Aku ingat sekali, bagaimana diriku yang begitu menghina adegan percintaan di setiap film bergenre romansa yang dulu dengan terpaksa sering kutonton saat masih menjalin kasih dengan teman perempuan SMA-ku.
"Aku begitu bahagia dapat dipertemukan denganmu,"
Demi Tuhan, sebuah kalimat penuh picisan yang dijamin bakal membuatmu tertawa terpingkal-pingkal. Bayangkan saja kekasihmu yang sedaritadi memandang belahan dadamu itu berkata seperti itu, kalimat yang ia ucapkan tersebut seperti meminta ijin untuk dapat menjamah tubuhmu yang mungkin masih perawan pada saat itu.
M'M Series : He's Doubt
CHAPTER 4
PART 1 - Cemburu yang mencumbu Keraguan
Author :Lutung
Genre untuk chapter ini : Drama, Romance, Slice of life, Hurt/comfort, YAOI
Pairing : Kiyoshi X Kise
Antagonist : Aomine
Cast untuk chapter ini : Kisse Ryouta ; Aomine Daiki ; Satsuki Momoi.
Note :
Tema lagu yang ditujukan untuk Kisse Ryouta dalam Part 1 ini menggunakan lagu "Oh Wonder – Body Gold"
Happy reading~
.
.
.
Asal kau tahu saja, semua pria sama saja. Mereka tertarik dengan lawan jenisnya melalui kedua bola mata mereka. Yang dilihat mereka pertama adalah buah dada sembari tangan mereka yang bergerak dalam delusi mereka, membayangkan huruf C atau D kah yang kali ini dapat mereka cumbu.
setelah memastikan kualitas yang akan mereka dapatkan, kedua mata mahluk berjangkun ini akan mendongak, melihat paras yang tuhan berkati padamu. Mengamati merah muda kedua bibir mungilmu yang seperti buah peach yang baru matang, gigi kelinci mungil yang menyempil di balik bibir bawahmu yang kaugigit malu, tak lupa beningnya mata seorang hawa yang memantulkan cahaya kemurnian cinta yang ingin dia serahkan sepenuhnya itu…. Sayangnya, Lelaki itu mahluk bodoh, mereka tak lagi memandang bungkus jika isinya dapat mereka raih dengan mudahnya, tanpa harus menunggu 3 bulan lamanya. Menyedihkan bukan?
Kurasa tak ada yang salah dengan naluri lelaki yang kami miliki ini, seperti petunjuk yang diberikan oleh Tuhan, seolah memberitahu kami mana mahluk yang dapat disentuh dan mana yang tak pantas kami raba apalagi dijamah dengan hembusan nafas nafsu yang dengan mudahnya kami uapkan begitu saja disaat birahi merajai separuh isi otak.
.
.
.
.
.
.
.
Cukup dengan kedua tangan cokelatku ini aku dapat merengkuh nikmatnya kemurnian buah cinta seorang hawa yang dipersembahkan untuku,
Berada di bawah kuasaku, Telanjang seperti sekuntum mawar yang telah ditanggalkan tajamnya duri yang membalut keindahanya, mahkotanya yang secara teratur berserakan di bawah bantal, halus kulitnya yang menunjukan betapa seorang hawa yang mempersiapkan diri sepenuhnya untukku.
Layaknya menandai daerah kuasanya, kesepuluh jariku bergerak menelusuri setiap lekuk tubuhnya, Menodainya dengan cokelat tubuhku di setiap erangan pasrah, kedua bibir mungilnya terbuka menghembuskan uap nafsu sedikit demi sedikit, khawatir jika dia malah meletup sebelum sajian main course hadir di hadapannya.
Tubuhnya yang melengkung bagaikan bulan sabit saat berada di bawahku, embun keringatnya yang sedari tadi aku raba dengan indra pengecapku sembari tanganku mencoba melaburkan warna cokelat yang kumiliki ini untuk menyadur dengan warna putih tubuhnya, Bukankah hal itu semua sebuah kenikmatan sempurna yang tak ada lagi tandingannya di dunia ini?
