Čtyři
"Kau kenapa menjadi aneh seperti ini? Dimana Guanlin idiotku? Maksudku dimana kau yang biasanya?" –Bjy
/
"Ah jangan lagi, obatnya habis! Aish, uhuk.."
Guanlin yang masih di ruang ganti sambil memegangi dadanya yang nampak sesak itu mencoba untuk berjalan keluar ruangan dengan pelan-pelan.
Ia membuang nafas lega ketika merasa tidak sesak lagi seperti beberapa detik yang lalu.
Dengan santai, ia melanjutkan langkahnya menyusuri koridor sekolah yang tampak ramai padahal ini hampir jam masuk tapi tetap banyak siswa siswi yang lalu lalang dan saling bercanda.
Sesekali banyak yang melirik Guanlin dengan tatapan kagum, tentu saja para penggemar wanitanya.
Dia benar-benar populer sepertinya.
Kaki jenjang primadona sekolah itu melangkah menuju kelasnya.
Ia berhenti melangkahkan kakinya ketika melihat beberapa anak sedang bermain lempar-tangkap bola baseball.
"Sepertinya sedang jam pelajaran kosong. Ah, si galak itu apa sedang belajar?"
Ia membuang nafas,
"Aku harus minta maaf padanya."
Guanlin berniat untuk menemui Bae Jinyoung di kelasnya. Tapi tiba-tiba ada sebuah bola yang meluncur tepat ke arah, ekhem selangkangannya.
BUGH!
Cukup keras, Bung.
"Aw! bi-ji-ku.."
Pekikan Guanlin langsung jadi bahan tertawaan teman-temannya. Ia merasa ngilu di bagian sensitifnya itu.
Setelah ia rasa sudah baikan, Guanlin segera mengambil bola baseball laknat yang jatuh di depannya setelah menghajar telak daerah pribadinya itu.
Merasa sangat kesal, Guanlin langsung melempar teman-temannya dengan bola baseball tersebut.
"Ini, rasakan ini, rasakan!"
Guanlin dengan kekanak-kanakannya mengejar teman-temannya tanpa sadar malah ikut-ikutan bermain dan melupakan rasa nyeri pada rongga dadanya.
Kita tinggalkan sejenak si bocah tiang itu.
Bae Jinyoung yang sekarang berada di dalam kelas mendengus kesal setiap memikirkan Guanlin.
Guanlin?
Iya, si manis yang imut itu terus-terusan memikirkan Guanlin. Tiang berjalan itu terus berlari memutari isi kepala si manis seperti ia berlari mengitari lapangan tadi.
Jinyoung sedang menunggu guru masuk ke kelas jadi ya.. dia sedikit kurang kerjaan jadilah dia memikirkan Guanlin.
Karena mati kebosanan, Jinyoung menempelkan pipinya di atas meja menghadap ke arah jendela yang menampakkan lapangan sekolahnya.
Ia melihat beberapa orang yang bermain bola.
Tunggu dulu.
Jinyoung mengerutkan kening menyadari disana juga ada Guanlin yang ikut bermain.
"Ck! Dia lagi, dia terus, selalu saja idiot itu."
Lagi-lagi umpatan si manis.
Walaupun bibir mungilnya terus mengucapkan umpatan-umpatan halus untuk pemuda bermarga Lai itu, tapi tetap saja dia tanpa sadar memperhatikan Guanlin yang sedang bermain.
"Dia baru saja ganti pakaian tapi malah membuat badannya berkeringat lagi. Benar benar bodoh tingkat planet."
Menatap sinis, mengoceh tidak jelas, mengerucutkan bibir, memperhatikan Lai Guanlin. Repeat.
Menyadari Guanlin yang bermain sambil sesekali memegang dadanya membuat seorang Bae Jinyoung sedikit cemas.
"Huh? Dia tidak seperti biasanya.. Napasnya pendek. Apa karena lelah? Tidak tidak, ini beda."
Jinyoung membulatkan matanya benar-benar terkejut melihat tiba tiba Guanlin jatuh terduduk di lapangan
Teman teman Guanlin mulai menghampiri dan menolongnya untuk dibawa ke ruang kesehatan.
Refleks, Jinyoung berdiri dari bangkunya, kaki mungilnya berlari cepat menuju ruang kesehatan.
"Tunggu, tunggu. Kenapa aku berlari?"
Ia berhenti sejenak.
"Ah persetan! Aku hanya tidak mau dia kenapa kenapa karena nanti tidak ada yang membantuku membereskan rumah. Ya, itu alasan yang masuk akal, Baejin!"
