. Baekhyun tidak paham maksud lelaki ini memeluknya. Apakah tuan Chanyeol merasa kasihan padaku? Atau ini disebabkan karena tuan Chanyeol yang tiba-tiba bergairah? pikirnya. Namun pemikiran itu hanya beberapa saat singgah di benaknya. Ia tak peduli lagi dan menemukan dirinya melekat erat di tubuh pria itu. Baekhyun mengangkat wajahnya dan mata mereka bertemu. Chanyeol yang lebih dulu memulainya. Lelaki itu menundukkan kepalanya dan mencium Baekhyun dengan brutal.

Bibir pria itu terasa manis, lembut, menggoda, dan menuntut. Baekhyun, yang sama sekali tak memiliki pengalaman dalam hal berciuman takut-takut menyambutnya. Chanyeol menarik Baekhyun untuk lebih dekat dan menempel padanya. Hal tersebut membuat Baekhyun dapat merasakan setiap lekukan otot yang dimiliki Chanyeol. Baekhyun terlalu hanyut dalam ciuman Chanyeol hingga tak menyadari bahwa pria itu sudah menjalarkan tangannya ke payudara Baekhyun yang tegang, menyentuh dan meremasnya. Memberikan Baekhyun sensasi baru yang tak pernah dirasakannya.

Baekhyun setengah tak percaya pada apa yang terjadi saat ini. Entah karena apa tangannya bergerak dari bahu pria itu menuju tengkuknya. Menyapukan jari-jarinya pada rambut coklat Chanyeol disana. Namun, hal itu nyatanya membuat Chanyeol dengan cepat melepaskan diri darinya. Nafas lelaki itu terengah-engah dan sinar matanya tampak menggelap.

"Oh, shit!" serunya. "Apa yang sudah aku lalukan?" Chanyeol mendorong Baekhyun menjauh darinya.

Baekhyun terdiam, tak sanggup berkata-kata. Jantungnya masih berdetak sangat cepat membuat wajahnya merona. Entah mengapa ia merasa kecewa saat ciuman itu harus berakhir.

"Kita seharusnya tidak boleh melakukan ini. Maafkan aku, Baekhyun. Maafkan aku." Chanyeol menggumamkan sesuatu setelahnya tanpa bisa Baekhyun dengar. Lelaki itu beranjak meninggalkan Baekhyun yang masih tak percaya dengan semua yang baru saja terjadi. Baekhyun mendengar Chanyeol naik ke lantai dua dengan langkah marah. Setelah kepergian Chanyeol, Baekhyun menghempaskan tubuhnya ke kursi di belakangnya.

~@~@~@~@~

Di dalam kamarnya, Chanyeol memaki dirinya yang tak bisa menahan hasrat dan menyalurkannya pada Baekhyun. Kau bodoh, Chanyeol. Baekhyun gadis yang sangat lugu. Dia tidak seperti jalang yang biasa kau tiduri. Dan dia masih sangat muda, Chanyeol. Usianya jauh berada di bawahmu. Sadarlah, Chanyeol. umpatnya kesal.

Kenyataannya, keluguan gadis itulah yang membuat hasratnya selalu bergelora saat dirinya berdekatan gadis itu. Selama ini, Chanyeol selalu berhasil menahan hasratnya, namun pagi ini lelaki itu nyaris saja gagal membendung napsu bejatnya. Baekhyun adalah satu-satunya gadis yang membuat Chanyeol kehilangan kendali saat hanya berdua dengannya.

Chanyeol memutuskan bahwa dia tidak boleh berlama-lama berada di dekat Baekhyun. Dan untuk saat ini dirinya benar-benar butuh sebuah pelampiasan. Bukan. Bukan Marissa yang saat ini ada di pikiran Chanyeol untuk melampiaskan hasratnya. Chanyeol sudah benar-benar muak dengan wanita itu. Pasalnya, jalang itu sudah dua kali membuat keonaran dengan mendatangi kantornya. Benar-benar menjijikkan, hardik Chanyeol kala itu.

Chanyeol lalu menghubungi nomor seseorang. "Bee, apa kabar?" terdengar teriakan senang dari seberang ponselnya.

Bianca, satu-satunya partner sex Chanyeol yang mampu bertahan lama dengannya. Bianca paham, hubungan yang ia jalani dengan chanyeol hanya untuk kesenangan. Ia tahu Chanyeol tak akan memberikan hatinya, namun dia tak peduli. Yang wanita itu cari hanya kepuasan. Bianca tak terlalu suka terikat dalam suatu hubungan. Dia perempuan bebas. Baginya, Chanyeol adalah teman tidur yang hebat dan menyenangkan saat di ranjang. Dia sering berkata, jika ia akan selalu siap saat Chanyeol membutuhkannya, asalkan wanita itu tidak sibuk dengan pekerjaannya sebagai model. Sayangnya, saat ini wanita itu sedang berada di New York, mengurusi pekerjaannya sebagai model utama iklan salah satu produk ponsel ternama.