Karena,
.
.
Selama ini kujalani hidup dengan bernaung di bawah langit Nafsu, itu saja.
.
.
.
.
Lagipula, yang menentukan jalan hidupku siapa lagi kalau bukan aku, huh?
.
.
Haa… Ahh… AKKHHH!
.
.
.
GUBRAAKKKK!
.
.
.
Yah, kurasa alasan yang tepat untuk diriku yang bejat ini melewati hidup monoton yang penuh kepicikan manusia, berlomba-lomba meraih tempat teratas. Ya tentu saja apalagi selain hal itu semua?
Kekuasaan, Semua orang ingin memilikinya dan berada dalam genggaman tangan mereka. Jadi, mudah saja mengandalkan hal tersebut sebagai alasan yang tepat untuk menjelaskan bagaimana diriku yang masih berada di kantor setelah jam kerja telah usai 3 jam yang lalu, terengah-engah untuk bangkit setelah tertabrak tembok kenikmatan yang efeknya begitu dahsyat, membuatku tanpa sadar telah menggebrak laptop putih dengan kepalan tangan kiriku yang terdiam bersandar di meja kayuku. Suara laptop yang terbanting itulah yang sebenarnya membuatku sadar bahwa di bawah meja kerjaku,
"mmhh…"
disekanya cairan putih yang mengambang di pinggir mulutnya.
"Ah, kena di dasiku juga nih..." dia menggerutu tapi bibirnya yang tadi disekanya itu melengkung tersenyum manja.
Jemariku yang mengusap pinggir bibirnya, dan matanya yang kemudian disusul cengkungan di pipi kananya yang nampak saat tersenyum ke arahku, "Selamat untuk menjadi salah satu calon pimpinan B12,"ucapanya terhenti namun berlanjut dengan, "Aominecchi." Kemudian bangkit berdiri menuju tempat minum yang hanya berjarak 5 langkah, berkumur untuk membersihkan sari tubuhku yang tersisa dalam mulutnya tersebut. Meninggalkan diriku yang masih terduduk membetulkan resleting.
"Masih terlalu awal mengucapkan selamat untukku," kelahku sembari mengembalikan posisi dasiku ke depan. Walau aku sudah tahu hasilnya akan seperti apa, batinku.
Aku masih sedikit termenung melihat isi tas kerjaku saat memasukan peralatan kerjaku sebelum kututup rapat bersiap untuk pulang.
Lingkaran tangan dan semerbak JPG Lemale mengendap masuk ke dalam hidungku, "Alismu itu kenapa malah beradu ketengah, huh?" apa dia berkata seperti itu karena wajahku yang membuat ekspresi bingung?
Tak memberiku kesempatan bicara dia melenguh di samping kepalaku dengan masih melingkarkan tangan di pundakku dia tertawa kecil, "Kaca ini," mataku tanpa disuruh, menghadap kaca pembatas ruangan yang membedakan ruangan staff umum dengan ruangan kepala bagian yang masih rapi belum tersentuh oleh orang baru, "Sebentar lagi kita terpisahkan dengan kaca ini,"
Kau ini bicara apa sih? Sudah jelas-jelas masih ada calon anak pimpinan midorima yang lebih—
Pantas untuk jadi ketua B12? Dia melanjutkan ucapanku. "yaahh, memang betul juga. Koneksi yang bagus, passion, dan hasil pekerjaan yang sempurna. Apalagi yang pimpinan inginkan dari ketiga hal tersebut?"
"kau menghinaku, huh?" kesal dengan nada bicaranya yang seolah-olah mengerti keinginan direktur utama perusahaan tempat kami berdua bekerja.
