Dream

Wiell Present

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Disclaimer :

Cerita ini milik saya, jika ada kesamaan bukan suatu kesengajaan.

.

Memimpikannya membuat hari Tetsuya berubah menjadi begitu buruk.

Warning!

Typo bertebaran. BL. Bahasa campuran. OOC.

If you Don't Like Don't Read . Please! RnR!

[AKAKURO]

.

Kuroko berjalan ringan, sesekali ia akan menyapa siswa lain yang dikenalnya. Ia hanya berfikir jika hari ini bergitu cerah dengan awan serta matahari yang menyinari paginya ini.

"Selamat pagi."

Ia berucap pada Pak Yama, seorang guru matematika yang ramah namun killer disaat yang sama. Guru itu hanya berdehem singkat seraya melanjutkan jalannya yang tertunda.

Tak begitu peduli dengan siswanya yang begitu menggilai vanilla milkshake yang tiba-tiba menyapanya. Karena jujur saja, ia sering tak melihat muridnya itu saat dikelas, entah membolos atau apa. Hanya yang sedikit mengherankan adalah tugas matematikanya selalu berada dimejanya bersama dengan teman lainnya.

"Dasar, aku kan sudah menyapanya." Kuroko bergumam, wajahnya berubah masam hitungan detik.

"Sayang."

Tak perlu menoleh untuk mendapati siapa yang tengah mendekapnya erat itu. Dalam jarak 3 meterpun Kuroko sudah hafal dengan aroma parfum yang begitu maskulin itu. Apalagi mendengar panggilan yang begitu disukainya.

Chu~

Tak lama, hanya beberapa detik saja, namun mampu membuat wajah Kuroko memanas hingga telinganya. Ia menunduk dan mengulum senyumnya lalu mendongak mendapati wajah tampan itu tersenyum lembut.

"Aku sangat merindukanmu."

Lelaki dengan surai merah terang itu berucap manja, tak peduli dengan beberapa orang lewat yang menatap keduanya menggoda. Akashi hanya terlalu enggan untuk mengurusnya, peduli setan dengan pandangan orang padanya. Hanya Tetsuya seorang yang menjadi dunianya kini.

"Ugh jadi iri melihatnya." Kata Aomine yang tak sengaja lewat. Ia mengerling jahil pada keduanya, jangan lupakan tatapan mesum yang membuat Kuroko ingin menusukkan tangannya di kedua mata Aomine.

"Jika butuh sebuah hotel hubungi saja aku, aku akan memesankannya." Entah apa maksudnya, Momoi Satsuki berkata begitu. Jangan lupakan sebuah kedipan dan wajah memerahnya.

"Aku juga rindu Sei-kun." Balasnya malu-malu.

Jemari bertautan lalu memainkan seragam yang dikenakannya hingga kusut. Ia tersenyum manis pada sang pujaan hati.

"Sayang, kau jangan terlalu manis ya, aku tidak kuat." Lelaki tampan itu tersenyum menggoda, senang pujaan hatinya itu tersipu. Dengan berani mengusap pipi gembil berisi milik Kuroko yang kerap dikecupnya itu. pipi putih mulus yang kini memerah karenanya. Beralih mengusap surai biru yang sungguh halus lebih dari sebuah kapas.

"Ugh, dasar genit." Kuroko mengepalkan tangannya, memukul main-main dada bidang tempatnya bersandar kala lelah menyapanya. Dasar. Atau paling tidak bantalnya jika tidur siang.

"Aku genitnya hanya padamu kok."

"Mana –"

Ucapan Kuroko terpotong dengan lengkingan milik Kise, "Kagami-chi, kembalikan kotak pensilku. Sialan!" lelaki kurus itu berlari mengejar Kagami yang tengah berlari dengan sebuah kotak pensil warna pink yang bermotif hello kitty. WTF. Berputar mengitari kolam kecil dengan kekanakan.

Seorang Kise memiliki kotak pensil hello Kitty? Memang sudah bisa di tebak, hanya saja ini terlalu jelas.

"Teman-teman lihatlah, kotak pensil Kise yang sungguh memalukan."

Dengan seringai jahil Kagami mengangkat tinggi-tinggi kotak pensil itu. Menjulurkan lidahnya mengejek Kise yang tengah kepayahan mengejarnya.

"Yak, Kagami-kun –"

Hah?

Kuroko membuka matanya cepat, tiba-tiba badannya berkeringat dan jantungnya berdetak keras sekali. Namun bukan itu masalahnya, seorang Akashi Seijurro berada dalam mimpinya. Lelaki yang beberapa hari lalu ia beri tumpangan menuju rumahnya dan yang kemarin diketahui bernama Akashi Seijurro dari Kise.

Seorang lelaki dari kelas sebelas yang dipanggilnya om. Apakah ia tengah tak waras? Apa-apaan dengan 'aku rindu Sei-kun'? sampai kapanpun ia tak akan sudi memanggilnya begitu. Cih, lelaki tukang ngeyel yang menyebalkan.

Ia langsung menyentuh pipi kirinya yang dalam mimpinya dikecup Akashi. Menggosok pipi mulus itu hingga memerah.

Ini masih pagi buta dan harinya berubah menjadi hancur karena seorang Akashi Seijurro dalam mimpinya.

.

END

a/n :

Udah gitu aja lah. thank's :D