"Oh darling, kasihan sekali dirimu. Aku tak percaya seorang Park Chanyeol kehabisan jalang untuk menuntaskan hasratnya." Bianca terkekeh. "Sangat disayangkan, seorang bujangan paling seksi di London merana sendiri karena hasratnya tak sersalurkan." godanya.

"Oh, Bee. Kau tahu itu." keluh Chanyeol. "Baiklah, Bee. Aku tak ingin mengganggu kesibukanmu. Bila kau sudah tiba di London, segera hubungi aku, bye." Chanyeol mengakhiri pembicaraannya dan melemparkan ponselnya ke tengah ranjang dengan kesal. Saat ini, lelaki itu merasa malas untuk mencari one night stand, apalagi setelah kejadian Marissa. Chanyeol sadar, ia harus lebih berhati-hati dalam mencari partner sex-nya kali ini.

Bagian yang paling menjengkelkan dari semua itu adalah, Chanyeol yang begitu menginginkan Baekhyun. Arghh sial, jangan dia, Chanyeol, pikirnya. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa saat lalu. Saat ia terbawa suasana dan berakhir mencium Baekhyun dengan brutal. Ingatan akan kejadian itu benar-benar membuatnya kesal. Bahkan ciuman gadis itu buruk sekali, gumamnya. Namun, hal itulah yang membuat lelaki itu penasaran dan menginginkan bibir itu lagi. Ciumannya memang buruk, namun bibir gadis itu begitu lembut dan manis. Aaargh..., Chanyeol mengerang kesal. Chanyeol sadar, ia tak seharusnya berada disini, terkurung dengan segala keinginannya untuk mencium dan menjamah Baekhyun. Lelaki itu memutuskan untuk pergi dari penthouse-nya guna menenangkan diri.

~@~@~@~@~

Sementara itu, Baekhyun beranjak naik ke kamarnya, setelah merasa yakin Chanyeol sudah masuk ke kamar. Ia masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya rapat-rapat. Ia pandangi sosoknya yang berada di cermin. Ciuman pertama yang di dapatkan dari Chanyeol membuatnya bergairah. Matanya berbinar-binar dan pipinya merona. Ia seperti tak mengenali dirinya dirinya sendiri. Ia menjalankan jemarinya dengan takjub di sepanjang bibirnya yang bengkak oleh ciuman penuh gairah dari Chanyeol.

Jadi, seperti ini rasanya berciuman, pikirnya bergairah. Ingatannya melayang pada saat Chanyeol mengakhiri ciuman panasnya. Mungkin dia kecewa dengan ciumanku yang terlalu buruk, pikirnya sedih. Mungkin dia sadar bahwa aku hanyalah salah satu pekerja di penthouse-nya.

Tiba-tiba Baekhyun malu. Ia merasa takkan sanggup jika harus keluar dari kamarnya. Apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengannya? Ah sial, kenapa aku sebodoh ini? Pasti tuan Chanyeol menganggapku gadis murahan, batinnya. Tapi dia yang memulai. Tuan Chanyeol yang menghampiriku dan menarikku ke dalam pelukannya. Dia yang lebih dulu menciumku. pembelaan datang dari sudut batinnya. Dan kau menyambutnya dengan penuh gairah, Byun Baekhyun, ejeknya pada dirinya sendiri. Perang batin itu membuat Baekhyun malu dengan kenyataan bahwa dia juga menikmati ciuman yang Chanyeol berikan. Malam itu, Baekhyun tidak berani keluar dari kamarnya. Sibuk dengan rasa malu dan segala pikirannya tentang kejadian tadi hingga ia merasa sangat lelah dan jatuh tertidur. Tanpa tahu bahwa ia melewatkan sebuah informasi tentang tuannya yang tidak berada di kamarnya sepanjang sisa malam itu.

To be Continue...

Sorry for all the typos, reader-nim.

Author baru melakukan proofreading, pada saat part 3 udah up. Dan menemukan nama Adriana disana huhu~. Itu seharusnya Baekhyun. Maafkan kecerobohan author, reader-nim. Untuk selanjutnya, author akan lebih berhati-hati dalam menulis dan melakukan proofreading sebelum di up. Sekali lagi maafkan kesalahan author yaa..