Disaat yang bersamaan,
"Guanlin? Hey dia kenapa? Cepat kita tolong!" teriak Kak Woojin yang ikut bermain dengan Guanlin tadi.
Guanlin adalah anak basket sama seperti Woojin, jadi walaupun berbeda tingkat, Guanlin memiliki banyak teman akrab seorang senior.
Akhirnya, teman-teman Guanlin mengerubunginya berniat untuk membantu membawa Guanlin ke ruang kesehatan.
"Ah, bagaimana ini? Ayo kita angkat tubuhnya, lalu bawa ke ruang kesehatan!" —Dongho
Dengan susah payah teman-teman Guanlin mulai menggotongnya.
"Satu, dua, angkat!" —Hyunbin
"Eumpphhh! Dia... Beraaat!" —Seonho
"Cepat, cepat! Bertahanlah, Lai Guanlin!"—Dongho
"Guanlin, apa kau bisa menghitung jumlah jariku?" —Woojin
"Aish dasar bodoh, cepat bantu kami!"—Hyunbin
Akhirnya Guanlin sampai di ruang kesehatan dengan bantuan teman-temannya yang tiba-tiba baik hati itu.
Tapi sejahat dan seusil apapun mereka, pasti tidak mungkin meninggalkan Guanlin yang terlentang di lapangan, bukan?
Bisa-bisa diamuk para pemujanya.
Sementara Bae Jinyoung,
Ia berjalan menuju ruang kesehatan yang masih penuh dengan teman-teman Guanlin. Jinyoung juga melihat Guanlin yang sedang ditangani perawat sekolah.
"Guanlin, cepat sembuh! Hiks," terdengar Seonho yang sedang mendramatisir keadaan.
"Aish, kau terlalu berlebihan! Cepat kita ke kelas, nanti Guanlin tidak bisa istirahat dengan tenang!" Dongho dan yang lainnya-pun berjalan keluar dari ruang kesehatan tersebut.
Tidak disangka, Jinyoung bersembunyi ketika teman teman Guanlin hendak keluar.
"Bodoh! Kenapa aku sembunyi?!" pekik Jinyoung ketika semua teman Guanlin sudah menghilang di koridor.
Sekarang tinggal Guanlin sendiri di ruang kesehatan. Perawat sekolah keluar dari ruangan untuk mencari obat khusus di ruangan pribadinya setelah memeriksa keadaan Guanlin.
Sesekali Guanlin terdengar terbatuk lemah dan bergumam tidak jelas.
Kaki mungil Jinyoung berjalan masuk ke ruang kesehatan itu. Ia melihat Guanlin yang berbaring setengah sadar lalu mengalihkan pandangannya.
"Kau tidak apa apa?" pelan sekali, mungkin ini pertama kalinya Jinyoung berbicara sangat pelan pada Guanlin.
Guanlin yang mendengar ucapan lembut dari suara yang ia kenali kemudian membuka mata perlahan-lahan. Ia melihat sosok bidadari mungil dengan pandangan lemah berada tepat di depannya, menatapnya khawatir.
"Baejin? Uhuk- Ini di mana? Dan, mana teman-teman yang lain? Aku harus melempari temanku dengan bola baseball, uhuk!"
"Ini di ruang kesehatan, jangan banyak bicara dulu bodoh!"
Jinyoung benar-benar cemas sekarang.
"Argh, s-sakit! Uhuk-uhuk!" tangan kiri Guanlin meremas bantal dengan kuat, menahan nyeri yang teramat sangat.
Jinyoung menatap Guanlin panik. Ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Ia langsung duduk di kursi di sebelah ranjang Guanlin terbaring.
"K-kau kenapa? Aku harus bagaimana?"
Refleks Jinyoung menggenggam tangan kanan Guanlin dengan kedua tangannya.
"Guanlin-ah, jangan begini.. Kau membuatku takut."
Ia mengeratkan genggaman tangannya.
Tiba tiba perawat masuk ke ruang kesehatan membawa obat. Jinyoung berdiri dan melepaskan genggaman tangannya pada Guanlin memberi ruang untuk perawat memberikannya obat.
Jinyoung yang masih di ruangan itu menatap Guanlin yang sudah lebih baik setelah meminum obatnya. Ia menghela napas lega.
"Bae Jinyoung, tolong temani dia sebentar. Obat ini hanya pereda rasa sakit, stok obatku habis jadi aku harus membelinya sekarang," ucap perawat itu lalu berjalan pergi meninggalkan dua sejoli itu di dalam ruang kesehatan.