"Eeehhh...," dan menjewer telinga kananku, "Aominecchi kamu kebiasaan deh,"
Aku yang teraduh-aduh dengan jewerannya itu membuatnya terkikik lagi, "ya bukan salahku kalau kau berbicara seolah membuatku down,"
"Makanya dengerin aku dulu sampai selesai,"
"Ah, aku sudah tahu apa yang akan kau bilang selanjutnya, persis saat kau mencoba menghiburku yang waktu itu kalah bermain basket dengan Tetsu waktu kita masih SMA dulu, kan?" meniru bagaimana dia berbicara, "Aominecchi, kau sadar kan sekarang? Bahwa masih ada langit di atas langit?" dan untuk kedua kalinya tanpa perintah kedua alisku beradu ketengah.
Mata kami bertemu, dia tak mengelak ucapanku dengan omelan cerewetnya. Dia tersenyum dengan kedua matanya yang menatap langsung kedua mataku, aku terdiam saat dia berkata...
"Kau menghargai usaha setiap orang yang bekerja bersamamu." Dan kali ini dia tertawa terpingkal-pingkal, aku bahkan dapat merasakan getaran tawanya yang di pundakku, "Ya tuhan, padahal aku yang memujimu tapi kenapa aku yang malu sendiri?!"
Oh, jadi dimatamu... aku ini orang yang seperti itu?
Sungguhkah hanya seperti itu? Tak ada yang lain?
Bukankah Kau juga tahu sendiri, bahwa semua manusia tak dilahirkan sempurna di setiap sisinya?
Cacat yang terlihat dan cacat yang tidak terlihat?
.
Mataku sempat melirik pada tas kerjaku yang berwarna cokelat itu kini terlihat berwarna jingga cerah, seperti transparan mataku dapat menembus dan melihat kotak kecil berbentuk segiempat yang berwarna navy dengan bordir emas di pinggirnya itu di mataku. Tangan kiriku menggeram, tapi tangan kananku meraih wajahnya dari samping,
Suara tawanya menghilang dalam mulutku, matanya yang tadi riang kini perlahan-lahan meredup terbawa arus kenikmatan yang kumasukan dalam mulutnya melalui lidahku yang mengayun-ayunkan lidahnya.
Tersedak akan nikmatnya cinta, bibirnya menjauh dari rengkuhanku. Walau sebenarnya bukan hal pertama melihatnya tersedak saat lidahku bermain di langit mulutnya. Bibirnya terlihat bercahaya dengan sisa nafsu yang kami mainkan dalam mulut. Dia tersenyum lebar, dibawah sinar senja... ruangan kerja staff yang hanya berisi kami berdua, dan suara detik jam dinding yang memenuhi ruangan,
"Terimakasih sudah mencintaiku, Daiki."
.
.
.
.
-Tunggu kau salah sangka,
hubunganku dengan-nya itu semacam menerapkan prinsip take and give,
itu saja.-
.
.
.
.
-flashback-
"Apa ini pertama kalinya anda membeli cincin?" tersadar dari lamunanku memikirkan bentuk apa yang paling dia sukai.
"Ah ya, aku mencari cincin pertunangan mahal tapi tak terlalu mencolok jika aku memakainya." Tersadar akan penjaga toko perhiasan yang tersenyum menahan tawa karena ucapan tak tahu maluku itu, aku segera memperbaiki ucapanku, "Tolong perlihatkan padaku beberapa pilihan yang bisa kau tawarkan untukku,"
Wanita yang tadi tersenyum itu melirik ke arah dada kananku kemudian menuntunku ke arah pojok ruangan. Sebuah meja segiempat dengan kaca transparan yang melindunginya. Ah, tentu saja. Dia baru berani memperlihatkan meja ini setelah melihat logo perusahaan yang terjahit di dada kananku.
"Bisakah anda beritahu saya seperti apakah sifat wanita yang beruntung menikah dengan Tuan..."
"Aomine, panggil saja aku aomine." Jelasku. "Kurasa, dia itu orangnya mudah tersenyum,"
—lebih tepatnya tawanya terbahak-bahak hingga rambutnya itu ikut bergerak-gerak mengikuti gerakan kepalanya—
"orangnya tidak mudah menyerah,"
—Kise—
"dan selalu tahu bagaimana membuatku semangat lagi."