Jinyoung mengambil tempat duduk kembali di tempat yang tadi. Ia menghela napas lega melihat Guanlin lebih baik
"Istirahatlah, aku akan menemanimu. Jika ingin sesuatu bilang saja.."
Guanlin tersenyum lemah mendengarnya, lama-lama jadi terkekeh dengan pelan.
"Benarkah? Kalau begitu, aku ingin kau menciumku, seperti pangeran yang mencium putri tidur."
Guanlin tersenyum menggoda si manis yang sukses mendapatkan hadiah tatapan mematikan dari Jinyoung.
"Kau sedang sakit tetap saja menyebalkan!"
Guanlin terkekeh pelan.
"Aish, kau jangan kasar padaku, aku sedang sakit! Ah, ini semua gara-gara lari 20 keliling lapangan itu." Ia membuang nafas lalu terpejam.
"Baejin, aku ingin tanya sesuatu padamu," lanjutnya.
"Hmm?"
Jinyoung menoleh menatap Guanlin yang membuka matanya lalu menerawang ke langit-langit ruang kesehatan.
"Apa yang akan kau lakukan jika hidupmu terhambat oleh sesuatu yang bisa membuatmu mati? Bunuh diri?"
Guanlin menatap Jinyoung serius, sesekali ia juga terbatuk kecil. Menunggu jawaban seorang Bae Jinyoung.
Jinyoung terlihat berpikir sejenak.
"Menurutku bunuh diri bukan jawabannya. Apapun masalahmu, seberat apapun itu, jangan coba untuk bunuh diri!"
Setelah menjawab pertanyaan aneh Guanlin, Jinyoung terus menatapnya cemas. Guanlin hanya terkekeh.
"Kau kenapa menjadi aneh seperti ini? Dimana Guanlin idiotku? Maksudku dimana kau yang biasanya?"
Ia lagi-lagi mengalihkan pandangan. Meruntuki dirinya sendiri.
"Ini aku, Lai Guanlin yang kau kenal. Aku aneh kenapa? Apanya yang aneh? Hanya perasaanmu saja, Jinyoung-ah."
Kali ini cengiran Guanlin keluar seperti biasanya.
Idiot, pikir Jinyoung.
"Jika kau ada masalah, cerita padaku. Aku akan selalu berusaha untuk membantumu," cicit Jinyoung, ia berbicara tanpa menatap Guanlin kali ini.
"Jangan mudah menyerah, kau tampak semakin bodoh tau!" lanjutnya.
Reaksi Guanlin?
Tertawa lepas.
"Ahahahah, aku tampak semakin bodoh katamu? Haaa— uhuk-uhuk-uhuk.."
Dengan bodohnya ia tersedak batuk. Jinyoung sudah mengeluarkan aura gelap sedaritadi ketika melihat Guanlin tertawa lepas.
"Mati saja kau Lai Guanlin!" Jinyoung memukuli kepala si tiang sambil mendengus kesal.
"Aku tidak punya masalah apa pun. Itu adalah pertanyaan dari Guru Etika. Rupanya, jawabanku dan jawabanmu sangat berbeda. Kalau aku menjawab bunuh diri. Daripada hidup menderita, lebih baik bunuh diri saja. Meheheheh.."
Guanlin terkekeh kecil.
"Sialan, kau benar benar membuatku marah!"
lagi-lagi umpatan seorang Bae Jinyoung.
Jinyoung terus memukuli kepala Guanlin yang tetap tertawa dan sesekali menghindar dari pukulan Jinyoung padahal dia tau pukulan itu sama sekali tidak menyakitkan.
"Hahah, sudah jangan marah-marah! Aduh, nanti aku terkena amnesia! Kalau amnesia, aku terancam hilang ingatan, Baejin-ah. Nanti kalau ingatan tentang semua kenanganku denganmu hilang, bagaimana? Siapa yang akan menjadi tempatmu marah-marah lagi? Hayoo!"
Tak!
Satu jitakan keras mendarat di kepala Guanlin. Sang empunya hanya meringis kesakitan setelahnya.
Tiba-tiba Guanlin merubah posisi, dari berbaring menjadi duduk.
"Oiya, aku masih penasaran dengan ruangan terlarang di rumahmu itu. Pasti ada sejarahnya kenapa bisa dilarang untuk dibuka! " ucap Guanlin antusias.
Jinyoung?
Hanya membuang muka bosan.
"Tidak ada apa apa disana, pasti hanya ruangan kuno mendiang kakekku. Atau apalah, aku tidak tertarik membukanya. Kau hanya perlu membantuku membereskan rumah, jangan macam macam!"