—Ryouta—
Tangan dengan kuteks berwarna merah tersebut menjulur di hadapanku memperlihatkan sekotak cincin, "Saya merekomendasikan cincin ini, sebuah cincin yang mempresentasikan bentuk dari bunga Amaranthus."
.
.
_"Dai-chan... kamu tahu gak arti bunga ini...?" sembari menaruh helai-helai rambut yang menutupi sebagian paras cantiknya itu dia melanjutkan ucapanya, "kesetiaan..." ucapan wanita itu terlintas di pikiranku_
.
.
"Ya, saya memilih cincin ini." Ucapku mantap.
"Baiklah, apa anda juga ingin diukirkan nama pada cincin ini?"
Kis—
"Tidak, tidak perlu. Bisa tolong sekalian dengan kotaknya?"
—Aomine! Apa yang kaupikirkan barusan?! —
"Merah muda atau biru?"
—BUKANKAH KAU BERJANJI SENDIRI UNTUK MULAI FOKUS DENGAN TUJUANMU SETELAH SAMPAI DI TITIK INI? —
"Biru saja."
-End Flashback-
.
.
.
Reputasi dan kekuasan, Enough to let anyone call me a hyprocate.
_Aku Mendekatinya,
_Aku Menggunakannya,
_Aku Memanfaatkannya,
Mau tahukah kau betapa aku mengupayakan jalan pintas yang ada di depanku? Layaknya sebuah karpet merah yang terdiam diujung ribuan pilihan jalan rumit. Karpet merah yang biasanya datang jika kau mendapatkan 'bonus' dalam sebuah permainan yang kau mainkan. Mana mungkin kau akan lewatkan begitu saja? sebuah karpet merah yang hanya perlu ditarik agar menjadi jalan utama dari seribu jalan rahasia untuk menuju kastil utama yang menjadi goal terakhir setiap permianan yang kau mainkan.
'Bonus' yang aku miliki adalah -Dia mendambakan kehadiranku-
Jadi bukankah sebuah skenario yang tepat untuk memanfaatkannya, Aku rela mempermalukan diriku hingga pergi ke konsultasi seks khusus untuk orang homo, jujur aku jijik dan ingin muntah saat pertama kali mengetahui betapa merepotkannya mempersiapkan receiver atau wanita dalam kamus gay. Bahkan aku sempat ditertawakan saat aku berkata pada konsultan tersebut kalau aku ingin menjadi Top handal dalam waktu satu minggu. Tentu saja aku buktikan ucapanku dengan melahap semua pengetahuan dari hal kecil seperti jenis lubrikan apa yang cocok untuk anal seks hingga tehnik menghisap tiang kenikmatan pria.
Semua hal tersebut aku lakukan untuk menjadi yang-dia-dambakan. Apalagi arti kata 'DAMBAAN' yang terlintas dalam pikiran seorang pria homo selain ahli bercinta yang hebat?
Kasih?
Ah, mungkin yang kau maksud adalah aroma munafik yang bernama 'perhatian'
Masihkah kau pertanyakan lagi? Aku menjamah hatinya, ya hatinya belum tubuh dari seorang pria yang bekerja dalam naungan nepotisme yang menyelamatkan karirnya, dalam waktu kurang satu minggu sejak dia mengutarakan kode homo-nya, "Kehadiranmu membuat hidupku semakin berwarna," dia takluk. Masih belum percaya tentang diriku yang ahli bercinta?
Nyatanya kurang dari satu minggu aku mempelajari tentang dunia gay, aku membuat leher pria berambut kuning itu berdiri tegak selaras dengan mulutnya yang menganga meluapkan uap nafsu yang terlihat tebal itu memenuhi ruangan, dan yang kubutuhkan hanyalah ketiga jari-ku yang memompa nafsunya dari dalam.
.
Senja.
Jingga, selaras dengan warna rambutnya.
Berada di wilayah teritori-ku,
Lekukan bibirnya yang seolah mengucapkan huruf vocal U dengan malu-malu, kontras sekali dengan bagaimana ke sepeluh jarinya yang mencengkram kemeja hitam yang digunakan oleh seorang pria yang ada di atasnya. Layaknya penjepit kertas yang takkan membiarkan secarik kertas lepas dari jepitanya yang rapi membungkus salah satu sisi tumpukan kertas tersebut.
"Kise…" Semilir angin sore yang menerpa rambutnya, bersahutan dengan anyaman korden yang memberikan jalur cahaya menerangi sedikit adegan percintaan seorang pria berkulit sawo matang yang menggagahi….
"Ao..min…,"
…rintihan yang keluar dari mulut seorang manusia yang sedari tadi mencoba belajar melafalkan huruf vocal U tersebut. kulitnya yang hampir menyamai warna sprei, nude pale.
cengkramann tangan kanannya yang lebih kencang, seolah mencoba menyingkirkan pinggul kurusnya menjauh dari desakan tubuh seorang pria yang menguasai tubuhnya dari atas, membatasi ruang gerak dengan kedua tangan hitam yang ada di kedua sisi tubuh Kisse,
…Tes
Cairan keringat bening yang jatuh mengenai bibir merah muda yang sedari tadi gemetar,
"Aomin—Arrhhh…"
Kriiett… dengan satu tarikan nafas kuangkat tubuhnya untuk berada di atas diriku yang terlentang di ranjang dengan kejantananku yang masih bersemayam di tubuhnya.
"Dai-chan... panggil aku dai-chan, kisse..." pintaku dikala kedua tanganya yang sekarang tergeletak pasarah di dadaku. Tetesan liur yang mau tak mau tumpah dari wadahnya karena tak mampu menampung kenikmatan yang ku pompa sedari tadi padanya.
"Da...i...cha—ahh..." lagi, mencoba menahan libidoku yang hampir penuh, dia tergeliat saat aku mempercepat laju percintaan kami. Dari pinggulnya sendiri mengangkat punggungnya mencoba meluruskan tubuhnya yang berada di bawahku dengan kedua kakinya yang menjadi pondasi kini menjijit. Ah ya, aku ingat... ini pertanda kalau sebentar lagi...
"Aku mau keluar..." rintihnya di atasku.
Mudah sekali? aku bahkan belum menyentuh pusat kenikmatanya itu dan dia sudah….
Membuka lebar kedua kakinya, mengangkang. Seperti sebuah bunga yang mahkotanya terbuka lebar memberikan jalur untuk serbuk sari menempel ditubuhnya,
"Dai-chann... aku boleh keluar sekarang...?" kedua tangannya sekarang gelagapan bersandar di dadaku karena terkejut dengan sentakanku yang membuat dirinya yang tadi bersandar di dengkulku kini menekuk menghadap wajahku.
Tangisan air mata yang dulu kupikir karena rasa sakit di anal untuk pertama kalinya setelah lama tak ada pria yang mau menjamah ego lelakinya, ternyata sebuah rembesan cairan cinta yang tak hanya keluar melalui sari buahnya itu?
Bagaimana bisa seorang pria menikmati anal seks? Ah maksudku menikmati lubang pantatnya menjadi luapan nafsu bejat mahluk sejenisnya? Apa dia menggelinjang keenakan dengan sentuhan-sentuhanku yang membelai tubuhnya kah... ataukah karena kemahiranku yang mudah saja mencari prostate gland yang tersembunyi di balik anusnya hingga sekarang aku akan membuatnya keluar dengan dry orgasm...? ataukah... dia memang tergila-gila padaku...? Ah... betapa malang nasibmu, mencintai seorang mahluk picik sepertiku ini. Karena...
.
.
.
I was heading for a small disaster and ready if i have to blown me down for those sake.
.