Seketika Guanlin mendekatkan wajah ke wajah kecil Jinyoung.
"Biarkan aku membukanya, ya? Aku mohon, aku penasaran!"
Guanlin semakin mendekatkan wajahnya pada wajah manis tetangganya itu sambil terus memohon.
Jinyoung memundurkan wajahnya ketika Guanlin semakin mendekat, ia juga mengalihkan pandangannya.
Lagi-lagi si manis itu malu.
Dipandangi sedekat ini oleh sosok tampan primadona sekolah, siapa yang tidak malu?
Tapi dia menyia-nyiakan nikmat yang terpampang nyata di depannya sekarang. Wajah seorang Lai Guanlin hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya yang sekarang sudah memerah.
Jinyoung menahan bahu Guanlin agar dia berhenti mendekat. Lalu dibalasnya tatapan sosok tampan didepannya ini.
Hidung Guanlin dan hidung Jinyoung sekarang hampir bersentuhan seiring dengan semburat merah yang menghiasi pipi Jinyoung.
"T-terlalu dekat bodoh!"
Jinyoung mendorong badan yang lebih besar itu sampai telentang di kasur lalu membuang muka.
"Aish, kau selalu saja galak, Jinyoung-ah!"
Guanlin kembali duduk sementara Jinyoung berpikir sejenak.
"Baiklah, kita buka. Kalau disana tidak ada apa apa, kau harus menuruti perintahku, bagaimana?"
Guanlin mengernyitkan dahi mencerna ucapan Jinyoung.
"Perintah? Perintah apa?" respon Guanlin lalu menopangkan dagu sambil menatap Jinyoung intens.
"Hmm.."
Jinyoung berpikir lagi.
"Akan kupikirkan nanti, kita buktikan saja dulu. Nanti sepulang sekolah," lanjutnya.
"Hm hm hm.."
Guanlin mengangguk-ngangguk sambil tetap menatap Jinyoung intens yang dihadiahi tarikan di telinga dengan kuat oleh si manis.
"A-a-ah, sakit! L-lepaskan Baejin-ah, aish!" si tiang meringis kesakitan sambil langsung mengusapi telinganya.
"Jangan menatapku seperti itu bodoh!!"lagi-lagi Jinyoung mendengus kesal.
"Aish si galak ini, ada yang salah dengan tatapanku? Huh, kau ini buas sekali Bae Jinyoung! Aduh, telinga spektakulerku!"
"Sudahlah, dekat dekat denganmu selalu membuat moodku buruk. Aku mau pergi saja, kau istirahat disini!" lanjutnya lalu menatap Guanlin tajam.
"I-iya, aku mengerti!"
"Jangan sampai sakit lagi," kali ini Jinyoung menurunkan volume suaranya lalu mengalihkan pandangannya dari Guanlin sekilas.
"Pfft... Bagaimana aku tidak sakit kalau kau marah-marah terus padaku,"
"Yak yak yak, jangan dulu pergi! Baejin-ah, Baejin-ah!" lanjut Guanlin.
Jinyoung berjalan ingin keluar dari ruang kesehatan tidak peduli Guanlin yang terus memanggil namanya.
"Tunggu Baejin-ah!"
Jinyoung menghentikan langkahnya ketika volume suara Guanlin meningkat, ia lalu menoleh ke arahnya.
Guanlin berdiri kemudian berjalan mendekati Jinyoung yang sudah hampir membuka pintu.
"Kalau terbukti di ruangan terlarang kakekmu itu ada hal yang mencurigakan. Kau juga harus mengikuti perintahku. Adil kan?" ucap Guanlin sambil tersenyum aneh.
"Apa-apaan? Kau pasti akan melakukan hal yang aneh aneh," Jinyoung memasang wajah tidak sukanya.
Guanlin yang mendengarnya hanya terkekeh pelan.
"Ah, pokoknya kita lihat saja. Aku akan membersihkan rumahmu sampai bersih, dan kita taruhan impas tentang ruangan itu."
Guanlin berjalan pelan mendekati Jinyoung setelah ucapannya itu.
Ia seperti berniat memojokkan Jinyoung pada pintu keluar ruang kesehatan. Guanlin terus bergerak perlahan mendekati Jinyoung yang mulai gugup dan berjalan mundur hingga punggungnya menyentuh pintu.
/
TBC
Masih ada yang baca ga? ~T_T~
Butuh vomment dong.
Danielnya bentar lagi muncul muehehe.