.
Tersenyum menang, aku masih ingat saat kau yang terlihat begitu senang saat tahu usahamu yang mencalonkanku sebagai ketua B12 itu berhasil. Tanpa setetes keringat ataupun darah, aku memperoleh kesempatan berharga tersebut berada di genggaman tanganku. Dan setelah diriku mendapat posisi calon tersebut, aku hanya perlu mempermulus jalurku untuk memenangkan kesempatan itu...
Reputasi yang kukejar, menjadi bullet* untuk meraup rahasia perusahaan saingan kami, yahh kupikir menjadi anjing patuh bukanlah hal sulit. Saat ini aku memang anjing patuh yang dibanggakan perusahaan ini, tapi ketika aku memperoleh kedudukan lebih tinggi dari ini dengan...
"Ah..! pe—lan.. p-pelaann... ahh... Ao—Daichiii..." sengatan yang kurasakan di kepala tiang kenikmatan itu terasa kuat sekali, menyadarkanku dengan situasi sekarang ini yang tak dapat lagi mengalihkan perhatianku seperti dulu, membayangkan dirinya adalah wanita berdada kecil. Tapi sekarang... dirinya yang menjepit dengan kerasnya, rasanya seperti leher kemaluanmu itu dijepit dari segala arah. Memancingku untuk meledakan kenikmatan yang sedaritadi dia hisap melalui mulut keduanya tersebut.
"Nyaaaahhhh~~~..." bibirnya yang terkulum sendiri kini terbuka, menganga... selaras dengan tulang punggungnya yang tegap berdiri lurus keatas...
Ambruk,
Setelah mencapai puncak kenikmatannya yang paling tinggi.
Kepalanya mendongak,
Dengan kelelahan mengejar nafasnya sendiri.
Menggapai sisi wajahku,
Tangan kanannya yang masih gemetaran itu meraih rahangku,
Tersenyum,
Senyuman kecil nan letih yang dia berikan saat mendekatkan kepalanya padaku, "Daiki... terimakasih sudah mencintai lelaki gagal sepertiku ini..."
—Whooaa. Dia benar-benar mengatakan kalimat picisan itu— batinku terdalam tertawa, terbahak-bahak menertawakan seorang manusia yang dengan lengannya mencoba bangkit lagi, memposisikan dirinya seperti koboi amatir yang siap untuk menunggang kuda.
Keringatku yang kadung meleleh di pinggir mataku dia hapus dengan jarinya yang terlihat kontras dengan warna kulit cokelatku. Gerakan pantatnya membuatku fokus lagi untuk mencapai puncak kenikmatanku sendiri.
Anehnya, di saat aku mempersiapkan diri mendaki puncak, tak butuh lagi model wanita JAV berdada besar seperti Megumi Furuya atau Nonami Takizawa yang melenggak-lenggokan dadanya di mukaku. Nafsuku kini terpusat pada tubuhnya saja, di bayanganku gerakan pantatnya dan bunyi becek yang beradu. Gigiku yang menggertak ketika aku merasakan aliran darahku terakumulasi di kejantananku, panas nafsunya yang menyebar ke seluruh penjuru tubuhku.
"ARRKHH!" kutarik kedua tangannya, memaksa kejantananku untuk menukik masuk lebih dalam, seolah tak membiarkan setetes spermaku yang dapat mencuat keluar dari lubang nafsunya.
"Tenang... daiki fokus.. sayang... tenang ya..."
Ah sial, dia mengeluarkan racunnya, belaian lembut yang mengusap dahi hingga leherku. Dialah orang pertama yang mengetahui habbit yang kumiliki setelah meledakan sari cintaku dalam tubuhnya. Mungkin bisa dikatakan, aku salah satu pria yang membutuhkan waktu lebih dari 5 menit pada saat ejakulasi. Tak jarang hal tersebut membuatku sesak nafas. Dan dia...
Bibirnya yang gemetaran, "Ummhh... iyaa... daiki... nafas ya.. nafas..." sembari mendesis menyebarkan racunnya yang berwarna emas melalui rabaan tangannya. Mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang masih terombang-ambing dalam lautan nafsuku.
Ternodai,
Tubuhku yang berkulit sawo matang ini sedikit demi sedikit tercemar dengan racun emas yang menyusup masuk dalam hatiku. Senyuman sok sucinya itu yang menyapaku saat kedua mataku terbuka dari kenikmatan duniawi yang kudapatkan darinya. Jari jempolnya yang mengelus bibirku,
"Kau bukan mahluk gagal," ucapku yang masih sedikit tersengal, "Kau adalah mahluk istimewa, dan hanya aku..." terbatuk karena tiba-tiba meninggikan nada, "Hanya aku seorang yang dapat melihat istimewanya dirimu." Ku genggam pergelangan tangan kanannya mencoba menyingkirkan racun tersebut masuk lebih dalam ke hatiku. Erat.
Dia terpana, masih tak percaya ucapan omong kos—, ya hanya omong kosong yang aku katakan saat pillow talk. Ucapan itu hanya untuk membuat female-ku untuk tetap tunduk padaku. Ya, itu maksudku tak ada yang lain. Sungguh, hanya itu saja maksudku.
Lalu kenapa tubuhku bangkit dari ranjang setelah menurunkan tubuhnya dari diriku? Melihat tanganku meraih ke dalam tas kulitku. Meraih kotak segiempat yang berwarna biru tua,
—AOMINE! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN SEKARANG?!— batinku berteriak.
"Aku... boleh ambil minum di dapur?" perlahan sekali bangun dari ranjangku, memakai boxer hitamku.
"Ah, ya... tentu saja. bisa sekalian ambilkan bir untukku?"
"Sure," jawabnya singkat dan berjalan perlahan dengan berpegangan pada tembok di tiap 3 langkah keluar dari kamarku.
—DEMI TUHAN! APA KAU SUDAH GILA?— lagi, batin memakiku saat tanganku menaruh lagi kotak navy segiempat tersebut ke dalam tasku.
—HANYA KARENA DIA YANG LEBIH VOKAL DALAM BERCINTA, KAU RELA MELENYAPKAN 25JUTA PADA SALAH SATU BIDAK YANG SEBENTAR LAGI AKAN KAU BUANG?! — memukulku dengan palu tujuan dan kenyataan yang membuatku kembali ke jalur yang sesungguhnya.
"Thanks, hun..." kukecup bibirnya sembari tanganku menerima kaleng bir yang telah terbuka, menenggak getirnya alkohol yang menyegarkan tenggorokanku yang kering.
—JAWAB AOMINE, KAPAN KAU AKAN MEMBUANGNYA? —
"Kisse... Sabtu besok kau bisa ke kantor?"
"Sabtu...?" sembari membuka buku yang tergeletak malas di endtable-nya. "Bisa saja, kau lembur lagi?" tanyanya yang masih melihat buku kecil tebal yang bentuknya seperti kitab. "Ah, bukankah tanggal sabtu besok perayaan Dies Natalis kantor?"
...Dan juga perayaan untuk..., dalam hati aku berbicara sembari melirik tas kulitku. "Ah, maksudku setelah dies natalis... bisakah kau tetap berada di kantor? Aku ingin mendiskusikan sesuatu padamu."
"Kenapa tidak sekarang saja? setelah meminum obat painkiller-ku, aku sudah siap bekerja kok."
"Tidak, aku tak bisa mengatakannya sekarang."
"Hee... kok gitu.." dengan manja dia cemberut dan menunjuk-nunjuk otot lenganku.
Aku hanya bisa mengusap rambut kuningnya tersebut, "Kise..." dari balik lehernya, kutarik perlahan hingga hidung kami hanya berjarak dua senti, "Terimakasih untuk segalanya..."
Matanya yang riang itu muncul lagi, dengan senyuman khasnya. Yang dia inginkan hanyalah kenikmatan seks yang terselimuti dengan bahasa cinta, dan yang kuinginkan adalah keahliannya dalam bekerja. Kami berdua sama-sama saling menguntungkan.
"Daiki... terimakasih telah mencintaiku..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Menelan cintamu bulat-bulat,
Desak nafsu yang mencekat nafas akal sehatmu,
Kedua mata hatimu yang kututup dengan tangan janji manisku….
.
.
.
.
====PENGUMUMAN====
UNTUK MEMERIAHKAN ACARA, SELURUH KARYAWAN SOMMY DIPERSILAHKAN UNTUK MENGHADIRI PERAYAAN PERTUNANGAN DARI PEMILIK SAHAM UTAMA SOMMY,
NONA SATSUKA MOMOI.
Ttd, Dirut SOMMY
====PENGUMUMAN====
.
.
.
.
.
.
Dengan kedua jariku,
kupaksa kedua mulutmu itu terbuka agar tenggorokanmu menelan satu juta liter cintaku padamu,
takkan berhenti walau kau tersedak dan terbatuk,
membuatmu tubuhmu penuh akan cintaku,
hingga kau tak dapat lagi untuk menelanya…..
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 4 - Cemburu yang mencumbu Keraguan (Part 1) - END
Author Note :
*Bullet : mengambil istilah bullet dalam istilah yang ada dalam yakuza, cara kerja Aomine disini dalam meraup rahasia perusahaan pesaing seperti peluru yang ditembakan keluar dari pistolnya yang tidak ada jaminan pistol tersebut dapat kembali ke pemiliknya.
Dalam cerita ini, saya menjabarkan sisi 'serakah dan egois' Aomine Daiki dari cerita dengan sisi 'kepolosan cinta' Kise Ryouta yang tersirat dari lagu tema-nya "Oh Wonder – Body Gold" tapi saya lebih suka yang di versi remix "Oh Wonder – Body Gold (Louis The Child Remix)"
Ah, ya! Disini saya juga mau berterimakasih dengan Anonim yang menyarankan saya untuk mendengarkan lagu tersebut dan lagu yang akan jadi tema lagu Kise di Part selanjutnya~~~ 3
Wahai Anonim... tunjukan dirimu... *summon* /ngarep/ X'DDD
But, yeahh... finally i can say that i'm back with some real action* (*posting kelanjutan ff). (lagi-lagi menyalahakan) Kesibukan reallife serta kelelahan hayati akan asupan2 yang makin hari makin aduhai untuk dilewatkan. /ngeles/
Terimakasih untuk reviewnya yang diberikan oleh :
- ShizukiArista : Berarti keputusan yang tepat kalau saya memusnahkan adegan "gubrak-gubrak-di-lemari" tersebut /apasih/ /gaje/
- hahaha : iya, kadang suka kebelit nama antara satsuki dan sakurai. Ini salah nama sudah typo... huhuhuhu. Terimakasih sudah diingatkan :DDD /beda jauh woi/
- Diana : Yes! It's here! Update! Thank you for your review :D
Terimakasih untuk 6 orang yang mem-favourite FF "M'M:He's Doubt"
Terimakasih untuk 9 orang yang mem-follow FF "M'M:He's Doubt"
Terimakasih untuk yang sudah mem-follow dan mem-favourite saya sebagai Author FFN
Terimakasih untuk silent reader yang diam-diam menyemangati saya melalui traffic yang (bersyukur) menandakan masih ada yang membaca FF yang saya buat ini.
TERIMAKASIH UNTUK SEMUA-NYA YANG SUDAH BERKENAN UNTUK MAMPIR DI FF PAIR YANG (PASTI) tidak terpikirkan untuk memasangkan kedua karakter (Kiyoshi x Kise) yang akan muncul kembali dalam Part 2 ini.
Sampai jumpa lagi di Chapter 4 - Cemburu yang mencumbu Keraguan (Part 2) (^_^)/
